Melacak jejak birahi part 3


Bab 3








Seperti yang pernah kukatakan dalam judul awal kisah nyata ini, ada saja jalannya seseorang masuk dan menggoreskan kisah sendiri di dalam lembaran kehidupanku. Padahal aku tidak sengaja mencarinya.




Seperti pada hari itu, sehabis mencoba mobilbaruku, aku melakukan meeting dengan team bisnis dari Cirebon, di mall langgananku. Team itu menawarkan gudang batu bara di pelabuhan Cirebon, karena aku sendiri berminat untuk menampung kiriman batu bara dari Kalimantan, untuk diedarkan ke pabrik-pabrik di Jawa Barat. Selesai meeting dengan orang-orang Cirebon itu, aku masih tetap ingin nongkrong di smoking area, sambil menikmati rokok dan sisa kopi panasku.Dan bahkan minta secangkir black coffee lagi ke café yang di dekat smoking area. Aku juga bermaksud mau pulang setelah menghabiskan kopi cangkir kedua yang terhidang di mejaku.




Tiba-tiba bahuku ditepuk oleh seorang wanita cantik, "Yadi...?!"




Aku agak kaget. Memandang wanita cantik yang usianya kira-kira sebaya denganku itu. Wow...dia itu adik bungsu ibu tiriku !






"Tante Via...?!" aku bangkit dari kursiku, menjabat tangannya dan mempersilakan duduk di kursi sebelahku, "Kok malam-malam bisa ada di sini?"


"Tadi kan pulang dari rumah mamie kamu, Yad. Terus lihat-lihat pakaian dari toko ke toiko lain. Gak terasa hari sudah malam gini. Masih ada travel ke Tasik gak ya?"


"Ngapain pulang malem-malem gini? Eh...gak sama Om Farid?"


"Lho...emangnya kamu belum dengar dari mamie?"


"Dengar soal apa?"


"Aku udah cerai sama dia, Yad."


"Haaa?" aku kaget juga mendengarnya, "Kapan?"


"Udah enam bulanan."


"Ooo...saat itu aku masih di Kalimantan, Tante. Makanya gak denger soal itu. Kok bisa cerai sih?"


"Aah...panjang ceritanya. Yang jelas aku gak suka punya suami yang kerjanya cuma main judi terus gitu."


"Oh, iya....aku juga sering dengar dari Mamie, bahwa suami Tante Via itu seneng judi."


"Ngobrolnya nanti lagi, Yad. Anterin nyari bis atau travel ke Tasik dong."


"Ngapain pulang malem-malem gini? Besok aja pulangnya."


"Terus mau tidur di mana? Balik lagi ke rumah Mamiemu, gak enak. Masa udah pamitan malah balik lagi..."


"Di sini kan ada hotel, biar aku yang bayarin hotelnya. Tante pulang besok aja."


"Hotel?! Di mana?"


"Itu ada pintu lift menuju hotel, Tante. Tinggal melangkah beberapa langkah juga bisa langsung masuk hotel."


"Ohya? Di mall ini ada hotelnya segala?"


"Ada," aku mengangguk sambil berdiri, "Yok cek in aja sekarang."






Kujinjing tas Tante Via yang umurnya cuma setahun lebih tua dariku itu (karena dia anak bungsu, sementara ibu tiriku anak sulung, jadi perbedaan usianya cukup jauh).




Tante Via pun mengikuti langkahku ke arah pintu lift yang tak jauh dari smoking area itu.




Di dalam lift tidak ada orang lain kecuali aku berdua dengan Tante Via.






"Nanti aku tidur sendirian? Takut juga Yad."


"Emang mau ditemenin?"


"Kalau bisa sih..."


"Tante gak takut kuperkosa nanti?"


"Hihihi...!" Tante Via mencubit perutku, "Kalau mau sih minta aja baik-baik, pasti dikasih. Gak usah maen perkosa segala."




Aku terkejut mendengar pernyataan Tante Via itu. Kata-katanya mengandung arti yang sangat luas bagiku.




"Serius nih?" tanyaku, langsung memeluk pinggangnya. Tapi pintu lift keburu terbuka. Dan perasaanku jadi berbunga-bunga waktu menghampiri resepsionis di kantornya.






Setelah berada di dalam kamar yang telah ditentukan oleh resepsionis, kupegang kedua pergelangan tangan Tante Via. Kutatap wajahnya yang mirip artis India, dengan mata bundar dan bibir mencuat sensual.






"Beneran mau ditemenin tidur di sini?" tanyaku dengan senyum menggoda.


"Bener," sahutnya dengan senyum juga, "aku kan takut ditinggal sendirian di sini. Tapi...istrimu marah gak?"


"Gak lah...nanti mau ditelepon aja. Biasa juga hilang berhari-hari gak pernah marah. Asal laporan aja."


"Ya udah...telepon dulu istrimu gih. Aku mau mandi dulu."


"Pengen ikut mandi..." kataku sambil memegang pergelangan tangan adik ibu tiriku itu.


"Kamu sejak kecil masih aja ceriwis sampai sekarang," kata Tante Via sambil mencium pipiku. Maaaak...ini pertama kalinya aku merasakan dicium oleh Tante Via.


"Sejak kecil juga kamu suka padaku kan?" cetus Tante Via lagi.


"Iya. Tapi Mamie seperti sengaja menjauh-jauhkan kita."


"Iya sih. Mungkin dia takut kita melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Kita kan masih sama-sama ABG saat itu. Terus sekarang masih suka padaku?"


"Masih banget...iiih...Tante sekarang makin sexy..."


"Ya udah...call dulu istrimu gih. Biar tenang. Aku mandi dulu ya."




Setelah Tante Via masuk ke kamar mandi, aku memijat nomor istriku. Lalu :




"Sayang...ini aku ada urusan di Cirebon. Aku mau nginap di dekat pelabuhan ya."


"Iya bang. Hati-hati ya."






Begitu hubungan telepon dengan istriku ditutup, kulanjutkan dengan mengirim sms kepada seseorang. Lalu terdengar suara Tante Via memanggilku dari kamar mandi, "Yaaaadiii...!"




"Yaaa..." sahutku sambil melangkah ke pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.






Pintu kamar mandi kubuka. Dan tampak pemandangan yang sangat mendebarkan. Tante Via memunggungiku dalam keadaan telanjang bulat






"Sabunin dong punggungku, Yad."


"Siiip lah !" seruku sambil melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhku. Lalu mengambil sabun cair dari dinding kamar mandi.


"Wow...kamu telanjang juga? Biar jangan kebasahan ya pakaianmu..." cetus Tante Via sambil memandang batang kemaluanku yang sudah agak menegang, "Edan ! Kamu apain penismu itu, Yad? Kok gede banget sih?"


"Hehehee...ini belum ngaceng bener Tante. Kan malam ini mau dikasihin buat Tante."


"Mmm...ayo dong sabunin punggungku, Yad."






Kuturuti permintaan Tante Via dengan menyabuni punggungnya sampai berbusa-busa. "Cuma punggungnya, Tante? Ininya gak?" tanyaku sambil mencolek kemaluan Tante Via.






"Terserah," sahut Tante Via yang seperti penasaran dan tiba-tiba memegang batang kemaluanku, lalu menatapku dengan sorot pasrahnya seorang wanita, "malam ini aku kan milikmu, Yad..."


"Mmm..." gumamku ssambil menyabuni kemaluan Tante Via yang ternyata jembutnya tipis sekali ini, sehingga bentuk aslinya tidak terhalang, "Hanya malam ini jadi milikku? Lalu besok dan hari-hari selanjutnya milik siapa?"






Tante Via mulai menyabuni batang kemaluanku juga, lalu mengocoknya perlahan, sehingga alat kejantananku makin tegang saja rasanya.






"Aku gak mau nikah dulu lah," sahut Tante Via, "Jadi aku ingin nikmati aja dulu masa jandaku."


"Kalau gitu ikut komunitasku aja, Tante."


"Komunitas apa?"






Lalu kujelaskan secara singkat, tentang wife share, wife swap dan sebagainya. Membuat Tante Via serius mendengarnya. Terlebih setelah aku menceritakan bahwa komunitasku bertampang di atas rata-rata semua, baik prianya maupun wanitanya.






"Iiiih...kayak apa ya rasanya digauli sama dua cowok sekaligus?" gumam Tante Via tanpa menghentikan remasan lembutnya di penisku yang sudah siap tempur ini, "Apalagi kalau tititnya segede-gede punyamu ini...iiiihh...gak kebayang..."


"Kita tes aja nanti. Kalau Tante gak mau, boleh nolak kok."


"Yadi...aku udah horny berat nih," bisik Tante Via yang mulai kuyakini bahwa nafsunya gede juga, "tapi jangan di sini...di tempat tidur aja...soalnya aku rada kedinginan di sini..."






Aku setuju. Lalu kami mandi bareng. Dan keluar dari kamar mandi. Tante Via mengeringkan rambutnya beberapa saat dengan handuk hotel. Dan aku diam-diam membuka kunci pintu kamar hotel itu, tanpa sepengetahuan Tante Via. Kemudian kuhampiri adik ibu tiriku yang sudah meletakkan handuknya di atas kasur. Mungkin untuk mengelap sesuatu kalau sudah melakukan sesuatu nanti.




Setelah Tante Via menelentang di atas kasur bertilam seprai putih bersih itu, aku langsung menghimpitnya. Menciumni bibirnya dengan gairah baru, karena aku memang belum pernah menyetubuhinya meski sudah mengenalnya sejak sama-sama masih kecil.




Sengaja aku ingin membangkitkan nafsu Tante Via sehebat mungkin. Dengan jilatan di lehernya, di pentil payudaranya. Bahkan aku berkali-kali menghisap-hisap pentil payudaranya yang tampak mancung menantang itu.




Tak cuma itu. Mulutku turun ke bawah...sampai tepat berada di depan kemaluannya yang berjembut tipis itu. Lalu dengan penuh gairah aku mulai menjilati kemaluan Tante Via yang masih tercium harum sabun mandi. Kemaluan yang baru dibersihkan, terasa segar dan membuatku sangat bersemangat menggelutkan bibir dan lidahku dari celah yang terjangkau di mulut vaginanya sampai terkonsentrasi untuk menjilati kelentitnya.




Ketika aku semakin ganas menjilati dan menyedot-nyedot kelentitnya, sepasang kaki Tante Via terasa mengejang-ngejang.




RIntihan histeris Tante Via pun mulai terdengar, "Duuuh....Yaaaad....ooooh....oooh...ini enak banget Yaaaad...ooooh......udah...udah.....masukin aja Yadi sayaaaaang....."




Kuturuti permintaan Tante Via. Aku naik ke atas perutnya, sambil mengarahkan batang kemaluanku agar ngepas moncongnya menempel di mulut vagina adik ibu tiriku itu. Dan kudesakkan batang kemaluanku agak kuat, sehingga kepalanya mulai membenam ke dalam liang kewanitaan Tante Via.




Pada saat itulah diam-diam kuraih hp dari bawah bantal dan kupijat call ke nomor yang sudah janjian denganku. Hanya misscall yang kulakukan.






"Haduuuh...kontolmu gede banget sih Yad...sampe seret gini....padahal udah dibasahin sama air liurmu barusan....iyaaaa...dorong lagi...iya...entotin dulu dikit-dikit...ntar juga masuk semua..." desah Tante Via sambil memeluk leherku, sehingga pipiku bertempelan dengan pipinya. Oh...ini persis seperti waktu aku pertama kalinya menyetubuhi ibu tiriku dahulu !






Dan...pada saat itulah kulihat pintu kamarterbuka perlahan. Seorang lelaki muda yang tampan berjingkat-jingkat memasuki kamar ini setelah pitunya ditutupkan kembali tanpa menimbulkan suara. Cepat kuhalangkan kepalaku ke pipi Tante Via lagi, supaya tidak melihat kedatangan lelaki tampan itu, yang tak lain dari Jaka. Ya, tadi setelah menelepon istriku, aku smsan dengannya. Dan semuanya sudah kuatur bersama Jaka lewat smsan itu. Bahwa ia akan segera merapat ke hotel ini. Akan menunggu misscall dariku, sebagai tanda bahwa ia sudah boleh masuk lewat pintu yang tidak kukunci.




Sambil mengayun batang kemaluanku, masih sempat aku berbisik ke telinga Tante Via, "Kalau ada cowok seorang lagi pastgi jauh lebih asyik. Tante bisa menikmati entotanku sambil menikmati belaian dan remasan cowok yang satunya lagi. Atau bahkan Tante bisa nyelomotin kontol cowok satunya lagi itu..."






"Jangan ngelamun yang nggak-nggak ah," sahut Tante Via, "itu kan hal yang mustahil buatku saat ini."


"Siapa bilang mustahil? Aku bisa membuktikannya sekarang...sim salabim !!!"


"Selamat malam Tante...." kata Jaka yang sudah berdiri di dekat tempat tidur.


"Aaaau !" Tante Via kaget sekali kelihatannya. Mungkin karena munculnya Jaka justru ketika tubuhnya sedang telanjang bulat...sedang disetubuhi pula olehku. Tapi aku yakin Tante Via akan tergiur melihat ketampanan sahabatku itu.






Jelas Tante Via takkan bisa ke mana-mana, karena sedang berada di dalam himpitan dan pelukanku, sedang kugenjot pula kemaluannya.






"Biar sama-sama enak, telanjang dulu, lalu naik ke sini," kataku kepada Jaka yang dijawab dengan anggukan kepalanya.






Tante Via cuma menatapku terus, seperti tidak berani memandang Jaka yang sedang menelanjangi dirinya.




Tak lama kemudian Jaka pun naik ke atas tempat tidur, tentu dalam keadaan sudah telanjang bulat seperti yang kusuruh tadi. Jaka langsung duduk di dekat kepala Tante Via.






"Kenalan dulu dong....pake cium mesra aja kenalannya," kataku sambil menghentikan enjotanku sesaat.






Tanpa ragu Jaka mendekatkan bibirnya ke bibir Tante Via. Dan...hahahaaaaa....Tante Via menyambut ciuman itu dengan rengkuhan di leher Jaka ! Itu berarti Tante Via sudah menerima Jaka untuk bergabung dalam perahu kenikmatan ini.






"Namanya Jaka," kataku sambil melanjutkan ayunan batang kemaluanku yang sedang enak-enaknya bergesekan dengan dinding liang kemaluan Tante Via.






Tante Via berusaha tersenyum ke arah Jaka. Pasti dia suka melihat tampannya temanku itu. Maka sambil mengayun batang kemaluanku, masih sempat kutarik tangan Tante Via dan kutempelkan ke penis Jaka yang sudah duduk di dekat dada adik ibu tiriku itu. Ternyata Tante Via memang mengenggam batang kemaluan Jaka, lalu meremas-remasnya....sementara aku semakin asyik mengenjot penisku di dalam jepitan lubang kemaluan adik ibu tiriku itu.






"Aaaaaah....aaaaah....aaaa....aaaaaah...." Tante Via mulai mendesah-desah histeris, karena aku mulai mempercepat gerakan batang kemaluanku.






Namun solidaritasku kepada teman cukup tinggi. Ketika aku memandang ke arah Jaka, kulihat sorot matanya seperti mengharapkan belas klasihan. Mungkin ia sudah tak tahan lagi dirangsang oleh persetubuhanku dengan Tante Via ini. Maka kukasih isyarat, dengan maksud agar ia menggantikanku untuk menyetubuhi Tante Via. Ia mengangguk senang. Tante Via tidak menyadari pembicaraan lewat isyarat itu.




Tante Via cuma tercengang, ketika menyadari bahwa kedudukanku sudah diganti oleh Jaka. Bahwa yang sedang mengenjot liang vaginanya itu batang kemaluan Jaka. Bukan batang kemaluanku lagi.




Ketika Tante Via menoleh padaku, spontan aku berkata, "Enjoy aja Tante...jangan canggung-canggung gitu..."




Sementara Jaka mulai asyik mengayun batang kemaluannya.




Dan akhirnya, meski dengan sikap malu-malu, Tante Via mulai memeluk leher Jaka. Bahkan pinggul Tante Via pun mulai bergoyang-goyang dengan gerakan yang begitu binalnya.




Jaka memang punya solidaritas tinggi. Meski belum ejakulasi dan tampak sedang enak-enaknya mengentot adik ibu tiriku, Jaka memberi isyarat agar aku menggantikannya dulu. Aku mengangguk. Jaka pun mencabut batang kemaluannya dari jepitan liang kewanitaan Tante Via.




Jaka melangkah ke kamar mandi, sementara aku sudah berada di atas perut Tante Via sambil berusaha memasukkan batang kemaluanku ke dalam meqi adik ibu tiriku itu. "Enak kan sama dua cowok?" bisikku setelah berhasil membenamkan batang kemaluanku.






"Hmmm...emang..."


"Tampan pula temanku itu kan?"




Tante Via menjawabnya dengan bisikan, "Tapi punyamu lebih panjang...lebih gede...lebih terasa..."




"Terus enakan siapa?"




Tante Via berbisik lagi, "Enakan kamu, sayang. Ayo genjot lagi...masa direndem terus?"




Aku menahan tawaku sambil mulai mengayun kembali batang kemaluanku, maju mundur di dalam jepitan lubang kemaluan Tante Via yang terasa masih sangat kecil ini. Maklum dia kan belum pernah melahirkan, seperti Mamie.




Beberapa saat kemudian Jaka pun muncul lagi dan langsung duduk sambil menyandar dan melonjorkan kakinya.




Menyadari kehadiran temanku, Tante Via pun tidak mengabaikannya. Meski tengah merem-melek disetubuhi olehku, Tante Via masih bisa menggerakkan tangannya, untuk menggenggam batang kemaluan Jaka yang masih greng itu.Sekilas pun tampak bahwa Tante Via sedang enjoy sekali dengan suasana ini. Suasana MMF (male-male-female) ini. Apalagi ketika Jaka mulai intervensi, menyelipkan tangannya ke arah payudara Tante Via yang terhimpit oleh dadaku. Aku pun mengangkat dadaku, dengan menahan tubuhku lewat sikutku di kasur, sehingga Jaka bisa meremas-remas payudara Tante Via, sementara aku tetap asyik mengenjot batang kemaluanku bermaju-mundur di dalam jepitan meqi Tante Via.




Tapi aku teringat sesuatu. Maka lalu kataku, "Kita main doggy Tante yuk," ajakku.




Tante Via menatapku sesaat. Tapi lalu mengiyakan. Lalu kucabut dulu batang kemaluanku sambil memberi instruksi kepada Jaka, "Kamu celentang, Jak."




Jaka langsung mengerti. Tante Via pun lalu mengerti setelah kuberi petunjuk singkat. Maka setelah Jaka celentang, tante Via merangkak di antara kedua kaki Jaka yang direntangkan, sampai wajah Tante Via berada tepat di atas batang kemaluan Jaka.




Maka ketika Tante Via sudah menungging sambil memegangi batang kemaluan Jaka yang masih ngaceng itu, aku pun memasukkan batang kemaluanku dari arah bokong Tante Via.




Sesaat kemudian Tante Via bukan hanya memegang penis Jaka, tapi juga mulai menyelomotinya, laksana anak kecil yang sedang mengemut permen loli. Sementara pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti irama ayunan batang kemaluanku yang tengah mengenjotnya dari belakang.




Tapi hanya belasan menit aku mengenjot Tante Via dalam posisi doggy begitu. Kemudian Tante Via ambruk...karena telah mencapai orgasmenya. Tewrpaksa kulanjutkan dalam p[osisi klasik, aku di atas, Tante Via di bawah. Dan aku pun tak mau berlama-lama lagi. Tongkat kejantananku memompa liang kewanitaan Tante Via dengan gerakan agak cepat dan keras, sampai akhirnya terasa seperti mau ejakulasi, maka kubisiki Tante Via, "Lepasin di mana Tante?"




Singkat saja Tante Via menjawab, "Di dalam."




Maka sambil membenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, terasa moncong penisku menembak-nembakkan air mani, yang membuatku mendengus........uu...uu.. uuuuuuuuu........uuuuuuughhhhhhhhh.............




Setelah mencabut batang kemaluanku dari dalam liang kewanitaan Tante Via, aku melangkah ke kamar mandi, sementara Tante Via mengeluarkan tissue basah dari dalam tas kecilnya, untuk membersihkan dan mengeringkan liang kemaluannya. Disusul dengan merayapnya Jaka ke atas perut adik ibu tiriku itu.




Waktu keluar dari kamar mandi, kulihat Tante Via sudah bersetubuh lagi dengan Jaka. Kali ini Tante Via di atas, Jaka menelentang di bawah. Seru juga kelihatannya....




Tante Via sudah berada di dalam genggamanku. Satu sosok lagi yang bisa kumanfaatkan untuk pemuasku. Bahkan aku merasa lebih leluasa bersamanya, karena ia seorang janda tanpa anak. Bebas untuk melakukan apa pun. Tidak seperti Raisha, meskipun diberi kebebasan oleh suaminya sendiri, tetap saja statusnya itu istri orang.




Bahkan di hari-hari berikutnya, Raisha dimanfaatkan oleh istriku untuk membantunya di kantin wisma kos yang sudah diperluas dengan bangunan serba bambu dan atap jerami.




Di belakang rumah kecil itu pun sedang dibangun beberapa kamar lagi, karena dua kamar terasa kurang. Sementara puri yang sudah kubeli itu pun sedang direnovasi di sana-sini. bahkan cat kayu dan cat temboknya pun diganti dengan warna yang sesuai dengan seleraku.




Untuk kegiatan bisnisku, maka aku mengontrak tempat untuk kantor yang letaknya cukup bagus, tapi bukan di jalan ramai yang sering macet. Di kantor itu aku menempatkan 18 orang pegawai.




Sementara itu, pertemuan demi pertemuan dengan Mbak Lies tetap dilaksanakan secara rutin di rumah yang sudah dibeli di kompleks perumahan elit itu. Meskipun rumah itu sudah dibayar oleh Mbak Lies, balik nama sertifikatnya memakai namaku. Entah mau diberikan padaku atau gimana, entahlah.




Memang kuakui, sejak punya hubungan rahasia dengan Mbak Lies, taraf kehidupanku menanjak terus dengan pesatnya.




Dan hari demi hari berputar terus........








BERSAMBUNG 







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar