RUMAH NO 202 PART 19

 


Jumat sore Meta sudah selesai jadwal kerjanya untuk audit bank cabang yang di Bandung. Mumpung masih di Bandung, Meta menyempatkan mampir ke rumah pamannya, Om Kumbara. Beliau merupakan adik bungsu dari ibunya. Walau Meta menyebutnya om, aslinya usia mereka tidaklah terpaut jauh. Karena faktor tersebut juga, sehingga membuat Meta bisa dekat dengan Om nya tersebut, di banding seperti hubungan om dan keponakan mungkin lebih tepatnya mereka terlihat seperti hubungan kakak adik. Kumbara sendiri sudah menikah dan memiliki seorang anak, saat ini beliau menjadi dosen di salah satu universitas negeri di bandung, yang mengajar tentang Ilmu Filsafat.




“Sore Om”, kata Meta begitu sampai di rumah pamannya tersebut.


“Meta!”, Kata Kumbara kaget, karena sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan ponakan kesayangannya tersebut.


“Begitu yah kamu. Mentang – mentang sekarang sudah naik jabatan, jadi gak pernah lagi mengunjungi pamanmu ini”, kata Kumbara menyambut Meta sambil mempersilahkannya masuk.


“Masa sih om, bukannya bulan agustus kemaren yah Meta kesininya”, kata Meta ketika duduk di ruang tamu.


“Iya bulan agustus, tapi agustus tahun lalu”, jawab Kumbara menyindir ponakannya tersebut.


“Hihihi iya kah!”, kata Meta tertawa kecil.






Belum lama Meta duduk, keluar Istri Kumbara dari arah dapur.






“Siapa yang datang Pah ?”, tanya Istrinya saat itu, karena posisi duduk Meta membelakangi arah dapur sehingga tidak kelihatan wajahnya dari belakang. Tapi begitu melihat dari dekat, alangkah senangnya ia begitu tahu kalau yang datang adalah Meta ponakan suaminya tersebut.


“Metaaaa...”, teriaknya histeris. Lalu mereka saling berpelukkan dengan senangnya sambil melepas rindu.


“Ih tambah cantik aja bu Manajer ini sekarang. Eh gimana, dah ada calon suaminya belum ? kok gak dibawa kesini ?”, tanya Istri Kumbara tersebut mencecar Meta dengan berbagai pertanyaan.


“Ih tanyanya satu – satu dulu kenapa sih Tan!”, kata Meta memanggil Icha dengan kata ‘Tan’.


“Hahaha.. abisnya dah terlalu lama gak ketemu kamu sih Met. Jadi teringat masa – masa dulu deh. Tapi serius deh, mana calonmu ? kenapa gak di ajakin sekalian ?”, tanyanya lagi. Meta dan Icha, istrinya Kumbara merupakan teman seangkatan waktu kuliah dulu, melalui Meta juga lah Kumbara sampai kenal dengan Icha, lalu saling suka sampai mereka menikah seperti sekarang.




Namun beda halnya dengan Meta, sampai saat ini ia masih betah menjomblo, sejak di dikhianati oleh mantan pacarnya waktu kuliah dulu, membuat ia jadi sulit percaya sama laki – laki hingga sekarang. Selain itu, Meta tipikal wanita karir. Beda halnya dengan Icha sahabatnya, sejak lulus kuliah ia memang berencana untuk menikah muda, sampai Meta mengenalkan nya pada pamannya. Mereka ternyata cocok dan tidak lama setelah itu, mereka melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pelaminan. Jadi kalau hanya mereka berdua saja, lebih sering sebut nama panggilan saja. Namun kalau ada Kumbara dekat mereka, Meta sengaja memanggilnya dengan kata ‘Tan’ atau ‘Tante’, biar kelihatan menghormati istri Pamannya terebut.






“Siapa yang mau di bawa!. Aku masih jomblo gini kok”, jawab Meta dengan tersenyum tipis.


“Eh serius ?, teman ku, eh ponakanku secantik ini gak ada pasangannya ? ah masaaa!”, kata Icha sambil melirik suaminya, menatap tak percaya pada Meta.


“Eh Beneran say. Ini aku mampir kesini karena kebetulan ada kunjungan kerja, jadi sekalian deh mampir. Kangeeennn”, katanya pada Icha.






lalu mereka semakin asik ngobrol sambil mengenang masa lalu dan banyak hal lainnya.






“Ehmn ehmn”, Kumbara berdehem mengingatkan kalau masih ada ia disitu, karena saking asiknya sang istri mengobrol dengan ponakannya tersebut, ia malah bengong aja sendirian seperti obat nyamuk.


“Hahaha, suaminya ngambek tuh tan”, kata Meta sambil melirik pada pamannya tersebut.


“Hihii sorry sayang. Maklum dah jarang ketemu. Jadi sekali – kali ketemu harus banyak yang mesti di ceritain deh”, kata Icha menatap suaminya mesra.


“Tapi jangan sampai nyuekin aku juga kalee”, kata Kumbara sambil bercanda.


“Hahaha”, tawa mereka kompak.


“Meta, kamu nginap disini kan ?”, tanya Kumbara pada ponakannya tersebut.


“Iya om, lagian masih kangen nih ma sahabatku satu ini dan sama ponakanku yang imut itu. Eh dimana dia yah, kok gak kelihatan?”, kata Meta baru menyadari ternyata ia belum melihat keponakannya tersebut sedari tadi.


“Lagi kerumah Oma nya, baru siang tadi dijemput sama Mas Ipul yang kebetulan lewat sini. Tau tuh, ia jadi pengen ikut sama om nya duluan katanya”, kata Icha yang duduk diampingnya Meta.


“Oh memangnya ada acara apa di sana Tan?”, Tanya Meta


“Gak acara khusus kok!. Biasa, sekalian mau ngumpul keluarga besar aja besok sampai hari minggu”, kata Icha lagi.


“Yaaahh aku ganggu dong”, kata Meta merasa tidak enak.


“Gak kok say. Lagian kita berangkatnya besok. Kamu ikut aja sekalian yah”, ajak Icha.


“Aduh gak bisa. Renacananya mampir kesini sekalian mau minta tolong sesuatu sama om Bara”, kata Meta sambil menatap pamannya.


“Tolong kenapa Met ?”, tanya Kumbara heran pada ponakannya tersebut. Jarang – jarang Meta meminta bantuan padanya kalau bukan masalah yang serius yang perlu bantuannya.


“Emang kamu lagi ada masalah apa say ?”, tanya Icha pada sahabat sekaligus ponakan suaminya itu.


“Bukan masalahku sih tepatnya. Itu loh om, tentang orang yang membeli rumah kita itu, yang kubilangin tempo hari”.


“oh pemuda yang bernama Frans itu yah ?”, jawab Kumbara sambil mengangguk – angguk kecil.


“iya om, entah kenapa sejak semalam perasaan Meta tidak enak. Meta merasa akan ada hal buruknya yang menimpanya”, jawab Meta, kali ini tanpak gurat kekhawatiran di wajahnya Meta. Bukan tanpa alasan sebenarnya ia datang ke tempat pamannya tersebut.




Karena disamping berprofesi sebagai dosen ilmu filsafat, ia juga ahli di bidang metafisika. Sejak kecil ia di berkahi dengan kelebihan indera ke 6 yang membuatnya bisa melihat hal – hal ghoib. Sampai ketika ia beranjak dewasa, ia bisa lebih memfokuskan kelebihannya tersebut. Sehingga di samping berperan sebagai dosen di kampusnya, ia juga menjadi konsultan untuk orang – orang yang mengalami masalah metafisik.






“Memangnya sejak kapan ia menempati rumah itu ?”, tanya Kumbara dengan mimik serius menatap Meta.


“3 hari yang lalu om. Meta takut ia akan mengalami hal yang sama seperti orang yang pertama membeli rumah kita waktu itu”, kata Meta lagi. Karena dulu pernah ada seorang bapak – bapak yang membeli rumah tersebut, namun paginya ia ditemukan tewas di kamarnya dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Ia ditemukan dalam keadaan telanjang bulat dengan tubuh kurus kering, wajahnya terlihat seperti orang habis bercinta. Namun tubuhnya yang menjadi kurus kering menjadi perhatian orang – orang yang melihatnya saat itu. Ada beredar kabar kalau dalam rumahnya itu ada hantu wanita penghisap darah. 




Kata masyarakat setempat, ada yang melihat wanita cantik berjalan di taman depan rumahnya tersebut, ada juga yang seperti mendengar tangisan wanita dimalam hari. Sejak itu, tidak ada lagi yang berani menawar rumahnya tersebut, karena takut mengalami hal yang sama. Bahkan masyarakat disanapun tidak ada yang berani lewat ataupun singgah dekat rumah bernomor 202 tersebut. Sampai akhirnya, beberapa hari yang lalu seorang pemuda tampan mengubunginya dan langsung merasa cocok dengan rumah tersebut dan bersedia membelinya.




Meta sendiri sangat mencemaskan keadaan pemuda tersebut, apalagi sejak semalam ia mendapat perasaan tidak enak, kalau – kalau Frans akan mengalami hal yang sama dengan orang yang membeli rumah tersebut sebelumnya. Tanpa Meta sadari, ia ternyata memiliki perasaan khusus pada pemuda bermata teduh tersebut.






“Kamu ada foto orang yang membeli rumah kita tersebut ?”, tanya Kumbara.


“Ada om”, jawab Meta sambil mengeluarkan Hpnya, ia ingat waktu ke rumah Frans membawa notaris, ia sempat memfoto Frans.


“Ini om”, kata Meta menyerahkan Hpnya yang lagi menampilkan wajah Frans ketika bersalam dengan di depan notaris pada omnya.






Lama Kumbara memandang foto Frans yang ada di layar HPnya Meta. Mata bathinnya menerawang jauh melihat kondisi pemuda tersebut. Sementara sang istri hanya diam menyimak suaminya berbicara dengan Meta.




Setelah beberapa menit, Kumbara seperti tersentak dari tempat duduknya. Ia Menarik nafas dalam sejenak lalu menghembuskannya pelan sambil menenangkan diri.






“Bahaya Met. Ia harus segera di tolong, kalau tidak, mungkin ia juga akan bernasib sama dengan bapak – bapak tempo hari”, kata Kumbara sambil menatap Meta dengan gelisah.


“Maksud Om.. Frans juga akan mati ?”, tanya Meta khawatir, dalam hatinya ia sangat mencemaskan hal yang sama terjhadi dengan Frans, entah kenapa hati kecilnya mengatakan sangat tidak rela jika Frans harus mengalami hal yang sama.






Kumbara yang menagkap kecemasan di wajah Meta, merasa perlu untuk turun tangan membantu Meta. Ia mengerti, kalau ponakannya itu menaruh perasaan khusus, pada pemuda yang bernama Frans tersebut.






“Mungkin, tapi aku harus semedi selepas maghrib ini sampai tengah malam nanti. Siapa tahu ada cara untuk menyelamatkannya. Karena ia sudah terkena kutukan dari penunggu rumah itu”, jawab Kumbara.


“Adakah cara untuk menyelamatkannya Om ? aku gak mau sampai terjadi apa – apa padanya”, kata Meta lirih. Tampak sekali kalau ia sangat mencemaskan Frans.






Icha melihat sahabatnya tersebut dilanda kecemasan, memeluk nya dari samping untuk menenangkannya.








***






Sesaat setelah adzan maghrib berkumandang, Kumbara memasuki kamar khususnya, namun sebelum itu ia berpesan agar tidak ada yang menganggunya, sampai ia keluar nanti dari kamarnya tersebut. Sementara itu, Meta ditemani Icha, duduk diruang tamu menanti hasil semedi omnya tersebut. Semakin larut malam, Meta semakin gelisah. Tampak duduknya tidak tenang sama sekali, ia terus terbayang wajah Frans. Entah kenapa, malam itu terasa lebih dingin dari yang biasanya. Tidak hanya itu, bahkan di luar terdengar bunyi burung hantu dan binatang – bintang kecil malam, seperti saling berahutan. Membuat siapapun yang mendengarnya jadi merinding.






“Kenapa bisa ada suara burung hantu yah”, gumam Icha pelan. Meta yang mendengar itu hanya diam, karena sedari tadi ia juga merasakan keanehan yang sama. Padahal mereka berada ditengah kota, tapi rasanya seperti berada di rumah pinggir hutan.






Desir angin terdengar lumayan kuat dari luar rumah. Membuat bulu kuduk semakin merinding, mereka hanya saling diam, takut jika berbicara malah akan membuat suasana semakin mencekam. Syukurnya tak lama setelah itu, menjelang tengah malam Kumbara keluar dari dalam kamarnya.






“Bagaimana Om ?”, tanya Meta tidak sabaran mendekati paman nya.






Kumbara hanya diam, lalu duduk di ruang tamu diikuti oleh Meta dan istrinya yang penasaran dengan hasil semedinya.






“Seberapa besar cintamu pada pemuda itu ?”, tanya Kumbara tiba – tiba pada Meta.


“Hah! Maksud om apa ?”, tanya Meta tidak mengerti.


“Kamu suka kan sama dia ?”, tanya Kumbara lagi.






Meta diam sejenak sambil merenungkan pertanyaan om nya secara mendalam.






“Gak tau om. Yang jelas Meta tidak ingin kenapa – kenapa dengannya”, jawab Meta akhirnya.






Kumbara menatap mata ponakannya dalam.






“Apa hubungannya pertanyaan om dengan keselamatan Frans ?”, tanya Meta penasaran.


“Karena itu yang akan menentukan apa Frans masih bisa diselamatkan atau tidak”, jawab Kumbara misterius.


“Meta benar – benar tidak mengerti maksud Om ?”, tanya Meta mengernyitkan alis matanya.






Kumbara menarik napas sejenak.






“begini, dari hasil penerawangan Om barusan. Frans sedang terancam maut hantu penunggu rumah tersebut. Namanya Keyla Van Houten”, jawab Kumbara.


“Keyla Van Houten ?”, desis Meta pelan. Ia seperti ingat dengan nama itu. Karena Van Houten adalah nama Kakek buyutnya, ia merupakan orang Belanda.


“Iya, itu nama Kakek buyutmu”, kata Kumbara lagi menjawab kegelisahan Meta.


“Tapi siapa Keyla itu om ?”, tanya Meta lagi yang merasa asing dengan nama tersebut, tapi karena menyandang nama kakek buyutnya di belakang namanya, berarti nama yang disebut omnya tersebut ada hubungan dengan kakek buyutnya.






Kumbara menjelaskan, kalau dulunya Kakeknya itu, mr. Van Houten memiliki dua orang istri. Istri pertamanya merupakan seorang bangsawan Belanda, bernama Keyla. Ia wanita yang sangat cantik, seorang penyanyi kelas atas di negara asalnya. Sejak menikah dengan kakeknya yang merupakan saudagar kaya di masa itu, Ia di bawa ke Indonesia, dan tinggal di rumah No. 202 yang ditempati oleh Frans saat ini. 2 tahun menikah, mereka masih belum juga di karunia anak sama sekali. Sampai akhirnya kakeknya itu jatuh cinta dengan seorang gadis pribumi, yang bernama Andini. Yaitu neneknya. Awalnya tidak ada masalah di dalam rumah tangga mereka. namun seiring waktu berjalan, istri keduanya tersebut hamil. Itu membuat Keyla iri, karena ia yang istri pertama masih belum hamil juga. Di samping itu, mr. Van Houten, kakeknya menjadi lebih sayang dan perhatian pada istri keduanya tersebut, dan itu semakin menanamkan ke cemburuan di hati Keyla, suaminya sampai tidak ada waktu lagi untuk dirinya dan lebih memperhatikan Andini, istri keduanya.








BERSAMBUNG









Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar