Bab 1
Ketiga bangunan bertingkat itu sudah penuh diisi oleh para mahasiswa dan karyawan. Tapi rencana semula yang akan menempatkan para mahasiswi di bangunan yang paling timur, tidak dilaksanakan. Karena aku mengikuti pendapat suamiku, bahwa menerima kos cewek itu bakal memusingkan. Jadi yang kuterima di ketiga rumah kos yang berjumlah 120 kamar itu hanya cowok. Mengenai pengelompokan antara mahasiswa dan karyawan juga tak bisa dilaksanakan, karena dalam prakteknya sulit mewilah-wilah seperti itu. Maka akhirnya diputuskan bahwa siapa pun yang berminat untuk kos di "Wisma Kos Anugerah" dipersilakan memilih sendiri kamar yang masih kosong.Pada umumnya yang kos di WKA (WIsma Kos Anugerah) orang-orang yang lumayan berduit. Karena tarif kosnya cukup mahal, tapi dengan fasilitas yang memadai. Bahkan mereka merasa nyaman, bisa memarkir mobil di pelataran yang cukup luas. Sedangkan pintu gerbangnya selalu dijagai oleh satpam.Yang membuatku sedih, hanya beberapa hari setelah WKA dibuka, Bang Yadi terbang ke Kalimantan, untuk mengelola pertambangan batubaranya. Herman pun dibawa, karena di Kalimantan suamiku membutuhkan sopir juga katanya.Untunglah ada keponakan suamiku yang bernama Leo itu. Ternyata meski masih muda sekali, Leo itu banyak gunanya. Ia bukan cuma ahli beladiri, tapi juga pandai memasak di dapur kantin, pandai juga menyetir dan sebagainya. Tapi setelah ada jurumasak dan pembantunya, urusan masak-memasak diserahkan kepada mereka. Leo hanya ditugaskan untuk mengatur satpam-satpam itu dan terkadang nyetir mobil untuk keperluanku. Itu pun kalau Leo tidak ada kuliah. Kalau ada kuliah, aku pun tak pernah mengganggunya.Setelah Bang Yadi berada di Kalimantan, akulah yang terus-terusan memakai mobil itu. Bahkan Bang Yadi pernah berkata padaku, "Mulai saat ini, mobil itu menjadi mobil pribadimu. Nanti kalau terasa masih kurang, kita beli lagi mobil yang baru. Yang penting jangan pelit-pelit pada Leo. Di samping gaji tetapnya, kasihlah uang jajan secukupnya tiap hari. Tapi jangan terlalu banyak juga . Anak-anak jaman sekarang kalau punya duit terlalu banyak juga riskan. Suka dipakai macam-macam."
Suamiku berjanji, kalau tambang batubaranya sudah berjalan dan menguntungkan, ia akan pulang sebulan sekali.Tapi sudah lebih dari tiga bulan ia berada di Kalimantan, tak pernah pulang sekali pun. Dan aku mencoba untuk memakluminya, karena ia masih dalam tahap awal mengelola tambang batubaranya. Mudah-mudahan saja setelah usahanya berjalan lancar, ia akan sering-sering pulang, karena rasa kangenku terkadang susah meredakannya.Di luar kegiatanku yang terkadang melelahkan itu, ada sesuatu yang sering menggodaku.Ya, sebelum dikenalkan pada dunia swing, threesome dan sebagainya, aku tak pernah mempersoalkan, apakah aku digauli atau tidak oleh suamiku. Pada saat itu, aku menganggap sex hanya semacam kewajiban istri untuk meladeni suami belaka. Tapi setelah mata batinku dibukakan terhadap sex yang seru-seru itu, diam-diam aku merasa jadi ketagihan. Terkadang kalau aku sedang menginginkannya, diam-diam aku suka bermasturbasi. Tapi kepuasan-kepuasan semu itu lama kelamaan jadi hal yang kubenci. Bahkan waktu suamiku belum terbang ke Kalimantan, aku pernah dibelikan dildo, yang katanya untuk menggantikan suamiku kalau sedang berjauhan. Tapi sedikit pun aku tak suka mempergunakannya. Malah kapok mempergunakan dildo itu, yang vibratornya bergetar dan membuat lubang kewanitaanku seperti sedang dibor ! Lagian ketika aku mempergunakannya, aku merasa seperti sudah gila, menyeringai- nyeringai sendiri, mengejang-ngejang sendiri.
Tidak ! Aku tidak mau lagi mempergunakan dildo itu, meski bentuknya sangat mirip penis. Bahkan saking bencinya, kubungkus dildo itu dengan kantong plastik, kemudian kubuang ke sungai !
Semua itu kulaporkan kepada suamiku waktu aku sedang telepon-teleponan dengannya. Dan gilanya, suamiku malah berkata, "Kan di rumah baru itu sekarang ada brondong. Sekali-sekali boleh lah ajak dia...asal jangan terlalu sering aja."
"Brondong? Siapa maksud Abang?" tanyaku.
"Si Leo itu...aku ijinkan kalau sama dia sih. Tapi dengan orang luar, aku gak ngijinkan, kecuali kalau aku sedang di rumah nanti..."
"Bang ! Udah gila ya? Masa Abang nyuruh aku sama adik sepupu Abang sendiri?!"
"Iya...daripada selingkuh di luar rumah, kan mendingan dengan yang sewrumah. Gak usah nyewa villa atau hotel segala. Nah...kurang baik gimana aku ini, sayang?"
"Nggak ah. Nanti kalau ketahuan sama Om Wardi, bisa dihujat habis-habisan aku nanti."
"Abis?! Maunya gimana?"
"Maunya sih Abang pulang seminggu sekali kek..."
"Hahahaaaa...ngaco ! Emangnya dari Kalimantan ke rumah itu sedekat Cianjur-Bandung? Tapi...nanti kalau kegiatanku sudah berjalan lancar, mudah-mudahan aku bisa sering-sering pulang."
"Mmm...gitu ya...eh Bang...kirimin oleh-oleh dong. Kan bisa dipaketin, Bang."
"Oleh-oleh apa?"
"Apa aja yang khas Banjarmasin."
"Paling juga ikan asin tenggiri. Sebenarnya ikan asin itu dibikin di Kotabaru. Lalu dikirim dan dijual di Banjarmasin. Atau ikan asin sepat...ikan pepuyu dan..."
"...Aaah...jangan ikan asin ah," potongku, "yang lain dong. Mmm...kain sasirangan kek..."
"Ohya...kalau kain sasirangan sih nanti kukirim. Sekalian berlian Martapura, mau?"
"Mau Bang...mau ! Tapi, kalau dipaketin apa gak hilang di jalan?"
"Kain sasirangan sih nanti kupaketin aja. Tapi kalau permata yang mahal-mahal, nanti kubawa waktu pulang aja ya."
"Iya Bang."
Setelah hubungan telepon ditutup, aku tercenung sendiri di rumah kecil yang sengaja dibangun untuk memudahkanku mengawasi WKA. Di pintu depan rumah itu ada tulisan yang terbuat dari kuningan berbunyi UET. Ketika kutanyakan kepada suamiku, apa maksud UET itu, ia menjawab itu singkatan dari Untuk Erni Tercinta.
Maka sejak saat itu aku membiasakan diri menyebut rumah UET untuk rumah yang berada di kompleks wisma kos. Sementara rumah lama suka kusebut rumah toko saja.
Tokoku sudah kupercayakan kepada Mimin untuk menjaganya sekalian juga belanja barang-barang yang sudah minim stocknya. Kebetulan pula ada suplier yang sering mengirim barang-barang yang dibutuhkan oleh tokoku, sehingga Mimin tak usah jauh-jauh belanja ke pasar grosir.
Aku sendiri terkadang tidur di rumah toko, terkadang tidur di rumah UET. Tergantung kebutuhan saja.
Di rumah UET hanya ada 2 kamar. Yang satu kupakai sendiri, yang satu lagi dijadikan kamar Leo. Memang ada keinginan untuk mengembangkan rumah baru itu, karena tanah di sekitarnya masih luas. Tapi untuk apa? Semakin besar sebuah rumah, semakin repot juga merawatnya.
Hari demi hari berlalu, dalam kesibukan tapi kesepian. Sibuk mengurus toko, sibuk mengurus wisma kos, sibuk mengurus kantin dsb., tapi batinku...ya batinku ini kesepian terus sejak suamiku jauh di sebrang lautan sana. Terkadang timbul keinginan untuk ikut pada suamiku ke Kalimantan. Tapi aku tak mau disebut wanita cengeng, yang baru pisah dengan suami beberapa bulan saja sudah gak kuat.
Karena itu aku tak mau lagi mengeluh tentang rasa kesepianku, tentang rasa kangenku kepada suami tercinta. Tapi ketika rasa ketagihanku pada yang satu itu menggodaku, menggeluti batinku dan merayapi hasrat kewanitaanku.....aaaah...kenapa anjuran suamiku di telepon itu mulai jadi pikiranku?
Ya...tentang Leo itu...Leo yang baru 19 tahun itu...kenapa diam-diam jadi pertimbanganku terus? Apakah ini suatu pertanda bahwa aku selalu menelan mentah-mentah apa pun yang disarankan atau diminta oleh suamiku? Apakah ini suatu pertanda bahwa pada dasarnya aku ini seorang istri yang sangat penurut kepada suami tercintaku?
Dan malam itu, ketika aku masih menghitung uang hasil dari kantin, gila...hasrat ini menagih-nagih terus....membayangkan fantastisnya reuni di Puncak itu, yang selama 12 hari berganti lelaki tiap malam...sampai semua teman suamiku yang hadir dalam reuni itu pernah menjadi pasanganku selama sehari semalam.
Dan aku tak mau munafik. Aku harus mengakuinya sejujur mungkin. Bahwa reuni di Puncak itu sangat sensasional...yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Ketika Leo datang dan melangkah ke arah kamarnya, sudut mataku mulai mengamatinya dengan penuh perhatian. Bahwa anak muda hitam manis itu bertubuh tinggi semampai, bahwa meski umurnya baru 19 tahun...bentuk fisik dan gerak-geriknya tampak macho....
Lalu terngiang-ngiang lagi ucapan suamiku beberapa hari yang lalu di telepon, "Kan di rumah baru itu sekarang ada brondong. Sekali-sekali boleh lah ajak dia...asal jangan terlalu sering aja...... Si Leo itu...aku ijinkan kalau sama dia sih........"
Sebelum ia masuk ke kamarnya, masih sempat kutegur dari sofa yang sedang kududuki, "Leo...masa jam segini udah mau tidur?"
Leo menoleh padaku. Menyahut, "Gak Mbak. Ini mau mandi."
"Ooo...kirain sudah mau tidur."
Lalu kubiarkan ia masuk ke dalam kamarnya. Tapi aku mulai memutar otak. Mencari akal bagaimana memulainya? Memulai meraih Leo ke dalam pelukanku seperti yang disarankan oleh suamiku?
Ya...aku harus melakukannya secara halus, jangan langsung dipeluk dan ditarik begitu saja.
Beberapa saat kemudian kulihat Leo keluar dari kamarnya, dengan rambut yang kelimis, mungkin karena habis mencucinya dengan shampoo. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan jam sebelas malam.
Lalu...."Leo..."
"Ya Mbak?"
"Kemaren aku mimpi yang horror banget."
"Masa sih?"
"Iya...makanya sekarang jadi takut tidur sendirian. Kamu tidur di kamarku aja ya."
Leo menatapku sesaat, lalu mengangguk, "Iya Mbak..."
"Asyiiik...kalau ada kamu, pasti aku gak takut apa-apa lagi."
"Tapi...sekarang aku udah ngantuk Mbak..."
"Ya udah...yok kita bobo aja...aku juga udah rada ngantuk kok."
Aku bangkit dan duluan masuk ke dalam kamarku yang ukurannya lebih luas daripada kamar Leo. Tempat tidurnya juga lebih besar.
Leo tampak bingung setelah berada di dalam kamarku, "Aku...tidur di mana Mbak?" tanyanya.
"Ya di situ aja," sahutku sambil menunjuk ke arah tempat tidurku, "Emangnya kenapa?"
"Ng...nggak kenapa-kenapa...." cetusnya tergagap. Lalu naik ke atas tempat tidurku dan merebahkan diri seolah mau merapat ke dinding. Mungkin ia takut membuatku kesempitan nanti.
Dan aku mulai melancarkan siasatku. Kubuka celana legging jeansku, juga blouse sutra putihku di depan lemari pakaianku.Sudut mataku mengamati Leo yang sudah berada di atas tempat tidur. Hmm...dia bengong memperhatikanku yang tinggal mengenakan bra dan celana dalam saja. Bra juga kulepaskan, karena aku tak suka tidur dengan membiarkan bra menyesakkan nafasku. Sudut mataku mengamati lagi. Leo makin tercengang, tapi lalu bergerak memunggungiku. Aku kecewa dibuatnya. Karena aku ingin agar matanya melahap sekujur tubuhku yang tinggal mengenakan celana dalam saja ini.
Lalu kuambil kimono sutra putih bermotifkan bunga sakura dan kukenakan. Kuikatkan talinya, lalu naik ke atas tempat tidur. Leo masih memunggungiku, maka kutarik bahunya agar jangan membelakangiku seperti itu, "Sini dong agak deketan, jangan mepet ke dinding gitu."
Leo menatapku dengan senyum.
Lalu:
"Leo..."
"Ya?"
"Keliatannya kamu udah pengalaman ya dalam soal cewek?"
"Ah...disebut pengalaman banget sih gak, Mbak."
"Tapi pernah kan?"
"Hehehe...kok Mbak Erni bisa tau sih?"
"Sama siapa kamu ngalaminnya?"
"Ah...udah lama Mbak. Waktu masih di SMA dulu. Sama pacar...tapi bisa dihitung dengan jari...paling juga baru lima kali."
"Setelah itu sama siapa lagi?"
"Gak ada lagi Mbak."
"Masa?"
"Sumpah Mbak."
Aku merapatkan badanku ke badan Leo, "Terus...kalau kamu kepengen, ininya diapain?" tanyaku sambil memegang celana piyamanya, persis pada bagian yang agak menonjol di bawah perutnya.
Leo tampak kaget dan rikuh. Tapi diam saja ketika aku mulai memegang celana piyamanya dan berhenti di bagian yang terasa menegang itu.
"Diapain ayooo?"
"Mmm...paling juga di...dikocok aja Mbak. Hehehee..."
Aku tersenyum. Lalu kulepaskan tali kimonoku. Dan kutarik tangan Leo agar masuk ke dalam kimono bagian dadaku. Dan Leo gelagapan ketika telapak tangannya kutempelkan di payudaraku. "Mbak......?! Ooooh...."
"Remasin dong tetekku ini....suka enak kalau diremas tangan cowok sih..." kataku sambil menggerak-gerakkan tangan Leo agar mengikuti keinginanku, agar meremas-remas buah dadaku.
Akhirnya Leo mulai meremas buah dadaku. Sementara tanganku tidak cuma memegang celana piyama Leo...kuselinapkan tanganku ke dalam celana piyama Leo di bagian perutnya yang dilingkari karet. Gap...! Aku sudah menggenggam penis Leo yang ternyata sudah tegang sekali ini.
"Mbak...!" Leo terkejut, tapi tangannya tetap menempel di buah dadaku.
"Pengen megang......gede juga ya punyamu ini? Udah ngaceng pula..."
"Iii...iya...soalnya Mbak nyuruh megang te...tetek Mbak ini sih..."
Aku tersenyum dan berbisik ke telinga Leo, "Seneng megang penismu ini, Leo...kamu juga boleh megang...megang memekku..."
Leo tercengang.
"Ayolah jangan sungkan-sungkan...enjoy aja," kataku sambil menarik tangannya ke arah celana dalamku, "Tapi lepasin dulu celana dalamku sama kamu ya."
Lalu kukeluarkan tanganku dari dalam celana piyama Leo. Dan kubuka kimonoku ke kanan dan ke kiriku. Tidak kulepaskan, tapi payudaraku sudah terbuka bebas, begitu juga celana dalamku...tinggal menunggu langkah Leo saja lagi.
Tapi Leo malah bengong, memandang ke tubuhku yang cuma tinggal bercelana dalam doang. Aku tahu, pasti dia ragu-ragu melaksanakan perintahku. Maka dengan agresif aku pun duduk di sampingnya, sambil menyelinapkan lagi tanganku ke balik celana piyamanya. Menggenggam lagi batang kemaluannya yang sudah sangat tegang itu.
Leo cuma menatapku dengan sorot bingung. Dan aku ingin mengusir kebingungannya. Kuraih kepalanya sambil membusungkan dadaku. Dan kepala Leo terhempas di payudaraku. "Emut deh pentilnya, kayak bayi lagi netek," kataku.
Meski ragu memulainya, lama kelamaan Leo bisa juga menyelomoti pentil payudaraku.
"Tapi tanganmu harus sambil mainin ini," kataku lagi sambil menarik tangan Leo, lalu kupaksakan agar masuk ke balik celana dalamku. Terasa tangan itu gemetaran waktu bersentuhan dengan kemaluanku.
Namun aku tak peduli lagi. Aku sendiri mulai asyik meremas-remas penis Leo dengan lembut. Sementara nafas Leo terdengar makin tak beraturan.
Hasrat birahiku pun tak terbendung lagi. Sehingga tanpa keraguan lagi kulucuti pakaian Leo sampai telanjang, kemudian kulepaskan pula celana dalamku. Dan cepat aku menelentang sambi mengajak Leo melakukannya, "Ayo Leo...masukin aja cepetan..."
"I...iya Mbak," Leo pun membiarkan batang kemaluannya kupegang dan kuarahkan ke mulut meqiku yang sudah basah saking hornynya.
Sesaat kemudian terasa batang kemaluan Leo sudah melesak masuk ke dalam liang kewanitaanku. Duuuhhh....nikmatnya ! "Leooo...udah masuuuuk....iya... mainkanlah... mumpung belum malam benar...biar nyenyak tidur kita nanti..."
Leo pun mulai mengayun batang kemaluannya. Membuatku terpejam-pejam dalam nikmat, karena aku memang sudah terlalu lama tak merasakan gesekan penis lelaki.
Makin lama makin terasa betapa nikmatnya gesekan penis Leo yang masih sangat muda itu. Sehingga aku pun mulai lupa daratan. Aku cengkram leher Leo ke dalam pelukanku. Kuciumi bibirnya, sambil menggeol-geolkan pinggulku, terkadang mirip angka nol, terkadang mirip angka delapan. Hmmm...tak sia-sia aku ikutan senam sex selama ini. Karena terasa benar enaknya bagiku...dan pasti juga bagi Leo belia itu...!
Dan aku laksana burung walet yang sedang melayang-layang di atas lautan birahi, terkadang menukik, terkadang melesat ke angkasa....sementara ombak di bawahku tiada hentinya menghempas-hempas ke pantai kenikmatan....tiada hentinya menaburkan percikan keringat ke sekitarnya...!
O, Leo yang muda dan perkasa...tak kusangka aku akan mengalami semuanya ini.
Namun tiba-tiba hpku berdering. Kuberikan isyarat kepada Leo, agar menghentikan dulu ayunan kontolarianya...tapi tetap berada di dalam jepitan lubang kemaluanku.
Untung tak sulit mengambil hpku, karena berada di bawah bantalku. Ternyata dari suamiku. Supaya Leo bisa ikut mendengarkan, kuaktifkan speaker hpku. Lalu:
"Iya Bang?"
"Gimana keadaanmu? Sehat-sehat aja kan?"
"Sehat Bang," kataku sambil memperhatikan Leo yang tampak tegang.
"Kain sasirangan sudah kupaketkan, sayang. Cukup banyak tuh. Mungkin dua hari lagi juga nyampe."
"Iya Bang. Makasih ya. Eh...Bang...apa Abang serius mengenai Leo itu? Maksudku... Abang benar-benar ngijinin kalau aku ML sama dia?" tanyaku membuat Leo semakin tegang kelihatannya.
"Iya, kalau dengan Leo, aku ijinkan. Tapi bilangin sama dia, harus dirahasiakan. Jangan sampai bocor ke telinga Om Wardi dan lain-lainnya."
"Iya Bang...."
Kulihat Leo tercengang. Tampak senang dan tak sabaran lagi, mulai menggberak-gerakkan lagi batang kemaluannya. Padahal hpku masih terhubung dengan suamiku. Maka cepat kubilang, "Aku ngantuk banget, Bang...besok lagi ngobrolnya ya Bang."
Suamiku menyahut, "Iya sayang...sleep tight and have a nice dream...good night, honey...emwuaaaah..."
"Jelas?" tanyaku setelah hubungan telepon dengan suamiku ditutup.
"Jelas Mbak...hahahaaaa...berarti aku bakal kenyang ML sama Mbak terussss...." sahut Leo tampak gembira sekali.
"Iya, kapan pun kamu mau, pasti kukasih," kataku, "Makanya jangan sering-sering pulang. Biar aku gak kesepian di sini..."
"Iya Mbak...iya, iya,iyaaaa......" sahut Leo bernada penuh semangat. Penisnya yang tadi sempat melemah (mungkin karena kaget mendengar aku menerima telepon dari suamiku), terasa menegang lagi di dalam jepitan liang kewanitaanku.
"Cium dulu dong bibirku," kataku dengan nada menggoda.
Kecanggungan Leo sudah benar-benar mencair. Dengan penuh kehangatan ia mencium dan melumat bibirku, sambil memeluk leherku. Penisnya pun mulai digerak-gerakkan lagi. Kusambut dengan goyangan pinggulku, sehingga irama birahiku bergerak-gerak lagi di dalam lorong surgawiku. Penuh dengan sentuhan yang menggetarkan sekujur batinku.
Yang paling mengesankan dalam persetubuhanku kali ini, Leo benar-benar perkasa. Penisnya begitu tangguh, mampu membuatku berkali-kali orgasme. Apakah karena ia sudah mendalami ilmu beladiri sejak kecil, lalu bisa mengendalikan ketabahan penisnya, entahlah. Yang jelas, ketika ia mau ejakulasi dan sudah kuijinkan untuk memancarkan air maninya di dalam lubang kemaluanku, aku sudah merasa puas sekali.
Lalu ia mengenjot penisnya dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya membenamkannya kuat-kuat di dalam liang kemaluanku...dan terasa moncong penisnya menembak-nembakkan cairan kental hangat yang aduhai....nikmat sekali rasanya !
Nafas Leo tertahan lalu mendengus...uuuughhhhhhhhhhhh....uggggghhhhhhh....dan akhirnya ia terkapar di atas perutku.
"Gimana? Yang barusan enak gak?" tanyaku beberapa saat kemudian, setelah mencuci kemaluanku di kamar mandi.
"Enak banget," sahut Leo sambil mengenakan celana dan baju piyamanya kembali, "Luar biasa...aku gak nyangka sedikit pun kalau aku bisa memiliki Mbak malam ini. Dan hebatnya, Bang Yadi bahkan mengijinkan istri secantik Mbak kugauli."
"Tapi kalau di depan orang, jangan memperlihatkan sikap yang beda ya. Kita harus bisa merahasiakan semuanya ini."
"Iya Mbak. Di depan orang lain, aku akan bersikap sebagai adik terhadap kakaknya aja."
"Iya, harus begitu. Tapi kalau cuma kita berdua seperti sekarang, kamu boleh lakukan aku apa pun...asalkan jangan menyakiti saja."
"Iya Mbak...oooh...rasanya aku bahagia sekali bisa memiliki Mbak yang sangat-sangat dan sangat cantik begini," Leo memeluk pinggangku, lalu menciumi bibirku.
Aku cuma menjawabnya dalam hati: Aku juga bahagia, karena berkesempatan mendapatkan keperkasaan seorang cowok belia sepertimu, Leo...!
Dan keperkasaan Leo bangkit lagi setelah kami berbaring sambil berpelukan. Kudengar bisikan anak muda itu, "Mbak...boleh main lagi gak?"
Pertanyaan itu kujawab dengan gerayanganku di balik celana piyama Leo. Ternyata kejantanan Leo sudah bangkit lagi. Penisnya sudah tegang kembali. Maklum anak muda...mudah sekali nafsu dan powernya dibangkitkan.
"Boleh...tapi jilatin dulu meqinya ya," bisikku.
"Mau, Mbak...mauuuu..."
Dan ketika celana dalamku sudah dilepaskan lagi, kepala Leo sudah berada di antara kedua belah pahaku.
Mulutnya sudah menerkam kemaluanku. Dan membuatku terkejang-kejang lagi dalam nikmat yang tiada taranya
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar