PETUALANGAN BIRAHI PART 8

 

Naik Kelas lagi​








Sepulang dari liburan, kami langsung mendarat di apartemen baruku di Sudirman. Apartemen ini dulunya milik konglomerat terkaya sepanjang sejarah Indonesia, namun saat perang saudara, Beliau dieksekusi mati karena pengkhianatan negara . Seluruh hartanya dirampas negara dan sejak itu, apartemen ini sudah beberapa kali berganti tangan dan akhirnya jatuh ke tanganku. Kurasa aku harus menuruti semua kehendak panglima jika aku ingin apartemen ini tetap menjadi miliku. Tidak hanya apartemen di lantai rooftop ini, aku juga berhak atas seluruh gedung apartemen ini yang artinya aku boleh menempatkan siapa saja gedung apartemen ini. Ada sekitar 250 kamar mewah dan setengah diantaranya masih kosong. Haha, kurasa impian punya istri segudang bisa menjadi kenyataan.




Roro sangat menyukai apartemen baruku. Aku berjanji akan kemari paling tidak sehari seminggu karena aku juga harus menjenguk istriku di pondok indah. Roro mengerti, asal aku tidak lupa dengan uang belanjanya. Aku setuju dan sangat memuji kejujuran Roro yang langsung ke poin tanpa malu-malu. Aku pulang ke rumahku di pondok Indah , dimana Istri-istriku sudah menunggu. Untungnya aku sudah membawa oleh-oleh yang sangat banyak untuk mereka. Termasuk perhiasan senilai ratusan juta rupiah.




“Yey Papi pulang!! Papi pulang!!” Aku mendengar suara istriku Loren. Rupanya kelima istriku sudah berbalis di helipad belakang rumah, dengan perut besar mereka. Mertuaku, Papa dan Mama Tania ternyata juga sudah menunggu disana. Untungnya aku juga membawa oleh-oleh untuk mereka.


“Pak. Bu” Aku menyalami keduanya. Papa Tania menepuk pundakku dan berkata


“Gimana dinasnya? Aman? Atau ada hambatan disana?”Tanya Beliau


“ Ah enggak kok Pak. Semuanya Aman dan lancar kok.” Jawabku.


“bagus-bagus! Siapa dulu, menantuku .... “ Dan kami berdua pun tertawa. Yang lain pun ikut tertawa. Kami beramai-ramai masuk ke dalam, dimana makan malam yang lezat sudah menyambutku. Kami makan malam bersama, sementara di rumahku yang satunya, Mina sudah membayar chef terkenal untuk memasakkan makan malam Roro. Aku ingin ia bergabung disini , namun aku tidak yakin apakah istri-istriku akan menerimanya.


“Sayang kamu kok melamun? Kamu pasti capek ya abis terbang jauh?” Tanya Tania saat ia tahu jika aku sedang melamun.


“Ah, iya nih sayang. Biasa , kayak kita ke Bali waktu itu. Kepalaku suka puyeng kalo terbang lama-lama. Apalagi tadi transitnya sebentar.” Jawabku santai. Tania tertawa namun istriku Loren tahu aku berbohong. Ria juga tahu . Tapi mereka berdua takut sakit hati jadi mereka tidak pura-pura tidak tahu.




Tania mungkin akan melahirkan beberapa hari lagi. Istriku yang lainnya mungkin akan menyusul setelahnya. Beruntung Orang tua Tania bilang mereka siap mambantu jika aku memerlukan mereka. Dan aku pasti butuh bantuan karena sudah pasti aku akan sangat keteteran. Malam itu, aku tidur sekamar dengan Tania. Dengan polosnya ia tersenyum ketika aku mengecup bibirnya dan mengatakan,




“ Selamat tidur sayang “ Hmmm, Andai ia tahu apa yang aku lakukan selama liburan.




Aku berangkat lebih pagi karena aku ingin sarapan bersama istri baruku Roro. Untungnya dirumah ini kami sudah terbiasa sarapan pagi-pagi sekali jadi aku bisa berangkat pukul tujuh. Kantor masuk pukul delapan namun karena aku bangsawan, peratusan itu tidak berlaku untukku. Ketika sampai di apartemen Roro, rupanya ia masih terlelap tidur. Kukecup pipinya sehingga ia terbangun dengan wajah polosnya.




“Ngggh?? Pagi sayang.... “ Ucapnya malu-malu.


“ Aku siapin sarapan ya sayang..” bisikku pelan. Roro segera bangun dan menjawab


“Enggak! Enggak! Masa kamu yang siapin sarapan. Biar aku yang siapin! Yuk kita ke dapur” Roro segera bangun dari tempat tidur dan kami berpindah ke dapur untuk sarapan. Untungnya tidak butuh waktu lama untuk menyiapkan sarapan yang lezat . Tak sampai sepuluh menit, Roro sudah menyiapkan nasi goreng untuk kami berdua.




“ Yuk dimakan sayang...”ucapnya lemah lambut. Langsung kulahap nasi goreng buatan Roro dengan lahap walaupun dirumah tadi aku juga sudah makan banyak. Roro tersenyum puas melihat aku memakan masakannya dengan lahap.


“tambah lagi ya , tuh masih banyak kok “ tanpa ragu-ragu , aku mengambil nasi goreng lebih banyak lagi karena aku memang masih lapar. Aku bahkan mengambil untuk jatah makan siang. Roro tertawa geli. Sebelum berangkat , ia mencium bibirku sekilas lalu berbisik


“ met kerja ya sayang “ Dan aku pun berangkat ke kantor. Aku pulang lebih cepat dari biasanya karena setiap sore hari , aku selalu mampir ke rumah Roro untuk mandi , lalu mencumbu dan meniduri tubuh sempurnanya. Saat malam hari , aku mengurus kelima istriku dengan memanjakan mereka dan sesekali mengajak berbelanja di Mall terdekat.




Beberapa hari kemudian , Tania melahirkan putra keduaku yang sangat gagah dan tampan yang kuberi nama Dewa. Semua orang mencintainya. Aku mendapat cuti kerja demi mengurus kelahiran anakku. Istriku yang lain ikut berbahagia dan tak sabar menunggu kelahiran bayi mereka. Bahkan Roro memberiku selamat. Di bulan-bulan kemudian , bayi-bayiku yang lahir dan untungnya semua ditanggung negara. Bayangkan berapa dana yang harus aku habiskan jika aku harus membayar semua itu . Bencananya anak kedua Loren perempuan . Padahal punya anak perempuan adalah masalah serius dan momok menakutkan bagi setiap orang Indonesia. Aku harus mencari cara bagaimana supaya pemerintah Indonesia , maksudnya Ocean , tidak dapat menjangkau Loren dan putriku. Beberapa bulan kemudian , tepat setelah tahun baru, setelah semua istriku keluar dari rumah sakit , aku mengajak mereka semua tanpa terkecuali (termasuk Roro yang menyamar sebagai Asistenku) liburan ke Beijing . Disanalah , aku menginvestasikan uangku dengan membeli Villa super mewah , dan menempatkan Loren disana. Pembelian dilakukan serba rahasia agar tidak ada yang tahu aku membeli rumah ini. Aku berjanji mengunjungi mereka sekali sebulan , yang biasanya pada akhir minggu karena aku tidak masuk kerja. Sejak saat itu , Loren dan kedua anakku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Indonesia. Semua demi kebaikan mereka.




Saat itu aku ingat tahun 2033 , perang sudah lama berakhir. Presiden baru menjalankan pemerintahan boneka di Jakarta , sementara pemerintahan yang sebenarnya dipegang oleh para Panglima. Siapapun yang menentang dan tidak mau tunduk , akan ditangkap , dikebiri , dan dieksekusi secara keji. Pada bulan April 2033 , Kementrian BUMN melantikku sebagai Dirut PT PINDAD yang baru , karena Dirut yang lama dipecat dan dieksekusi karena tuduhan penyalahgunaan jabatan. Dua belas istrinya ikut dieksekusi sementara putra putrinya dilempar ke luar angksa untuk mengikuti program migrasi ke planet Proxima b. Rumor yang beredar jika pemakzulan ini ada kaitannya dengan Bom Pertiwi. Walaupun perang sudah berakhir , tapi pertikaian masih tetap ada. Aku mendapat Rumah dinas baru yang luasnya puluhan hektar , helikopter dinas baru , dan bahkan pesawat Quinjet milikku sendiri. Saat itu aku merasa menjadi Direktur Avenger. Aku bersumpah , demi anak dan istriku, aku akan menuruti semua kehendak para panglima. Lebih baik aku tunduk pada mereka daripada anak istriku sengsara tujuh turunan.




Rumah dinasku yang baru rupanya adalah sebuah komplek perumahan mewah yang di dalamnya terdapat lima belas Villa super mewah lengkap dengan kolam renang dan garasi tersendiri. Aku memberi istriku masing-masing satu rumah, termasuk Roro yang akhirnya aku kenalkan kepada Istriku yang lain. Mereka tidak terkejut dan justru mengatakan kalau mereka sudah menduganya sejak lama. Komplek perumahan ini dulunya ingin dijadikan sebagai komplek perumahan DPR. Namun setelah DPR dibubarkan dan dieksekusi secara tidak manusiawi di Monas. Perumahan ini diambil alih para panglima dan sejak itu dijadikan rumah dinas Dirut PT PINDAD. Setiap rumah akhirnya aku berikan kepada istriku dan aku sendiri merekrut ratusan gadis cantik sebagai pelayanku. Tugas mereka adalah sebagai pelayan istri-istriku dan tentu saja sebagai pelayanku.




Sebagai bangsawan yang berpengaruh di Indonesia , aku berhasil membebaskan orang tua Lola dan Roro dari kerja paksa , dan menempatkan mereka di rumah putri mereka masing-masing. Di umurku yang bahkan belum sampai tiga puluh tahun , hidupku sudah bergelimang harta , tahta dan wanita. Selain istriku , aku punya ratusan ribu gadis cantik yang siap melayani nafsuku. Setiap hari aku selalu tidur dan ML dengan istri yang berbeda. Kadang aku meniduri Roro , kadang Tania , kadang Ria , kadang Lola , kadang Shahira , pokoknya setiap hari aku meniduri istriku secara bergantian. Sedangkan siang harinya di kantor , setiap jamnya aku meniduri gadis-gadis yang berbeda. Salah satunya adalah Felicia , Staf Keuangan yang paling sering aku panggil ke kantor.




“ Ahhh ahh aaww ahhh mmmhhh “ Felicia menungging menghadap tembok dan membiarkan penisku menusuk-nusuk vaginanya dari belakang. Kedua tanganku menahan pinggangnya agar penisku lebih leluasa menggenjot-genjot vaginanya. Pinggul montoknya membuat sensasi doggy style ini menjadi lebih terasa nikmat


“ Oohhh mmhh ngghh “ aku paling tak tahan mendengar desahannya. Felicia terpejam. Ia menggigit bibir bawahnya menikmati sensasi doggy style yang aku berikan. Tanganku menggerayangi tubuh montoknya hingga tibalah keduanya di buah dada Felice. Aku mempercepat genjotanku sambil meremas-remas buah dada Felice dengan brutal.




Penisku terus bergerak keluar masuk dengan kecepatan penuh. Felice terus mendesah sambil meremas-remas tembok. Makin cepat genjotan penis , makin liar pula ia menggeliat di pelukanku. Ia melolong panjang dipelukanku dan di saat yang bersamaan , penisku meledak dan memuncrat di dalam vaginanya. Felice pun mencapai puncak kenikamatannya dan melolong begitu keras. Kami berdua lemas lalu saling berpelukan di sofa. Ia segera mengenakan seragamnya kembali dan langsung keluar ketika Mina mengabari jika istriku Roro datang ke kantor dan sedang di Lift.




Felice keluar tepat waktu. Aku pun berhasil mengenakan pakaian kembali tepat pada waktunya. Roro datang tepat saat makan siang. Saat ia tiba di kantor , ia langsung menyapaku dengan hangat dan menggoda.




“ Siang sayangku , aku bawa makan siang lho buat kamu.... “ sapa Roro.


“ Kamu jauh-jauh bawain aku makan siang ke lantai 120 ..... “ aku terdiam. Aku sadar ini pertama kalinya istriku datang jauh-jauh hanya untuk mmbawakanku makan siang.


“ iya sayang , emangnya kenapa ?” Tanya Roro kembali.


“ enggak , makasih ya sayang “ kubuka kotak makan siang yang ia bawa dan kami berdua makan siang bersama. Makan siang ini biasa saja , hanya nasi tempe dan ayam goreng , tapi rasanya lezat sekali. Aku memakan makan siang Roro dengan wajah yang berbinar-binar. Ia pun heran melihatku senyum-senyum tak karuan.


“ kamu kenapa?” tanyanya.


“ Eh? Enggak kok enggak papa...” jawabku.


“ beneran kamu gak papa? “ tanyanya lagi.


“ beneran tau! “ dan kami berdua pun tertawa terbahak-bahak. Seusai makan siang, aku meminta Roro untuk istirahat di sofaku karena aku ingin ia pulang bersamaku. Roro kemudian berbaring dan istirahat di ruanganku, sedangkan aku berpura-pura kerja dengan serius. Aku sadar jika selama ini , kelima istriku bahkan tidak pernah seperhatian ini kepadaku. Jangankan membawakanku sarapan , makan malam saja baru dimasak ketika aku sampai di rumah. Sarapan pun begitu, baru disiapkan tepat sesudah aku bangun tidur. Berbeda setiap hari jumat , dimana aku menginap di rumah Roro. Makan malam sudah disiapkan sebelum aku pulang. Sarapanpun begitu bahkan ia sampai repot-repot membawakanku makan siang ke kantor. Bahkan urusan kasur , Roro sangat pintar memuaskan nafsuku. Tidak seperti Shahira yang hanya modal dada besar tapi pemalas , Lola dan Tania yang modal imut dan Ria... sebenarnya Ria cukup rajin dan baik hati walaupun tidak seperhatian Roro. Sebenarnya istriku Loren juga perhatian dan baik seperti Roro namun sejak aku menikah lagi , aku sadar dia tidak sebaik dulu. Aku sadar aku lah yang merubahnya . Dan sejak hari itu , aku menjadi lebih perhatian dan lebih memanjakan Roro.




Kami pulang bersama-sama saat jam lima sore. Hari itu aku menginap di rumah Roro . Ketika sampai di rumah , aku langsung menarik lengan Roro dan mencumbu bibirnya dengan gemas. Roro yang kaget sontak memejamkan matanya lalu membalas lumatan bibirku. Aku mendekapnya erat-erat. Penisku yang menegang sempurna berhimpitan dan bergesekan dengan perutnya . Roro melumat bibirku dengan ganas lalu ia pun tiba – tiba berlutut dan sontak melepas celana panjang serta boxerku.




Penisku mengajung tepat didepan wajahnya. Masih mengenakan hijab , ia menggenggam dan mengocok-ngocok penisku kencang. Tangannya memompa penisku naik turun , dan pipinya mulai mengendus – ngendus kepala penisku yang sudah merah dan basah dengan pelumas. Ia membuka mulutnya dan mulai melumat penisku yang menegang sempurna.




Bibirnya mulai mengecup dan menghisap kepala penisku. Tangannya terus naik turun mengocok-ngocok penisku. Mataku terpejam, dan dengan gemasnya kedua jemariku meremas-remas hijabnya. Bibirnya mengulum-ngulum penisku dengan lembut , manja namun nikmat. Tak sadar tanganku sudah memeluk kepala Roro dan tak lama penisku berkedut dan meledak di dalam mulutnya.




Roro menelan seluruh sperma yang keluar. Tanpa memberi ampun , ia terus melumat penisku yang terus menerus berkedut dan ejakulasi di dalam mulutnya . Benar-benar luar biasa. Saking nikmatnya air mataku bahkan sampai keluar. Roro memang tidak pernah mengecewakanku. Ia melepas kulumannya setelah penisku kembali mengecil dan bersih dari tanpa bekas sperma sedikit pun. Namun rasanya ngilu sekali dan aku pun sampai terduduk lemas . Roro duduk dengan manja diatas pangkuanku dan kami pun bercumbu .




“ Ayo mandi , ntar dedeknya aku kasih mandiin juga... “ bisiknya nakal. Kami segera ke kamar , melucuti semua pakaian kami , lalu kami mandi berdua bersama-sama. Kami berdua berendam di bathup dan Roro kembali memanjalanku dengan tubuhnya yang mahal dan sempurna. Ia membenamkan wajahku di buah dadanya yang bulat , kencang dan besar. Sambil mendesah-desah Roro menikmati hisapan lidahku yang menjilat dan menghisap buah dadanya. Sedangkan pinggulnya menggesek-gesek batang penisku yang mulai kembali bangkit.




Beberapa menit saja , penisku sudah berdiri kembali. Aku memang tidak tahan dengan tubuh indah Roro. Wajahku memerah dan nafsuku meledak-ledak. Roro pun begitu. Ia menduduki penisku lagu menggesek-geseknya dengan kemaluannya. Pinggul besarnya menepuk-nepuk penisku dan sensasinya sungguh luar biasa. Roro mendesah liar sambil memeluk wajahku . Lidahku terus bergerak dan pelukannya menjadi semakin kencang. Dekapannya makin erat dan tiba-tiba ia melolong panjang dan akhirnya mencapai puncak kenikmatannya. Cairan hangat menghujani penisku. Gairahku semakin menjadi-jadi . Ia melepas pelukannya lalu tertawa malu.




Segera kupegang pinggangnya dan ia merintih nakal. Perlahan kutusukkan penisku ke dalam vaginanya. Roro mendesah-desah sambil menepuk dadaku. Wajahnya memerah . Ia menggigit bibir bawahnya dan ketika penisku terbenam seluruhnya , Roro melolong panjang menyebut-nyebut namaku. Kugenjot penisku naik turun sekencang mungkin membuat Roro semakin mendesah-desah nakal.




“ ahhh Ekooo.... ahhh ahh “ begitulah desahan nakalnya. Gemas , ia mencumbu bibirku liar sambil menikmati hujaman penisku di dinding vaginanya. Ia merapatkan pahanya dan mulai ikut menggenjot-genjot pinggulnya. Kami saling bergenjot dengan kecepatan penuh sehingga air bathup bahkan sampai tumpah keluar.




Kami sempat menghentikan genjotan kami sejenak dan berganti posisi. Roro dibawahku sedangkan aku menggenjornya dari atas. Ia memeluk erat , membiarkanku menggenjotnya dari atas. Ia mendongakkan kepalanya keatas , memejamkan matanya , dan terus mendesah-desah menikmati genjotanku. Penisku terus bergerak naik turun dengan kecepatan penuh . Roro pun ikut menggoyang pinggulnya memberi penisku pijatan yang nikmat. Aku memeluknya erat-erat lalu penisku sontak memuncrat dan meledak-ledak di dalam vagina Roro. Kami berdua mendesah panjang dan tersenyum puas. Kupejamkan mataku, menikmati kedutan kedutan penisku di vagina Roro yang sangat sempit. Ia pun mencapai puncak kenikmatannya dan kami berpelukan manja di dalam bathup. Setelah aksi gila itu , kami berdua mencuci tubuh kami dan melanjutkan peperangan diatas kasur. Aku menidurinya sampai tujuh atau delapan kali hingga birahiku benar-benar terpuaskan.




Sejak hari itu aku memberi Roro jatah dua hari , yaitu dihari sabtu dan minggu. Roro tiba-tiba menjadi sosok istri kesayanganku , yang mana sebelumnya itu milik Loren dan Tania. Aku lebih memanjakan Roro dan itu membuat Tania sedikit cemburu. Sedangkan Shahira sadar kalau aku mulai jarang menengoknya lagi sehingga ia cuma berharap aku tidak membuangnya . Lola dan Ria mencoba beradaptasi agar aku tidak bosan kepada mereka. Paling tidak Ria masih mampu memuaskan birahiku, dan begitu juga dengan Lola yang terus belajar memuaskanku. Hanya Tania yang cemburu buta kepada Roro. Aku cepat-cepat memanjakan Tania kembali , sebelum ia bertengkar hebat dengan Roro.




Aku mengajak Tania dan putraku liburan ke Lombok. Aku sudah meminta izin pada Roro sebelumnya dan ia pun mengizinkan aku liburan bersama Tania. Disana aku menyewa Villa , memanjakan anak istriku selama seminggu. Aku melakukan semua itu demi menunjukkan jika aku masih menyanyanginya. Sayangnya karena putraku masih kecil dan fisik Tania masih lemah , aku tidak bisa menjamah Tania sehingga aku terpaksa menahan Nafsuku. Selama liburan itulah aku merangkul Tania , memanjakannya , mengajaknya jalan-jalan . Tania mulai sadar jika aku masih menyayanginya. Saat kami bersantai di pantai Mawi , Tania memelukky seraya berbisik




“ Sayang , maaf ya , belakangan, aku , aku cemburu sama kamu. Padahal , aku tahu . Kamu tetep sayang kan sama aku? Kamu tetep sayang kan dengan anak-anak kita?”


“ Iya sayang. Mana mungkin aku lupa sama kamu , sama anak kita. Kalian itu hartaku yang berharga. Yakinlah kalau kalian , selalu ada di dalam hati aku” hah , gombal bagus bukan. Sayangnya karena anak kami berada di dekat kami, aku tidak bisa mencumbu Tania. Namun masalah besar dalam cerita ini bukanlah pertengkaran dalam istriku. Lalu apa?




Saat perjalanan pulang ke villa , aku mendapat berita jika KSAD dan Pangdan Jaya meninggal dunia karena kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi meletus akibat kebocoran bahan bakar. Disaat yang sama , Dirut PT Pangan Mandiri , sebuah perusahaan negara yang mengolah pertanian gandum , meninggal di rumah beliau karena tabung gas yang meledak. Kedua kecelakaan ini sangat mencurigakan dan sungguh kebetulan , kenapa? Kebocoran bahan bakar , tabung LPG meledak , semua itu sudah tidak pernah terjadi lagi sejak perang dimulai. Ini bukan tahun 2018 lagi. Lalu apa yang membunuh mereka? Tongkat Dewa , meriam laser orbital seharga Rp. 2000 trilun buatan LAPAN. Berbeda dengan meriam Tiangong yang hanya menghasilkan ledakan 1 ton TNT , tongkat Dewa dapat diatur mulai dari 5 kg TNT sampai 450 Kiloton TNT. Jadi meriam ini dapat meledakkan mobil dan dapat juga meledakkan satu kota sekaligus. Lalu kenapa para panglima menghabiskan amunisi mahal hanya untuk membunuh mereka ? Aku menduga semua ini terkait persekutuan selatan.




Aku menjabat direktur pemasaran karena suatu alasan . Para panglima meminta Dirut Pindas untuk mencarikan orang yang gampang distir dan bisa dipercaya . Kandidad sebenarnya adalah sahabatku Arif. Namun karena perbincangan konyol tentang lima istri , membuat Dirut Pindad saat itu melantikku sebagai Direktur pemasaran. Tugasku hanyalah menandatangani berkas pembelian senjata oleh AD Ocean. Setiap tahunnya , AD OCEAN membeli lima ribu pucuk senjata yang dilakukan secara rahasia. Senjata – senjata ini dijual kepada separatis dan kelompok bersenjata diseluruh dunia demi kekayaan pribadi. Hal ini sudah dilakukan jauh sebelum perang dan menjadi tradisi bahkan sampai sekarang. Dan pengangkatanku sebagai Dirut Pindad adalah karena dirut yang lama sudah kurang bisa dipercaya sehingga dibutuhkan dirut yang baru .




Lalu kenapa para penglima membunuh dirut PT Pangan Mandiri? Selain membeli senjata , secara ilegal AD juga menyelewengkan puluhan ribu ton gandum kepada separatis dan kelompok bersenjata . Semua dilakukan demi kekayaan pribadi para panglima. Namun , berita penyelewengan pangan dan senjata ini mungkin sampai ke tangan media dan para Panglima ingin menghapus jejak? Lho? Bukankah Para Panglima adalah para diktator yang paling berkuasa? Kenapa harus takut dengan media ? Yang kebanyakan perempuan? Karena , jika berita ini sampai disiarkan , para bangsawan akan memanfaatkan momen ini untuk menyudutkan para bangsawan sehingga akan terjadi perang saudara antara kaum bangsawan dan kaum panglima. Sudah pasti para Panglima akan menang , tapi akibat dari perang itu tentu saja tidak murah. Bisa jadi OCEAN akan kembali menjadi ASEAN. Dan GLA akan memanfaatkan momen ini untuk merebut kembali China Selatan bahkan menyerang Indonesia. Jadi , lebih baik mereka membunuh seluruh pihak yang terlibat , lalu membersihkan jejak , seperti yang mereka lakukan di masa sebelum perang. Sadar para Panglima mungkin akan menembakku dengan amunisi mahal , malam itu juga aku memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari jangkauan mereka.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar