RUMAH NO 202 PART 10

  


Gak hanya reader, gw juga masih kentang nih karena belm menemukan jawaban siapa wanita misterius yang ada ditaman depan rumah Frans semalam. Cekidot!












***












“Hoaaaammm”, aku menguap lebar sambil merenganggkan badan.












Enak banget rasanya tidur semalam dirumah baru ini, terlepas dari semua gangguan yang tidak masuk di akal semalam. Kasurnya juga sangat empuk, wah kalau begini bisa betah aku berlama-lama tidur diatas kasur seempuk ini, pikirku senang.












“Eh, ada kopi, siapa yang menghidangkannya yah ?”, kembali aku diherankan dengan adanya secangkir kopi yang sudah ada begitu saja diatas meja kecil disamping tempat tidurku. Asap kopinya masih mengepul pertanda kalau kopinya masih hangat dan baru saja dihidangkan, tapi lagi-lagi aku tidak menemui siapa orang yang menghidangkan kopi tersebut.








Ah masa bodohlah, ada kopi dengan aroma wangi begini, sudah terhidang begini masa gak dinikmati, pikirku cuek.












Ssrruuppp sruuppp “Hmnnnn enaknya”, pujiku akan kenikmatan kopi ini.












Aku dibuat terkagum dengan cita rasa kopi yang kuminum ini. Rasa kopinya sangat khas, hampir semua kopi daerah yang pernah kucoba, tapi rasa kopi yang kucicipi saat ini terasa beda, arabica ? hmnn kayaknya gak juga deh. Yang jelas siapapun itu yang telah menghidangkan kopi seenak ini, aku mengucapkan terimakasih padanya dari lubuk hati paling dalam.












“hmnn seandainya ada wanita cantik yang melayaniku seperti ini, udah masakannya enak, mau deh aku memperistrinya”, spontan saja aku mengucapkan kata tersebut. Entah kenapa aku begitu saja mengucapkan kata itu, kalau yang membuat ini jelek gimana? apa gak ngenes aku jadinya tar, hahaha.








Setelah mandi dan berdandan seperlunya, aku periksa Hape ku, ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dan sms dari Meta.








“Mas Frans susah betul kalau dihubungi dipagi hari yah”




“Meta mau informasikan kalau hari ini tidak jadi ke tempat mas Frans yah, karena ada tugas mendadak dari kantor untuk ke kekantor cabang selama dua hari, so, sampai ketemu 2 hari lagi mas Frans”












Oh ternyata Meta gak jadi datang hari ini, pikirku. Namun yang sedikit membuat hatiku berdesir indah adalah sms terakhir Meta yang dikirimkan padaku.












“Jaga kesehatan yah mas Frans”












Entah kenapa aku jadi berpikir kalau Meta ada perhatian padaku. Walau tidak secara langsung namun aku bisa merasakan kalau ia ada perhatian padaku. Entah itu sebagai apa?. Kalau ia hanya sekedar menganggap aku kenalan biasa atau sekedar pelanggan yang membeli rumahnya saja, tidak mungkin ia akan memberi perhatian - perhatian kecil seperti ucapannya terakhir waktu itu ataupun melalui smsnya barusan.












“Iya maaf baru aktif hapenya. Oke Meta, semangat yah. Semoga sukses disana” 












Selanjutnya aku turun kelantai bawah, dan... lagi-lagi sudah ada terhidang sarapan pagi yang membuatku menitikan selera karena menu - menunya yang sangat menggoda nafsu makan. Benar - benar sebuah keanehan yang tidak bisa dicerna dengan akal sehat, tapi sekali lagi aku tekankan!, pasti ada alasan yang logis dibalik semua ini. Saat aku ingin membantah alasan yang tidak logis seperti kenyataan yang kuhadapi, namun lagi-lagi pikiran sehatku membantahnya.








Jika iya ada yang menghidangkan semua ini, terus masaknya dimana, karena aku tidak menemukan tanda-tanda orang yang memasak didapurku, jangankan memasak peralatan dapur saja belum ada, selain kompor gas dan panci., selain itu bahan masaknya dari mana coba ?, aku belum ada mengisi kebutuhan dapur sama sekali. Ah atau jangan-jangan...?, penasaran aku coba membuka kulkas yang terdapat didapur, dan isinya membuatku terpana. Ternyata didalamnya sudah lengkap diisi dengan daging yang masih segar, sayuran, telur, buah-buahan dan kebutuhan lainnya. Didalam lemari dapurpun sudah terdapat beberapa karung beras ukuran 5kg, dan di rak lemari bagian atas juga terdapat aneka ragam jenis kopi, creamer dan gula pasir.












“Astaga, siapa yang membeli ini semua ?”, gumamku keheranan.












Lumayan lama aku termenung, di kursi meja makan, sampai akhirnya aku memutuskan, masa bodohlah dengan semua itu, daripada capek-capek mikirin hal yang belum pasti, lebih baik menikmati apa yang sudah dihidangkan dihadapanku saat ini. Siapapun yang telah menyiapkan ini semua, aku akan berterima kasih padanya nanti saat bertemu dengan orangnya.








Setelah sarapan, aku membersihkan peralatan makanku dan menempatkannya ke dalam peralatan makan di lemari. Hari ini rencananya aku mau membeli beberapa lampu dan cat rumah, agar suasana rumah yang baru kutempati ini terlihat cerah dan baru, karena beberapa bagian dinding rumah kuperhatikan catnya sudah sedikit kusam dan menggelupas di beberapa sisi.








Setelah mencatat semua kebutuhan untuk renovasi ringan rumah, selanjutnya aku memesan ojek online.












“anjirrr, lupa kalau disini kan gak dapat signal internet”, gumamku kesal.












Akhirnya dengan terpaksa aku berjalan lebih kurang 2 kilometer keluar area perkampungan baru bisa dapat signal internet. Hitung-hitung ganti olahraga, malah pakaianku yang lumayan basah oleh keringat yang sudah membanjir dengan derasnya. Segini susahnya kalau tidak ada kendaraan, pikirku.








Untungnya ada pangkalan ojek tak jauh di persimpangan area perkampungan.












“Toko bangunan tedekat yah bang”, kataku pada si tukang ojek. Si abang ojek dengan semangat 45 langsung mengantar ke tujuanku. Apesnya lagi ternyata toko bangunannya, hanya berjarak 1 kilometer dari pangkalan ojeknya, gimana gak apes namanya, tau begini mending jalan sekalian, mana sudah basah oleh keringat begini nih badan, pantesan abang ojeknya langsung bersemangat begitu mengantarkianku tadi, asu dah!.




“Mau diantar kemana lagi Pak ?”, katanya dengan senyumnya yang menyakitkan buatku.




“Sudah bang disini aja”, jawabku singkat.












***












Setelah semua kebutuhan rumah kudapatkan, aku menggunakan jasa antar dari toko bangunan tersebut. Dan ternyata bukan hanya aku saja yang bingung dengan alamat Rumah no. 202 tempatku tinggal. Bapak yang punya toko bangunan tersebut juga bingung dengan alamat yang kumaksud, bahkan aku harus mengambarkan denahnya secara detail pada orang yang mengantarkan pesananku tersebut.








Untuk menunjang aktivitasku sehari-hari sebelum mendapatkan pekerjaan tetap, aku putuskan untuk membeli motor sehabis belanja kebutuhan rumah baruku. Yah, itu sebuah rencana yang cukup realistis saat ini sesuai dengan sisa keuanganku. Karena ketika kuperiksa saldo di rekeningku hanya tersisa 90 jutaan. Dengan sisa uang yang ada aku memutuskan membeli sebuah motor jepang dengan type r15, lumayan bisa tampil gaya lah.








Saat sampai dirumah ternyata hari sudah malam, tepatnya jam 20.00Wib aku memasuki pekarangan rumah baruku saat ini. Belum sampai aku memasuki rumah, kembali aku dibuat merinding dengan keanehan yang ada dirumah ini. Jika sebelumnya hanya gangguan tak kasat mata, kali ini seakan aku dipaksa untuk mengakui keanehan yang terjadi.








"Tampak lampu rumah dan taman menyala, loh siapa yang menyalakan lampu yah?" pikirku heran. Karena selain aku tidak ada orang lain yang tinggal dirumah ini.












Didepan pintu tidak kutemukan pesanan cat serta lampu yang kupesan sebelumnya. Aku sempat khawatir, apa tukang bangunannya tidak jadi mengantarnya kesini atau jangan-jangan malah salah alamat nih ?. Setelah memarkir motor di dalam garasi, aku masuk kedalam rumah melalui pintu depan. Dan klek.. baru memegang handle pintu dan belum sempat memasukkan anak kunci ternyata pintu sudah terbuka dengan sendirinya.












Perasaan pintu sudah aku kunci semuanya sebelum berangkat deh, pikirku heran. Aku melangkahkan kaki pelan masuk kedalam rumah, namun saat aku berbalik setelah menutup pintu, aku dikagetkan dengan suara seorang perempuan yang menyambutku dengan suaranya yang mendesah seksi.










Keyla






“Selamat datang”, katanya dengan merdunya.




“Arrrhhhhhhh...” teriakku kaget.




“Si.. siapa kamu ?”, tanyaku antara takut dan kagum dengan kecantikan wanita yang berdiri dengan gaun merahnya yang seksi. Benarkah ini manusia, tanyaku dalam hati.




“Eh aku mengagetkan kamu yah ? maaf”, katanya sambil menangkupkan tangannya di dada.




“Eh..ti.tidak, tapi si..siapa kamu ? kok kamu bisa masuk kerumahku ?”, tanyaku dengan jantung berdebar kencang.




“Oh iya, maaf sampai lupa. Aku Keyla. Dan aku sudah lebih dulu ada dirumah ini sebelum kamu”, katanya sambil tersenyum indah padaku. Hanya dengan melihat senyumnya saja bisa membuatku terbuai indah dengan pesonanya, bidadarikah yang didepanku saat ini ?.
















BERSAMBUNG


























Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar