Bab 5
SEBENARNYA aku lebih terkesan "rekreasi batin" dengan brondong-brondong itu. Dengan Leo, Yogi dan Dimas, rasanya seperti punya mobil brand new alias 100% baru. Dibawa gila-gilaan pun takkan mogok di tengah jalan. Maklum mesinnya masih baru. Aku masih ingat benar, setelah Yogi dan Dimas pulang, aku pun berangkat ke wisma kos. Dan Leo langsung menghampiriku di kamar, memelukku dari belakang sambil berbisik ke telingaku, "Saya kangen Mbak..."
Dan aku menoleh, lalu menggerayangi celana trainingnya. Ternyata yang ngacung itu yang kangen padaku. Seandainya fisikku lemah, mana mungkin aku bisa meladeni Leo setelah tadi malam bertubi-tubi "diaduk-aduk" oleh Yogi dan Dimas secara bergantian? Untung fisikku lumayan tangguh. Sehingga aku masih kuat untuk meladeni nafsu Leo. Bahkan gilanya, untuk kesekian kalinya Leo memperlihatkan kelebihannya. Bahwa setelah ejakulasi, ia tidak mencabut penisnya. Ia menggerak-gerakkan lagi penisnya yang sudah melemah itu perlahan-lahan. Dan sedikit demi sedikit penis Leo bangkit lagi dengan gagahnya. Lalu ia menyetubuhiku lagi dengan perkasanya. Bahkan dalam persetubuhan yang kedua itu Leo lebih perkasa lagi. Membuatku berkali-kali orgasme. Bukan main !
Tapi acara "reuni mini" itu bukan acara para brondong. Mereka teman-teman sebaya suamiku, yang usianya 30 tahun ke atas. Dan mau tak mau aku harus mengikuti langkah suamiku, untuk hadir dalam acara khusus itu. Sebenarnya yang akan terjadi adalah semacam pesta orgy, tapi dikelirukan oleh suami dan teman-temannya sebagai "reuni". Ya sudahlah, toh nanti aku juga bakal merasakan enaknya, meski takkan sesegar brondong-brondong perkasa itu.
Ketika hari itu tiba, seperti biasa aku diarah-arahkan dulu oleh suamiku, tentang apa saja yang harus dan jangan kulakukan di villa nanti. Aku bahkan mulai mengingat-ingat nama istri teman-teman suamiku itu. Bahwa istri Erwin bernama Sinta. Bahwa istri Kemal bernama Ine. Terlalu mudah bagiku untuk menghafalkan cuma empat nama orang.
Menurut rencana, aku dan suamiku akan menginap di villa itu selama tiga hari. Jadi kubawa pakaian ganti secukupnya di dalam koper besar yang biasa untuk bepergian jauh.
Setelah sarapan pagi, kami berangkat menuju villa yang letaknya di luar kota itu. Suamiku ingin melihatg ketrampilanku menyetir mobil. Karena itu dimintanya agar aku yang nyetir.
Baru beberapa kilometer aku nyetir, suamiku menepuk-nepuk lututku yang tertutup celana legging woll yang tebal ini, "Hebat !" katanya, "Ternyata istriku bukan cuma cantik, tapi juga sudah pandai nyetir. Jadi kelak, kalau kita bepergian jauh dengan mobil ini, bisa gantian nyetirnya."
Aku cuma tersenyum mendengar pujian itu.
TERNYATA aku dan suamiku yang pertama tiba di villa itu. Villa yang memiliki tiga kamar besar itu. Teman-teman suamiku belum ada yang datang. Jadi kami bisa memilih kamar yang paling enak posisinya, sekalian memasukkan koper besar kami ke dalam kamar itu.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan villa. Suamiku menengok ke jendela dan berkata, "Itu Erwin dan Sinta."
Aku dan suamiku berdiri di teras villa, menyambut kedatangan teman suamiku yang bernama Erwin dan istrinya yang bernama Sinta itu. Waktu berjabatan tangan dengan Sinta, aku bercipika-cipiki dengannya. Dan langsung terasa akrab. Sementara sudut mataku sering mencuri pandang kepada Erwin yang...aaah...wajahnya mengingatkanku pada cinta pertamaku dahulu. Karena teman suamiku yang bernama Erwin itu sangat mirip Aria, pacar pertamaku di masa gadis dahulu.
Tak lama kemudian, datang lagi mobil yang berhenti di depan villa. Kami berempat menyambutnya di teras depan. Itulah Kemal dan istrinya yang bernama Ine. Seperti yang dilakukan dengan Erwin dan istrinya tadi, aku berjabatan tangan dan cipika-cipiki dengan istri Kemal yang bernama Ine itu, kemudian juga berjabatan tangan dengan Kemal.
Tahukah Kemal dan Erwin bahwa diam-diam aku membayangkan apa yang akan terjadi di antara aku dengan mereka? Tahukah mereka bahwa aku degdegan setelah membayangkan semuanya itu. Soalnya mereka ganteng-ganteng. Dan memang teman-teman suamiku di atas rata-rata semua. Entah kenapa bisa begitu. Mungkin karena SMA suamiku dulu tergolong SMA terbaik di kota ini, atau mungkin juga yang merasa tampangnya di bawah rata-rata tidak berani muncul dalam reuni khusus seperti ini.
"Acaranya gimana nih?" tanya suamiku setelah kami berkumpul di ruang depan.
"Sekarang kita kan cuma tiga pasang," kata Erwin, "jadi gak usah bertele-tele...bikin seperti acara anak-anak aja. Kita hompimpah, yang menang boleh milih pasangan."
Semuanya ketawa. Tapi mereka bertiga benar-benar hompimpah. Suamiku, Erwin dan Kemal jadi seperti anak-anak yang sedang bermain. Ternyata Erwin pemenangnya.
"Ayo, Erwin pilih, mau pasangan dengan Ine apa Erni?" tanya suamiku.
"Karena namanya sama-sama dimulai dengan hurup E dan R....aku pilih Erni deh," sahut Erwin sambil menunjuk padaku. Membuatku degdegan lagi. Soalnya gerak-gerik Erwin itu...sangat mirip Aria ! Membuatku terhanyut ke dalam terawangan masa laluku...!
Kemal dan suamiku tidak bisa memilih lagi. Tentu saja suamiku harus berpasangan dengan istri Kemal yang bernama Ine itu. Sementara Kemal harus berpasangan dengan Sinta, istri Erwin.
Seperti biasa, kalau suamiku sedang berkumpul dengan teman-teman lamanya, minuman beralkohol pun dihidangkan.
Suamiku duduk berdampingan dengan Ine dengan sikap mesra, membuatku cemburu juga, karena Ine itu cantik. Kemal duduk berdampingan dengan istri Erwin yang bernama Sinta itu. Dan aku duduk berdampingan dengan Erwin.
"Gak mau jalan-jalan dulu ke kebun teh?" tanya suamiku kepada teman-temannya.
"Boleh juga," sahut Erwin yang duduk di sampingku, "Abisin dulu minumannya dong."
Lalu Erwin berbisik ke telingaku, "Mending ganti bajunya, kalau pakai legging woll gitu nanti rumputnya pada nempel di celana."
"O, gitu? Ntar ya..." sahutku sambil bangkit lalu melangkah ke kamarku. Di kamar yang lebar sekali ini, aku menanggalkan celana legging woll dan blouse katun putihku. Kemudian kuganti dengan gaun katun berwarna light brown polosku. Memang agak pendek gaun yang kupakai ini. Bagian bawahnya hanya menutupi setengah dari paha putihku, yang orang-orang selalu bilang paha mulus dan licin ini.
Ketika aku keluar dari kamar, ternyata tinggal Erwin yang masih duduk di sofa. Yang lain-lainnya sudah pada pergi ke daerah perkebunan teh yang kata suamiku masih kepunyaan pemilik villa itu.
"Udah pada pergi semua?" tanyaku kepada Erwin yang menyambutku dengan senyuman.
"Mereka berpencar," sahut Erwin, "Istriku bersama Kemal ke kiri, Yadi dan Ine ke kanan. Kita juga harus berbeda arah dengan mereka, biar sama-sama gak ada gangguan."
"Bang Erwin mau ke arah mana?" tanyaku.
"Alaaaaah....gak usah pake bang-bangan deh. Panggil namaku aja. Erwin. Panggil Er boleh, panggil Win boleh."
"Oke deh," sahutku sambil tersenyum. Lalu mengikuti langkah Erwin, karena ia memegang tanganku.
Dan aku tak tahan menyekap rasa penasaran, kenapa tampang Erwin mirip Aria. Maka ketika kami berjalan berlawanan arah dengan Kemal dan suamiku, aku pun bertanya, "Erwin punya saudara bernama Aria gak?"
Erwin kelihatan kaget, "Aria?! Aku memang punya kakak seayah bernama Aria. Kok bisa tau nama itu?"
"Jadi Aria itu kakakmu, Win?"
"Iya. Dia kakak seayah, tapi beda ibu."
"Jadi...yang di Jakarta itu ibu kandungmu?"
"Bukan," Erwin menggeleng, "ayahku tiga kali kawin. Ibu Aria dan ibuku senasib. Sama-sama diceraikan. Lalu ayahku nikah lagi dengan wanita bernama Norma itu. Aria sih mau aja tinggal bersama ibu tiri di Jakarta. Aku gak mau...aku ikut ibuku...makanya aku tinggal di Bandung. Tapi...ntar dulu....di mana Erni pernah kenal dengan Aria?"
"Yah...Aria itu masa laluku, Win. Dan aku gak pernah dikasih tau bahwa ia punya adik bernama Erwin. Aku cuma tau adiknya itu cewek, yang namanya Lusie itu."
"Lusie itu adik tiri. Jadi waktu menikah dengan ayahku, ibu tiriku itu sudah jadi janda beranak satu, ya Lusie itu anaknya."
"Hahahaaa...jadi Erni pernah cinta-cintaan sama Aria?"
"Yah...cinta monyet gitulah. Namanya juga masih di SMA. Waktu itu Aria udah jadi mahasiswa."
Kami mengobrol sambil berjalan makin jauh dari villa. Di sekeliling kami yang tampak cuma kebun teh yang mulai bercampur dengan pohon-pohonan lain (yang aku gak tahu pohon apa namanya).
"Capek?" tanya Erwin sambil memeluk pinggangku. Hmmm...sebenarnya dari tadi aku mengharapkan pelukan seperti ini. Sambil membayang Aria di masa laluku. Karena Erwin ini benar-benar mirip Aria.
Sebagai jawaban, kudekatkan bibirku ke bibir Erwin. Dan Erwin langsung menanggapi. Mencium bibirku dengan penuh kehangatan bagi batinku.
Kami memang sudah berada ndi tengah perkebunan yang sudah bisa disebut hutan. Tiada suara apa pun yang terdengar kecuali bunyi angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan.
Suasana batinku yang tenggelam di terawangan masa laluku bersama Aria, membuatku terlena. Maka ketika Erwin mengajakku duduk di atas rumput di balik rimbunnya semak belukar, tanpa ragu lagi aku menurutinya, duduk setengah menghempaskan diri ke atas rerumputan itu.
Aku sadar bahwa bagian bawah gaunklu tersingkapterlalu tinggi, sehingga paha kananku terbuka penuh, sampai mempertontonkan celana dalam juga. Tapi biarlah. Aku memang ingin mulai diserang oleh Erwin. Karena aku yakin di balik semak belukar ini takkan ada orang lihat. Lagian seperti kata suamiku, daerah perkebunan ini milik pribadi owner villa itu. Jadi orang luar pasti segan memasuki perkebunan milik pribadi ini.
"Dulu pernah diapain aja sama Aria?" tanya Erwin sambil merayapkan tangannya ke pahaku yang terbuka lebar ini.
"Gak pernah diapa-apain. Paling juga cium pipi. Itu aja," sahutku sambil tersenyum.
Tiba-tiba tangan Erwin menyelinap ke balik celana dalamku, menyentuh kemaluanku dan bertanya, "Gak pernah ciumin ini?"
Aku agak kaget karena tangan Erwin langsung menyergap kemaluanku. Tapi kubiarkan saja, "Boro-boro cium ke situ...cium bibir aja belum pernah."
"Kalau gitu kalah sama adiknya ya...karena aku pengen ciumin yang masih ketutupan CD ini," kata Erwin sambil menarik celana dalamku perlahan tapi pasti. Sampai akhirnya terlepas dari kakiku.
Erwin menciumi celana dalamku yang sedang dikepalnya, "Mmmm...harumnya celana dalam Erni...."
Aku cuma tersenyum. Tapi setelah Erwin menyingkapkan bagian bawah gaunku ke atas perutku, spontan saja kurenggangkan sepasang pahaku lebar-lebar, untuk menyambut pendaratan bibir dan lidah Erwin di kemaluanku.
Oooh...dugaanku benar. Bibir dan lidah Erwin menyergap kemaluanku. Lalu menjilat-jilat di seputar bagian terpeka di tubuhku ini.
Dalam nikmat tiada bandingannya, kuelus rambut Erwin dengan penuh perasaan. Karena aku membayangkan kehadiran kakaknya yang bernama Aria itu di semak belukar rimbun ini.
"Win....ooooh...ini pertama kalinya punyaku diemut di alam bebas seperti ini....iya Win...ooooh...jilatanmu edan....enak banget Wiiin...." celotehku tak terkendalikan lagi. Karena Erwin sangat trampil ngemut kemaluanku. Menjilati labia minora dan clitorisku dengan ganasnya...membuatku terkejang-kejang dalam berjuta nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Dan....ooooh....jilatan dan sedotan Erwin terlalu enak. Membuat pertahananku ambrol ! Memang tak kuasa aku menahan puncak kenikmatanku...sehingga aku merintih histeris dan...aku telah mencapai puncak orgasmeku...tapi bibir dan lidah Erwin tetap ganas menjilati meqiku.
Tiba-tiba aku memaksakan bangkit. Berdiri. Dan berlari ke arah villa kembali.
"Erni....! Kenapa?" Erwin mengejarku dari belakang.
"Hihihihiiii...lanjutin di villa aja yaaa....di sini sih takut ada ular !" sahutku sambil memperlambat lariku.
"Ini buatku aja ya?" seru Erwin sambil mengibar-ngibarkan celana dalamku.
"Hush, nanti Sinta marah !" sahutku sambil merebut celana dalamku dari tangan Erwin.
Tak lama kemudian, kami tiba di villa kembali. Terdengar suara cekikikan perempuan di kamar-kamar yang pintunya sudah terkunci. Berarti mereka sudah pada kembali lagi. Suamiku juga pasti sudah mulai asyik-asyikan bersama istri Kemal yang cantik dan bernama Ine itu.
Setibanya di dalam kamar, Erwin langsung menutup dan mengunci pintu kamar itu. Lalu menatapku dengan senyum, sambil menanggalkan celana jeans dan sport shirt katunnya. Ketika ia tinggal bercelana dalam saja, kulihat bentuk tubuh yang atletis. Pasti ia rajin berolahraga, tidak seperti suamiku yang malas-malasan berolahraga.
Sambil tersenyum aku pun menanggalkan gaun katunku, lalu menggantungkannya di dinding. Celana dalamku ada di saku gaun itu sejak kurebut dari tangan Erwin tadi. Maka setelah melepaskan gaunku, tubuhku cuma tinggal ditutupi bra saja. Ke bawahnya...terbuka, tak tertutup apa apa lagi.
Ketika Erwin memelukku, kubisiki telinganya, "Langsung penetrasi aja ya...tadi juga udah orga di kebun teh..."
Berbisik seperti itu, tanganku menyelundup ke balik celana dalam Erwin, karena sejak tadi kuperhatikan ada yang menonjol di celana dalamnya...ternyata penisnya memang sudah siap tempur. Tapi...tahukah Erwin bahwa ketika aku meremas-remas batang kemaluan yang masih tertutup celana dalam itu, aku malah membayangkan tengah meremas-remas batang kemaluan Aria?
Pada saat aku sedang asyik meremas batang kemaluan Erwin itulah, Erwin pun melepaskan kancing kait bra di punggungku. Lalu penutup buah dadaku itu pun terlepas sudah. Aku sudah telanjang bulat di depan lelaki yang bukan suamiku itu. Memang mendebarkan sih, membayangkan ketika penis Erwin menerobos lubang kewanitaanku sebentar lagi. Barangkali aku harus berterimakasih kepada suamiku, karena alam yang telah diperkenalkan olehnya itu, kini menjadi sesuatu yang sangat indah bagiku. Sementara cintaku kepadanya bahkan semakin dalam saja rasanya. Terlebih kalau mengingat bahwa perselingkuhanku justru jadi perangsang ampuh buat suamiku.
Dan ketika moncong meriam Erwin sudah diletakkan tepat pada ambang pintu kewanitaanku, aku terpejam sambil membayangkan akan disetubuhi oleh Aria...Ariaku yang sudah menikah dengan wanita lain...!
Blesss....penis Erwin amblas ke dalam memekku. Ohhh....indah sekali terawanganku ini...membayangkan penis Aria yang menerobos ke dalam lubang kemaluanku ini.
"Duuuh...Wiiin...kok enak banget sih?" desahku sambil memeluk leher Erwin erat-erat. Dan makin erat lagi pelukanku ketika Erwin mulai mengayun batang kemaluannya. Oh...benar-benar serasa sedang disetubuhi oleh cinta pertamaku...bahkan kalau dipikir, Erwin lebih muda daripada Aria...tentunya lebih segar daripada Aria.
Saking nikmatnya disetubuhi oleh Erwin itu, tanpa sadar aku sering menjambak-jambak rambut Erwin, tapi dengan lumatan ninalku yang makin lama makin menjadi-jadi. ENtotan batang kemaluan Erwin pun makin lama makin menggila, se3hingga kami seperti sepasang manusia kesurupan. Saling lumat, saling remas, sa;ing menggerakkan pinggul sedemikian rupa supaya pergesekan kemaluan kami lebih terasa dan lebih edan !
Erwin pun tak sekadar mengentotku memekku. Terkadang buah dadaku diremasnya. Terkadang disedot-sedot seperti bayi yang sedang menyusu. Dan penis Erwin itu, rasanya panjang banget, seperti penis Dimas. "Topi baja"nya terasa berfulang-ulang menonjok ujung liang kewanitaanku, sehingga mataku sering terpejam-pejam saking nikmatnya.
Sementara itu keringat Erwin pun mulai membanjir. Bercampur aduk dengan keringatku. Tentu tak kupedulikan, karena waktu menikmati senggama seperti ini semuanya dilupakan. Yang diingat cuma satu: betapa nikmatnya gesekan antar kemaluan kami ini.
Maka ketika Erwin menawarkan posisi WOT, aku setuju saja. Tapi dalam posisi ku di atas tubuh Erwin itu, aku mengalami orgasme lagi, sampai ambruk ke dalam dekapan Erwin.
Ketika Erwin mengajakku berposisi doggy, terpaksa aku menolaknya. Karena aku masih nyaman disetubuhinya kembali dalam posisi klasik.
Dan akhirnya Erwin berbisik terengah, "Di...di mana lepasinnya?"
Santai saja kusahut, "Di dalam juga boleh..."
Sesaat kemudian, batang kemaluan Erwin terasa mendesak ujung lorong kewanitaanku. Lalu terasa tembakan-tembakan cairan kental dan hangatnya di dalam memekku. Kusambut semuanya itu dengan dekapan erat, dengan goyangan pinggul sebinal-binalnya.
Dalam keadaan seindah itu, aku pun tetap merasa beruntung jadi istri Bang Yadi. Karena aku telah merasakan nikmatnya disetubuhi dan disemprot air mani lelaki lain, tanpa menimbulkan pertengkaran sedikit pun, tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti maling.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Baru sampai di situ aku membaca catatan harian istriku yang diberikan padaku seminggu setelah "reuni mini" itu terjadi. Berarti bagian akhir catatan harian itu dibuat setelah aku berada di rumah ini.
Aku sudah membacanya dengan cermat. Memang ada yang membuatku cemburu. Tapi harus marahkah aku padanya? Bukankah langkah serongku jauh lebih binal daripada yang telah dilakukan oleh istriku?
Lagipula, seandainya aku tak pernah mengajaknya swinger atau sharionmg wife danm sebagainya, ia akan tetap teguh sebagai ibu rumah tangga sejati. Aku yakin. Jadi kalau ada yang harus disalahkan, ya aku sendiri yang harus disalahkan. Karena semuanya itu berawal dari diriku sendiri.
Baru saja aku mau melanjutkan membaca catatan harian istriku itu, tiba-tiba hpku berdering. Hmmm...Teh Tia yang nelepon.
Lalu:
"Hallo Teh?"
"Apa kabar Boss?"
"Mmm...panggil boss segala."
"Kan emang udah jadi boss batubara di Kalimantan toh?"
"Terus, kenapa nelepon? Kangen ya?"
"Mmmm...kangen iya, ada bisnis juga iya."
"Wow, dasar jago marketing. Ada yang mau ditawarin kan?"
"Iya. Ada pabrik yang bangkrut. Semua assetnya disita oleh bank. Termasuk purinya. Bagus lho purinya itu, terdiri dari tiga rumah bertingkat dengan model kembar, dikelilingi oleh pagar tembok, makanya saya nyebut puri."
"Terus?"
"Kalau Mas berminat, siang ini juga bisa saya antar. Harganya mujrah banget, tapi harus cepat-cepat dibeli, karena kalau tidak laku dalam dua minggu ke depan, bank akan melelangnya."
"Teh Tia sekarang di mana?"
"Lagi di mall," sahut Teh Tia sambil menyebutkan nama mall itu.
"Ya udah, tungguin aja di situ. Paling lama sejam juga saya udah nyampe."
"Siap Boss. Saya tunggu ya."
Aku bergegas masuk ke kamar dan mengganti piyama dengan pakaian untuk bepergian.
"Udah selesai bacanya?" tanya istriku yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.
"Udah sayang."
"Abang gak marah?"
"Ngapain marah? Buat ukuran kita, semuanya itu masih wajar."
"Sekarang Abang mau ke mana? Mau ke rumah Mbak Lies ya?"
"Nggak sayang. Ada rumah yang mau kulihat. Ikut yok !"
"Sekarang?"
"Iya. Cepetan dandan... casual aja deh."
BEBERAPA saat kemudian, aku dan istriku sudah bersama Teh Tia di dalam mobilku, menuju lokasi rumah yang akan dijual oleh bank itu. Sengaja aku membawa istriku, supaya dia bisa ikut melihat-lihat rumah itu, siapa tahu istriku merasa cocok dan ingin memiliki rumah itu.
Meski sedikit di luar kota, rumah itu sangat menarik. Memang lebih tepat kalau disebut puri. Karena di dalam pagar tembok tinggi itu ada tiga rumah kembar, semuanya rumah tiga lantai. Dari luar pagar tembok tinggi tidak terlihat sesuatu yang istimewa. Tapi begitu masuk ke dalam pintu gerbang besi itu, terlihatlah betapa megahnya ketiga rumah kembar yang tadinya milik owner pabrik bangkrut itu.
Yang lebih menarik lagi adalah harganya. Hanya sedikit di atas harga lelang, karena kalau tidak laku rumah itu memang akan segera dilelang oleh bank.
Aku mengajak istriku melihat-lihat ke rumah-rumah kembar itu. Sementara Teh Tia menunggu di dekat pintu gerbang.
"Bagaimana?" tanyaklu kepada istriku, "Kamu senang dengan rumah puri ini?"
"Sneng sih Bang. Nanti kita di rumah yang satu...terus yang satu itu buat nempatkan Uni. Yang satu lagi untuk tamu yang datang dari jauh dan mau nginap di sini. Abang setuju?"
"Makanya kuajak ke sini, aku ingin kamu yang putuskan, sayang."
"Emang Abang sudah cocok dengan harganya?"
Aku menjawabnya dengan bisikan, "Harganya murah sekali, sayang."
"Lalu rumah dan toko itu mau diapain?"
"Gampanglah itu. Baik rumah maupun tokonya bisa kita kontrakkan."
"Mimin gimana? Kan kasihan kalau dia ditinggalkan begitu saja Bang. Mana dia sudah bercerai pula dengan suaminya."
"Mimin ajak ke wisma kos aja. Tugaskan dia untuk jadi manager kantin lah."
"Berarti usahaku harus total di wisma kos ya Bang."
"Ya iyalah. Penghasilan wisma kos itu kan jauh lebih gede daripada keuntungan dari toko."
"Iya sih...eh Bang...ada yang unik nih."
"Apaan?"
"WIsma kos kita terdiri dari tiga bangunan kembar. Puri ini pun terdiri dari tiga rumah kembar."
"Iya ya....nanti puri ini kita kasih nama Puri Nidy."
"Kok kayak nama cewek?"
"Hush ! Itu kan gabungan nama kita...Erni dan Yadi...hahahaaa..."
"Oooo...kirain nama cewek baru Abang....hihii..tapi Bang...nanti kalau kita sudah pindah ke sini sih, kita harus punya pembantu, paling sedikit tiga orang."
"Iya lah. Satu rumah satu pembantu. Kalau perlu satu rumah dua pembantu. Berarti kita butuh tiga orang pembantu yang tugasnya beres-beres rumah dan tiga lagi untuk tukang masak."
"Lalu Icha gimana? Kita ajak ke sini aja ya."
"Gak tau tuh...papie pasti sedih banget kalau kita bawa Icha. Mmm...lepasin aja alat KBnya...kita bikin anak lagi. Mumpung masih muda."
"Nanti dicezar lagi...linu Bang."
"Ya udah, kalau gitu jangan mikirin anak dulu deh."
SETELAH mengantarkan Teh Tia ke rumahnya, aku mengajak istriku makan di resto langganan lamaku. Di resto itulah aku berkata setengah berbisik, "Kalau aku share wife lagi, kamu mau milih pria yang gimana?"
"Nggak ah," istriku menggeleng, "kalau dipikir-pikir aku jadi takut populer nanti Bang. Kalau populer sebagai artis sih gak apa-apa. Tapi kalau namaku disebut-sebut sebagai ratu swinger, ratu threesome dan sebangsanya, kan aku malu Bang."
"Kalau swing dengan komunitasku sih takkan ada yang bocor mulutnya. Tapi...seandainya aja kamu dipaksa harus memilih, kira-kira yang seperti apa pilihanmu?"
Istriku tampak berpikir lama. Lalu berkata lirih, "Kalau boleh memilih sih aku akan milih Edo. Tapi dia kan udah jauh gitu...udah di Gorontalo...entah kapan dia mau ke kota ini lagi."
"Hahahaaa...ternyata permintaanmu cetek sekali. Edo besok juga datang, sayang."
"Hah? Sama Raisha?" istriku tampak kaget.
"Iya. Aku mau nempatkan Edo di tambang kita. Soalnya aku tau persis, Edo itu orang yang bisa dipercaya."
"Jadi...?"
"Ya kita ajak dia nginap di rumah lah. Dia kan udah gak punya tempat tinggal lagi di kota ini....." kataku, lalu kulanjutkan dengan ucapan setengah berbisik, "jadi, besok malam kamu bakal hangat..."
"Iiih, Abang," istriku tersipu-sipu sambil mencubit lenganku, "Pasti Abang juga udah kangen sama Raisha kan?"
"Kalau aku sih bisnisnya ada di skala prioritas. Soal Raisha sih nomor....."
"...Nomor satu !" istriku memotong ucapanku.
"Emang kita gak usah munafik lah. Kita sama-sama kangen sama mereka."
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar