LANGKAH-LANGKAH BINAL
Bab 1
Aku tak menyangka sedikit pun kalau kedatanganku di rumah orang tua Nur disambut dengan ramah sekali. Pada waktu aku nikah siri dengan Nur, ayah Nur memang hadir. Berarti mereka sudah merestui pernikahanku dengan Nuryati, meski baru sebatas nikah siri. Dan menurut agamaku, Nuryati sudah menjadi istriku. Istri kedua.
Tadinya kupikir orang tua Nur cuma terpaksa menjadi wali ketika aku menikah siri dengan Nur. Ternyata tidak. Terlebih setelah Mbak Tina menjelaskan betapa aku sudah memberikan rumah untuk Nur. Rumah yang hanya bisa dimiliki oleh golongan menengah ke atas, karena rumah itu bukan rumah asal-asalan.
Ayah Nur, yang pensiunan kepala SMA itu sempat juga membahas kenapa Nur seolah melarikan diri dari Tegal dahulu. Rupanya dahulu Nur mau dijodohkan dengan pemilik pabrik the, tapi Nur tidak mau, kemudian diam-diam melarikan diri ke Bandung dan berjumpa denganku.
Sebenarnya Nur juga pernah bercerita soal itu. Bahkan Nur pernah berkata, "Contohnya ya Mbak Tina itu. Karena mengikuti kehendak orang tua, mau saja ia nikah dengan lelaki yang dijodohkan untuknya. Buktinya sekarang rumah tangga mereka hancur kan Mas."
Di rumah mertuaku, aku bisa menilai bahwa Nur itu berasal dari keluarga berpendidikan. Aku bisa menilainya dari cara ayah Nur bercerita, penuh dengan tutur kata yang enak didengar. Berbobot pula.
Ibu Nur juga pensiunan guru SMP. Bahkan kudengar dulunya ia guru bahasa Inggris.
Jadi, meski keadaan mereka sederhana, mereka bukan sosok yang tanpa pendidikan. Ayah Nur, misalnya, pastilah minimal seorang sarjana. Ibunya juga. CUma kehidupan guru memang sering menyedihkan. Jarang sekali kulihat guru yang kaya di masa tuanya.
Mbak Tina juga mengenalkan adik bungsunya yang bernama Ita. Cantik sekali Ita yang baru duduk di kelas tiga SMA itu.
"Nanti kalau udah lulus SMAnya, kuliah di Bandung aja ya," kataku kepada adik bungsu Nur yang bernama Ita itu, "Biar Mbak Nur ada temannya."
"Iya Mas," sahut Ita dengan anggukan sopan. Gila, cantik benar Ita itu. Kayaknya dijadikan artis juga bisa. Tapi emangnya hidup senang itu harus jadi artis saja? Masih sangat banyak jalan lain untuk mendapatkan penghasilan yang layak.
Malamnya Mbak Tina mengajakku jalan-jalan ke pantai. Aku iyakan saja. Dan di PAI (Pantai Alam Indah) itu aku sempat berkata, "Mulai saat ini kehidupan Mbak dan anak Mbak akan menjadi tanggung jawabku. Yang penting harus bisa merahasiakannya pada Nur, ya."
"Iya, makasih Yad," sahut Mbak Tina sambil menggenggam pergelangan tanganku.
Mbak Tina bukan cuma mengurus surat cerainya di Tegal.Tapi juga mencarikan lima orang calon pegawai (jaman sekarang jarang orang yang mau disebut pembantu), yang seorang untuk di rumah Nur, yang empat orang untuk dikerjakan di kantin wisma kos.
Dan Mbak Tina berhasil mendapatkannya. Malah ia sempat bilang, "Di sini sih jangankan lima orang. Limapuluh orang juga bisa kucarikan. Asalkan gajinya bagus saja."
Maka pada waktu pulang ke Bandung, mobilku jadi penuh juga. Mbak Tina duduk di sampingku, sementara kelima wanita muda itu berjejalan di belakang. Soalnya mobilku bukan kendaraan niaga.
Tapi bisa jugalah kuatur semua itu.
Setibanya di Bandung, kuturunkan dulu seorang calon pegawai di rumah Nur. Yang empat orang kubawa pulang ke wisma kos.
Istriku senang sekali kelihatannya, karena aku pulang dengan membawa empat orang wanita muda untuk dijadikan pegawainya. Dalam perjalanan pulang ke rumah di kompleks wisma kos itu, aku sudah mewanti-wanti kepada keempat wanita muda itu, agar jangan sekali-sekali bicara soal Mbak Tina kepada istriku. Mereka, yang semua janda muda itu, mengerti dan berjanji takkan bilang-bilang soal Mbak Tina, Nuryati dan segala latar belakang yang membuatku bisa mendapatkan mereka.
"Kalau masih kurang bisa kita ambil lagi ke Tegal," kataku waktu istriku sudah menempatkan keempat orang calon pegawainya itu.
"Iya, kalau mau serius, memang masih kurang sekali, Bang," sahut istriku, "Aku malah sedang merencanakan untuk merekrut duapuluh orang tamatan SMP, lima orang tamatan SMA. Kalau ngambil dari yayasan suka kacau, kita bisa jadi bahan permainan yayasan aja nantinya. Makanya aku bermaksud mau pasang iklan."
"Gak usah pasang iklan. Aku bisa ambil lagi dari Tegal. Mau limapuluh orang juga bisa.
"Tapi lihat dulu yang empat orang itu seperti apa kerjanya. Kalau bagus kerjanya, baru kita ambil lagi dari Tegal."
"Gak bisa lewat telepon aja Bang?"
"Aku memang mau telepon dulu ke teman yang ada di Tegal. Tapi kalau sudah ada orang-orang yang akan kerja di sini, harus aku sendiri yang menjemputnya. Maklum jaman sekarang sering terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Orang tua mereka cemas kalau melepaskan anak-anak mereka begitu saja. Harus jelas dulu dengan siapa mereka pergi. Gitu."
"Oh, gitu ya Bang. Ya udah...nanti jangan sekaligus duapuluh orang. Ambil lima-lima orang aja secara bertahap. Biar gampang melatihnya. Kalau sekaligus banyak, pusing aku ngasih trainingnya nanti."
"Bagusnya bikin pakaian seragam buat semua pegawai yang kerja di sini."
"Udah...lagi pesan Bang. Warnanya pink untuk pegawai wanita. Hitam untuk pegawai pria. Udah dibikinin logo WKA segala. Di sekeliling logo WKA itu ada tulisan Wisma Kos Anugerah."
"Mmm...istriku memang pintar ! Senang aku mendengarnya. Pokoknya semua urusan wisma kos harus ditangani secara profesional. Ohya...rumah lama kita sekarang sudah rata dengan tanah. Bahkan mulai dibikin pondasi ceker ayam...jadinya sembiloan ruko kan Bang ya?"
"Iya. Kalau ruko-rukonya udah terjual semua kelak, duitnya mau dipakai untuk apa?"
"Simpan aja dulu di bank. Pelan-pelan kita pikirin nanti untuk apa-apanya."
"Bagus," kataku sambil mencium pipi istriku.
Namun aku tiba-tiba jadi ingat pada percakapanku dengan Mbak Lies di Kalimantan tempo hari :
"Kok aneh, kamu bisa tertarik pada bisnis batubara yang bikin kita jadi cumang-cemong gini, Yad?"
"Cumang-cemong tapi duitnya lumayan. Mbak tau gak? Hasil penjualan hotel mewah pemberian Mbak itu, sekarang hanya duapuluh persen dari asetku."
"Hah?! Masa sih?" Mbak Lies tampak kaget benar.
"Lihat aja di laporan bulanan dari bank nanti. Sudah berkembang empat ratus persen Mbak. Dalam tempo yang cuma setahun lebih kan? Belum lagi terhitung wisma kos itu. Dan nanti ada aset lain lagi. Rumah lama akan dirobohkan dalam seminggu ini. Rumah dan tanah di sebelahnya sudah kubeli, juga mau dirobohkan. Lalu akan dibangun sembilan ruko, tiga lantai semua. Untuk dijual semuanya. Bahkan masih ada lagi, aku sudah beli rumah puri, tiga rumah kembar dalam satu kompleks. Sekarang sudah dikontrak oleh orang asing. Nilai kontrak selama tiga tahun jauh lebih tinggi daripada harga belinya, Mbak."
"Wow ! Luar biasa ! Syukurlah...berarti pemberianku dikembangkan. Tidak dihancurkan."
"Jangan samakan aku dengan Bang Yana, Mbak. Buatku, pemberian Mbak itu takkan habis dimakan tujuh turunan. Soal pertambangan batubara, aku datang ke lokasi tambang itu cuma sekali-sekali aja Mbak. Kan aku sudah nyimpan orang-orangku di tambang. Kan seorang pemimpin yang punya leadership tak perlu mengerjakan sendiri semua urusan perusahaannya. Dia boleh main golf atau jalan-jalan ke luar negri, sementara perusahaannya jalan terus. Yang penting, aku harus menempatkan the right man on the right place. Itu aja awalnya."
Ya...aku masih ingat semuanya itu. Aku memang petualang sex. Tapi kalau sudah terjun ke dunia bisnis, segala sisi kukerjakan secara profesional. Dan tampaknya doktrinku kepada istriku sudah mulai kelihatan hasilnya. Ia sudah melupakan toko-tokoan, yang hasilnya tak seberapa. Lalu mulai memikirkan pengembangan wisma kos itu.
Seperti yang ia katakan berikutnya, "Kita di sini cuma menjaring penghuni dari kelas menengah ke atas, Bang. Aku malah sedang memikirkan kos-kosan sederhana di tempat lain, untuk kelas menengah ke bawah."
"Lalu siapa yang ngurusnya nanti? Di sini aja kamu udah keteteran, makanya aku bawa orang-orang dari Jateng juga."
"Uni Erna yang ngurus. Masa sih Abang gak kasihan sama dia? Abang kan udah jauh berhubungan dengannya."
Aku terhenyak. Lalu mengangguk-angguk, "Ya udah. Nanti kalau ruko-ruko itu sudah terjual habis, cari tanah di daerah yang dekat kampus. Masuk ke dalam gang juga gakpapa. Bangun rumah kos-kosan yang sederhana. Duit penjualan ruko-ruko itu pakai untuk membiayai semuanya."
"Jadi Abang setuju?" Istriku memelukku erat-erat, "Abang memang suamiku yang sangat bijaksana. Aku sering memikirkan Uni lho Bang. Kasian kalau dia dibiarkan terus di Jakarta dan..."
"...Aku sering ketemuan dengannya," kataku menyela, "Aku yakin dia takkan kekurangan. Karena setiap bulan selalu kutransfer uang secukupnya."
"Kok Abang gak pernah laporan soal itu?"
"Kan sekarang aku laporkan semuanya. Lebih baik terlambat daripada tidak kan?"
"Terus...apa lagi yang belum Abang laporkan?"
"Gak ada," kataku dengan sikap meyakinkan. Padahal banyak...banyak sekali yang tidak kulaporkan padanya. Bahkan tidak juga kubuat tulisan di sini, karena para pembacat bisa bingung kalau kuceritakan semua. Sedangkan sekarang istriku gak tau. Jadi yang kutuliskan di sini pun takkan bisa ia pantau. Xixixixiiii......
Tapi pada suatu hari kutemukan sebuah flashdisk tergeletak di kolong meja komputerku. Aku heran, karena aku selalu memakai external hardisk yang 1 Tb ke atas. Tak pernah pakai flashdisk. Lalu punya siapa flashdisk itu?
Dengan perasaan heran kubuka isi flashdisk itu dio komputerku. Ternyata catatan harian istriku, yang belum pernah kubaca.
Isinya.................................................................................................................
Aku jadi sibuk sekali memperhatikan barang-barang yang sedang dimuat ke atas truk untuk diangkut ke rumah di wisma kos itu. Herman lebih sibuk lagi, karena ia selalu memperhatikan cara memuat dan membongkar barang-barang itu, jangan sampai ada yang rusak di jalan. Tiap kali truk berangkat meninggalkan rumah yang akan dibongkar itu, Herman selalu ikut dalam truk itu. Sementara suamiku malah terbang ke Kalimantan dan entah kapan pulangnya.
Dan...baru saja dua hari dibuat sibuk seperti itu, hasrat birahiku justru menagih-nagih lagi dengan kuatnya. Entahlah, belakangan ini aku jadi seperti wanita haus sex. Dua hari saja tidak mendapatkan terjangan lelaki, rasanya seperti sudah dua bulan tidak mendapatkannya.
Dan anehnya, kalau hasratku sedang menagih-nagih begini, ada saja jalan untuk meredakannya.
Sore menjelang malam itu aku baru saja selesai mandi di rumah dalam kompleks wisma kos (karena rumah lama sudah hampir kosong). Lalu mengenakan kimono putih yang terbuat dari bahan handuk. Pas keluar dari kamar mandi, bel berdering. Meski masih memakai kimono, aku bergegas menuju pintu depan.
Seorang cowok 16 tahunan berdiri di depan, berperawakan tinggi langsing, berkulit putih bersih, mengenakan kaus abu-abu dan celana training berwarna hitam. Sepintas pun tampak bahwa ia berdarah campuran dengan orang asing. Rupanya ia salah seorang penghuni wisma kosku, bernama Jonathan, yang suka kupanggil Jon saja. Aku memang sudah hafal semua nama penghuni wisma kos, karena sebulan sekali suka diadakan acara ramah-tamah di aula yang dibangun terpisah dari ketiga wisma itu.
"Jon..." sapaku ramah.
"Selamat malam Tante..." sahut anak muda itu sopan.
"Ayo masuk Jon," ajakku, " Tapi maaf, aku masih pake kimono gini ya, baru selesai mandi."
"Gakpapa Tante," sahut Jonathan sambil masuk ke ruang tamu. Lalu duduk di sofa.
Sebenarnya aku tahu bahwa diam-diam Jonathan suka mencuri-curi pandang ke arah pahaku kalau kebetulan aku duduk sambil bertumpang kaki. Maklum dia kan masih ABG. Tapi aku tak pernah memikirkannya. Karena seperti kata suamiku, "Jangan campur adukkan urusan bisnis dengan urusan pribadi."
Jadi urusanku dengan semua penghuni wisma kosku semata-mata urusan bisnis. Tapi malam itu hasratku menagih-nagih terus, sehingga pikiranku jadi lain dari biasanya.
"Tante, aku mau bayar uang kos," kata Jonathan setelah aku duduk di depannya, "Tapi...apa boleh kalau aku bayar dua tahun sekaligus?"
"Ya boleh lah...malah bagus. Daripada bulanan kan lebih bagus begitu," sahutku ramah. Memang aku pernah mendengar bahwa Jonathan itu anak pengusaha besar di Surabaya. Maka transfer uang dari orang tuanya pun pasti gede terus.
"Ini Tante, tadi siang mamie datang dan ngasih cek ini buat bayar uang kos selama dua tahun. Biar tenang aku belajar di sini, katanya." Jonathan menyerahkan selembar cek tertanggal untuk besok.
Kubaca nominal yang tertera di cek itu. Pas untuk pembayaran kos selama dua tahun. Tapi Jonathan pasti tidak tahu bahwa aku sedang memikirkan dirinya, lebih dari sekadar penghuni wisma kos. Bahwa aku teringat kata-kata suamiku,
"Yang penting yakinkan dulu bahwa lelaki itu bersih dari penyakit kelamin. Sesekali boleh saja, asalkan semuanya dicatat dengan sejujurnya. Jangan ada yang dirahasiakan sedikit pun."
Lalu kataku, "Wah, ini pertama kalinya penghuni wisma kos membayar dua tahun sekaligus. Nanti aku kasih bonus ya,"
"Bonusnya apa Tante?" Jonathan menatapku.
"Maunya apa?"
Jonathan malah bengong, seperti bingung menjawab.
"Tunggu sebentar ya," kataku sambil berdiri, lalu melangkah ke arah pintu depan. Kututup dan kukuncikan pintu itu. Kain gordin di belakang jendela kaca pun kututupkan, kemudian melangkah ke dalam kamar untuk menyimpan cek itu di laci lemariku, karena nominalnya tidak sedikit. Lalu kusemprot mulutku dengan pengharum nafas. Kusemprot juga bagian-bagian khususku dengan parfum dan kupanggil Jonathan dari ambang pintu kamarku, "Jon...!"
"Iya Tante," sahut Jon sambil bangkit dari sofa dan menghampiriku.
Kupegang pergelangan tangannya dan kuraih ke dalam kamarku, "Sini dulu...soalnya ini rahasia banget, Jon."
Jonathan tampak canggung setelah berada di dalam kamarku.
"Sini, duduk dulu," kataku sambil menunjuk sofa yang berada di dalam kamarku.
Jonathan duduk di sofa itu. Aku pun lalu duduk di sampingnya, dengan posisi duduk sedemikian rupa, sehingga paha mulusku terbuka lebar lewat belahan kimonoku.
"Aku mau tanya dulu," kataku sambil mengelus pahaku sendiri, "paha saya ini bagus gak?"
"Ba...bagus Tante...putih dan mu...mulus," sahut Jonathan tergagap.
"Kamu pernah main sama cewek?"
"Main? Main apa Tante? Olahraga?"
Setengah berbisik aku tanya lagi, "Pernah bersetubuh sama cewek?"
"Aaah..belum pernah Tante."
"Bohong ah..."
"Sungguh Tante. Aku berani disumpah apa pun. Betul-betul belum pernah."
"Tapi nonton videonya sih sering kan?"
"Gak sering juga, cuma pernah beberapa kali. Aku malah suka menghindari nonton yang gituan."
"Kenapa?"
"Udahnya suka tersiksa, Tante."
"Kamu suka sama pahaku ini ?" tanyaku lagi sambil mengelus-elus pahaku sendiri.
"Mmm...jujur....suka banget...."
"Pengen nyentuh gak?"
"Pengen juga ya kutahan-tahan lah. Gak berani sembarangan sama Tante."
"Peganglah..." kataku sambil menarik tangan Jonathan sampai menempel di pahaku.
"Hehehee...ini bonusnya, Tante?"
"Iya...tapi ini baru awalnya..."
"Awalnya?" Jonathan tampak kebingungan.
Meski agak ragu, tanganku mulai merayapi bagian di bawah perut Jonathan yang masih tertutupi celana trainingnya. Hmm...ternyata sudah ada yang tegang di balik celana training itu.
Maka bisikku, "Kamu mau nyobain bersetubuh?"
"Sa...sama Tante?"
"Iya. Kan itu bonusnya. Tapi kamu harus janji dulu..."
"Janji apa Tante?"
"Janji akan merahasiakan kepada siapa pun."
"Iya Tante. Aku janji takkan cerita kepada siapa pun. Janji Tante," kata Jonathan sambil mengangkat dua jarinya.
"Aku belum pernah ngasih bonus apa pun pada penghuni lain lho," kataku sambil menyelinapkan tanganku ke dalam lingkaran karet celana training Jonathan, "Ini khusus buat kamu aja Jon. Wow...punyamu udah ngaceng gini ya?"
"Iii...iya Tante...soalnya Tante merangsang banget malam ini..."
Mendengar "Tante merangsang banget" itu, aku jadi semakin ingin merangsangnya. Lalu kulepaskan tali kimonoku, sambil berkata, "Lihat dulu baik-baik ya." Lalu kulepaskan kimonoku, sehingga aku cuma tinggal bercelana dalam tipis transparan saja, karena saat itu aku tidak mengenakan bra.
Jonathan melotot seperti tak berkedip memandang tubuhku yang hampir telanjang ini. Dan aku semakin bergairah. Terlebih setelah mengingat kata orang-orang, bahwa wanita yang melahap "daun muda" akan awet muda, katanya. Terlebih lagi kalau minum air mani bujangnya. Itu kata orang-orang. Benar tidaknya aku tidak tahu.
"Buka dong pakaiannya...semuanya," kataku sambil duduk di sofa.
"Semuanya Tante?" Jonathan mnanggalkan baju kausnya dan tampak ragu menanggalkan celana trainingnya.
"Ya iyalah," sahutku, "kan bagian yang paling penting masih tertutup celana panjang dan celana dalam. Gimana mau main sama aku?"
BERSAMBUNG
0 Komentar