Melacak jejak birahi part 10


Bab 10








Pesawat landing menghentak dan agak terseok-seok di Bandara Syamsuddin Noor. Membuatku agak kuatir dan membuat Mbak Lies geleng-geleng kepala.






"Mungkin landasannya licin, karena habis hujan," kataku.






Mbak Lies cuma menghela nafas panjang. Maklum dia sering terbang ke luar negri, yang kualitas penerbangannya jauh lebih baik.




Baik aku maupun Mbak Lies, masing-masing cuma membawa tas pakaian yang tidak terlalu besar, sehingga kami simpan di atas tempat duduk kami saja. Dan kami tak usah menunggu keluarnya dulu barang di ban berjalan. Langsung kami keluar, sementara udara panas Banjarmasin mulai terasa menyengat. Apalagi saat itu kami mendarat pas tengah siang.




Di pintu keluar, kulihat Edo sudah menunggu.






"Selamat siang, Boss," ucap Edo padaku setelah aku dan Mbak Lies keluar dari pintu kedatangan.


"Siang...kenalin dulu ini teman saya, Do," kataku kepada Edo. Memang tadi di pesawat Mbak Lies sudah mewanti-wanti agar jangan mengatakan ia sebagai bagian dari keluarga besarku. Sebut saja aku temanmu, katanya.






Aku juga sudah mewanti-wanti agar jangan mengajak Leo ke bandara, karena ia pasti kenal pada Mbak Lies. Bukankah Leo saudara sepupuku, yang berarti saudara sepupu Bang Yana juga?




Lalu Edo dan Mbak Lies berjabatan tangan sambil menyebutkan namanya masing-masing.




Dengan sigap Edo mengambil tasku dan tas Mbak Lies, lalu melangkah duluan menuju pelataran parkir.




Aku berbisik ke telinga Mbak Lies, "Edo ganteng kan?"




Mbak Lies mencubit tanganku sambil melotot. Mungkin maksudnya jangan ngomongin Edo, takut kedengaran sama orangnya yang sedang berjalan di depan kami.




Kedua tas itu Edo letakkan di dalam mobil double cabin yang kubeli khusus untuk inventaris kantor.




Mbak Lies kubantu untuk naik ke dalam mobil yang lumayan tinggi itu, kemudian aku duduk di sampingnya, di jok belakang. Edo langsung menghidupkan mesin mobil sambil bertanya, "Langsung ke hotel Boss?"




"Alaaa...bas-bos-bas-bos lagi. Kan biasa juga manggil abang. Kenapa jadi boss lagi?" sahutku, "Jangan langsung ke hotel, kita nyari makan siang dulu Do."


"Siap Bang," sahut Edo sambil menjalankan mobil keluar dari parkiran bandara.


"Mbak seneng makan telur ikan gabus kan?" tanyaku kepada Mbak Lies.


"Iya," Mbak Lies mengangguk, "Emang ada rumah makan yang jual?"


"Ada. Bakar ikan papuyu juga ada."


"Iya...ikan papuyu primadonanya ikan di Banjarmasin," sahut Mbak Lies.




Kutepuk bahu Edo dari belakang sambil berkata, "Ke Jalan Pangeran Samudra, Do."




"Siap...mmm...di Banjar kan?"


"Iya, sambil dekatin hotelnya. Kalau di Banjar Baru, aku belum nemu rumah makan yang cocok. Hotelnya di jalan S.Parman kan?"


"Iya Bag. Biar dekat ke kantor."






Di jalan dari Banjar Baru menuju Banjarmasin, Mbak Lies tiada bosannya meremas-remas tanganku. Sehingga pada suatu saat aku balas dengan ciuman mesra di bibirnya. Mbak Lies menunjuk-nunjuk punggung Edo, seolah memperingatkan agar jangan main cium sembarangan karena ada orang ketiga.




Tapi entah kenapa, membayangkan Edo akan ikut bergabung dalam kegiatan seksualku dengan Mbak Lies, hasrat birahiku jadi bergejolak begini. Sehingga dalam perjalanan menuju Banjarmasin itu, penisku tegang terus. Seolah-olah tak sabar lagi, ingin segera dibenamkan ke dalam memek Mbak Lies.




Sejam kemudian kami bertiga sudah berada di dalam rumah makan yang selalu menyediakan sate telor ikan gabus itu. Senang sekali Mbak Lies mendapatkan makanan kesukaannya itu. Tapi bakar ikan papuyunya seekor pun tidak habis, karena di daerah perutnya memang banyak durinya.




Waktu sedang makan itu tampaknya Mbak Lies pun mulai mengajak Edo berbicara, seperti ingin tahu banyak mengenai sehabatku yang sekarang jadi asistenku itu.






"Sudah lama kenal Yadi?" tanyanya pada Edo.


"Sudah bertahun-tahun, Mbak," sahut Edo dengan sikap sopan.


"Udah punya anak berapa?" tanya Mbak Lies lagi. Langsung menebak bahwa Edo sudah punya istri.


"Baru seorang."


"Istrinya di sini juga?"


"Iya, tapi jauh dari sini. Perjalanan enam jam kalau naik mobil."


"Istrinya pasti cantik ya?"






Aku mau nyeletuk, bahwa MbakLies lebih cantik daripada istri Edo. Tapi gak jadi, takut Edo tersinggung.




Dan Edo menjawab singkat, "Biasa aja, Mbak."






Mbak Lies memandangku, lalu memandang Edo, seperti membandingkan antara aku dengan sahabatku itu.




Selesai makan, kami langsung menuju hotel.




Seorang bellboy menjinjing kedua tas kami ke arah kamar yang sudah dibooking oleh Edo. Sementara Edo kusuruh duduk dulu di lobby.




Setelah berada di dalam kamar, kudekati Mbak Lies yang tampak keringatan, meski sudah berada di dalam kamar yang ACnya cukup dingin.






"Gimana? Mbak udah izinkan Edo gabung sama kita?" tanyaku sambil memeluknya dengan mesra.


"Gak ah," Mbak Lies menggelengkan kepalanya.


"Gak?" aku tercengang dan kecewa sekali, "Beneran gak?"


"Iya. Gak menolak," sahut Mbak Lies sambil mencubit perutku.


"Hahahaaaa....Mbak memang kekasihku yang selalu mengikuti keinginanku," katakusambil mengecup pipi dan bibirnya.


"Tapi janji ya...jangan campakkan aku nnti."


"O my God ! Jangan punya pikiran seperti itu Mbak sayang...." lagi-lagi kukecup pipi dan bibir Mbak Lies, "Justru acara itu untuk membuat Mbak puas sepuas-puasnya. Dan gairahku akan menggila nanti. Buktikan aja sama Mbak anti."


"Mmm...kamu bikin aku makin horny aja Yad. Tapi aku mau mandi dulu ya. Gak enak keringetan gini. Bekas di rumah makan tadi."


"Iya. silakan," sahutku dengan perasaan senang dan bergairah, "Edo panggil ke sini aja ya."


"Terserah...dan iiih, Yad...aku kok jadi degdegan gini sih?"


"Santai aja lah. Aku tak mungkin menjerumuskan Mbak. Bahkan aku selalu ingin memberikan yang terbaik buat Mbak."






Mbak Lies tersenyum, lalu mengeluarkan alat mandi dari dalam tasnya, lalu masuk ke kamar mandi sambil mengepit sehelai kimono berwarna putih polos.




Setelah Mbak Lies masuk ke kamar mandi, aku males turun ke lobby. Maka lalu kucall saja Edo, menyuruhnya naik dan masuk ke dalam kamar ini.




Tak lama kemudian Edo pun muncul, karena pintunya sudah kubuka sebelumnya.




Pelan-pelan aku bilang, "Dia udah setuju. Tapi kita harus tetap bermain cantik ya. Ingat Do....gak ada tambang itu kalau gak ada dia."


"Iya Bang," sahut Edo, yang lalu disambung dengan bisikan, "Dia cantik dan sexy banget Bang..."






Lama juga Mbak Lies berada di dalam kamar mandi, sehingga aku dan Edo bisa mengatur strategi, supaya Mbak Lies tidak merasa dipaksa memasuki alam yang belum pernah ia masuki.




Ketika Mbak Lies keluar dari kamar mandi dalam kimono sutra putih polosnya, aku langsung berdiri dan menghampirinya. Lalu kupeluk ia dari belakang sambil menghadapkannya ke arah Edo.




"Lihat Do...kekasih hatiku ini cantik sekali kan?" kataku.


"Iya Bang. Luar biasa cantiknya."


Lalu aku berbisik ke telinga Mbak Lies, "Mbak...aku udah horny berat nih...langsung aja ya?"




Mbak Lies menoleh padaku. Bertanya perlahan, "Edo gimana?"




"Biar dia nonton aja dulu," bisikku, "Kan nanti juga dia dapat giliran. Atau dia disuruh duluan?"


"Terserah..." sahut Mbak Lies hampir tak terdengar.


"Oke, aku malah seneng nonton dulu. Kita suruh dia duluan aja ya," bisikku.


"Aku degdegan Yad..." sahut Mbak Lies sambil memelukku erat-erat.


"Jangan kayak anak kecil yang mau disuntik dong, nanti boleh Mbak hentikan kalau emang gak menyenangkan."






Mbak Lies tidak menjawab. Tapi kulihat matanya berkali-kali melirik ke arah Edo yang sedang duduk di sofa.






"Do...!" panggilku.


"Ya Bang..." Edo bangkit dari sofa dan menghampiriku. Pada saat itulah aku mulai beraksi, melepaskan tali kimono Mbak Lies. Aku tahu saat itu Mbak Lies tidak mengenakan bra. Maka ketika kubuka kimononya, payudara langsung tampak di mataku dan mata Edo. Semuanya ini membuatku semakin sayang kepada Mbak Lies. Karena ia selalu mengikuti apa pun yang kuinginkan.


"Ayo Do, kita manjakan dia. Kita harus membuat hari ini sebagai hari yang terindah buat Mbak Lies," kataku sambil melemparkan kimono putih itu ke atas meja kecil di samping tempat tidur. Sementara Mbak Lies cuma tinggal mengenakan celana dalam.


"Wah...lutut saya jadi gemetaran gini Bang...Mbak ini sangat mulus dipandang dari arah mana pun."






Aku tersenyum, sementara Mbak Lies masih tampak salah tingkah. Lalu aku meraihnya ke atas tempat tidur. Aku duduk bersila di tempat tidur pada bagian kepala. Sementara bantalnya kuletakkan di atas pahaku. Kutepuk bantal itu sambil berkata kepada Mbak Lies, "Mbak rebahin kepalanya di sini. Supaya aku tetap bisa memanjakan Mbak."




Mbak Lies menurut juga. Ia terlentang dan merebahkan kepalanya pada bantal di atas pahaku. Aku pun langsung menyambutnya dengan menangkap dan meremas sepasang payudaranya, sambil berkata kepada Edo, "Ayo buka dulu dong pakaiannya ! Kan Edo yang akan duluan memanjakan Mbak Lies."




"Oooh...saya duluan?" Edo tampak kaget campur girang. Lalu ia menanggalkan pakaiannya sehelai demi sehelai, bahkan celana dalamnya pun ditanggalkan. Sehingga tampak batang kemaluannya yang sudah ngaceng itu.






Edo langsung merayap ke arah Mbak Lies. Sementara Mbak Lies kulihat memejamkan matanya. Mungkin ia masih malu-malu kepada Edo yang baru dikenalnya dua jam yang lalu, tapi sudah akan melakukan sesuatu yang mendebarkan.




Edo sudah beberapa kali kuajak threesome, sehingga ia tidak kaku lagi waktu merayap ke antara sepasang paha Mbak Lies yang sudah direnggangkan. Dan Edo mulai menjilati jari-jari kaki Mbak lies yang selalu bersih itu. Mbak lies membuka matanya sedikit. Tapi lalu terpejam lagi setelah aku meremas-remas payudaranya lagi dengan remasan lembut.




Namun tampaknya Mbak Lies pun sudah mulai mengikuti jalanku. Ketika Edo sedang menjilati betisnya, Mbak Lies membuka matanya dan berkata kepada Edo, "Lepasin dong celana dalamnya, biar jangan ganggu."






"Iya Mbak," Edo mengangguk dengan sikap sopan namun tampak semakin bergairah. Ditariknya celana dalam itu sampai terlepas dari kaki Mbak Lies.






Edo terpana...menatap kemaluan Mbak Lies yang sudah terbentang di depan matanya itu. Lalu dengan bersemangat Edo menjilati paha Mbak Lies...naik terus..naik terus sampai ke pangkalnya.




Tak berhenti cuma sampai pangkal paha Mbak Lies yang mulus itu. Jilatan Edo lalu merambah ke kelopak kemaluan Mbak Lies yang senantiasa tercukur rapi itu. Mbak Lies mulai tergeliat-geliat sambil memegangi kedua pergelangan tanganku yang tengah memainkan kedua pentil payudaranya. Dan Edo semakin intensif menjilati kemaluan Mbak Lies, sehingga Mbak Lies mulai mendesah-desah dan terpejam-pejam. Pastilah ia sedang merasakan sesuatu yang nikmat sekali, sehingga kedua pergelangan tanganku terkadang dicengkramnya kuat-kuat. Apalagi setelah Edo mulai menjilati kelentitnya...sepasang kaki Mbak Lies pun tampak terkejang-kejang dibuatnya.




Melihat kondisinya sudah seperti itu, aku pun laksana seorang instruktur, memberi instruksi kepada Edo, "Oke Do...sudah bisa dimasukkan. Tapi jangan dilepas di dalam ya...supaya jangan banjir itunya..."






"Iya Bang....sahut Edo sambil bergerak ke atas sambil memegang batang kemaluannya yang tampak sudah ngaceng sekali itu.






Dan ketika Edo sedang berusaha membenamkan tongkat kejantanannya ke liang kemaluan Mbak Lies...sebenarnya hatiku menjerit...cemburu...karena wanita yang kusayangi akan mulai disetubuhi oleh sahabatku. Tapi cemburu itu berbunga hasrat birahi yang mulai bergolak di dalam diriku, sehingga penisku juga mulai ngaceng berat. Tapi aku harus membiarkan Edo duluan menyetubuhi Mbak Lies, supaya pikiran Mbak Lies tidak berubah lagi.




Edo sudah berhasil membenamkan batang kermaluannya meski belum semuanya. Tapi ia tetap menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke dada Mbak Lies.




Pada saat itulah Mbak Lies menatap ke atas, ke arahku, sambil berkata lirih, seperfti mau menangis, "Yadi sayang...cium aku, sayang...cium aku...."




Meski agak susah, aku berhasil juga mengikuti keinginan Mbak Lies. Kucium bibirnya dengan hangat, sementara Edo sudah mulai mengayun batang kemaluannya, tapi tetap dalam posisi menahan tubuhnya dengan kedua tangannya yang ditekankan ke kasur.




Setelah ciumanku terlepas, Mbak Lies berkata perlahan, "Maafkan aku ya sayang. Semua ini kan keinginanmu."




"Iya Mbak. Mari kita nikmati aja semua ini," sahutku sambil mengelus rambutnya yang ikal dan panjang tergerai.






Sementara Edo mulai lancar mengenjot batang kemaluannya. Sehingga aku pun kembali bersila dian meletakkan kepala Mbak Lies di pangkuanku lagi.




Dan kini kubiarkan Edo menindihkan dadanya ke atas payudara Mbak Lies. Kubiarkan Edo menjilati leher Mbak Lies yang mulai mengkilap karena keringat. Bahkan terkadang Mbak Lies meraih leher Edo ke dalam dekapannya, lalu mereka berciuman dengan mesranya. Ketika aku melihat mereka berciuman, darahku selalu berdesir dibuatnya. Namun harus kurelakan, meski kecemburuanku merajalela di dalam jiwaku. Bukankah Edo juga merelakan Raisha untuk kunikmati sesering mungkin selama Raisha masih tinggal di rumahku?




Tapi "dosis"nya sekarang mungkin terlalu berat buatku. Karena aku bisa melihat dengan jelas maju mundurnya batang kemaluan Edo di dalam memek perempuan yang sangat kusayangi tak ubahnya istriku sendiri.




Mbak Lies mulai merintih dan mendesah, "Aaaaah..... aaaaaa....aaaaah.....aaaaaak... aaaaa.....aaaaaah...aaaaaaaaaaaa....aaaaaaaaaaaaaahh..."




Sepasang tangan Mbak Lies pun tak canggung lagi mendekap pinggang Edo, terjada meremas-remas bahu Edo, terkadang meremas-remas rambut Edo, sehingga rambut sahabat sekaligus asistenku itu jadi acak-acakan sekali.




Sebenarnya aku bisa saja meminta Mbak Lies mengubah posisi jadi doggy, supaya ia bisa menikmati persetubuhan dengan Edo sekaligus menyelomoti penisku yang sudah ngaceng berat ini. Tapi biarlah semuanya berjalan dulu. Aku ingin supaya persetubuhan Mbak Lies dengan Edo berjalan mulus, tanpa diganggu olehku. Bukankah sejak berangkat dari rumah aku berkeinginan agar Mbak Lies benar-benar menikmati persetubuhan bertiga ini?




Beberapa saat kemudian Mbak Lies tampak seperti sudah mau mencapai orgasme. Ia menggoyang pinggulnya dengan binalnya, lalu matanya terbeliak-beliak dan akhirnya terpejam....sekujur tubuhnya mengejang. Dan tanpa melontarkan kata-kata lagi ia melepaskan nafas panjangnya, "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah...."




Namun rupanya Edo pun sudah mau ejakulasi. Ia mengenjot batang kemaluannya dengan gerakan yang cepat dan mantap, lalu buru-buru ia mencabutnya dan meletakkannya di atas perut Mbak Lies....lalu moncong penisnya menyemprot-nyemprotkan air maninya ke atas perut dan payudara Mbak Lies....craaaaat....crooot.... creeeet....creeeet...creeeet....creeeet......!!




Edo buru-buru mengambil tissue basah dari meja kecil di dekat tempat tidur, kemuaian disekanya air mani yang bergenangan di atas perut dan payudara Mbak Lies itu.




Pada saat itulah aku cepat menelanjangi diriku sendiri, lalu naik ke atas perut Mbak Lies, sambil memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini.




Mbak Lies tersenyum ketika menatapku sambil berusaha membenamkan penisku ke memeknya. Ketika Edo bergegas menuju kamar mandi, aku berbisik pada Mbak Lies, "Dia ganteng dan menyenangkan toh?"




Mbak Lies tersenyum dan menyahut, "Yes...he is handsome. But you're still the best for me, honey."




AKu sudah berhasil membenamkan batang kemaluanku sepenuhya. Tapi aku masih berkata perlahan, "Nanti setelah aku ejakulasi, dia pasti siap maju lagi. Dan setelah dia ejakulasi lagi, aku siap maju lagi."


"Iya," sahut Mbak Lies, "menurut curhat para wanita di majalah-majalah kewanitaan, katanya kalau threesome begini, pihak lelaki akan terus-terusan horny waktu menyaksikan temannya menyetubuhi partnernya...lalu bisa terjadi persetubuhan lebih dari enam kali dalam semalam...betulkah begitu?"


"Iya," sahutku, "itulah salah satu keistimewaannya. Dan Mbak akan kami bikin puas yang benar-benar puas. Karena biar gimana juga hasil kerja dua orang tentu lebih baik daripada seorang."




Mbak Lies mencium bibirku dengan mesra,"Mmmm....mwuaaaaaaaaaahhhhh...", lalu berkata, "Ayo gerakin penismu sayang...aku udah horny lagi nih..."






Aku membalas ciuman itu dengan lumatan yang lama sekali, dengan pelukan yang ketat sekali, sementara penisku sudah kugenjot lagi tak ubahnya pembalap sepeda yang sedang beraksi di jalanan...awalnya perlahan, makin lama makin cepat.




Mbak Lies pun ah-oh lagi...sementara Edo sudah keluar lagi dari kamar mandi. Maka aku hentikan dulu pergerakan batang kemaluanku sambil mengajukan usul agar persetubuhanku dengan Mbak Lies dilanjutkan dalam posisi doggy. Tapi Mbak Lies menyahut dengan bisikan, "Nanti aja kalau sedang dengan Edo main doggynya. Biar bisa sambil ciuman sama kamu atau sambil ngemut tititmu."




Oke deh. Posisi klasik gini juga enak, pikirku.




Dan aku seolah ingin membuktikan kepada Mbak Lies, bahwa aku lebih perkasa daripada Edo.




Maka sambil melumat bibit Mbak Lies, penisku mulai ganas mengenjot liang vagina istri abangku itu.






"Yadi...oooh...Yadiii....oooh..*** sama kamu kok enak mulu, Yad...." Mbak Lies mulai berceloteh, sementara Edo sudah menghampiri kami dalam keadaan masih telanjang bulat. Sepintas kulihat penisnya masih terkulai, karena baru ejakulasi tadi. Tampaknya Mbak Lies juga tahu itu. Karena ketika Edo sudah duduk di dekatku yang sedang menyetubuhi Mbak Lies, perlahan-lahan tangan Mbak Lies merayap ke arah penis Edo. Lalu memegangnya. Lalu meremasnya. Sementara aku masih tetap asyik mengayun batang kemaluanku.




Lebih dari setengah jam aku menyetubuhi Mbak Lies, sementara kulihat penis Edo sudah tegang kembali, mungkin karena menyaksikan persetubuhan kami, mungkin juga akibat remasan Mbak Lies tadi.






"Ayo sayang...kita...kita barengin yok...jangan dilepas di luar..." cetus Mbak Lies terengah-engah.






Tadinya aku ingin melepaskan air maniku di luar memek Mbak Lies. Tapi mungkin Mbak Lies ingin menikmati enaknya mencapai klimaks bareng-bareng. Maka untuk menuruti keinginan Mbak Lies itu kupercepat ayunan batang kemaluanku, sambil meremas-remas payudara Mbak Lies.




Mbak Lies makin menggila mengayun pinggulnya, dengan gerakan seolah ingin menggesekkan kelentitnya dengan penisku. Terkadang pinggulnya menghentak-hentak dari atas ke bawah, terkadang seolah membuat angka delapan.






Dan akhirnya Mbak Lies mencengkram bahuku sambil meraung tertahan, "Yad...ayo barengin sayang...aku udah mau lepasssssssssssssss....Yaaaaaaaaaaaaadiiiii...."






Lubang kemaluan Mbak Lies terasa mengejut-ngejut pada saat kubenamkan penisku sedalam-dalamnya...sambil memuntahkan air maniku.




Pada saat itulah aku dan Mbak Lies saling cengkram....sama-sama mengejang dan sama-sama mencapai puncak kenikmatan kami.




Mbak Lies benar-benar terkapar, semoga ia mendapatkan kepuasan yang sejati. Namun ketika aku melirik ke arah Edo...wah...tampaknya ia sudah siap tempur juga. Maka ketika mata Mbak Lies masih terpejam, saat itulah aku dan Edo bertukar tempat. Begitu kucabut batang kemaluanku yang mulai melemah, Edo langsung memasukkan tongkat kejantanannya ke dalam liang kemaluan Mbak Lies, tanpa peduli masih banjirnya liang itu dengan air maniku.




Sambil tersenyum ke arahku, Edo mulai mengayun batang kemaluannya. Barulah Mbak Lies sadar bahwa aku sudah menjauh dan Edo mulai menyetubuhinya lagi.






"Iiiih...Edo...tadinya mau dicuci dan dilap dulu memeknya, biar jangan becek gini," kata Mbak Lies kepada Edo.


"Gak usah Mbak, begini juga enak kok," sahut Edo yang malah semakin mempergencar entotannya.






Lalu kulihat Mbak Lies mulai bergairah lagi ketika gerakan maju-mundurnya penis Edo begitu lancarnya, seolah pelari yang sedang sprint.




Dan aku turun dari tempat tidur, melangkah ke kamar mandi. Lalu mandi dengan air hangat, membersihkan setiap sela di tubuhku dengan sabun sebersih-bersihnya. Sehingga aku merasa segar kembali. Lalu menghanduki tubuhku sampai kering dan kembali menghampiri tempat tidur.




Rupanya Mbak Lies mewujudkan kata-katanya tadi. Begitu keluar dari kamar mandi, aku melihat mereka sudah dalam posisi doggy. Bukankah tadi Mbak Lies bilang akan melakukan posisi doggy supaya bisa sambil mengemut penisku?




Aku pun naik lagi ke atas tempat tidur dan duduk persis di depan Mbak Lies yang tengah menungging, sementara Edo tampak asyik mengentotnya dari belakang.




Tampaknya Mbak Lies cukup mengerti apa yang harus dilakukannya. Meski sambil terpejam-pejam (pasti karena sedang merasakan enaknya digenjot oleh Edo dari belakang), Mbak Lies cepat mendekatkan mulutnya ke penisku yang sudah digenggamnya. Lalu dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya. Sesaat kemudian kurasakan selomotannya yang begitu binalnya...sehingga dengan cepat batang kemaluanku menegang kembali.




Sepertinya Mbak Lies ingin membuatku sangat terangsang oleh selomotan mulutnya. Dan ia berhasil. Dalam tempo singkat batang kemaluanku sudah menegang kembali. Tapi Mbak Lies tetap menyelomotinya, karena memeknya masih dipakai oleh Edo.




Akhirnya Edo ejakulasi juga. Tapi dia tetap konsisten pada instruksiku tadi. Air maninya ditembak-tembakkan ke atas bokong dan punggung Mbak Lies. Lalu buru-buru dia mengambil tissue basah dan mengelap[ bagian tubuh Mbak Lies yang tersemprot air maninya.




Mbak Lies buru-buru turun dari tempat tidur. Lalu melangkah menuju kamar mandi. Terdengar suara pipis Mbak Lies, membuatku tersenyum. Edo juga.






"Bang...saya harus segera ke pelabuhan malam ini. Ada bongkar muat di laut. Dua vessel menunggu yang untuk tujuan Korea. Gimana? Boleh saya pamit sekarang?" tanya Edo sambil meraih pakaiannya. Aku cuma menjawabnya dengan anggukan kepala.






Mbak Lies pun muncul lagi dari kamar mandi, masih dalam keadaan telanjang bulat.




Setelah mengenakan pakaiannya, Edo pamitan kepada Mbak Lies.






"Lho...kok malam-malam gini udah mau pulang? Takut ditegor sama istrinya ya?" cetus Mbak Lies waktu Edo sudah mencium bibirnya (atas isyarat dariku, agar Mbak Lies dicium dulu).


"Bukan," sahut Edo, "Saya mau ke pelabuhan, mau ngawasi pemuatan batubara ke tongkang-tongkang. Bukan mau pulang ke rumah, Mbak."


"Iya," selaku, "di musim hujan begini harus pandai-pandai pilih waktu. Kalau malam gak ada hujan, ya malam juga bongkar muatnya, terutama dari tongkang ke atas vessel. Apalagi sekarang, sedang mempersiapkan untuk pengiriman ke Korea. Kalau terlambat ngirimnya, bisa kena claim."


"O, gitu..." Mbak Lies mengangguk-angguk.






Aku mengantarkan Edo sampai lobby. Sekaligus berpesan agar besok dikondisikan, supaya Leo ditugaskan ke tempat lain pada waktu aku dan Mbak Lies akan mengunjungi daerah pertambanganku. Karena Leo itu saudara sepupu Bang Yana juga. Dan Mbak Lies pasti kaget kalau lihat dia ada di daerah tambangku.




Setelah Edo berlalu, aku kembali ke kamar. Kulihat Mbak Lies sudah rapi lagi, sudah mengenakan kimono lagi, sambil menikmati makanan malam yang tadi dipesannya lewat telepon hotel.






"Asyik kan Mbak?" kataku sambil mencium pipinya yang terasa dingin, karena habis mandi.




Mbak Lies menoleh padaku, dengan senyum manisnya. "Kamu kayaknya bersahabat banget sama Edo ya?"




"Iya Mbak. Kami sudah seperti dua saudara yang selalu kompak dalam segala hal. Kami malah sering swinger sama dia..." kataku yang lalu membuatku kaget sendiri, karena keceplosan bicara.


"Jadi...Erni sama dia, lalu istrinya sama kamu, gitu?" tanya Mbak Lies dengan pandangan seperti menyelidik.


"Iya...dahulu...sebelum kita punya hubungan gini," sahutku, "Gimana kesannya tadi Mbak? Dahsyat kan?"




Mbak Lies mengangguk dan tersipu.




"Kalau gak kasihan sama Mbak, tadi aku dan Edo bisa masing-masing tiga kali. Jadi semalam ini bisa enam kali Mbak Lies kami puasi," kataku.


"Weeeh...ini aja udah capek gini, apalagi kalau harus meladeni kalian enam kali."


"Tapi aku baru sekali lho Mbak."


"Iya...kalau sama kamu sih sepuluh kali lagi juga aku ladenin," kata Mbak Lies sambil melepaskan klimononya.






Aku pun menanggalkan semua pakaian yang masih melekat di tubuhku.




Ketika batang kemaluanku membenam ke dalam liang kewanitaan Mbak Lies, masih sempat aku berkata, "Besok malam Edo kita panggil lagi ke sini. Mudah-mudahan besok dia bisa menginap di sini. Biar seru. Mbak siap-siap aja besok..."




"Nanti kalau aku ketagihan gimana ayo? Masa kita harus ke Banjarmasin trus-terusan?"


"Edo wajib datang ke kantorku tiga bulan sekali. Kita bisa manfaatkan waktunya di sana nanti. Atau dengan teman-teman di sana juga bisa. Malah ada teman seSMAku di sana. Jauh lebih tampan daripada Edo."


"Gak ah. Sama orang sekota sih aku gak mau. Takut heboh ke mana-mana beritanya," kata Mbak Lies, "Ayo mainin...mau direndam terus sampai pagi?"


"Hihihiii...." aku tertawa kecil, lalu mulai beraksi menyetubuhi Mbak Lies.








BERSAMBUNG 







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar