Bab 12
Beberapa hari kemudian kuterima surat bahwa pada tanggal sekian Nur akan berangkat ke Bandung. "Kalau bisa jemput aku di terminal ya Mas. Aku kan belum hapal jalan di Bandung. Katanya jam delapan pagi juga busnya tiba di terminal Cicaheum", demikian antara lain isi surat itu.
Di hari yang sudah dijanjikan, sebelum jam 8 pagi aku sudah nongkrong di terminal Cicaheum. Sampai jam 08.15 busnya belum datang juga. Tapi aku tidak terlalu gelisah, karena kalau bus antar propinsi, terlambat lebih dari sejam juga sering terjadi.
Dan memang cukup lama aku menunggu. Hampir jam 10.00 bus itu baru tiba (nama perusahaan busnya sudah dicantumkan dalam surat Nur).
Cepat aku bangkit dari bangku tunggu. Memperhatikan orang demi orang yang turun dari bus itu. Dan tampaklah seorang cewek manis berkulit kuning langsat turun dari bus. Itu Nuryati !
Gila...kelihatannya makin cantik saja tu cewek di mataku.Nur pernah menerangkan bahwa ia bukan asli Jawa. Ayahnya memang orang Jawa, tapi ibunya dari Manado. Makanya kulit Nur putih bersih begitu, mungkin karena menurun dari ibunya.
Lalu tampak tatapan dan senyum hangatnya ditujukan padaku. Dan aku merasa harus memeluknya...mencium pipinya....meski dia bukan apa-apaku.
Ternyata Nur tidak meronta. Malah tersenyum dan bertanya, "Sudah lama menunggu Mas?"
"Sebelum jam delapan aku sudah di sini," sahutku.
"Duh...kasihan...lama banget nunggunya ya? Soalnya bus itu tadi mogok di Cirebon. Dibetulin dulu, lama banget."
"Gak apa-apa. Lagian kalau hari Minggu gini kan gak ada kegiatan. Ngomong-ngomong mau tidur di mana?"
"Aku nggak punya saudara di Bandung, Mas. Ada juga teman...tapi gimana ya? Bagusnya di mana?"
"Dulu waktu ke Bandung tidur di mana?"
"Ya di rumah teman itu. Tapi dia juga cuma kost....jadi kurang enak juga nginep di rumah dia Mas."
"Kalau gitu di hotel aja ya."
Nuryati menatapku, seperti ada yang dipikirkannya. Mungkin masalah biaya sewa kamar hotel. Maka cepat kusambung kata-kataku, "Biar aku yang bayar hotelnya, tenang aja."
"Jadi ngerepotin lagi Mas..." katanya sambil tersenyum manis.
Tak sampai sejam kemudian, aku dan Nur sudah berada di dalam kamar sebuah hotel sederhana, bukan hotel berbintang tapi cukup bersih dan suasananya sangat tenang.
"Berani tidur sendirian di sini?" tanyaku sambil duduk di salah satu kursi rotan yang ada di dalam kamar itu.
"Takut juga sih...." sahutnya dengan nada ragu.
Pikiranku mulai digerayangi bayangan yang bukan-bukan. "Mau ditemenin?" tanyaku sambil memperhatikan sikapnya dengan cermat.
"Nanti istri Mas marah dong," katanya. Aku memang sudah terus terang bahwa aku sudah beristri dan beranak seorang.
"Mmm...bisa cari akal lah....pokoknya soal istri sih tanggung jawab aku. Selama Nur di sini, biar aku temenin. Mau dua tiga bulan juga aku temenin terus."
"Tapi aku gak mau kalau Mas bertengkar sama istri Mas nanti gara-gara aku."
Aku tercenung sesaat. Berpikir, menebak-nebak tentang sosok cewek bernama Nuryati itu. Apakah dia masih perawan atau tidak? Kalau masih perawan, kenapa dia tidak memperlihatkan rasa takut di dalam kamar tertutup bersama seorang lelaki? Kalau tidak perawan lagi....lain soalnya.
Akhirnya kupegang bahu Nur sambil berkata, "Aku mau cari alasan. Sekarang aku mau pulang dulu. Nur istirahat aja dulu ya. Tenang deh. Pasti ada jalan agar aku bisa bersama Nur."
Nuryati mengangguk dengan senyum. Aku memberanikan diri memeluknya sambil berkata perlahan, "Boleh cium bibir Nur?"
Sebagai jawabannya, Nuryati malah mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dan, ah, apa yang sedang terjadi ini? Rasanya indah sekali waktu bibirku bertemu dengan bibirnya. Sehingga aku jadi lupa semuanya. lupa bahwa aku sudah berkeluarga. Begitu lama kulumat bibir cewek itu. Lalu kataku, "Wah, jangan-jangan aku sudah jatuh hati sama Nur....perasaan aku jadi beda sekali, Nur..."
Tiba-tiba Nur memelukku, erat sekali. Dan kudengar suaranya bergetar, "Mas baru merasakan sekarang ya? Aku sudah merasakannya sejak bersama dalam bus setelah musibah itu, Mas..."
"Masa ?" aku terpana dan jadi merasa berat meninggalkannya.
"Kalau masih ada suratnya, Mas baca lagi deh isi surat pertamaku. Kan aku bilang ingat terus sama Mas....perempuan kan gak bisa bicara terlalu blak-blakan Mas. Tapi kalau Mas menafsirkan surat itu secara luas, pasti Mas bisa menilai keadaan hati aku saat itu."
Aku mengangguk-angguk perlahan. Dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Dalam beberapa hal Nur itu punya kemiripan dengan istriku. Dari bentuk wajah, kemulusan kulitnya juga yang putih cemerlang, bahkan mata dan bibirnya mirip-mirip istriku. Bedanya Nur itu jauh lebih muda.
"Mas...aku mau mandi dulu ya," kata Nuryati, "Rasanya badan aku kotor sekali bekas perjalanan jauh begitu."
"Iya, mandilah dulu, sayang..." kataku (untuk pertama kalinya kulantunkan kata "sayang" padanya).
"Mas...." tiba-tiba Nuryati memegang tanganku, "Aku bahagia sekali saat ini Mas."
"Sama..." jawabku seadanya.
"Katanya Mas mau pulang dulu. Silakan aja kalau mau pulang dulu Mas. Asal jangan terlalu lama ninggalin aku di sini."
"Nggak ah. Hatiku jadi berat meninggalkan Nur...biar nanti sore juga gak apa-apa pulangnya, lalu balik lagi ke sini sambil bawa pakaian."
"Mending pulang dulu gih, aku pengen tidur dulu. Tadi di jalan aku gak bisa tidur sekejap pun. Takut kejadian tabrakan seperti dulu lagi."
"Baiklah...kalau gitu aku pulang dulu ya. Nanti menjelang malam ke sini lagi," kataku akhirnya, disusul dengan kecup mesra di pipi Nur yang hangat, "Nanti kalau mau makan minta aja sama pelayan ya. Aku sudah simpan deposit di
Kemudian kutinggalkan hotel itu. Di jalan pulang ke rumah, kuputar otak mencari alasan kepada istriku. Tapi untuk membohongi istriklu rasanya tak sulit. Kukatakan saja padanya bahwa aku mau meeting di Jakarta dan akan menginap di sana.
Dan seperti biasa, istriku tidak banyak bertanya, cuma berpesan agar baik-baik selama berada di Jakarta.Kemudian kusuruh dia mengemasi pakaianku ke dalam tas besarku.
"Hati-hati ya Bang," kata istriku setelah kucium kening dan kedua pipinya.
"Hmh," aku mengangguk disusul dengan kecupan di bibirnya.
Sebelum menuju hotel, aku arahkan dulu mobilku ke toko obat langgananku. Kubeli lotion pelicin dan pil anti hamil. Jelas sudah tujuanku. Bahwa lotion itu disiapkan untuk melicinkan jalan tongkat kejantananku (seandainya Nur benar-benar masih perawan). Dan pil hamil itu, supaya Nur jangan hamil dulu sebelum aku benar-benar siap menyimpannya di tempat yang aman.
Ketika tiba di kamar hotel, kulihat Nur mengenakan daster batik dan tampak ceria menyambut kedatanganku, "Kirain Mas gak balik lagi...." katanya sambil memeluk pinggangku.
"Ngaco," kugigit daun telinganya dengan lembut, "mana mungkin aku tega meninggalkanmu sendiri di sini. Sudah makan?"
"Sudah, baru saja selesai makan tuh piringnya juga masih ada," Nur melepaskan pelukannya dan menunjuk ke piring bekas makannya yang masih terletak di meja kecil.
Aku duduk di kursi rotan, lalu menepuk pahaku sambil berkata, "Sini duduk di pangkuanku sayang."
Nur mengerling manja, lalu duduk di atas pahaku. Hawa hangat tersiar dari tubuhnya yang terasa padat.
"Nanti malam kita tidur bareng ya," kataku sambil memeluk pinggangnya erat-erat.
"Iya," Nur mengangguk.
"Sayang...aku mau nanya...tapi jangan marah ya."
"Iya, mau nanya apa?"
Aku terdiam sesaat. Lalu tanyaku perlahan, "Kamu masih virgin gak?"
"Masih virgin Mas. Yang namanya ciuman aja baru dengan Mas sekarang. Dulu ada yang pernah nyuri-nyuri cium pipi aja kukejar dan kupukuli dengan buku."
"Lantas kok berani bersamaku di kamar tertutup begini? Bagaimana kalau nanti terjadi hal yang di luar batas?"
"Karena aku yakin Mas orang baik. Kalaupun terjadi sesuatu, masa sih Mas tega membuangku?"
"Jadi...kamu benar-benar masih perawan?" tanyaku, sebenarnya dengan perasaan kurang enak karena menanyakan hal itu lagi. Tapi aku takut terjadi peristiwa seperti yang dialami oleh temanku, dapat cewek yang sangat jinak dan terang-terangan ngajak ML, tak tahunya perut cewek itu sudah hamil sebulan. Karena itu aku merasa harus berhati-hati dengan cewek yang tak tahu asal usulnya.
"Ludahi aja mukaku kalau ternyata aku gak perawan lagi."
"Nanti malam kita buktikan ya," kataku dengan tangan mulai merayapi lutut dan pahanya yang terasa hangat.
"Silakan aja asal Mas mau bertanggungjawab."
"Bener nih?" aku jadi semakin berani. Tanganku sudah tiba di pangkal pahanya. Lalu kuselinapkan ke balik celana dalamnya. Wow, aku mulai menyentuh rambut tipis di daerah kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Terasa hangat sekali.
Aku sendiri heran, kenapa aku ketiban rejeki nomplok hari ini. Ketemuan lagi setelah bersama di dalam bus dari Sumedang ke Tegal itu, langsung bisa melangkah sejauh ini.
Ketika tanganku mulai menyentuh kelentitnya, Nur memeluk leherku seperti orang yang takut jatuh dari ketinggian. Dari sentuhan sepintas ini saja aku sudah mulai percaya bahwa dia masih perawan. Kemaluannya masih terasa kencang di sana sini. Tapi untuk membuktikannya secara akurat tentu saja harus dilihat dulu nanti. Mengenai hal ini aku sudah punya pengalaman. Bahkan foto-foto vagina yang masih virgin pun aku punya.
"Kayaknya sekarang juga aku mau membuktikan virginitasmu sayang.." bisikku di telinga cewek yang tampak sudah pasrah itu.
"Tapi Mas Yadi jangan buang aku nanti ya..." sahutnya dengan nada menghiba dan pasrah.
"Siapa yang mau membuang cewek secantik kamu?" kataku disusul dengan gelutan bibir dan lidahku di lehernya.
Ketika tanganku menyelinap ke balik daster batiknya, kutemukan sepasang bukit kembar yang masih sangat padat dan hangat. Dan aku baru menyadarinya bahwa saat itu ia tak mengenakan beha di balik dasternya. Terus terang, kalau aku membandingkan dengan payudara istriku yang sudah menyusui seorang anak, jauh berbeda. Payudara Nuryati ini kencang sekali dan ukurannya pun sedang, mungkin behanya berukuran 34.
"Oh, Mas...kok remasan Mas enak sekali sih Mas...." bisik Nuryati yang tampak menikmati remasanku, karena dibarengi dengan elusan-elusan lembut di puting payudaranya.
"Buka aja dasternya ya...biar bisa ngemut payudaramu..." bisikku.
"Terserah Mas...mau diapain juga silakan...asal Mas jangan buang aku nanti."
"Sttt...jangan bilang buang-buang mulu. Ntar ditulisin setan lho. Mending berdoa, agar aku bisa menempatkanmu di posisi yang pas nanti," kataku ketika Nur sedang menanggalkan dasternya, sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuh mulusnya.
Dalam keadaan cuma bercelana dalam begitu, Nur memelukku dan berkata, "Iya Mas...maafin aku ya...aku suka ngomong tanpa dipikir dulu."
Sebagai jawaban, bibir tipis yang tampak lucu itu kukecup dengan mesra. Lalu kuangkat tubuh yang nyaris telanjang itu ke atas tempat tidur. Kurebahkan dengan hati-hati di atas kasur bertilam seprai putih bersih itu. Dan kulucuti pakaianku sehelai demi sehelai, sehingga tinggal celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku.
Lotion dan obat anti hamil yang kubeli dari toko obat tadi kuletakkan di atas atas meja kecil yang bersatu dengan tempat tidur.
Lalu...aku mulai beraksi, merayap ke atas perut Nur yang terasa hangat...lalu menciumi bibirnya yang tipis merekah indah itu...sementara tanganku merayap ke payudaranya yang masih sangat kencang itu. Bukan main, segalanya serba mulus dan kencang. Sementara tubuhnya pun begitu mulusnya, tiada noda setitik pun. Lalu..cewek secantik dan semulus ini sekarang memasrahkan semuanya padaku? Apakah aku tidak bermimpi?
Namun kenyataannya memang begitu. Bahwa aku sering mendapatkan sesuatu yang jauh melebihi kapasitasku. Tapi mungkin orang lain memandang semuanya itu berbeda dengan kacamata pribadiku.
Yang jelas, kini mulutku mulai menjilati pentil payudara Nur, sehingga gadis itu tampak terpejam-pejam. Lalu kuturunkan mulutku ke pusar perutnya, sambil menurunkan celana dalam Nur perlahan-lahan...makin lama makin turun...dan akhirnya terbukalah sebentuk kemaluan yang begitu indahnya, yang hanya dihiasi rambut tipis sekali, sedikit pun tak mengganggu pandangan untuk menatap bentuk kemaluannya yang sebenarnya.
Setelah melepaskan celana dalam Nur dari kakinya, tanpa ragu lagi aku mulai mengangakan mulut vaginanya. Mengamatinya sesaat.
Benar ! Ia masih perawan !
Dan sebagai rasa kagumku pada keperawanan Nur yang masih utuh itu, mulutku langsung menyergap bagian yang merangsang di tubuhnya itu. Aku mulai menjilatgi kemaluan Nur, mulai dari labia mayora, labia minora dan juga clitorisnya (sebagai bagian yang terpeka di kemaluan wanita).
Nur pun mulai mendesah, dengan kaki mengejang-ngejang. Terlebih setelah aku mulai memfokuskan jilatan dan isapanku pada kelentitnya.
"Maaas...duuuuh...kok rasanya...seperti melayang-layang gini ya? Mas...duuuuh enak banget Mas...." cetus Nur sambil membelai-belai rambutku yang berada di bawah perutnya.
Pada waktu menjilati kemaluan Nur itu sengaja kukeluarkan air liurku sebanyak mungkin, dengan maksud agar lubang kemaluannya yang masih virgin itu agak mudah diterobos oleh batang kemaluanku yang ukurannya di atas rata-rata ini. Bahkan ketika berniat mau mulai penetrasi, kukeluarkan isi botol lotion pelicin itu ke mulut vagina Nur, agak banyak.
"Buat apa itu Mas?" tanya Nur ketika menyadari tanganku sedang membantu agar lotion itu masuk ke lubang kemaluannya.
Kujawab sambil menanggalkan celana dalamku, sehingga batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini tampak di mata Nur, "Untuk mempermudah masuknya penisku ke dalam vaginamu."
Nur cuma terpana, menatap ke arah batang kemaluanku yang sedang kupegang ini. Lalu kutempelkan moncong penisku di mulut kemaluan Nur yang sudah basah kuyup oleh air liur dan lotion itu. Dan mulai kudorong kuat-kuat. Langsung berhasil menyelusup ke dalam liang kemaluan Nur, meski belum setengahnya.
Pada saat itulah aku menjatuhkan dadaku ke atas dada Nur. Sambil memeluk leher Nur, aku pun mulai mengayun batang kemaluanku dengan gerakan pendek, karena baru masuk sedikit. Lalu sambil mengayun penis ini, makin lama aku makin memperkuat dorongannya pada waktu sedang bergerak maju.
Meski sudah dibantu dengan lotion dan air liurku, tetap saja liang kemaluan Nur ini terasa sempit sekali. Tapi aku sudah berhasil menerobos keperawanannya tanpa kesulitan yang berarti. Padahal lelaki awam tidak semudah ini menembuskan penisnya ke dalam memek perawan.
"Sakit gak?" tanyaku tanpa menghentikan ayunan penisku meski dengan gerakan perlahan dulu.
"Tadi agak sakit...tapi sekarang gak Mas...." sahut Nur sambil menatapku dengan sorot kepasrahan seorang gadis yang sedang diambil kegadisannya.
"Kamu benar-benar masih perawan, sayang," kataku, Nah...sekarang aku akan benar-bnenar menyetubuhiku ya."
"Iiii..iya Mas..."
Maka berlangsunglah petualangan baruku. Bahwa batang kemaluanku mulai bergerak m,aju-mundur dengan gerakan yang makin lama makin mantap. Sementara desahan-desahan Nur mulai terdengar. Namun sering kusumpal dengan lumatanku di bibirnya. Sementara aku pun tak mau banyak variasi dulu. Hanya memeluk lehernya sambil terus-terusan menciuminya.
Aku masih ingat benar. setelah ejakulasi di dalam liang kemaluan Nur yang masih sangat sempit itu, perlahan-lahan batang kemaluanku melemah. Kemudian kucabut sampai terlepas dari lubang kemaluan Nur. Dan kulihat ada genangan kecil...genangan darah di kain seprai yang putih itu. Darah perawan Nuryati yang mirip istriku (bahkan harus kuakui, Nur sedikit lebih cantik daripada istriku).
Nur pun bangkit. Duduk di atas tempat tidur sambil memperhatikan darah perawannya yang menjadi genangan kecil di kain seprai.
"Kamu benar-benar perawan, sayang," kataku sambil membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Dan aku benar-benar sudah menjadi milik Mas sekarang," sahutnya sambil merebahkan kepalanya di atas pahaku.
Aku teringat bahwa tadi aku memuntahkan spermaku di dalam lubang kemaluan Nur. Maka cepat kuambil pil anti hamil itu berikut air minum yang sudah tersedia di gelas.
"Nih...minum ini dulu, sayang. Sebutir aja," kataku sambil memberikan pil dan air minum itu kepadanya.
"Untuk apa ini Mas?" Nur tampak ragu menerimanya.
"Supaya jangan hamil dulu," kataku.
"Ah...biarin aja hamil...tapi minimal kita harus nikah siri dulu,Mas."
"Jangan hamil dulu, sayang," kataku, " Nanti kalau aku sudah menempatkanmu di tempat yang benar-benar aman, barulah kamu boleh hamil."
"Jadi kaplet ini harus diminum?"
"Iya. Selama belum siap hamil, minumlah secara teratur, satu kaplet aja sehari. Nanti kalau sudah benar-benar siap, kamu boleh hamil...punya anak sepuluh juga aku siap."
"Aaah...jangan banyak-banyak gitu Mas. Satu aja dulu. Kan dari istri Mas juga baru satu kan?"
"Iya," aku mengangguk dan tersenyum waktu melihat Nur mengikuti saranku, diminumnya pil anti hamil itu. Lalu diletakkannya gelas itu di tempatnya semula.
"Besok akan kubawa ke satu tempat, agak di luar kota," lanjutku, " Ada ruko yang akan dikontrakkan di situ. Kalau kamu setuju, buka toko aja di situ. Gak usah cari kerja segala."
"Iya Mas," Nur mengangguk, "aku sih terserah Mas aja. Karena aku yakin Mas tau jalan terbaik buatku di kota ini."
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar