Reuni yang fantastis (tamat)


Bab 7 - Ketika Gairah dan Cemburu Bersatu ... Me, Erni & Joseph








Ketika Teh Tia mencuci kemaluannya di kamar mandi, pintunya dibiarkan terbuka, sehingga aku bisa melihat semuanya sambil berdiri di ambang pintu kamar mandi.




Teh Tia tidak kaget ketika nyadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Ia bahkan berkata, "Spermanya banyak banget. Pasti konversi makanannya selalu bagus ya?"




"Ah, biasa-biasa aja," sahutku sambil memperhatikan Teh Tia yang sedang mengenakan celana dalamnya.




Setelah mengenakan celana leggingnya, Teh Tia memegang kedua pergelangan tanganku, "Kapan kita mau ketemuan lagi?" tanyanya dengan sorot berharap.




"Nanti, lihat-lihat jadwal kegiatanku dulu," sahutku sambil melingkarkan lengan di lehernya, lalu mengecup bibirnya. Dan kataku, "tapi ketemuan selanjutnya gak bisa di sini. Karena beberapa hari lagi juga pemilik baru rumah ini akan datang. Mungkin ia tidak tinggal di sini, tapi sedikitnya ia akan nempatkan orang buat bersih-bersih rumah ini."


"Siapa sih pembeli rumah ini Mas? Kok dia gak datang, semuanya dipercayakan sama Mas Yadi?"


"Pembelinya seorang big boss lah. Dia gak mau sembarangan muncul. Makanya dia sepenuhnya percaya padaku."


"Sekarang mau ke notaris?"


"Minggu depan aja. Soal gampang itu sih. Yang penting sertifikatnya kan udah di tanganku."






Sambil memeluk pinggang Teh Tia aku berkata, "Dan yang terpenting, aku sudah berhasil mendapatkan Teteh kan? So...kalau aku sedang kangen jangan susah diajak ketemuan lagi ya."


"Iya," Teh Tia memegang celanaku tepat di bagian kemaluanku, "nanti malah saya yang bakal sering kangen sama si jangkung gede ini...."






Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di belakang setir mobilku lagi.




Yah..inilah aku. Selalu saja timbul penasaranku kalau sudah berdekatan dengan seorang wanita. Dan anehnya, selalu saja aku berhasil mendapatkannya, dari kelas pembantu sampai putri konglomerat yang tak lain dari Mbak Lies itu. Bahkan di masa ABG, ibu tiriku saja kuembat. Sejalang itukah diriku ini?




Tapi kalau dipikir-pikir, hubungan rahasiaku dengan Mamie itu merupakan awal dari petualanganku. Tadinya aku hanya berusaha mencari figur pengganti Mamie, karena aku ingin menghentikan kebinalanku bersama ibu tiriku itu. Lalu aku mencoba melarikannya ke wanita lain. Lalu...yah...itulah diriku...yang sekarang selalu dihampiri oleh sosok perempuan demi perempuan.




Dan kalau ingat semuanya itu, aku merasa beruntung mendapatkan istri bernama Erni Maharani itu. Karena ia begitu setia dan selalu mengikuti apa pun yang kuinginkan, termasuk dalam soal tukar-tukaran pasangan itu.




Ketika aku masih nyetir sambil menerawang itu, tiba-tiba hpku berdering. Ternyata Joseph yang meneleponku itu.






"Hai Jos! Apa kabar?"


"Kabar baik...kamu sehat juga kan?"


"Sehat. Gimana Mila? Sehat juga?"


"Dia masih di Singapura sama maminya, Yad. Kamu di mana sekarang?"


"Lagi di jalan mau pulang. Ini udah dekat rumah. Kenapa?"


"Mau ke rumahmu, biar jangan dibilang sombong. Ini aku juga udah dekat rumahmu."


"Ya udah...ke rumahku aja. Aku sepuluh menit lagi juga nyampe."






Beberapa menit kemudian aku sudah membelokkan mobilku ke jalan pribadiku menuju garasi. Setelah memasukkan mobilku ke dalam garasi, bergegas aku masuk ke dalam rumah, ingin memberitahu "kabar gembira" kepada istriku.




Tapi setelah kucari-cari di dalam rumah, istriku tak kelihatan. Mungkin lagi di toko. Maka kubuka pintu ke arah toko dan hanya Mimin yang tampak sedang melayani pembeli.






"Ibu mana Min?" tanyaku.


"Oh...lagi belanja Pak. Banyak barang yang sudah habis."


"Pakai apa perginya?"


"Mungkin pakai angkot, Pak."






Aku terhenyak. Istriku memang pejuang sejati di mataku. Ia gak mau sok-sokan. Gak ada mobil pribadi, angkot pun jadi. Padahal aku sudah bertahun-tahun tak pernah naik angkot.




Waktu mau masuk ke rumah lagi, sebuah jip berhenti di depan toko. Kuperhatikan siapa yang turun dari mobil itu. Ternyata Joseph.




Bergegas aku menghampirinya, "Kalau mau dimasukin mobilnya, masukin aja ke situ, Jos," kataku sambil menunjuk ke pintu pagar besi yang masih terbuka bekas memasukkan mobilku tadi.




"Oke," Jos mengangguk, lalu masuk lagi ke dalam jipnya. Dan memasukkan jipnya ke jalan pribadiku. Lalu berhenti di depan pintu garasi.




Sesaat kemudian Joseph sudah kuajak masuk ke dalam rumahku.




"Mana istrimu?" tanya Joseph setelah duduk di sofa ruang tamu.


"Lagi belanja. Aku datang juga dia udah gak ada," sahutku.


"Eh...Yad...sebenarnya wanita yang bareng kamu di Singapura itu siapa?"


"Kan udah kubilang, dia kakak iparku. Tepatnya istri abangku."


"Oooo...kirain...."


"Kirain apa?"


"Hahahaaa...aku kan tau siapa kamu, Yad."


"Ya udah, gak usah buka-bukaan. Itu kan rahasia laki-laki, Jos."




Joseph cuma tersenyum-senyum.




"Mau minum? Aku punya banyak minuman buat angetin badan."


"Kalau yang import, aku mau."


"Ya iyalah. Gini-gini aku pantang minum minuman lokal."


"Ada dry gin Gordon?"


"Ada...sebentar ya," aku melangkah ke dalam. Membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol dry gin Gordon dari dalamnya. Waktu mau kembali ke ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara Mimin, "Maaf mengganggu Pak."


"Min....ada apa?"


"Tadi saya sudah minta izin sama Ibu, mau ada perlu ke Subang, Pak. Tapi kata Ibu nanti aja setelah Ibu pulang belanja atau kalau Bapak udah datang duluan, gitu."


"Ya udah. Tutup aja tokonya," kataku sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dario dompetku, "Nih buat ongkosnya, Min."


"I...iya, terimakasih Pak," Mimin tampak senang menerima pemberian itu, karena jumlahnya memang tidak sedikit untuk ukuran dia.


"Iya...baik-baik jaga diri di jalan, ya Min."


"Iya Pak...saya mau tutup toko dulu, terus mau pulang Pak."






Aku mengangguk, lalu kembali ke ruang tamu sambil membawa dua gelas kosong dan sebotol dry gin yang belum pernah dibuka itu.




"Asyiiik," cetus Joseph ketika aku sudah menuangkan dry gin ke gelas kosong dan meletakkan di depannya.




Aku pun menuangkan dry gin ke gelasku sendiri. Kemudian kami lakukan toast, "Buat sukses kita!" kataku...disusul bunyi gelasku beradu dengan gelas Joseph...triiiing...!




Lalu kami teguk iosi gelas kami sampai habis.






"Denger-denger, kamu pernah swing sama si Jaka," kata Joseph sambil meletakkan gelas kosongnya di atas meja kecil di depan kami.


"Bukan cuma swing," sahutku, "threesome juga pernah."


"Threesome?"


"Iya. Gantian threesome, pertamanya di sini, selanjutnya di rumah Jaka."


"Jadi...pertamanya Jaka dan kamu menthreesome istrimu, kemudian kalian menthreesome istri Jaka, begitu?"


"Iya. Tapi action di sini dengan action di rumah Jaka, ada selang waktu...semingguan gitulah."






Joseph menuangkan sendiri dry gin ke gelasnya yang sudah kosong. Meneguknya sedikit dan berkata, "Aku juga mau begitu."






"Boleh. Mau kapan? Nanti setelah istriku pulang?"


"Hehehe...if you allow it, I love it..." sahut Joseph sambil menyalakan rokoknya.


"Lalu kamu punya hutang...setelah Mila pulang, giliran aku yang action di rumahmu, begitu."


"Iya, iya."


"Oke...deal..." kataku sambil menjabat tangan Joseph.


"Hahaha...ini enaknya berteman sama kamu. Dari dulu kamu selalu easy going...!" kata Joseph pada waktu kami sedang berjabatan tangan.






Ya, mungkin ini semacam pengakuan bersalahku yang kuwujudkan dalam hal lain daripada yang lain. Bahwa tadi aku habis berselingkuh dengan Teh Tia. Kejadian itu akan tetap kurahasiakan. Tapi aku ingin memberikan semacam kompensasi kepada istriku, dengan mengizinkan Joseph menggaulinya nanti, supaya rasa bersalahku jadi impas.






"Nanti kalau Erni sudah datang, mungkin aku harus ngasih pengarahan dulu padanya beberapa menit," kataku sambil menghabiskan sisa minumanku.


"Tentu aja," Joseph mengangguk-angguk, "Dia kan bukan perempuan jalanan. Aku juga gak berani main serbu aja. Swing juga ada etikanya, Yad."






Aku tersenyum mendengar ucapan Joseph itu, karena teringat kata-kata istriku tentang kesannya terhadap Joseph. Bahwa istriku terkesan oleh kelembutan Joseph, bukan cuma ketampanannya doang.




Agak lama aku dan Joseph menunggu istriku pulang. Sehingga aku bermaksud untuk meneleponnya. Tapi kudengar suara brak-bruk di toko, seperti peti-peti diturunkan.






"Sebentar Jos...mungkin dia sudah pulang tuh," kataku sambil bangkit, lalu melangkah ke pintu yang menghubungkan rumahku dengan toko. Kalau pergi belanja, biasanya istriku membawa kunci toko (kunci cadangan), supaya bisa langsung memasukkan barang belanjaannya ke dalam toko kalau folding gatenya sudah ditutup.






Benar saja. Ternyata istriku sudah datang, memborong mobil pick up untuk membawa barang belanjaannya. Dan berpeti-peti barang dagangan sedang diturunkan oleh sopir dan kernet pick up itu.






"Sayang...sini..." aku melambaikan tangan ke arah istriku.




Ia menghampiriku, "Abang bau minuman ih," katanya, "Ada apa Bang?"


Kataku, "Setelah barang-barang selesai diturunkan, langsung mandi yang bersih, ya. Pakai kimono aja. Lalu ke ruang tamu dulu. Kamar tengah baru habis dibenahin kan?"


"Emang ada siapa Bang?" istriku mengernyitkan keningnya.


"Ada Joseph," kataku setengah berbisik.


Istriku tampak kaget, "Sama Mila?" tanyanya.


"Nggak," aku menggeleng, "sendirian. Istrinya masih di Singapura dengan ibunya."






Istriku tercengang. Lalu kubisiki sesuatu di telinganya. Ia menatapku. Dan ketika aku melemparkan senyum, ia mencubit lenganku sambil tersiupu-sipu.




Aku pun kembali menghampiri Joseph yang tengah menikmati minuman yang kusuguhkan.






"Udah datang, Jos," kataku sambil menuangkan lagi minuman ke gelasku yang sudah kosong, "Tapi dia masih beres-beres di toko dulu."


"Iya...santai aja," sahut Joseph dengan sikap ceria.


"Bisa nginep di sini kan?"


"Bisa. Di rumah juga bete, kayak bujangan lagi. Segala harus dikerjain sendiri."


"Ya udah nginep aja di sini. Mau sampai Mila pulang juga gakpapa. Di atas kan ada tiga kamar kosong."


"Kalau sampai berhari-hari aku di sini, kasian istrimu dong," kata Joseph setengah berbisik, "Besok pagi juga aku harus pulang."






Bagiku gak masalah Joseph mau menginap berapa malam pun. Yang jadi masalah adalah diriku sendiri. Karena bukankah tadi aku baru habis-habisan dengan Teh Tia? Lalu, apakah nanti aku masih punya tenaga untuk menthreesome istriku?




Sebagai jawaban, kuteguk lagi minumanku sampai terasa kepalaku mulai kleyengan.




Beberapa saat kemudian, istriku muncul di ruang tamu dalam kimono yang kuanjurkan. Kemunculannya pada saat aku masih kleyengan, karena terlalu banyak minum tadi.






"Hallo Erni...apa kabar?" tegur Joseph sambil bangkit, menghampiri istriku, lalu cipika-cipiki.


"Baik," sahut istriku setelah cipika-cipiki itu, "Mana Mila?"


"Masih di Singapura. Yadi udah cerita kan kalau kami ketemu di Singapura?"


"Iya...eh, maaf....aku cuma pakai kimono, Jos."


"Gakpapa...malah sexy pakai kimono gitu."




Istriku tersipu lalu duduk di sampingku. Menatapku sesaat dan tanyanya, "Abang mabok? Kok matanya merah banget?"




"Mabok sedikit...santai aja," sahutku. Sebenarnya aku masih dalam keadaan terkontrol. Tapi saat itu sengaja bersikap seolah-olah sudah mabuk berat. Masalahnya yang tadi itu...takut tenagaku udah terkuras di atas perut Teh Tia tadi, lalu mendingan pura-pura mabuk saja.


"Ayo kita pindah ke atas aja," kataku sambil berdiri (dengan pura-pura limbung), "sekalian ambilin dry gin di lemari minuman sebotol lagi dan gelas-gelas...bawa semuanya ke atas, sayang."


"Iya Bang," sahut istriku.


"Come on, friend. Let'smoveto the second floor," ajakku kepada Joseph.


"Ok. But...are you drunk?" tanya Joseph.


"A little...heheheee..." sahutku. Dan dengan langkah yang pura-pura sempoyongan aku melangkah ke arah tangga.






Mungkin lantaran kuatir aku ambruk, Joseph memegang lenganku waktu berjalan menuju lantai atas. Padahal aku gak apa-apa. Aku cuma sedang jadi pemain watak. (hiihiihiihiiii.....)




Kamar tengah yang di atas memang sudah ditata sejak beberapa hari yang lalu. Dua kasur lebar dihamparkan di lantainya, lalu ditutupi oleh seprai yang terbuat dari kain corduroy berwarna deep brown. Di dinding pun banyak hiasan ala western, sehingga kamar itu tampak seperti kamar cowboy. Ada pistol-pistolan diletakkan menyilang, ada kepala kuda yang terbuat dari kayu jati, ada roda-roda yang mirip roda pedati dalam film-film cowboy dsb.




Kedua kasur yang dihamparkan itu cukup untuk tidur 6 orang, karena ukurannya lebar-lebar. Di pinggir utara merapat ke dinding, berderet sofa-sofa yang menghadap ke tv LED layar lebar dan menempel di dinding sebelah selatan.




Di salah satu sofa itulah aku duduk berdampingan dengan Joseph. Tak lama kemudian istriku juga muncul, dengan sebotol dry gin dan beberapa gelas kecil. Aku langsung menyambutnya dengan minta dituangkan lagi dry gin baru itu ke gelas kosong.




Kuteguk isi gelas yang entah keberapa, kemudian kuminta agar istriku duduk di antara aku dan Joseph. Jadi aku ada di sebelah kanan istriku, sementara Joseph ada di sebelah kirinya. Dan perilakuku seolah sudah mabuk berat, sehingga istriku sempat berkata kepada Joseph, "Keliatannya Bang Yadi udah mabok, ya?"




"Gakpapa," sahut Joseph, "Nanti juga biasa lagi. Yang penting, aku sudah dapat ijin untuk ikut memilikimu malam ini, Er."


Ucapan Joseph itu disusul dengan pelukannya di pinggang istriku, lalu entah kapan mulainya, tahu-tahu mereka sudah berciuman dengan begitu mesranya.






Rasanya aku benar-benar sudah kehabisan tenaga setelah "bertempur" dengan Teh Tia di rumah yang baru dibeli tadi. Sehingga ketika melihat istriku sudah diraih ke atas hamparan kasur bertilam corduroy deep brown itu, terasa penisku tetap tertidur dengan nyenyaknya.




Padahal adegan demi adegan berikutnya semakin panas saja. Bahwa Joseph mulai menghimpit istriku, mulai menciumi leher istriku dengan ganasnya...sementara tangannya mulai menyelinap ke balik kimono istriku, pasti sedang meremas payudara istriku yang senantiasa dirawat dan tetap kencang itu.




Dan aku malah menambah gelas kecilku dengan tuangan berikutnya. Lalu kuteguk isi gelas kecilku, tanpa peduli pada Joseph yang sedang berusaha menanggalkan kimono istriku. Biarlah...karena ia sudah berjanji akan memberikan kesempatan padaku untuk menggauli Mila sepulangnya dari Singapura nanti...sebagai imbalan yang adil dan sepadan.




Ketika istriku melepaskan behanya, aku bahkan mengisi gelasku lagi dengan minuman. Mungkin aku harus benar-benar mabok, supaya bisa tegar menyaksikan semuanya itu. Menyaksikan payudara istriku diremas-remas oleh temanku. Menyaksikan selana dalam istriku ditarik oleh temanku sampai terlepas. Menyaksikan kemaluan istriku sudah mulai dijilati oleh temanku. Dan...aku lihat dengan jelas membenamnya batang kemaluan Joseph ke dalam lubang kewanitaan istriku !




Semuanya itu memang mendebarkan. Terlebih setelah Joseph sudah benar-benar menyetubuhi istriku.




Sex adalah sesuatu yang seolah tak ada habisnya untuk dinikmati, dibicarakan, dicari, didiskusikan, dijadikan objek dsb.,dsb.,dsb.,dsb.........!




Dan kini sedang terjadi sesuatu yang membuat darahku tersirap-sirap, bahwa istriku benar-benar sedang disetubuhi oleh Joseph. Namun aku merelakannya, karena setelah Mila pulang dari Singapura pun aku akan mendapatkan hal yang setimpal. Dan jauh di balik semuanya itu, ada pengakuan di hatiku yang terdalam, bahwa apa yang sedang terjadi pada istriku itu tak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan petualangan demi petualangan yang kerap kulakukan, yang tak pernah diketahui oleh istriku.




Maka ketika kudengar tintihan-rintihan histeris istriku yang semakin lupa daratan, aku malah menelungkup di sofa dan pura-pura tepar akibat minuman itu. Padahal aku terus-terusan memantau semua yang sedang terjadi itu.










TAMAT 







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar