Bab 7
Lalu suamiku membahas masalah Herman panjang lebar. Tentang bahayanya kalau Herman sampai pindah kerja ke perusahaan lain, karena sudah tahu banyak rahasia perusahaan suamiku. Dan suamiku sangat berharap bantuanku, dengan cara menjebak Herman ke dalam pelukanku, agar tetap bertahan di perusahaan suamiku.
Kemudian suamiku menguraikan skenario penjebakan Herman besok. Dan aku cepat memahaminya.
Apakah aku merasa dimanfaatkan oleh suamiku untuk kepentingan bisnisnya? Jujur saja, aku tidak merasa dimanfaatkan. Aku bahkan dengan senang hati akan melaksanakan skenario itu, karena aku sendiri sudah terobsesi oleh mimpi itu. Mimpi disetubuhi oleh Herman itu. Maka dengan adanya saran suamiku untuk melaksanakan kejadian dalam mimpi itu ke dalam kenyataan, aku benar-benar seperti diberi jalan.
Maka kupersiapkan diri sambil menunggu kedatangan Herman yang kata suamiku akan datang besok sore. Sementara suamiku akan "menghilang" dari rumah sebelum Herman datang.
Tepat seperti yang dikatakan oleh suamiku, besok sorenya Herman datang. Dan aku sudah "mempersiapkan" diriku, dengan mandi sebersih-bersihnya dan mengenakan kimono, seperti biasa.
Memang dengan pakaian yang lebih perlente jika dibandingkan dengan waktu ia masih menjadi sopirku. Aku pun harus mengakuinya secara jujur, bahwa kini Herman jadi ganteng. Tak seperti waktu masih jadi sopir, yang senantiasa tampak lusuh.
"Herman ?!" kataku pura-pura kaget dan heran, sambil memegang kedua bahu Herman, "Kamu kok jadi ganteng gini, Man?"
"Masa sih Bu? Hehehee...." sahut Herman dengan sikap malu-malu, "Boss ada Bu?"
"Dia ada urusan mendadak di luar kota. Tadi dia bilang kalau ada Herman, suruh nginap aja di sini, suruh menunggu sampai dia datang. Duduklah..." kataku sambil meraih pergelangan tangannya. Dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
Ini untuk pertama kalinya aku meraih-raih tangannya segala. Pada waktu ia masih menjadi sopirku dahulu, tak pernah aku memperlakukannya seperti itu.
"Aku kangen banget sama kamu, Man," kataku sambil duduk di samping Herman.
"Hehehee...sama Bu...saya sih sampai termimpi-mimpi...rasanya seperti masih jadi sopir di sini..."
"Ohya? Mimpiin aku gak?" tanyaku sambil memegang tangannya.
"Se...sering..." sahut Herman tergagap.
"Man...percaya gak? Aku malah pernah mimpi gituan sama kamu," kataku sambil menepuk lutut mantan sopirku.
"Gi...gituan gi...gi...gimana Bu?" tanya Herman tergagap.
Tanpa ragu kudekatkan mulutku ke telinga Herman, lalu menjawabnya dengan bisikan, "Mimpi bersetubuh sama kamu...."
Herman terbelalak, "Masa sih Bu?"
"Iya," sahutku, "dan rasanya enaaaak banget Man..."
Herman cuma terlongong.
"Kamu pernah mimpi bersetubuh sama aku gak? Ayo ngaku aja terus terang...."
"Per...pernah Bu...heheheeee...Ibu bikin saya malu aja...."
"Hmmm...emang selama di Kalimantan gak dapet cewek?" tanyaku sambil merayapkan tanganku ke ritsleting celana Herman.
"Saya kan tugasnya di tengah hutan. Mana ada cewek, Bu?"
"Jadi selama di Kalimantan ngapain aja?"
"Kerja aja Bu. Sama sekali gak mikirin cewek. Oooh...Bu...." Herman tampak gelagapan ketika aku sudah berhasil menyelusupkan tanganku ke balik celana dalamnya dan menyentuh batang kemaluannya.
Dan sesuatu yang kuanggap aneh menjadi kenyataan. Penis Herman persis seperti dalam mimpiku, lebih panjang dan lebih besar daripada penis suamiku ! Bukankah ini sesuatu yang aneh bagiku? Bahwa yang kumimpikan kemaren, saat ini menjadi kenyataan semua. Bahwa Herman jauh lebih ganteng daripada waktu masih jadi sopirku. Dan bahwa penis Herman benar-benar aduhai, seperti dalam mimpiku.
"Langsung ngaceng gini, Man," kataku sambil meremas-remas batang kemaluan Herman yang masih berada di balik celana dalamnya. Dan kubisiki telinganya, "Kita wujudkan mimpi kita yuk..."
"I...iya Bu....di...di mana?" Herman menatapku dengan sorot ragu.
"Di atas aja yuk," ajakku sambil bangkit dan memegang tangan Herman, lalu mengajaknya menuju kamar di lantai atas.
Di kamar tengah lantai atas, tanpa ragu lagi kupeluk pinggang Herman sambil mendekatkan bibirku ke bibirnya. Tapi Herman malah berkata, "Saya takut Boss tiba-tiba datang..."
"Jangan takut. Dia baru pulang besok malam," sahutku sambil memagut bibirnya, lalu melumatnya dengan sepenuh gairahku. Dan ciuman itu kuiringi dengan penurunan celana panjang dan celana dalam Herman. Karena aku sudah penasaran, ingin segera melihat seperti apa bentuk penisnya itu.
Setelah celana panjang dan celana dalam Herman terjatuh ke lantai, wooow...memang luar biasa alat kejantanan anak buah suamiku itu. Dilihat sepintas saja aku bisa menilai bahwa penis Herman itu jauh lebih panjang-gede daripada penis suamiku.
Sungguh tak kusangka kalau lelaki muda yang sudah kukenal bertahun-tahun itu ternyata memiliki alat kejantanan yang demikian gagahnya.
"Ini diapain, Man?" kataku sambil memegang batang kemaluan Herman yang sudah tegang ini, "Kok bisa panjang gede gini....digedein pakai alat ya?"
"Gak Bu...hehehe...masa harus digedein pakai alat segala," sahut Herman mulai berani mengusap-usap pahaku yang tersembul di belahan kimonoku.
"Sebelum dimasukin, jilatin dulu ya memekku," kataku setengah berbisik ke telinga Herman, "Kalau langsung dimasukin pasti sakit."
"Iya Bu..." Herman makin berani. Melepaskan tali kimonoku, lalu menanggalkan kimonoku, sehingga aku tinggal mengenakan celana dalam saja, karena sejak tadi aku tidak mengenakan bra.
Di kamar tengah lantai atas ini, tidak ada hamparan kasur di atas karpet lagi. Yang ada cuma sofa-sofa dan beberapa perabotan lainnya.
Ketika aku duduk di atas sofa, Herman masih kelihatan kebingungan. Mungkin karena masih menganggapku istri bossnya. Tapi aku ingin mencairkan kecanggungan itu. Kuraih pergelangan tangan Herman, lalu menempelkan telapak tangannya di payudaraku sambil berkata, "Ayolah...lakukan apa yang kamu mau, Man."
"I...iya Bu...terus terang aja, saya ma...masih merasa se...seperti bermimpi," kata Herman
"Jangan buang-buang waktu, Man. Nanti kamu nyesel lho..." sahutku sambil merengkuh lehernya ke dalam pelukanku, sehingga wajahnya terjerembab ke atas payudaraku.
Dan ia mulai mengulum pentil buah dada kiriku, tak ubahnya bayi yang sedang menetek pada ibunya. "Nah gitu dong...mmmm....enak Man....iya.....aku jadi semakin horny nih..." bisikku sambil berusaha memegang batang kemaluan Herman yang dahsyat itu.
Setelah terpegang, kuremas dengan lembut batang kemaluan yang sudah tegang itu. Lalu kataku, "Lepasin dulu dong bajumu, Man. Kalau gak telanjang kurang sip."
Herman mengangguk, lalu menanggalkan kemeja tangan pendeknya. Pada saat yang sama kulepaskan pula celana dalamku, sebagai satu-satunya benda yang masih melekat di tubuhku.
Herman yang sudah telanjang bulat, terpana menyaksikan tubuhku yang sudah telanjang ini. Lalu terdengar suaranya, "Ooooh...tubuh Ibu...luar biasa mulusnya...."
"Emangnya tubuh mantan istrimu gak mulus?" tanyaku sambil duduk mengangkang dan sengaja mengelus-elus kemaluanku sendiri.
"Mantan istri saya banyak noda di paha dan perutnya....tidak seperti tubuh ibu ini, mulus sekali," kata Herman sambil mengelus perutku dengan lembut.
"Tapi kalau kamu perhatikan, nih...ada bekas operasi cezar di perutku. Hanya saja sudah dihilangkan sedikit demi sedikit di salon langgananku," kataku sambil menunjuk ke bekas sayatan cezar dahulu.
"Ah...gak begitu kelihatan, Bu...cuma samar-samar," kata Herman sambil menciumi pusar perutku.
Kemudian Herman mulai menjadi seorang lelaki muda yang aktif. Usianya yang baru 27 tahun terasa sudah sangat berpengalaman, karena ia pernah beristri meski cuma dua tahun saja.
Ketika mulut Herman mulai menerkam kemaluanku, dengan lidah terjulur menjilati celah kemaluanku, oooooh...ini nikmat sekali. Terlebih ketika ia menjilati kelentitku yang sangat peka ini, luar biasa geli-geli enaknya !
Sambil menjilati kemaluanku, kedua tangan Herman menjadi alas bokongku...terasa remasan-remasannya semakin kencang ketika jilatannya semakin mengganas. Ini membuatku terkejang-kejang dalam nikmat yang tiada bandingannya. Mulutku pun mulai menceracau tak menentu, tanpa bisa dikendalikan lagi,
"Oooohhhh...Maaaan...enak banget Maaaan....ooooh....iya Maaaan...iyaaaaaaaa....itilnya jilatin terus Maaaan....naaah...iya itu...jilatin terus yang kuat Maaaan...oooh...ini enak banget Maaaan.....ooohhhhhhhhhhhhhhhhhh.... iyaaaaaaaaaaaa...ooooooooohhhhhhhhhhhh.....aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh...."
Gila...saking enaknya jilatan Herman, aku tak kuasa lagi menahan arus kenikmatanku, sehingga liang kemaluanku terasa berkedut-kedut dan akhirnya terasa membasah. Pada saat berikutnya, kuajak Herman untuk melanjutkannya di kamar yang sebelah kanan.
Lalu bergegas kami masuk ke kamar itu. Dan aku duluan melompat ke atas tempat tidur, lalu menelentang dan merentangkan kedua kakiku selebar-lebarnya.
Sambil memegang batang kemaluannya yang sudah ngaceng itu Herman naik ke atas tempat tidur dan bertanya, "Masukin aja Bu?"
"Ya iyalah. Emangnya mau dipelototin doang?" sahutku sambil menarik batang kemaluan Herman agar menempel ke mulut memekku.
Dan...ketika Herman mulai mendesakkan batang kemaluannya yang sangat gede dan panjang itu...ooooh...terasa benar melesak sedikit demi sedikit ke dalam lubang kemaluanku yang sudah basah ini.
"Duuuuh...kontolmu edan, Man...gede banget....." cetusku sambil mendekap pinggang Herman yang bertubuh tinggi tegap itu.
Dan ketika Herman mulai menggeser-geserkan batang kemaluannya di dalam jepitan lubang kewanitaanku, oooh nikmatnya ! Terasa sekali dinding liang kemaluanku digesek-gesek oleh penis Herman dengan kuatnya.
"Oooh...Man...Maaaan...enak banget, Maaan..." kataku sambil berusaha menggoyang pinggulku ketika Herman sudah benar-benar mengentotku.
Herman menjawabnya dengan bisikan, "Memek Ibu masih rapet gini, seperti memek gadis aja...ooooh...enak sekali, Bu...."
"Aku kan dioperasi cezar, Man...memekku belum pernah ngeluarin kepala bayi..." sahutku sambil menarik kepala Herman agar mulutnya menempel ke pentil buah dadaku, "sambil sedot-sedot tetekku, Man...biar lebih enak...nah...gitu...iya, sambil jilatin pentilnya Man...ooooh...jadi makin enak Maaaan....Maaaan...iyaaaa...entot terus Maaaaan....ooooh...ini enak sekali Maaaaan...."
Makin lama penis Herman semakin lancar menggenjot liang kemaluanku. Sehingga batinku serasa melayang-layang di langit biru yang indah sekali.
Jujur, aku merasa persetubuhanku dengan Herman ini ternikmat di antara persetubuhan-persetubuhan yang pernah kualami. Aku tidak tahu apakah ini karena ukuran penis Herman yang aduhai, atau memang aku pas sudah cukup lama tidak digauli lelaki lain kecuali suamiku sendiri. Entahlah. Yang jelas, ketika Herman sedang mantap-mantapnya mengentotku, aku sudah terkejang-kejang di puncak orgasmeku yang kedua kalinya. Puncak orgasme yang membuatku lupa daratan. Sementara kepala penis Herman terus-terusan menyundul-nyundul ujung liang kewanitaanku, sehingga aku bukan cuma terkejang-kejang dibuatnya Kuremas-remas rambut Herman sampai acak-acakan sambil merintih histeris, "Maaaan....aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh...aku mau lepas lagi, Maaaaaaaaaan... aaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh......"
Aku berkelojotan. Lalu menggeliat dengan nafas tertahan. Dan akhirnya kucapai puncak yang sangat indah itu. Puncak kenikmatanku yang luar biasa indahnya. Sementara Herman tetap mengayun batang kemaluannya di dalam liang kewanitaanku yang sudah mulai dibanjiri lendirku sendiri ini.
"Uuuuh....istirahat dulu sebentar, Man," kataku sambil menahan bokongnya agar tidak menggerakkan penisnya dulu, karena keringatku sudah membasahi leher dan dadaku.
Tapi Herman malah menjilati keringat di leherku, di dadaku dan bahkan juga di ketiakku. Aku merinding-rinding dalam nikmat dibuatnya.
"Nanti kalau saya mau lepas, lepasin di mana Bu?" tanya Herman sambil mengelus payudaraku dengan lembut.
"Di dalam juga gakpapa. Aku kan ikut KB," sahutku, "Mmm...bagusnya malah dibarengin nanti ya."
"Iya Bu," desis Herman sambil menggerak-gerakkan lagi batang kemaluannya, maju mundur dengan perlahan...makin lama makin cepat. Keletihanku juga sudah hilang. Malah jadi bersemangat lagi untuk meladeni ayunan batang kemaluan Herman, dengan goyangan pinggulku sebinal mungkin.
Edan memang kelakuan kami saat itu. Aku dan Herman sama-sama seperti yang sedang kerasukan. Herman mengentotku dengan mata yang menjadi beringas, dengan ayunan batang kemaluan yang garang pula, sementara aku pun menggoyang pinggulku sebinal mungkin, dengan remasan dan terkadang cakaran di bahu Herman.
Aku merintih-rintih sejadi-jadinya, sementara Herman pun mendengus-dengus di atas perutku.
Terlebih setelah aku meletakkan kedua kakiku di bahu Herman, sehingga Herman bisa membenamkan batang kemaluannya sedalam-dalamnya. Membuat ujung liang kemaluanku terus-terusan disundul-sundul oleh moncong penis Herman yang gagah perkasa itu.
Dan aku menceracau terus tanpa bisa dikendalikan lagi, "Duuuh Maaaan...kontolmu panjang banget...terasa nonjok-nonjok terus...iiiih...ini enak sekali Maaaan......aaaaahhh....aku sampai merinding-rinding gini saking enaknya Maaaaaaaan......iya....entot terus Man...jangan brenti-brenti, Maaaan...."
Herman pun berkata tersengal-sengal, "Memek Ibu juga...enak banget....ooooh....belum pernah sa...saya merasakan me...memek seenak ini Buuuu...oooooooohhhhhhh...."
Gila, makin lama makin menggila saja nikmatnya bersenggama dengan Herman ini. Sehingga aku tak mau berjaim-jaim lagi. Kupeluk lehernya dan kulumat bibirnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulku seedan mungkin, dengan gerakan meliuk-liuk dan menghentak-hentak. Akibatnya, kelentitku terus-terusan bergesekan dengan batang kemaluan Herman. Dan ini...wuiiih...nikmat banget !
Nikmat yang membuatku seolah melesat-lesat ke langit tinggi...langit yang ketujuh....langit birahi yang indah tiada bandingannya.
Sungguh aku tak menduga akan memperoleh kenikmatan dari Herman yang dulu hanya kuanggap sopir yang tak perlu mendapat perhatian khusus. O, kalau tahu begini, mungkin sejak lama aku meminta disetubuhi olehnya !
Dan ketika aku merasa akan mencapai orgasme lagi, terengah-engah aku berkata, "Man...aku udah mau lepas lagi....ayo barengin Man...biar enaak....oooh...iya...cepetin Maaan...Maaaan..."
Lalu kami jadi sama-sama beringas. Saling cengkram, saling remas....dan...oooh...ketika lubang kemaluanku berkedut-kedut nikmat di puncak kenikmatanku, Herman pun membenamkan batang kemaluannya sedalam-dalamnya, sampai terasa medesak ujung liang kemaluanku...lalu terasa moncong penisnya menembak-nembakkan cairan kental dan hangat yang begitu banyaknya, sampai meluap ke luar, terasa mengalir ke anusku. Ooooh...ini indah sekali !
Terasa Herman berkelojot di atas perutku. Kemudian mendengus dan terkapar dalam dekapanku.
"Gak nyangka, dientot sama kamu enak banget," kataku sambil mencubit hidung Herman dengan mesranya.
"Saya juga belum pernah merasakan yang seenak ini Bu. Huuuh...keringat saya sampai bercucuran gini," sahut Herman sambil mengusap-usapkan telapak tangan ke wajahnya yang bersimbah keringat.
Dalam keadaan masih telanjang, aku turun dari tempat tidur, "Mandi bareng yuk," ajakku.
Herman mengangguk dan mengikuti langkahku ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, tiada batasan lagi antara diriku dengan anak buah suamiku itu. Bahkan dengan mesranya kami saling menyabuni di bawah semburan shower air panas. Bahkan ketika Herman menyabuni kemaluanku, ketika jemarinya sering menyelinap ke celah kemaluanku, ooo....aku jadi horny lagi. Maka aku pun membalasnya dengan menyabuni batang kemaluan Herman yang masih lemas itu. Lalu kuremas-remas dengan lembut, sirami lagi dengan sabun cair dan kukocok-kocok sebagaimana lazimnya lelaki bermasturbasi.
Tak lama kemudian batang kemaluan Herman sudah tegang lagi. Pada saat itulah aku berusaha memasukkannya ke dalam liang kemaluanku. Berhasil ! Dan Herman mengerti apa yang kuinginkan saat itu. Lalu ia mulai mengayun batang kemaluannya di dalam jepitan lubang kewanitaanku. Sambil berdiri menyandar ke dinding, ternyata aku bisa mendapatkan kenikmatan lagi.
Bahwa aku bisa mendekap pinggang Herman, sementara ia mulai lancar menggenjot batang kemaluannya yang perkasa itu di dalam jepitan liang kenikmatanku.
Cukup lama kami bersetubuh dalam posisi berdiri di kamar mandi ini. Dan ketika Herman memuncratkan lagi air maninya di dalam kemaluanku, sebenarnya aku sudah duluan mencapai orgasme sebelumnya.
Lalu air hangat membilas tubuh kami yang sudah disabuni sebelum bersetubuh tadi.
Setelah menghanduki tubuhku dengan telaten, Herman pun menghanduki tubuhnya sendiri yang tinggi tegap itu. Kemudian kami keluar dari kamar mandi, menuju tempat tidur lagi, masih masih dalam keadaan sama-sama telanjang.
Herman memungut celana dalamnya yang tergeletak di lantai. Seperti mau mengenakan celana dalamnya lagi. Tapi kudorong dadanya sampai terlentang di atas tempat tidur.
"Gak usah pakai apa-apa. Kita tidur telanjang aja Man," kataku sambil menelungkup di atas tubuh Herman, sehingga terasa kemaluanku menghimpit penis Herman yang masih terkulai lemas itu.
Entah kenapa, aku jadi merasa sayang kepada anak buah suamiku itu. Mungkin karena ia telah memberi kepuasan yang berarti padaku. Maka tanpa ragu-ragu kuciumi bibir Herman, sambil mengelus rambutnya yang ikal.
"Masih kuat main lagi?" tanyaku sambil memegang batang kemaluan Herman yang masih terkulai letih itu.
"Kuat... tapi harus istirahat dulu sebentar Bu," sahut Herman sambil mempermainkan payudaraku yang bergantung-gantung di atas perutnya.
"Masa?" cetusku yang lalu kulanjutkan dengan mendekatkan mulutku ke batang kemaluan Herman yang sedang k
genggam ini.
"Bu..." desah Herman ketika dengan binal aku mulai menjilati moncong penisnya. Leher penisnya juga kujilati. Bahkan biji pelirnya tak luput dari jilatanku.
Lalu tanpa ragu lagi kukulum dan kuselomoti batang kemaluan "giant size" itu.
Dalam soal oral sex, jam terbangku sudah tinggi. Karena suamiku sering minta dioral kalau gairahnya sedang menurun.
Tak berapa lama kemudian "usahaku" mendapatkan "hasilnya". Batang kemaluan Herman membesar...memanjang dan menegang....! Makin lama makin tegang dan akhirnya kuanggap sudah siap tempur !
Aku tak mau buang-buang waktu lagi. Aku berjongkok dengan kemaluan berada di atas penis Herman yang sudah ngaceng itu.
Herman cuma senyum-senyum ketika aku sedang berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku. Meski sulit (karena saking besarnya penis Herman itu), akhirnya aku berhasil juga membenamkan penis perkasa itu ke dalam liang kenikmatanku.
Dan kini aku yang aktif menaik-turunkan pinggulku, sehingga lubang kemaluanku membesot-besot batang kemaluan Herman, sambil menahan tubuhku agar jangan ambruk ke dada Herman. Sehingga sepasang buah dadaku bergelantungan di atas dada Herman. Dan Herman tidak cuma diam pasif. Kedua payudaraku ditahannya dengan kedua telapak tangannya, sekaligus diremasnya dengan cara yang ngepas dengan keinginanku.
Tapi aku selalu saja cepat mencapai orgasme kalau bersetubuh dalam posisi di atas seperti ini. Dan belasan menit kemudian aku memekik lirih dalam nikmat yang tak terperikan. Berkelojotan di puncak nikmatku, kemudian terkapar di atas perut Herman.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar