Reuni yang fantastis part 5


Bab 5 - Kenangan Nikmat Masa Lampau - Mamie Tiriku








Setibanya di rumah, istriku menyambut dengan pelukan dan ciuman mesra. Kataku, "Gak bawa apa-apa, sayang. Itu parfum buatmu sisain satu buat Mamie. Coklatnya buat Icha (nama kecil anakku), cerutu buat Papie."




"Wuih...parfumnya favoritku semua Bang."


"Iya...syukurlah kalau kamu suka. Aku mau mandi dulu ya. Keringat Singapura masih nempel di badan, harus dibersihkan dulu."


"Singapura lebih panas dari Jakarta, ya Bang."


"Iya." kataku sambil melepaskan pakaian, lalu masuk ke kamar mandi. dengan hanya mengenakan celana dalam doang.






Waktu aku keluar dari kamar mandi, kulihat istriku sedang memperhatikan botol-botol parfum yang kubawa dari Singapura itu.






"Coklatnya mau dikirimin sekarang Bang?"


"Boleh."


"Sama Abang ke rumah Papanya kan?"


"Ayo," sahutku sambil mengangguk, "si Herman gak datang?"


"Gak Bang. Ibunya sakit keras, katanya."


"Ya udah, aku aja yang nyetir," kataku sambil berjalan menuju garasi. Istrriku mengikuti langkahku dari belakang.


"Parfumnya buat Mimin satu ya Bang," kata istriku, "Kan banyak tuh Abang bawanya."


"Terserah kamu deh. Eh, mobil suka dipanasin selama aku gak ada?"


"Tiap hari juga dipanasin Bang. Tadi pagi aku yang manasin, karena Herman gak datang."






Kuhidupkan mesin mobilku, lalu kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Istriku juga mengganti pakaiannya dengan gaun wetlooknya yang berwarna hijau tosca.




Tak lama kemudian, aku sudah berada di belakang setir mobilku bersama istriku.






"Abang kok gak ngomong sama Mimin dulu? Kan Abang seminggu gak di rumah," kata istriku yang duduk di sebelah kiriku.


"Hush, emangnya dia istriku?"


"Tapi kan Abang....'


"....Sudahlah," selaku, "istriku cuma kamu satu-satunya. Yang lain-lain hanya kuanggap...ya begitulah...eeeh...catatan memory dalam reuni itu sudah selesai semuanya?"


"Hampir selesai...susah aku menulisnya Bang...takut Abang marah sih...kejadiannya kan dengan lelaki lain semua."


"Ah, masa susah? Dulu kamu kan sering menulis cerpen segala."


"Iya, tapi yang Abang minta itu...rasanya berat sekali untuk menuliskannya. Tapi hampir selesai kok. Tinggal hari terakhir aja yang belum kutuliskan..."


"Baguslah. Nanti kubaca...pasti seru dan bikin aku degdegan."






Beberapa saat kemudian, mobilku sudah kuhentikan di dekat teras rumah orang tuaku. Istriku duluan turun sambil memanggil-manggil, "Ichaaa...Ichaaaa....bunda datang niiih..."




Seorang wanita 45 tahunan muncul. Itulah ibu tiriku, yang biasa kupanggil Mamie. Yang masih tampak cantik di usia mature-nya.






"Erni...kok lama gak ke sini-sini? Sibuk terus ya?" cetus Mamie setelah istriku cium tangan padanya, lalu mereka cipika cipiki..






Aku pun menghampiri ibu tiriku sementara istriku sudah masuk ke dalam rumah. Tidak cium tangan, langsung cipika-cipiki saja. Dan...Mamie mencubit perutku. Membuatku agak terperangah. Menatapnya lalu sama-sama tersenyum. Namun bayangan masa laluku tergambar lagi dengan jelasnya di pelupuk mataku.




Ayahku muncul, "Ke mana aja Yad? Kok lama banget gak datang?"




"Sibuk Pap," sahutku, "Ini juga baru aja datang dari Singapura."


"Bisnis kapal tanker bekas lagi di Singapura?"


"Nggak Pap. Jalan aja...eh...ada cerutu tuh di Erni buat Papie...buat Mamie ada parfum juga."






Istriku muncul sambil menuntun Icha. O, lucunya anakku dengan rambut dikuncir seperti itu. Rasa haru pun menyelinap ketika Icha cium tangan padaku. Lalu kupangku dan kuciumi pipinya.






"Ada coklat tuh di Bunda...coklat dari Singapura," kataku setelah menurunkan lagi Icha dari pangkuanku.






Dalam perjalanan pulang dari rumah orang tuaku, istriku berkata, "Padahal kalau dananya ada, mendingan kita bangun rumah yang besar sekalian. Papie dan Mamie ajak pindah ke rumah kita. Biar kita juga bisa sekalian ngurus Icha."




"Papie itu susah, sayang. Beliau gak mau ikut anak, karena terasa seperti menumpang. Dulu Bang Jana juga udah berkali-kali ngajak pindah ke rumahnya. Tapi Papie gak mau. Mungkin beliau merasa lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri gitu," sahutku.






Istriku terdiam. Namun tahukah dia bahwa terawangan masa laluku sedang melayang-layang gara-gara cubitan Mamie tadi?




Beberapa saat kemudian aku sudah membelokkan mobilku ke jalan menuju garasiku. Istriku langsung mengganti gaunnya dengan gaun rumah, lalu mengambil sebotol parfum sambil memperlihatkannya padaku, "Ini yang buat Mimin, ya Bang," katanya.




"Iya....panggil deh orangnya ke sini," sahutku.


"Iya, aku harus gantiin dia jaga toko dulu, abang aja yang ngasihin parfumnya ya," kata istriku sambil meletakkan botol parfum itu di meja kecil, lalumelangkah ke pintu yang menghubungkan rumah dengan toko.






Tak lama kemudian Mimin muncul di ruang keluarga, sambil tersenyum malu-malu.






"Apa kabar Min?" tanyaku sambil menarik pergelangan tangan Mimin dan menyuruhnya duduk di atas pangkuanku.


"Sehat Pak," sahut Mimin tetap dengan sikap malu-malu, meski aku sudah menciumi pipinya berkali-kali.


"Kangen gak sama aku?" bisikku sambil mengelus lutut dan pahanya yang tersembul dari singkapan rok bawahnya.




Mimin menyahut dengan suara yang hampir tak terdengar, "Tentu aja kangen. Bapak lama banget di Singapuranya."




"Aaahh...cuma seminggu dibilang lama. Ohya, ini ada oleh-oleh dari Singapura," kataku sambil menjemput botol parfum asli made in France itu.






Mimin memegang botol parfum itu. Menciuminya sambil berkata, "Waaah...ini kan parfum mahal ya Pak?!"




"Mmm...ya gitu deh. Sebenarnya di sini juga ada jualan. Cuma kadang-kadang bisa ketipu sama barang palsu."






Setelah Mimin pergi ke toko lagi, dengan botol parfum yang kuberikan padanya, aku tenggelam lagi dalam terawangan yang satu itu.




O, aku masih ingat benar. Kisah yang masih terbayang di mataku itu terjadi pada saat umurku baru 20 tahun. Saat itu Bang Yana sudah menikah dan tinggal di rumah megah hadiah dari mertuanya itu.




Papie bercerai dengan ibuku pada saat usiaku baru 6 tahun. Lalu menikah lagi dengan seorang janda muda tanpa anak yang cantik dan baru berusia 20 tahunan. Lalu aku memanggil Mamie pada ibu tiriku itu. Kebetulan aku tidak mengalami kekejaman dari ibu tiriku. Bahkan aku merasa Mamie lebih lembut daripada ibu kandungku sendiri. Mungkin karena Mamie tidak punya anak, maka aku dan Bang Yana dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Sejak aku kecil sampai dewasa, belum pernah aku dijewer atau disentil sekali pun oleh Mamie. Apalagi dipukuli seperti dalam dongeng-dongeng tentang kekejaman ibu tiri....sama sekali tak pernah kualami.




Tadinya aku tak pernah berani kurang ajar kepada ibu tiri yang sangat menyayangiku itu. Tapi di malam itu, ketika Papie sedang berada di Cirebon untuk merundingkan rencana usahanya setelah masa pensiunnya baru dialami beberapa bulan, entah kenapa...sosok Mamie tak lagi kupandang sebagai wanita pengganti ibu kandungku, melainkan sebagai sosok yang menggiurkan !




Malam itu Mamie sedang memeriksa ulangan murid-muridnya (karena beliau seorang guru SD) di meja makan, karena meja tulisnya sudah kuminta dan kusimpan di kamarku. Dan...entah dari mana datangnya keberanian dan kebinalanku ini. Awalnya aku duduk di kursi yang berdampingan dengan kursi Mamie. Saat itu Mamie mengenakan daster batik tanpa lengan, tangannya sedang berada di atas meja yang hampir penuh dengan tumpukan-tumpukan kertas ulangan. Dan aku mencolek ketiaknya...atau tepatnya pangkal payudaranya !




Mamie seperti kaget, lalu menoleh padaku pada saat aku berharap mudah-mudahan saja dia tidak marah. Dan...oooh...ternyata dia malah memandangku dengan sorot baik-baik saja. Bahkan terlihat ada senyum di bibirnya. Padahal itu untuk pertama kalinya aku menyentuh payudaranya (meski cuma secuwil pada pangkalnya pula).




Merasa dikasih hati, aku memberanikan diri mencolek lagi untuk kedua kalinya. Ia menoleh lagi sambil berkata, "Kenapa sayang? Kok lain dari biasanya?"




Melihat senyumnya itu, aku semakin binal. Aku bangkit dan melangkah ke belakang kursi Mamie. Menyelundupkan kedua tanganku ke balik daster Mamie bagian dadanya. Dan kupegang sepasang payudara Mamie yang ternyata sedang tidak berbeha itu. Ternyata dibegitukan pun Mamie tidak menepiskan tanganku.






"Tetek Mamie masih kencang banget Mam..." bisikku waktu meremas payudaranya, sambil tetap berdiri di belakang kursinya.


"Iyalah...mamie kan belum pernah netekin bayi, sayang," sahut Mamie dengan suara hampir tak terdengar, "Tapi...kenapa kamu mendadak lain malam ini?"


"Sejak kecil juga aku sering memperhatikan Mamie....makin lama aku makin kagum...Mamie aja gak nyadar..."


"Dan malam ini kamu merasa punya kesempatan karena Papie sedang di luar kota ya?" kata Mamie ketika tanganku dengan binalnya kuturunkan terus (meski agak susah karena aku masih berdiri di belakangnya)...sampai menyentuh lingkaran karet celana dalamnya. Dan memang aku menemui kesulitan. Sampai akhirnya aku duduk lagi di kursi samping kiri kursi Mamie.






Aku sudah yakin benar Mamie takkan menolak pada apa pun yang akan kulakukan. Maka kini tanganku pindah daerah sasaran. Merayapi lutut Mamie, lalu merayap ke pahanya yang terasa licin dan hangat. Mamie diam juga. Bahkan ketika tanganku sudah berada di pangkal pahanya, Mami seperti in gin memudahkanku, dengan menurunkan celana dalamnya....sampai terlepas dan membiarkannya tergeletak di lantai....membuatku senang sekali...membuatku semakin berani...mulai menyentuh bagian yang berambut keriting itu...dan...ooo...Mamie malah membimbing tanganku agar salah satu jariku diselinapkan ke dalam celah kemaluannya yang hangat dan mulai membasah itu.




Aku mulai asyik memainkan jemariku di dalam lubang yang makin lama makin basah itu. Membuatku makin degdegan dan mulai sulit mengatur nafasku. Namun pada saat yang sama Mamie pun menyelinapkan tangannya ke dalam celana trainingku, menyelinapkan ke balik celana dalamku dan mulai memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini, "Iiiih....punyamu kok gede banget gini, Yad?!" cetus Mamie seperti kaget.




"Sama aja dengan punya Papie kali."


"Nggak ah. Punyamu jauh lebih gede...! Sampai hampir gak tergenggam gini..."






Aku tak menyahutnya, karena semakin asyik mempermainkan kemaluan Mamie yang masih belum terlihat olehku seperti apa bentuknya kalau Mami sudah telanjang.




Dan akhirnya Mamie berkata perlahan, "Di kamar aja yuk."




Aku mengangguk senang. Senang sekali. Tak kuduga akan gampang menundukkan wanita 34 tahunan yang selalu kupanggil Mamie itu.




"Di kamarku aja Mam," kataku sambil meraih pergelangan tangan ibu tiriku, "Di kamar Mamie mah gak tenang...takut sama bayangan Papie..."






Mamie cuma tersenyum-senyum. Entah apa yang ada di benaknya saat itu. Apakah ia juga senang akan digauli oleh brondong seperti aku? Ataukah saking sayangnya padaku sehingga apa pun keinginanku selalu dikabulkannya?




Entahlah. Yang jelas, setibanya di dalam kamarku, Mami menanggalkan dasternya, sehingga langsung telanjang bulat di depan mataku, "Ayo...mami ini mau diapain, sayang?"




Aku mau langsung menerkamnya. Tapi ia mendorong dadaku sambil berkata, "Jangan curang dong. Mamie udah telanjang, kamu juga harus telanjang."




Kuikuti perintah Mamie. Kulepaskan segala yang melekat di tubuhku, bahkan jam tanganku pun kulepaskan dan kuletakkan di atas meja tulisku.




Dalam keadaan sudah telanjang bulat, aku melangkah maju lagi...menuju Mamie yang sudah celentang di atas tempat tidurku dalam keadaan telanjang bulat juga. Kuperhatikan tubuh Mamie yang sudah tak tertutup apa-apa lagi itu. Sangat menggiurkan. Buah dadanya yang tidak terlalu besar, namun kecil pun tidak. Dan di bawah perutnya, serumpun jembut tebal menutupi permukaan kemaluannya. Dan tubuh Mamie memang mulus banget. Memang menggiurkan sekali buat aku yang masih terlalu muda ini.




Maka dengan gejolak birahi yang tak terkendalikan lagi, kuterkam tubuh ibu tiriku. Namun Mamie pun tak tinggal diam. Ia pun memelukku, menciumi pipi dan bibirku, menggumuliku dengan binalnya, sehingga nafasku terasa semakin tak teratur.




Oh, semuanya itu masih sangat jelas tergambar di dalam terawanganku, meski kejadiannya 11 tahun yang lalu.




Bahkan masih terngiang-ngiang bisikan Mamie waktu memelukku, sambil merapatkan pipinya ke pipiku, sehingga aku tak bisa saling tatap dengannya, "Duuuh...Yadiiii...sudah masuk...."




Ya, bisikan itu kudengar pas waktu batang kemaluanku mulai membenam ke dalam lubang kemaluannya yang tak pernah melahirkan bayi itu. Lalu aku benar-benar menyetubuhinya dalam gilanya gejolak nafsu birahiku.




O, betapa nikmatnya persetubuhan pertamaku dengan Mamie malam itu. Yang lalu terulang ketika fajar mulai menyingsing. Dan terulang terus di hari-hari berikutnya.




Ya, itu bukan sekali-sekalinya kisah rahasiaku bersama ibu tiriku. Di hari-hari berikutnya Mamie selalu saja menjadi pelampiasanku manakala nafsu birahiku sudah menuntutku. Meski Papie sudah pulang, selalu saja aku dan Mamie mendapatkan kesempatan, untuk saling kucuri batin kami dengan percik-percik nikmatnya surga dunia. Bahkan mungkin karena Mamie sendiri membutuhkanku, sesekali ia sengaja booking kamar hotel, hanya untuk menikmati kejantananku.




Dan aku semakin yakin bahwa Mamie seorang wanita mandul, karena setiap kali menyetubuhinya, selalu saja kupancarkan spermaku di dalam liang kewanitaannya. Tapi ia tak hamil-hamil.




Dan setelah aku menikah dengan Erni, hubungan rahasiaku dengan Mamie terputus begitu saja. Semuanya harus distop. Karena aku mau memusatkan perhatianku kepada istri tercinta.






"Ini tulisan yang sudah selesai kubuat, Bang," terdengar suara istriku, membuyarkan terawangan masa laluku.




Aku menjemput buku tebal yang diserahkan oleh istriku. Aku tak mau langsung membacanya. Kuraih dulu lengan istriku dan kudaratkan kecupan-kecupan mesra di bibirnya.




Malamnya, setelah istriku tampak sudah tidur nyenyak, barulah kubuka buku tebal itu. Yang diawali dengan kata-kata:






=============================================================================






Demi suamiku tercinta dan tersayang, aku akan menuliskan semua yang telah terjadi dalam reuni itu, meski hatiku malu untuk menulisnya. Tapi demi cintaku pada suamiku, aku akan menuliskan segalanya, dengan sejujur-jujurnya seperti yang diminta olehnya..




Semoga suamiku merasa puas dan nyaman. Dan jangan lagi menyangka aku ini masih menutup-nutupi sesuatu. Segalanya akan kujelaskan, termasuk sisi perasaanku pada waktu aku mengalami semuanya itu.




Semoga suamiku tercinta akan memaafkanku jika aku kebablasan melakukan kejalangan-kejalangan itu dengan lelaki-lelaki yang bukan suamiku. Karena semuan ya itu keinginan suamiku dan teman-temannya. Bukan aku yang merencanakan semuanya ini. Dan semoga semua yang telah terjadi takkan meretakkan rumah tanggaku bersama Bang Yadi, karena sebenarnya aku terlalu mencintainya...










BERSAMBUNG 





Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar