Reuni mania part 2

 

Bab 2

Aku merasa seolah ditaburi bunga-bunga surgawi yang harum semerbak, membuat duniaku jadi indah, membuat semangatku bangkit kembali. Rasa kesepian pun sudah sirna. Berubah jadi kehangatan demi kehangatan bersama Leo tersayang. Tapi semuanya itu kami lakukan di rumah baru. Karena aku tak mau perbuatanku tercium oleh Mimin, yang bisa menjatuhkan imajeku sebagai bossnya, sekaligus madunya.Leo seolah mesin automatis, yang bisa kuhidupkan kapan saja. Bahkan meski sudah dua kali menggauliku, begitu kusentuh dan kurayu agar mengulanginya yang ketiga kalinya, kejantanan Leo langsung bangkit. Aduhai...mungkin karena Leo masih tergolong ABG, mudah saja aku membangkitkan birahinya.Tanpa harus dirangsang secara berlebihan, Leo senantiasa siap untuk memuasiku. O. indahnya memiliki adik ipar seperkasa dan sesegar Leo Galileo.O, Leo Galileo... tu sei la mia giovinezza ideale...!Setelah memiliki pemuas birahi yang adik sepupu suamiku itu, setiap malam ia tidur bersamaku. Dan aku selalu siap untuk melahap nafsu birahinya, karena aku pun selalu menginginkannya tiap malam. Hanya pada waktu datang bulan, kuminta Leoi tidur di kamarnya. Karena aku tak mungkin bisa mengajaknya bercinta. Untungnya ia cukup mengerti. Dan akan bersabar menunggu sampai aku bersih.Sampai pada suatu hari.....Pada saat Leo sedang kusuruh setor ke bank, datanglah seorang cowok yang sebaya dengan Leo. Ia memperkenalkan namanya, sederhana saja, "Yogi," katanya.Tapi...Oh my God ! Kok ada ya cowok yang setampan teman Leo itu ?! Namanya memang simple. Tapi orangnya...oooh, kalau tidak malu, ingin saja kuraih Yogi itu ke dalam pelukanku Setelah kupersilakan duduk, anak muda bernama Yogi itu bertanya, "Kira-kira lama gak ya Leo pulangnya, Mbak?"Ya tergantung situasi di banknya. Kalau sedang banyak nasabah datang, ya bisa lama. Tapi kalau banknya sedang sepi, sebentar lagi juga pulang," sahutku.Gak apa-apa kalau saya nunggu di sini sampai Leo pulang?"Aku terperangah, karena diam-diam aku semakin terpesona melihat ketampanan Yogi itu. "Gak apa-apalah. Santai aja...ohya, Yogi dengan Leo itu teman seperguruan beladiri atau teman kuliahnya?"Saya teman kuliahnya, Mbak," sahut Yogi dengan sikap sopan.Dan tiba-tiba saja aku mendapatkan inspirasi. Lalu kataku, "Eh...saya banyak yang ingin tau mengenai Leo di kampusnya. Bisa minta nomor hapenya?""Oh, boleh Mbak," sahut Yogi sambil menyebutkan nomor hapenya yang lalu kusaving di hpku, sekalian kupijit nomor pemberian Yogi itu. Terdengar hp anak muda itu berdering.Nah, itu nomor saya," kataku sambil mengcancel callku, "Tapi jangan bilang-bilang sama Leo kalau kita tukaran nomor hape segala ya."Iya Mbak. Kira-kira soal apa ya yang mau Mbak tanyakan mengenai Leo?"Ah, cuma mau memantau kegiatan sehari-harinya saja di kampus. Maklum dia kan anak muda. Zaman sekarang kan sering terjadi anak muda yang macem-macem. Yah, pokoknya saya ingin monitor saja."Oh gitu...iya Mbak. Tapi setahu saya, Leo itu anak baik Mbak. Di kampus dia gak pernah macam-macam."Ya syukurlah. Saya juga gak mikir sejauh itu. Tapi perlunya punya nomor hape teman Leo, antara lain kalau dia telat pulang, kan saya bisa nanyain ke temannya, supaya mendapat berita yang sedbenarnya.""Iya Mbak."


"Nah tuh Leo datang. Jangan bilang-bilang kita tukaran nomor hape ya," kataku sambil menunjuk ke arah mobilku yang sedang menuju ke depan kantinku.


"Iya Mbak, percaya deh, saya takkan bilang-bilang sama dia."






Aku pun bangkit dari sofaku dan melangkah menuju kantin. Leo turun dari mobil, kusambut dengan laporan, "Ada temanmu tuh, nungguin dari tadi."




"Oh, iya. Yogi kali ya? Tadi hapeku ngedrop batrenya, jadi gak bisa dihubungi karena dimatiin."






Setelah menyerahkan bukti setoran dari bank, Leo menghampiri temannya. Aku duduk di belakang cash register kasir. Berlagak tak peduli pada tamu Leo itu. Padahal hatiku...gila....teman Leo yang bernama Yogi itu terbayang-bayang terus di pelupuk khayalanku. Sungguh gak nyangka kalau Leo punya teman setampan itu. Dan lebih jauh lagi aku melamun...membayangkan seandainya bisa memiliki anak muda yang tampan rupawan itu....iiih...kenapa aku jadi seperti ini sih?




Agak lama Leo berbincang-bincang dengan temannya yang tampan itu. Terkadang disertai ketawa cekikikan. Dan setelah Yogi pulang, setelah pamitan juga padaku, langsung aku memanggil Leo dan mengajaknya ke dalam kamarku. Setelah Leo berada di dalam kamarku, kututupkan pintu kamarku sekalian menguncinya. Jendela kamarku juga kututup dan kukuncikan.






"Leo...aku lagi kepengen..." kataku sambil memeluk adik sepupu suamiku itu.


"Hehehee...tumben, masih pagi gini sudah kepengen," sahut Leo.




Sebagai jawaban, cepat aku menanggalkan segala yang melekat di tubuhku, lalu naik ke atas tempat tidur. Leo pun melakukan hal yang sama. Setelah menelanjangi dirinya, ia menerkamku, menggumuliku dengan penuh kehangatan. Aku pun menanggapinya dengan kebinalanku. Tanpa ragu kuselomoti batang kemaluan Leo, sehingga ia terasa semakin bergairah.




Tapi...tahukah Leo bahwa pada saat itu aku sedang membayangkan seolah-olah sedang bersama si tampan bernama Yogi itu?




Bahkan ketika penis Leo mulai menerobos lubang kemaluanku...aku malah membayangkan penis itu adalah penis Yogi !




Dalam imajinasi baru itulah aku merasakan geseran dan gesekan penis Leo luar biasa enaknya. Membuat sekujur tubuhku seakan bergetar-getar dalam amukan penis Leo dan vaginaku. Dan semakin jauh aku mengkhayalkan wajah Yogi, semakin nikmat pula enjotan penis Leo ini. Maka tanpa bisa dikendalikan lagi aku terus-terusan merengek dan mengoceh seperti orang mabuk, "Ooooh...Leoooo...ini enak banget, sayang...duuuh enak banget Leoooo...Leoooo...ooooh...oo...ooo...oooohhhh..."




Itu pun masih untung. Karena aku tidak menyebut-nyebut nama Yogi. Namun gilanya, setelah Leo memuncratkan air maninya di dalam lubang kemaluanku...aku seperti perempuan hypersex, yang belum puas juga. Leo hanya kubiarkan rehat beberapa menit, kemudian kurangsang lagi...kujilati batang kemaluannya, kujilati biji pelirnya dan kuselomoti sekujur batang kemaluannya, sehingga dengan cepat penis Leo bangkit lagi dengan gagahnya. Dalam posisi WOT aku menjadi pihak yang aktif. Kunaik turunkan pinggulku, membuat lubang kemaluanku seperti memilin-milin dan membesot-besot batang kemaluan Leo.




Cukup lama aku beraksi di atas, sementara Leo cuma menelentang sambil sesekali meremas buah dadaku yang bergelantungan di atas dadanya. Namun posisi WOT ini membuatku cepat orgasme. Sehingga setelah mencapai orgasme, aku minta Leo aktif dalam posisi klasik lagi, ia main di atas dan aku menelentang sambil menggoyang-goyangkan pinggulku.




Keringat Leo sampai bercucuran menjatuhi dada dan wajahku. Sampai akhirnya ia mendengus sambil memuncrat-muncratkan air maninya.




Setelah Leo terkapar di sampingku, agak bergegas aku menuju kamar mandi, karena merasa ingin pipis. Tapi setelah pipis dan mencuci kemaluanku, tiba-tiba saja Leo masuk ke kamar mandiku. Bukan hanya masuk ke kamar mandi, tapi juga memelukku, menciumiku dan membisiki telingaku, "Aku jadi kepengen lagi Mbak....!"




Dan ketika tanganku menyelusur ke bawah perutnya, waaaau...! Alat kejantanan Leo sudah tegang lagi ! Adakah lelaki lain yang seperkasa Leo itu?




Memang begitu kejadiannya. Bahwa meski sambil berdiri di kamar mandi, Leo kubiarkan memasukkan penis tegangnya ke dalam liang surgawiku !




Api birahi kembali menghangati sekujur tubuhku. Dengan pelukan, remasan dan gesekan yang membuatku merem-melek lagi. Dan sosok Leo seolah oasis di tengah padang pasir, yang mata airnya seolah tak pernah kering, tiada habisnya untuk menyejukkan dahaga manusia.




Dan oh...betapa perkasanya Leo di kamar mandi ini. Sampai membuatku pegal meladeninya sambil berdiri. Maka kuminta ia mencabut dulu batang kemaluannya, kemudian aku menunduk ke washtafel dan berpegangan ke bak kecilnya. Sambil membelakangi Leo, sengaja pinggulku agak kujentikkan dan kusuruh agar Leo memasukkan batang kemaluannya dari belakangku.




Tanpa sulit-sulit lagi Leo membenamkan batang kemaluannya dari belakangku. Blessss......! Aku terpejam dalam nikmat. Dan melotot lagi waktu terasa lubang kemaluanku mulai digenjot lagi...!




Dalam persetubuhan yang kesekian kalinya di kamar mandi ini, Leo malah terasa semakin perkasa. Begitu lama ia mengenjot lubang kemaluanku dengan garangnya.




Sampai akhirnya kembali lubang kewanitaanku dibanjiri air mani Leo lagi.






"Kamu gagah banget, sayang," kataku setelah Leo mencabut batang kemaluannya dari dalam vaginaku.


"Hehehee...terpancing sama ajakan Mbak sih," sahutnya sambil memutar kran shower air panasku, "ternyata maen di pagi gini juga enak banget ya Mbak."






Aku cuma mengangguk dengan senyum. Kemudian kami mandi dengan air hangat, membersihkan tubuh kami sebersih mungkin.




Setelah mandi tubuhku terasa segar kembali.




Beberapa saat kemudian aku sudah nongkrong di kantin lagi. Mengawasi pegawai-pegawai kantinku yang tengah menyiapkan makan siang untuk beberapa orang yang kos di WKA.




Ada yang lupa kutuliskan di sini, bahwa saking rajinnya aku latihan menyetir mobil, berkat bimbingan Leo juga, akhirnya aku semakin lancar menyetir mobil. Bahkan aku sudah punya SIM, supaya tenang waktu ada razia ranmor.




Aku tak mau tergantung pada sopir lagi. Karena terkadang ada kebutuhan mendesak yang menyulitkanku bergerak kalau terlalu mengandalkan orang yang harus menyopiriku.




Dan...waktu aku nyetir sendiri, pulang dari rumah baru ke rumah lama, hpku berdering. Untung aku sudah mulai mahir nyetir sendiri, sehingga aku bisa melirik ke hpku yang sedang berdering-dering....jantungku serasa melonjak-lonjak ketika kulihat nama yang tampil di hpku itu ternyata....Yogi ! Padahal sudah berhari-hari aku berniat ingin menelepon Yogi yang sering terbayang-bayang itu, tapi belum punya alasan yang tepat. Lalu dengan senang kuangkat call dari si tampan itu.






"Hai...Yogi?"


"Iya, selamat malam Mbak. Gak mengganggu nih saya nelepon malam-malam gini?"


"Gak lah, baru juga jam tujuh. Belum jam duabelas. Hihihiiii...gimana kabarnya? Sehat-sehat aja kan?"


"Sehat, Mbak. Hanya...mmm...gimana ya? Malu ngomonginnya..."




Karena terdengar serius, aku pinggirkan dulu mobilku, lalu kuhentikan di bahu jalan, "Ada apa? Kok pake malu-malu segala?"




"Anu Mbak...saya mau minta tolong...tapi Mbak jangan marah kalau saya dianggap lancang sama Mbak..."


"Lho...ada apa? Nyantai aja lah....mau minta tolong apa? Pasti mbak tolongin deh kalau yang mbak bisa sih..."


"Mmm...saya mau pinjam duit buat bayar iuran smester ini Mbak....tapi itu juga kalau bisa..."


"Ooo..kirain ada apa gitu....emang butuh berapa?"


"Sejuta, Mbak. Nanti kalau sudah ditransfer sama ortu, saya kembalikan secepatnya."






Aku tersenyum, cuma sejuta?! Cetek sejuta sih. Sekarang juga di laci dashboard mobilku ada duit cash ratusan juta. Tapi...aku ingin mengambil kesempatan untuk berjumpa dengan si tampan itu ! Maka kataku, "Ya udah, ambil aja duitnya malam ini ke rumah saya. Bukan rumah yang di kompleks kos-kosan itu lho. Udah punya alamatnya?"




"Belum Mbak. Di mana alamatnya?"


Lalu kusebutkan alamat rumah lamaku.


"Gak apa-apa saya ke situ malam-malam gini?"


"Gak. Justru kalau masih sorean biasanya masih sibuk. Ayo, saya tunggu aja di alamat yang saya sebutkan tadi ya. Ohya...di depannya ada toko, di samping toko itu ada pintu pagar, masuk ke pintu pagar aja."


"Iya Mbak, terimakasih. Sebentar lagi saya meluncur ke situ."






Setibanya di rumah lamaku, bergegas aku masuk ke dalam kamarku. Lalu masuk ke kamar mandi. Dan mandi sebersih-bersihnya. Lalu bingung sendiri, pakaian mana yang harus kukenakan untuk menyambut si tampan itu?




Akhirnya kuputuskan untuk mengenakan gaun terusan berwarna merah tanpa lengan, yang belahan di dadanya sampai ke dekat pusar perutku, sementara di bagian pahanya juga ada belahan cukup panjang, sehingga kalau sedang duduk sambil tumpang kaki ...bagian pinggir celana dalamku akan tampak di mata orang yang berada di depanku.




Setelah mengenakan gaun sexy itu, aku bermake up sebentar di depan cermin riasku. Tak terlalu menyolok make up yang kukenakan. Tipis-tipis saja. Olesan lipstickku juga tipis-tipis saja.




Kemudian aku berputar-putar di depan cermin, sambil memikirkan langkah yang akan kulakukan setelah Yogi datang nanti.




Tapi...kenapa aku jadi begini? Kenapa aku merencanakan untuk menjebak Yogi agar masuk ke dalam perangkap birahiku? Sudah demikian binalnya aku ini, sehingga setelah mendapatkan adik sepupu suamiku, lalu temannya pula yang akan kupancing ke dalam jebakanku?




Oh suamiku sayang....suamiku tercinta dan segalanya bagiku...maafkan istrimu ini. Karena istrimu ini sudah sangat terpesona oleh ketampanan teman Leo itu ! Tapi percayalah, pria demi pria yang pernah dan akan menggauliku itu, tetap kuibaratkan makanan di restoran...yang bisa menitikkan air liur...yang lezat-lezat rasanya....namun cintaku hanya untukmu seorang, suamiku sayang !




Malam ini...berilah aku kesempatan untuk memiliki cowok tampan yang telah meruntuhkan hatiku itu, ya sayang.






Kamar di atas yang sebelah kanan sudah kubereskan dan kusemprot dengan parfum pewangi ruangan. ACnya kujalankan. Sementara di kamar tengah, beberapa botol minuman beralkohol sudah kuletakkan di atas meja kecil, di antara deretan sofa yang merapat ke dinding itu.




Tapi setelah menata itu semua, aku kembali lagi ke dalam kamarku. Dan tercenung sesaat di depan meja riasku. Rasanya berlebihan kalau aku berdandan seperti ini. Dan akhirnya gaun sexy iotu kutanggalkan lagi, lalu kuganti dengan kimono saja. Biarlah, aku harus bersikap seolah-oilah tidak mempersiapkan segala sesuatunya. Meski bisa dianggap kurang sopan menerima tamu dengan hanya mengenakan kimono, biarlah...kimono sutra berwarna kuning muda dengan motif burung bangau berwarna putih ini rasanya simple. Bahkan kalau dipikir lagi, berpakaian kimono lebih "gampang", lebih cepat saji kalau diperlukan. Xixixixi....




Yang pasti, aku sudah memasukkan sejuta ke dalam amplop yang akan kuberikan kepada Yogi nanti.




Tak lama kemudian kudengar suara motor memasuki jalan pribadi yang menuju garasi itu. Kuintip sebentar dari balik tirai ruang depan. Benar-benar Yogi yang sedang melepaskan helm di dekat motornya itu. Tapi...iiiih...kenapa aku jadi degdegan gini ya? Kayak ABG mau ketemu pacar aja !




Kubuka pintu depan lalu kutunggu Yogi di teras depan, "Gak nyasar kan?" tanyaku waktu Yogi sudah menghampiriku.






"Nggak Mbak. Alamatnya mudah dicari," sahut Yogi sambil mengulurkan tangannya dengan sikap yang terlalu sopan bagiku.


Kujabat tangan Yogi, "Ayo masuk," ajakku.




Setelah duduk di sofa ruang tamu, Yogi berkata, "Gak mengganggu nih saya datang malam-malam gini, Mbak?"




"Gak, santai aja," sahutku sambil memposisikan duduk sedemikian rupa, supaya belahan kimonoku bisa membuatku pameran paha, "Ohya, orang tua Yogi emangnya di mana?"


"Di Kudus, Mbak."


"Oh...terus di sini tinggal sama siapa?"


"Saya kos di rumah kos yang jauh pula dari kampus."


"Kenapa gak kos di wisma kos saya?"


"Wah, wisma kos punya Mbak sih buat orang-orang berduit. Ayah saya kan cuma pensiunan PNS rendahan, Mbak. Bisa kuliah di sini aja udah untung."


"Kalau mau, tinggal di sini juga bisa. Hitung-hitung jagain rumah juga. Kalau Yogi mau, gratis deh di sini mah, gak usah pake bayar-bayaran.Asal mau bantuin beres-beres aja."




Yogi menatapku. Seperti senang mendengar penawaranku. Dan ooo...tatapan anak muda itu....sangat menghanyutkan ! Dan...membuatku degdegan ! Oh my God...kenapa aku jadi begini?




"Yuk lihat kamarnya di atas," kataku sambil berdiri dan meraih pergelangan tangan Yogi.






Lalu Yogi mengikuti langkahku menuju tangga ke lantai atas. Kuajak ke kamar yang di sebelah kanan itu. Kamar yang sudah menanamkan banyak memory di dalam perjalanan hidupku.




"Nih...kalau mau Yogi bisa tinggal di sini, tanpa harus bayar kos segala macam. "




Yogi tercengang, "Wah....kamar begini sih terlalu mewah buat saya Mbak."


"Mewah itu relatif, " sahutku, "saya malah senang kalau Yogi mau tinggal di sini. Soalnya di rumah ini gak ada laki-laki sama sekali. Suami saya kan di Kalimantan..."


"Iya, saya sudah pernah denger dari Leo, Mbak."


"Nah silakan pikirkan baik-baik," kataku sambil mengajaknya duduk di sofa kamar tengah.


"Wah...banyak minuman gitu...habis ada acara apa Mbak?" tanya Yogi sambil menunjuk ke botol-botol minuman yang kuletakkan di atas meja kecil tadi.


"Suami saya yang suka beli minuman gitu, tapi diminum juga jarang. Cuma disuguhkan kalau ada tamu aja. Emang Yogi mau minum?


"Emmm...boleh juga Mbak."


"Minum sekali-sekali sih boleh aja," kataku sambil mengambil gelas dari lemari kecil, "Asal jangan sampai mabuk berat aja. Saya juga sekali-sekali suka nemenin suami saya minum, tapi gak sampai mabok berat."






Ketika kutanyakan mau minum apa? Yogi menyahut Black Label aja, Mbak.




Maka kubuka tutup botol yang bertuliskan Johnnie Walker Black Label. Dan kutuangkan isinya ke dua gelas kosong. Gelas yang satu untuk Yogi, yang satunya lagi untukku sendiri.






"Nih saya mau nemenin Yogi," kataku sambil memegang gelasku.




Yogi tersenyum. Dan oh my God....lagi-lagi jantungku memukul kencang melihat senyum teman Leo itu. Lalu kami sama-sama meneguk isi gelas kami.




Aku pun mengeluarkan amplop dari balik behaku. Kuberikan amplop berisi uang itu kepada Yogi,"Takut lupa...ini uang yang Yogi butuhkan."




"Oh, iya...makasih Mbak. Mmm...setelah ayah saya mentransfer uang, saya akan bayar secepatnya," Yogi memasukkan amplop itu ke dalam saku celana jeansnya.


"Alaaa...duit segitu aja dipikirin bener. Santai aja lah...." kataku sambil menuangkan lagi minuman ke gelas Yogi, karena sudah kosong. Sementara gelasku baru habis separohnya.


"Black Label enak bawaannya ya Mbak."


"Iya. Kalau suami saya senengnya dry gin, tapi yang merk Crystal. Yang merk Gordon terlalu keras katanya. Ayo abisin minumnya...nanti keburu jadi ager."


"Hahahaa...Mbak bisa aja...masa minuman bisa jadi ager?!" Yogi mulai agak lincah kelihatannya. Mungkin karena pengaruh minuman.






Memang setelah menghabiskan isi gelas kedua Yogi makin lincah gerak-geriknya. Dan aku suka melihat kelincahannya itu.




Aku pun meneguk sisa minuman di gelas pertama, lalu mengisinya lagi, sekaligus mengisi gelas Yogi yang sudah kosong.






"Udah cukup Mbak. Takut gak bisa pulang nanti," kata Yogi.


"Kalau mabok berat sih tidur aja di sini," kataku sambil pindah duduk ke samping Yogi. "Kalau abis minum, biasanya Yogi suka ngapain?"


"Ah...paling juga main gitar Mbak."


"Gak terus ngeluyur?"


"Gak Mbak. Abis minum ngeluyur malah cari penyakit. Mmm...kalau Mbak abis minum suka ngapain?"


Kujawab dengan bisikan, "Kalau abis minum...saya sih suka horny..."






Yogi tercengang. Tapi dia memang kelihatan sudah di bawah pengaruh minuman, karena ia menyahutku dengan nada yang kutunggu-tunggu, "Tenang aja Mbak...kan ada saya."




"Asyiiik...beneran ya...kalau saya horny, Yogi harus meredakannya ya."


"I...iya Mbak..." sahut Yogi tergagap, karena aku sudah menempelkan pipiku ke pipinya yang terasa hangat.




Dan aku sudah yakin, bahwa runtuhnya Yogi tinggal menunggu waktu saja.




"Sebagai awalnya," bisikku sambil mendekatkan bibirku ke bibir Yogi, "kiss dulu dong...."




Meski masih terasa canggung, Yogi mencium bibirku juga. Kusambut dengan lumatan penuh gairah.






Aku jadi teringat kata-kata Joseph pada waktu datang ke rumahku dan di kamar tengah ini juga ia menyetubuhiku. Dan setelah semuanya usai, ia berkata, "Erni itu bukan cuma cantik tapi juga sexy banget. Makanya lelaki mana pun takkan ada yang menolak kalau Erni menginginkannya."




Lalu apakah kata-kata Joseph itu berlaku juga bagi ABG tampan bernama Yogi yang kini bibirnya sedang kulumat ini?




Entahlah. Yang jelas, ketika tanganku masuk ke balik baju kaus Yogi yang biru gelap dengan garis-garis putih dan biru muda itu, Yogi tetap saling lumat denganku. Ketika telapak tanganku merayap-rayap dari perut ke dadanya, juga Yogi diam saja.




Aku anggap semuanya sudah lampu hijau. Maka ketika aku dan Yogi masih saling lumat bibir dan lidah, tanganku turun ke celana jeansnya...ke ritsletingnya (kebetulan ia tidak memakai ikat pinggang). Dan ritsleting celana jeans Yogi sudah kutarik ke bawah. Tanganku sudah menyelinap ke dalam celana jeans itu. Lalu telapak tanganku mengelus celana dalam Yogi sambil melepaskan lumatanku dan berbisik, "Mau dilanjutkan sampai tuntas?"




"Iya Mbak. Ini saya sudah...sudah berat..." sahut Yogi ketika tanganku sudah menyelinap ke balik celana dalamnya. Dan kujamah batang kemaluan yang sudah sangat ngaceng.


"Apanya yang berat?" tanyaku sambil menggenggam batang kemaluan tegang itu.


"Yang...yang Mbak pegang itu..."


"Berat apa ngebet?" tanyaku masih mencoba becanda.


"I..iya ngebet Mbak..."


"Tolong bukain dulu bra saya..."


"Iya Mbak..."






Kulepaskan tali kimonoku, lalu kutanggalkan sekalian, sehingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam saja lagi. Yogi yang tampan rupawan itu terlongong, namun ada sorot kagum di matanya. Mungkin ia mengagumi kemulusan tubuhku seperti kekaguman lelaki-lelaki yang pernah singgah dalam lembaran kehidupanku.




Lalu aku memunggunginya, agar ia melepaskan kancing kait braku. Setelah kancing kaitnya dilepaskan oleh Yogi, giliran aku yang menarik baju kaus anak muda itu ke atas, sampai terlepas.




Dalam keadaan bertelanjang dada seperti itu Yogi malah semakin menarik di mataku. Maka kulemparkan braku ke sofa. Lalu kugeser-geserkan sepasang payudaraku ke dada Yogi, "Mau di kamar itu apa mau di situ?" tanyaku sambil menunjuk ke hamparan dua kasur yang disatukan itu.






"Mending di situ Mbak, biar kalau mau nambah minuman gampang tinggal julurin tangan," sahut Yogi sambil menjamah payudaraku dengan ragu-ragu.




Kutekankan telapak tangan Yogi ke payudaraku sambil berkata, "Kalau mau pegang, peganglah...jangan kayak maling takut ketahuan...."




"Duuuh...Mbak...kok badan Mbak mulus begini sih?" cetus Yogi sambil meremas payudaraku. Pada saat yang sama kulepaskan celana dalamku.


"Kalau ininya mulus gak?" tanyaku sambil menunjuk ke kemaluanku yang tak trertutup apa-apa lagi ini.


"Hehehe...merangsang banget....boleh megang Mbak?" tangan Yogi tampak canggung mendekati kemaluanku.


Sebagai jawaban, kubisiki telinganya, "Jangankan dipegang...dicolok juga boleh..."




Yogi menatapku sesaat, lalu ketawa kecil.




"Tapi buka dulu dong celanamu," kataku sambil duluan merebahkan diri di kasur yang dihamparkan di atas karpet itu.






Yogi manggut-manggut dan menanggalkan celana jeansnya. Lalu ditenggaknya sisa minuman yang masih tersisa di gelasnya. Dan menghampiriku dalam keadaan tinggal bercelana dalam saja. Gundukan di balik celana dalam itu pun makin jelas di mataku.




Dan setelah dekat, langsung kuraih pergelangan tangan cowok tampan itu, sehingga ia terhempas ke sampingku.




Seperti harimau menemukan mangsanya, cepat tanganku menyelusup ke balik celana dalam Yogi...dan mulai meremas batang kemaluannya yang sudah tegang ini. "Dalam keadaan seperti ini, apa yang pertama ingin dilakukan padaku?" tanyaku tanpa melepaskan penis Yogi dari genggamanku.






"Ingin ngemut ini," sahut Yogi sambil menunjuk ke pentil payudaraku, "dan ini..." telunjuknya menunjuk ke kemaluanku.


"Keinginan yang bagus. Lakukanlah sekarang," kataku sambil melepaskan genggamanku, lalu menelentang sambil merenggangkan sepasang pahaku.






Tanpa basa basi lagi Yogi langsung memagut pentil payudara kiriku. Menyedotnya sambil mengelus-eluskan ujung lidahnya. Membuatku merinding-rinding tapi enak. Terlebih ketika ia menjilati leherku pula. Namun tanganku pun tak mau diam pasif. Untuk kesekian kalinya kuselinapkan lagi tanganku ke balik celana dalam Yogi. Dan kembali aku meremas-remas penis Yogi dengan lembut.




Dari cara-cara Yogi menjilati leher dan mengemut puting payudaraku, aku langsung bisa menilai bahwa Yogi jauh lebih berpengalaman daripada Leo. Maklum dia kan cowok tampan, sehingga banyak yang mau "berbagi rasa" dengannya.




Ketika Yogi sudah menurunkan mulutnya ke perut, menjilati pusarku, turun lagi ke kemaluanku, lalu menjilati kemaluanku dengan trampilnya...membuatku semakin yakin bahwa Yogi sudah sangat berpengalaman.




Tapi aku tak mau berkomentar apa pun. Aku mau enjoy saja. Menikmati jilatan dan isapan cowok tampan rupawan itu....yang membuatku tergetar-getar dalam nikmat yang luar biasa. Namun apakah aku sudah demikian rapuhnya atau sebaliknya bahwa gairah birahiku telah menjadi gejolak kebinalan yang tak terkendalikan lagi? Kenapa ketika kemaluanku dijilati, ketika kelentitku juga dijilati dan diisap-isap oleh Yogi, aku malah berkhayal...seandainya ada cowok seorang lagi...yang sedang meremas payudara kananku dengan tangannya dan menyedot-nyedot pentil payudara kiriku dengan mulutnya...ooo, pasti tak kalah fantastis dengan hari demi hari dalam reuni di Puncak itu.




Dan ketika rangsangan Yogi sudah dirasa cukup, ketika Yogi sudah mengarahkan puncak penisnya ke mulut vaginaku, masi sempat aku bertanya, "Kamu sudah berpengalaman ya. Pernah threesome juga?"




"Maksud Mbak, threesome yang cowoknya dua orang?"


"Iya. Pernah?"


"Belum," Yogi menggeleng, "Emangnya Mbak mau?"




Aku tak menjawab.




Yogi berkata lagi, "Kalau Mbak mau, saya bisa ngajak teman yang bisa dipercaya."




Aku malah menjawab, "Kalau temannya tampan seperti Yogi sih mau."


"Ada Mbak. Malah lebih ganteng daripada aku," kata Yogi sambilk mendesakkan batang kemaluannya. Dan....batang kemaluan cowok tampan itu mulai membenam ke dalam liang kewanitaanku. Yogi oh Yogi....! Harus kuakui, ketampanan dan keremajaanmu membuatku seolah berada di atas langit yang bertaburan bunga-bunga surgawi, yang kesejukan meniup berbaur dengan kehangatan birahi....




Tapi angan-angan binal itu menggodaku terus. Membayangkan seandainya ada seorang cowok lagi yang tak kalah tampan dari Yogi, lalu menggerayangiku pada saat Yogi sedang ganas-ganasnya menyetubuhiku, atau mengangsurkan penisnya ke dekat tanganku, agar aku bisa berpegangan pada sesuatu yang sensasional...atau menyodorkan penisnya ke dekat mulutku, agar aku bisa menyelomotinya sejalang mungkin....ooo...seandainya....seandainya










 BERSAMBUNG  







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar