Reuni yang fantastis part 6


Bab 6 - Teh Tia, Broker Sexy








Aku membaca semuanya itu dengan darah tersirap-sirap...membayangkan istriku disetubuhi oleh Joseph dengan ganasnya. Namun apa yang perlu kusesali? Bukankah pada saat yang sama aku pun sedang ganas-ganasnya menyetubuhi Karina, istri Albert yang berperawakan tinggi semampai itu?




Kutandai bagian yang sudah kubaca itu. Kemudian kuletakkan buku tebal itu di atas meja kerjaku. Merenung sesaat, lalu aku merebahkan diri di samping istriku yang sudah tidur nyenyak. Akhirnya aku pun tertidur tanpa mimpi.




Esoknya aku bangun kesiangan. Lalu bergegas masuk ke kamar mandi, karena teringat bahwa aku harus secepatnya mencari rumah yang akan dibeli oleh Mbak Lies itu. Dan aku tahu siapa yang harus kutemui siang itu. Seorang brooker property yang sudah kukenal profesional. Selesai mandi, agak terburu-buru aku berdandan.






"Baru bangun Bang?" tanya istriku di ambang pintu kamar, "Mau sarapan apa? Roti apa bubur ayam?"


"Gak usah, sayang. Aku takut terlambat. ada yang harus kuurus hari ini. Bikinin black coffee aja yang kental," sahutku.






Beberapa saat kemudian aku sudah berada di daerah perumahan yang sangat luas dan akan dijadikan kota mandiri, belasan kilometer di luar kotaku.




Seorang wanita yang usianya tigapuluhtiga tahunan menyambutku di alamat rumah yang akan dijual itu. Wanita yang sudah berkali-kali menjual asetnya padaku. Tanah yang sudah dibangun rumah-rumah kos itu juga kubeli darinya. Wanita itu biasa kupanggil Teh Tia.




Di mataku Teh Tia bukan cuma profesional sebagai broker property, tapi juga sexy. Ia kugolongkan sebagai wanita hitam manis, berperawakan tinggi besar seperti Mbak Lies. Dan yang sangat menonjol pada dirinya adalah bokongnya itu....besar sekali. Sehingga kalau sedang melangkah ia menjadi sosok yang menggiurkan, karena pantat gedenya itu bergoyang-goyang seolah menantang untuk dijamah ! Apalagi siang itu, Teh Tia mengenakan celana legging hitam yang begitu ketatnya, dengan baju kaus berwarna abu-abu, juga ketat sekali, sehingga payudara montok di dalamnya seolah mau meledak...






"Ini rumahnya Teh?" tanyaku sambil mengamati rumah minimalis yang lumayan besar itu.


"Iya," sahut Teh Tia dengan senyum manis, "Lengkap dengan perabotannya. Ini sih tinggal ngisi aja lagi."






Aku ikut masuk ke dalam rumah yang mau dijual itu. Furniture dan segala perabotan yang ada di dalam rumah ini kuanggap bagus semua. Tapi entahlah menurut penilaian Mbak Lies nanti.




Aku memeriksa sampai ke lantai atas, didampingi oleh Teh Tia. Dalam hati aku menilai harga rumah berikut segala isinya. Ketika kutanyakan berapa harga rumah lengkap dengan segala isinya ini, Teh Tia menyebutkan harganya. Membuatku terkejut bercampur girang, karena ia menawarkan harga yang cuma 55% dari taksiranku.






"Besar kan rumahnya?" cetus Teh Ita ketika aku sedang mengamati keadaan di sekeliling rumah itu dari atas.


"Iya....Ini juga besar," sahutku sambil memegang buah pantat Teh Tia.


"Heheee..." Teh Tia cuma menatapku dengan senyum. Tak ada sorot tersinggung sedikit pun. Padahal aku sedang meremas buah pantatnya yang menggiurkan itu.


"Harga matinya berapa Teh?" tanyaku dengan tangan tetap menempel di pantatnya yang masih ditutupi celana legging hitam itu.




Ia menyebutkan nominal harga matinya. Menurutku sudah sangat murah.




"Harga itu sudah full price complete with everything?" tanyaku.


"Iya, lengkap dengan semua isinya yang ada di dalam rumah ini," sahutnya.


"Termasuk ini kan?" cetusku sambil meremas lagi bokong indah itu.


Teh Tia menatapku, "Emang mau?"


"Mau banget," kataku, "pokoknya aku setuju dengan harga itu, tapi dengan ini sebagai bonusnya. Oke?"


"Kapan?"


"Apanya yang kapan?"


"Transaksinya?"


"Sekarang lah. Tapi bonusnya juga sekarang."


"Di mana?"


"Di sini aja. Kan ada tempat tidur ada sofa dan sebagainya tuh.


"Hihihi...ini untuk pertama kalinya klien minta bonus yang aneh."


Aku langsung memeluknya dari belakang sambil berbisik, "Gak aneh lah. Wajar kalau aku suka sama Teteh...karena Teteh menggiurkan banget."






Tubuh yang sedang kupeluk itu terasa menghangat. Aku tahu apa artinya itu. Menghangatnya tubuh wanita yang mulai terpancing birahinya.






"Di kamar yang di bawah aja yuk," ajak Teh Tia.


"Ayo...sekalian mau ngambil buku cek di mobilku," sahutku.






Di dalam mobil kutuliskan nominal harga rumah itu di atas selembar cek tunai. Kupegang selembar cek itu, sementara bukunya kumasukkan lagi ke dalam laci dashboard mobilku. Lalu kutelepon Mbak Lies. Semuanya clear, Mbak Lies akan secepatnya mentransfer uang pembelian rumah itu ke dalam rekeningku. Zaman sekarang...transaksi milyaran pun tak perlu sulit-sulit. Hanya dalam beberapa menit, selesai.




Ketika aku masuk lagi ke dalam rumah yang akan dijual itu, kulihat Teh Tia sudah duduk di sofa, sambil meletakkan sebuah map kuning di atas pangkuannya.






"Saya sudah bawa sertifikat aslinya. Mau panggil notaris sekarang?" tanyanya.


"Nanti aja setelah penyerahan bonusnya," kataku sambil mencium pipi wanita hitam manis itu. Lalu kuserahkan cek itu.






Ia tampak senang. Membaca cek itu dengan teliti. Kemudian memasukkannya ke dalam tas kecilnya. Lalu ia bangkit sambil berkata, "Pintunya harus dikunci dulu dong...takut ada orang masuk begitu aja..."




Kulihat ia mengunci pintu depan, lalu menutupkan gordinnya. Dan kembali menghampiriku sambil menunjuk ke pintu kamar depan, "Come on...you will enjoy your bonus now..."




Aku tersenyum sambil mengikuti langkahnya memasuki kamar depan rumah yang sudah kubeli itu (aku cuma nalangin, yang beli Mbak Lies).




Teh Tia menyambutku dengan genggaman di kedua pergelangan tanganku, "Kita kan sering ketemu, kenapa sekarang mendadak mau sama saya?"






Seperti biasa, aku menggombalinya, "Sebenarnya sejak pertama kali ketemu juga udah tergiur sama Teteh. Tapi baru sekarang kita bisa nyantai...bisa langsung ambil bonus di sini, gak usah ke mana-mana dulu."






Teh Tia menarik kedua pergelangan tanganku, sehingga aku terjerembab ke dalam pelukannya. "Ayo deh...bonusnya unlimited...sepuasnya...mau berapa kali juga saya ladeni...karena saya juga suka sama Mas Yadi..."






Teh Tia melepaskan celana legging tebalnya, sampai terlepas dari kakinya. Memang aku bakalan susah kalau diminta melepaskannya.




Aku pun mengikuti langkah wanita itu. Kulepaskan celana corduroy biru tuaku. Sehingga aku tinggal mengenakan baju kaus dan celana dalam saja. Wanita itu pun sama. Tinggal mengenakan celana dalam dan baju kaus, karena ia pun sudah menanggalkan behanya. Lalu ia duduk di pinggiran tempat tidur dengan tatapan dan senyum yang semakin mengundang birahiku.




Aku pun memenuhi undangan itu. Dengan mendesaknya sampai terlentang dan aku menghimpitnya sambil berusaha menanggalkan baju kaus abu-abunya. Lalu sepasang payudara montok terbuka bebas di depan mataku. Membuatku makin bernafsu untuk menjamahnya, meremasnya dan mencelucupinya. Lalu bibirku pindah sasaran. Menciumi bibir dan lehernya. Bahkan ketika mendarat di lehernya, lidahku tak ragu lagi untuk menjilatinya.






"Jangan dicupang ya, takut kelihatan sama hubby," bisiknya.


"Iya," sahutku, tapi setelah kesempatan ini bagaimana kalau aku ketagihan dan ingin ngulangin meski gak ada transaksi?"


Jawaban Teh Tia sangat membesarkan hatiku, "Sebenarnya ini gak ada hubungannya dengan transaksi. Katakan saja sekarang ini mau sama mau."


"Jadi kapan pun aku minta pasti dikasih?"


"Iya, Mas Yadi yang ganteng," sahut Teh Tia sambil mengelus rambutku dengan lembut, "Ini pertama kalinya saya selingkuh dari suami,. lho...


Kujawab dengan kebohongan, "Aku juga...ini pertama kalinya selingkuh dari ikstri..."


"Masa sih?," kata Teh Tia sambil membiarkanku menarik celana dalamnya ke bawah, sampai terlepas dari kakinya. Wow, lagi-lagi kutemukan kemaluan wanita berjembut tebal. Seolah-olah menyimpan misteri tentang sesuatu yang sangat berharga di balik kerimbunannya.






Kuciumi kemaluan berjembut tebal itu dengan penuh nafsu. Sebenarnya itu kulakukan untuk investigasi secara diam-diam. Kalau ada aroma yang kurang sedap tentu takkan kulanjutkan. Tapi justru kucium harum dari kemaluan Teh Tia itu, entah harum parfum entah harum sabun mandi...entahlah. Yang jelas, aku mulai menyibakkan bulu kemaluannya, lalu menjilati celahnya yang tampak kehitaman, lalu juga menjilati kelentitnya yang sudah mengencang itu.




Wanita tinggi besar berbokong gede itu mulai mengejang-ngejang. Nafasnya pun tertahan-tahan. Terlebih setelah aku menyedot-nyedot kelentitnya disertai jilatan-jilatan yang semakin intensif.




RIntihan-rintihan histerisnya pun mulai terdengar,"Mas...ooooh....Masss.... aaaah.... Masssss....."




Pada saat itulah aku teringat catatan istriku yang kubaca tadi malam. Lalu terbayang bagaimana binalnya istriku waktu disetubuhi oleh Joseph. Ada kegeraman di hatiku. Tapi aku justru melampiaskan kegeraman itu ke tubuh Teh Tia. Cepat kulepaskan baju kausku, lalu celana dalamku, sehingga aku pun sudah telanjang bulat seperti wanita yang sudah terlentang pasrah itu.






"Waw! Kok itunya gede amat? Iiiih...panjang pula..." seru Teh Tia sambil melotot ke arah batang kemaluanku yang sudah ngaceng total ini.






Dan manakala kubenamkan batang kemaluanku ke lubang surgawi wanita hitam manis itu, terdengar elahan nafasnya, "Aaa...aaaaah....ini sih bener-bener ....phee... niiiiss...!"




Dan ketika aku mulai mengenjotnya, ia berceloteh lagi, "Peee...pelan...pelan Mas..... duuuh...kok gede banget sih itunya?....oooh....kayak titit kudhaaaaaaaaa...."






Namun aku tak peduli dengan ocehannya. Yang terbayang cuma bagaimana istriku pada waktu disetubuhi oleh Joseph, temanku yang tampan itu. Lalu kulampiaskan kecemburuanku pada gerakan batang kemaluanku. Benar-benar ganas memompa lubang kewanitaan wanita itu...sehingga ia meraung-raung histeris, entah karena kesakitan atau terlalu nikmat.....






Beberapa saat kemudian wanita itu berkelojotan, lalu terdengar rintihannya, "Aduuuh Mas...ini...ini sih...terlalu enak....sa...saya udah mau lepas Mas....aaaa.....aaaaaaaa...."




Teh Tia merangkul leherku erat-erat, lalu terdengar ia melepaskan nafas panjang, "Aaaaaaaaahhhhhhhhh................"




Namun aku masih mengayun senjata pusakaku tanpa ampun.










BERSAMBUNG 



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar