Cerita dewasaSeptember 12, 2022
Bab 13
"Hey ! Kok ngelamun?" tepukan Mbak Lies membuat terawanganku buyar seketika, "Ngelamunin siapa?"
"Ah, gak ngelamun siapa-siapa. Cuma mikirin perusahaan di Kalsel itu aja, Mbak," sahutku berdusta. Padahal tadi aku sedang memikirkan masalah Nuryati, yang sudah lama sekali tidak kutengok. Terakhir aku menengok Nuryati pada waktu belum semapan sekarang. Biarlah nanti kalau sudah di kotaku lagi, akan kutengok Nur...tambatan hatiku, yang senantiasa membuat kasih-sayangku tergugah itu.
Hari sudah malam ketika aku dan Mbak Lies kembali ke kamar hotel. Tadi di resto hotel kudengar Mbak Lies menelepon sopirnya, minta agar dijemput ke Jakarta lusa. Berarti besok kami masih berada di hotel ini.
Tapi ingatanku pada Nuryati, membuatku jadi bergairah. Dan aku punya Mbak Lies, yang kuyakini bisa meredakan gejolak birahi ini.
Ketika Mbak Lies kuterkam, kudengar protesnya, "Ya ampuuuun...kemaren sudah empat kali...belum kenyang juga?"
"Belum sayang...dirimu senantiasa membangkitkan birahiku begini hebatnya..." kataku sambil melucuti pakaian Mbak Lies sehelai demi sehelai, sampai akhirnya telanjang bulat...telanjang yang sempurna di mataku.
Mbak Lies menatapku, tetap dengan senyum manisnya. Dan ia tidak complain sedikit pun ketika aku merenggangkan sepasang pahanya, lalu menjilati kemaluannya seganas mungkin. Bahkan tak lama kemudian kurasakan rambutku dielusnya dengan lembut. Sementara sepasang kakinya mulai terkejang-kejang, diiringi sengal-sengal nafasnya yang semakin merangsangku.
Dan setelah veggynya terasa basah, tanpa basa-basi lagi kubenamkan batang kemaluanku ke dalamnya...blesssssss.....
Mbak Lies ternganga dan memelukku samil menciumi bibirku.
Tapi tahukah dia bahwa pikiranku melayang-layang terus ke arah Nuryati yang sudah lebih dari setahun tak kutengok sama sekali?
Pada waktu taksi berhenti di depan ruko itu, kulihat Nur sedang berdiri di belakang etalase tokonya. Dan ia kaget setelah melihatku turun dari taksi.
"Mas Yadi !" serunya sambil menghampiriku, "Lama banget Mas gak datang. Sehat-sehat aja kan?"
"Sehat," kataku sambil mencium kedua pipinya, "Mana Yona?"
"Lagi bobo," sahut Nur sambil meraih pergelangan tanganku dan mengajak naik ke lantai dua. Ke dalam kamarnya. Ke dekat tempat tidur di mana seorang anak dua tahunan sedang tidur nyenyak.
Itu adalah anakku, yang sudah kuberi nama Yona. Anak dari nikah siriku dengan Nuryati.
Rasa haru menyelinap ke dalam kalbuku. Betapa tidak. Nuryati dan anakku seolah sudah kulupakan, sehingga lebih dari setahun aku tidak menjenguknya.
Kuelus dahi dan rambut Yona yang sedang tidur nyenyak, lalu kucium pipinya dengan penuh perasaan sayang. Namun ciumanku membuat Yona terbangun. Cepat Nur naik ke atas tempat tidur, "Yona sayang...lihat tuh, Ayah datang. Ayo salim sama Ayah..."
Yona memandangku, seperti bingung. Pasti sudah lupa, karena terakhir aku datang ke ruko ini pada waktu ia baru berumur delapan bulan.
Tapi meski masih canggung, Yona menurut saja waktu kupeluk dan kupangku. Lalu kubawa ke bawah.
Pada waktu menuruni tangga ke arah ruko itu, baru aku sadar bahwa ruko ini tidak ideal untuk anak dua tahunan seperti Yona. Malah berbahaya, kalau dia bangun tidur, lalu turun sendiri, bisa terjatuh di tangga. Aku tak boleh membiarkan hal itu. Karena Yona itu darah dagingku sendiri.
Seorang wanita muda, yang kutaksir usianya beberapa tahun lebih tua dari Nur, datang menjabat tanganku sambil berkata, "Ini Dek Yadi?"
"I...iya..." aku bingung karena ia memanggilku Dek.
"Mas," kata Nur, "Ini kakakku, Mbak Tina. Sudah hampir setahun Mbak Tina nemenin aku di sini."
"Ohya? Syukurlah...kalau gitu Nur gak kesepian," kataku sambil duduk di sofa, di belakang etalage, dengan tetap memangku Yona.
"Mmm...sekarang dandan dulu, Nur. Aku mau mengajakmu untuk sesuatu yang sangat penting."
"Iya Mas. Yona bawa jangan?"
"Bawa aja, biar bisa sekalian beliin baju buat dia."
Masih seperti dulu, Nuryati tak pernah lama-lama berdandan. Hanya belasan menit kemudian ia sudah muncul lagi, dengan Yona di pangkuannya. Ah, apakah aku ini tolol atau memang pelupa? Kenapa wanita muda secantik Nuryati selama ini seolah kulupakan? Kenapa pula anakku yang begitu cantik dan lucunya seolah kusia-siakan?
Tanpa Nuryati sadari, diam-diam mataku berlinang-linang. Aku merasa bersalah. Sangat bersalah, karena lebih dari setahun kubiarkan Nuryati begitu saja.
Dan di dalam hatiku timbul tekad. Semuanya itu harus kuperbaiki. Wajib kuperbaiki !
Pada waktu menuju taksi yang masih menunggu di depan, Nuryati bertanya, "Kenapa pakai taksi Mas? Mobil Mas ke mana?"
"Ada, di rumah," sahutku, "Kan aku baru pulang dari Kalimantan, langsung ke sini. Nginjek rumah pun belum."
Sopir taksi membukakan pintu belakang mobilnya. Lalu menutupkannya kembali setelah aku dan Nur dan Yona sudah berada di dalamnya. Kusebutkan tujuanku kepada sopir taksi, yang langsung dijawab dengan anggukan, "Baik Boss."
"Sini duduknya sama ayah," kataku kepada Yona yang tampak lucu banget siang itu.
Yona menurut saja. Duduk di pangkuanku sambil kupeluk dan berkali-kali kuciumi.
"Maafkan ayah, ya sayang. Ayah sibuk banget, sampai lupa keluarga sendiri," kataku kepada Yona, yang sebenarnya kutujukan kepada Nur.
Tapi tentu saja Yona tidak menjawabnya, karena belum fasih berbicara.
"Nanti kita beli baju dan mainan yang banyak ya," kataku lagi kepada Yona, "Biar Yona bisa asyik maen di rumah."
Setengah jam kemudian kami tiba di depan sebuah rumah kosong. Rumah yang akan kuberikan kepada Nuryati, sebagai tanda cintaku padanya dan tanda sayangku kepada Yona.
Kuambil kunci rumah itu di lubang ventilasi sebelah samping kanan. Lalu kubuka pintunya.
Waktu kubeli, rumah itu cuma sebuah rumah tua. Tapi aku tertarik karena letaknya cukup strategis. Ke pasar dekat, ke mall pun dekat. Dan setelah kubangun ulang, rumah itu jadi lumayan megah. Kamarnya ada tiga di lantai bawah dan dua di lantai atas. Bentuknya yang minimalis, sudah sangat berbeda dengan asalnya.
Di dalam rumah itu belum ada perabotan apa-apa. Karena pembangunannya juga baru selesai sebulan yang lalu. Lagipula tadinya aku berniat menjual rumah itu, dalam rangka mencari untung di bidang properti. Tapi setelah melihat Nur dan Yona niatku langsung berubah.
"Bagus gak rumahnya?" tanyaku sambil memeluk pinggang Nur, sementara Yona asyik mengamati ikan-ikan kecil di kolam hias pekarangan belakang.
"Bagus banget," sahut Nur, "Ini rumah siapa, Mas?"
"Rumahmu, sayang," sahutku sambil mencium pipi Nur.
"Mas...jangan becanda ah..."
"Nggak, aku gak becanda. Aku harus menempatkanmu dan Yona di rumah yang layak. Memang rumah ini merenovasinya juga hampir setahun. Makanya meski gak muncul-muncul, sebenarnya aku sedang menyediakan kejutan untukmu."
"Mas...oooh..." cuma itu yang trerdengar dari mulut Nuryati, sambil memelukku erat-erat.
"Perabotannya dalam beberapa hari ini akan kubeli dan kukirim ke sini," kataku, "kuncinya nanti bawa ya sayang."
"Iya Mas," sahut Nur dengan mata berlinang-linang, "Mimpi pun gak kalau hari ini Mas memberikan sesuatu yang sangat berharga ini. Terima kasih Mas...erima kasih..."
"Rumah ini gak jauh dari kantorku. Jadi nanti sih bakal sering nginep di sini," kataku ketika Nur sedang meneliti kamar demi kamar dengan sorot kagum dan senang.
"Ohya," kataku lagi, "di sini Yona harus dikasih kamar di bawah. Jangan naik-naik ke atas dulu. Tadi juga di ruko aku kaget sendiri, karena dia tidur sendirian di atas. Kalau bangun langsung turun dan terjatuh gimana?"
"Iya Mas. Tapi di ruko juga Yona suka manggil-manggil dulu kalau bangun. Gak berani turun sendiri."
"Kontrak ruko itu berapa bulan lagi? Kalau gak salah kontraknya habis tahun ini kan?"
"Tiga bulan lagi Mas. Tapi aku udah nabung terus. Kalau untuk ngontrak tiga tahun lagi sih punya Mas."
"Begini," kataku, "daripada ngontrak lagi di ruko itu, mending bangun di depan tuh. Tanah halaman depan rumah ini kan lumayan luas. Buat bikin toko aja sih bisa. Jadi duit buat kontrak ruko itu mending dipakai untuk membangun di sini. Biar gak capek bolak-balik ke ruko nanti."
"Iya Mas," sahut Nur langsung setuju pada saranku.
"Kalau dana untuk membangun toko itu kurang, nanti kutambahin."
Aku membuktikan janjiku. Beberapa hari kemudian segala perabotan yang dibutuhkan untuk rumah Nur itu mulai kukirimkan sampai selengkap-lengkapnya. Dari pedralatan dapur, kelima kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, teras depan, teras belakang semuanya kulengkapi. Tentu bukan barang-barang murahan yang kubelikan itu. Dan Nuryati cuma geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat isi rumah yang sudah lengkap dan mahal-mahal itu.
Di halaman depan ada tanah kosong yang tadinya mau kubuat taman. Di tanah kosong itulah akan dibangun toko untuk kegiatan Nur sehari-hari di rumah.
Aku jadi teringat rumah lamaku yang sekarang sudah mulai dibongkar itu. Posisinya sangat mirip dengan rumah Nur sekarang. Kalau melihat gambar dari arsiteknya, di samping toko itu ada jalan menuju garasi. Sangat mirip dengan posisi rumah lamaku dulu.
Semoga semuanya itu bisa dijadikan penawar kepiluan Nur yang lebih dari setahun tidak kujumpai sama sekali. Minimal aku sudah menyediakan tempat yang layak untuk anakku yang cantik dan lucu itu.
Kelihatannya Nuryati sangat bahagia dengan apa yang telah kuhadiahkan padanya itu. Aku pun senang kalau bisa membahagiakan hatinya.
Tapi yang namanya godaan, selalu saja hadir dan hadir terus di dalam kehidupanku.
Pada suatu hari, ketika aku sedang asyik mengajak Yona bermain di rumah baru itu, Nur menghampiriku dan berkata, "Mas... Mbak Tina mau pulang dulu selama dua atau tiga hari. Mau ngurus surat cerainya di pengadilan agama sana."
"Terus?"
"Aku takut dia gak kembali lagi ke sini. Selama ini aku kan sangat mengandalkan dia untuk jagain toko, jagain Yona dan banyak lagi."
"Lalu maumu gimana?"
"Maunya sih...ada yang nganterin dan bawa lagi dia ke sini."
"Tar dulu...kalau hari Senin aku bisa nganterin dia. Soalnya aku juga ada urusan di Semarang. Tapi kira-kira lama gak dia di Tegalnya?"
"Katanya sih paling lama juga tiga hari."
"Kalau ada sih sekalian bawa pembantu empat atau lima orang aja sih dari sana."
"Wuih...buat apa pembantu banyak-banyak gitu Mas?"
"Buat di sini seorang, buat di rumah empat orang. Kan sekarang ngurus makan yang kos-kosan segala. Ada ratusan orang yang kos di tempatku."
"Ogitu. Ya soal pembantu sih gampang, bisa dicariin di sana. Tapi emang Mas mau gitu nganterin dan bawa lagi Mbak Tina ke sini?"
"Kalau hari Senin mendatang bisa."
"Sekarang kan hari Rabu. Jadi lima hari lagi, ya Mas?"
"Iya."
"Ya udah...nanti kutanyain dulu sama Mbak Tinanya. Dia kan udah di ruko lagi sekarang."
"Telepon aja, biar jelas."
"Iya Mas."
Di Senin sore yang sudah dijanjikan, aku sudah nongkrong di rumah Nur. Kepada istriku, aku cuma mengatakan ada urusan bisnis, tanpa menyebut tujuanku ke mana. Dan istriku seperti biasanya, cuma berpesan, "Hati-hati di jalan ya Mas."
Aku mau nyetir sendiri, karena Herman masih kusuruh mengawasi orang-orang yang sedang membongkar rumah lamaku dan rumah Mbak Tiara itu.
Sementara itu, kepada Nur aku cuma berpesan, "Kalau perlu toko ditutup aja dulu, sampai Mbak Tina pulang nanti. Yang penting jaga Yona sebaik mungkin."
"Iya Mas," sahut Nur, "Aku emang pengen istirahat juga, sambil bersih-bersih rumah. Ati-ati di jalan, ya Mas."
Lalu tampak Mbak Tina menjinjing tas pakaiannya ke arah mobilku. Aku cuma melirik sepintas. Tapi, maaak...kenapa setelah berdandan begitu Mbak Tina jadi tampak menarik sekali di mataku?
Ingatanku pun melayang ke arah Uni Erna, yang juga pernah membuatku terpesona, lalu berhasil memilikinya, sampai kini. Pada saat-saat tertentu aku suka menyempatkan ke Jakarta dan mengajak Uni ketemuan.
Lalu apakah nanti akan terjadi hal yang sama pada kakak Nur itu?
Entahlah. Yang jelas, hari sudah mulai gelap ketika aku mulai memacu mobilku di jalan tol menuju Cileunyi. Dan setelah keluar dari pintu tol, aku mulai berbicara serius dengan Mbak Tina.
"Kenapa sepertinya penting benar mengurus surat cerai itu, Mbak? Bukankah Mbak sudah dua tahun bercerai dengan suami Mbak?" tanyaku di belakang setirku.
"Sampai saat ini aku belum megang surat cerai," sahut Mbak Tina yang malam itu mengenakan gaun beludru hitam dengan fayet di sekeliling lehernya, "Kalau ada yang ngajak nikah, kan susah jadinya nanti."
"Emang Mbak udah punya calon suami baru?"
"Belum sih."
"Wah, berarti aku harus berpacu nih."
"Berpacu gimana?"
"Jangan keduluan sama lelaki yang mau nikahin Mbak nanti."
"Iiiih...gitu ya?" cetus Mbak Tina sambil mencubit lengan kiriku.
"Kan mumpung Mbak masih janda. Kalau udah nikah, pintunya harus ditutup."
"Emang Dek Yadi seneng gitu sama aku?"
"Kalau gak seneng, masa aku mau nyetirin sendiri buat nganter Mbak jauh-jauh ke Jateng segala?"
"Hihihi...jadi ada tujuan terselubung nih?"
"Mbak keberatan kalau aku punya tujuan ?"
"Gak," Mbak Tina menggeleng, "Aku malah seneng. Berarti masih ada lelaki yang suka padaku. Tapi susahnya...lelaki itu suami adikku sendiri."
"Nur jangan sampai tau dong Mbak."
Mbak Tina terdiam sesaat. Akhirnya ia berkata, "Ya udah...atur-atur aja. Yang penting rapi."
"Hahahaaa...terimakasih Mbak. Nanti di Sumedang kita istirahat dulu ya.
"Terserah Dek Yadi aja."
Itulah garis takdirku. Selalu mudah saja untuk mencapai sasaran birahiku.
Dan di Sumedang, aku tak mau pilih-pilih, langsung kubelokkan saja mobilku ke hotel yang terlewati di sebrang kanan.
"Serius nih?" Mbak Tina menatapku waktu aku sudah mematikan mesin mobilku di tempat parkir hotel itu.
"Serius, Mbak. Tunggu sebentar ya, mau cek dulu masih ada kamar gak," kataku sambil turun dari mobilku dan melangkah ke arah resepsionis.
Meskipun memanggil "Dek" padaku, sebenarnya usia Mbak Tina cuma setahun di atas Nur. Berarti tujuh tahun lebih muda dariku. Maka wajar ia agak canggung waktu melangkah masuk ke dalam hotel yang lumayan bagus dan bersih itu.
Setelah berada di dalam kamar, barulah kecanggungannya mencair.
Dan aku pun makin berani memeluknya. "Begitu melihat Mbak, aku langsung suka. Makanya waktu Nur minta nganterin Mbak, aku langsung mau."
"Jjur, aku juga langsung suka. Makanya aku langsung nyamperin dan ngajak salaman," sahutnya, "Tapi aku sadar bahwa Dek Yadi suami adikku sendiri...."
Kalau dibandingkan dengan Nur, memang Nur sedikit lebih cantik. Payudara Nur juga lebih terawat, sementara payudara Mbak Tina kelihatan sudah pernah menyusui. Tapi secara keseluruhan, Mbak Tina lebih sexy. Terutama bokong Mbak Tina itu lebih indah daripada bokong adiknya. Menurut cerita Nur, Mbak Tina itu sejak umur 15 tahun sudah menikah. Dan umur 16 tahun sudah punya anak. Kini usianya sudah 23 tahun. Berarti anaknya sudah berusia 7 tahun, ditinggalkan bersama orang tua Nur dan Mbak Tina.
"Makanya jangan mikirin kawin dulu deh Mbak," kataku sambil memeluknya sambil sedikit m,eremas bokongnya yang indah itu.
"Aku cuma mikirin anakku satu-satunya yang ditinggalkan di Tegal itu, Dek. Dia udah mulai sekolah..."
"Iya, aku mengerti. Soal kebutuhan anak, pasti aku bantu nanti secara diam-diam di belakang Nur," sahutku yang kulanjutkan dengan ciuman hangat di bibirnya yang sensual itu.
Dan Batinku bergejolak indah, karena Mbak Tina menyambut ciumanku dengan hangat. Bahkan ia yang duluan melumat bibirku.
Diam-diam tanganku memeluk Mbak Tina sambil menarik ritsleting gaun beludru hitamnya yang terletak di punggungnya. Dan ia pasrah saja ketika kupelorotkan gaun itu sampai terjatuh di kakinya.
Setelah gaun itu tak melekat lagi di tubuh Mbak Tina, aku terlongong dibuatnya. Menyaksikan indah dan mulusnya tubuh kakak iparku yang tinggal mengenakan celana dalam dan beha saja itu. Terlebih lagi setelah beha itu pun kutanggalkan, membuat gejolak birahiku makin menjadi-jadi.
Memang payudaranya yang sedang-sedang saja itu sudah agak turun. Tapi secara keseluruhan, rasanya tubuh Mbak Tina lebih sexy daripada tubuh Nuryati. Sangat menggiurkan.
Maka akupun mendorong tubuh sexy itu ke atas tempat tidur. Lau kulepaskan jaket, kemeja kaus dan celana panjangku. Tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku, sama seperti Mbak Tina yang tinggal bercelana dalam juga.
Kuterkam Mbak Tina yang sudah rebah pasrah di atas tempat tidur. Benar-benar dengan sepenuh gairahku.
Dan ketika aku mulai menciumi leher jenjangnya, lalu menjilati pentil payudaranya, Mbak Tina menyambutku dengan remasan-remasan di bahuku. Terkadang pun ia memelukku dengan eratnya. Dan manakala mulutku sudah menurun ke arah perutnya, ia cuma menatap plafon kamar hotel. Sambil menjilati pusar perutnya, kedua tanganku mulai menurunkan celana dalamnya. Dan Mbak Tina bahkan membantuku menanggalkan celana dalamnya.
O, indah dan menggiurkan sekali kemaluan Mbak Tina yang tampak tercukur sampai plontos dan mengkilap itu. Mengingatkanku pada kemaluan Mbak Lies, yang selalu dicukur licin.
Berbeda dengan kemaluan Nur yang rambut halusnya dibiarkan tetap tumbuh, namun permukaan kemaluannya tetap tampak jelas, karena rambutnya tipis sekali.
Dengan hasrat birahi yang semakin bergejolak, kuciumi kemaluan tanpa rambut itu. Lalu kujilati sekujur permukaannya, labia mayoranya, labia minoranya dan juga clitorisnya...sehingga Mbak Tina mulai mengejang-ngejang dengan nafas tertahan-tahan.
Bahkan ketika aku memusatkan jilatan dan isapanku di kelentitnya, Mbak Tina mulai merengek-rengek perlahan, "Deeeek....aaaa....aaaah...Deeeek....Dek Yadiiii....aaaaah Deeeek....aaa...aku udah lama gak diapa-apain.....ini...ini enak banget Deeeek....aaaaah...udah pake titit aja Deeek..."
Menyadari bahwa kemaluan Mbak Tina sudah basah oleh air liur bercampur dengan lendir kewanitaannya, aku pun tak mau berlama-lama lagi disiksa oleh nafsuku sendiri. Kulepaskan celana dalamku dan Mbak Tina memekik tertahan, "Deeeek....oooh...itunya kok panjang gede gitu? Ooooh...pantesan Nur abis-abisan cintanya sama Dek Yadi....!"
Aku cuma menjawabnya dengan senyuman, sambil memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng abis ini, meletakkan moncongnya menempel ke mulut kemaluan kakak iparku.
Lalu kudesakkan tongkat kelelakianku dengan agak kuat. Sedikit demi sedikit mulai membenam ke dalam lubang kemaluan Mbak Tina.
Ketika aku mulai menggerak-gerakan batang kemaluanku, maju mundur dengan mantapnya dalam jepitan liang kemaluan Mbak Tina, aku mulai bisa menilai bahwa kemaluan Mbak Tina ini luar biasa enaknya. Karena ketika aku sedang mengentotnya, terasa sekali batang kemaluanku berada di dalam jepitan liang kemaluan yang dindingnya bergerinjal-gerinjal....sehingga menimbulkan sensasi lain...sensasi yang membuatku makin bersemangat untuk menggasaknya habis-habisan.
Mbak Tina pasti tahu betapa bergairahnya aku pada waktu menyetubuhinya ini. Karena ia mulai menanggapiku dengan goyangan pinggulnya yang aduhai (Nur belum setrampil ini dalam hal goyang pinggul). Namun tiada hentinya ia berceloteh histeris, mungkin karena sedang menikmati enjotan batang kemaluanku. Mungkin juga karena sudah terlalu lama ia tak merasakan bersetubuh. "Deeek...aduh, Dek Yadiii....ini enak banget Deeeek....hajar terus Deeek....aku udah mau lepas neh...duuuh....keenakan ini Deeeek...."
Beberapa saat kemudian, Mbak Tina bergetar-getar, lalu mengejang tegang dan memelukku erat-erat....disusul dengan elahan nafas panjangnya, bersamaan dengan kedutan-kedutan di liang kemaluannya.
"Waaaah...aku udah lepas Dek....udah dua tahun aku puasa...baru dapet sekarang ini...sekalinya dapet, ketemu yang panjang gede gini....iiiiih....enak tenan...." cetus Mbak Tina sambil menciumi pipiku, dengan sorot mata seperti mengandung rasa terima kasih.
Tapi aku masih asyik mengayun batang kemaluanku. Bahkan semakin lancar maju-mundurnya, karena liang kemaluan Mbak Tina sudah membecek. Sehingga terdengar suara crek, cuk, crek, cruk crek....
Tapi aku tak pernah mempermasalahkan beceknya liang kemaluan wanita yang sudah mencapai orgasme. Karena bagiku beceknya itu pertanda keberhasilanku untuk memberikan kepuasan padanya.
"Nanti boleh dilepasin di dalam?" tanyaku sambil menghentikan pompaan penisku sesaat.
"Iya, gakpapa. Sejak melahirkan, aku dipasangi alat KB, sampai sekarang belu dicabut, hanya sesekali diperiksa oleh dokter di Tegal."
"Asyik dong, bisa bareng-bareng nanti," kataku sambil melanjutkan enjotan batang kemaluanku, sambil menjilati leher Mbak Tina yang sudah dibanjiri keringat.....
Sebelum fajar menyingsing, aku sudah berada di belakang setir mobilku kembali, meluncur di tengah jalan yang masih sepi.
"Dek Yadi...kayaknya aku bakal ketagihan nanti....gimana ayo?" tanya kakak iparku setelah kami agak jauh meninggalkan kota Sumedang.
"Gampang lah. Di Bandung kan banyak hotel," sahutku, "Ohya, kayaknya Mbak mendingan panggil namaku aja. Gak usah pake dek-dekan."
"Mmm...iya deh."
"Usia Mbak kan tujuh tahun lebih muda dariku."
"Tapi dalam kedudukan keluarga, aku tetap harus manggil adek sih."
"Kedudukan keluarga...hihihi....kita kan sudah saling memiliki, seperti suami-istri. Harusnya Mbak manggil Mas padaku."
"Iya ya...hmmmm...kayaknya aku bakal kerasan tinggal di Bandung, gara-gara Dek...eeeh...gara-gara Yadi yang nakal ini...nakal tapi sangat menyenangkan."
"Aku juga berharap begitu. Nanti paling sedikit aku bakal minta jatah seminggu dua kali."
"Iya...kapan juga Yadi mau, aku kasih. Tapi...aku takut ketahuan Nur. Pasti ngamuk dia kalau tau kita begituan..."
"Nur itu sangat menurut padaku, Mbak. Tenang aja. Nanti kita atur gimana baiknya."
Tapi benarkah semuanya itu gampang diatur?
Entahlah. Yang jelas, Melacak Jejak Birahi SELESAI sampai di sini.
TAMAT
Report content on this page
0 Komentar