Bab 6
Acara "reuni 3 pasang" yang kedua itu kuanggap kurang sukses. Mungkin karena kelemahan Tommy itu penyebabnya. Tapi aku tak mau menceritakan kekurangan temanku sendiri. Karena itu aku ingin memantau tulisan istriku saja. Mungkin ia lebih objektif menulisnya, terutama mengenai kelemahan Tommy itu.
Yang jelas aku sendiri terkesan dengan kehadiran Dyah itu. Tapi beberapa hari kemudian aku lalu sadar bahwa istriku lebih terkesan lagi, seperti kubaca dari pengakuan di catatan hariannya itu :
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Alangkah indahnya alam yang telah suamiku bentangkan ini. Bahwa aku bisa melampiaskan hasratku kepada lelaki-lelaki yang kusukai. Meski demikian, aku tetap mencintai suamiku dengan sepenuh hati. Dan semua yang kudapatkan dari lelaki lain, kuanggap sebagai hiburan semata.
Tapi benarkah aku menganggap Joseph sebagai sosok penghiburku belaka?
Entahlah. Suamiku juga tahu bahwa di antara para peserta reuni di puncak dahulu itu, yang paling kusukai adalah Joseph. Terus terang, melihat gerak-geriknya saja aku suka. Terlebih jika ia sedang mencium bibirku, rasanya sekujur batinku jadi hangat dan indah.
Karena itu dengan sejujurnya aku memilih Joseph untuk menjadi tambahan peserta dalam acara wife swap di villa itu.
Maka ketika aku dan Joseph sudah masuk ke dalam kamar, kulampiaskan desir-desir hasratku dengan pelukan hangat dan senyum manisku. Yang lalu ditanggapi dengan ciuman mesra Joseph...ciuman yang selalu mampu menggetarkan nuraniku.
"Aku kangen banget, Jos," kataku setengah berbisik setelah ciuman Joseph terlepas.
"Sama," sahut Joseph sambil menyunggingkan senyum di bibirnya. Senyum yang selalu.
Dan...ketika Joseph mengajakku duduk di sofa...ketika tangan Joseph mulai merayapi lutut dan pahaku, aneh...baru disentuh begitu saja hasratku langsung berdesir-desir. Terlebih lagi setelah ia melengkapi elusan hangatnya itu dengan kecupan, jilatan dan lumatannya di seputar leher dan wajahku.
O, Joseph yang tampan dan romantis...aku sepenuhnya runtuh ke kaki kejantananmu! Baru tersentuh sedikit pun hasratku langsung berdesir. Apalagi setelah Joseph merebahkanku di atas tempat tidur, dengan kecupan dan gigitan-gigitan kecil di leherku, di payudaraku dan bahkan di ketiakku. Oh, Joseph...ini indah sekali !
Maka ketika Joseph menanggalkan gaunku, rasanya hasrat birahiku sudah makin memuncak. Terlebih setelah ia menanggalkan behaku, lalu mencelucupi pentil payudaraku, oh....aku pun tak kuasa lagi menahan nafsuku. Maka dengan penuh hasrat, kutarik ritsleting celana panjang Joseph. Lalu kumasukkan tanganku ke dalamnya. Kugenggam tombak kejantanannya dengan penuh gairah.
Pada saat yang sama, tangan Joseph pun sudah berada di balik celana dalamku. Dan ketika aku mulai meremas-remas penisnya yang sudah menegang itu, jemari Joseph pun sudah menyelusup-nyelusup ke dalam liang kemaluanku. Oooh...permainan sederhana ini tidak kecil artinya bagiku. Karena api birahiku dibuat berkobar dengan hebatnya. Membuat liang kemaluanku basah. Sehingga tanpa malu-malu aku membisiki telinga Joseph, "Mulai aja Jos...aku udah horny berat...."
Joseph mengangguk dengan senyum. Lalu menelanjangiku, kemudian menelanjangi dirinya sendiri. Dan menerkamku dengan hangatnya. Aku langsung memegang batang kemaluannya dan kuarahkan agar pas menuju lubang kemaluanku. Lalu kukedipkan mataku sebagai isyarat agar ia mendorong. Dan ia melakukannya. Mendesakkan batang kemaluannya sampai membenam ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah ini.
Ooooh...untuk kesekian kalinya aku merasakan nnikmat yang luar biasa. Nikmat yang membuatku inegin menciumi bibir Joseph, ingin memeluk pinggang Joseph seerat-eratnya, seolah tak mau renggang lagi sedikit pun. Terlebih setelah kurasakan gesekan-gesekan dari batang kemaluan Joseph yang mulai diayun perlahan...makin lama makin mantap...makin mantap lagi....sungguh nikmat rasanya. Membuat mataku kadang terbuka kadang terpejam.
Dahulu aku menganggap sex hanya kembang kehidupan. Boleh ada boleh tidak. Tapi sekarang aku menganggap sex sebagai suatu kebutuhan. Yang membuatku semakin ketagihan.
Mungkin karena aku sudah terlalu kangen kepada Joseph, sehingga birahiku seolah bom yang siap meledak setelah detonatornya dinyalakan.
Baru beberapa menit Josesph menyetubuhiku, aku langsung merasakan seperti melesat ke angkasa...yang membuatku terkejang-kejang sambil menahan nafas dalam nikmat yang tiada taranya, membuatku memekik perlahan, "Ooooh....oooooooooohhh, Jooooosssssss..........."
Tampaknya Joseph mengerti apa yang terjadi pada diriku. Ia mencium bibirku, lalu bertanya setengah berbisik, " Udah orga lagi?"
"Iya," sahutku dengan perasaan malu, "udah terlalu kangen sih sama Jos."
Tapi tidak seperti biasanya, meski sudah mencapai orgasme, gesekan penis Joseph di jepitan liang kewanitaanku tetap terasa enak...enak sekali. Sehingga aku bukannya mengeluh ngilu dan sebagainya. Aku bahkan membisiki telinga Joseph, "Yang keras genjotnya, Jos."
Joseph meluluskan permintaanku. Gerakan penisnya jadi keras. Sehingga lubang kemaluanku mennimbulkan suara berkecipak-kecipuk, karena memang sudah banjuir dengan lendir birahiku sendiri.
Tak cuma mengenjot batang kemaluannya. Joseph juga mengentotku sambil mencelucupi leherku, menjilati ketiakku dan lalu menyelomoti pentil payudaraku. Sehingga api birahiku berkobar kembali dengan dahsyatnya. Maka kusambut keindahan ini dengan goyangan pinggulku, dengan gerakan sebinal-binalnya. Terkadang meliuk-liukdan bergelombang. Terkadang menghentak-hentak dari atas ke bawah, sehingga kelentitku bergesekan kencang dengan batang kemaluan Joseph.
Dalam keadaan seedan ini, aku tak bisa mengendalikan diri lagi. Kuremas-remas bahu Joseph sambil meraung-raung perlahan, "Iya Jos.....duuuuh...enak banget Jossss....iya...iyaaaaaaaaaaaaaaaaa....aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh......aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh....enak banget sayang....oooohhhhhhhhh......entot terus Jossss....... mmmmm........ini enak banget Jooooooooooooossss......"
Terkadang suaraku seperti orang kepedasan, terkadang seperti tercekik...dan terkadang aku menahan nafasku...dalam indah dan nikmatnya disetubuhi oleh teman suamiku yang paling kusukai itu.
"Jos...barengin yuk..." ajakku ketika aku merasakan mau mencapai puncak kenikmatanku. Josepsh pun setuju. Dengan gencar ia mengenjot penisnya, sementara aku pun menggoyang pinggulku seedan dan sebinal mungkin. Sampai akhirnya kami mencapai puncak yang paling indah dalam persetubuhan kami.
Bahwa kamisaling cengkeram, saling remas seperti ingin saling meremukkan. Lalu kami saling dekap sekuat-kuatnya...sementara batang kemaluan Joseph pun dibenamkan sekuat-kuatnya...disusul dengan tembakan-tembakan air maninya yang terasa membanjiri lubang kemaluanku...semuanya itu terjadi pada saat lubang kemaluanku berkedut-kedut di puncak orgasmeku.
Oh, Joseph...ini teramat sangat indah !
Lalu kami terkapar di pantai kepuasan.
"Dirimu selalu membuatku puas, Er." kata Joseph ketika kami berada di kamar mandi untuk membersihkan kemaluan kami sebersih-bersihnya.
Aku pun ingin mengucapkan hal yang sama. Tapi ada perasaan ingin menjaga harga diri suamiku. Maka aku malah bertanya, "Emangnya kalau dengan Mila gimana?"
"Mmm...biasa-biasa saja," sahut Joseph, "tapi denganmu...luar biasa."
Aku cuma tersenyum. Sementara shower air hangat yang sedang kupegang lalu kusemburkan ke sekujur tubuhku, untuk mengusir keringat yang masih melekat di tubuhku. Kemudian kusabuni, kubilas lagi dengan air hangat dan akhirnya kukeringkan dengan handuk. Joseph juga melakukan hal yang sama.
Kukenakan kimono bersih yang kubekal tadi ke kamar mandi, tanpa mengenakan pakaian dalam, lalu keluar dari kamar mandi.
Joseph pun keluar dari kamar mandi dalam piyama sutra putih bermotif garis-garis hitam dan abu-abu. Lalu membuka pintu dan melangkah ke luar. Tak lama kemudian ia kembali ke dalam kamar sambil berkata, "Kita cari makanan yuk. Abis em-el malah jadi lapar."
Aku menurut saja. Mengikuti langkah Joseph menuju mobilnya. Tak sadar sedikit pun bahwa saat itu aku cuma mengenakan kimono yang terbuat dari kain handuk putih polos, sementara di balik kimono itu tiada apa-apa lagi yang melekat di tubuhku.
Setelah berada di dalam mobil Joseph, barulah aku menyadarinya.
"Jos..." kataku ketika Joseph sudah menggerakkan mobilnya di jalan aspal, "aku gak pakai celana dalam nih."
Joseph menoleh dan tersenyum, ":Biar aja. RUmah makan juga jam segini mah udah pada sepi."
"Gak pakai beha pula."
"Hehehehee...gakpapa lah. Jangan dibuka aja talinya," kata Joseph sambil mengelus pahaku yang muncul di belahan kimonoku, "lagian enak gini...bisa megang langsung ininya."
Di belakang setirnya, tangan kiri Joseph merayapi kemaluanku.
"Jangan pegang-pegang dulu dong," kataku sambil menepiskan tangan Joseph, "Nanti kalau aku horny lagi gimana?"
"Ya main lagi aja," sahut Joseph santai, "waktu kita kan masih panjang."
"Tapi Jos kan harus simpan tenaga buat istri Tommy besok," kataku yang tiba-triba saja dijalari perasaan cemburu. Membayangkan Joseph akan menggeluti tubuh istri Tommy yang sekarang sedang bersama suamiku itu. Perasaan cemburu yang membuatku berniat ingin menguras kejantanan Joseph, supaya besok tidak punya power lagi pada waktu sedang bersama istri Tommy yang bernama Dyah itu.
"Biar aja, istri Tommy bukan prioritasku," sahut Joseph sambil membelokkan mobilnya ke pekarangan rumah makan yang masih buka.
"Lalu yang jadi prioritas siapa?" tanyaku dengan sikap manja.
"Ini nih prioritasku," sahut Joseph sambil menggamit-gamit kemaluanku. Padahal ia sudah menghentikan mobilnya di depan rumah makan.
"Sudah dong, entar keliatan orang," kataku sambil mengeluarkan tangan Joseph dari dalam kimonoku, "katanya lapar. Makan dulu lah. Kalau udah kenyang, nanti dikasih sekenyangnya...sekuatnya..."
"Bener ya...janji yaaaaa..." Joseph membuka pintu mobil.
"Iya, janji," sahutku, "Aku gak usah turun ya. Gak enak pake kimono gini, ntar diketawain orang."
"Terus? Beli nasi bungkus aja ya?"
"Iya, kita makan di villa aja nanti. Pasti lebih tenang."
Pada waktu kembali ke villa, aku baru sadar bahwa mobilku gak ada. Lalu kulihat pintu kamar yang dipakai oleh Dyah dan suamiku. Ada tanda "OUT" di dekat handle pintu. Berarti suamiku sedang keluar bersama Dyah. Entah nyari makan juga atau lagi nyari udara segar.
Tapi biarlah. Malam ini suamiku memang sedang menjadi milik Dyah. Dan aku menjadi milik Joseph.
Dan aku harus mengakuinya secara jujur, bahwa detik-detik bersama Joseph ini adalah detik-detik yang sangat menyenangkan. Detik-detik yang senantiasa bergelimang keindahan dan kehangatan.
Betapa tidak. Lewat tengah malam, ketika tubuh kami sudah telanjang lagi, aku tidak defensif lagi. Dan Joseph tampak senang dengan seranganku yang bertubi-tubi. Menciumi bibirnya yang jantan, menciumi hidungnya yang mancung (maklum dia keturunan bule), menciumi lehernya, menciumi perutnya, menciumi penisnya yang sudah tegang kembali...bahkan lalu mengulumnya, menjilatinya sebinal mungkin, sehingga akhirnya aku memasukkannya ke dalam liang kewanitaanku dalam posisi WOT. Ooo, indahnya mengayun pinggulku naik turun dengan penis Joseph yang terbesot-besot oleh jepitan liang kemaluanku...dan aku melakukannya dengan sebinal mungkin...sehingga Joseph tampak senang, celentang sambil memainkan sepasang payudaraku. Terkadang penis Joseph terasa mendesak, terkadang terasa menjauh....seandainya suamiku melihat ini semua, pasti ia cemburu...karena aku melakukan semuanya ini dengan gairah yang gila-gilaan. Tapi bukankah ia juga tengah berdua dengan Dyah yang cantik itu?
Namun sayangnya dalam posisi di atas seperti ini, aku cepat sekali mencapai orgasme. Hanya belasan menit, aku ambruk di atas dada Joseph. Lalu membiarkan Joseph menggulingkan tubuhku jadi celentang, tapi dalam keadaan penisnya tetap berada di dalam jepitan liang kemaluanku yang sudah basah oleh lendir birahiku.
Giliran Joseph yang aktif kini. Dengan jantannya ia mulai mengentotku. Menggerak-gerakkan batang kemaluannya maju-mundur dengan mantapnya di dalam liang kemaluanku. Dan aku yang sudah telanjur suka padanya, menyambutnya dengan dekapan hangat. Terkadang dengan ciuman demi ciuman...mesra dan hangat dan nikmat !
Joseph pun tak sekadar mengayun penisnya. Kedua tangannya aktif meremasi buah dadaku, terkadang mengelus rambutku dan terkadang meremas-remas buah pinggulku.
Kedua tanganku juga terkadang meremas bahunya, terkadang mendekap pinggangnya, terkadang juga mengacak-acak rambutnya.
Dan ketika aku merasa sudah mau mencapai orgasme lagi, kubisiki Joseph, "Jos...barengin lagi Jos...tadi juga enak banget....duuuuh...aku mau lepas lagi Joooossss...."
Joseph selalu mengikuti apa yang kuinginkan. Ia mengayun batang kemaluannya dengan gerakan cepat dan mantap. Sampai akhirnya ia membenamkannya sedalam mungkin, yang kusambut dengan kedutan-kedutan di lubang kemaluanku. Oooh...betapa indahnya semua ini. Merasakan semprotan-semprotan air mani Joseph pada saat aku sedang mencapai orgasmeku. Luar biasa indah dan nikmatnya !
Mmmmm...gemessssss....sangat enak sekali !
"Jos..." bisikku pada waktu Joseph masih terkapar di atas tubuhku, "ML sama Jos kok enak banget sih?!"
"Aku juga merasakan hal yang sama, sayang," kata Joseph disusul dengan kecupan mesranya di bibirku, "Tiap kali bersetubuh denganmu....jujur...paling enak di antara semua wnaita yang pernah kugauli."
"Nanti siang Jos kan bakal dapet Dyah. Mana tau dia lebih enak daripada aku."
"Ah, melihat bentuk tubuhnya aja aku sudah bisa naksir...pasti gak seenak Erni..."
"Masa sih? Ntar kalau udah sama dia, bilang yang sama juga...Dyah...kamu enak banget sih?" sindirku dengan desir cemburu yang mendadak bergejolak di dalam diriku.
Lalu...ketika kecemburuanku ini semakin menggila, ada sesuatu yang tumbuh di dalam hatiku. Bahwa aku harus menguras tenaga Joseph malam ini, supaya besok tiada tenaga yang tersisa lagi buat Dyah.
Dan aku tidak tahu seperti apa lemahnya Joseph di keesokan harinya. Sedangkan aku sendiri malah menemui lelaki yang bermasalah dengan kelelakiannya. Ya, Tommy itu ternyata lemah sekali. Sehingga malam farewell party tidak jadi dilaksanakan, karena Tommy itu...yah...aku tak mau menceritakan secara mendetail. Cuma mau menulis singkat saja, Tommy itu sangat lemah. Meski umurnya baru tigapuluhan, kelelakiannya seperti lelaki delapanpuluh tahunan. Itu saja.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Istriku baru menulis sampai di situ. Membuatku tersenyum sendiri, meski ada kecemburuan besar ketika membaca tulisan mengenai Joseph itu.
Dan berbeda dengan yang dialami oleh istriku, aku justru merasa beruntung karena malam pertama bisa menikmati Dyah yang seperti wanita kehausan, di malam kedua pun aku menemukan Mila.
Istri Joseph itu memang seorang wanita yang penuh gairah. Entah gairah itu hanya ditujukan padaku atau kepada setiap lelaki yang dijumpainya. Yang jelas, ketika aku sudah membawanya masuk ke dalam kamar, sebagai pasangan seksualku hari itu, Mila langsung mendekapku sambil berkata, "Tiap kali bertemu denganmu, aku selalu horny, Yad."
Lalu ia meraihku ke atas tempat tidur. Saat itu ia mengenakan blouse bermotif kulit macan tutul dan celana jeans ketat potongan tigaperempat, sehingga betis mulusnya tampak jelas di mataku.
"Tommy itu kok gitu ya?" cetus Mila waktu aku sedang merayapkan tanganku ke balik blouse bermotif kulit macan tutul itu
"Gitu gimana?"
"Penisnya kecil, kayak kontol monyet...hihihihi....gak mau hidup-hidup pula."
"Masa?" aku tercengang.
"Tanya aja sama istrimu besok."
"Jadi tadi malam ngapain aja?"
"Dia cuma mengoralku...gak sampai ML."
"Lho..." lagi-lagi aku tercengang, "Padahal dia yang ngotot pengen bikin acara ini."
"Mungkin dia ingin ngasih kepuasan buat istrinya aja."
Aku memang sudah mendengar kekurangan Tommy itu dari istrinya sendiri. Dan berita dari Mila semakin meyakinkanku, bahwa Dyah bicara sesungguhnya kemaren.
Kalau dipikir-pikir kasihan juga Tommy itu. Tadinya kusangka Tommy itu normal-normal saja. Ternyata...hmmm...kata-kata Mila itu jadi terngiang-ngiang terus di telingaku di hari-hari berikutnya, "....penisnya kecil, kayak kontol monyet...gak mau hidup-hidup pula..."
Tapi aku melupakannya beberapa saat, karena Mila mulai menggumuliku, sehingga aku harus menjawabnya dengan segala kejantanan yang kumiliki. Terlebih setelah celana jeans potongan tigaperempat itu terlepas, disusul dengan pelepasan blouse dan celana dalamnya. Hmmm...betapa menggiurkannya tubuh istri Tommy ini.
Dan manakala batang kemaluanku mulai menerobos liang kewanitaannya, ia menyambutku dengan pelukan yang erat sekali, seakan gemas dan ingin meremukkan tubuhku. Mungkin ia ingin mendapatkan kompensasi atas kekecewaannya waktu bersama Tommy kemaren.
Dan seolah berhadapanm dengan wanita kelaparan, aku harus menguras kejantananku bersama Mila malam itu.
Aku ingin melupakan kekecewaan semua pihak atas tidak terlaksananya farewell party yang seharusnya akan berlangsung seru itu.
Dan aku malah mengalami kejadian-kejadian lain di beberapa minggu kemudian. Seperti yang kubaca dari catatan harian istriku berikutnya :
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Saat itu menurut ceritanya, suamiku sedang berada di Kalimantan. Tapi entahlah dia ada di Kalimantan atau di Jakarta. Yang jelas Leo dan Raisha juga dibawa. Raisha akan diserahkan kepada suaminya, karena kasihan juga kalau terlalu lama bepisah dengan Edo. Sementara Leo, akan melanjutkan kuliahnya di Banjarmasin, sambil membantu pekerjaan-pekerjaan suamiku.
Katakanlah aku seperti kehilangan segalanya. Padahal aku sedang sangat membutuhkan lelaki, karena...entahlah..belakangan ini aku sering horny sendiri, sehingga kadang-kadang aku terpaksa harus bermasturbasi, untuk meredakan hasrat birahiku. Tapi sejak dahulu aku nyadar, bahwa masturbasi bukan pemecahan yang sempurna. Karena menurutku, hasrat birahi wanita hanya akan reda dengan sempurna jika ada seorang lelaki yang menggaulinya.
Maka ketika Herman tiba-tiba muncul di ambang pintu depan, membuatku terpaku beberapa saat.Karena ia jadi berubah sekali. Jadi ganteng di balik pakaian yang tampak mahal pula.
"Kamu Herman?" tegurku dengan perasaan tak percaya pada penglihatanku sendiri.
"Iya Bu, masa baru setahun Ibu sudah bisa lupa sama saya," sahut Herman dengan sikap sopan.
"Soalnya kamu kok jadi ganteng, Man?"
"Ah Ibu bisa aja."
"Beneran, kamu jadi berubah Man. Bisa-bisa mantan istrimu ngajak rujuk lagi kalau udah ketemu nanti."
"Ah, nggak lah Bu. Saya sudah kapok punya istri kayak gitu. Ada uang abang sayang, gak ada uang abang ditendang."
Aku ketawa mendengar kata-kata Herman itu. "Lalu kenapa kamu meninggalkan Kalimantan? Apakah Bapak nyuruh kamu?" tanyaku setelah Herman duduk di ruang depan.
"Gak Bu," Herman menggeleng, "Saya lagi dapet cuti sebulan. Jadi ya pulang dulu lah. Tapi Ibu kan tahu, saya sudah cerai sama istri saya. Jadi mungkin besok mau pulang kampung aja. "
Aku sering mencuri pandang dengan sudut mataku. Gila, si Herman sekarang tampak ganteng dan macho gitu. Ah...gilakah aku kalau pikiranku mendadak berbeda kepada mantan sopirku yang sekarang sudah diangkat oleh suamiku sebagai kepala bagian logistik di pertambangannya?
"Sekarang mandi aja dulu gih," kataku, "Di atas kan ada kamar yang lengkap dengan kamar mandinya. Mandi dulu gih. Nanti anter aku nyari makanan untuk makan malam."
"Iya Bu. Di atas?"
"Iya. Handuk, sabun dan shampoo ada di aas."
"Iya Bu, terimakasih," kata Herman sambil berdiri, kemudian melangkah menuju tangga.
Aku pun bergegas masuk ke dalam kamarku. Bergegas mandi juga sebersih-bersihnya. Setelah mandi, kukenakan celana dalamku. Lalu kukenakan gaun biruku yang ada belahan di paha kanan-kiriku., tanpa mengenakan bra di dalamnya. Lalu aku mematut-matut diri di depan cermin riasku.
Ketika aku keluar dari kamarku, Herman sudah duduk lagi di sofa ruang depan. Anehnya hasrat birahiku ini semakin bergejolak saja rasanya.
Hasrat yang membuatku duduk tanpa ragu di samping Herman.
"Mau berangkat sekarang Bu?" tanya Herman.
"Ntar ah, baru juga jam tujuh," sahutku, "Dua jam lagi lah. Di langgananku biasanya ramai setelah lewat jam sembilan. Bukanya sampai subuh."
"Iya Bu."
"Kamu kan udah cerai sama istrimu, tapi di Kalimantan pasti banyak cewek yang jadi sasaran kamu ya?"
"Wah, nggak Bu. Selama di Kalimantan, saya puasa terus soal itu sih."
"Bohong ah...terus ininya diapain?" cetusku sambil memegang celana Herman pas di bagian "itu"nya.
Herman tampak kaget. Karena sebelumnya aku tak pernah memperlakukannya seperti itu. Tapi ia diam saja. Padahal aku mulai menekan-nekankan jempol tanganku di bagian yang terasa menonjol.
"Gak diapa-apain Bu...ya..pu...puasa aja..." kata Herman sementara tanganku tetap berada di tempat yang menonjol itu. Dan yang mengganjal itu terasa mulai membesar.
Herman tampak salah tingkah. Terlebih lagi setelah aku menarik ritsleting celananya, lalu menyelundupkan tanganku ke dalamnya....menyelusup lagi ke balik celana dalamnya. Woooow ! Kusentuh batang kemaluan yang begitu besarnya....yang aku yakin lebih besar daripada penis suamiku !
"Bu...aaaah...Bu...." Herman mendesah ketika aku mulai meremas-remas penisnya dengan lembut. Remasan yang berhasil membuat penis Herman menegang dengan pesatnya.
"Langsung ngaceng gini, Man," kataku perlahan.
"Iii...iya Bu...duuuh...kalau saya jadi kepengen gimana nanti Bu?"
"Nanti aku kasih...tapi jilatin dulu ya....punyamu gede gini sih, kalau langsung dimasukin pasti sakit memekku."
Herman tercngang. Lalu katanya, "I...iya...Bu...ta...tapi kalau ketahuan Boss, saya bisa dipecat Bu."
"Ya rahasiain dong...jangan ngomong sama siapa-siapa," aku menelentang di sofa sambil menyingkapkan gaunku sampai perut, kemudian kulepaskan celana dalamku. Membuat Herman melotot dan ternganga.
"Ayo," ajakku, "Nunggu apa lagi?"
"I...iya Bu..." Herman bergerak ke antara kedua pahaku.
Tapi aku mendorong dadanya sambil berkata, "Lepasin dulu celanamu...biar nanti gampang."
Herman mengangguk dan buru-buru melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya juga. Gila...batang kemaluan Herman yang sudah ngaceng itu memang lebih besar dan lebih panjang daripada penis suamiku !
Seperti yang kuminta tadi, Herman lalu membungkuk di antara kedua belah pahaku. Mendekatkan mulutnya ke kemaluanku. Dan mulai menjilati kemaluanku dengan ganasnya.
Oooh...aku mulai menggelinjang-gelinjang nikmat. Terlebih lagi setelah Herman mulai tekun menjilati kelentitku. Kuremas-remas rambut Herman yang berada di bawah perutku ini...oooh...ini nikmat sekali...kemunculan Herman tepat di saat aku membutuhkan lelaki !
"Udah Man...masukin aja...." kataku setelah merasa orgasmeku hampir tercapai akibat jilatan dan isapan mulut Herman.
Herman menurut saja. Sambil memegang batang kemaluannya, ia mulai merayap; ke atas perutku. Dan terasa moncong penisnya sudah menempel tepat di mulut kemaluanku. Aku pun membantunya, memegang batang kemaluannya yang aduhai itu supaya sasarannya tepat.
"Kontolmu gede banget Man....mmmm...iya...dorongin..." desahku sambil menatap langit-langit ruang depan.
Dan...Herman mendesakkan batang kemaluannya....blesssss....membenam ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah oleh air liur Herman ini.
"Iya Man....iya...ooooh...masuk Maaaan...oooooh....." cetusku sambil mendekap pinggang Herman.
Dan Herman mulai mengayun tongkat kejantanannya di dalam liang kemaluanku. Oooh, luar biasa nikmatnya. Sehingga aku tak bisa mengendalikan diri lagi. Aku mendesah-desah terus, "Iya Man...entot terus Maaaaan...ooooh....punyamu luar biasa Maaaaan...enak banget....ooooh...oooh...."
Tapi ketika aku sedang merasa enak-enaknya disetubuhi oleh mantan sopirku yang sudah dijadikan kepala bagian logistik di perusahaan tambang suamiku itu, tiba-tiba aku merasa bahuku digoyang-goyang. Dan kudengar suara suamiku, "Sayang....kenapa sayang? Siang-siang gini mimpi?"
Aku membuka mataku. Ooooh....ternyata aku sedang bermimpi tadi ?! Jadi persetubuhanku dengan Herman hanya sebuah mimpi? Sialan!
Dan aku jadi malu sendiri ketika suamiku bertanya, "Mimpi apa barusan? Sampai meraung-raung gitu...kayak suara yang sedang disetubuhi...."
Aku tersipu malu. Dan tak menjawab pertanyaan suamiku.
Aku bangkit, turun dari tempat tidurku. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Gila...sore-sore gini pake mimpi gituan segala, pikirku.
"Wow, sekarang udah main rahasia-rahasiaan segala ya?" terdengar suara suamiku yang masih berdiri di dekat tempat tidur.
"Rahasia apa Bang?" aku menatapnya dengan perasaan takut. Memang takut menceritakan mimpiku tadi.
"Mana aku tau?!": suamiku angkat bahu, "Yang jelas, kutanya barusan mimpi apa, gak mau jawab. Padahal aku tau, kamu pasti mimpi bersetubuh barusan kan?"
Dengan berat aku mengangguk dan mengiyakan.
"Tadi kamu terus-terusan menyebut Man, Man-Man melulu. Siapa itu Man? Norman? Darman? Maman atau...."
"Herman !" sahutku menegarkan diri.
"Herman? Herman mana?"
"Herman sopir kita yang sekarang Abang bawa ke Kalimantan itu," sahutku sejujurnya, meski merasa malu sekali.
"Ohya?! Hahahaaaa....jadi Erni yang cantik dan sexy pernah ada skandal dengan sopirnya sendiri yang bernama Herman? Luar biasa..."
"Jangan ngaco Bang. Aku belum pernah ada skandal sama si Herman. Tapi tadi aku memang mimpi digauli sama dia. Namanya juga mimpi. Suka sembarangan aja datangnya. Tapi aku berani bersumpah apa pun, bahwa aku belum pernah punya skandal apa pun dengan si Herman itu, Bang."
Suamiku cuma menatapku sesaat, lalu terdiam.
"Abang marah ya?" ucapku sambil merangkul leher suamiku.
"Gak," suamiku menggeleng, "aku justru heran, karena feelingmu kuat sekali. Aku baru saja menerima sms dari si Herman. Besok pagi dia terbang ke sini. Padahal aku belum pernah bicara soal dia kan?"
Aku cuma menggelengkan kepala. Dan gilanya, mimpiku tadi benar-benar mempengaruhi jiwaku. Membuatku seperti dilanda rasa penasaran yang hebat. Membayangkan enaknya disetubuhi oleh Herman. Gila ! Sudah semurah inikah diriku? Membayangkan enaknya disetubuhi oleh anak buah suamiku sendiri? Gila, gila, gila! Aku harus membuang pikiran itu jauh-jauh !
Tapi suamiku bahkan berkata, "Besok, pas dia datang, aku akan nginap di wisma kos. Lalu ajak dia bersetubuh ya."
"Gak mau ah !" aku menggelengkan kepala, meski batinku masih sangat membayangkan enaknya disetubuhi oleh anak buah suamiku itu.
Suamiku memegang kedua bahuku dan berkata, "Sayang...ini ada kaitannya dengan bisnis. Si Herman sudah sangat menguasai seluk beluk pertambangan kita. Dan kelihatannya ada perusahaan lain yang akan membajaknya. Mau merekrut dia dengan gaji yang jauh lebih besar."
"Lalu?"
"Sekarang kasusnya sama seperti waktu kamu menganjurkanku untuk menggauli si Mimin."
"Jadi?"
"Rayu dia besok...sampai dia bisa kamu miliki. Supaya dia tidak pindah ke perusahaan lain," kata suamiku, "aku sangat membutuhkan dia. Karena di zaman sekarang ini susah mencari orang sejujur si Herman itu, sayang."
"Ini Abang serius?"
"Sangat-sangat serius, sayang. Kapan sih aku gak serius dalam soal yang peka seperti ini?"
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar