Melacak jejak birahi part 9


Bab 9








Meski tidak semahir istriku, tapi goyangan pinggul Mbak Tiara enak juga, membuat batang kemaluanku seperti tertarik ke sana sini, sehingga aku merasa tidak seperti sedang menyetubuhi boneka. Dan goyangan pinggul Mbak Tari makin menggila ketika aku menggenjotnya sambil menyelomoti pentil buah dadanya, terkadang malah kusedot-sedot agak kuat, sehingga rintihan histerisnya makin menjadi-jadi. Terkadang aku pun mencelucupi leher Mbak Tiara yang mulai keringatan. Aku senang melakukannya, karena keringat Mbak Tiara tidak berbau apa-apa, sehingga tanpa ragu aku pun sering menjilati lehernya. Diperlakukan seperti itu, Mbak Tiara semakin mempererat dekapannya, sementara goyangan pinggulnya semakin menggila.






"Mas...sa...saya udah mau lepas nih...barengin aja yooo...." ucap Mbak Tiara tersengal, sambil meremas-remas bahuku dengan kuatnya, seperti orang yang takutjatuh di ketinggian.


"Lepasin aja...saya paling suka merasakan perempuan orga..." sahutku yang memang masih asyik mengayun batang kemaluanku, masih jauh dari ejakulasi.


"I...ini udah mau lepas Mas....oooh....Maaaasssssssssssssss....." Mbak Tiara berkelojotan, lalu mengejang, sementara dinding liang kemaluannya terasa berkejut-kejut...ooo, nikmatnya merasakan wanita orgasme, seolah aku sendiri yang sedang berada di puncak kenikmatan.






Setelah Mbak Tiara selesai dengan orgasmenya, sengaja kuhentikan dulu ayunan batang kemaluanku. Kurendam saja penisku dalam liang kemaluan Mbak Tiara yang sudah basah ini. Lalu kuamati wajahnya dengan seksama. Memang benar kata orang, bahwa wanita yang sudah orgasme, wajahnya suka tampak lebih cantik.




Lalu kuciumi bibir Mbak Tiara dengan perasaan bahagia. Dan ia tampak senang sekali diciumi seperti itu. Lalu balas menciumku, memelukku dengan mesra dan berkata lirih, "Jujur, baru sekali ini saya merasakan yang luar biasa enaknya, Mas."




Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata. Melainkan dengan gerakan batang kemaluanku yang mulai bermundur maju lagi di dalam jepitan lubang kemaluan Mbak Tiara.




Makin lama enjotanku makin lancar. Terlebih setelah Mbak Tiara terasa bergairah lagi. Menciumi bibirku sambil mencengkram, kedua bahuku, sementara pinggulnya pun mulai bergoyang-goyang lagi.






"Nanti barengin ya...biar indah dan berkesan..." kata Mbak Tiara.


"Emang boleh lepasin di dalam?" tanyaku sambil memperlambat gerakan penisku.


"Boleh, saya kan ikut KB," sahut Mbak Tiara tanpa menghentikan ayunan pinggulnya yang begitu binalnya.


"Duh..punya Mas panjang banget, bukan cuma gede. Ini terasa nonjok-nonjok dasar lubang saya, Mas," kata Mbak Tiara pada satu saat.


"Tapi gak sakit kan?"


"Gak lah. Malah...enak banget...rasanya jadi lengkap."






Cukup lama aku menyetubuhi Mbak Tiara. Sehingga keringatku terasa sudah bercucuran. Sampai pada suatu saat Mbak Tiara berkata tersengal-sengal, "Mas...ayo...barengin...saya udah...udah mau lepas lagi."




"Iya," sahutku sambil mempercepat ayunan batang kemaluanku, berusaha agar lebih cepat ejakulasi, untuk memenuhi keinginan Mbak Tiara.




Batang kemaluanku maju-mundur-maju-mundur-maju-mundur...denganb gerakan yang cepat. Sampai akhirnya aku berhasil mencapai klimaks yang bersamaan dengan orgasme Mbak Tiara.




Saat itu kami sama-sama seperti orang kesurupan. Saling cengkram, saling remas...lalu sama-sama berkelojotan diiringi rintihan nikmat Mbak Tiara...dibarengi dengus nafasku pula.




Ooooh...nikmatnya, sulit kulukiskan dengan kata-kata.




Aku pun terkapar di atas perut Mbak Tiara, dengan rasa puas yang luar biasa.




Setelah aku mencabut batang kemaluanku liang kewanitaan Mbak Tiara, aku menggulingkan diri ke samping Mbak Tiara, dengan keringat yang masih tetap membanjir.




Mbak Tiara turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi. Tak lama kemudian ia kembali menghampiriku sambil memegang dua helai handuk hotel. Yang sehelai digunakan untuk menyeka keringatku, sementara yang sehelai lagi kugunakan untuk menyeka keringatnya, sementgara lelehan air maniku sudah tidak tampak lagi di seputar kemaluan dan pangkal pahanya. Mungkin barusan dia sudah mencucinya di kamar mandi.






"Biar seger lagi, mendingan kita mandi yok," ajak Mbak Tiara sambil memegang pergelangan tanganku.




Aku pun mengikuti langkahnya ke kamar mandi.




"Sekarang mau nginep di sini apa mau lanjut ke Sukabumi?" tanyaku di kamar mandi.


"Mending ke Sukabumi dulu, Mas," sahut Mbak Tiara sambil menyemprotkan shower air panas ke tubuhnya, "Soalnya saya takut suami nelepon ibu saya. Nanti dia malah curiga, kenapa saya belum nyampe-nyampe juga di rumah ibu saya."




Aku mengangguk. Mbak Tiara memelukku sambil berkata, "Kalau belum kenyang, nanti gampang kita ketemuan lagi. Saya kan sudah milik Mas sekarang."




"Iya...iya...saya sendiri juga ada yang sangat penting di Sukabumi."


"Nanti saya ikut sampai terminal SUkabumi aja, ya Mas. Kalau sampai rumah, takut banyak pertanyaan dari ibu saya. Maklum orang kampung, masih kolot pendiriannya Mas."


":Iya. Gakpapa. Tapi hari ini mau nginep di rumah orang tua?"


"Iya Mas. Nanti dari rumah ibu saya mau nelepon suami saya, supaya menyiapkan surat-surat untuk transaksi besok. Eh...beneran mau dilunasi besok Mas?"


"Iya, di notaris," kataku sambil memberikan kartu nama seorang notaris yang biasa kupakai jasanya, ":Besok kita ketemuan di notaris saja."






Sepulangnya dari Sukabumi, aku langsung menuju notaris yang sudah dijanjikan, untuk menandatangani akte jual beli rumah Mbak Tiara itu. Kemudian aku ketemuan dengan Mbak Arini, arsitek sexy itu, minta dibuatkan gambar ruko. Karena setelah diperhitungkan dengan matang, tanahku dengan tanah yang baru dibeli dari Pak Bono (suami Mbak Tiara), ternyata bisa dibangun delapan ruko dengan ukuran yang cukup besar.




Rencanaku, rumah tua itu mau dirobohkan saja. Begitu pula rumah yang baru kubeli dari Mbak Tiara, akan kurobohkan juga, karena kondisinya juga sudah tua. Maka ruko-ruko itu akan dibangun di atas tanah yang sudah kosong.




Kebetulan batas belakang tanahku segaris dengan tanah Mbak Tiara, sehingga kalau rumah-rumahnya sudah dirobohkan, akan terhampar tanah ngotak, berbentuk persegi panjang, tidak ada bengkok-bengkoknya. Jadi ideal sekali untuk dibangun ruko-ruko di sana nanti. Tentang aku dan istriku, bisa tinggal di rumah dalam kompleks wisma kos itu. Pindah selamanya, karena rencananya ruko-ruko itu akan dijual setelah selesai dibangun nanti.




Semuanya itu baru kusampaikan kepada istriku setelah tiba di rumah.






"Bang?! Beneran rumah Mbak Tiara sudah dibeli?" tanya istriku seperti tak percaya pada pendengarannya sendiri.


"Iya, tanah punya Mbak Tiara malah lebih luas daripada tanah kita. Hanya rumahnya memang gedean punya kita. Tapi semuanya itu untuk dibongkar. Kita jadikan delapan ruko tiga lantai. Lalu kita jual."


"Lalu kita pindah ke rumah puri itu?"


"Rumah puri itu akan dikontrak sama orang asing. Tau gak? Dikontrak selama tiga tahun duitnya lebih tinggi daripada pembeliannya dahulu. Kamu setuju kalau rumah puri itu dikontrakkan?"


"Iya Bang. Setuju banget. Kita kan sudah punya rumah gede di kompleks wisma kos. Banyak-banyak rumah kalau tidak dimanfaatkan buat apa? Malah biaya perawatan mengalir tiap hari. Sedangkan kita kan punya anak juga cuma seorang, masih kecil pula."


"Syukurlah kalau setuju, besok juga akan kujadikan kontraknya. Sementara itu, aku mau ke Kalimantan juga. Makanya Herman akan kusuruh standby di sini, biar ada yang ngatur angkut-angkut barang ke wisma kos, sekalian tata lagi di sana. Kalau sudah kosong, rumah ini akan segera dirobohkan. Berbarengan dengan rumah Mbak Tiara itu, akan dirobohkan juga."


"Emangnya Herman gak dibutuhkan di Kalimantan?"


"Ada Edo dan Leo kan di sana. Nanti aja kalau aku sudah pulang, baru Herman kusuruh ke Kalimantan lagi. Kamu bisa kan berdiri sendiri untuk mengatur semuanya di sini selama aku di Kalimantan?"


"BIsa lah. Kapan Abang mau ke Kalimantan?"


"Setelah gambar rukonya selesai dibuat sama arsiteknya. Juga setelah uang kontrakan rumah puri itu selesai pembayarannya."






Istriku tidak tahu bahwa aku sudah janjian akan ke Kalimantan bersama Mbak Lies, seperti yang diputuskan beberapa hari yang lalu.




Aku masih ingat benar awal pembicaraan itu terjadi setelah aku selesai menyetubuhi Mbak Lies, dalam kondisi yang memaksakan diri, karena malam-malam sebelumnya aku habis "bertempur" dengan Dyah dan Mila dalam acara reuni mini itu.




Pada saat itulah aku punya ide untuk memberikan kepuasan kepada Mbak Lies.






Kataku, "Mbak mau nyobain threesome?"


"Threesome?"


"Iya. Cowoknya berdua, aku sama temanku. Pasti seru dan sangat memuaskan, Mbak."


"Ih gila ! Emangnya kamu rela melihat tubuhku digasak sama orang lain?"


"Bukan masalah rela atau tidak rela Mbak. Tau gak? Erni aja sering kuajak threesome bersama temanku."


"Emang kamu gak cemburu melihat istrimu disetubuhi lelaki lain?"


"Tentu aja cemburu, Mbak. Tapi dari cemburu itu gairahku jadi bangkit. Aku jadi horny lagi. Malah jadi jauh lebih horny daripada biasanya. Dan Erni malah jadi ketagihan..."


"Emang rumah tanggamu aman-aman aja?"


"Aman Mbak. Malah jadi lebih hangat daripada dulu-dulu."




Mbak lies tercenung. Seperti berpikir.




Lalu Mbak Lies berkata, "Aku di kota ini terlalu dikenal orang. Kalau ada yang tahu, bisa rusak namaku, Yad. Lagian denganmu aja udah puas kok."




"Kalau sama dua orang akan lebih puas lagi, Mbak. Percaya deh sama aku."


"Iya, aku percaya. Tapi seperti kataku tadi...aku terlalu dikenal oprang di kota ini."


"Begini Mbak, seminggu lagi aku mau ke Banjarmasin," kataku ketika Mbak Lies seperti yang sedang mempertimbangkan, "Di Banjarmasin aku punya sahabat yang sekarang jadi asistenku. Usianya hanya beda beberapa bulan denganku. orangnya ganteng kok Mbak."


"Terus?"


"Mbak ikut aja ke Banjarmasin. Hitung-hitung jalan-jalan aja. Nanti sahabatku itu akan kuajak gabung di hotel tempat kita menginap. Lalu...ya terserah Mbak nanti. Kalau berkenan, mari kita lakukan. Kalau tidak berkenan, ya jangan dipaksain."


"Iya, aku juga ingin maen ke pasar terapung di Banjarmasin. Sekaligus mau nyari berlian di Martapura."


"Sip Mbak. Aku sudah tau penjual berlian di Martapura. Nanti kita ke sana."


"Tapi awas kalau pulang dari sana hubungan kita jadi retak. Aku udah telanjur dalam mencintai kamu, Yad."


"Aku jamin Mbak. Malah sebaliknya, kita bakal tambah mesra. Lagian acara threesome gitu jangan sering-sering. Setahun sekali atau enam bulan sekali gitu deh."


"Aku gak janji mau threesome. Yang penting jalan-jalan aja dulu ke Kalimantan, sekalian ingin lihat tambang batubaramu."


"Sip Mbak."






Pulang dari rumah yang biasa dipakai untuk ketemuan dengan Mbak Lies itu, aku langsung menelepon Edo. Minta dipesankan hotel yang layak, terutama untuk Mbak Lies itu. Aku pun menceritakan rencanaku, akan mengajak Edo untuk "join" denganku. Tentu Edo menyambutnya dengan nada gembira.






"Tapi yang satu ini bukan orang biasa," kataku di depan mic handphoneku, "Aku sendiri aja selalu bersikap sopan padanya. Jadi harus lembut dalam pelaksanaannya nanti, ya."


"Siap Boss !" sahut Edo di speaker handphoneku.






Dua hari kemudian, pembayaran kontrak rumah puri sudah dilunasi oleh utusan orang asing itu. Gambar ruko pun sudah kuterima dari Mbak Arini. Langsung kupanggil orang yang biasa memborong proyek-proyek kecilku. Semuanya sudah deal. Setelah rumahku dan rumah Mbak Tiara dikosongkan, kedua rumah itu akan dirobohkan, lalu dibangun sembilan ruko. Ternyata menurut perhitungan Mbak Arini, di tanah seluas itu bisa dibangun sembilan ruko, bukan delapan.




Sebelum berangkat ke Banjarmasin, aku berkata kepada istriku, "Baik-baik selama aku di Kalimantan ya. Besok mulai saja barang-barang kita diangkut ke rumah di kompl;eks wisma kos. Kalau sudah selesai, kasihtau pemborongnya. Mereka yang akan membongkar rumah ini kemudian membangun ruko-ruko itu."






"Iya Bang. Semoga penerbangannya lancar ya," kata istriku setelah kukecup bibirnya.


"Jangan habis-habisan sama si Herman ya. Seminggu dua kali aja sih boleh. Asal jangan terus-terusan."


"Ih Abang...mulai besok kan semuanya sibuk pindahin barang-barang, lalu menata di rumah baru kita. Boro-boro sempat mikirin yang gituan."


"Mikirin boleh, melakukan juga boleh, yang penting jangan terus-terusan. Dan jangan lupa, semuanya harus dibuka dalam catatan harianmu itu ya."


"Abang mau pakai apa ke Jakarta?"


"Pakai travel aja lah. Biar hemat," sahutku berbohong. Padahal aku akan ke rumah Mbak Lies, lalu berangkat ke Jakarta dengan mobilnya. (Dalam hal ini aku licik juga. Aku bisa tahu semua perilaku istriku lewat catatan hariannya, yang aku yakin diketik dengan sejujurnya. Sementara ia tidak bisa tahu beberapa hal yang kurahasiakan, karena aku tak punya catatan harian, sedangkan istriku tak bisa lagi membuka [DS]).


"Selamat jalan ya Bang. Semoga selamat sampai tujuan dan pulang lagi dalam keadaan selamat juga."


"Iya sayang," sahutku sambil mengecup kedua belah pipinya, kemudian bibirnya juga."






Empat jam kemudian aku sudah berada di bandara Soekarno Hatta, di dalam pesawat yang akan terbang menuju Banjarmasin.




Menurut penglihatanku, dahulu sebelum ada hubungan rahasia denganku, Mbak Lies senantiasa berpakaian glamour. Tapi mungkin ia terpengaruh oleh prinsipku, yang tak perlu menonjolkan diri di depan orang-orang, kini Mbak Lies lebih suka berpakaian casual. Dalam penerbangan menuju Banjarmasin itu pun Mbak Lies hanya mengenakan celana panjang corduroy berwarna deep blue, dengan baju kaus berwarna hitam dengan tulisan berwarna putih: L'amour est une beller chose




Sesaat setelah pesawat take off, aku berkata kepada Mbak Lies perlahan (supaya tidak terdengar oleh penumpang lain), "Nanti Edo yang akan jemput kita di bandara Syamsuddin Noor, Mbak."






"Edo...yang...yang kamu ceritakan itu?" tanya Mbak Lies sambil meremas tanganku.


"Iya. Sekalian Mbak cermati aja orangnya nanti. Dijamin takkan mengecewakan deh."


"Iiih, aku kan udah bilang...gak janji soal itu. Aku hanya ingin jalan-jalan di Kalsel aja."


"Iya. Santai aja Mbak. Takkan ada yang berani memaksa Mbak," kataku yang lalu kulanjutkan dengan bisikan, "Aku justru ingin membuat Mbak sangat-sangat puas."






Mbak Lies menatapku dengan senyum manis. O, senyum Mbak Lies itu...membuatku makin sayang saja padanya.








BERSAMBUNG 









Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar