PETUALANGAN BIRAHI PART 9

 

PERBURUAN​








“Greace , tolong kasih bingkisan saya ke Pak Broto ya. Sekarang juga. Okay terima kasih “




Sore itu sekitar pukul tujuh malam, aku meminta sopirku Greace untuk mengantarkan bingkisan kecil untuk Panglima Besar Ocean Pak Broto. Pukul setengah lima, ketika Tania tidur siang, aku sempat terbang ke kantorku di jakarta, mengemas bingkisan kecil untuk Pak Broto, yang tak lain, Handphone dan brossku sendiri. Aku sadar beliau melacak handphone kami lalu menembaknya dengan Tongkat Dewa. Tongkat Dewa sendiri aku taksir bekerja secara tanpa awak, yang artinya meriam itu akan menembak sendiri ke target dan dalam waktu yang sudah ditentukan. Jika dugaanku benar, maka mungkin jam sembilan malam. Karena setelah kulihat Dirut PT Pangan Mandiri tewas pada pukul sembilan, KSAD dan pangdam pada pukul tiga sore, jadi kemungkinan besar waktuku tiba pada pukul sembilan malam. Greace sendiri mungkin adalah mata-mata Pak Panglima mengingat ia seorang Srikandi dan ditugaskan langsung oleh Pak Panglima. Aku tiba di lombok pukul setengah delapan malam dan jantungku dag dig dug karena ketakutan.




Dugaanku salah, aku sangat menyesal, meriam menembak lebih cepat sehingga “Boom!” ledakan dahsyat terjadi di rumah makan Wong Malang , Pluit , Jakarta Utara. Puluhan orang meninggal dan api dapat hingga berkilo-kilo dari lokasi. Jenderal besar Ocean dan beberapa pensiunan Jenderal meninggal di lokasi. Sang Panglima mungkin tidak mengecek kembali keberadaan Handphone dan sangat yakin Tongkat Tuhan akan menembak kediamanku dari Antariksa. Alhasil, meriam itu menembak Greace yang berjarak hanya beberapa langkah dari Panglima. Pihak Militer baik Ocean maupun Neo Nazi menutupi blunder dahsyat itu dengan mengatakan ledakan tersebut akibat ledakan beberapa tabung gas 50 kg. Aku tertawa puas di lombok dan Tania terheran-heran karena bingung .




“Kamu kenapa say?” Tanyanya heran.


“enggak, enggak. Cuma lagi baca berita lucu aja....” Jawabku santai.


“ Berita lucu apa? Yang penting bukan film porno kan? Aku ngambek lho...” sahut Tania.


“Enggak dong sayangku. Tenang aja.” Lalu aku mencumbu bibir Tania sekilas. Pipinya memerah malu dan Tania pun menepuk-nepuk dadaku dengan imut.




Namun ulahku membuat Ocean sangat rapuh dan berpotensi besar diserang musuh. Sama seperti percobaan pembunuhan presiden Airlangga di Kunming, pemberontakan kembali terjadi di beberapa negara bagian. Seperti di China Selatan, Vietnam , Myanmar, sampai ke Filipinna. Namun setelah KSAL dilantik secara darurat dirumahnya, keadaan kembali terkendali. Namun korban jiwa mencapai puluhan ribu jiwa. Pemberontakan dibasmi secara tangan besi dan lagi-lagi korban tak berdosa berjatuhan. Semua akibat usahaku menyelamatkan kedudukanku. Paling tidak aku dan keluargaku aman.




Saat aku kembali ke Jakarta esok pagi, aku mulai tenang. Aku tertidur pulas dirumah , beristirahat sepanjang hari. Semua tentang senjata ilegal itu terbakar bersama para Panglima. Aku mengalahkan mereka bahkan tanpa menembakkan sebutir pun peluru. Aku bersantai dirumah berhari-hari, bergilir meniduri istri-istriku, dan ketika bosan, jalan-jalan keliling kota Jakarta dengan helikopter. Tidak ada yang tahu jika aku membunuh Panglima Besar tanpa menembak sebutir peluru pun. Tewasnya Beliau membuatku diatas angin. Berada dipuncak tanpa seorang pun mengusikku.




Namun masih ada yang harus kubereskan. Saat kembali masuk kantor, aku , Mina dan gadis-gadis lainnya membersihkan segala berkas yang terkait pembelian pucuk senjata secara ilegal. Mulai dari sejak awal aku dilantik menjadi direktur operasional , sampai transaksi terakhir sang panglima. Semua aku bersihkan sebelum jatuh ke tangan yang salah. Struktur organisasi perusahaan aku rombak total, dan kuganti dengan orang-orang kepercayaanku. Satu demi satu orang titipan Panglima aku mutasi ke pedalaman. Sedangkan wanita-wanita cantik aku kumpulkan di Jakarta sebagai mainanku.




Tapi apa semua ini berakhir? Tidak semudah yang kukira. Aku sempat berpikir , aku berhasil membunuh Panglima Besar dengan senjatanya sendiri. Saat aku berhasil menghapus bukti-bukti, aku pikir akan lolos begitu saja. Aku salah. Kantorku yang semula hanya dijaga oleh satpam biasa, tiba-tiba diganti dengan tentara AD bersenjata lengkap . Mereka bahkan berdiri di depan ruanganku seolah mengawasiku. Aku tidak bisa lagi melakukan hal-hal kotor didalam kantor karena mengawasiku sepanjang jam kerja. Mata mereka mengawasiku mulai dari saat aku datang ke kantor hingga aku pulang ke rumah dinas.




Kukira Jenderal Besar Ocean adalah oknum dibalik penjualan senjata ilegal itu. Namun ternyata apa yang terjadi lebih rumit lagi. Masih banyak oknum yang masih hidup dan berkeliaran diluar sana. Tapi mereka tidak langsung membunuhku. Belum puas mengawasiku di kantor, mereka mengawasiku di rumah. Tank Badak di parkirkan tepat di depan gerbang rumah. Satpam rumah juga diganti dengan tentara AD. mereka sangat tidak ramah.




Puncaknya ketika satu bulan setelah kebiasaan buruk ini dimulai, aku mendapati ruanganku diacak-acak oleh orang tidak dikenal. Aku sempat marah besar. Aku menuntut hakku untuk melihat rekaman cctv tapi ditolak. Aku mengamuk dan membentak dengan kata-kata kasar.




“ SAYA INI ORANG NOMOR SATU DI GEDUNG INI! JADI SAYA BERHAK MENGECEK REKAMAN CCTV INI! APA MAKSUD KAMU SAYA TIDAK BERHAK!!”


“maaf Pak, ini sudah perintah dari “Pak Kepala” “ ejek sang petugas cctv. Tak lama Tentara AD datang keruang cctv seraya bertanya dengan nada mengancam


“maaf Pak Eko, apa ada masalah?” Aku melihat senjata mereka sudah tidak dalam keadaan terkunci , yang artinya mereka siap menembakku saat itu juga.


“tidak, tidak apa-apa” aku dan Mina segera keluar dari ruangan cctv . Mereka membuntuti kami sampai kami kembali ke ruangan kami. Mereka menunggu di depan pintu dan menjeliti kami seharian. Mungkin anak-anak ini lupa , kalau aku juga pernah bertempur demi negara , di perang dunia ketiga. Dan saat itu, mereka mungkin masih anak remaja ingusan. Mereka juga lupa jika aku Kelas Bangsawan sedangkan mereka hanya kelas Tamtama. Tentu saja mereka berani berbuat begitu karena aku hanya warga sipil. Aku harus memutar otak dan mencari cara agar mereka berhenti mengusikku. Tentu saja tanpa harus menggunakan kekerasan.




Namun Mina mengingatkanku jika perusahaan ini memang milik para “panglima” tidak hanya panglima yang berkuasa kemarin, melainkan Panglima-panglima lainnya yang sekarang sudah pensiun. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka berhasil mencidukku. Sampai kapanpun jika aku masih bekerja disana, aku tidak bisa lari dari mereka. Jika aku lari, mereka akan mengejarku. Hanya satu yang dapat aku lakukan sekarang, menjadi Presiden Negara Bagian.




“Kamu Gila Min? Saya ini siapa? Saya ini asli Jawa! Saya mau jadi Presiden dimana? Di Vietnam? Di China Selatan? Siapa yang mau pilih saya!” Mendengar jawabanku itu, Mina lantas tertawa terbahak-bahak.


“Hahahahaha! Aduh Sayang! Kamutu udah di Indonesia sejak lahir! Asal kamu ada uang, kamu bisa jadi apa aja! Berapa banyak uang suap yang udah kamu timbun hmm? Lebih dari cukup buat jadi calon Presiden Negara Bagian!” Jawab Mina sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah kupikir-pikir, Aku memang sudah menimbun uang sekitar sepuluh Triliun rupiah. Dan semua itu bisa saja ditarik kembali jika saja aku tidak berbuat sesuatu. Ide Mina mungkin satu-satunya cara demi menyelamatkan diriku dan keluargaku dari cengkraman Angkatan darat.


“ Kamu ada kenalan di Partai ? “ sambil tersenyum, Mina lalu menjawab


“Ada dong sayang, apa perlu kita ke rumah beliau dahulu?” Karena ini urusan hidup dan mati, aku menurut saja. Kami terbang menuju salah satu pulau reklamasi di Jakarta Utara, Pulau tempat kediaman Ketua Partai Fasisme terbesar di Asia, Partai Rakyat Indonesia. Jika tidak salah, Beliau tidak lain adalah Presiden Indonesia yang terakhir, Bung Ronald, ketua Partai Rakyat Indonesia. Mina menelpon asisten beliau lewat telepon dan ketika mendarat, aku terkejut karena Beliau sendiri yang menyambutku di helipad, dengan baju polo dan celana pendek


“Selamat Malam Pak Eko” Beliau bahkan memanggil namaku! Beliau mengenalku?!


“ Selamat Malam Bung Ronald. Waduh ! Maaf saya datangnya dadakan.” Sahutku


“Ya gak papa Pak Eko, justru saya senang sekali saat dapat kabar dari Rena kalau Pak Eko mau mampir ke rumah saya. Mari Pak Eko , silahkan masuk.” Saat itu , nyaris semua Bangsawan mengenalku karena jabatanku sebagai direktur PT PINDAD. Ternyata, asisten pribadi Bung Ronald ini, Rena , adalah teman baik Mina. Bung Ronald sendiri yang menyuruh Rena untuk mencari kandidad yang tepat untuk pemilihan Kepala Republik yang akan datang. Dan Rena menghubungi Mina untuk menawarkan aku apakah aku tertarik menjadi Presiden Negara Bagian. Ada sebelas Republik di Federasi Ocean, dan semuanya akan melaksanakan pemilihan Presiden serentak. Kira-kira di republik mana aku dicalonkan? China selatan? Vietnam? Singapore? Laos?


“ Jadi memang benar , sebenarnya saya itu sudah lama ingin merangkul Dik Eko ini . Tapi saya belum dapat kabar berhari-hari dan saya kira Dik Eko tidak tertarik. Dan ternyata, saya senang sekali waktu Rena mengabari saya barusan kalo Dik Eko ini tertarik untuk membicarakan pencalonan Presiden Negara Bagian. Menurut saya Dik Eko ini sosok yang berpotensi sekali lho. Masih muda, berprestasi, sukses dalam berkarir, dan saya bangga sekali , sosok seperti Dik Eko tertarik untuk bermitra dengan kami.” Baiklah ini berlebihan. Semua orang tahu aku hanya beruntung saja. Setelah basa-basi yang cukup panjang, Bung Ronald akhirnya langsung ke pertanyaan yang paling penting.




“Jadi , kalau boleh saya tahu, berapa Dana yang sudah Dik Eko siapkan untuk pencalonan Dik Eko sendiri?” haha! Dari tahun 2018 sampai 2033, Indonesia memang tidak pernah benar-benar berubah. Aku sudah menandatangani sekitar 500 berkas pembelian senjata ilegal yang nominal kontraknya sebesar Rp 40 Triliun. Dari dana Rp 40 Triliun tersebut, aku mendapat bagian Rp 10 Triliun. Sisanya bagian para Panglima. Aku belum menggunakan uang korupsi itu sepeser pun . Jadi , dalam hal ini aku akan mengeluarkan uang sebesar.


“ Sekitar Dua Triliun Bung Ronald” Dana ini cukup berlebihan mengingat presiden Negara bagian sama kedudukannya seperti Gubernur di provinsi Indonesia. Beda halnya jika aku mencalon menjadi Presiden Ocean. Butuh Dana belasan Triliun. Ketika aku menyebut angka Rp 2 Triliun, Bung Ronald langsung tertawa dan bertepuk tangan.


“ Lalu siapa yang akan Dik Eko jadikan Nyonya Presiden Nanti? Maksud saya istri yang mana? Hahahaha” Dan kami pun tertawa terbahak-bahak. Bung Ronald sepertinya setuju dan siap menolongku. Hanya ada dua parta di Indonesia, satu partai Fasis, Parta Rakyat Indonesia, satu partai Islami, Partai Cahaya Indonesia. Dalam hal pemilihan Presiden Negara Bagian, sudah pasti itu bagian Partai Fasis dan Calon dari Partai Islami sifatnya hanya sebagai pelengkap saja. Partai Islami biasanya dimenangkan di pemilihan gubernur saja. Walaupun Presiden negara bagian terdengar keren, sebenarnya kedudukannya sama seperti gubernur.


“ Maaf jika saya lancang Bung, tapi kira-kira saya nanti mau dicalonkan di Negara bagian mana ?” Tanyaku dengan sopan.


“Oh iya saya lupa, hahahaha, maaf saya terlalu semangat jadi saya lupa mengabari Adik ini mau saya calonkan dimana “ Dan jawaban Bung Ronald inilah yang membuat aku hampir loncat ke laut Jawa. Bukan Singapore, bukan Vietnam, bukan juga China Selatan. Melainkan


“Swarna Dwipa” Ucap Bung Ronald


“ Swarna Dwipa? Maaf Sekali Bung. Tapi itu Negara Bagian di sebelah mana?” Aku bersumpah walaupun nilai Kewarganegaraanku jelek, aku belum pernah mendengar satu pun Negara bernama Swarna Dwipa.


“Hahaha maaf sekali lagi saya lupa. Swarna Dwipa itu , Wilayah Indonesia yang ada di Mars. Itulo, yang Hadiah damai dari RRC. Dik Eko pasti lihat di berita bukan?” Mars!!! Ya Tuhan! Saat itu juga aku membatu!


“ Dulunya kan mau dibikin penjara. Eh ternyata lebih berpotensi besar , jadi kita serahkan ke pihak ABRI. Tapi karena sekarang sudah banyak Rakyat sipilnya, maka sudah sepantasnya didirikan pemerintahan administratif sehingga kita pihak Bangsawan juga dapat untung dari Mars. Masa kita keluar uang tapi hasilnya dimakan ABRI semua , kan lucu. Nah kalau sudah ada pemerintahannya jadi bisa dibagi Rata, Iya toh! Masalahnya sampe Dik Eko muncul, saya belum ketemu calon yang pas buat jadi Presiden di Mars.” Astaga Naga. Menjadi Presiden di Mars! Ini mungkin terdengar seperti cerita dongeng anak-anak. Sejak lahir pun aku tidak pernah bermimpi menjadi Presiden di Planet lain! Jadi itu artinya...


“Lah iya dong! Kamu sama istri-istri kamu, sama anak-anak kamu pindah ke Mars. Ya jangan takut. Disana sekolahnya mewah lho. Kotanya juga lebih mewah dari Jakarta. Lha wong Dulu Kotanya Mas Elon Musk yang bangun. Dik Eko kenal kan?” Entahlah yang pasti ini benar-benar diluar dugaan.


“ Ya tapi kalau keluarganya mau stay di jakarta ya masih bisa dong! Kan jadi disana , Dik Eko bisa dapat Ibu Negara yang baru. Disana banyak orang China lho. Cantik-cantik , Ayu-ayu.” Tapi tidak ada jalan lain. Satu-satunya jalan keluar agar lolos dari kasus senjata ilegal ini adalah menjadi Kepala Republik. Akhirnya aku setuju untuk menyediakan Dana sebesar Rp 2 Triliun . Aku harus segera mengurus pengunduran diri dari PT PINDAD sebelum para Panglima mencidukku.


“ Asisten pribadi saya , Reni yang akan membantu Dik Eko mempersiapkan semuanya. Deal?” Aku pun setuju. Aku pulang ke rumah dinas dengan perasaan tercengang. Mundur dari direktur PINDAD , artinya aku harus angkat kaki dari rumah dinas serta tidak ada Helikopter dan pesawat Antariksa dinas lagi. Malam itu, diperjalanan menuju Rumah Dinas , aku meminta Mina untuk membelikan satu kompek rumah untukku dan istri-istriku.




Malam itu aku pulang ke rumah Roro. Ia sudah menyiapkanku makan malam dan ia sempat bertanya kenapa aku pulang malam sekali. Aku jawab aku ada lembur di kantor. Aku makan malam dengan Roro dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Namun Roro tahu , ada yang tidak beres denganku hari ini. Ia menggenggam tanganku, menatap wajahku dengan penuh kasih sayang , seraya bertanya.




“ Ada masalah apa? Ayo cerita aja sama aku, siapa tahu kamu lebih lega.”


“Enggak sayang, cuma , kita mungkin harus pindah . Aku pingin pensiun.” Jawabku.


“Ya , aku dukung semua keputusan kamu. Kita pindah kemana? Ke Beijing? “ Tanya Roro.


“Enggak lah say, masih di Jakarta kok. Mungkin di Pantai Indah Permai. “ Sahutku.


“Pulau reklamasi itu? Bagus dong, jadi tiap harikan kayak holiday gitu. Terus, gak ada tentara lagi. Kapan kita pindah?”


“ Mungkin beberapa hari lagi sayang. “ Roro sangat senang ketika mendengar kami akan pindah ke Pulau Reklamasi. Ia langsung mengecup bibirku sekilas dan suasana hatiku pun menjadi lebih tenang. Namun ia lupa bertanya kenapa aku berhenti dan apa pekerjaanku setelah aku pensiun dini.




Esok paginya, Mina mengabari jika ia sudah bernegosiasi dengan pihak pengelola pulau reklamasi dan dapat membeli pulau itu seharga Rp 1,5 Triliun. Harga meroket ratusan kali lipat karena Jakarta adalah kota terpadat dan termewah di Ocean. Tapi aku mendapat sepuluh unit Villa, pantai pribadi beberapa perahu pribadi , beberapa mobil listrik, dan sebuah mobil Mersedes benz sprinter VVIP. Aku setuju. Dan aku langsung meminta pertolongan Mina untuk mengurus surat pensiunku. Aku menghabiskan Dana tiga trilun untuk membeli kediaman dan mobil baru serta tak lupa helikopter pribadi, dengan jenis yang sama seperti helikopter dinasku, hanya saja lebih mewah. Dua hari kemudian, keluarga besarku mengosongkan rumah dinas langsung pindah ke pulau kediaman baruku. Mereka sangat senang dan tak percaya aku mampu membeli Villa mewah dan pulau pribadi. Masing-masing istri mendapat satu Villa . Dan kami merayakan hari pindah kami dengan berkeliling jakarta menggunakan helikopter pribadiku.




Seminggu kemudian , aku pensiun dari jabatanku. Padahal umurku baru dua puluh lima tahun. Apakah aku kehilangan kasta Bangsawan? Tidak karena aku pensiun, bukan dicopot. Bung Ronald bermain peran besar agar aku dapat pensiun baik-baik tanpa tekanan dari Pihak Panglima. Aku selangkah lebih aman namun aku tidak benar-benar aman sampai aku dilantik menjadi Presiden Swarna Dwipa. Mina kehilangan pekerjaannya namun aku memberinya satu Villa di pulau pribadiku. Villa yang agak lebih kecil dari milik Istriku namun setidaknya ia lebih aman disana. Ia masih bekerja sebagai asisten pribadiku , dibantu oleh Reni, asisten pribadiku yang baru. Reni bertugas membimbingku sampai aku duduk di kursi presiden Swarna Dwipa.




Aku jarang ML karena aku tidak tenang. Suasana hatiku gusar karena perang dinginku dengan para Panglima masih terus berjalan. Aku tidak pernah keluar dari pulau Pribadiku , sekalipun keluar, selalu dengan helikopter dan langsung ke tempat tujuan. Entah itu Mall , Hotel , rumah sakit, dan lain sebagainya. Sebulan setelah pengunduran diri dari direktur PT PINDAD, aku mengumumkan pencalonan diri sebagai Presiden Pertama Republik Swarna Dwipa. Aku menjadi koruptor paling kaya dimasa itu, namun kurangnya bukti membuat Para Panglima gagal mencidukku.




Tapi bukan berarti mereka menyerah begitu saja. Para Panglima bisa saja membunuhku waktu itu, tapi mereka belum melakukannya. Namun aku sudah waspada, aku bahkan menaruh pistol dibawah tempat tidurku. Kaca diam-diam aku ganti dengan kaca anti peluru. Aku bahkan menyewa pasukan bayaran asal Eropa Timur sebagai pengawal pribadiku. Bahkan Helikopterku pun dilengkapi pengecoh (jammer) dan penangkal rudal, berjaga-jaga jika para Panglima menembak berusaha menembak jatuh helikopterku. Aku juga menyimpan rudal Stinger dan senjata – senjata peninggalan AS di mobil dan di helikopter. Istri-istriku tidak menyadari jika aku sedang ketakutan. Hanya Roro yang sadar ada yang salah denganku , sehingga suatu malam ketika kami makan malam berdua, ia menggenggamku dan bertanya.




“Kamu kenapa sih say? Belakangan kamu berubah. Dulu kita sering ke Jakarta, jalan-jalan , tapi sekarang banyakan dirumah. Emang sih , kita gak perlu ke Mall karena sekarang mereka sendiri yang datang kesini. Tapi , maksud aku, kenapa, aku ngerasa, kamu itu.... sejak kamu jadi calon presiden, kayak ada sesuatu yang kamu takutin dan kamu tutupin sama aku dan yang lain. Coba deh kamu cerita.” Aku menghela nafas panjang ketika Roro bertanya seperti itu. Aku memeluknya dan dengan cengengnya , aku menangis....




“ Aku cuma gak mau... aku cuma gak mau hal yang buruk terjadi pada Kalian. Aku sayang kalian semua. Aku lakuin semua ini ... demi kebaikan kita dan anak kita nanti. Aku gak mau mereka nyakitin kalian. Itu aja. “ Bisikku tersedu-sedu. Aku memeluk Roro erat-erat dan tidak aku pungkiri saat itu aku benar-benar takut.


“ Badai pasti berlalu kok sayang. Aku tahu mereka bukan orang baik.Tapi kita juga bisa kok lebih jahat dari mereka. Kamu harus kuat. Seharusnya mereka yang takut sama kamu. “ Seharusnya mereka yang takut denganku. Ya! Ya! Itu dia! Aku tidak perlu takut dengan mereka. Aku pernah membunuh seorang Jenderal Besar tanpa harus menembakkan sebutir peluru pun. Dan aku pasti bisa mengalahkan mereka semua, tanpa harus menembakkan sebutir peluru. Aku langsung mencumbu bibir manis Roro dan kami pun bercumbu sekilas. Ia tersenyum bahagia karena sadar , kata-katanya berhasil membuatku lebih baik. Aku tiba-tiba sadar, mereka belum membunuhku karena para panglima sebenarnya juga ketakutan setengah mati. Sekelas Jenderal Besar saja bisa mati, apalagi mereka yang mungkin hanya Pangdam , atau pensiunan Jenderal. Mereka pasti terlalu berhati-hati sehingga mereka belum memutuskan untuk membunuhku. Aku membulatkan tekadku untuk memenangkan pemilihan Presiden Swarna Dwipa, karena dengan begitu, aku bukan hanya bisa melarikan diri melainkan juga bisa membalas perbuatan mereka.




“mmmhhh ahhh ahhh “ malam itu karena bahagia bukan main, aku menggenjot Vagina Roro dengan penisku sekuat-kuatnya. Ia terbaring pasrah dikasur , sambil meremas-remas kasur. Payudara bergoyang-goyang akibat genjotan penisku. Ia mendesah dan sesekali tertawa. Nafsuku pun makin terbakar. Kucengkram buah dadanya dan kupercepat goyangan pinggulku.




Roro mengalungkan kedua lengannya dileherku dan sambil terus menggenjot vaginanya kami pun saling berkecup liar. Lidahnya meliuk-liuk dengan ganasnya. Matanya terpejam, sementara bibirnya terus mengecup liar bibirku. Ciumanku pun turun ke lehernya. Kukecup dan kuhisap gemas lehernya sehingga kepalanya mendongak. Roro melolong panjang, mendekap tubuhku erat-erat dan tak lama, ia mencapai puncak kenikmatanya. Aku menghentikan genjotanku sejenak, lalu membalik tubuh Roro yang masih terengah-engah. Kudekap tubuhnya dari belakang, lalu kembali kugenjot vagina beceknya.




“ahh ahh mmhh Sayang...” Ia mengerang dan mendesah menyebut namaku. Wajahnya begitu memerah. Penisku terus menyeruduk maju mundur, menepuk-nepuk pinggul Roro yang begitu aduhai. Tak sadar, air maniku memuncrat hebat di dalam Vagina Roro dan dekapanku pun semakin erat. Aku menghela nafas lega, lalu terbaring lemas di samping Roro. Ia pun tersenyum puas, dan kami pun tertidur pulas.








 BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar