Enam Bulan sebelum pemilihan Presiden Negara bagian Swarna Dwipa, aku diberangkatkan ke Mars dengan pesawat antariksa N3000 milik Partai. Pesawat Antariksa ini bermesin pendorong laser , serta dilengkapi persenjataan seperti rudal Hypersonik, Janner, dan meriam 35 mm. Biaya terbangnya pun cukup murah, sekitar seratus juta per jam. Sedangkan perjalanan ke Mars sendiri hanya setengah jam. Yang lama justru waktu pendakian keluar atmosfir bumi. Pesawat antariksa karya LAPAN dan PT DI memang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan pesawat-pesawat antariksa sebelum perang yang kebanyakan hanya dapat digunakan beberapa kali. Sayangnya , desain dan cetak biru pesawat antariksa ini konon dicuri dari China saat perang dunia ketiga. Varian penumpang dapat mengangkut sekitar 150 penumpang atau kargo seberat 70 ton. Varian pribadi seperti yang aku naiki sekarang jauh lebih kecil dan hanya dapat mengangkut 15 orang saja. Bentuknya kurang lebih seperti Quinjet di film Marvel hanya saja lebih besar dan berwarna putih. Aku terbang ke Mars bersama ke enam istri, mertua dan anak-anakku.
Negara Bagian Swarna Dwipa adalah Negara bagian seluas 1000 kilometer persegi di Mars. Dengan area habitat hanya seluas 3 kilometer persegi. Sangat kecil bukan? Kami mendarat di Lapangan Antariksa Soeharto . Berbeda dengan Lapangan Antariksa di bumi yang sifatnya outdoor seperti Bandar Udara sebelum perang, Lapangan Antariksa di Mars berkonsep Indoor. Jadi, Bayangkan sebuah stadion sepak bola seluas empat puluh hektar, dengan atap yang bisa terbuka dan menutup dengan sendirinya. Setelah pesawat mendarat, atap akan menutup dengan senidirinya sehingga kami tidak perlu memakai baju astronot yang sangat berat. Sesaat setelah mendarat kami langsung menaiki kereta cepat menuju area habitat.
Area habitat sendiri adalah sebuah area yang terdiri atas lima belas kubah (dome) dimana setiap dome luasnya kurang lebih 20 hektar. Setiap Dome memiliki fungsi masing masing, misalnya Dome Rajawali yang berfungsi sebagai rumah tinggal dan sekolah mewah untuk orang-orang Indonesia dan Malaysia, Dome Mawar yang didalamnya terdapat belasan menara apartemen rakyat, serta Dome Teratai yang didalamnya terdapat Mall , rumah sakit , perkantoran , pengadilan dan universitas. Ada juga Dome Gajah dan Dome Badak yang merupakan Area militer . Sisanya adalah sekolah rakyat, perkebunan , peternakan dan ladang yang menunjang kehidupan di Mars. Setiap Dome dihubungkan dengan kereta listrik dan terowongan sehingga para penghuni kota tidak perlu mengenakan pakaian astronot ketika berpindah dome.
Semuanya dibangun oleh Elon Musk dengan mengirim belasan astronot , ratusan robot lengkap dengan kecerdasan buatan serta alat berat, hanya dalam waktu enam bulan. Sayangnya , kota ini direbut oleh China pada tahun 2022. Seluruh astronot dibunuh dan seluruh peralatanan dirampas termasuk cetak biru “Dome City”. Di akhir tahun 2023, China diam-diam membangun kota yang lebih besar yang mungkin sebesar Jakarta Pusat, dengan konsep dan peralatan yang mereka rampas dari SpaceX. Sesuai perjanjian yang ditanda tangani di Hong Kong, Mars hanya boleh dikelola oleh Indonesia dan GLA. Sejak saat itu SpaceX menderita kerugian yang tak terhingga dan menyelamatkan diri dengan jalan melebur ke dalam Badan Antariksa milik Neo Nazi, Union Aerospace Corporation.
Aku tiba di Dome Teratai, dimana Menara Pemerintahan ada di dalam sana. Menara pemerintahan sendiri berada tepat diatas Mall Swarna Dwipa dan disebelahnya, terdapat Hotel Royal Swarna Dwipa dimana kami menginap. Ada sekitar seratus ribu lebih jiwa yang tinggal di Negara Bagian Swarna Dwipa dan hampir seluruhnya adalah Etnis Tionghoa. Hanya belasan Ribu warga Indonesia dan nyaris seluruhnya adalah Bangsawan maupun Serdadu Ocean. Setelah Pemerintah Resmi dibangun, Pasukan Ocean diwajibkan pulang ke Bumi karena sesuai perjanjian International, setiap Negara Bagian di luar bumi, harus memiliki Badan Militer dan kepolisian yang berdiri sendiri, walaupun sifatnya cadangan dan menginduk kepada Militer di Bumi. Aku disambut dengan ramah oleh orang-orang Tionghoa disana yang nyaris seluruhnya adalah mantan warga negara Singapura. Aku segera meminta Roro untuk menerjemahkan Pidatoku kedalam bahasa Mandarin karena aku tahu, Roro adalah keturunan Tionghoa Semarang. Beruntungnya Roro juga menguasai bahasa Hokkien dan bahasa Mandarin, jadi aku meminta Roro untuk berdiri bersamaku saat Pidato. Rekan Calon Wakil Presidenku hanya menurut-nurut saja. Warga-warga berbaris menyambutku, sebagian besar perempuan muda. Ironisnya kebanyakan berprofesi penambang. Mereka mengenakan pakaian seragam biru LAPAN, membuat pusat kota menjadi penuh dengan lautan biru. Hanya ada beberapa orang Indonesia dan Malaysia , dan mereka kelihatannya kurang peduli dan sibuk dengan urusan masing-masing.
“ Nihao?” dan ketika aku menyapa mereka dengan bahasa mandarin. Kerumunan yang semula diam sontak bergemuruh dan bertepuk tangan.
“NIHAO!!!!!!” Sambut mereka sambil bertepuk tangan histeris. Itu pertama kalinya ada bangsawan Indonesia yang menyapa orang Tionghoa dengan bahasa mandarin. Maklum , saat itu bahasa mandarin di cap sebagai bahasa musuh. Bahkan di Republik China Selatan, Bahasa Indonesia harus tetap digunakan berdampingan dengan bahasa mandarin. Sainganku yang waktu itu dari partai Cahaya Islam, menatapku dengan tatapan jijik dan sangat tidak mengenakkan. Sedangkan Rekanku hanya tertawa. Selanjutnya aku berpidato dengan full bahasa mandarin tanpa sepatah kata pun bahasa indonesia.
“Selamat siang , saudara saudariku sebangsa setanah air. Saya, Eko Sucipto , putra jawa yang lahir dan dibesarkan di pulau Jawa. Kulit kita memang berbeda , namun saya yakin , kita semua saudara. Maaf jika bahasa mandarin saya masih terbatas , karena sama seperti saudara saudari yang masih belajar bahasa Indonesia, saya juga masih belajar bahasa Mandarin.” Dan kerumunan biru itupun kembali bertepuk tangan. Aku terkejut melihat antusias mereka yang sangat tinggi, jadi aku ikut bertepuk tangan bersama mereka.
Semua orang tahu jika pidatoku sebenarnya sangat murahan dan sangat kacangan. Namun karena aku berpidato dalam bahasa mandarin, antusiasme masyarakat disana menjadi meningkat beribu-ribu kali lipat. Pidato dari partai Cahaya Indonesia memang lebih baik dan lebih berbobot, namun karena dalam bahasa Indonesia, kebanyakan hanya diam dan mendengarkan setengah hati. Berbeda dengan pidatoku yang membuat Dome Teratai menjadi begitu bergemuruh. Bahkan pegawai-pegawai hotel yang kebanyakan orang mandarin memberiku tepuk tangan yang meriah saat aku memasuki hotel untuk beristirahat. Sebenarnya semua itu kulakukan agar aku benar-benar terpilih. Aku takut bukan main setelah mengetahui lawanku ternyata jauh lebih kaya dariku dan dibacking oleh Militer.
“ Aku gak nyangka banget kamu bakal pidato pake bahasa Mandarin. Kamu kelihatan keren banget lho say.” Bisik Roro.
“ iya aku juga bangga lihatnya, beda banget tuh sama yang satunya, pake bahasa Indonesia terus ketara banget dari visi misinya aja udah palsu. “ Sahut Tania.
“Pokoknya Bapak yakin, kamu pasti menang karena kamu masih muda dan kamu lebih dapat mengambil hati warga disini. Saran bapak ya kamu belajar tuh bahasa mandarin dengan Roro. “ Bahkan Ayah Tania ikut memujiku. Aku tertawa malu. Sepanjang makan malam, kami membahas pidato dahsyatku tadi siang serta tak lupa , kami mengatur jadwal liburan di Mars. Yang pasti kami akan ke gunung Olympus Mon, kawah Hellas dan Ibu Kota GLA, Huoxing , yang artinya Mars. Malam itu , aku tidur bersama Loren dan putra tertuaku , Dewa. Putriku Dewi masih sangat kecil dan malam itu tidur di kereta bayi.
Esok pagi hari , kami benar-benar menjelajah Mars. Sayangnya kami hanya melihat dari balik pesawat karena berjalan kaki di permukaan mars bukanlah hal mudah. Aku dikawal oleh tentara Kolonial Mars, bukan tentara Ocean atau dengan kata lain TNI. Tentara Kolonial Mars nyaris seluruhnya orang tionghoa dan dahulunya mantan tentara filipina dan tentara singapura. Mereka berpakaian seperti astronot dengan senjata ss-4 dan bendera merah putrih di lengan kanan. Kaca helm mereka dapat dibuka ketika sedang berada di ruangan beroksigen dan dapat ditutup kembali ketika hendak menjelajah permukaan mars. Tabung akan berfungsi dengan sendirinya saat kaca helm ditutup rapat dan dapat berfungsi selama sembilan jam sebelum kehabisan oksigen.
Kami terbang menuju tambang plutonium milik LAPAN , lalu menuju Olympus Mon, kemudian kawah Hellas. Sebelum kami mendarat di Huoxing, kami menyempatkan diri untuk terbang diatas kota kuno peninggalan bangsa Marsian. Situs ini dan seluruh yang berkaitan dengan bangsa Mars dahulunya ditutup-tutupi oleh AS karena konon , dibawah kota ini tersimpan harta senilai puluhan ribu ton emas. Begitu juga di belahan Mars yang lain. Tentu saja AS ingin menyimpan harta-harta itu untuk dirinya sendiri. Sekarang harta itu sudah dibagi, dimana Ocean mendapat emas senilai dua ratus triliun rupiah.
Tujuan akhir kami adalah Ibu kota GLA , Huoxing. Kota ini hanya seluas Jakarta pusat namun di dalamnya terdapat gedung-gedung yang bahkan lebih tinggi dari di Bumi. Ada sekitar lima puluh juta orang China yang tinggal di dalam kota ini. Sebagai calon Presiden di habitat terdekat, Walikota Huoxing menyambut kami saat kami mendarat di Lapangan Antariksa Naga Giok.
“Selamat Sore Pak Eko, waduh liburan sekeluarga besar nih ...” Aku terkejut ketika Pak Walikota menyambutku dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.
“Iya Pak, kebetulan ini pertama kali kami jalan-jalan ke Mars. “jawabku.
“Ya sudah pasti dong, selamat berlibur di Huoxing Pak Eko, ini ada sedikit kenang-kenangan dari kami, tidak banyak tapi mohon diterima...” Pak Walikota memberiku hadiah emas batangan 10 kg asli peninggalan Marsian.
“ astaga Terima kasih Pak Walikota, terima kasih! Saya merasa sangat terhormat! “ Aku langsung menjabat tangan Pak Walikota . Mereka memfasilitasi kami dengan sebuah bus mewah untuk berkeliling kota.
Kami begitu terkejut dengan apa yang kami lihat. Sebuah kota semegah kota Beijing , dibawah kubah setinggi empat kilometer. Jauh berbeda dengan kubah Swarna Dwipa yang hanya kubah kaca anti meteor , rudal dan laser , kubah kota Huoxing dapat memproyeksikan gambar langit dan awan sehingga kalian akan merasa seperti sedang berada di Bumi. Kota Huoxing bahkan memiliki atmosfer sendiri, yang artinya ada awan buatan, dan kapan-kapan bisa saja terjadi hujan. Kami benar-benar merasa seperti di Bumi karena pemandangan di luar benar-benar tidak terlihat. Tidak seperti Serdadu Ocean yang sangat kasar , sombong dan tidak ramah , serdadu GLA sangat ramah , sopan dan tidak menunjukkan sifat kebencian terhadap orang Indonesia. Walikota bilang di tahun 2040 nanti , Proyek Megapolitan Kota Chang’an akan rampung dan kota Huoxing akan menjadi situs parawisata. Dengan Megaproyek yang sebesar itu, China seratus tahun lebih maju dari Indonesia. Tak lupa, Pak Walikota memuji pidatoku kemarin yang menurutnya sangat memukau. (padahal menurutku biasa-biasa saja)
Kami menginap di hotel yang strukturnya bertema peradaban Mars kuno. Sebuah hotel yang bentuknya mirip sekali dengan bangunan mesir kuno, namun ketika masuk , mewahnya seribu kali lebih mewah dari hotel Royal Swarna Dwipa. Dinding berkilau seperti terbuat dari emas, lantai terbuat dari LED yang sangat canggih sehingga terlihat seperti kita sedang berjalan di atas Air. Bahkan Meja Lobby seperti di lapisi Emas. Setiap istriku diberikan satu kamar mewah dilantai yang sama. Kamarnya luas seperti sebuah apartemen mewah.
“ wah!! Keren banget kamarnya!!!! “ Roro begitu terkagum-kagum dengan kamar kami. Malam itu aku sekamar dengan Roro karena hanya Roro yang “masih mau” melayani birahiku. Istriku yang lain selalu beralasan capek, atau ingin mengurus bayi kami. Saat aku sedang duduk santai, tiba-tiba saja Roro melucuti celanaku, lalu mengulum-ngulum penisku yang masih tertidur.
“slllrp!Slllrpp! Sllrrppp!” Lidahnya menyapu bersih kepala penisku yang seketika bangun dari balik sarangnya. Tangannya menggenggam batang penisku dan mulai mengocok-ngocok naik turun. Bibirnya melumat kepala penisku . Tanganku sontak meremas hijab merah Roro , dan hisapannya pun makin liar.
Bibirnya lalu turun dan sampai dibuah zakarku. Ia kecup lalu ia hisap dengan liar sementara tangannya terus mengocok penisku. Ia sangat senang mendengar desahanku yang makin menjadi-jadi. Sesekali jemarinya berputar-putar di kepala penisku sementara bibirnya mengecup buah zakarku.
Air mataku bahkan sampai mengalir. Bibir Roro lalu kembali naik ke kepala penisku dan hisapan bibirnya lebih liar dari sebelumnya. Hisapannya terpusat dikepala penisku sementara tangan kirinya terus mengocok-ngocok penisku. Ia begitu geram dengan penisku yang masih belum meletus. Ia terus mengulum-ngulum kepala penisku dan tak lama , air maniku memuncrat sebanyak-banyaknya di dalam mulut Roro. Tangannya terus mengocok-ngocok penisku yang berkedut-kedut memuntahkan air mani. Ia menelan semua yang memuncrat keluar dari kemaluanku. Ia menghentikan kocokannya ketika penisku mulai loyo dan berhenti memuncrat. Ia tersenyum puas lalu menanggalkan hijab dan pakaiannya. Setelah aksi gila itu, kami ML semalaman mungkin enam sampai tujuh kali.
Kami terbangun di jam delapan dan langsung berkumpul dengan yang lainnya di Lobby. Aku mendapat surel dari Bung Ronald bahwa ia menungguku malam ini di Swarna dwipa, jadi pagi itu juga kami berbelanja keliling kota Huoxing , membeli segala yang bisa kami beli, berfoto-foto ria dan ketika pukul tujuh malam, kami kembali ke Swarna Dwipa. Setibanya kembali di Swarna Dwipa, sepuluh tentara kolonial yang mengawalku sangat berterima kasih karena mereka sudah diajak jalan-jalan ke Huoxing , dibelikan oleh-oleh mahal bahkan diajak menginap di hotel termahal di planet Mars. Mereka semua memelukku masih dengan seragam Astronot mereka. Mereka berharap aku bisa memimpin mereka sebagai Presiden Swarna Dwipa. Bung Ronald ternyata telah menunggu di Hotel Royal Swarna Dwipa , di dampingi oleh seluruh keluarga besar Beliau. Beliau mengajak bertemu di Swarna Dwipa kerena beliau kurang diterima di Kota Huoxing.
Sambil berjalan-jalan dan makan malam di Mall , Beliau membicarakan tentang pidatoku kemaren dan langkah ke depan menuju pemilihan. Beliau terkesan dengan pidatoku kemarin dan optimis aku akan memenangkan pemilihan ini dengan mudah. Namun pihak lawan pasti tidak akan senang. Pasangan calon dari Partai Cahaya Indonesia di backing oleh para Panglima. Dan pidatoku kemarin dianggap merendahkan derajat orang Indonesia dan seolah menghamba pada China. Jadi Para Panglima sangat tidak senang dan mengecam tindakanku kemarin. Maka dengan berat hati, bahkan sebelum pemilihan , aku harus menetap di Swarna Dwipa karena disini ada tentara Kolonial yang dapat melindungiku. Jika TNI macam-macam maka setidaknya tentara Kolonial dapat mencegahnya. Sedangkan di Jakarta , nyawaku bisa saja terancam karena TNI berada dimana-mana. Bung Ronald bersedia meminjamkan Rumah Tinggal milik Partai sebagai tempat tinggalku serta kantor sekretariat sebagai tempatku bekerja . Lalu bagaimana dengan anak istriku? Sayangnya tidak semua istriku dapat tinggal di Mars karena keterbatasan ruang. Bung Ronald menjamin keselamatan mereka di Bumi . Asalkan mereka tidak keluar pulau pribadi, mereka tidak akan celaka karena para panglima tidak punya alasan untuk menyakiti mereka. Dan karena kemajuan zaman, mereka dapat mengunjungiku di Mars setiap minggu.
Setelah pulang ke hotel , aku menceritakan kepada semuanya termasuk Roro jika aku harus menetap di Mars mungkin sampai hari pemilihan. Mereka semua setuju dan memilih pulang ke Bumi karena selain disana kami punya rumah dan pantai pribadi, akan lebih mudah mengurus anakku disana. Tentu saja aku akan tetap memberi uang bulanan kepada mereka. Hanya Roro yang meminta izin untuk menetap bersamaku di Swarna Dwipa dan aku setuju. Semua istriku pulang ke Jakarta kecuali Roro yang tinggal bersamaku. Reni dan Minah juga menetap bersamaku di Swarna Dwipa , hanya saja mereka menginap di Kantor sekretariat Partai.
Sejak itu aku menetap di Mars. Aku mengurus kampanye dan segala tentang pencalonanku di kantor Seketariat Partai. Roro menunggu di rumah selama aku bekerja namun sesekali ia jalan-jalan entah itu ke Mall , Museum , ataupun berenang di hotel. Ia mengira aku benar-benar bekerja di kantor , padahal sebenarnya
“ahh ahh yahhh “ “ plok plok plok “ Reni menungging menghadap tembak sementara aku menggenjotnya dari belakang. Kedua tanganku mendekap meremas-remas buah dadanya. Ia mendongak , memejamkan mata dan mendesah keras menikmati hujaman penisku. Mina terbaring lemas di sofa setelah aku menggenjotnya beberapa kali.
“ nggh yahh yahh ohhh “ aku menggenjot vagina Reni dengan kasar. Aku paling suka posisi doggy style seperti ini karena nikmatnya memang tiada tara. Penisku menggenjot keluar masuk , menepuk-nepuk pinggul Reni yang aduhai sexynya. Tubuhnya lalu bergetar hebat , dan tak lama ia mencapai puncak kepuasannya
“ Oohhh ohhh stop.... stop... ohh “ Reni melolong panjang. Wajahnya memerah dan vaginanya berkedut-kedut hebat. Namun aku masih menggenjot-genjot vaginanya. Ia mendesah , menahan sensasi ngilu-ngilu nikmat yang sangat luar biasa. Desahannya makin gila , bahkan air matanya sampai keluar.
“ ahh ahh Eko... ahhh “ Ia bernafas lega saat aku menghentikan genjotan penisku. Aku melepaskan penisku dari vaginanya , membalik badan Reni , lalu ia berlutut dan siap menghisap penisku yang menegang sempurna. Ia cengkram penisku lalu ia hisap seliar-liarnya. Bibirnya naik turun mengulum-ngulum penisku. Jemarinya meremas-remas buah zakarku. Kedua tanganku meremas dan mendekap kepala Reni . Pinggulku ikut bergoyang menggenjot bibirnya. Tak sampai beberapa menit , penisku berkedut dan meledak di dalam bibirnya. Reni berusaha melepas kulumannya , namun aku menahan kepalanya sehingga ia terpaksa menghisap dan menelan seluruh air maniku . Mina sampai tertawa terbahak-bahak.
“ hahaha sayang , kamu gak kasian apa sama Reni ... “ Ujar Mina. Aku hanya tertawa terbahak-bahak . Kulepas penisku dari bibir Reni dan ia langsung batuk-batuk . Reni berlari ke wastafel dan sontak membersihkan mulutnya dari bekas-bekas air maniku.
“ itu belum seberapa lho Ren , ntar lo terbiasa deh !” Goda Mina. Aku berbaring disampinh Mina dan kami pun berpelukan mesra. Reni terduduk lemas di seberang kami sambil memegangi kemaluannya yang terasa ngilu.
“ Tok- Tok . “ Tiba-tiba pengawalku mengetuk pintu kantorku. Kami segera mengenakan pakaian kami dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Saat aku membuka pintu , pengawalku bilang ada gadis yang ingin melamar kerja.
“ eh iya sayang , kemaren ada tetangga kami yang mau daftar kerja , siapa tahu kamu suka” Sahut Mina. Aku melihat tubuhnya sekilas . Biasanya aku tidak terlalu suka gadis China asli tapi , mungkin aku bisa buat pengecualian untk yang satu ini.
“ okeh , ayo silahkan masuk “ aku mengajaknya masuk ke kantorku . Namanya Christine . Ia lahir dan dibesarkan di Singapura. Ia paham sedikit bahas Indonesia tapi sehari-hari lebih sering berbicara bahasa mandarin. Ia datang dengan blazer hitam dan rok mini yang sepertinya sudah lama sekali. Aku membaca CV nya dan dia ternyata lulusan S2 dan sekarang bekerja sebagai penambang Plutonium. Ia melamar sebagai asisten sekretaris.
“ boleh di buka pakaiannya. “ aku memintanya membuka pakaian dan ia pun menurut. Ia melepas blazer hitamnya , lalu kemeja putihnya , rok hitamnya dan yang terakhir bra dan celana dalam. Tubuhnya putih namun ada sedikit noda dan bekas luka. Buah dadanya masih kencang dan ketika aku mendekat lalu memasukkan jemariku ke vaginanya, rupanya dinding vaginannya pun masih sangat rapat . Mungkin hanya butuh sedikit perbaikan di sana sini agar ia mulus kembali.
“Okay, kamu diterima. “ Lalu aku mengecup bibirnya dengan gemas. Ia senang bukan kepalang.
“ Saya diterima? Jadi saya tidak perlu menambang lagi?” Tanya Christ dengan bhasa Indonesia yang terbata-bata.
“ Ya, kamu tidak perlu menambang lagi . Cepat lakukan tugas pertama kamu. “ Christ lalu menghadap tembok dan aku pun melepaskan celanaku. Kutempatkan kepalaku diantara kedua paha Christ lalu kujulurkan lidahku. Kusentuh bibir vaginanya dengan lidahku , lalu kujilat-jilat dengan gemas.
Christ menundukkan kepalanya karena malu. Kubenamkan kepalaku diantara kedua pahanya dan kucumbu vaginanya dengan liar. Ia tak kuasa menahan sentuhan lidahku dan tak sadar ia pun mulai mendesah-desah.
“Ahhh mmhhh mmhh oohh” Pahanya bergetar dan merapat satu sama lain sehingga menjepit kepalaku. Vaginanya semakin becek. Pinggulnya bergoyang-goyang sementara kedua pahanya makin menjepit kepalaku. Lidahku terus menyelam makin dalam, menjilat-jilat klirotisnya yang menggemaskan. Desahan Christ makin liar dan ia benar-benar menikmati apa yang aku lakukan dibawah sini.
Aku lalu menghentikan jilatan bibirku. Wajah Christ benar-benar memerah dan nafsunya sudah meledak-ledak. Aku kembali berdiri lalu mendekap tubuhnya dari belakang. Ia menungging dan menjauhkan kedua pahanya sehingga penisku dapat menyeruduk masuk lebih mudah. Kutusuk penisku kedalam vagina beceknya dan
“sssshh oh mantap...” vagina Christ ternyata masih sangat rapat. Ia juga mendesah panjang saat penisku menyereduk masuk dan tenggelam seluruhnya. Kudiamkan penisku, menikmati denyutan-denyutan dinding vagina Christ yang masih sempit.
Kutarik penisku perlahan lalu kutusukkan kembali. Aku mulai menggoyangkan pinggulku, menggenjot vaginanya dengan kecepatan penuh. Kedua jemariku pun meremas-remas vaginanya dengan liar. Christ menjerit dan mendesah keras. Mina dan Reni yang melihatnya bahkan sampai terangsang dan mulai mengocok vagina mereka. Kupercepat genjotanku , menikmati betapa dahsyatnya tubuh indah Christ.
Christ menundukkan kepalanya dan terus mendesah. Ia serasa melayang diudara. Aku pun begitu. Genjotanku semakin kencang dan mengencang hingga tak sadar , penisku tiba-tiba meledak di dalam vagina Christ. Aku mendesah puas dan genjotanku pun mulai mereda. Christ pun melolong panjang dan mencapai puncak kepuasannya. Kami berpelukan erat lalu saling bercumbu dengan mesra. Penisku terus berkedut-kedut menumpahkan air mani . Aku mencabut penisku setelah air maniku mulai berhenti memuncrat. Kami menghampiri Reni dan Mina yang juga sudah telanjang bulat dan mereka berdua langsung menggerayangi tubuhku. Kami bercinta berempat sampai waktu menunjukkan pukul tujuh sore.
Sepulang dari kantor, aku menghampiri Roro yang sedang berbelanja di Mall. Christine tidak perlu pulang ke apartemen rakyat karena ia bisa menginap di kantor bersama Reni dan Mina. Roro ternyata juga sedang perawatan di Mall. Namun Kali ini dengan menggunakan teknologi buatan China. Kulitnya kembali seperti remaja dan wajahnya makin bersinar-sinar. Tidak hanya mempercantik kulit tapi klinik kecantikan di Mall ini mampu memundurkan usia menjadi muda kembali. Tentu saja tinggi kalian tetap sama hanya berat badan dan usia kulit saja yang dimundurkan. Aku menghabiskan hampir seratus juta untuk perawatan Roro hari ini. Kami lalu makan malam bersama , dan setelah puas berjalan-jalan, kami pulang ke rumah dengan kawalan Tentara Kolonial Mars. Banyak sekali mata yang menatap kami iri, semuanya orang Indonesia maupun Malaysia. Mereka mungkin mendukung pasangan calon Partai Cahaya Indonesia tapi mereka lupa jika warga Tionghoa atau warga kelas pekerja juga berhak memilih Presiden mereka. Sebaliknya kebanyakan warga keturunan Tionghoa menyapa aku atau Roro dengan sopan. Mereka mumbungkukkan badan seraya berkata “nihao” dan aku juga membalas sapaan mereka. Ada seratus ribu lebih orang Tionghoa sementara orang Indonesia dan Malaysia mungkin hanya belasan ribu. Aku yakin akan memenangkan pertempuran ini dengan gampang dan penuh kenikmatan
“DOR!!!” aku terdiam. Tak sadar peluru menembus dada kiriku. Tanpa rompi anti peluru, aku sontak tersungkur ke tanah sambil memegangi luka tembakku. Orang orang berteriak histeris. Pandanganku mengabur dan darah mengucur membasahi jas dan kemejaku.
“MAS EKO!!” Roro menjerit histeris sambil memegangi kepalaku. Kedua tanganku penuh dengan darah. Nafasku terengah-engah dan kesadaranku mulai menghilang. Saat itu, aku mengira aku akan mati dan semua akan tamat. Ditengah kerumunan yang histeris , pasukan kolonial Mars sempat menembak penembak misterius itu dengan peluru kejut. Ia tersungkur dan pasukan kolonial lekas mengerubungi dan menangkapnya. Sementara dua lainnya segera memberiku pertolongan pertama. Sayang sekali, kesadaranku hilang dan aku sempat tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar