RUMAH NO 202 PART 17

 

Akhirnya Frans mengalah dan memberikan alamatnya tersebut pada kakaknya. Namun Frans mengultimatum untuk jangan sampai memberitahukan alamatnya tersebut pada Lina, Istrinya. Walau dalam hati Arya sedikit menyayangkan, segitu marahkah adiknya tersebut pada Istrinya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Frans sepenuhnya. Ia mengerti, siapapun pasti akan sakit hati jika di usir dan di kata – katai dengan perkataan yang sangat menyakitkan. Dan bodohnya, ia tidak berdaya untuk membela adiknya sama sekali.






“Terimakasih dik, mas janji akan berkunjung ke rumah baru mu nanti dengan ponakanmu nanti”, kata Arya senang.


“Ingat janji Mas!”, kata Frans mengingatkan.


“Sure! Tanpa kakak iparmu kesananya”, kata Arya lagi sambil tertawa.








***








Sepulang dari bertemu dengan Frans siang itu, membuat wajah Arya berseri – seri karena senang. Rasa senangnya karena bertemu dengan sang adik, sedikit banyaknya bisa menghapus rasa bersalahnya pada sang adik. Bagaimanapun ia merasa bersalah pada adiknya tersebut, karena ia sama sekali tidak memberi pembelaan pada sang adik, saat di depannya matanya sendiri, istrinya memaki – maki adik nya dengan kata – kata kasar yang sangat menyakitkan. Entah apapun kesalahan adiknya, paling tidak ia membela adiknya ketika adiknya sudah diperlakukan sangat keterlaluan seperti itu.




Sekarang ia malah bangga pada adiknya, karena Frans telah bisa membuktikan kalau ia bisa mandiri tanpa bantuan darinya atau keluarga lainnya. Tidak hanya itu, mendengar adiknya sudah tinggal dirumahnya sendiri, bahkan kendaraannya saja, Mobil BMW serie 5 terbaru, jelas harganya tidak murah, paling tidak diatas 1 milyar rupiah. Bagaimanapun sebagai seorang kakak ia turut bangga melihat keberhasilan adiknya tersebut berhasil.






“Ada sih Pah ? cerah betul wajahnya ?”, tanya sang istri begitu melihat suaminya pulang dengan wajah penuh binar kebahagiaan.


“Itu Mah, tadi Papah ketemu Frans pas makan siang di Cafe. Tau gak Mah ? Frans sudah jadi orang sukses sekarang. Ia sudah bisa membeli rumah sendiri dan punya kendaraan mewah”, kata Arya saking senangnya, sehingga ia lupa pesan Frans untuk tidak mengatakan apapun tentangnya pada istrinya tersebut.






Sayangnya ketika menyadari bahwa ia telah terlanjur menyebutkan nama Frans, istrinya sudah terlanjur memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.






“Serius Pah? terus dimana Frans sekarang? apa ia akan kembali kesini”, tanya Lina.


“hmnnnn.. itu mah, anu..”, jawab Arya salah tingkah.


“Pasti Frans masih marah sama Mamah yah Pah?”, kata Lina lagi sambil memasang ekspresi pura – pura sedih, sehingga membuat Arya dalam posisi serba salah.


“Gak kok mah, mungkin Frans lagi butuh waktu untuk menenangkan diri saja, makanya tidak menghubungi kita selama ini”, jawab Frans lugas biar Istrinya tidak merasa bersalah.


“Gak Pah, pasti Frans masih marah sama Mamah, iya kan? Papah gak usah berbohong deh!. Iya, semua ini salah Mamah.. Hikss”, kata Lina lagi dengan lihainya memainkan sandiwara agar suaminya tersebut bisa memberikan alamat atau paling tidak nomor telepon Frans padanya. Karena sejujurnya ia masih sangat penasaran pada Frans, apalagi setelah merasakan sendiri keperkasaan adik iparnya tersebut yang membuatnya tidak bisa melepaskan Frans begitu saja.


“Gak kok mah, semua salah Papah juga. Mamah jangan begini dong yah”, kata Arya merayu istrinya, tanpa ia sadari dibalik tangisannya Lina menyunggingkan senyum liciknya. Mau saja suaminya dibohongi dengan sandiwaranya.


“Papah tau alamat Frans yang baru ?”, tanya Lina lagi dengan wajah yang masih dibuat – buat sedih.


“Untuk apa Mah ?”, Tanya Arya dengan polosnya.


“Iya Pah. Mama berasa sangat berdosa dengan Frans karena telah berkata kasar padanya. Jadi mau minta maaf secara langsung padanya”, kata Lina lagi sambil memainkan sandiwara sedihnya.






Arya yang melihat Istrinya tampak seperti tulus ingin meminta maaf pada adiknya, begitu saja percaya padanya. Tanpa ia sadari padahal istrinya ada maksud tersembunyi untuk menemui adiknya.






“Mamah serius ingin minta maaf sama Frans ?”, tanya Arya lagi.


“Iya Pah, sejak Frans pergi, Mamah jadi tidak bisa tidur dengan tenang. Perasaan bersalah selalu mengejar – ngejar Mamah. Perasaan Mamah gak akan tenang sebelum bisa minta maaf sama Frans Pah”, kata Lina lagi. Padahal kenyataan yang sebenarnya adalah ia uring – uringan karena tidak adanya Frans yang biasanya selalu ada untuk memenuhi hasratnya yang cukup besar.


“Baiklah, kalau begitu Papah antar ke tempat Frans yah”, kata Arya dengan senyum lembut.


“Eh gak usah Pah!. Papah kan capek, katanya tar malam mau keluar kota. Mana sempat kalau Papah yang ngantar. Biar Mamah aja yang kesana sendiri”, tolak Lina memberi alasan. Dalam pikirannya, bisa bahaya kalau suaminya yang ikut mengantar, tentunya ia tidak akan bisa bermesraan dengan Frans nantinya.






Arya baru teringat kalau nanti malam jam 19.00 ia akan berangkat ke Bandung untuk meninjau proyek dari cabang perusahaan tempat ia bekerja.






“Tapi, apa tidak apa – apa kalau Mamah kesana sendiri ?”, tanya Frans khawatir melepas istrinya pergi seorang diri.


“Iya, gak apa – apa Pah. Lagian kan Mamah kesana cuma mau menemui Frans sebentar buat minta maaf saja sama dia”, kata Lina tersenyum senang karena sandiwaranya berhasil meluluhkan hati sang suami.








***






Frans kembali kerumahnya setelah membeli sebuah bunga cantik sebagai kejutan untuk Keyla. Saat itu jam menunjukkan pukul 6 sore. Ia sangat senang sekali sore itu, ia berencana memberitahukan kabar bahagia tersebut pada Keyla. Bagaimanapun ia ingin berterimakasih pada Keyla, entah benar karena apa yang di ucapkan oleh Keyla pada malam sebelumnya atau memang Cuma kebetulan belaka, yang jelas ia ingin merayakannya dengan Keyla.




Begitu sampai di rumahnya, ia lihat lampu rumahnya sudah menyala. Ia sangat senang, itu artinya Keyla sudah ada di dalam rumah, pikirnya. Namun baru saja ia masuk ke dalam ruang tamu rumahnya, tampak sebuah taksi berhenti di depan rumahnya. Tidak lama keluar seorang wanita, dengan gayanya yang sangat modis mengenakan dress motif kembang dan lengan pendek menampakan kemulusan lengan si pemilik tubuh indah tersebut, ditambah dengan sebuah kacamata hitam melekat di wajahnya.






“Lina ? bagaimana ia bisa tau alamat rumah ini ?”, gumam Frans pelan. Seketika ia ingat dengan pertemuannya siang tadi dengan Arya, kakaknya. Astaga, pasti ulah rubah betina ini memperdaya kakaknya.






Lina melangkah masuki ke dalam pekarangan rumah Frans, dan langsung mendekat ke arah Frans yang masih berdiri di dekat pintu utama. Tampak ketidaksukaan Frans melihat kearahnya.






“Ngapain kamu kesini ?”, tanya Frans dengan dinginnya.


“segitu marahnya kamu padaku sayang! Apa gak mempersilahkan aku masuk dulu kerumahmu terlebih dahulu”, kata Lina dengan senyum liciknya.






Frans menyadari kalau bertemu dengan wanita selicik Lina pasti akan membuat emosinya naik. Ia sangat paham tujuan Lina datang ke rumahnya, pasti ingin menjebaknya lagi untuk jatuh ke dalam pelukannya. Tapi ia, juga tidak menginginkan kalau orang – orang yang lewat melihat ia mengkasari seorang wanita. Sehingga mau tidak mau Frans melangkah mundur agak kedalam rumah dan membiarkan Lina masuk ke dalam rumahnya.






Lina masuk ke dalam rumah Frans dengan senyum kemenangannya, dan tanpa disuruh oleh si pemilik rumah ia langsung duduk diruang tamu Frans. Ia memperhatikan sekeliling rumah Frans, dalam hati ia salut dengan pencapaian Frans, dan itu membuat ia semakin bernafsu untuk menundukan adik iparnya tersebut. Urusan suami dan anak – anaknya masa bodoh, pikirnya.






“Jadi, mau apa kamu kesini ?”, tanya Frans tanpa basa – basi.


“Ihh kamu segitunya sama aku. Kamu masih marah yah karena ucapan ku waktu itu ?”, tanya Lina dengan senyuman menggodanya.






Dasar wanita licik, aku harus berhati – hati biar tidak jatuh lagi dalam pelukannya, bathin Frans.






“Kalau sudah tau jawabanku. Trus ngapain lagi kata kamu kesini”, kata Frans cuek sambil duduk di depan sofa di seberang tempat duduk Lina.


“Kamu kenapa jadi dingin begini sekarang sih Frans ?”, kata Lina sambil beranjak duduk ke samping Frans. Bagaimanapun Frans adalah lelaki normal, bahkan bisa di bilang pria dengan libido yang tinggi, sementara Lina walau sudah beranak dua, tetap saja ia adalah wanita yang cantik, ditambah ia sangat pandai merawat tubuhnya. Sehingga ia masih terlihat sangat menggoda. Didekati dengan cara gemulai begitu, membuat Frans jadi gelisah dan tidak tenang.


“Kamu jangan macam – macam deh Lin. Ingat! Kamu itu istri kakakku”, kata Frans coba mengingatkan.


“Kamu lupa ? siapa yang buat aku begini. Kamu yang memulai semuanya. Kamu yang membuat aku ketagihan dan tidak bisa lepas dari kamu”, kata Lina lagi sambil menggesekan badannya dari samping ketubuh Frans.






Frans semakin tidak tenang duduknya. Di satu sisi Lina coba memancing nafsunya, disisi lain ia tahu kalau Keyla sudah ada di dalam rumah. Dan ia sudah berjanji padanya semalam untuk menjadi suaminya dan tidak boleh main – main lagi dengan wanita manapun.




Sedikit banyaknya Frans ikut merasa bersalah, karena ia juga yang telah memulai bermain api dengan sang kakak ipar. Walau awalnya ia melakukannya dalam keadaan setengah sadar, tapi justru itu yang membuat Frans jadi tidak bisa lepas dari jaring asmara kakak iparnya tersebut.






Flashback 4 bulan sebelumnya.




Saat itu, ia dan teman – temannya merayakan keberhasilan sahabatnya Daniel yang diterima kerja, dan sebagai rasa syukur begitu menerima gaji pertamanya, sahabatnya tersebut mengundangnya dan teman – teman mereka yang lainnya untuk berpesta di sebuah night club. Frans minum sangat banyak malam itu, saking senangnya sampai – sampai membuat ia sampai lupa diri. Akibatnya Frans harus di gotong oleh Daniel untuk pulang ke rumah kakaknya.




Daniel mengantar Frans sampai pagar pintu rumah kakaknya.






“Gue sampai sini aja bro”, kata Frans dalam keadaan setengah sadar.


“Bisa masuk kerumah mang nya loe ?”, tanya Daniel kurang yakin melihat kondisi sahabatnya tersebut.


“Hehehe, loe pikir Gue bisa tumbang Cuma karena minuman segini!”, kata Frans namun matanya agak merem.


“Ya udah. Kalau begitu Gue pamit ya. tapi beneran nih loe gak mau gue antar dulu sampai masuk ke dalam rumah ?”, tanya Daniel lagi khawatir.


“Iya bro, santai aja. Bawa aja noh mobil Gue daripada loe balik pake taksi”, kata Frans menyuruh Daniel membawa mobil fortunernya.


“Okelah, Gue cabut dulu yak! Pagi gue anterin mobil loe kemari”, kata Daniel pamit meninggalkan Frans yang berdiri sambil bersandar di pintu pagar rumah kakaknya itu.


“Oke, hati - hati bro. Awas di setop perek kuntilanak loe di jalan”, kata Frans lagi sambil sedikit bercanda.


“Kampret dah, mabok masih aja ingat perek loe, walau pake tambahan embel – embel kuntilanaknya”, kata Frans sambil naik ke mobil Frans.


“Gue berangkat yah bro!, bye”, kata Daniel sambil menaikan kaca jendela mobil, lalu berangkat meninggalkan Frans yang melambaikan tangannya.






Frans berjalan gontai ke dalam rumah, agak sempoyongan ia masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan yang di punyainya. Ia tidak ingat jelas jam berapa saat ia masuk ke dalam rumah, tapi sepertinya semua penghuni sudah pada tidur, sehingga ia langsung saja menuju ke arah kamarnya yang berdekatan dengan ruang tamu.




Namun saat ia akan ke dalam kamarnya, ada seorang wanita berdiri tepat di belakangnya.







Lina



“Kamu pikir jam berapa sekarang ?”, tanya kakak iparnya dengan nada marah.




Frans yang terlanjur mabuk dan pusing tidak mengubris kata – kata kakak iparnya tersebut. Karena merasa dicuekin membuat Lina tambah naik pitam.






“Kamu pikir ini rumah bordir hah! Yang bisa kamu singgahi kapanpun kamu mau”, kata Lina lagi makin ketus.






Frans awalnya tidak ingin mengubris kata – kata pedas Lina, karena kepalanya yang sangat berat akibat efek mabuk dari kebanyakan minum.






“Dasar sampah. Benalu! Kamu hanya bisa bergantung hidup pada kami”, kata Lina lagi dengan kasarnya.






Mendengar itu, Frans yang sudah terlanjur mabuk naik emosinya.






“Cukup. Diam!”, bentak Frans dengan emosinya.






Merasa kesal dengan ucapan Lina, Frans bangun dari tempat tidur dan berdiri mendekati Lina lalu memegang kedua bahunya dan mendorong Lina ke atas kasur.




Bughhh






“Aww...” teriak Lina saat terhempas di atas kasur.






Tidak cukup hanya sampai disitu, Frans menutup pintu kamarnya dan langsung meloncat keatas kasur lalu menindih tubuh Lina. Saat itu awalnya ia hanya ingin sekedar menakuti dan memberi pelajaran pada Lina karena telah berkata kasar padanya. Namun karena kondisinya yang mabuk, dan setelah menindih Lina dalam posisi itu, ia baru menyadari kalau kakak iparnya itu hanya mengenakan gaun malam tipis dan transparan, dan di dalamnya sepertinya ia tidak mengenakan apa – apalagi.




Lina yang menyadari tatapan nanar Frans ke tubuhnya, tercekat dan menjadi panik coba menutupi tubuhnya dengan tangannya.






“Mau apa kamu ?”, katanya ketakutan.






Frans hanya menyeringai dengan tatapan penuh nafsu ke arahnya.




Frans langsung saja menindih tubuhnya.






“Oh tidak.. Frans sadar. Jangan Frans”, kata Lina coba meondorong tubuh Frans.






Namun Frans yang dalam keadaan mabuk tidak mengindahkan permohonan Lina dan terus menciumi wajah Lina. Lina coba menghindar dari ciuman Frans yang seperti kesetanan coba menyetubuhinya.






“Ingat Frans! Aku istri kakakmu”, kata Lina makin ketakutan. Namun Frans yang sudah terlanjur di kuasai oleh nafsu, ditambah dalam kondisi mabuk. Membuat ia semakin nafsu.






Ia meremas payudara Lina dengan kasar.






“Aku iparmu Frans.. aakkhhhh”, kata Lina kesakitan serta air mata yang mulai turun membasahi wajahnya. Frans sudah tidak mempedulikan tangisan Lina, terus saja mempreteli gaun tidur Lina.




Seeettttt




Frans menyobek paksa bagian tengah gaun tidur Lina, sontak memperlihatkan tubuh bagian depannya, dan di dalam pakaian itu, Lina tidak mengenakan apa – apalagi didalamnya.






“Gak usah menagis begitu. Toh sebentar lagi kamu akan menikmatinya”, kata Frans sambil menatap nanar keindahan tubuh Lina.




Lina yang sudah lelah melawan akhirnya hanya bisa pasrah pada apa yang akan dilakukan Frans pada tubuhnya.






“Ahhhhhh hmppphhh”, desahnya tertahan menggeliat begitu Frans dengan buasnya melahap payudara montoknya dan lanjut ke setiap inci tubuhnya. Lina hanya bisa mengelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencoba menolak kenikmatan yang mulai melandanya, sementara kedua tangannya di tahan oleh Frans di atas kepalanya.




Tidak puas hanya sampai disitu, tangan Frans mulai meraba pangkal paha Lina.






“Ternyata bibir bawah loe lebih jujur”, kata Frans begitu mengeluarkan jari telunjuknya dari vagina Lina, yang sudah dibasahi cairan lendir kemaluannya itu. Lina yang sudah terlanjur konak karena perlakuan kasar Frans pada tubuhnya, hanya memalingkan wajahnya kesamping, untuk menutupi rasa birahinya. Karena saat ini wajahnya sudah terasa panas. Apalagi ketika melihat Frans mulai membuka pakaiannya. Saat Frans membuka celana dalamnya, Lina di buat tercekat begitu melihat senjata Frans yang sudah berdiri dengan kokohnya.






Gila! Itu lebih besar punya suaminya, bathin Lina.






Tidak sabaran, Frans langsung menindih Lina kembali. Karena nafsu yang sudah memuncak, Frans tidak memperdulikan kepuasan pasangannya seperti biasanya. Dengan kasarnya Frans membuka kedua paha Lina, dan tanpa aba – aba ia langsung memasukkan senjatanya ke dalam lobang memek Lina.




Blessss






“Ahhhkk sakittt”, teriak Lina tertahan. Lobang vaginanya terasa panas dan penuh sesak begitu Frans memasukkan dengan paksa senjata pusakannya. Lobang memeknya sampai mengembang dan terasa seperti robek ketika dimasuki oleh kemaluan Frans.


“aaahhhh nikmatnyaa”, kata Frans memejamkan matanya. Sensasinya seperti bercinta dengan perawan saja, apa mungkin karena kakaknya jarang memakai lobang memek ini, sehingga rasanya masih sangat sempit sekali.






Frans semakin meningkatkan genjotannya, sementara Lina sudah tidak malu – malu lagi untuk berteriak menikmati persetubuhan itu.




Entah berapa kali mereka mencapai orgamenya malam itu, yang jelas persetubuhan itu terjadi sampai berulang kali, sampai keduanya kelelahan dan tidak sanggup lagi melanjutkannya. Lina yang awalnya merasa terpaksa, malah jadi ketagihan dengan permainan kasar Frans. Semua gaya mereka coba, sampai Frans sendiri memuncratkan spermanya kedalam liang peranakannya.








BERSAMBUNG







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar