Bab 8
Aku membaca catatan harian istriku itu tanpa kecemburuan sedikit pun. Aneh memang. Apakah jiwaku sudah mengutamakan bisnis di atas segalanya? Tidak. Masalahnya ada sesuatu juga yang kulakukan waktu meninggalkan rumah tua itu.
Memang tadinya aku akan tidur di rumah dalam kompleks wisma kos. Tapi entah kenapa, aku membelokkan setir mobilku menuju pintu tol. Aku merasa ingin menengok kebun yang baru kubeli di luar kota. Ya, sejak kubeli kebun jeruk dan duren itu dari istri Tommy yang bernama Dyah itu, aku belum pernah menengoknya. Mungkin sekarang pohon-pohon jeruk dan duren itu sedang musim berbunga dan beberapa minggu lagi akan bisa dipanen.
Tapi setelah keluar dari pintu tol, kulihat seorang wanita setengah baya mengenakan celana legging hitam dan atasan yang cukup panjang sampai lututnya. Aku tahu benar siapa wanita berkulit bersih dan bertubuh sexy itu. Dia adalah Mbak Tiara, pemilik rumah di sebelah rumah tuaku. Rumahnya berdampingan dengan garasiku. Dan sesungguhnya sudah lama aku tertarik padanya, karena ia pun sering melayangkan tatapan yang menggodaku, sering pula menyunggingkan senyum manisnya waktu aku berada di depan garasiku. Tapi selama itu aku selalu menjaga diri, tak mau macam-macam, karena ia tetangga sebelahku.
Ia sedang berdiri di pinggir jalan, tak terlalu jauh dari pintu tol. Yang aku tahu, biasanya orang-orang berdiri di situ untuk mencegat bis arah ke luar kota.
Maka kuhentikan mobilku tepat di depannya. Dan kubuka pintu mobilku yang di sebelah kiriku, "Mbak lagi ngapain?" tanyaku agak keras.
Mbak Tiara tampak agak kaget dan memandang ke arahku. Dan menyahut ceria, "Eeee....Mas Yadi?! Saya lagi nungguin bus....mau ke Sukabumi, Mas."
Kugerakkan mobilku ke pinggir, lalu keluar dari mobilku, menghampiri Mbak Tiara yang menyambutku dengan senyum manisnya itu.
"Tujuan kita sama Mbak," kataku, "Saya juga mau ke Sukabumi. Mau ikut saya?"
"Mmm...boleh deh. Nasib saya bagus banget hari ini ya. Bisa dapet tumpangan gratis," sahut Mbak Tiara.
Kubukakan pintu kiri depan mobilku, Mbak Tiara pun masuk ke dalam jipku. Setelah menutupkan pintu kiri depan, aku melangkah ke pintu depan kanan.
Tak lama kemudian aku sudah menjalankan mobilku semakin menjauhi daerah pintu tol Padalarang dan mulai berada di jalan ke arah Cianjur.
"Ada urusan apa di Sukabumi Mbak?" tanyaku beberapa saat kemudian.
"Kampung saya kan di Sukabumi Mas."
"Oh gitu? Kita tetangga bersebelahan tapi gak saling kenal latar belakang ya. Orang tua Mbak masih ada?"
"Tinggal ibu yang masih ada. Ayah saya sudah gak ada. Ohya...Mas...beli dong rumah saya tuh. Tanahnya kan luas, bisa dikembangin jadi ruko."
"Lho...kenapa mau dijual?"
"Suami saya kan sudah mulai pensiun dua bulan yang lalu. Jadi saya pengen tinggal di kampung aja, biar bisa sambil nmenin ibu saya."
"Suami Mbak udah mulai pensiun?"
"Iya."
"Mmm...perbedaan umur Mbak sama suami agak jauh ya," kataku sambil menepuk lutut kanan wanita itu.
"Jauh sekali. Bukan cuma agak jauh," kata Mbak Tiara, "Bedanya seperempat abad. Waktu nikah dengan saya, dia sudah duda ditinggaql mati sama istrinya, Mas."
"Mmm...emang usia Mbak berapa sekarang?"
"Tigapuluh tiga. Tapi udah kelihatan tua ya?"
"Hush ! Siapa bilang? Mbak kelihatan di bawah tigapuluhan kok."
"Masa sih?"
"Iya. Saya pikir seusia dengan istri saya."
"Istri Mas Yadi belum tigapuluh tahun kan?"
"Ya, kira-kira begitulah. Ohya...emang rumah Mbak mau dijual berapa?"
Mbak Tiara menyebutkan nominal harga rumahnya.
"Bisa ditawar kan?" tanyaku.
"Bisa sedikit. Harga yang saya tawarkan sudah murah Mas."
Pikirku, memang cukup murah harga yang ia tawarkan itu.
"Begini deh...harga matinya berapa, Mbak?" tanyaku.
Mbak Tiara menyebutkan harga mati rumahnya itu.
Sebenarnya aku sudah berani membeli rumah Mbak Tiara dengan harga yang sudah diputuskannya itu. Tapi aku belum memutuskan apa-apa.
Aku bahkan membelokkan mobilku ke pekarangan rumah makan di samping kiri jalan, "Kita makan dulu yuk. Nanti kita rundingkan lagi soal rumah sih," kataku.
Mbak Tiara mengangguk. Aku buru-buru turun dari mobil dan melangkah ke pintu kiri depan. Kubuka pintu mobilku. Dan kupegangi tangan Mbak Tiara waktu turun dari mobilku yang memang cukup tinggi buat seorang wanita. Wow, terasa hangat tangan Mbak Tiara itu, membuatku mulai berpikiran macam-macam. Terlebih ketika kulihat lagi senyum manisnya itu.
Lalu kami melangkah masuk ke dalam rumah makan itu. Dan kupilih meja yang paling sudut.
"Kalau Mbak udah pindah ke Sukabumi, kita jadi jauh dong. Kalau mau ketemu juga pasti susah," kataku sambil meletakkan tas kerjaku di kursi sebelah kananku. Sementara Mbak Tiara duduk di depanku.
"Kan Mas Yadi bisa main ke Sukabumi. Atau...."
"Atau apa Mbak?"
"Gak jadi ah....takut salah ngomong," sahutnya tersipu.
Aku tahu bahwa Mbak Tiara juga tertarik padaku sejak lama. Tapi mungkin ia tak mau memulai, karena ia seorang wanita. Sementara aku pun belum memulai juga, mengingat ia tetangga di sebelah rumahku benar.
"Mmm...saya ngerti deh. Mungkin Mbak mau bilang, kita kan bisa ketemuan di satu tempat...gitu?" tanyaku.
"Hihihi....emang kalau ketemuan mau ngapain?" Mbak Tiara menatapku.
Kupegang tangan Mbak Tiara yang berada di atas meja, "Mbak maunya ngapain?"
"Lho...saya kan perempuan Mas. Biasanya pihak pria lah yang membuka jalan," sahut Mbak Tiara, lagi-lagi dengan senyum dan tatapan yang menggoda.
"Oke...soal rumah Mbak, saya setuju dengan harga matinya itu," kataku sambil meremas tangan Mbak Tiara dengan lembut, "Tapi setelah makan, kita cek in di hotel yang terlewati nanti ya."
"Mau ngapain?" Mbak Tiara menatapku, tetap dengan senyumnya yang menggoda.
"Kita ngobrol aja panjang lebar."
"Cuma ngobrol?"
"Sambil saling curahin perasaan kita aja Mbak. Sekarang saya mau jujur aja. Bahwa saya sudah lama memperhatikan Mbak."
"Sama," kata Mbak Tiara membuat dadaku plong. Sementara terawanganku semakin menjadi-jadi. Membayangkan Mbak Tiara seandainya sudah berada di dalam kamar nanti.
Setelah selesai makan, aku mengeluarkan buku cek dari tas kerjaku. Kutulis sepuluh juta di selembar cek. Lalu kuserahklan kepada Mbak Tiara.
"Lho...ini untuk apa?" tanya Mbak Tiara sambil memperhatikan cek itu.
"Hanya sekadar tanda jadi pembelian rumah Mbak. Sisanya akan saya selesaikan di rumah Mbak nanti. Sertifikat aslinya ada kan?"
"Ada," Mbak Tiara tampak senang menerima cek itu.
Mbak kapan pulang dari Sukabumi?"
"Rencananya sih besok juga pulang," sahut Mbak Tiara sambil memasukkan cek itu ke dalam tas kecilnya, "Tapi gimana baiknya ya Mas?"
"Nanti aja di hotel kita bicarakan," kataku sambil bangkit. Ia pun berdiri lalu melangkah di sampingku.
Aku bantu dulu Mbak Tiara naik ke dalam jipku, kemudian aku naik ke belakang setir. Tapi tidak langsung menghidupkan mesin mobilku. Aku bahkan memegang pergelangan tangan Mbak Tiara yang bentuk badannya mirip Mbak Lies itu, "Gak nyangka saya bakal ketemu sama Mbak dalam suasana yang enak gini."
"Saya juga gak nyangka," sahutnya dengan senyum manis lagi, "Padahal udah lama saya suka perhatikan Mas Yadi. Tapi Mas Yadi cuek-cuek terus."
"Saya kan takut disalahkan, karena Mbak punya suami. Mmm...udah aja gak usah ke SUkabumi. Mending nginap aja di hotel nanti. Besok kita transaksi rumah Mbak. Gimana?"
"Terserah Mas Yadi aja," kata Mbak Tiara sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Gila ! Sandaran kepalanya itu membuat dadaku berdenyut. Karena secara tidak langsung ia sudah memperlihatkan penyerahan dirinya padaku.,
Maka sebelum menghidupkan mesin mobilku, kusempatkan memeluk lehernya, lalu kukecup bibirnya.
"Mas...ntar keliatan orang," Mbak Tiara terkejut. Tapi tidak kelihatan marah.
"Mbak liat sendiri, kaca mobilku ini gelap sekali. Kita bisa melihat keluar, tapi dari luar gak bisa melihat ke dalam mobil ini."
"Iya," Mbak Tiara tersenyum, "Nanti di hotel mau apa juga saya kasih, Mas."
"Wooow, bahagianya hatiku saat ini !!!" seruku sambil menghidupkan mesin mobil.
Dan Mbak Tiara tetap menyandarkan kepalanya di bahuku.
Beberapa saat kemudian kutemukan hotel yang lumayan bagus dan bersih. Kamar-kamarnya berdinding kaca yang bisa melihat pepohonan di luar sana.
Setelah berada di dalam kamar hotel yang pintunya sudah kututup dan kukuncikan, Mbak Tiara langsung melingkarkan lengannya di leherku, sambil berucap perlahan, "Sekarang silakan cium bibir saya sepuasnya."
Kusambut "penawaran" itu dengan bersemangat. Kukecup dan kulumat bibir Mbak Tiara sambil mendekap pinggangnya erat-erat. Mbak Tiara pun menyambutku dengan pelukan di leherku.
Dan setelah ciuman itu kulepaskan, "Cium ini boleh gak?" tanyaku sambil menepuk bagian yang di bawah perutnya, yang masih tertutup oleh celana leggingnya.
"Mmm...pastilah ujungnya ke sini," kata Mbak Tiara sambil mengusap-usap bagian yang barusan kutepuk.
"Boleh kan?" tanyaku sambil menciumi pipinya.
"Mas yang bukain semuanya ya," sahut Mbak Tiara sambil duduk di pinggiran tempat tidur.
"Boleh," kataku bersemangat. Lalu kutarik celana legging hitam wanita itu sampai terlepas darfi kakinya. Berikutnya kubuka juga baju atasannya yang panjang seperti baju kurung itu. Ternyata masih ada pakaian dalam yang tipis transparant, berwarna pink dengan motif bunga merah tua. Sepintas pun tampak payudara Mbak Tiara itu lumayan gede, karena ia tak mengenakan bra di balik pakaian dalam tipisnya itu.
Sambil melepaskan baju kausku, mataku tertuju ke arah payudara Mbak Tiara yang tampak jelas di balik pakaian dalam transparan itu.
"Payudara Mbak...indah sekali," kataku sambil melemparkan baju kausku ke atas sofa.
Seperti sengaja ingin mempamerkan keindahan tubuhnya, Mbak Tiara malah menurunkan pakaian dalamnya, sehingga sepasang payudara montoknya tersembul keluar, "Mau diapain Mas?"
"Mau saya miliki," kataku sambil memegang payudara yang sudah tersembul itu. Meremasnya sedikit. Lalu kulepaskan lagi, karena aku mau melepaskan celana jeansku.
Ketika hanya tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku, Mbak Tiara pun sudah menanggalkan pakaian dalam transparan itu, sehingga ia pun tinggal mengenakan celana dalam saja.
Kuperhatikan sekujur tubuh indah wanita itu sesaat. Tubuh yang tinggi montok itu membuatku teringat pada Mbak Lies. Karena banyak kemiripannya. Hanya rambutnya yang berbeda. Kalau rambut Mbak Lies selalu dipotong pendek, rambut Mbak Tiara ini cukup panjang. Tergerai sampai hampir mencapai pinggulnya. Lain-lainnya mirip semua. Bahkan usia Mbak Tiara ini lebih muda daripada Mbak Lies.
Aku tak mau buang-buang waktu lagi. Kurebahkan diriku di samping Mbak Tiara. Lalu kupagut dan kusedot-sedot pentil payudara montok itu, sementara tanganku meremasi payudara satunya lagi. Tubuh Mbak Tiara pun langsung menghangat. Terlebih setelah tanganku beraksi, menyelinap ke balik celana dalamnya...menyentuh kemaluannya yang terasa pendek-pendek jembutnya, mungkin biasa dicukur habis tapi belum sempat dicukur lagi.
Setelah jemariku berhasil menynyelinap ke celah kemaluannya yang masih bercelana dalam itu, Mbak Tiara langsung menyergap bibirku. Menciumiku dan melumat bibirku dengan binalnya.
Sementara tangan Mbak Tiara pun melakukan hal yang sama dengan tanganku. Menyelinap ke balik celana dalamku. Dan memegang batang kemaluanku yang sudah tegang ini.
"Iiiih...punya Mas Yadi panjang gede gini...." bisik Mbak Tiara sambil meremas-remas batang kemaluanku perlahan-lahan.
"Sebentar lagi akan Mbak miliki...." shutku.
"Sekujur tubuh saya juga akan Mas miliki..."
Aku semakin bergairah. Nafsuku sudah kian memuncak. Terlebih setelah Mbak Tiara menanggalkan celana dalamnya. Kutanggapi dengan pelepasan celana dalamku sendiri. Sehingga kemaluan kami tak tertutup apa-apa lagi kini.
"Mas....saya horny banget Mas...." desis Mbak Tiara keitka aku mulai menciumi kemaluannya, sementara kedua tanganku menjulur ke atas, meremas-remas sepasang payudara montoknya.
Aku belum mau berhenti merangsang wanita sexy itu. Kujilati celah kemaluannya dengan ganasnya, sehingga wanita itu mulai mengejang-ngejang sambil meremas-remas rambutku yang berada di bawah perutnya.
"Maaaas.....ooooh....Maaaaaas.....ooooooooooooohhhh.....ooooooooooooooooohhhhhhh." Mbak Tiara mendesah dan merintih ketika aku mulai menjilati kelentitnya secara intensif.
"Maaas...ntar saya bisa lepas kalau diginiin terus....masukin aja Mas...please..."
Tanpa banyak basa-basi lagi kuikuti permintaan Mbak Tiara itu. Aku merayap ke atas perutnya sambil memegang batang kemaluanku yang puncaknya akan kutempelkan di mulut kemaluan Mbak Tiara. Terasa lubang kemaluan Mbak Tiara sudah basah, sehingga tanpa kesulitan aku berhasil membenamkan batang kemaluanku, meski hanya separohnya dulu.
"Ooooh...Maaaas....udah masuk Mas....ini pertama kalinya saya diginiin oleh lelaki yang bukan suami saya...duuuh...punya Mas kok gede banget sih.....mmmmm...." cetus Mbak Tiara ketika aku sudah berhasil membenamkan batang kemaluanku, yang lalu mulai kuayun perlahan-lahan...makin lama makin membenam dan sampai membenam semuanya. Maka tanpa banyak berhitung lagi aku mulai benar-benar mengentot wanita yang usianya sedikit lebih tua dariku itu.
Begitu batang kemaluanku melesak masuk, terasa legitnya memek Mbak Tiara ini. Memang sudah basah tapi mencengkram sekali. Bahkan pada waktu kuenjot, terasa seperti ada yang menyedot-nyedot dari dalam liang kewanitaan Mbak Tiara itu. Apakah ini yang disebut memek empot ayam? Entahlah. Yang jelas aku jadi sangat bersemangat mengayun batang kemaluanku, sambil meremas-remas buah dadanya yang memang rada gede itu.
Mbak Tiara sendiri malah mulai berdesah-desah seperti yang makan kepedasan. Bahkan terkadang sambil merintih-rintih histeris, "Uuuu...uuuuh....Maaaas....uuuuh...aaaaaah....kok enak banget Maaaassss....iya Maaaaas....enak banget Maaaas....oooh Maaaas...."
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar