Reuni mania (tamat)


Bab 6








SEBENARNYA catatan harian istriku belum selesai kubaca. Tapi waktu ia menanyakannya tadi, kubilang sudah dibaca semua. Biar ia merasa plong, tak merasa dihantui oleh dakwaan-dakwaanku. Tapi aku memang tak pernah mendakwanya. Apalagi reuni dengan Erwin dan Kemal itu kan prakarsaku sendiri.




Malamnya setelah istriku pulas tidur, aku melanjutkan membaca catatan hariannya tentang reuni di villa itu.






+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++








Tadinya kusangka reuni yang hanya dihadiri oleh tiga pasutri ini takkan semenarik petualanganku dengan brondong-brondong itu. Tapi ternyata kutemukan sosok yang menggugah masa remajaku, ya...hadirnya Erwin itu membuatku serasa di masa SMA lagi.




Tapi di masa SMA, ciuman bibir pun tak pernah kulakukan. Pacarku paling juga kubolehkan cium pipi.




Tapi dengan Erwin itu...bukan sekadar cium pipi. Dan gilanya, aku seolah menjadi wanita hypersex ketika sedang bersama Erwin itu. Setelah air mani Erwin bersemburan di dalam lubang kenikmatanku, hanya belasan mjenit kubiarkan ia terkapar di sisiku. Lalu kupegang batang kemaluannya. Batang kemaluan yang telah membuatku ternikmat-nikmat itu.




Dan dengan binal kuemut-emut penis Erwin yang masih lemas itu. Sehingga ia membuka matanya sambil tersenyum padaku. Oh...senyumnya pun sangat mirip gaya senyuman Aria !




Permainan mulutku berhasil merangsang Erwin. Dalam tempo singkat saja penisnya telah menegang dan siap tempur lagi. Lalu dengan hasrat yang menggebu-gebu, aku masukkan batang kemaluan Erwin ke dalam lubang kemaluanku, dalam posisi woman on top. Dan aku mulai aktif mengayun pinggulku, bergerak naik turun secara berirama, sehingga lubang kewanitaanku seolah sedang membesot-besot dan memilin-milin tombak kejantanan Erwin yang panjang dan menyundul-nyundul ujung liang kemaluanku.




Tampaknya Erwin senang dengan perlakuanku padanya. Ia pun mulai asyik mempermainkan buah dadaku yang bergelantungan di atas dadanya.




Setelah terasa capek aktif di atas, aku mengajak Erwin ke posisi klasik lagi. Erwin setuju, lalu menggulingkan tubuhku yang sedang berada di dalam pelukannya. Dan berusaha agar penis Erwin tidak tercabut waktu bergerak ganti posisi itu.






"Kalau gini sih aku bisa ketagihan ....bisa sering ngajak ketemuan nanti, Er..." bisik Erwin setelah berada di atas perutku.




Aku tersenyum dan menjawab, "Yang penting, harus seizin Bang Yadi. Kita kan udah punya komitmen takkan selingkuh diem-diem."




"Iya...kalau cuma aku dan Yadi, kan bisa swing foursome....bisa lebih konsen lagi....mmm...tetekmu masih kencang gini Er...." cetus Erwin sambil meremas buah dadaku dengan lembut.


"Emang gak pernah dipake netekin bayi....anakku dikasih susu formula..."


"Ooo...pantesan," Erwin makin asyik meremasi buah dadaku dengan penis masih menancap di liang kemaluanku, "Melahirkan dicezar, bayinya dikasih susu kaleng...jadi semuanya masih serba kenceng....pantesan...atas bawah masih greng..."






Dan ketika Erwin mulai mengayun penisnya, bermaju-mundur di dalam jepitan liang kemaluanku, kusambut dengan meraih lehernya ke dalam pelukanku. Lalu kulumat bibir Erwin sambil menikmati enaknya ayunan penisnya. Oh...lagi-lagi aku dibuai oleh terawangan masa laluku. Membayangkan Erwin sebagai Ariaku yang telah menjadi milik orang lain.




Entahlah, fantasiku melayang-layang terus waktu disetubuhi oleh Erwin ini. Sehingga aku pun menjadi binal sekali. Goyangan pantatku mungkin sebinal callgirl highclass..sehingga Erwin pun tampak sangat bersemangat mengenjot batang kemaluannya.




Mungkin aku terlalu menghayati indahnya persetubuhan dengan Erwin ini, sehingga aku berkali-kali mencapai orgasme. Sementara Erwin masih mengenjotku dengan perkasanya.




Setelah terdengar suara orang bercakap-cakap di luar kamar, Erwin mempercepat pompaan batang kemaluannya. Lalu terasa ada tembakan-tembakan cairan hangat di dalam liang vaginaku, dibarengi dengusan-dengusan nafas Erwin...yang kusambut dengan pelukan seerat-eratnya. Setelah Erwin selesai memuntahkan lahar surgawinya, kuciumi bibirnya dengan mesra, disertai remasan-remasan di bahunya.






"Gila...Bercinta denganmu mengesankan sekali, Er..." kata Erwin setelah mencabut penisnya dari jepitan vaginaku.






Kuraih lagi kepala Erwin. Kucium lagi bibirnya, lalu kataku, "Erwin juga mengesankan. Malah aku jadi seperti balik ke masa remaja...karena Erwin adik Aria...Tapi kalau ketemu dia, jangan bilang-bilang kita begini ya."




"Ya iyalah. Kalau bilang, bisa-bisa dia ngambek."


"Tapi...Aria pasti tidak sesegar Erwin," bisikku sambil menggenggam penisnya yang sudah terkulai.


"Ya iyalah," sahut Erwin bersorot bangga, "Aria kan lima tahun lebih tua dariku. Hehehee..."






Aku semakin terhanyut dalam perasaanku sendiri. Kupeluk Erwin dari belakang sambil membisiki telinganya, "Ntar...kapan-kapan Erwin ajak my husband swing ya. Kalau aku yang ngajak dia kan gak enak...melanggar etika...hihihi..."




"Oke," Erwin mengangguk, lalu membalik ke depanku, mengepit kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya, "aku memang suka kamu kok....mmmhhh...."






Ciuman Erwin mendarat lagi di bibirku. Yang kusambut dengan lumatan bergairah dan pelukan hangat...sehangat perasaanku.




Kemudian kami mandi bareng. Membuat tubuh jadi segar kembali.




Setelah mengenakan pakaian lagi, kami keluar dari kamar, menuju ruang depan, di mana suamiku sedang mengobrol dengan Kemal dan pasangan masing-masing.




Ada sedikit perasaan bersalah ketika melihat istri Erwin yang bernama Sinta itu. Karena aku baru saja memperoleh kepuasan dari suaminya. Tapi Sinta seperti tak peduli denganku. Ia malah merebahkan kepalanya di atas pangkuan Kemal. Sementara Ine pun duduk dengan merapatkan pipinya ke pipi suamiku.




Hmmm...barangkali inilah yang sering disebut "seninya swinger" oleh suamiku.




Hari sudah mulai malam ketika kami selesai makan dan kembali ke kamarnya masing-masing. Baik aku maupun Erwin sudah sama-sama letih dan ngantuk. Lalu sama-sama tertidur sambil berpelukan.




Di kamar lain, entah apa yang sedang dilakukan oleh suamiku bersama istri Kemal yang bernama Ine itu. Pasti sedang melakukan "sesuatu" yang aku tidak tahu.




ESOK paginya, aku ingin sekali merasakan lagi gumulan Erwin. Tapi waktunya sudah tiba untuk bertukar pasangan. Erwin mendapatkan pasangan Ine, suamiku mendapatkan pasangan istri Erwin yang benama Sinta itu. Sedangkan aku harus berpasangan dengan Kemal.




Sebenarnya Kemal itu tampan. Malah menurutku lebih tampan daripada Erwin. Tapi orangnya agak pendiam, tidak ceria seperti Erwin.




Tapi mau tak mau Kemal itulah pasanganku dari pagi ini sampai besok pagi.




Seperti kemaren, pagi ini pun kami berjalan-jalan dulu di perkebunan teh, sambil melenturkan otot-otot. Juga seperti kemaren, aku dan Kemal tidak mau saling ganggu dengan pasangan lain. Maka arahnya pun tidak sama. Sampai menemukan batu besar yang bisa dipakai duduk-duduk berduaan dengan Kemal.




Ternyata Kemal itu jarang bicara, tapi actionnya banyak. Baru juga duduk di atas batu besar itu, tangannya mulai merayapi betis dan lututku, bahkan lalu menyelinap ke balik gaun bawahku.






"Sebenarnya kemaren aku berharap dapat pasangan Erni," kata Kemal sambil mengusap-usap pahaku. Membuatku merinding-rindiong juga, dalam hasrat yang mulai terbangkitkan.


"Kan sekarang sudah dapat aku," sahutku sambil balas memijat-mijat pahanya yang terbuka, karena ia mengenakan celana pendek putih.






Dan...tiba-tiba saja Kemal memeluk leherku, lalu menciumi bibirku dengan lahapnya. Wow, ternyata dia kebalikan dari nato (no action talk only). Dia malah no talk action only.




Tidak seperti Erwin, Kemal itu senang dipanggil Bang olehku. Karena istrinya pun memanggil Bang padanya.




Kemal mengajakku duduk di rumput, sambil bersandar ke batu besar itu. Aku ikuti saja ajakannya.






"ML di sini enak kali ya," kata Kemal sambil menggerayangi pangkal pahaku, membuatku sedikit jengah, tapi kubiarkan saja.


"Ah nanti aja di villa, Abang bisa ML sekenyangnya sama aku."


"Kemaren waktu sama Sinta, rasanya gak senafsu ini," kata Kemal sambil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku.


"Bang Kemal udah kepengen?" tanyaku setengah berbisik.


"Iya," sahutnya sambil menggores-goreskan hidungnya ke pipiku.


"Ya udah...balik lagi aja ke villa yuk. Udah mendung-mendung gitu, kalau di sini takut kehujanan pas lagi enak-enaknya."


"Ntar dulu...lagi asyik nih," sahut Kemal sambil menggerayangi kemaluanku dengan lembut tapi cukup merangsang. Sehingga diam-diam kemaluanku mulai basah.






Kemal kelihatan makin bernafsu, sehingga aku penasaran, ingin tahu juga apakah ia sudah benar-benar siap atau belum. Maka kuselusupkan tanganku ke dalam celana pendek putih itu. Dan...wow...dia tidak memakai celana dalam....tanganku langsung menyentuh batang kemaluannya yang sudah benar-benar tegang ! Panjang dan gede dan ngaceng !






"Wow...udah ngaceng gini Bang," kataku setengah berbisik.


"Iya, punyamu juga udah basah gini...masukin aja yok..." sahut Kemal sambil menurunkan celana pendek putihnya sampai batang kemaluannya tersembul.






Aku juga sebenarnya sudah horny berat gara-gara gerayangan tangan Kemal itu. Maka tanpa basa-basi lagi kupelorotkan celana dalamku sampai terlepas dari kakiku. Dan kusingkapkan gaunku sampai ke perut.




Kemal tampak senang. Terlebih setelah aku menelentang di rumput dan merenggangkan sepasang pahaku. Langsung saja Kemal menempelkan moncong penisnya di mulut vaginaku dan berusaha membenamkannya. Agak sulit, karena aku menelentang di rumput, bukan di atas kasur empuk.




Tapi akhirnya batang kemaluan Kemal mulai membenam ke liang kewanitaanku sedikit demi sedikit. Memang terasa agak sesak, karena my hole belum terlalu basah, sementara ukuran penis Kemal tergolong king size. Tapi setelah Kemal mulai mengayun penisnya, vaginaku juga bereaksi, makin lama makin basah, sehingga makin lancar juga Kemal mengenjot liang kemaluanku.




Angin pegunungan yang sesekali bertiup menimbulkan gemerisik dedaunan. Seolah mengiringi keindahan senggama di alam bebas ini. Aku malah membayangkan, di zaman purbakala dulu, mungkin orang-orang bersetubuh seperti ini juga. Karena belum mengenal rumah dan pakaian.




Tapi kami tidak bertelanjang bulat. Aku masih mengenakan gaun, hanya celana dalamku yang dilepaskan. Kemal juga hanya memelorotkan celana pendek putihnya sampai di lutut. Tapi kemaluan kami bisa bertemu, bisa saling memberi dan menerima kenikmatan.




Tapi langit makin mendung. Hujan rintik-rintik mulai turun.






"Bang...hujan..." cetusku.


"Iya...ntar nanggung..." sahut Kemal tanpa menghentikan ayunan penisnya. Bahkan semakin mempercepat gerakan maju mundurnya.






Mungkin inilah luar biasanya nafsu birahi. Tak lagi peduli dengan apa pun yang terjadi di sekitar kami. Kemal tetap menyetubuhiku dengan garangnya. Sementara aku pun makin memperbinal goyangan pinggulku. Padahal makin lama hujan turun semakin deras. Tapi gilanya, air hujan yang membasahi tubuh dan pakaian kami malah seolah mempersegar jiwa kami.




Aku tidak protes sedikit pun. Karena aku sendiri belum pernah mengalami persetubuhan di dalam suasana seperti itu. Persetubuhan di alam bebas, dalam keadaan sedang hujan pula.




Biarlah semuanya ini terjadi. Karena kelak aku akan mengenangnya sebagai sesuatu yang sangat indah.




Bahkan ketika hujan turun semakin deras, aku justru mulai mencapai orgasme. Yang membuatku merengkuh tengkuk Kemal, sehingga wajahnya bertempelan dengan wajahku. Dan kami pun berciuman dengan mesranya, saling lumat dengan ganasnya.




Biarlah hujan turun sederas-derasnya. Kami sudah tak peduli lagi. Karena kami sedang melakukan sesuatu yang paling indah dalam hidup manusia.




Meski di tengah hujan lebat, aku masih merasakan tembakan-tembakan cairan kental hangat di dalam lubang kemaluanku. Yang kusambut dengan pelukan erat juga. Biarlah air mani Kemal membanjiri lubang kemaluanku. Karena aku tak mungkin hamil selama alat KB ini masih terpasang di dalam vaginaku.




Beberapa saat kemudian, kami berlari-lari menuju villa kembali sambil ketawa-ketiwi. Langsung masuk ke kamar. Lalu bersama-sama masuk ke kamar mandi.






"Tadi itu pengalaman yang gila dalam hidupku," kataku sambil menanggalkan seluruh pakaianku yang basah kuyup. Lalu kuputar kran shower ke arah air panas.


"Tapi indah kan?" kata Kemal yang sudah telanjang, sambil memelukku dari belakang.




Aku tak menyahutnya, karena mulai menyiramkan shower air panas ke tubuhku.




"Dengan Ine pernah main di luar gitu?" tanyaku ketika Kemal mulai menyabuni tubuhku.


"Belum," Kemal menggeleng, "Jujur...tadi itu pengalaman pertama bagiku.Hmm... tubuhmu mulus banget, Er. Bekas operasi cezar pun gak begitu kelihatan."


"Kalau kulitku hitam, pasti kelihatan. Tapi memang dokter yang mengoperasiku orang asing sih."


"Pantasan belas sayatannya hampir tak kelihatan begini."


"Ine waktu melahirkan dicezar juga?"


"Gak. Lahiran normal aja. Makanya...memeknya gak semulus memekmu, Er."


"Jangan jelekin istri sendiri ah. Ine itu kan cantik, Bang."


"Tapi Erni jauh lebih seksi," kata Kemal sambil menyabuni kemaluanku, membuat hasrat birahiku mulai berdesiran lagi.






Begitu asyik Kemal menyabuni kemaluanku, sehingga aku pun ingin membalasnya, dengan menggenggam batang kemaluannya yang masih terkulai lesu. Aku mulai meremasnya, bukan cuma memegangnya. Tentu remasan yang membuat batang kemaluan Kemal jadi bangkit lagi sedikit demi sedikit. Tapi ketika ia berusaha mau memasukkannya ke dalam vegyku, cepat kudorong dadanya, "Mandi dulu ah...nanti aja mainnya di tempat tidur. Biar bisa langsung tiduran."




Tampaknya Kemal setuju. Lalu kami mandi sebersih-bersihnya dan cepat mengeringkannya dengan handuk. Baju-baju basah itu kami tinggalkan di kamar mandi, lalu berlari-lari kecil ke dalam kamar, dalam keadaan masih sama-sama telanjang.




Tubuh kami sudah segar ketika sama-sama melompat ke atas tempat tidur. Kesegaran yang menumbuhkan semangat untuk bergumul sejadi-jadinya. Berguling-guling seperti dua ekor anak kucing yang sedang bercanda.




Sampai pada suatu titik, Kemal menrerudukkan mulutnya ke kemaluanku. Menjilatinya dengan lahapnya, seolah ingin melumat sekujur kemaluanku.




Jelas aku semakin horny dibuatnya. Dan terasa lubang kemaluanku mulai basah, sehingga akhirnya kuberi isyarat agar Kemal segera memasukkan batang kemaluannya yang sudah ngaceng berat itu.




Kemal pun naik ke atas tubuhku. Mengarahkan penisnya sesaat. Lalu mendesakkannya dengan kuat. Dan melesak masuk menerobos liang kemaluanku yang sudah basah ini....blessss...!




Aku menahan napas, karena Kemal memasukkan batang kemaluannya disekaliguskan, sehingga membuatku seperti tersedak. Nemun ketika ia mulai menggeser-geserkan penisnya seperti sedang memompa liang kemaluanku, aku pun menyambutnya dengan pelukan hangat. Pelukan penuh hasrat birahi.




O indahnya bersetubuh dengan lelaki yang bukan suamiku ini. Karena ada rasa petualangan yang fantastis...yang membuatku seperti wanita hypersex. Yang tak cukup dengan cuma sekali disetubuhi lelaki.




Dan aku tahu, alam yang awalnya diperkenalkan oleh suamiku ini, makin lama makin indah saja rasanya. Meski terkadang gila-gilaan rasanya.




YANG paling gila dalam reuni ini adalah di malam terakhir. Di ruang tengah yang cukup luas, telah dihamparkan tiga kasur yang telah disatukan.






"Ini kan malam perpisahan," kata Erwin, "Jadi kita harus bikin acara yang lebih seru daripada malam-malam sebelumnya."






Lalu suamiku berunding dengan kedua temannya, mau mengatur pelaksanaan farewell party itu. Aku, Ine dan Sinta cuma menurut saja pada keputusan suami kami.




Lalu kami minum sampai setengah mabok. Kemudian kami diminta untuk menanggalkan seluruh pakaian kami. Setelah itu diundi untuk menentukan posisi para istri di atas kasur yang telah disatukan itu. Dari hasil pengundian itu, aku kebagian di tengah. Sinta di sebelah kananku, Ine di sebelah kiriku. Sambil ketawa-ketiwi, kami para istri menelentang semua di atas kasur.






"Kamu enak Er," bisik Sinta, "kebagian di tengah, jadi paling anget...hihihi..."


"Sama aja lah," sahutku sambil tersenyum. Tapi kalau dipikir-pikir posisiku yang di tengah ini memang paling menyenangkan. Karena nanti di kanan kiriku ada yang sedang bersetubuh, sementara aku sendiri sedang bersetubuh tapi entah dengan siapa.






Keputusan mereka, waktu start kami disetubuhi oleh suami masing-masing, tapi jangan sampai ejakulasi. Karena selanjutnya akan digilir menurut jarum jam. Jadi setelah tiba waktunya, suamiku akan diganti oleh Kemal, artinya aku akan disetubuhi oleh Kemal. Dan pada gerakan selanjutnya, Erwin yang akan menyetubuhiku...dan begitu seterusnya, sampai mereka ejakulasi semuanya.




Lalu puncak acara farewell party itu dimulai. Kami berenam sudah sama-sama telanjang bulat. Suamiku mulai menjilati kemaluanku, sementara Kemal dan Erwin pun melakukan hal yang sama terhadap istrinya masing-masing.




Lucunya, begitu yang seorang mulai memasukkan penisnya ke vegy istrinya, yang lain pun melakukan hal yang sama. Lalu serempak mereka menyetubuhi istrinya masing-masing. Termasuk suamiku, mulai mengayun batang kemaluannya di dalam liang kewanitaanku. Tapi Baik Kemal maupun Erwin sama-sama jahil padaku. Erwin menyelusupkan tangannya di bawah dada suamiku dan meremas payudara kiriku. Sementara Kemal pun meremas payudara kananku.Suamiku malah tampak enjoy saja. Tidak merasa terganggu oleh intervensi teman-temannya itu. Bahkan pada saat lain, kedua tangan suamiku meremas payudara Sinta dan Ine, sementara batang kemaluannya tetap asyik mengenjot liang surgawiku.




Ketiga lelaki itu seolah-olah sedang berpacu mengentot istrinya masing-masing. Suamiku juga terasa sangat bersemangat mengayun penisnya di dalam liang kemaluanku.




Namun pada suatu saat terdengar bunyi timer berbunyi...kliiing....!




Itu pertanda para suami harus bergeser menurut jarum jam (bagi mereka). Maka tanpa menunggu lama-lama lagi suamiku pindah ke atas perut Ine, Erwin pindah ke atas perutku dan Kemal pindah ke atas perut Sinta.




Dengan bersemangat, Erwin memasukkan batang kemaluannya ke dalam memekku. Lagi-lagi fantasiku membunung tinggi di langit indah. Membayangkan yang tengah menyetubuhiku itu adalah Aria...cinta pertamaku. Maka dengan penuh gairah kudekap pinggang Erwin, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku sebinal mungkin.




Tapi Ine dan Santi pun tidak diam seperti gebok pisang. Mereka pun goyang pinggul dengan binalnya. Sementara desahan-desahan histeris mulai berkumandang di dalam ruangan itu, termasuk desahan nikmatku sendiri.




Pesta yang disebut "reuni" ini memang terasa lebih seru daripada reuni di Puncak, meski pesertanya hanya tiga pasutri.










END OF CHAPTER







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar