Melacak jejak birahi part 1


Bab 1






Kututup catatan harian istriku dengan perasaan bercampur aduk. Ada perasaan cemburu berat ketika istriku menulis masalah Erwin yang ternyata adik mantan pacar pertamanya itu.




Tapi seperti biasa, aku tak pernah marah tanpa sebab. Apalagi terhadap istriku sendiri. Apa pun yang telah dan akan terjadi, sudah merupakan resiko dari sesuatu yang telah kuputuskan.




Keesokan malamnya, semua itu seolah hilang dari ingatanku. Karena sepasang suami-istri yang kutunggu-tunggu telah datang.




Rasanya seperti bermimpi, melihat wajah Edo dan Raisha di depan mataku. Sepasang suami istri yang paling dalam menggoreskan kenangan indah di dalam lembaran kehidupanku. Betapa tidak. Dengan merekalah pertama kalinya kami mengenal wife swap alias swinger.......




Laksana dua saudara yang sudah lama berpisah, aku dan Edo berpelukan. Istriku juga berpelukan dengan Raisha.




Ketika giliran berjabatan tangan dan berpelukan dengan Raisha, benar-benar serasa bermimpi. Sehingga secara tak sadar, aku menciumi bibirnya, tak peduli suaminya ada di dekatku. Namun ketika melirik ke sebelah, kulihat Edo pun bukan cuma berpelukan dengan istriku, melainkan juga menciumi bibir istriku dengan mesranya. Tentu aku cemburu melihatnya. Tapi bukankah aku pun lebih mesra berciuman dengan Raisha?




Kemudian kupersilakan Edo membawa koper besarnya ke lantai atas. Raisha dan istriku juga mengikuti langkahku dengan Edo.




Setelah menyimpan koper besarnya di kamar yang sebelah kanan, Edo menghampiriku yang sudah duduk di sofa kamar tengah.






"Karena hari sudah malam, lagian kalian pasti masih capek, bicara bisnisnya besok pagi saja," kataku kepada Edo, "Selain daripada itu...kita sudah lama benar gak ketemu...pasti kita sama-sama kangen... bagaimana kalau kita langsung swing?"


"Boleh...hahahaaa...itu tawaran yang sangat menarik Bang," sahut Edo antusias.


"Oke.." kataku, "jadi malam ini Edo tidur dengan Erni."


"Dan Bang Yadi tidur dengan Raisha," sambung Edo.


"Yap ! Ada yang keberatan?"




Ternyata tidak ada yang keberatan. Bahkan istriku tampak tersenyum-senyum centil.




"Aku mau mandi dulu ya Bang," kata istriku sambil berdiri, lalu menuruni tangga menuju kamar yang di bawah.




Waktu kubuka tutup botol dry gin, Edo langsung menyambutnya, "Wow...di sini sih selalu ada bahan untuk pemanasan. Tapi saya mau mandi dulu ya Bang."




"Oke, Edo mandi di kamar sana," kataku sambil menunjuk ke kamar kiri, "Raisha kalau mau mandi di kamar situ," sambungku sambil menunjuk ke pintu kamar yang di sebelah kanan."






Aku sendiri belum lama mandi. Sehingga waktu menunggu orang-orang pada mandi, kutuangkan saja dry gin ke gelas kosong. Lalu kuminum separonya.




Edo pernah curhat di telepon, bahwa kehidupannya di Gorontalo seperti manusia yang tiada harganya. Karena semua yang ada di sana milik keluarga Raisha. Dan Edo merasa jadi penumpang di kampung istrinya itu.




Itulah sebabnya kutawari Edo untuk menjadi wakilku di Kalimantan, karena aku sendiri kurang kerasan di daerah pertambangan yang hawanya panas dengan debu yang pekat di sana-sini. Kalau Edo kerasan di Kalimantan, aku akan tinggal di sini saja, di kota kelahiranku, meski aku bukan 100% asli orang sini.




Ternyata Edo menyambut tawaranku. Dan menyatakan siap hidup di daerah pertambangan batubara yang pasti tidak senyaman tinggal di kota besar di pulau Jawa.




Yang pertama muncul setelah mandi adalah Edo.




Ia langsung duduk di sebelah kiriku.






"Jadi bener-bener udah siap hidup di pelosok Kalimantan, Do?" tanyaku sambil menuangkan dry gin ke gelas kosong, lalu menyerahkan gelas itu kepada Edo.


"Siap Bang," sahut Edo sambil menjemput gelas berisi dry gin itu.


"Lalu anakmu gimana?"




Edo meneguk dry gin yang kusuguhkan, lalu berkata, "Ibunya Raisha menahan anak saya. Dia sangat sayang pada cucunya. Maka saya dan Raisha juga sepakat untuk meninggalkan anak kami di Gorontalo."




"Terus Raisha sendiri gimana? Apakah dia sudah siap hidup di pelosok yang jauh ke mana-mana? Di sana itu bukan tempat untuk bersolek atau manja-manjaan. Belum lagi penyakit malaria, DBD dsb., harus dipikirin dulu sematang mungkin."


"Menurut Abang gimana baiknya?"


"Besok lah kita rundingkan lagi," kataku. Sengaja tak mau membicarakan masalah itu dulu, karena Raisha sudah muncul, dalam gaun tidur putih bersih, membuatnya tampak anggun.


"Mmmm...manisnya Raisha," kataku setelah Raisha duduk di samping kananku.






Istriku juga muncul. Biasa, dalam kimono merahnya. Setelah kubawa ke alam swinger, istriku jadi senang pakai kimono.




Tanpa minta izin dariku lagi, istriku duduk merapat di sebelah kiri Edo. Mungkin karena melihat Raisha pun sudah duduk merapat di sebelah kananku. Dan Edo yang sudah menghabiskan dua gelas dry gin, tampak tidak canggung-canggung lagi. Langsung merayapkan tangannya ke paha istriku yang tersembul dari belahan kimononya.




Tentu darahku berdesir melihat hal itu dengan sudut mataku. Tapi hal seperti itu justru membuat birahiku terhadap istriku senantiasa berkobar. Kelak, setelah cuma berdua dengan istriku, semua yang tampak di mataku itu akan kuingat kembali, lalu membangkitkan gairahku...gairah bernada aneh tapi dahsyat !






"Bang," kata Edo sambil meneguk habis sisa minumannya, "Saya minta izin mau istirahat dulu."


"Yap," aku mengangguk sambil bangkit juga.






Edo melangkah ke kamar sebelah kiri itu sambil menuntun pergelangan tangan istriku. Sementara aku menekan tombol yang terletak di belakang lemari kecil itu, tanpa menarik perhatian Raisha. Lalu kuraih tangan Raisha menuju pintu kamar yang sebelah kanan.




Setelah menutupkan pintu sekaligus menguncikannya, langsung kuterkam Raisha yang selama ini sangat kurindukan.






"Aku kangen banget sama Abang," bisik Raisha sambil menanggalkan gaun tidur putihnya.Sehingga tinggal celana dalam dan bra yang masih melekat di tubuhnya yang senantiasa memancarkan gairah untukku.


"Aku apalagi," sahutku sambil menanggalkan baju piyamaku, "Tapi aku yakin kita bakal ketemu lagi. Sekarang terbukti."






Lalu kubantu Raisha melepaskan kancing kait behanya. Payudaranya pun terbuka di depan mataku. O, aku senang sekali meremas dan mencelucupi pentil payudara Raisha yang tidak sebesar payudara istriku, namun selalu terasa hangat dan kenyal.




Rasanya sekujur batinku bergetar indah ketika aku telah menemukan kembali sosok yang hilang selama ini.




Lalu, ketika mulutku makin asyik mencelucupi pentil payudara Raisha, tanganku pun merayap ke bawah perutnya. Mulai mengusap-usap pangkal pahanya yang sudah menghangat, lalu menyelusup ke balik celana dalamnya. Dan waktu jemariku sudah menyentuh kemaluannya, tubuh Raisha semakin hangat saja rasanya. Terlebih setelah jemariku menyelundup ke lubang kemaluannya, lalu mengelus kelentitnya yang terasa agak mengeras pertanda sudah horny berat....Raisha pun memagut dan melumat bibirku dengan lahapnya.




Sekilas bayangan wajah istriku melintas di pelupuk batinku. Membayangkan ia sedang habis-habisan saling melepaskan kangen setelah sekian lamanya tidak berjumpa. Tapi perasaan cemburuku lalu menjadi gairah dahsyat yang kulampiaskan ke tubuh Raisha.




Dengan agak kasar kutarik celana dalam Raisha sampai terlepas. Lalu kutekankan moncong penisku ke mulut vagina Raisha. Dan kudorong dengan kuat.




Terdengar Raisha merintih, "Duuuh Bang....disekaliin gini....mmm....."




"Kenapa? Sakit?" tanyaku agak menyesal karena telah memasukkan penisku dengan agak kasar.


"Gak...gakpapa...lanjutin aja...enak kok..."






Mendengar ucapan Raisha itu, aku mulai mengayun batang kemaluanku, tapi kali ini kulakukan dengan lembut, karena takut menyakitinya.




Terasa tubuh Raisha bergetar-getar waktu aku mulai menggeser-geserkan batang kemaluanku. Sementara kedua tangannya pun mencengkram sepasang bahuku. Dan matanya kadang terpejam, kadang terbuka dengan sorot kosong seperti sedang melamun. Namun ketika kucium bibirnya, ia menyambutnya dengan lumatan hangat...hangat sekali. Terlebih setelah saling lumat ini kuiringi dengan remasan di payudaranya, terkadang juga dengan jambakan-jambakan lembut di rambutnya yang terurai lepas.




Lalu ia mulai berceloteh histeris, "Duuuh...aaaaah...Baaaang....kenapa ya kalau ML sama Abang rasanya kok enak banget Bang....iya Bang...entot yang kuat Bang... iyaaaaa.aaaa...aku udah mau sampai Bang.......ooooh...Baaaaaang... iyaaaaaa ...aaaaaaaaaa...aaaaaa....aaaaaaaaaaaaaaahhhhhh..."




Lalu sekujur tubuh Raisha terasa mengejang...makin kejang...dan lalu ia menghela napas panjang, pertanda sudah mencapai titik orgasmenya.




Tapi aku belum apa-apa. Aku masih menikmati asyiknya menyetubuhi wanita yang kurindukan selama ini.






"Gantian ah," kata Raisha sambil menyontek-nyontek ujung hidungku, "Abang di bawah sekarang..."


"Heheheee...pengen di atas? Oke..." sahutku sambil menggulingkan badan ke sebelah Raisha, tapi karena kurang hati-hati, penisku jadi terlepas dari jepitan lubang kemaluan Raisha.






Setelah aku menelentang, dengan sigapnya Raisha memegang batang kemaluanku dan mengarahkannya ke mulut vaginanya. Kemudian ia menurunkan pantatnya sambil memegang batang kemaluanku. Dan tak sulit untuk memasukkan penisku ke dalam liang vaginanya yang masih terasa basah karena habis orgasme itu.




Lalu ia mulai aktif menaik turunkan pinggul dengan binalnya. Aku pun tak membiarkan ia berjongkok seperti itu. Lalu kuraih Raisha agar menghimpit dadaku, supaya ia takkan letih di tengah jalan.




Memang kenikmatan suatu persetubuhan sangat dipengaruhi oleh perasaan terhadap partner senggama. Dan aku yang sudah sangat kangen kepada Raisha, lalu merasakan persetubuhanku dengannya jadi sangat indah. Bukan cuma nikmat fisikali.




Ketika batang kemaluanku terasa seperti dibesot-besot oleh jepitan liang kemaluan Raisha, rasanya sekujur batinku ikut bergetar-getar hebat. Bergetar dalam nikmat yang tiada taranya.




Namun belasan menit kemudian Raisha ambruk di dalam dekapanku.






"Kenapa? Udah orga lagi?" bisikku.


"Iya...terlalu enak sih," sahut Raisha sambil tersenyum. Lalu menciumi pipiku dan akhirnya melumat bibirku dengan ganasnya.






Aku pun berusaha menggulingkan badan tanpa mencabut batang kemaluanku. Berhasil. Aku menjadi di atas kembali. Dan bisa melanjutkan persetubuhan meski lubang vagina Raisha terasa becek. Aku malah suka mengenjot lubang kemaluan yang sudah becek begitu. Karena itu artinya aku telah berhasil membuatnya orgasme, sehingga aku bebas mau ejakulasi kapan pun.






"Becek ya Bang," bisik Raisha waktu aku sudah mengenjotnya lagi, "Mau dilap dulu?"


"Gak usah, aku malah suka dengan keadaan seperti ini," sahutku sambil menciumi bibir Raisha yang sensual itu, "Masih pakai alat KB?"


"Masih..." sahut Raisha sambil memeluk leherku erat-erat.


"Asyik...jadi bisa dilepasin di dalam nanti ya."


"Iya Bang...duuuuh...ini udah enak lagi Bang....entot yang kencang Bang.....iya...iya.... oooooh....enak banget Bang...oooh...Abaaaaang....barengin dong Bang....biar nikmat...."






Mendengar keinginan Raisha untuk mencapai klimaks berbarengan, aku pun berusaha menurutinya. Kugenjot batang kemaluanku dengan kecepatan tinggi, membuat Raisha seperti meraung-raung perlahan....lalu aku berbisik terengah...."Aku udah mau ngecrot nih..."






"Iya Bang...aku juga udah mau orga....ayo barengin Bang....oooooh Bang......" Raisha gedebak gedebuk menggoyang-goyangkan pinggulnya sedemikian rupa, sehingga kelentitnya berkali-kali menggesek batang kemaluanku.






Dan akhirnya kami seperti manusia-manusia kesurupan. Mata kami jadi beringas....kami seperti mau saling meremukkan dengan saling cengkram dan saling remas sekuat-kuatnya....dan akhirnya moncong penisku menembak-nembakkan air maniku di dalam jepitan liang kemaluan Raisha yang tengah berkedut-kedut dalam orgasmenya.




Lalu kami sama-sama terkapar di pantai kepuasan.




Esok paginya aku ingin melihat hasil rekaman "hidden camera", yang merekam seluruh perilaku istriku dengan Edo tadi malam. Tapi, sialan....entah di mana errornya, semua yang telah kuatur itu tidak bekerja. Tiada gambar seekor semut pun di komputerku.




Ketika aku menuju ruang depan, Edo menghampiriku.






"Kapan saya harus terbang ke Banjarmasin, Bang?" tanyanya.


"Lebih cepat lebih baik," kataku, "Nanti Herman menjemput Edo di bandara Syamsuddin Noor."


"Herman yang dulu sopir Abang itu?"


"Iya. Dia sekarang pegang bagian logistik di sana, bukan sekadar sopir biasa. Dia juga sudah menguasai liku-liku tambang, sampai ke pengirimannya. Jadi kalau ada yang belum mengerti, tanya saja sama dia nanti. Lagian kita kan bisa contact by phone setiap saat diperlukan."


"Wah...kalau gitu hari ini saja saya ke Jakarta," kata Edo, "Nanti di Jakarta saja beli tiket pesawat ke Banjarmasinnya. Lalu...mengenai Raisha gimana Bang?"


"Terserah Edo lah. Dia kan istri sampeyan," kataku sambil menepuk lutut Edo.


"Begini..." kata Edo yang tampak berpikir sesaat, "Abang gak keberatan kalau saya nitip Raisha dulu di sini, sampai saya merasa kerasan di sana nanti?"




Aku tersenyum, lalu membisiki telinganya, "Kalau dititipin di sini, bisa kuajak tidur bareng terus...gimana?"




"Gakpapa," kata Edo tampak serius, "Asal dengan Abang, saya relakan."


"Serius nih?"


"Serius Bang."






Lalu kami berjabatan tangan. Seolah terjadi suatu kesepakatan yang aneh buat orang awam dalam soal wife swap dan sebangsanya. "Di Kalimantan juga banyak cewek yang cantik-cantik," bisikku, "Tapi awas...jangan sampai lupa sama Raisha."






"Ohya...istriku pasti senang nanti," kataku kemudian, "karena sekarang dia ada kegiatan lain. Raisha bisa dijadikan asistennya."






Lalu kujelaskan masalah wisma kos milikku itu. Untuk meyakinkan Edo, sekalian kuajak dia dan Raisha ke wisma kos itu. Sementara istriku entah ke mana, mungkin sedang belanja.




Edo dan Raisha tampak takjub menyaksikan wisma kos yang belum pernah mereka ketahui itu.




Raisha tertarik pada kantin yang tampak ramai siang itu. Ia berkata padaku, "Kalau disuruh oleh Mbak Erni, saya mau bantuin mengembangkan kantin itu, Bang."




"Bagus," sahutku, "dia memang sedang membutuhkan wanita yang bisa dipercaya untuk mengelola kantin itu. Nanti kita rundingkan sematang-matangnya di rumah."




Waktu aku pulang bersama Edo dan Raisha, kulihat istriku sudah ada di ruang keluarga.




"Tadi ke mana?" tanyaku kepada istriku yang sedang nonton televisi.


"Gak ke mana-mana," sahutnya.


"Tadi kucari-cari gak ada."


"Abang nyari ke mana? Aku di ruang kerja Abang kok."


"Ngapain di situ?"


"Kan bikin laporan buat suami tercinta."


"Ohya?! Laporan yang tadi malam?"


"Iya," istriku mengangguk sambil mencubit perutku.






Beberapa saat kemudian Edo pamitan, mau berangkat ke Jakarta. Lalu akan terbang ke Banjarmasin. Kalau tidak dapat tiket untuk hari ini, ia akan menginap dulu di rumah familinya, katanya.Sebelum berangkat, Edo cipika-cipiki dulu dengan Raisha. Dan diam-diam kuperhatikan, tiada sorot sedih di diri Raisha, meski suaminya akan pergi jauh.






"Bang, aku mau ngajak Raisha ke wisma kos ya," kata istriku setelah Edo berlalu.


"Iya," aku mengangguk.






Setelah istriku bisa nyetir sendiri, rasanya aku jadi tenang, tak usah nyari-nyari sopir lagi. Lagian sekarang susah nyari sopir yang setia seperti Herman.




Tapi kalau aku tidak menetap di Kalimantan lagi, rasanya aku butuh mobil satu lagi untuk keperluanku sendiri.




Tiba-tiba aku teringat sesuatu....yang tadi dikatakan oleh istriku sebagai "laporan" itu. Bergegas aku menuju ruang kerjaku, menyalakan komputerku, karena istriku biasa mengetik di komputer ini. Sementara laptopku selalu kusembunyikan, kuberi password pula, agar istriku tak bisa sembarangan membuka-buka isinya. Memang sejak laptopku disembunyikan dan dikasih password, istriku tidak bisa membuka situs, aku terpaksa melakukan hal itu supaya bebas menulis pengalaman-pengalaman yang istriku tidak tahu.




Aku berhasil menemukan file "laporan" itu di folder yang diberi judul ERNI.




Berdebar-debar juga waktu aku membaca "laporan" yang diketik oleh istriku itu :










Aku tak menyangka bakal ketemu lagi dengan Edo yang pernah menggoreskan kenangan manis dan mendalam di dalam diriku. Betapa tidak. Aku menyerahkan tubuhku padanya, sebagai lelaki pertama yang bukan suamiku. Dan kini ia sudah berada di depan mataku. Membuatku tergetar-getar, karena teringat masa lalu, masa ketika pertama kalinya ia menciumiku, lalu meneroboskan batang kemaluannya ke liang surgawiku di villa bersejarah itu.




Dan kini ia sudah bersamaku di kamar lantai atas ini.Ketika aku dan Edo masuk ke dalam kamar yang pintunya sudah ia tutup dan kunci, terasa jantungku memukul kencang. Karena aku tahu pasti apa yang akan terjadi. Sebagai seorang perempuan, lengkap dengan kepekaan perasaan perempuan, tentu saja aku degdegan dibuatnya.






"Kangen gak sama aku, Mbak?" tanya Edo perlahan sambil memeluk pinggangku dengan sorot muka yang hangat.


"Ya tentu aja," sahutku sambil balas memeluknya, "Edo kan sering memiliki tubuhku. Bagaimana aku bisa melupakannya?"


"Aku apalagi...sangat-sangat kangeeeen...sampai sering pengen terbang ke sini...hanya ingin bertemu dengan Mbak..."






Lalu kusambut ciuman Edo dengan lumatan bergairah. Yang membuat sekujur tubuhku menghangat, seolah baru pertama kalinya disentuh lelaki.




Dan Edo setengah mendorongku ke pinggiran tempat tidur, sampai akhirnya aku terlentang di situ.




Edo pun lalu melepaskan tali kimonoku. Dan tampak senang karena di balik kimono ini aku tak mengenakan apa-apa lagi. Soalnya aku tahu apa yang akan terjadi, sehingga tak mau ribet-ribet mengenakan pakaian dalam lagi.




Maka dengan terbukanya kimonoku, tiada apa-apa lagi yang masih melekat di tubuhku. Membuat Edo terasa sangat bergairah untuk menjilati pentil payudaraku, sementara jemarinya mulai menggerayangi kemaluanku yang selalu kucukur bersih ini.




Aku pun tak mau tinggal diam. Kuselusupkan tanganku ke lingkaran karet celana piyama Edo. Ternyata ia pun tak mengenakan celana dalam, sehingga aku bisa langsung menyentuh batang kemaluannya...batang kemaluan yang ternyata sudah tegang sekali. Kok bisa ya langsung ngaceng berat begini?!




Tapi ketika badan Edo menurun, ketika mulutnya tampak mau menjilati kemaluanku, aku tak bisa lagi memegang penisnya. Maka kataku, "Enam sembilan aja yuk..."






"Boleh," Edo mengangguk sambil menurunkan celana piyamanya sampai terlepas. Lalu mengambil posisi terbalik. Kakiku berada di samping kepalanya, sementara kakinya berada di samping kepalaku.


"Mbak di atas aja, biar gak berat," kata Edo sambil menelentang.






Aku setuju. Posisi di atas akan membuatku takkan merasa berat menahan beban tubuh Edo.




Aku merangkak ke atas tubuh Edo. Posisi kemaluanku tepat berada di atas mulut Edo, sementara batang kemaluan Edo tepat berada di bawah mulutku.




Dan ketika kurasakan kemaluanku mulai dijilati oleh Edo, oh, desir-desir nikmat itu mulai kurasakan. Membuatku jadi bersemangat untuk melahap batang kemaluan Edo yang tampaknya memang sedikit lebih panjang daripada penis suamiku.




Dengan binalnya kuselomoti penis Edo yang sudah sangat ngaceng ini, sementara kemaluanku pun terasa sedang dijilati habis-habisan oleh sahabat suamiku itu.




Ini terlalu nikmat bagiku. terlebih lagi setelah kurasakan bokongku diremas-remas terus oleh Edo. Sehingga tak sampai sepuluh menit kurasakan orgasmeku sudah mau datang. Benar...benar....oooooh....aku sudah mencapai puncak orgasme yang terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Aku mengejang, menahan nafas....lalu ambruk dalam kepuasan, meski Edo baru main oral dan belum memainkan peranan penisnya.




Aku merebahkan diri, terlentang di samping Edo sambil berkata lirih, "Aku udah orga, Do...jilatannya terlalu edan sih...."




Edo cuma tersenyum. Lalu merayap ke atas perutku. Dan sesaat kemudian ia sudah membenamkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku. Lalu menariknya...lalu mendoirongnya...menariknya lagi...mendorongnya lagi... Ooooh....ini baru persetubuhan yang sebenarnya. Aku pun menyambutnya dengan sepenuh kehangatanku. Dengan pelukan dan remasan, terkadang dengan ciuman-ciuman di pipi Edo, terkadang membiarkan bibirku dilumatnya habis-habisan. Sementara pinggulku pun mulai dimainkan, dalam goyangan-goyangan terlatih, yang membuat kelentitku berkali-kali tergesek oleh penis Edo. Ini membuatku terpejam-pejam saking nikmatnya.




Oh indahnya alam ini. Terima kasih, suamiku tercinta. Berkat ajakanmu, aku telah berkali-kali menikmati keindahan yang tiada taranya ini. Sehingga hidupku seolah tengah berada di surga....surga dunia tentunya. Surga yang membuat kami melupakan nsegalanya. Melupakan keringat kami yang sudah bercampur aduk, melupakan air liur kami yang bercampur aduk....semuanya bercampur aduk dalam keindahan yang tak terperikan.




Yang aku ingat cuma satu, bahwa sodokan-sodokan batang kemaluan Edo di lubang kemaluanku, membuatku terengah-engah...membuatku merintih-rintih tak terkendalikan lagi, "Edooo...ooooh...Edoooo....ini enak sekali Edoooo.....ooooh....Edo sayaaaang.... entot terus jangan berhenti-berhenti, sayang....ooooh.....aku sedang menjadi milikmu sekarang....lakukanlah seedan mungkin.....ooooh...."




Oh, edannya perttemuanku dengan Edo malam ini. Ketika Edo membenamkan batang kemaluannya dalam jepitan liang kewanitaanku, terasa lorong kenikmatanku disemprot-semprot oleh cairan kental dan hangatnya...luar biasa nikmatnya, karena aku pun sedang menikmati indahnya orgasmeku yang kedua kalinya.




Tapi itu bukan yang berarti bahwa pelipuran kerinduan kami sudah selesai. Belum. Belum selesai. Karena ketika aku sedang mencuci kemaluanku di kamar mandi, Edo memelukku dari belakang. Menggerayangi lagi kemaluanku dengan lembut tapi sangat membangkitkan. Dan ketika kupegang batang kemaluan Edo, ternyata sudah tegang lagi !




Aku pun menuruti keinginan Edo. Aku berdiri menyandar ke dinding, sementara Edo berusaha memasukkan penisnya sambil berdiri pula di depanku. Untungnya vaginaku baru mengalami orgasme, sehingga tak sulit bagi Edo untuk membenamkan batang kemaluannya. Lalu ia memelukku sambil mengayun batang kemaluannya. Kusambut dengan ciuman dan lumatan bergairah, dengan pelukan di lehernya...dan berusaha menggoyang pinggulku supaya kelentitku sering bergesekan dengan batang kemaluan Edo.




Terkadang Edo meremas-remas sepasang payudaraku dengan lembut, terkadang mencium bibirku...dan persetubuhan di dalam kamar mandi ini berlangsung cukup lama, sehingga kakiku terasa agak pegal. Tapi aku tak mau menyerah. Kuladeni kejantanan Edo dengan sepenuh kehangatanku.




Ketika aku merasa sudah dekat-dekat titik orgasme, aku membisiki telinga Edo, "Ayo...barengin lagi kayak tadi yok...biar enak Do..."




Dan manakala Edo membenamkan batang kemaluannya dalam-dalam, sampai menyundul ujung liang kemaluanku...aku sudah mencapai orgasme, yang membuatku ingin menjerit sekuat-kuatnya, "Edaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan..... ini nikmaaaaaaaat !"




Tapi jeritan itu hanya jeritan batinku. Jeritan wanita yang sedang merasakan nikmatnya gasakan kejantanan.




Pada saat yang sama moncong penis Edo pun memuntahkan air maninya...yang kusambut dengan ciuman mesra.




Kemudian kami membersihkan kemaluan kami dengan sabun dan air hangat.




Dan berlari-lari kecil ke arah tempat tidur. Lalu kami tarik selimut, untuk menyelimuti tubuh kami yang talanjang bulat ini. O, betapa indahnya tidur dalam pelukan Edo. Rasanya aku ini seperti pengantin baru di malam pertama.




Lalu kami sama-sama tertidur di balik sehelai selimut tebal.




Tapi entah kenapa, jam empat pagi aku terbangun. Dengan gairah yang berkobar lagi. Dan dengan perlahan-lahan wajahku mendekati batang kemaluan Edo yang masih tertidur seperti pemiliknya.




Sepenuh gairah, aku berusaha membangkitkan penis yang terkulai itu, dengan jilatan-jilatan binal di moncongnya, di bagian bawah lehernya...dan lalu kuselomoti sekalian, kukulum penis Edo sambil menggerak-gerakkan lidahku di dalam mulutku.




Sedikit demi sedikit penis Edo mulai bangkit. Makin lama makin tegang. Dan ternyata Edo sudah terbangun dengan senyum di bibir.




Tanpa banyak bicara lagi aku berjongkok dengan kedua kaki berada di kanan-kiri pinggul Edo. Lalu kumasukkan batang kemaluan Edo yang sudah siap tempur itu ke dalam liang kewanitaanku. Lalu kedua telapak tanganku ditekankan ke kasur, untuk menahan tubuhku. Dan aku mulai beraksi. Menaik turunkan pinggulku sehingga batang kemaluan Edo jadi keluar-masuk di dalam jepitan liang kemaluanku.






"Aduuuh Mbak Erni....subuh-subuh sudah dikasih sarapan yang enak gini...." cetus Edo sambil membiarkanku beraksi terus.






Belasan menit aku melakukan itu semua. Sampai pada suatu saat, Edo bangkit, duduk berhadapan denganku, dengan batang kemaluan masih menancap di dalam liang vaginaku. Lalu kami lanjutkan persetubuhan ini sambil duduk berhadapan. Dan...oh...nikmatnya bukan main ! Sepasang buah dadaku yang bertempelan dengan dada Edo, terkadang diremas oleh sahabat suamiku itu. Dan leherku berkali kali dijilatinya...sehingga aku terpejam-pejam dalam nikmat yang sulit melukiskannya.




Ketika Edo mengusulkan untuk berganti posisi ke posisi doggy, aku pun setuju saja. Lalu aku menungging, sementara Edo memasukkan batang kemaluannya dari belakang.




Kini Edo lagi yang aktif mengenjotku.




Ketika fajar mulai menyingsing, persetubuhan kami belum selesai juga. Padahal aku sudah menikmati dua kali orgasme.




Ketika terdengar suara suamiku dan Raisha yang sudah pada bangun, persetubuhan kami belum juga.




Padahal posisi kami sudah kembali ke posisi klasik. Aku di bawah, Edo di atas. Rasanya Edo makin perkasa di pagi ini. Batang kemaluannya tetap asyik mengenjot liang kenikmatanku.




Namun setelah mendengar suara Raisha yang cekikikan di kamar tengah, Edo seperti terburu-buru mengenjotku. Maju-mundur-maju-mundur-maju-mundur.......dengan gerakan cepat begitu, akhirnya ia membenamkan batang kemaluannya...terasa dalam sekali ia membenamkannya, sampai terasa kepala penisnya mendesakkan ujung lorong kenikmatanku. Lalu kurasakan lagi tembakan-tembakan air mani Edo di dalam liang kewanitaanku.




Oh....pagi yang indah sekali....








++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++






Catatan terbaru istriku itu selesai kubaca. Ada perasaan iri bercampur cemburu. Karena ternyata yang dilakukan oleh istriku bersama Edo, jauh lebih edan daripada yang kulakukan bersama Raisha. Tapi...kenapa aku harus iri? Bukankah sekarang Raisha berada di dalam kepalanku dan sudah mendapat izin dari suamiku untuk diapakan juga?




Maka sorenya, ketika istriku dan Raisha sudah datang, aku memanggil istriku ke dalam kamarku.






"Sayang...ternyata kamu lebih banyak melakukannya bersama Edo. Aku dan Raisha tadi malam cuma main satu kali," kataku.


"Terus?" istriku menyunggingkan senyum menggoda.


"Boleh aku tidur dengan Raisha lagi malam ini?"


"Iya boleh," istriku mengangguk, "tapi aku mau balik lagi ke wisma kos. Boleh kan?"


"Mmmm...kamu mau ngajak Leo kan?"


"Iya. Biar adil. Abang sama Raisha, aku sama Leo."






Aku terlongong...tak bisa berbicara apa-apa lagi. Ketika mobilku yang dikemudikan sendiri oleh istriku mulai meninggalkan garasi, aku tetap tak bisa bicara apa-apa lagi, selain membayangkan akan terjadi duel habis-habisan di wisma kos sana.............










BERSAMBUNG 







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar