Melacak jejak birahi part 5


Bab 5








Setelah berada di dalam kamar yang pintunya sudah ditutup dan dikunci, ternyata sikap istri Tommy yang bernama Dyah ini sangat berbeda dengan waktu ngobrol di luar tadi. Ia tidak malu-malu lagi. Ia bahkan duluan melingkarkan lengannya di pinggangku, sambil menatapku dan berkata, "Mas Yadi jauh lebih macho daripada di fotonya."






"Ohya ?!" sahutku sambil mengepit sepasang pipinya dengan kedua telapak tanganku, "Tommy bilang, Dyah yang memilihku setelah lihat foto perpisahan SMA itu. Benar?"


"Iya," Dyah mengangguk sambil tersenyum. O, oo..manisnya senyum Dyah itu, "Begitu melihat wajah Mas Yadi, aku langsung klop...suka deh pokoknya."


"Mmm...makasih...senengnya hatiku karena disukai oleh wanita secantik ini," ucapanku perlahan, yang kuikuti dengan kecupan mesra di bibir Dyah.


"Ini yang pertama kalinya aku bersentuhan dengan lelaki yang bukan suamiku," desisnya ketika aku mulai menciumi lehernya.


"Tadinya susah banget diajak jalanin acara ini ya?"


"Iya. Tapi Mas Tommy maksa-maksa terus...akhirnya...ya enjoy aja lah. Sekarang sih aku siap mau diapa-apain juga sama Mas Yadi."


"Aku memang bakal abis-abisan menikmati wajahmu yang cantik, tubuhmu yang semampai dan...semuanya. Siap?"


"Siap, Mas..." desis Dyah dengan senyum lagi...senyum yang begitu manis lagi...






Aku gemas melihat bibirnya yang tipis merekah itu, terlebih pada waktu tersenyum, manis sekali. Maka kuraih Dyah agar duduk di sampingku, di sofa. Lalu kuciumi bibir tipis merekah itu. Dan akhirnya kulumat dengan hasrat yang menghangat.




DYah pun membalas lumatanku. Terkadang sambil memeluk leherku erat-erat. Dan semakin erat pelukannya ketika aku berhasil menyelusupkan tanganku ke balik baju kausnya, mengelus perutnya yang berkulit halus hangat, menyelundup dengan paksa ke balik behanya...lalu kutemukan payudara yang sedang-sedang saja besarnya. Kegedean nggak, kekecilan pun nggak.






"Ntar Mas...buka dulu behanya ya, takut putus kancingnya," kata Dyah sambil menarik baju kausnya ke atas, lalu melepaskan baju kaus itu tanpa ragu. Sehingga kulit mulusnya makin tampak di mataku.




Aku pun membantunya untuk melepaskan kancing kait behanya yang terletak di bagian punggungnya.




"Mas...tau gak? Sebenarnya aku degdegan nih sekarang," kata Dyah yang belum melepaskan behanya, meski kancing kaitnya sudah kulepaskan.


"Kenapa degdegan? AKu gak bakalan gigit kok," sahutku sambil menjilati daun telinganya, "paling juga ngemut...atau jilatin kayak gini...."






Tampaknya Dyah sedang penuh perasaan padaku. Mendengar ucapanku itu, ia langsung mencium bibirku, lumayan lama dia melumat bibirku. Dan membiarkanku menarik behanya yang masih dipergunakan menutupi payudaranya. Setelah beha itu terlempar ke atas meja kecil di depan sofa yang kami duduki, giliran aku menyerangnya. Menciumi putting payudaranya yang tampak indah itu.




Seperti kukatakan tadi, payudara Dyah itu tidak kegedean, tapi tidak pula kekecilan. Bahkan ketika tangan kiriku meremas payudara yang satu, sementara payudara yang satu lagi sedang kuselomoti pentilnya, jujur saja...payudara Dyah terasa lebih kencang.




Celucupanku di pentil payudara istri Tommy itu, membuat tubuhnya terasa menghangat. Mungkin ia sudah semakin horny. Tapi pada suatu saat, ia lari dan melompat ke atas tempat tidur, sambil ketawa cekikikan. Lalu di atas tempat tidur ia melepaskan celana denimnya, sehingga tinggal celana dalam berwarna merah yang masih melekat di tubuh putih mulusnya.




Aku pun cepat menanggalkan pakaianku sehelai demi sehelai, sehingga tinggal celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku. Lalu aku melompat ke atas tempat tidur berseprai putih bersih itu. Dan kuterkam tubuh semampai itu ke dalam pelukanku, "Masih degdegan?" bisikku.






"Gak...malah seneng...soalnya Mas Yadi romantis sih..." sahutnya sambil menatapku. Padahal tanganku mulai menggerayangi perutnya, lalu turun ke bawah dan menyelinap ke balik celana dalam merahnya






Au yakin Dyah sudah horny berat, sehingga tak usah main jilmem, dengan permainan jari saja pasti meqinya akan basah.




Ternyata prediksiku benar. Setelah beberapa menit saja tanganku memainkan kemaluan Dyah di balik celana dalamnya, mulailah ia menatapku dengan sorot meminta belas kasihanku. Dan memang lubang kemaluannya sudah terasa basah sekali.




Sementara penisku juga sudah ngacung dari tadi. Maka kuturunkan celana dalamku, sehingga tongkat kejantananku tampak jelas di mata istri Tommy itu. Dan...ia memekik tertahan, "Maaas...waaaw...itunya kok gede amat sih?"






"Ah, punya orang lain ada yang lebih panjang dan gede lagi," sahutku sambil memperhatikan Dyah yang sedang menurunkan celana dalam merahnya, dengan pandangan tertuju ke arah penisku terus.




Lalu ia menelentang sambil berkata, "Kalau abis main sama Mas Yadi, lalu main sama Mas Tommy, pasti longgar...hihihi..."


"Emang punya Tommy kecil?" tanyaku sambil merayap ke atas perut Dyah.


"Banget," sahutnya, "Kalau dibandingin sama punya Mas Yadi sih gak ada apa-apanya....aaau...pelan-pelan Mas...." Dyah meringis, karena aku mulai membenamkan puncak penisku...lalu kutekan-tekan tidak terlalu kuat....mulai masuk separonya...lalu kuayun perlahan-lahan...sehingga makin lama makin membenam jauh ke dalam liang kewanitaan Dyah.






Dan akhirnya, manakala penisku kudorong, ujungnya sudah bisa menyentuh dasar lubang kewanitaan Dyah.




Pada saat itulah Dyah mulai memeluk leherku sambil menciumi bibirku dengan binalnya.




Ketika aku mulai benar-benar mengayun batang kemaluanku, Dyah pun mulai berceloteh tak terkendalikan lagi, "Hadaaaah....Maaas....gak nyangka bakal dapat kenikmatan di sini, Mas....ooooh....iya Mas....ini sih enak banget Mas........ooooh.....ooooh....sampai merinding sekujur-kujur, Mas.....saking enaknya kali..........aaaaaaah....padahal ini pertama kalinya aku disetubuhi lelaki yang bukan suamiku Mas.........ooooooooooohhhhhhhhh...."




Aku pun menjawabnya dengan bisikan, "Memek Dyah ternyata enak banget .....lebih legit dari dodol Garut...."




"Mmmm...Mas samain sama dodol sih? Mmmm...iya Mas...entot terus Mas....oooh...enak banget Mas...enaaak....aaaaah...gila...terasa banget gesekannya Mas....ooooh....ini sih bakal bikin aku ketagihan nanti, Mas....."




Celotehan Dyah makin lama terdengar makin keras. Terpaksa kusumpal mulutnya dengan ciuman dan lumatan ganas, agar raungan dan celotehannya tidak terdengar ka kamar lain.




Tampaknya usahaku berhasil. Dyah jadi lebih menikmati lumatanku, lalu membalasnya dengan lumatan yang makin lama makin binal. Bahkan terkadang ia menggigit-gigit daun telingaku.




Namun di saat aku sedang enak-enaknya mengenjotnya, tiba-tiba ia berdesah dan tersengal, "Mas...aku...aku udah mau nyampe...Masss...emut tetekku Maaas....bi...biar nikmat.....ooooh....iya gitu Mas...oooooh...ohhhh...."




Dyah gedebak-gedebuk, lalu terkejang-kejang sambil memejamkan matanya. Dan akhirnya terasa lubang kemaluannya berkedut-kedut....kemudian terasa seperti digenangi cairan hangat...pertanda ia telah mencapai orgasme yang sempurna.




Namun aku masih belum apa-apa. Aku tetap asyik mengayun alat kejantananku di ddalam liang meqi yang sudah banjir itu. Tapi aku suka ini. Suka liang kemaluan yang sudah mencapai orgasme ini, karena terasa lebih licin dan lebih mudah dienjotnya.




Aku heran, karena Dyah waktu belum masuk ke kamar ini kelihatan malu-malu sekali. Tapi setelah berada di dalam kamar, ia laksana orang kelaparan yang lalu begitu rakusnya setelah menemukan makanan lezat.




Setelah menyelesaikan persetubuhan pertamaku dengan istri Tommy itu, aku mencoba menjajaki jiwanya. Kalau bisa aku ingin mengetahui latar belakang kehidupannya. Dan banyak lagi yang ingin kuketahui darinya. Soalnya Dyah itu cantik. Kapan pun Tommy mengajak wife swap denganku, pasti aku bersedia.




Akhirnya terbuka juga. Meski dengan berat hati, Dyah menceritakan keadaan Tommy yang sebenarnya. Bahwa Tommy sangat lemah dalam soal sex. Bukan cuma ukuran penisnya yang kecil, tapi juga nafsu Tommy sulit dibangkitkan. Sekalinya Dyah berhasil membangkitkan nafsu Tommy, selalu kecewa dan kecewa terus yang Dyah alami. Karena Tommy selalu mengalami ejakulasi prematur. Baru saja Dyah "manasin mesin", Tommy sudah keburu ngecrot.




"Tapi Mas Yadi jangan bilang-bilang sama siapa pun nanti ya," kata Dyah di ujung penuturannya, "Soalnya aku merasa kasihan juga sama dia. Malah ada satu lagi rahasia kami..."


"Apa tuh rahasianya kalau boleh aku thu?"


"Aku gak pernah punya anak, Mas."


"Lho...katanya sudah punya anak cowok seorang."


"Itu anak pungut, Mas. Aslinya sih kami belum punya anak. Padahal aku sudah lima tahun kawin sama Mas Tommy."






Aku terlongong mendengar pengakuan baru itu. Pantasan tadi aku merasa seperti bersetubuh dengan seorang gadis. Rupanya Dyah memang belum punya anak.




Lalu kata Dyah lagi, "Itulah sebabnya, waktu dia ngajak wife swap tadinya kutolak terus. Bukan apa-apa sih...tapi emang dia bisa apa dengan istri-istri temannya di sini? Tapi dia berkeras, entah sengaja ingin membuatku puas atau dia ingin mengobati dirinya sendiri. Entahlah."




Dan di puncak pengakuannya, Dyah berkata lirih, "Mas...terus terang...baru sekali ini aku mendapatkan kepuasan. Baru sekali ini aku merasakan bahwa sex itu indah sekali, Mas."




Ucapan itu Dyah ikuti dengan ciuman bertubi-tubi, mwuah.....mwuah......mwuaaahhh ......mwuaaaaaaaahhhh...mwuaaah.....!




Lalu ia mengelus dadaku yang masih telanjang, seperti dadanya juga, "Sekarang aku sudah benar-benar Mas miliki....membuatku bahagia, Mas."




"Dyah juga membuatku bahagia hari ini," sahutku untuk mengimbangi, "Ohya, para istri yang pernah ikut dalam acara komunitas kita, kuanjurkan untuk menulis semacam catatan dan pengakuan sejujurnya tentang apa yang telah mereka rasakan setelah mengalami wife swap...lalu kuminta untuk mengemailkannya padaku. Nanti Dyah juga bikin tulisan ya. Mmm...minimal berupa catatan kesan-kesan dari acara istimewa ini."


"Iya Mas. Nanti kasih aja alamat emailnya."




(sebenarnya sudah banyak email dari komunitasku, berikut foto-fotonya juga, lumayan banyak untuk dijadikan bahan tulisanku nanti)




"Sekarang kita mandi dulu yok. Biar seger lagi badannya," kataku sambil bangkit dan turun dari tempat tidur.


"Malem-malem gini mau mandi?" Dyah tampak sangsi.


"Kan pake air panas. Emangnya Dyah gak mau kumandiin, kusabuni dan sebagainya?"


"Mau...mauuu..." Dyah langsung bangkit dan mengikuti langkahku ke kamar mandi.






Di kamar mandi, Dyah jadi manja sekali. Dan tampak enjoy waktu kusabuni sekujur tubuhnya. Terlebih waktu aku menyabuni kemaluannya, ia bahkan terpejam-pejam sambil memegang bahuku.




Namun seperti biasa, pada suatu saat, ketika kemaluan Dyah terasa sudah sangat licin oleh air sabun, kusandarkan ia ke dinding. Dan kubenamkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya. Tak sulit melakukannya, karena licinnya air sabun membantuku untuk memasukkan tongkat kejantananku.




Dyah menyambutku dengan pelukan di leherku, sementara aku melakukannya sambil meremas-remas sepasang bokongnya yang mulus dan masih kencang.




Bahkan Dyah memagut bibirku, lalu melumatnya. Kubiarkan ia berbuat sesukanya, karena memang enak. Setelah ciumannya terlepas, giliran aku menjilati lehernya. Terkadang disertai dengan gigitan-gigitan kecil, membuatnya mulai merengek-rengek histeris, "Maaaa....ooooh....Maaaas..........iya Massss....enjot terus Maaaas.....ini enak sekali Maaas....."




Kali ini aku ingin menyelesaikannya di kamar mandi juga, karena Dyah mengajakku untuk menacapai titik klimaks berbarengan. Maka kugenjot batang kemaluanku sehebat mungkin, membuat Dyah merem melek dan mendesah-desah seperti orang kepedasan.




Jam terbangku sudah cukup tinggi. Sehingga aku tahu persis kapan air maniku harus dihamburkan. Tepat di saat Dyah mengejang dan memeluk leherku erat-erat...lalu terasa lubang kemaluannya berkedut-kedut, berbarengan dengan kejutan-kejutan batang kemaluanku waktu menembak-nembakkan air maniku.




"aduuuuuuh....lututku lemesss...." ucap Dyah setelah batang kemaluanku terlepas dari jepitan liang kemaluannya.






Kemudian shower menyemprotkan air hangat ke tubuh kami, untuk membilas air sabun dan keringat kami sampai bersih sekali. Waktu keluar dari kamar mandi, Dyah memeluk pinggangku dengan sikap manja dan mesra. Seolah sedang berbulan madu bersama suaminya.




Setelah menyisir rambutku yang masih basah kelimis, kuajak Dyah nyari makanan. Karena makanan malam yang dihidangkan sudah dingin semua.




Dyah mau saja. Karena dalam perjanjian, setiap istri yang sedang wife swap boleh dibawa ke mana pun, asalkan si istri setuju.




Maka tanpa ragu Dyah pun masuk ke dalam sedan istriku, yang kunci cadangannya ada padaku.




Pada waktu menyalakan mesin sedan ini, ingatanku melayang-layang tak menentu.




Membayangkan apa yang sedang terjadi pada diri istriku bersama Joseph. Seperti biasa, kecemburuanku berdesir hebat. Tapi aku tak mau mendramatisir perasaan cemburu ini. Justru mendapatkan kompensasi yang lebih dari seharusnya. Dyah ini kompensasinya. Ia tak hanya lebih cantik daripada Mila (istri Joseph), tapi juga lebih cantik daripada istriku sendiri.




Maka ketika aku membawanya duduk di rumah makan yang menyediakan sate dan gulai kambing, rasanya aku bangga berada di sisinya, dengan sikap manjanya yang berulang-ulang menyandarkan kepalanya di bahuku. Bangga ketika beberapa pasang mata lelaki di rumah makan itu memperlihatkan sorot kagumnya. Maklum hari sudah malam, otak kaumku biasanya mulai ngeres kalau melihat wanita secantik Dyah ini. Meski Dyah tidak mengenakan pakaian sexy saat itu, cuma mengenakan celana legging jeans, dengan baju kaus hitam ditutupi jaket jeans juga.




Aku sendiri setelah makan sate kambing 20 tusuk tanpa nasi, sementara Dyah hanya makan nasi dengan sop kambing, membuat badan kami tidak kedinginan lagi di daerah ketinggian ini.




Setelah berada di dalam villa lagi, justru Dyah yang tampak seperti mengharapkanku lagi. Dengan sengaja ia menanggalkan jaket jeansnya, baju kaus hitamnya yang tiada beha di baliknya. Dan terakhir ia menanggalkan celana legging jeansnya yang ketat. Lalu tampak lagi bagian yang paling indah di tubuhnya itu, karena ia tak mengenakan celana dalam di balik legging jeans itu.




Entah karena sate kambing setengah matang itu atau karena sinar erotis yang terpancar dari aura Dyah, entahlah. Yang jelas, aku sudah terangsang lagi sepenuhnya....meski di luar udara gelap dan dingin sekali...








BERSAMBUNG 









Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar