Bab 4 - Mbak Lies Again








Acara dengan Jaka dan Mimin itu tidak sampai larut malam. Jam delapan juga bubar, mengingat Mimin harus pulang ke rumahnya di jam tutup toko.




Setelah Jaka pulang, aku dan istriku mandi bareng.






"Gimana? Udah lepas kangennya sama Jaka?" bisikku sambil memeluk tubuh istriku yang telanjang.




Istriku menjawab dengan cubitan di perutku.




"Puas kan?" bisikku.


"Puas banget," sahut istriku singkat.






Aku senang mendengar pengakuan jujurnya itu. Lalu kusemprotkan shower air panas ke tubuhku.




Selesai mandi, aku merasa ingin istirahat sehabis letih "bertempur" dengan Mimin dan istriku.




Tapi tiba-tiba terdengar hpku berdering. Cepat kuambil hpku dari meja rias istriku. Ternyata Mbak Lies yang menilponku. Dan :






"Hallo Mbak..."


"Yad...masa berlaku paspormu masih jalan?"


"Masih, setahun lagi. Emang kenapa Mbak?"


"Antar aku ke SIngapura dong besok."


"Mmm...boleh...emang sudah punya tiketnya?"


"Besok semuanya diatur oleh biro perjalanan langgananku."


"Baik Mbak. Kira-kira jam berapa kita harus berangkat ke Jakarta?" (Saat itu kalau mau ke luar negeri harus dari Jakarta, karena bandara di kotaku belum jadi bandara internasional. Kalau sekarang gak usah ke Jakarta lagi, bisa langsung terbang dari kotaku).






Begitulah. Keesokan siangnya aku dan Mbak Lies sudah berada di dalam Jaguar hitam, menuju bandara Soekarno-Hatta). Sebelum berangkat, aku berpesan kepada istriku, "Catatan tentang reuni di Puncak itu lanjutkan sampai semuanya tertulis dengan jelas, ya sayang. Aku ingin membacanya. Tapi tolong tulisannya sejujur mungkin, sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Jangan ditambah-tambah, apalagi dikurangi."




"Iya...akan kuusahakan Bang."


"Kamu kalau ke Singapura suka nginap di mana?" tanya Mbak Lies waktu Jaguar yang dikemudikan oleh sopirnya sudah melesat di jalan tol.


"Hotel di Singapura kan mahal Mbak. Makanya aku suka nginep di Lavender Street. Hotel kecil tapi enak, karena di depannya ada food market, kayak pujasera di kita," sahutku.


"Ya udah nanti kita nginap di situ aja."


"Mbak mau ada acara apa di Singapura? Bisnis?"


"Nggak. Pengen maen aja. Pengen menghibur diri. Yah, kamu kan tau gimana perasaanku saat ini."


Kujawab dengan bisikan, karena takut kedengaran sopir Mbak Lies, "Santai aja Mbak. Kan ada aku."






Mbak Lies menatapku dengan senyum manis. Tanganku pun diremasnya dengan kehangatan yang menjalar sampai dadaku. Jujur, aku heran, kenapa Bang Yana menyia-nyiakan Mbak Lies yang begitu seksinya? Apakah di Lombok abangku menemukan gadis yang jauh lebih mengguncang imannya?




Waktu menunggu cek in di bandara, Mbak Lies tiada hentinya meremas-remas tanganku, seolah tak mau berpisah lagi denganku. Tak peduli dengan orang yang lalu lalang di terminal keberangkatan itu, Mbak Lies berkata, "Tau gak? Sejak peristiwa pertama yang sangat indah itu, aku terus-terusan ingat padamu, Yad. Siang dan malam hanya namamu yang bermukim di hatiku."




"Sama Mbak...aku juga begitu. Bahkan ketika menggauli Erni, aku membayangkan seolah-olah sedang menggauli Mbak," sahutku.






Itu memang pengakuanku yang sejujur-jujurnya. Meski aku telah bertualang dengan bermacam-macam wanita, Mbak Lies ini punya nilai tersendiri bagiku. Nilai yang sangat penting pula bagi hidup dan kehidupanku.




Karena itu, khusus untuk Mbak Lies, aku tak berniat mengajak share, threesome dan sebagainya.Mbak Lies untukku sendiri. Ia bukan cuma sosok yang menggiurkan, tapi juga sudah menjadi lumbung duit bagiku.






"Mobilmu kenapa gak diganti sama mobil mahal? Kok masih mobil lama juga?" tanya Mbak Lies, sambil tetap meremas-remas tanganku.


Kataku, "Aku gak mau show of power Mbak. Aku tak mau jadi pusat perhatian orang. Aku mencoba untuk tetap low profile. Biar saja mobilku tetap mobil yang lama, yang penting rekeningku makin lama makin gendut."


"Bagus ! Aku seneng dengarnya. Memang jangan berjiwa sok pamer, yang ujung-ujungnya membuat orang-orang jadi iri. Lalu pada melontarkan rumor gak jelas. Lalu kapan rumah kos-kosan itu mau dibuka?"


"Sebentar lagi Mbak. Ada yang terlupakan, belum ada kantin. Erni pengen sekalian buka kantin di sana."


"Bagus...bagus. Tapi Erni tetap tidak dikasih tahu dari mana sumber dana yang kamu buat rumah kos-kosan itu kan?"


"Sampai kapan pun aku takkan membuka rahasia itu. Kecuali kalau Mbak sendiri yang membocorkannya."


"Hmmm...aku percaya padamu, sayang. Dan...tau gak kenapa aku ngajak ke Singapura sekarang?"


"Mau shoping ?!"


"Nggak," Mbak Lies menggeleng, "Aku bosan shoping di Singapura. Barang yang dijual di sana, di Jakarta juga ada. Malah harganya malah murahan di Jakarta."


"Terus...tujuan Mbak ke Singapura itu apa?"


"Aku hanya ingin bebas...lepas....berdua denganmu tanpa takut dilihat siapa pun. Dan ini baru perjalanan terpendek. Nanti aku akan mengajakmu ke negara yang lebih jauh lagi."






Pada waktu cek in dan boarding, Mbak Lies tidak banyak bicara. Tapi setelah pesawat take off, ia mengajakku bicara, tapi cuma bisik-bisik, mungkin karena tak mau ucapannya didengar penumpang lain.




Setelah mendarat di Changi, pemeriksaan imigrasi singkat saja. Tidak bertele-tele seperti orang asing baru tiba di negara kita.




Tak lama kemudian kami pun menuju tempat parkir taksi, yang antre secara tertib. Tanpa harus menunggu lama, taksi yang membawa aku dan Mbak Lies sudah meluncur di jalan yang gemerlapan oleh pantulan sorot lampu-lampu, karena hari sudah mulai malam.




Hotel yang kutuju bukan hotel besar. Tapi tarifnya sama dengan hotel bintang lima di Indonesia. Yang membuatku senang dengan hotel itu, suasananya tenang, tidak terlalu ramai seperti di daerah Orchard Road. Selain daripada itu, kalau mau makan tinggal nyebrang jalan saja, karena di depan hotel itu ada food market, yang menyajikan bermacam-macam jenis makanan.




Setibanya di dalam kamar hotel yang telah kupilih, Mbak Lies berkata, "Besok kan hari Minggu. Kita jalan-jalan ke Lucky Plaza ya."




"Ih jangan Mbak."


"Emang kenapa?"


"Kalau hari Minggu, di depan Lucky Plaza itu berderet TKW dari negara kita, yang sedang menjajakan diri. Malu-maluin bangsa kita aja. Masa Mbak gak tau?"


"Masa sih? Aku emang gak pernah perhatiin soal itu."


"Para TKW tiap hari Minggu kan off. Di hari itulah mereka nyari duit tambahan, yang kabarnya malah bisa lebih gede daripada gajinya."


"Emang mereka cantik-cantik?"


"Walaaah Mbak...malah mendingan pembokat-pembokat di negara kita ! Yang berjejer di Lucky Plaza itu pada umumnya sangat di bawah rata-rata !"


"Ogitu? Tapi sebaiknya besok kita jalan-jalan ke mana?"


"Mending ke Bird Park di Jurong."


"Yayaya...aku pernah ke sana. Sangat menyenangkan. Oke, besok kita ke Jurong aja. Sekarang mending kita mandi dulu yok. Nanti setelah mandi, kita nyari makan malam."


"Iya...nyari makan tinggal nyebrang aja di sini sih. Di kanan kiri juga berderet rumah makan, tinggal pilih aja mau makan di mana."






Mbak Lies mengangguk-angguk dengan senyum manis di bibir sensualnya. Lalu mengeluarkan handuk dari kopornya. Aku pun melakukan hal yang sama. Lalu mengikuti langkah Mbak Lies masuk ke kamar mandi.




Meski pintu kamar mandi masih terbuka, Mbak Lies sudah menanggalkan gaunnya, sampai tinggal bra dan celana dalam yang masih melekat di tubuhnya. Aku menutupkan pintu kamar mandi, lalu menanggalkan seluruh pakaianku.




Mandi juga belum, Mbak Lies langsung memelukku, "Udah hampir sebulan kamu gak nengok punyaku..."




"Hehehe...ini kan udah berhadapan," kataku sambil memijat tombol shower air panas.






Setelah badan kami basah kuyup, Mbak Lies menyabuni tubuh montok padatnya, kemudian juga menyabuniku. Pada waktu kedua telapak tangannya yang bersabun itu memegang penisku, iseng juga kuambil sabun untuk menyabuni kemaluan Mbak Lies. Dan ketika moncong penisku sudah bertempelan dengan mulut meqi Mbak Lies, langsung kudorong dengan kuat dan....lep...blessss....melesak masuk ke dalam lubang kewanitaan Mbak Lies yang sering membuatku penuh fantasi dalam kenikmatan.






"Selamat datang di Singapura," bisik Mbak Lies sambil menyandar ke dinding kamar mandi.






Aku cuma tersenyum, lalu memeluk lehernya dan mulai mengayun penisku. Sekilas terbayang lagi pengalamanku bersetubuh di kamar mandi dengan perempuan-perempuan yang pernah singgah di dalam kehidupanku. Buatku, lain perempuan lain rasa dan kesannya. Maka bodoh sekali kalau ada yang berkata, "Perempuan sih begitu-begitu juga rasanya."




Tidak ! Buatku, satu perempuan satu rasa dan satu kesan. Berbeda-beda meski ujungnya sama: Crot-cret-crot !




Tapi baru beberapa menit aku bersetubuh sambil berdiri di kamar mandi itu, Mbak Lies sudah mencapai orgasme. Sehingga aku pun merasa tak perlu menahan-nahan lagi. Kugenjot batang kemaluanku dengan cepat. Dan akhirnya penisku menembak-nembakkan "amunisi cair"....membuat Mbak Lies membisikiku sesudahnya, "Kok buru-buru amat?"




"Abisnya Mbak juga cepat banget organya," sahutku.


"Aku sudah horny sejak masih di dalam pesawat tadi, sayang," sahut Mbak Lies disusul dengan kecupan hangatnya di bibirku.






Lalu kami melanjutkan mandi sebersih mungkin.




Selesai mandi, kukenakan celana pendek hitam dan baju kaus oblong hitam juga, tanpa mengenakan celana dalam. Mbak Lies juga ikut-ikutan mengenakan hot pant putih dengan baju kaus berwarna deep blue, dengan logo sebuah universitas di UK. Juga tanpa mengenakan bra maupun celana dalam.




"Kita makan dulu yok," ajak Mbak Lies, "Kan kata Yadi di sebrang ada food market."


"Oke," aku mengangguk, memeluk dan mencium bibirnya sebentar, membuka pintu kamar dan menutupkannya kembali. Lalu melangkah di samping Mbak Lies menuju lift, turun ke lobby. Lalu keluar dari lift, langsung ke arah teras hotel dan menyebrangi Lavender Street, menuju food market.






Bau masakan sudah tercium begitu memasuki food market itu. Hebatnya, meski bau ikan, daging dsb., siang ataupun malam aku tak pernah melihat lalat seekor pun di food market itu. Padahal food market di Lavender Street itu hanya seperti di pasar biasa, bukan di dalam bangunan megah seperti food court di mall-mall. Tapi kebersihannya, memang patut dicontoh di negara kita.




Beberapa pasang mata lelaki memandang ke arah Mbak Lies dengan ekspresi khusus. Pasti karena Mbak Lies cuma mengenakan hot pant ketat yang sangat pendek, sehingga bisa dibilang 90% paha putihnya terpamerkan. Ia juga cuma mengenakan baju kaus hitam tanpa bra di dalamnya, sehingga payudara montoknya tampak membayang berikut pentilnya yang menonjol. Setiap lelaki normal yang melihat Mbak Lies malam itu pasti berkomentar sama di dalam hatinya: Menggiurkan !




Aku memesan Korean fried rice dan kopi O (istilah kopi pahit di Singapura). Mbak Lies malah cuma beli dua fish cake yang harganya cuma sedollar Singapura per buah dan segelas orange juice.




Jujur, baru sekali itu aku nyobain nasi goreng Korea. Iiih, cuma nasi goreng dicampur cabe giling, dikasih kimchi dan....secuwil ikan teri yang cuma digoreng tanpa minyak ! Kalau soal nasi goreng, Indonesia lah jagonya, pikirku. Tapi aku tak mau kelihatan katro di mata Mbak Lies. Kumakan juga nasi goreng Korea itu, meski rasanya gak karuan.




Sehabis makan, aku membeli dua kaleng bir dan mengajak Mbak Lies pindah ke teras food market itu, karena ingin merokok.




Di teras food market, cepat kuhabiskan isi bir di kaleng pertama. Karena aku tahu rumah makan di Singapura tidak menyediakan asbak. Dan kalau menyediakan asbak, akan kena denda (dalam rangka memperketat agar masyarakatnya jangan merokok). Jadi kaleng bir yang sudah kosong itu kujadikan asbaknya.




Anak-anak muda tampak berbincang di belakang dan di depanku. Karena di dekat food marketg itu memang ada pub.




Aku pun asyik ngobrol dengan Mbak Lies. "Kalau aku boleh jujur, hubngan sex dengan Mbak jauh lebih enak daripada dengan istri sendiri."




"Masa sih?" Mbak Lies memegang pergelangan tanganku dengan hangatnya, "Mungkin karena rumput di pekarangan tetangga suka tampak lebih hijau daripada di pekarangan sendiri."


"Wah...hal itu sih udah kelewat, Mbak. Kita kan udah puluhan kali ML...udah bisa saling merasakan secara benar, bukan cuma fatamorgana lagi."


"Kalau aku bicara jujur, sebenarnya kamu juga jauh lebih enak daripada abangmu, Yad," kata Mbak Lies sambil meremas tanganku.


"Tapi kalau Bang Yana sudah pulang...."


"...Jangan bicara soal abangmu ah," potong Mbak Lies, "Aku sedang menikmati indahnya berdua denganmu. Jangan diganggu oleh hal-hal yang menjengkelkan."


"Kalau gitu, masuk lagi aja yuk. Aku juga pengen menikmati indahnya berduaan bersama Mbak Lies, tanpa gangguan pandangan di sekitar kita," ajakku sambil meneguk habis bir kaleng yang kedua. Lalu bangkit sambil memegang pergelangan tangan Mbak Lies.






Mbak Lies bahkan memeluk pinggangku sambil melangkah manja di sisiku. Setelah berada di dalam kamar hotel lagi, Mbak Lies langsung mengajakku duduk berdampingan di sofa, sambil memandang ke luar. Singapura yang tenang di waktu malam. Pasti jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana di Orchard Road yang selalu ramai.




Beberapa saat berikutnya, tangan Mbak Lies membuka kancing-kancing celana pendekku. Ketika tangannya menyelinap ke dalam celana pendekku, langsung penisku tersentuh oleh tangan hangat itu. Aku pun membantunya, biar leluasa ia mempermainkan penisku, dengan menurunkan celana pendekku sampai terlepas dari kakiku.




"Ini yang bikin aku enak terus," kata Mbak Lies sambil mendekatkan wajahnya ke penisku....lalu menjilati kepala dan leher penisku yang sudah mulai menegang ini. Lalu dengan binalnya Mbak Lies mulai menyelomoti batang kemaluanku, sehingga makin tegang saja rasanya alat kejantananku ini.




Cukup lama ia menyelomoti batang kemaluanku, sampai akhirnya ia melepaskan kulumannya, menanggalkan baju kaus dan hot pantnya sambil berdesis, "Yad...aku jadi pengen lagi nih."




Aku mengangguk sambil mengajak Mbak Lies pindah ke atas tempat tidur yang lumayan lebar itu. Sambil menanggalkan baju kausku, aku duluan melompat ke atas tempat tidur. Mbak Lies pun naik ke atas termpat tidur dengan senyum manis di bibir sensualnya.




Dengan sepenuh gairah, kuterkam tubuh montok padat telanjang itu. Lalu kembali kami bergumul dengan penuh kemesraan. Anehnya, setiap kali kami berciuman dan saling lumat, terasa kemesraannya menyelusup sampai ke ulu hatiku. Apakah aku sudah benar-benar mencintainya atau ada hal lain? Entahlah. Yang jelas, sepertinya Mbak Lies juga merasakan hal yang sama. Ketika aku sedang melumat bibir sensualnya, ia selalu memelukku erat-erat, seolah tak mau berpisah lagi.




Dan ketika mulutku sudah menurun ke arah perutnya, Mbak Lies menarik bahuku, "Gak usah dijilatin lagi...udah basah nih...masukin aja, sayang..."




Aku pun mengikuti keinginannya. Lalu kutempelkan moncong penisku pas di mulut vagina Mbak Lies.




Aku yakin Mbak Lies menerima kejantananku dengan penuh perasaan. Karena ketika kubenamkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya, ia menyambutku dengan ciuman berulang-ulang, dengan pelukan yang demikian eratnya.... emwuaaaah...emwwwuaaaahhhh...emwuaaaaahhhh.....!




Lalu ketika aku mulai mengayun penis tegangku, pinggul Mbak Lies pun mulai bergoyang-goyang. O, indahnya semua ini. Membuatku terpejam-pejam meresapinya.




Mbak Lies pun mulai merengek-rengek perlahan...dengan suara histerisnya seorang wanita yang sedang disetubuhi, "Yadi...aaaah...kamu membuatku selalu ketagihan, sayang....iya sayang....enjotlah seganas mungkin....aaaaaah....aaaaah..."




"Aku gak bisa ganas-ganasan sama Mbak Lies...karena aku sayang Mbak...sayang sekali," kataku berusaha menjawab meski masih asyik mengayun batang kemaluanku.




Mbak Lies kadang terpejam, kadang menatapku...sementara kedua tangannya kadang meremas rambutku, kadang meremas-remas kain seprai. Sementara keringatku mulai bercucuran, padahal AC kusetel pada 16 derajat Celcius.




Kali ini aku ingin memperlihatkan ketangguhanku sebagai seorang lelaki muda yang jantan. Sudah dua kali Mbak Lies merengek di puncak-puncak orgasmenya. Tapi penisku masih sangat tangguh...maju mundur dan maju mundur terus di dalam liang kewanitaan Mbak Lies. Keringatku juga semakin mengucur, berjatuhan ke tubuh Mbak Lies dan ke kain seprai yang putih bersih itu.




Pagi itu aku masih tertidur nyenyak. Dan tak ingat sedikit pun bahwa aku sudah menyetujui untuk jalan ke Bird Park di Jurong.




Namun pagi itu aku terbangun oleh geli-geli enak di bagian alat kejantananku. Ketika kubuka mataku, ternyata Mbak Lies sedang mengemut batang kemaluanku !




Dan aku pejamkan lagi mataku, pura-pura masih tertidur. Tapi makin kerasnya batang kemaluanku sebagai akibat emutan Mbak Lies itu, pasti membuat wanita seksi itu sadar bahwa aku tak tidur lagi. Memang aku sedang meresapi nikmatnya emutan Mbak Lies, yang dalam tempo singkat saja membuat alat kejantananku siap tempur lagi.




Mbak Lies memang tahu benar bahwa penisku sudah bangkit lagi di pagi itu. Dan sebelum aku bisa melakukan sesuatu, tahu-tahu Mbak Lies sudah berjongkok sambil memasukkan kepala penisku ke dalam lubang kemaluannya. Lalu pantatnya diturunkan, sehingga batang kemaluanku membenam makin jauh.




Aku membuka mata. Menatap Mbak Lies yang sudah mulai aktif menaik-turunkan pantatnya, sehingga batang kemaluanku seolah dikocok-kocok oleh jepitan lubang kewanitaan Mbak Lies.




Aku mencoba untuk bicara. Kataku, "Pagi-pagi udah dikasih sarapan Mbak..."




"Enak kan?" cetus Mbak Lies tanpa menghentikan ayunan pinggulnya.


"Sama Mbak Lies sih selalu enak," sahutku sambil meraih lengan Mbak Lies, sehingga payudaranya terjerembab ke atas dadaku. Dan kusambut pinggang Mbak Lies dengan pelukan hangat.






Mbak Lies tetap melanjutkan aksinya. Menaik turunkan pinggulnya, sehingga penisku terasa dibesot-besot oleh jepitan daging empuk dan hangat dan licin dan bergerinjal-gerinjal itu. O, Singapura di pagi ceria ini, menanamkan memory baru lagi untuk kehidupanku.




Bukan nyombong, bagiku tidak ada yang aneh di Singapura, karena seringnya aku mengunjungi kota ini. Bahkan aku sering heran kalau orang terlalu membangga-banggakan negara kecil ini. Apa bedanya dengan Jakarta? Mungkin yang beda cuma soal kebersihan dan ketertibannya saja. Dan jalannya lebar-lebar, sangat jarang terlihat motor di jalanan, sehingga dengan sendirinya lalu lintas kendaraan pun lancar-lancar saja. Dan...tiap aku ke Singapura, tak pernah kulihat polisi di jalan. Mungkin karena masyarakatnya taat hukum, sehingga gak perlu diawasi atau diatur-atur lagi.




Yang membuat Singapura istimewa bagiku saat itu, karena ada Mbak Lies di sampingku....sekarang bahkan sedang berada di atas perutku.




Dan manakala semuanya itu usai...seperti biasanya, Mbak Lies selalu mendaratkan kecupan hangat di pipi dan bibirku. Bahkan saat itu disusul dengan bisikan, "Makasih ya sayang. Dirimu mampu menghidupkan kembali gairah hidupku."






"Sama Mbak," sahutku mengimbangi, "Aku juga merasa...Mbak menghidupkan kembali gairah hidupku..."


Lalu kucium bibir Mbak Lies. Dan mengajaknya untuk mandi bersama.






Beberapa saat kemudian, aku dan Mbak Lies sudah berada di dalam taksi menuju Jurong.




Sebenarnya Bird Park juga tidak aneh lagi bagiku. Hanya taman burung yang di Bali juga sudah ada. Tapi kehadiran Mbak Lies itulah yang membuat segalanya jadi serba istimewa.




Dan yang juga istimewa bagiku saat itu, adalah ketika Mbak Lies sedang asyik memberi minum burung sekelompok burung lorikeets, tiba-tiba bahuku ditepuk orang dari belakang. Aku menoleh dan terkejut setelah melihat orang yang menepuk bahuku itu. Dia adalah Joseph bersama Mila, istrinya, yang sedang menuntun tangan anak ceweknya yang masih kecil.






"Jos ! Kita kok bisa ketemu di sini ya?" tegurku sambil melirik ke arah Mila yang tampak malu-malu bertemu denganku. Maklum....dalam reuni di Puncak itu aku sudah pernah merasakan segalanya dengan Mila yang manis itu.


"Sama siapa ke sini?" tanya Joseph.


"Itu...sama kakak iparku," sahutku. Lalu kudekati Mbak Lies sambil berkata, "Mbak...ini ada temanku bersama istrinya."






Mbak Lies memandang ke arah Joseph dan istrinya, lalu berjabatan tangan sambil tersenyum ramah. Dan sebagaimana biasanya kalau perempuan ketemu perempuan, Mbak Lies lalu tampak asyik ngobrol dengan Mila. Bahkan anak Joseph itu pun berkali-kali diajak ngobrol.




"Jos, maen dong ke rumahku," kataku pada suatu saat.


"Mau nyuguhin apa?" Joseph menepuk bahuku.


"Apa juga kusediakan. Mau minum sampai tumbang juga kusiediain minumannya."


"Serius nih? Hari apa aja kamu ada di rumah?"


"Aku kan wiraswasta. Bebas, gak terikat sama waktu. Kapan juga kamu bisa datang ke rumahku. Tapi contact by phone dulu...biar akunya pasti ada di rumah."


"Oke. Nomor hpmu masih yang dikasihkan di Puncak?"


"Iya."




Setelah Joseph dan istrinya berlalu, Mbak Lies bertanya, "Yang barusan teman di mana?"




"Teman seangkatan di SMA, Mbak."


"Ooo...kok kayak bukan orang Indonesia ya?" Mbak Lies mendekap pinggangku sambil memandang ke arah Joseph dan anak istrinya yang masih tampak menjauh.


"Ibunya asli Belanda, Mbak. Makanya dia kebule-bulean gitu," sahutku, "tampan ya Mbak?"


"Gak tau," Mbak Lies menggeleng, "Sejak pertama kita melakukan hubungan badan, rasanya hanya dirimu yang paling tampan di dunia ini, sayang."


"Mbak," bisikku, "pernyataan Mbak itu rasanya berdenyut sampai ke ulu hatiku..."


"Tapi memang itu kenyataan yang kurasakan, Yad," Mbak Lies semakin merapatkan pipinya ke pipiku, "by the way, besok kita nginap di Sentosa Island ya."


"Gak usah lah Mbak. Di Sentosa itu semuanya buatan. Semuanya mahal. Kalau mau foya-foya mending di negara kita sendiri. Ngapain ngabisin banyak duit di negara orang?"


"Emang iya sih. Di Sentosa Island, tarif hotel aja bisa sepuluh kali lipat jika dibandingkan dengan hotel yang selevel di negara kita."






Aku mengangguk.




Mbak Lies menambahkan, "Cuma di Singapura ini rasanya hatiku bebas sekali. Gak kuatir apa-apa."




"Kalau mau bebas, beli rumah khusus aja Mbak. Rumah yang hanya diketahui oleh kita berdua aja."


"Sopir pasti tau..."


"Kalau mau ke situ, pakai taksi aja. Jadi gak ada yang bisa melacak."


"Kalau gitu, kamu aja yang cariin rumahnya, " kata Mbak Lies, "Cari yang kira-kira tak bisa dilacak oleh siapa pun kecuali kita berdua aja."






Aku lalu membisikkan nama perumahan elite yang letaknya duapuluh kilometeran di luar kota. Mbak Lies terbelalak. Langsung mengangguk dan berkata, "Ya...aku setuju. Cari di situ aja."






"Nanti sepulangnya dari sini, aku akan langsung nyari, Mbak. Kalau mau cash, mending beli yang bekas pakai aja. Kalau beli yang baru lumayan mahal."


"Atur-atur aja lah sama kamu, sayang. Nanti tinggal lapor aja berapa harganya, lalu aku transfer duitnya langsung ke pemilik rumah itu."


"Iya, itu bagus," kataku, "Mbak gak usah muncul pada waktu transaksi. Kalau rumahnya harus dirapikan dulu, biar kurapikan dulu. Nanti Mbak tengok setelah jadi aja."


"Oke. Nanti aku yang bayar rumah itu. Tapi transaksinya pakai nama kamu aja, ya sayang."


"Beres Mbak."






Seminggu bersama Mbak Lies di Singapura, rasanya terlalu singkat. Entah kenapa aku merasa nyaman sekali berdekatan dengannya. Hingga hatiku bertanya-tanya terus, apakah aku telah mencintainya melebihi cintaku kepada istriku sendiri?




Entahlah. Yang jelas, setelah aku mengantarkan Mbak Lies sampai rumahnya di kotaku, berkali-kali kukecup bibir wanita yang beberapa tahun lebih tua dariku itu. Dan yang membuatku trenyuh, adalah ketika ia membisikiku, "Hatiku sudah menjadi milikmu, sayang."




Dan spontan aku menjawabnya, "Sama Mbak...hatiku juga sudah menjadi milik Mbak."








 BERSAMBUNG 



Report content on this page