Reuni mania part 3

 

Bab 3








Sulit melukiskannya. Bahwa ketika Yogi mulai mengayun tombak kejantanannya, ia langsung berubah drastis. Dari seorang cowok yang cute dan polite tiba-tiba menjadi garang....batang kemaluannya seolah ingin mengaduk-aduk lorong kewanitaanku dengan gasakan yang seganas-ganasnya. Dan gilanya, aku menanggapinya dengan sepenuh hati wanitaku. Dengan celotehan yang luar biasa nikmaaaaaat....! Oh, Yogi my boy ! You were like a knight who descended from heaven to give me tremendous satisfaction....! Ya, kamu laksana seorang ksatria yang diturunkan dari surga...untuk menaburkan kepuasan yang dahsyat bagiku !"




GIlanya lagi, ketika keringat Yogi membanjir, sehingga berkali-kali membuat matanya seperti kepedihan, lalu ia mengelapnya dengan baju kausnya, karena tiada lap atau pun handuk di dekat kami. Pada saat itu Yogi masih sempat membisiki telingaku,"Mbak... ...kenapa kita tiba-tiba jadi begini ya?"






"Iya ya?! Mungkin gara-gara minuman...tapi aku emang suka sama kamu, Yogi."


"Dan minuman itu membuat kita langsung akrab....membuat saya jadi punya kesempatan yang luar biasa ini...kesempatan untuk merasakan luar biasa enaknya ML sama Mbak..."




Kusambut ucapan itu dengan kecupan hangat di bibirnya. Lalu aku bertanya setengah berbisik, "Emang mbak ini enak gitu?"




"Sangat-sangat-sangat dan sangat enaaaak...." sahut Yogi sambil menggeser-geserkan lagi penisnya, sehingga kembali aku dibuai oleh kenikmatan yang tiada bandingannya ini...membuat kami seperti orang-orang kesurupan, yang sama-sama bergedebak-gedebuk dalam kegilaan dan kenikmatan....






Ketika tiba di titik yang paling tinggi, ketika Yogi mau mencapai klimaksnya (sementara aku sudah lebih dari dua kali mencapai orgasme), terdengar suara Yogi di saat aku terpejam-pejam nikmat, "Mbak...lepasin di mana? Saya udah mau meledak....."






Kubuka mataku, lalu kurengkuh lehernya seerat mungkin, "Di dalam aja....sayang kalau dibuang-buang di luar...."






Spontan Yogi mempercepat ayunan batang kemaluannya...makin cepat...makin cepat dan akhirnya ia medesakkannya kuat-kuat...disusul dengan tembakan-tembakan cairan kental hangatnya...membanjiri lubang kenikmatanku....membasahi lubang surgawiku...berbarengan dengan dengusannya...uuuughh... uuuuuuuuuuuughhhhhhhh .... ooo, Yogi yang tampan dan perkasa ! Tercapai sudah angan-anganku dalam beberapa hari ini...




Setelah Yogi mencabut penisnya yang sudah terkulai lesu, bergegas aku ke kamar mandi, karena ingin pipis, sekalian membersihkan keringat yang membasahiku di sana-sini. Sekalian saja aku mandi dengan air panas. Setelah mengeringkan tubuhku dengan handuk, kuraih kimonoku dan kukenakan kembali tanpa pakaian dalam di baliknya.




Yogi malah tampak sedang mencari-cari sesuatu di hpnya. Ketika aku muncul lagi di kamar tengah itu, Yogi memperlihatkan layar hpnya, "Ini orangnya Mbak. Namanya Dimas..."




Kuperhatikan foto di hp Yogi itu. Foto seorang cowok yang tinggi langsing, mungkin lebih tinggi daripada Yogi. Di tangan cowok bernama Dimas itu ada sebuah bola berwarna orange.






"Ganteng kan? Dia pemain basketball, Mbak," kata Yogi sambil berdiri, kemudian melangkah ke kamar mandi. Mungkin juga mau ikut-ikutan mandi seperti aku.






Aku asyik memperhatikan foto di layar hp Yogi itu. Memang benar kata Yogi. Temannya itu tampak ganteng dan macho.




Agak lama Yogi berada di dalam kamar mandi yang pintunya dibiarkan terbuka. Dan aku jadi ingin menggodanya. Kuletakkan hp Yogi itu di atas meja kecil, kemudian melangkah ke kamar mandi.




Ternyata Yogi sedang menyabuni badannya. Mungkin ia ingin membersihkan keringatnya yang tadi bercucuran. Waktu sedang mandi begitu, Yogi malah tampak lebih sexy di mataku. Maka kulepaskan lagi kimonoku, kugantungkan di kapstok dan kupeluk Yogi dari belakang, pas waktu dia sedang menyabuni kemaluannya. Kugenggam batang kemaluannya yang penuih busa sabun itu. Lalu kugerak-gerakkan genggamanku, seperti cowok yang sedang masturbasi. Yogi diam saja. Tapi diam-diam kurasakan penisnya membesar...memanjang...menegang...makin tegang...tegang sekali...




Yogi membalikkan badannya jadi menghadap padaku. Ia pun tak mau kalah, menyabuni kemaluanku...menyelinapkan jemarinya ke lubang kewanitaanku...lalu menggerak-gerakkannya...sehingga lubang kemaluanku jadi licin. Pada saat itulah ia berusaha memasukkan batang kemaluannya yang sudah tegang itu ke dalam vaginaku. Mudah sekali masuknya, karena kemaluan kami sama-sama dalam keadaan basah dan licin.




Tapi hanya sebentar kami melakukan persetubuhan sambil berdiri itu, karena aku mengajak Yogi melanjutkannya di kamar saja, supaya lebih nyaman tentunya. Yogi setuju. Lalu kami menyemburkan shower air hangat ke tubuh kami, setiap lekuk di tubuh kami dibilas...kemudian dikeringkan dengan handuk. Dan kembali ke kamar tengah. Tapi aku mengajak Yogi ke kamar yang di sebelah kanan itu. Yogi setuju, tapi minta ijin untuk minum lagi, mungkin karena pengaruh alkoholnya sudah turun. Aku setuju. Aku sendiri pun minta dituangi gelas kosongku, "Separoh aja...jangan sampai penuh," kataku.




Sambil menyerahkan gelasku yang sudah diisi minuman, Yogi meneguk isi gelasnya sendiri. Lalu, "Gimana Mbak? Setuju dengan teman saya tadi?" tanyanya.




"Dia teman kuliahmu?" aku balik bertanya.


"Bukan Mbak. Dia kuliah di universitas lain."


"Dia kenal sama Leo?"


"Gak tuh. Dimas itu teman saya dalam olah raga. Kami sama-sama suka basketball. Kalau Leo kan olahraganya karate."


"Emang kapan orangnya mau diajak?" tanyaku (diam-diam penasaran juga).


"Sekarang juga bisa saya panggil ke sini. Palng juga sejam dia sudah di sini."


"Hush ! Jangan sekarang dong. Lagian aku gak mau dia diajak ke sini. Nanti rumah ini bisa terkenal sebagai tempat mesum."


"Terus Mbak maunya kapan dan di mana?"


"Pokoknya jangan sekarang dan jangan di rumah ini."


"Minggu depan dia akan terbang ke Filipina, ada pertandingan basketball di Manila. Dia kan pemain yang paling diandalkan oleh team kami."


"Ya udah...kita pikirin nanti aja. Sekarang mending kita lanjutin yang tadi yok," kataku sambil meraih pergelangan tangan Yogi, mengajaknya masuk ke kamar yang di sebelah kanan itu.






Dalam keadaan masih sama-sama telanjang, kami naik ke atas tempat tidur di kamar sebelah kanan. Tanpa menutupkan pintu. Biar saja. Di rumah ini kan tiada orang lain kecuali kami berdua.




Mungkin inilah asyiknya berkencan dengan brondong. Tanpa harus berjuang banyak, Yogi sudah siap tempur lagi dan lagi dan lagi......




Bahkan di ronde kedua dan ketiga di kamar yang pernah kujadikan tempat bersenggama dengan teman-teman suamiku ini, Yogi tak perlu menunggu bangkit lagi nafsunya. Setelah memancarkan air maninya di dalam lubang kenikmatanku, ia merendamnya...meski penisnya mulai melemah, ia menggerak-gerakkannya perlahan...berusaha jangan sampai copot. Dan...makin lama penisnya makin membesar dan menegang kembali...sampai akhirnya siap tempur lagi. Meski liang kenikmatanku sudah becek, ia tak peduli, ia mengenjotku lagi dengan mantapnya...begitu lama ia mengenjotku...sampai akhirnya liang kemaluanku disemprot lagi oleh cairan kental hangatnya. Setelah itu barulah ia terkapar di sisiku.




Kemudian kutarik selimut, lalu tertidur dalam dekapan Yogi, dalam keadaan sama-sama telanjang di balik selimut tebal itu.




Namun aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali. Sebelum fajar menyingsing aku sudah terbangun, sementara Yogi tampak masih nyenyak tidur. Tiba-tiba saja muncul keinginanku untuk mengetahui sampai di mana power anak muda rupawan itu. Maka ketika ia masih tertidur nyenyak, aku bergerak perlahan. Kupegang penisnya yang masih terkulai lemas itu. Lalu kumasukkan ke dalam mulutku. Lidahku aktif mengelus-elus moncong p[enisnya. Dan perlahan-lahan penis brondong itu mulai bangkit...membesar dan memanjang dan menegang.




Ketika Yogi membuka matanya, aku sudah siap action dalam posisi WOT. Dan ketika fajar mulai menyingsing, kami sudah benar-benar bersetubuh lagi untuk yang kesekian kalinya.




Meski udara masih dingin, Yogi sudah keringatan lagi. Dan aku senang sekali melihat wajah tampannya dalam ekspresi berubah-ubah. Terkadang menyeringai, terkadang tersenyum, terkadang terpejam, terkadang menatapku dengan senyum. Emwuuuuuuaaaaaaaaahhhh.....kucium bibir brondong tampan itu dengan sepenuh gairah dan kehangatanku, tanpa menghentikan ayunan pinggulku yang membuat liang kemaluanku seolah memilin-milin, menjepit-jepit dan membesot-besot penis remaja itu.




Ketika sinar mentari sudah menerangi kamar yang sedang kami pakai untuk memadukan birahi kami, barulah Yogi melenguh dan ejakulasi.




Lalu kami mandi bareng lagi. Saling sabuni dengan lembut.




Meski sudah mengalami orgasme berkali-kali, aku tetap senang menciumi Yogi, mengelus rambutnya dan meremas-remas bahunya, seolah tak mau dipisahkan lagi dengan brondong tampan itu. Tapi hari itu adalah hari terakhir untuk membayaran iuran smesternya, katanya. So...jam setengah delapan Yogi sudah meninggalkan rumahku. Meninggalkan diriku bersama kepuasanku yang teramat sangat.




Rasanya pagi ini jiwaku terasa segar. Penuh spirit untuk menjalani hidup, meski berjauhan dengan suami.




Ketika aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke WKA, tiba-tiba hpku berdering. Ternyata call dari suamiku.






"Pagi Bang..."


"Pagiii...apa kabar, Sayang? Sehat-sehat aja kan?"


"Sehat Bang. Abang sendiri gimana? Sehat juga kan?"


"Sehat....eh...gimana si Leo tuh? Udah dapet?"




Aku mengerti apa yang dimaksudkan oleh suamiku dengan kata "dapet" itu. Maka dengan perasaan malu kujawab, "Mmm...udah, Bang..."




"Hahahaaa...baguslah. Jadi kalau begitu kita bisa tetap memanfaatkannya, seperti kita memanfaatkan Mimin. Biar mereka tetap kerasan bersama kita, membantu usaha kita."






Aku terlongong. Aku melapor bahwa Leo sudah kudapatkan, dan itu berarti bahwa Leo sudah menyetubuhiku, tapi suamiku malah berkata baguslah... tanpa terdengar nada cemburu sedikit pun. Lalu kalau aku melaporkan apa yang telah terjadi dengan teman Leo yang tampan itu, apakah suamiku masih akan mengatakan bagus, bagus dan bagus?






"Ohya...kalau gak ada halangan hari Senin aku mau pulang. Sekalian mau hadiri reuni kecil...yang akan hadir cuma tiga pasangan, termasuk kita. Mendingan juga sedikit begitu, biar jangan ribet seperti di Puncak tempo hari."


"Iih...mau reuni seperti di Puncak lagi Bang?"


"Iya, Sayang. Kan waktu di Puncak itu dibikin jadi dua gelombang, mengingat jadwal menstruasi para istri yang tidak sama. Nah...yang akan reuni dengan kita nanti, belum pernah ketemu denganmu."


"Jadi Abang mau pulang hanya karena mau reunian gitu?"


"Ah, itu sih cuma kebetulan aja. Memang aku sudah ingin pulang, karena kangen sama kamu. Selain daripada itu, aku kan sudah beli berlian untukmu, yang gak berani kupaketkan karena takut hilang di jalan. Jadi mau kubawa sendiri waktu pulang nanti."


"Berliannya masih butiran dan belum dipasangin di perhiasan Bang?"


"Iya. Nanti terserah kamu mau dipasang di gelang, di liontin atau di cincin. Banyak kok berliannya."


"Iya, makasih Bang. Mmm...sekarang kan hari Selasa. Jadi Abang mau pulangnya hari Senin yang akan datang?"


"Iya. Sediain balado udang ya. Aku udah kangen sama masakanmu, sayang."


"Iya...sama rendang ayam kampung juga kan?"


"Iya, iyaaa....sampai lupa makanan kegemaranku sendiri...hahahaaa."






Setelah hubungan telepon ditutup, aku tercenung beberapa saat. Aku mulai menghitung hari. Sekarang Selasa. Suamiku akan datang hari Senin. Berarti tinggal enam hari lagi. Lalu kapan lagi kuraih kesempatan itu?




Maka kutelepon Yogi. Dan :






"Yogi lagi di mana?


"Baru pulang dari kampus, Mbak. Masih di jalan."


"Ajak deh temanmu yang namanya Dimas itu nanti malam."


"Ajak ke mana Mbak?"


"Ya ke sini aja. Ke rumah yang tadi malam."


"Iya, Mbak. Mending juga di rumah Mbak. Malah lebih leluasa. Kalau ke hotel, bisa aja ketemu orang kenal, kan Mbak yang repot nanti."


"Iya. Tapi Dimas itu bisa pegang rahasia gak?"


"Wow, pasti bisa Mbak."


"Takutnya entar ngomong ke mana-mana."


"Ah, gak mungkin Mbak. Saya jamin soal itu sih."


"Ya udah. Nanti malam jangan terlalu cepat datangnya. Setelah lewat jam delapan aja. Kalau terlalu cepat, toko kan masih buka."


"Siap Mbak."






Setelah hubungan telepon ditutup, aku telepon Leo. Minta supaya dia jangan ngeluyur ke mana-mana, karena aku ingin istirahat di rumah lama, jadi tak mungkin bisa ke WKA. Seperti Yogi, Leo pun hanya siap-siap saja.




Aku buka lagi gaunku, karena aku takkan jadi ke WKA. Mending istirahat di rumah sambil nonton film bokep.








BERSAMBUNG 







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar