Bab 11
Meski cuma tiga hari berada di Banjarmasin, tampaknya Mbak Lies cukup puas dengan apa yang telah aku dan Edo lakukan. Malam kedua, tidak ada kejadian apa-apa, karena aku dan Mbak Lies sampai larut malam masih berada di lokasi tambang, tepatnya di kantor dekat lokasi tambang. Lewat tengah malam kami baru pulang ke Banjarmasin. Dan jam enam pagi baru tiba di hotel.
Pada malam ketiga, barulah terjadi aksi habis-habisan di antara aku, Edo dan Mbak Lies. Entah kenapa aku dan Edo seolah punya power dahsyat, sehingga aku kuat empat kali menggauli Mbak Lies, sementara Edo pun sama...empat kali juga. Maka kalau dijumlahkan, Mbak Lies delapan kali disetubuhi oleh aku dan Edo secara bergiliran. Memang pada waktu menyaksikan Edo menyetubuhi Mbak Lies, aku jadi sangat terangsang. Begitu pun kalau aku sedang menyetubuhi Mbak Lies, merupakan perangsang dahsyat bagi Edo.
Menjelang fajar menyingsing, barulah kami sama-sama terkapar di pantai kepuasan.
Namun aku dan Mbak Lies harus mandi dan berdandan, karena tiket sudah Edo belikan dan jam tujuh pagi kami harus sudah cek in di bandara Syamsuddin Noor.
Dalam penerbangan dari Banjarmasin ke Jakarta, Mbak Lies tertidur terus. Mungkin karena semalaman tidak tertidur, lalu dibayar dalam penerbangan yang cuma sejam empatpuluh menit itu.
Aku pun tak mau mengganggu Mbak Lies sampai pesawat landing di bandara Soekarno-Hatta.
Setelah keluar dari pintu kedatangan, Mbak Lies berkata, "Jangan langsung pulang. Kita nginep aja di Jakarta semalam dua malaman, sampai badanku segar lagi. Rasanya aku letih banget Yad." Lalu Mbak Lies lanjutkan dalam bisikan, "Kalian edan....tadi malam sampai delapan kali....!"
"Betul Mbak...aku sendiri belum pernah seedan itu," sahutku, "Mungkin itulah manfaat yang bisa kita petik...jadi perkasa semua, seolah dapat obat perangsang dari surga."
Mbak Lies menatapku dengan mata sayu, sambil memeluk pinggangku menuju parkiran taksi.
Ke sopir taksi kusebutkan nama sebuah hotel bintang lima. Sopir taksi mengangguk, sambil membukakan pintu belakang untuk aku dan Mbak Lies. Tak lama kemudian taksi itu pun meluncur keluar dari wilayah bandara.
Di dalam taksi yang sedang meluncur di jalan tol itu aku memijat nomor telepon hotel yang akan kutuju. Untunglah yang menerima teleponku bilang masih ada kamar untuk kami. Sementara di dalam taksi pun Mbak Lies ketiduran lagi. DIpikir-pikir kasihan juga wanita yang pemurah itu. Maka sengaja kutarik kepalanya agar rebah di pangkuanku.
Berkendaraan di jalan tol zaman sekarang tiada jaminan tanpa macet. Dari bandara ke hotel, yang biasanya kutempuh setengah jam, kini dua jam baru tiba di hotel yang kutuju.
Di dalam kamar hotel yang sudah disediakan, Mbak Lies langsung menyerbu tempat tidur dan tertidur nyenyak. Aku pun menemaninya tidur di sampingnya, sambil memeluk guling. Aku tak mau mengganggu Mbak Lies yang sudah tepar itu, maka bantal guling saja yang kupeluk, bukan tubuh Mbak Lies.
Aku jadi tertidur nyenyak juga, sehingga waktu Mbak Lies bangun dan mandi, aku belum sadar juga. Waktu Mbak Lies menciumi pipiku, barulah aku membuka mataku.
"Udah sore, sayang. Mandi dulu gih. Setelah mandi, kita makan di resto hotel ini aja, biar gak usah pergi jauh-jauh."
"Wow...Mbak udah cantik banget," kataku sambil duduk dan menatap wajah Mbak Lies yang sudah dipoles kosmetik, "Mbak udah mandi ya? Aku jadi ikut-ikutan tidur pulas."
Sebelum masuk ke kamar mandi, masih kusempatkan mencium bibir Mbak LIes yang sudah harum itu. Lalu melangkah masuk ke kamar mandi.
Tapi baru saja aku menanggalkan pakaianku di dalam kamar mandi, hpku berbunyi, hp yang selalu kubawa meski sedang di kamar mandi ataupun toilet. Call dari nomor yang belum kukenal. Tapi kuangkat juga, "Hallo...dengan siapa nih?" tanyaku.
Terdengar suara perempuan di hpku, "Dari Nur, Mas. Udah lupa ya?"
"Nur mana ya?"
"Nuryati, Mas."
"Ooooh...iya, iya....apa kabar Nur?"
"Baik-baik aja, Mas. Justru aku mau laporan, usahaku udah berkembang Mas. Semuanya kan atas kebaikan Mas. Tapi sayang Mas gak mau nengok-nengok ke sini."
"Aku sibuk terus bolak-balik ke Kalimantan, Nur. Ini juga baru beberapa jam pulang dari sana. Nanti kalau udah aa waktu, pasti aku tengok ke sana ya."
"Iya Mas. Aku tunggu ya."
"Iya. Ini nomor barumu, Nur?"
"Iya Mas. Nomor lama kan hilang sama hape-hapenya."
"Oke deh, aku saving nomornya ya. Semoga usahanya lancar ya Nur."
"Iya Mas. Terimakasih."
Kumasukkan handphoneku ke saku celanaku yang tergantung di dinding. Kemudian aku mandi sebersih-bersihnya. Tapi ingatanku melayang-layang ke masa lalu. Ke masa yang ada sangkut pautnya dengan perempuan yang menelepon tadi.
Aku masih ingat benar, saat itu mobilku masuk bengkel untuk service yang butuh lama pengerjaannya. Sedangkan mobilku baru satu-satunya itu. Sehingga untuk menghadiri meeting bisnisku di Semarang, terpaksa kupakai bus.
Pada perjalanan itulah terjadi tabrakan maut antara bus yang kutumpangi dengan sebuah truk gandengan. Kejadiannya di antara Sumedang dengan Kadipaten. Aku tau bahwa yang bersalah adalah sopir bis yang kutumpangi, karena dalam tikungan ke kiri terlalu banyak tekornya, terlalu ke kanan. Sehingga truk yang datang dari arah berlawanan tak bisa menghindar lagi, karena di sebelah kiri truk itu curam sekali tanahnya. Lalu truk itu menghantam badan bis sebelah kanan. Untungnya nasibku baik. Aku duduk di belakang sopir, sehingga tidak mengalami cedera. Tapi beberapa deret kursi di bagian tengah dan belakang, banyak yang meninggal.
Aku bergegas turun dengan sulit. Dan sesampainya di bahu jalan, kulihat pemandangan menyeramkan. Para korban yang berlumuran darah dikeluarkan dari bis. Pecahan kaca berserakan di sana-sini.
Aku cuma bengong dengan batin yang belum lepas dari perasaan kaget dan ngeri. Namun ada rasa bersyukur juga karena aku ditakdirkan selamat, tak mengalami luka sedikit pun.
Namun dalam suasana musibah mengerikan itu, mata lelakiku masih sempat melihat seorang cewek 20 tahunan yang tampak ketakutan menyaksikan akibat dari tabrakan itu, meski dia sendiri termasuk yang selamat seperti aku. Manis sekali cewek bercelana jeans dan berkaus biru tua itu.
Rasanya aku punya jalan untuk mendekatinya. "Mau ke mana Dik?" tanyaku.
"Mau ke Tegal. Mas mau ke mana?" sahutnya sambil balik bertanya.
"Ke Semarang," sahutku, "Ya sudah kita pake bis lain saja, ngecer aja. Dari sini ke Cirebon dulu, dari Cirebon lanjutkan ke Tegal. Kalau langsung ke Tegal mungkin rada sulit. Aku juga mau ngecer, biar cepet sampainya di Semarang."
"Terus ongkos yang sudah dibayar di Bandung tadi dikembaliin gak?" dia masih tampak kebingungan. Mungkin duitnya pas-pasan, sehingga tampak mengharapkan uang tiket dikembalikan. Tapi melihat keadaan busnya juga sudah ringsek begitu, sementara polisi belum datang juga, rasanya tipis harapan duitnya cerpat-cepat dikembalikan. Kalaupun dikembalikan, tentu ada proses dulu.
"Sudahlah jangan mengharapkan pengembalian uang tiket. Biar aku yang bayar tiketnya sampai Tegal nanti," kataku berlagak jadi dewa penolong. Kebetulan saat itu duitku emang cukup banyak.
Cewek itu menatapku. O, manisnya cewek berperawakan tinggi langsing itu. Lalu terdengar suaranya, "Jadi ngerepotin Mas dong...."
"Gak lah..masa segitu aja ngerepotin. Tuh ada bis jurusan Cirebon. Yok kita pakai bis itu aja. Mendingan ngecer, biar lebih cepat sampainya di Tegal. Jadi dari Cirebon nanti disambung dengan bus Cirebon-Tegal."
Cewek itu mengangguk, lalu bergegas mengambil tasnya yang diletakkan di bahu jalan.
Itulah awal perkenalanku dengan Nuryati, demikian nama cewek itu. Banyak yang kami obrolkan di dalam bis yang sedang menuju Cirebon. Dari Cirebon kami lanjutkan ke Tegal dengan bis lain.
Di dalam bis itu aku mengetahuinya, bahwa dia baru saja selesai menamatkan program D3 di salah satu universitas di kotanya. Dia ke Bandung untuk mempelajari sikon kota itu, memungkinkan atau tidaknya bekerja di Bandung.
Setelah pulang ke Bandung, aneh...bayang-bayang wajah Nuryati sering menggoda terawanganku. Apakah aku jatuh cinta lagi? Hahaha...aku harus menepiskan hal itu jauh-jauh, karena aku sudah punya istri dan anak-anak.
Tapi gerak-geriknya memang masih jelas di pelupuk terawanganku. Ketika kuantarkan sampai rumahnya di Tegal, berkali-kali ia mengucapkan kalimat yang sama, "Mas baik sekali."
Bahkan kedua orang tuanya tampak kaget setelah kuceritakan musibah yang terjadi di Jabar itu. Lalu mereka sangat berterimakasih padaku.
Waktu aku mau melanjutkan perjalanan ke Semarang, Nuryati mau mengantarkanku ke terminal. Tapi kularang, "Gak usah Nur. Nanti malah saling antar, gak ada ujungnya. Istirahatlah di rumah. Sambil bersyukur karena kita selamat dari musibah itu."
Saat itu Nur memegang pergelangan tanganku sambil mengucapkan terimakasih untuk kesekian kalinya, dan: "Kapan kita ketemu lagi Mas? Pulang dari Semarang mampir dulu ya."
Tapi pulang dari Semarang aku tak bisa mampir dulu, karena saat itu aku masih trauma dengan musibah di antara Sumedang dan Kadipaten itu. Aku pulang pakai kereta api ke Jakarta, karena masih takut naik bis. Dari Jakarta ke Bandung pun pakai kereta api lagi. Saat itu belum ada kereta api yang langsung dari Semarang ke Bandung.
Begitulah...hari demi hari berlalu tanpa ada kejadian penting. Sampai pada suatu hari kuterima surat dari Nuryati yang dialamatkan ke basecampku, yakni rumah Edo sebelum banyak kisah dengan sahabatku itu. Memang aku merahasiakan alamat rumahku dan nomor handphoneku (karena kulihat dia tak punya handphone, jadi percuma ngasih nomor hp juga). Nomor telepon rumah pun kurahasiakan.Jadi komunikasi hanya lewat surat.
Dan dua-tiga bulan kemudian Edo memberikan sepucuk surat padaku, "Ada surat buat Boss nih," katanya.
Ternyata surat dari Nuryati. Isi surat dari Nur itu berbunyi,
Mas Yadi yang baik,
Setibanya surat ini di tangan Mas Yadi, aku mendoakan dari jauh, semoga Mas Yadi sehat walafiat tak kurang suatu apa pun. Demikian juga dengan aku, pada saat menulis surat ini ada di dalam lindungan Allah, sehat walafiat.
Sebenarnya sejak Mas Yadi berangkat ke Semarang, aku ingat terus pada Mas dan segala kebaikan Mas yang tak bisa aku balas. Aku pikir Mas mau datang lagi sepulangnya dari Semarang. Tapi aku tunggu-tunggu tak kunjung datang. Karena itu aku memberanikan diri menulis surat ini.
Ohya Mas, sebenarnya aku ingin sekali bekerja di Bandung. Bagaimana ya caranya? Bisakah Mas Yadi membantu agar cita-cita aku bisa terwujud?
Kalau aku bekerja di Bandung kan bisa sering ketemuan dengan Mas Yadi yang baik hati.
Banyak lagi yang ditulis di suratnya itu, yang pada intinya dia sudah ingin meninggalkan kampung halamannya, ingin mengadu nasib di Bandung.
Lama aku memikirkan isi surat itu. Aku memang banyak koneksi, rasanya tak sulitmencarikan lapangan kerja untuk cewek itu. Tapi ada perasaan lain di hatiku, karena aku baru saja mendapat fee yang jumlahnya cukup banyak, dari bisnisku sebagai arranger dalam penjualan kabel tembaga bekas sebuah perusahaan telepon seluler. Dan aku belum melaporkan hal itu kepada istriku. Bahkan mungkin aku takkan melaporkannya, karena tiba-tiba saja muncul rencana baru di benakku.
Dan kubalas surat itu dengan kalimat yang pada intinya agar dia secepatnya saja datang ke Bandung, nanti segala sesuatunya dirundingkan di Bandung.
Yang jelas, aku ingin menolong cewek itu. Tapi terus terang, ada pamrih di balik niat baik itu.
BERSAMBUNG
0 Komentar