Bali oh Bali
Saat aku bangun di pagi hari , aku disambut wajah cantik Roro yang bak bidadari dan ia tersenyum padaku seraya berkata.
“ Pagi Ko....” sapa Roro . Gemas , aku cumbu bibirnya seraya berbisik.
“ Pagi Roro “ lalu kami pun bercumbu singkat . Kami segera bersiap untuk keberangkatan ke Bali , dan setelah sarapan , kami segera berangkat ke Bali dengan helikopter dinasku.
Perjalanan ke Bali tidak sampai dua jam. Kami terbang ke Bali sambil menikmati pemandangan Indah Indonesia . Dari langit , negeri ini terlihat tentram dan damai. Tidak terlihat , jika rakyat menderita dan mati pelan-pelan agar orang sepertiku dapat meniduri gadis cantik sepuasnya. Aku merasa seperti menjadi presiden Indonesia, maksudku Ocean. Terbang di atas zamrud katulistiwa, ditemani ibu negaraku yang kesekian, sambil menikmati hidangan kopi yang hangat dan hasil kerja paksa. Roro terkagum-kagum dengan apa yang ia lihat. Ia memfoto pemandangan dengan Handphone Nokia terbaru yang aku belikan untuknya kemaren. Meskipun sudah cantik jelita, Roro memilih tetap mengenakan hijab karena ia ingin tubuh sexynya yang mahal , hanya dinikmati olehku saja. Jadi ia mengenakan gamis mahal yang diimpor dari Turki. Sedangkan Mina sudah berpakaian sangat sexy
Kami mendarat di Pantai Nusa Dua agar kami dapat langsung bersantai di pantai. Sebelumnya kami sempat memutari pulau Bali dan menikmati pemandangan indah pulau Bali dan tak lupa, Gunung Agung. Setelah kami turun , Helikopter kembali Take off dan langsung menuju Bandara Ngurah Rai untuk isi ulang bahan bakar. Sebelumnya aku pernah mengajaknya Tania , Loren dan Ria , dan sekarang aku kesini bersama Mina dan Roro. Pantai sangat sepi dan hanya ada kami bertiga. Ada beberapa bangsawan yang sedang berjumur, tapi di sudut lain pantai ini. Mina tanpa malu-malu menanggalkan seluruh pakaiannya dan menyisakan bikininya saja. Roro berjalan-jalan di pantai dengan gamis mewah dan berlagak seperti putri dari timur tengah, meskipun ia jauh lebih cantik. Aku bersantai sendiri tanpa kawalan, namun aku membawa pistol pindad jika saja ada yang berani macam-macam.
“ Aku baru kali ini ke Bali, kagum banget rasanya....” ujar Roro yang kagum melihat keindahan pantai Nusa Dua. Ia memelukku mesra dan bersandar di bahuku. Aku ingin melumat bibirnya tapi ia malu. Kami pun duduk berdua bermesraan di pinggir pantai. Tak lama, pelayan mendatangi kami dan membawakan welcome drink, sebagai sambutan hangat dari pihak cafe .
“Selamat Pagi Pak Eko, selamat menikmati liburannya, hubungan kami jika anda perlu sesuatu. “ ucap sang pelayan wanita seusai ia mengantarkan welcome drink untuk kami bertiga. Dua orang temannya menunggu di sisi pantai jika saja kami ingin memesan sesuatu.
“Kamu mau pesen makanan atau minuman sayang?” tanyaku kepada Roro yang sedang bersandar di atas pahaku.
“ Aku...... aku pengen.... aku pesen Strawberry Milkshake boleh gak? Udah lama lho aku pengen nyobain milkshake. “ bisiknya malu malu. Kucubit pipinya dengan gemas lalu aku menjawab
“Ya boleh dong sayang, “ Aku menepuk kedua tanganku kuat-kuat, dan tak lama kedua pelayan yang menunggu di sisi pantai datang menghampiriku. Aku pulang padanya jika istri baruku ingin memesan Milkshake dan aku memesan limun. Aku meminta mereka untuk bertanya sendiri pada Mina, minuman apa yang ingin ia pesan. Kedua pelayan wanita itu lalu bertanya dan tak lama mereka kembali ke cafe. Selang beberapa menit , mereka kembali dengan pesanan.
Kami bersantai, bermesraan berdua sampai tengah hari tiba. Saat siang hari, aku mengajaknya makan siang bersama di sebuah yacht mewah yang sudah aku sewa untuk kami berdua, maksudku bertiga karena aku lupa Mina juga ikut. Aku bahkan juga menyewa penyanyi idola Roro , Raisa , untuk menyanyikan lagu kesukaan Roro.
“Ya Ampun , Eko. Kamu sampe lakuin semua ini buat AKU!!” Teriaknya terkejut. Roro tak menyangka aku akan melakukan semua ini untuk dirinya. Kulumat bibirnya pelan dan penuh cinta, lalu aku berbisik
“Apapun buat kamu Roro...” bisikku pelan. Ia tersipu malu , dan membalas kecupan bibirku. Kami bercumbu, diiringi lantunan lagu indah yang dibawakan Idola masa kecil kami Raisa, lalu kami makan siang romantis berdua. Wajah Roro bersinar-sinar dan ia terlihat sangat bahagia. Aku ingat sekali wajahnya kemarin sangat suram dan penampilannya sangat lusuh. Hari ini, ia berubah total dan aku sekali lagi membuktikan jika di masa ini uang bisa membeli kebahagiaan.
Ia duduk di pinggir Yacht, memandang laut biru yang sangat indah. Aku duduk disampingnya, memegang tangan Roro erat-erat. Kami berlayar menuju pulau lembongan, dimana kami akan menginap di Villa mewah yang biasa aku sewa. Kami berlabuh tepat di depan Villa yang kusewa. Helikopterku ternyata sudah tiba lebih dahulu. Berdua aku turun bersama Roro bak Pangeran dan Putri . Pulau ini hanya khusus bangsawan sehingga warga sekitar sudah disapu bersih demi kenyamanan para bangsawan.
Kami disambut tarian khas Bali, tari pendet. Namun Roro justru tertawa karena baru kali ini ia melihat tari pendet secara langsung. Aku meminta ajudanku untuk menghentikan lagu tradisional yang sedang diputar, dan menggantinya dengan musik EDM ala Alan Walker. Seluruh pengawal dan Ajudan aku suruh menunggu di kapal, termasuk Mina. Aku dan Roro lalu berjalan menuju belakang Villa, dimana kami berpesta bugil di kolam berenang.
“I LOVE YOU EKO!!!”
“ I LOVE YOU TOO RORO!!”
Tanpa kain sehelai pun menutupi tubuh indahnya, ia berenang bersamaku di kolam renang. Musik EDM aku putar kuat-kuat, dan tidak akan ada yang berani mengusik seorang Bangsawan sepertiku. Kami berdua lalu menyelam ke dalam kolam renang, dimana ia menatapku dengan tatapan nakalnya. Kami pun bercumbu untuk kesekian kalinya. Kali ini, ia mengapit pinggangku dengan kedua betisnya. Kedua kemaluan kami pun saling bergesakan. Ia menggesek-gesek penisku dengan vaginanya , sambil melumat dan mengecup bibirku dengan ganas. Kami bercumbu liar menuruti nafsu birahi kami, sampai kami berdua mulai kehabisan nafas dan kembali ke permukaan.
“HUAAA! HUFT!! “ Roro berteriak keras. Ia tertawa lepas di pelukanku. Aku pun ikut tertawa karena kami hampir saja kehabisan nafas di bawah sana.
“Jadi gini ya, rasanya hidup ala Bangsawan.” Bisik Roro.
“Kelihatan asik cuma karena ada kamu. Coba deh kalo aku liburan sendirian, pasti sepi.” Roro lalu menepuk pipiku seraya menjawab
“IDIH! GOMBAL!” Lalu tiba-tiba ia kembali melumat bibirku. Ia melepas ciumanku lalu berenang menjauhiku,
“AYO KEJER AKU!!” Goda Roro. Aku pun berenang-renang mengejarnya. Diiringi masik dentuman musik EDM , kami berenang-renang berdua dibawah langit malam. Dan aku pun berhasil menangkap Roro sehingga ia tertawa terbahak-bahak di pelukanku. Aku memeluknya dari belakang, dan kedua tanganku pun langsung meremas-remas dada Roro yang bulat , padat dan kencang.
“Ahhh ahahaahhaa AHHH mmhhh pelan-pelan dong sayang, ntar tenggelem lho mmmhhh “ Goda Roro sambil mendesah-desah nakal. Dibawah sana, penisku mulai menyundul-nyundul bibir memeknya. Roro makin tertawa dan menggeliat di pelukanku.
“IHHH! EKO NAKAL IHHH! Aku teriak minta tolong lho ntar....” Ia kembali menggodaku sambil menikmati remasan kedua tanganku. Vaginanya juga mulai basah. Kedua pahanya lalu mengangkang agar penisku lebih leluasa menyudul bibir memeknya.
“Ayo teriak aja...” kucium pipinya gemas. Kuturunkan ciumanku ke leher Roro, lalu kuhisap dan kujilat-jilat lehernya
“Tooolong! Aku diperkosa! Aku diperkosa suamiku!!” Bisik Roro sambil tertawa-tawa geli. Geram dengan Godaan Roro, kudekup pinggangnya, lalu kuobok-obok bibir memeknya dengan tangan kananku.
“Ahhhh!! Nggghhh Ko...ahhh nggh ihhh nakal tangannya....” bisiknya nakal. Kedua pahanya lalu menjepit-jepit pahaku sementara tangannya berpegangan erat di pinggir kolam renang. Kepalanya mendongak dan ia terus mendesah-desah keenakan. Kuatur irama jemariku , sampai nafsunya mulai memuncak dan ia pun menoleh kebelakang, membiarkan bibirku mengecup-ngecup bibir manisnya. Nafasnya makin terengah-engah. Lumatan bibirnya semakin liar. Ia membalikkan badannya sehingga kamu pun saling berhadapan di pinggir kolam renang. Ia melepas ciumannya dan memohon.
“Do it, Ko...” Goda Vero. Ia memelukku erat sementara kedua tanganku memegang pinggulnya. Perlahan kutusukkan batang penisku ke vagina Roro yang tembam dan sangat sempit.
“ssshhhh Ahh” Ia berdesis dipelukanku ketika penisku pelan-pelan menusuk dan mengoyak keperawanan Roro. Buah dadanya yang kenyal menempel dan bergesekan dengan dadaku. Penisku akhirnya masuk seluruhnya dan sengaja aku diamkan , menikmati pijatan dinding vaginanya yang luar biasa
"ohhh!oohhh! yahhhh Ekoooo!” Ia mendesah memanggil namaku ketika aku menggenjotnya dengan kecepatan penuh di dalam kolam renang. Air kolam renang sampai beriak. Desahannya sangat kuat dan beruntung musik EDM menutupi suaranya. Ia memelukku erat, menahan genjotan penisku yang asik mengobok-obok keperawanannya.
“Ahhh! Pelan-pelan sayang.... aww pelan-epan...” Ia mendesah dan memohon seperti sedang diperkosa. Sempitnya Vaginanya Roro membuatku semakin nafsu. Belum lagi buah dadanya yang memukul-mukul dadaku. Tubuh Roro mulai kejang-kejang dan pelukannya semakin erat. Aku pun tak kuat menahan betapa luar biasanya tubuh Roro, sehingga kami pun orgasme secara bersamaan. Ia sampai mencakar punggung menahan ngilu dan nikmatnya orgasme malam itu. Punggungku sampai terluka, lalu kami pun tertawa puas bersama-sama. Kami keluar dari kolam renang, dan melanjutkan aksi gila kami di kamar.
“ MMMHH NGHH!! I LOVE YOU EKO!!” Bisik Roro ketika aku menindih dan kembali mengobok-obok vaginanya. Kami ML enam kali sampai sampai kami berdua lemas dan tertidur pulas. Belum puas, saat pagi hari setelah matahari terbit, kami kembali bergulat sekitar tiga atau empat kali. Ia tertawa lemas dan aku pun ikut tertawa. Kami mandi bersama, lalu turun dan sarapan di dapur. Chef dan pelayan sewaanku ternyata sudah menunggu lama. Mereka datang pukul delapan dan rupanya sekarang sudah pukul sebelas. Kami pun minta maaf karena telah membuat mereka menunggu . Kami sarapan berdua dan rencananya , hari ini aku ingin mengajakknya berjalan-jalan di pulau lembongan. Setelah sarapan, kami bersiap untuk bertualang bersama.
Kami bertualang berdua saja karena Mina aku suruh stay di Villa. Aku membonceng Vero dengan motor bebek matic persis seperti anak muda sebelum perang. Aku cuma memakai koas dan celana pendek sedangkan Roro mengenakan gamis putih lengan panjang dan hijab berwarna pink. Kami benar-benar terlihat seperti anak muda dan sekilas, sama sekali tidak terlihat seperti bangsawan. Kami berkendara berkeliling pulau, melihat pantai , melihat batu karang dan tidak lupa berfoto berdua. Naasnya adalah ketika hujan turun dan kami terperangkap di sebuah pondok yang dahulunya milik Nelayan sekitar.
“Aduh! Sorry ya, malah keujanan.... “ ucapku meminta maaf.
“ eh gak papa lagi. Kan jadi kayak balik lagi zaman smp dulu .” jawab Roro santai.
“ dulu enak ya smp boleh bawa motor, eh aku liat sekarang dianter aja bisa kena hukum lho.” Sahutku.
“Iya bener, di Semarang malah sampe ada yang kena kerja paksa, cuma gara-gara dianter papanya. Katanya manja, lemah lah. Katanya mesti mandiri , naik kendaraan umum kalo perlu jalan kaki. Ngomong aja mesti di saring lho sekarang. “ sambung Roro.
“Padahal kita dulu, segala isi kebun binatang keluar semua. Tapi ada positifnya sih , gak ada lagi kan anak sekolah yang ugal-ugalan.” Roro lalu menanggukkan kepalanya.
“Iya sih, terus ya kalo kita negor anak-anak, jawabnya sopan banget . Takut kali ya. Beda deh sama zaman kita dulu...” Dan kami terus berbincang-bincang sampai sore hari tiba. Hujan sepertinya tak mau berhenti sehingga kami masih terperangkap di gubuk itu.
“Eh hujannya awet ya...” ujarku. Roro hanya tertawa. Ia justru memelukku dan berbisik.
“Gak papa lagi, kan ada kamu...” Goda Roro. Kami pun tertawa terbahak-bahak. Untungnya aku membawa cemilan jadi kami makan bersama sesaat setelah matahari mulai terbenam. Aku menghidupkan lampu petromak lalu kembali memeluk Roro yang berbaring diatas kasur yang sudah tua itu. Hujan semakin menjadi-jadi. Namun kami malah semakin mesra.
“Ko.... Sorry ya, waktu itu aku nolak kamu. Apalagi sampe kasar kamu.... maaf banget ya. Aku ... terus terang aku gak enak kalo inget kejadian itu.” Bisiknya. Jika diingat-ingat, waktu itu Roro memang sangat sombong dan keterlaluan. Ia gadis paling cantik di sekolah, anak orang kaya pula, sedangkan aku , cuma anak sopir angkot dan guru sd. Tapi itu masa lalu...
“ Ya itu kan masa lalu sayang. Waktu itu juga kita belum dewasa. Kamu yang dulu beda dengan kamu yang sekarang , aku yang dulu juga beda kan sama aku yang sekarang.” Tapi Roro justru menjawab.
“masih sama kok, masih suka ngeraba, masih suka ngintip, masih suka genit, huh .... masih mesum juga” mendengar ucapannya , aku tertawa terbahak-bahak. Saat itu memang tanganku sedang asik meremas dan meraba paha Roro. Roro juga ikut tertawa.
“Terus Ko, pulang liburan ini, hubungan kita gimana? Kamu kan udah punya istri. Lima lagi. Apa kamu serius mau jadiin aku istri ke enam? “ Pertanyaannya mulai serius. Aku bingung menjawab apa dan sebenarnya aku bisa saja menghukumnya karena pertanyaannya yang lancang. Namun aku menjawab pertanyaan dengan kepala dingin dan aku pun jujur padanya, apa maksudku yang sebenarnya.
“ aku pengen kamu jadi istri aku Ro. Aku sudah siapin Apartemen di Jakarta cuma buat kamu. Aku janji, kamu gak harus hidup terhina lagi. Aku “butuh” kamu Ro. “ Dari nada bicaraku, Roro akhirnya mengerti apa maksudku sebenarnya. Miris, mungkin ia tahu jika aku hanya mencari wanita sebagai pemuas nafsuku. Ia memejamkan matanya dan berurai air mata.
“lebih baik ngelayanin satu pria, daripada aku harus balik ke asrama dan jadi Roro yang terhina lagi. Maaf aku ngomong gitu Ko , tapi asal aku gak balik ke asrama lagi, Demi Tuhan aku ikhlas. Asal kalau boleh.... “ Roro ingin aku menikahinya secara agama. Yang artinya ada Wali, ada saksi dan di pengadilan agama. Bukan di kantor We got love. Untungnya kantor KUA Bali masih berdiri. (Karena di beberapa kota di sudah digusur) . Aku berjanji, esok pagi , kami akan terbang ke Bali dan aku akan menikahi Roro, dengan Wali Hakim. Ia menjadi wanita pertama yang aku nikahi secara agama, karena hal seperti itu, sudah tidak dilakukan lagi di masa kami. Setelah menikah, ia berjanji akan menjadi Istri yang amanah dan siap memuaskan suami lahir dan batin. Menikah dengan cara seperti itu sebenarnya sudah menjadi cita-cita Roro sejak lama.
Ajudanku menjemput hampir tengah malam, ia mencari ke seluruh penjuru pulau dan baru menemukan kami saat tengah malam. Karena Roro sudah tertidur nyenyak, aku meminta mereka untuk menjemput kami di gubuk ini besok pagi saja. Keesokan harinya saat kami bangun, Ajudanku sudah menunggu di luar gubuk dan kami pun pulang. Kami benar-benar terbang ke Bali saat siang hari. Roro sudah berdandan sendiri dan aku pun sudah berdandan layaknya seorang bangsawan. Saat kami mendarat di dekat kantor KUA Bali, semua orang mendekat seolah tak percaya. Ternyata benar, seorang bangsawan turun dari helikopter mewah dan menikah di kantor KUA Bali.
“ Saya terima nikahnya , Veronika binti Sultan Salim , dengan mas kawin, emas 300 gram dibayar tunai” Untungnya aku sempat menyuruh Mina untuk membeli emas batangan sebagai emas kawin. Semua orang bersorak gembira dan bertepuk tangan. Seorang Bangsawan menikahi seorang gadis seperti yang terjadi dimasa lalu. Aku menjadi satu dari sedikit bangsawan yang menikah secara serius. Biasanya hanya kelas pekerja yang masih melakukan hal seperti ini. Beruntungnya, Ajudanku berhasil mencegah mereka merekam kejadian demi menjaga rahasia. Hanya satu kamera yang mengambil gambar kami berdua, yaitu kamera Roro sendiri. Kami jalan-jalan di kuta Bali, sesaat sesudah menikah.
Hari itu aku mentraktir semua warga yang hadir dengan kupon beras 50 kg. Kupon itu menumpuk di helikopter dan alangkah baiknya jika kugunakan saja. Mereka sangat berterima kasih . Kupon beras memang lebih berharga dari pada uang bagi rakyat seperti mereka. Mereka berbaris dengan damai sementara kami bersantai berdua di pantai Kuta. Entah kenapa aku sangat senang melihat wajahnya hari itu. Aku tidak bohong, kali ini aku terperangkap. Ya, aku masih meyukai Roro. Setiap pria pasti pernah jatuh cinta. Aku bisa saja balas dendam, menidurinya sepuasnya, lalu membuangnya ke pabrik Baru. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Entah kenapa, melihat wajahnya saja, hatiku luluh dan melembek. Padahal, aku hanya ingin ia memuaskan birahiku. Namun aku yakin ada yang lain saat aku menatapnya di kuta, tepat saat matahari terbenam. Kami jalan-jalan keliling Kuta dan ketika malam tiba, kami kembali terbang ke pulau lembongan. Roro menepati janjinya dan malam itu menjadi malam pertama bagi kami berdua. Ia berbaring di kasur , menutupi tubuh bugilnya dengan handuk. Aku segera menaiki Roro, menindih tubuhnya dan memulai ritual malam pertama kami.
Ia meremas-remas kasur ketika bibirku mulai mengecup lehernya. Jemariku meremas buah dadanya sementara tangannya mulai meremas dan mengocok-ngocok penisku. Bibirku lalu turun dan mulai mengecup buah dadanya. Lidahnya berputar menyolek-nyolek puting susunya. Roro mendesah malu. Ia memulukku yang sedang asik melumat-lumat buah dadanya.
Jemariku lalu turun dan menyentuh bibir vaginanya. Roro mengerang kaget. Jemarinya meremas kasur makin keras ketika jemariku mulai mengelus-elus vagina beceknya. Kedua pahanya merapat menjeput tanganku. Kumasukkan kedua jariku dan mulai mengobok-ngobok vagina Roro.
“Ohhh!! Hmmpphh! Yahh!” Ia mulai mendesah keras. Jemariku terus bergerak keluar masuk. Tubuh Roro mulai menggeliat , dan kedua tangannya lalu memeluk kepalaku erat erat. Bibirku masih terus mengecup-ngecup buah dadanya. Tubuhnya makin menggeliat dan pinggulnya mulai bergoyang maju mundur. Kedua pahanya makin merapat dan Roro akhirnya melolong panjang. Hanya butuh beberapa menit sehingga ia mencapai puncak kenikmatanya.
Aku terbaring disamping Roro dan kini giliran ia lah yang melayaniku. Ia melumat bibirku lalu bibirnya turun mengecup-ngecup leherku. Jemarinya kembali menggenggam penisku kuat dan mulai bergerak naik turun mengocok penisku. Ia terus mengecup leherku sambil terus mengocok-ngocok penisku. Lidahnya kemudian turun lalu berputar-purar menyolek-nyolek putingku. Bibirnya makin turun hingga tibalah dia tepat diatas batang penisku. Lidahnya menjulur dan mulai berputar-putar membasahi kepala penisku. Lidahnya lalu turun membasahi batang penisku dan sesekali menjilat-jilat buah zakarku. Secara tiba-tiba, ia mengecup dan menghisap buah zakarku dan aku sempat mendesah menikmati hisapannya. Jemariku lagi-lagi menyentuh dan mengocok penisku. Hisapan Roro semakin mengganas seolah enggan memberiku ampun.
Kocokannya semakin menjadi-jadi. Bibirnya kembali naik dan kali ini mulai mengecup kepala penisku. Ia membenamkan penisku kedalam mulutnya hingga tenggalam seluruhnya. Lalu bibirnya naik turun memompa-mompa penisku yang makin menegang. Suara kulumannya menggema di telingaku. Kubelai rambut Roro lalu kuremas kepalanya dengan gemas. Tak sadar pinggulku juga ikut naik turun. Hisapannya semakin cepat dan menyepat lalu tak lama, penisku mulai berkedut, dan aku pun tak kuasa menahan luapan air mani yang memuncrat di dalam mulutnya. Ia melirik wajahku dengan nakal dan menelan semuanya. Bibirnya masih terus menyapu bersih penisku seolah enggan memberiku ampun. Penisku masih berkedut-kedut di dalam mulutnya dan Roro seolah menikmatinya. Ia masih terus mengulum-ngulum penisku sampai penisku mengecil dan ciut di dalam mulutnya. Tak kupercaya ia menelan semuanya lalu membersihkan mulutnya dengan tissu. Roro kembali berbaring disamping dan kami istirahat sejenak sampai nafsu birahiku bangkit kembali.
Kali ini giliran Roro yang duduk di atasku. Ia menindih penisku yang mulai berdiri kembali lalu mulai bergoyang-goyang nakal. Tindihan pinggulnya benar-benar memberi sensasi khusus sehingga penisku bangkit kembali dengan segera. Roro masih terus menggoyangkan pinggulnya sampai kedua kemaluan kami mulai basah dibanciri cairan pelumas. Kupegang pinggangnya lalu pelan-pelan kutusukkan penisku dari bawah.
“ssssshhh... mmhhh “ bibirnya berdesis panjang dan mendesah nikmat saat penisku tenggelam seluruhnya. Roro mulai menarik pinggulnya dan mulai menggenjot dengan kecepatan penuh. Buah dadanya bergoyang-goyang di depan mataku. Ia mendongakkan kepalanya keatas sambil mendesah-desah nakal. Aku pun ikut menggenjot-genjot pinggulku dari bawah. Roro mulai mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Pinggulnya terus bergoyang dengan kecepatan penuh. Dinding vaginanya menyempit seolah menghisap-hisap batang penisku. Kuangkat kedua tanganku , kemudian kuremas-remas buah dadanya dengan nafsu. Ia tersenyum nakal. Pinggulnya makin bergoyang kencang dan desahannya semakin liar. Desahannya liarnya berhasil membakar nafsuku sehingga aku pun ikut mempercepat genjotanku. Namun tak lama wajahku memerah dan tiba-tiba penisku pun meletus di dalam vaginanya. Roro melolong panjang lalu tertawa puas. Semburan hangatku membuat vaginanya meletus disaat yang bersamaan. Pinggulnya masih bergoyang pelan diatas penisku. Lagi-lagi kami sama-sama terpuaskan. Ia kembali berbaring disampingku sebelum permainan selanjutnya di mulai. Kami bercumbu berulang-ulang kali, memuaskan nafsu birahi kami yang sama sama memuncak. Roro paling suka ketika aku menusuk vaginanya dari belakang, sedangkan aku paling suka ketika bibir manisnya melumat-lumat penisku.
Berbeda dengan gadis-gadis lainnya seperti Farah , Amel dan Greace , Roro tidak mengeluh ketika aku menidurinya berulang-ulang. Justru ia juga menikmatinya. Istriku yang lainnya bahkan tidak kuat meladeniku sendirian. Tapi sama seperti Mina, Roro selalu siap kapan saja aku membutuhkannya. Sewaktu liburan di Bali, sehari kami bisa ML delapan sampai sepuluh kali. Beberapa pada waktu siang, dan beberapa kali pada waktu malam hari. Liburanku menjadi sangat menyenangkan. Puas liburan di Bali, kami liburan dan ML di Yogya sebelum kami pulang ke Jakarta dengan helikopter dinasku. Aku pulang dengan perasaan puas, dan tak sabar untuk bertemu kembali dengan istri-istriku.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar