Bab 4
Pada suatu hari, ketika aku sedang mengecek laporan keuangan dari Kalimantan, handphoneku berdering. Kulihat nomornya tidak kukenal. Tapi kubuka juga :
"Hallo..."
"Hallo...ini Yadi kan?"
"Iya. Dengan siapa ya?"
"Aku Tommy. Masih ingat gak?"
"Tommy? Tommy mana ya?"
"Tommy teman sekelas waktu di SMA dulu. Masa lupa lagi."
"Hai...Tommy ?! Di mana kamu sekarang?"
"Aku sekarang di luar kota, Yad. Aku dapat nomor hpmu juga dari Erwin."
"Iya, iya....aku jadi pengen ketemu sama kamu Tom !"
"Sama ! Jadi ingat masa ABG dulu ya? Aku pengen ketemu sama kamu, penting bnget. Kapan kamu ada waktu?"
"Aku sih orang bebas, Tom. Kapan juga bisa ketemu, asal nelepon aja dulu, kalau-kalau akunya lagi di luar kota."
"Kalau gitu, besok kita ketemuan ya."
"Boleh."
"D mana ketemuannya?"
"Mending di mall aja lah. Biar sambil cuci mata. Hahahahaaa !"
"Besok pagi bisa ketemuan gak? Sekitar jam sepuluh gitu lah."
"Oke."
"Di mall mana?" tanya Tommy.
Lalu kusebutkan nama mall itu.
"Iya, iya...kirain mau ketemuan di mall yang dekat sekolah kita dulu."
"Enakan di mall yang kusebutkan tadi. Lebih nyantai. Cari aku di smoking area aja, di lantai tiga."
"Oke ! Salam buat istrimu Yad."
"Iya...salam juga buat istrimu, Tom."
Setelah hubungan telepon ditutup, aku saving nomor hp bekas teman sekelasku itu. Dan berpikir...apa yang dimaksud penting banget oleh temanku itu? Mau kerja? Ah, tak mungkin. Karena kudengar Tommy sudah lama menikah dengan anak tuan tanah yang kaya, istrinya itu anak tunggal pula katanya. Tapi kenapa tidak mungkin? Bukankah Edo juga akhirnya balik lagi, karena tak kerasan hidup seolah menumpang di daerah mertuanya?
Esok paginya, kutepati janjiku dengan teman lamaku itu. Sebelum jam sepuluh aku sudah nongkrong di smoking area mall yang dijanjikan.
Jam sepuluh lebih sedikit, Tommy muncul di depan mataku. Kami saling peluk dan saling tonjok sambil ketawa-ketiwi.
Lalu kami mengobrol ke barat ke timur. Berbincang tentang teman-teman SMA yang masih kami ingat nama-namanya. Juga berbincang tentang guru-guru kami.
Akhirnya Tommy membicarakan hal yang dia anggap penting itu. Dengan suara dipelankan, Tommy bekata, "Aku udah denger mengenai pesta dalam reuni di Puncak itu. Sayang aku gak bisa hadir. Karena istriku gak mau setelah mendengar acaranya...tentang swing-swingan itu. "
"Terus?"
"Terakhir aku dengar dari Erwin, tentang asyiknya waktu mengadakan reuni kecil di villa itu. Aku ngiler Yad. Pengen banget ngerasain seperti apa wife swap itu. Sayangnya istriku malah marah mendengar keinginanku itu. Eeee...setelah sekian lama membujuk dia terus-terusan, akhirnya aku berhasil juga....akhirnya dia mau."
"Hahahaaaa...terus?"
"Dia cuma mau tukar pasangan dengan satu pasangan aja. Gak mau rame-rame seperti di Puncak gitu. Maklum dia kan belum pernah ngerasainnya."
"Iya, iya....terus?"
"Lalu kusuruh pilih di antara foto-foto kita waktu pesta perpisahan itu. Tau gak? Dia milih kamu, Yad !"
"Hah?! Salah lihat kale....foto-foto waktu perpisahan SMA itu kan udah lama sekali. Gak sama dengan kenyataan sekarang. Kenapa dia gak milih Joseph atau Albert, misalnya?"
"Dia gak suka tampang indo gitu. Dia suka sama kamu. Malah dia bilang, kalau yang namanya Yadi itu kelihatan macho. Gitu Yad..."
"Hahahaaaa....kok bisa ya? Padahal aku bukan yang paling ganteng semasa di SMA dulu."
"Jangan merendahkan diri, Yad. Waktu di SMA dulu, kamu memang paling gagah di antara kita semua. Sekarang apalagi...makin macho kelihatannya."
"Hihihihi, gak punya duit recehan, Tom."
"Terus gimana? Kamu mau swing sama aku gak?"
"Istrimu kayak apa sih?"
Sebagai jawaban, Tommy mengeluarkan hp dari saku jaket kulitnya. Lalu diperlihatkannya foto-foto istrinya, "Ini foto-foto istriku...Dyah namanya."
"Wooow....cantik dan putih istrimu ya?" komentarku setelah melihat foto-foto istri Tommy yang katanya bernama Dyah itu.
"Alaaa...istrimu juga cantik kan? Aku dengar dari Erwin bagaimana cantik dan seksinya istrimu itu."
"Mmm...ada foto istrimu yang nude gak?"
"Hah? Gak ada tuh. Tapi dijamin deh badannya mulus. Gak ada bekas-bekas korengan sedikit pun."
"Iy, aku percaya. Kudengar istrimu kan anak tunggal tuan tanah. Tentu aja dirawat sebaik-baiknya sama mertuamu dulu. Takkan dibiarkan jatoh, luka...apalagi korengan...hahahaaa....ini foto-foto istriku," kataku sambil memperlihatkan foto-foto istriku yang kusimpan di hpku. Semuanya foto-foto telanjang bulat.
"Anjriiit....!" seru Tommy tertahan, takut menarik perhatian orang-orang di smoking area itu.
Setelah mengamati foto-foto di hpku itu, Tommy menyerahkan kembali hpku. Sambil berkata, "Kayaknya kita seimbang, Yad. Istriku dan istriku gak jauh beda nilainya. Cuma tetek istriku lebih kecil daripada tetek istrimu. Kapan kita bisa laksanakan acaranya?"
"Emang mental kamu udah siap?"
"Siap seratus persen, Yad."
"Istrimu udah siap juga mentalnya?"
"Udah. Kan dia udah milih kamu, artinya udah siap juga mentalnya. Eh...ntar...aku foto kamu dulu ya...biar istriku lihat keadaanmu setelah dewasa sekarang," kata Tommy sambil menyetel kamera hpnya. Lalu berkali-kali memotretku dengan hpnya.
"Hahahaaaa...kamu bikin aku kayak artis aja. Pake difoto-fotoin segala."
"Kan untuk semakin meyakinkan istriku. Terus kapan bisa kita laksanakan acara istimewa ini, Yad?"
"Kalau bisa sebelum akhir bulan ini. Soalnya tanggal satu aku mau ke Kalimantan."
"Aku sih udah ngebet banget pengen ngerasain wife swap. Istriku baru kemaren bersih dar menstruasinya. Mmm...sekarang kan hari Senin. Kalu Rabu lusa bisa gak?"
Aku berpikir sesaat. Serasa diingatkan pada jadwal menstruasi istriku sendiri. Lalu kujawab, "Boleh. Mau di mana?"
"Ya terserah kamu lah yang udah punya pengalaman," kata Tommy bernada pasrah.
"Kalau mau yang praktis, kita cek in di hotel aja. Kita booking dua kamar. Nanti kamu dan istriku ke kamar yang satu, aku dan istrimu ke kamar satunya lagi," kataku, "Tapi kalau mau yang terasa indah dan bebas, ya mending nyewa villa. Tapi tarifnya lumayan mahal, karena villanya memang bagus."
"Aaaah...berapa benar sih sewa villa?!" cetus Tommy terdengar sombong, "Ya udah di villa aja. Kan kata kamu indah dan bebas. Kayaknya istriku perlu suasana seperti itu, karena belum pernah mengelaminya. Kalau di hotel, nanti berbaur sama orang banyak, pasti bikin hatinya gak enak. Sewa villanya biar aku yang bayar,"
Aku mengangguk. Sejak dulu Tommy suka begitu. Suka berlagak boss. Tentu dia belum tahu levelku sekarang. Karena terman-temanku tiada yang tahu seperti apa aku sekarang ini. Dan aku memang tidak suka main pamer kepada siapa pun. Maka kataku, "Siiip ! Ada boss....tuan tanah muda....ohya...tanah mertuamu ditanamin apa aja Tom?"
"Sekarang semuanya sudah jadi milik istriku. Kan orang tua istriku udah pada meninggal. Tanahnya ya kebun buah-buahan lah. Ada pohon jeruk, duren, rambutan, dukuh dan sebagainya."
"Wow...kalau gitu, kapan-kapan aku mau main juga lah ke rumahmu. Aku juga ada cita-cita ingin punya kebun di luar kota. Sambil bikin gubuk buat istirahat."
"Oke...kapan pun pintu rumahku selalu terbuka buat kedatanganmu. Tapi jangan diketawain, rumahku di kampung Yad."
"Zaman sekarang orang-orang malah terobsesi ingin punya rumah di kampung, yang udaranya masih bersih, jalannya gak macet dan banyak alasan lainnya. Ohya, kalau ada fotomu yang berdua sama istrimu kirim ke hpku, pake bluetooth aja, buat dilihatin sama istriku juga."
"Oke," Tommy mengangguk, lalu mengaktifkan bluetoothnya dan mengirimkan foto yang kuminta ke hpku.
"Biasanya acara itu bisa dua atau tiga hari. Tapi ya terserah kamu. Kan kamu yang mau bayarin villanya. Tapi mentalmu harus bener-bener siap. Soalnya pada malam itu istrimu tidur sama aku, istriku tidur sama kamu."
"Siap, Yad. Siap !" kata Tommy sambil mengepalkan tangannya.
Malamnya, aku laporkan semuanya itu kepada istriku. Foto Tommy dan istrinya yang sudah tersimpan di hpku, juga kuperlihatkan kepada istriku.
Istriku tersenyum-senyum setelah melihat foto itu.
"Kenapa? tanyaku.
"Pantesan Abang semangat...istrinya cantik sih."
"Lho...mereka yang pilih kita, bukan aku yang milih mereka."
"Emang kapan acaranya?"
"Rabu lusa. Kamu gak lagi mens kan?"
"Gak lah...baru aja lima hari bersihnya juga..."
"Sip...!." kataku sambil mengacungkan jempol, "Acaranya di villa yang pernah kita pakai bersama Edo dulu."
"Mmmm...boleh usul gak Bang?" tanya istriku sambil menatapku.
"Boleh lah. Mau usul apa?"
"Biar berkesan, gimana kalau tambah lagi satu pasangan. Jadi acaranya kayak waktu dengan Erwin dan Kemal itu."
"Kamu pengen nambah satu pasangan...siapa yang kamu pilih?"
"Joseph sama istrinya,"sahut istriku tampak malu-malu.
"Hahahaa...Joseph kan yang paling berkesan di antara teman-temanku ya?"
"Kan Abang yang nyuruh supaya aku punya favorit, biar Abang cemburu."
"Iya, iya. Gak masalah sih. Tapi berarti aku harus tanya kesiapan Joseph dan istrinya dulu. Tommy juga harus diajak berunding lagi, apa dia mau bikin acara seperti itu atau tidak. Tadinya dia kan hanya ingin sama kita."
Beberapa saat kemudian, kutelepon Joseph. Kubahas rencana pertemuan tiga pasang pasutri di villa itu. Joseph langsung setuju. Lalu kutelepon Tommy, juga ingin merundingkan rencana penambahan peserta acara istimewa di villa itu. Kata Tommy, "Aku secara pribadi malah lebih senang dengan masuknya Joseph dan istrinya ke rencana kita. Tapi istriku...harus diyakinkan dulu...atau begini saja...nanti jangan main undian-undian untuk menentukan pasangan. Di hari pertama langsung aja istriku sama kamu, supaya dia gak kaget. Kan kamu yang dipilih olehnya."
Oke...beigini aja...di hari pertama itu aku dengan istrimu. Kamu dengan istri Joseph. Dan Joseph sama istriku."
"Hahaaahaaa...jadi aku gak sama istrimu ya?"
"Kalau istrimu sama aku, lalu istriku sama kamu...lalu Joseph sama siapa? Masa sama istrinya sendiri?"
."Iya ya....kalau sama istri sendiri sih di rumah aja. Ngapain gabung sama kita. Oke deh...berarti di malam pertama aku dengan istri Joseph, kamu dengan istriku, Joseph sama istrimu... terus di hari kedua gimana?"
"Di hari kedua, kamu sama istriku, Joseph sama istrimu, aku sama istri Joseph. Beres kan?"
"Acaranya cuma itu?"
"Kalau waktu dengan Erwin dan Kemal sih ada farewell party di malam ketiga. Ketiga pasutri main di satu ruangan...lalu ada rolling game....istri-istri diam di tempat, tapi para suami bergantian posisi dengan teman di sebelahnya menurut jarum jam, begitu."
"Woow asyiiiik....ya udahlah, aku setuju aja ! Soal istriku, nanti akan kubujuk dia habis-habisan. Pasti mau juga lah. Acaranya tetap dimulai pada hari Rabu sore kan?"
"Iya, waktu dan tempatnya gak ada perubahan. Cuma ada penambahan pesertanya aja, ya Joseph dengan istrinya itu."
Rabu yang dijanjikan sudah tiba. Siangnya kopor besarku sudah dimasukkan ke dalam bagasi sedan istriku. Ketika istriku bertanya, "Gak pakai mobil baru Bang?", kujawab dengan senyum dingin, "Gak usah pamer lah. Paling juga cuma menimbulkan iri teman-teman."
Aku memang tak suka pamer harta benda. Sifat itu pula yang membuat Mbak Lies makin lama makin menyayangiku.
Jam 15.00 aku duduk di samping istriku yang sudah berada di balik setir sedannya. Sengaja aku membiarkan ia nyetir, supaya makin tinggi jam terbangnya. Dan rasanya ia sudah cukup trampil mengemudikan sedan matic ini. Entahlah kalau dikasih mobil manual apakah masih bisa strampil ini atau harus belajar lagi. Tapi aku pernah membaca berita, bahwa pada suatu saat mobil-mobil manual takkan diproduksi lagi, diganti oleh mobil-mobil matic, tapi dengan system transmisi yang semakin disempurnakan.
Sejam kemudian kami sudah tiba di depan villa berkamar tiga itu. Villa yang pernah dipakai reuni mini dengan Kemal, Erwin dan istrinya masing-masing. Kami datang paling awal. Tommy dan Joseph belum datang.
Tapi tak lama kemudian mobil Tommy pun datang, didahului dengan bunyi klakson satu kali.
"Udah lama nunggu Yad?" tanya Tommy setelah turun dari mobilnya.
"Baru sepuluh menitan gitu. Oh ini istrimu?" tanya ku sambil memandang ke arah wanita berperawakan tinggi semampai, mengenakan celana denim biru tua dan baju kaus biru ultramarine dengan tulisan New Orleans di bawah payudaranya (kelihatannya ia berpayudara mungil).
"Iya," sahut Tommy, "Kenalin dulu...dan ini istrimu kan?"
"Iya...ayo sama-sama kenalan dulu, Er," kataku kepada istriku yang sore itu mengenakan gaun shanghai terbuat dari sutra hitam dengan mitif coretan-coretan abstrak.
Lalu Erni dan istri Tommy berjabatan tangan, disusul dengan cipika-cipiki. Diam-diam aku kagum pada kecantikan istri Tommy itu. Pandai juga Tommy mencari istri, sudah cantik anak orang kaya pula.
Pada waktu berjabatan tangan denganku, istri Tommy yang bernama Dyah itu tampak agak grogi. Tangannya pun terasa agak bergetar. Mungkin karena ia sudah tahu bahwa malam nanti ia akan menjadi milikku. Atau mungkin juga ada sesuatu di dalam hatinya, sehingga ia memilihku sebagai pasangan swingernya. Hahaaa, mana aku tahu ?
Tak lama kemudian Joseph dan istrinya pun datang. Aku masih ingat benar beberapa hari yang lalu Joseph bergegas pulang dari rumahku, dalam acis (acara istimewa) dengan Raisha, karena istrinya sakit. Tapi sekarang kelihatannya Mila sudah segar bugar kembali, bahkan terlihat lebih montok dari biasanya.
Seperti biasa, sebelum masuk ke kamar masing-masing, kami minum dulu sampai agak leyengan. Barulah kemudian kami membawa pasangan masing-masing yang telah ditentukan untuk semalam itu.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar