Langkah langkah binal part 5

 

Bab 5






Beberapa saat kemudian, ketika Anna sudah duduk di sampingku di dalam jip yang sedang kujalankan menuju ke lkompleks perumahan paling elit di kotaku, secara jujur aku berkata, "Bermimpi pun tidak kalau saya akan merasakan kebahagiaan sehebat ini sekarang."




"Dan saya senang kalau saya bisa membahagiakan hati Abang," sahut Anna dengan kepala disandarkan ke bahuku.


"Tapi kenapa Anna bisa secepat itu menerima saya?"


"Tidak cepat Bang. Sebelum saya terbang ke Indonesia, Joseph sudah mengirimkan foto-foto Abang lewat chat di handphone kami. Saya juga sudah mendengar hal-hal mengenai pribadi Abang dari Joseph. Kebetulan Papi dan Mami juga setuju kalau saya dijodohkan dengan Abang."


"Hah?! Jadi sudah sejauh itu kalian merundingkan diriku?"


"Iya Bang. Biar abang tau, Mami dan Papi juga dahulu dijodohkan oleh orang tua mereka. Ternyata sampai sekarang mereka hidup bahagia."






Aku cuma terlongong di belakang setirku. Semua yang Anna katakan masih terasa aneh bagiku.




Tapi Anna lalu menjelaskan lagi, "Budaya orang Belanda jauh beda dengan orang Amerika, Bang. Katakanlah orang Belanda itu masih feodal. Tapi memang begitulah kenyataannya. Maka pernikahan Papi dan Mami pun bukan dimulai dengan pergaulan anak-anak muda."






Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di depan sebuah rumah di kompleks perumahan yang paling elit di kotaku. Rumah itu lebih luas dan megah kalau dibandingkan dengan rumah yang sudah kuberikan kepada Nur. Terus terang, aku membeli rumah ini dari hasil profit batubara pada gebrakan pertama. Sengaja kusimpan terpisah uangnya. Dan kubelikan rumah itu, untuk mengabadikan hasil perjuangan awalku di Kalimantan. Tadinya pun rumah itu takkan kujual, melainkan untuk kupakai sendiri. Karena itu sedikit demi sedikit perabotannya kulengkapi.




Pada saat aku mengajak Anna ke rumah itu, perabotannya sudah lengkap semua.






"Ini rumah Abang?" tanya Anna waktu sudah berada di teras rumah itu.


"Iya," sahutku sambil membuka pintu depan.






Setelah berada di ruang tamu, Anna menyapukan pandangan ke sekitarnya. "Besar juga rumah ini ya? Tapi kelihatannya seperti belum pernah ditempati."




"Kalau Anna mau, Anna bisa tinggal di sini," kataku.


"Sendirian?"


"Nanti saya carikan pembantu rumah tangga, paling sedikit dua orang. Yang satu untuk bagian cleaning service, termasuk cuci dan setrika pakaian, yang satu lagi untuk tukang masak."


"Terus?" Anna duduk di sofa ruang tamu.






Aku pun lalu duduk di sampingnya, "Terus saya akan sering menginap di sini. Kalau tidak bisa malam, ya siangnya saya bisa berada di sini."




"Abang serius?"


"Sangat serius, honey," kataku, untuk pertama kalinya memanggil honey padanya.


"Mmm...status saya nanti gimana? Jadi pegawai di perusahaan Abang atau..."


"Jangan pikirkan status dulu, supaya pikiran kita tetap jernih. Yang pasti, saya takkan menempatkan Anna di perusahaan saya. Kalau Anna mau, nanti saya buatkan sebuah restoran, lalu Anna kembangkan hasil pendidikan di Nederland dahulu. Di kota ini banyak orang yang suka masakan berbau internasional."


"Wow...berarti Joseph sudah bicara banyak dengan Abang. Terima kasih Bang. Memiliki sebuah restoran, memang sudah jadi obsesi saya sejak remaja dulu."


"Anna tak usah bekerja sendiri nanti. Biar kita cari chef yang sudah pengalaman di resto-resto atau hotel-hotel bertaraf internasional. Anna cukup mengawasi dan mengelolanya saja."


"Mengelola? Apa arti mengelola Bang?"


"Mmm...dalam bahasa inggris mengelola itu artinya manage. Dalam bahasa Belanda mungkin disebut beheren..."


"Hihihihi...Abang kok banyak tau bahasa Belanda? Padahal waktu ngambil gelar master bukan di Belanda kan? Dari mana Abang belajar bahasa Belanda?"


"Saya punya ibu tiri yang sejak bayi dijadikan anak angkat keluarga Belanda. Dari dia saya banyak belajar bahasa Belanda."


"Sekarang stiefmoeder itu masih ada?"


"Masih. Dia belum tua-tua benar. Baru empatpuluh tahunan gitu."


"Kapan-kapan ketemukan saya dengan dia ya Bang."


"Iya."




Tiba-tiba handphoneku berdering. Joseph yang meneleponku. Lalu:




"Hallo Jos !"


"Sorry mengganggu nih...gak lagi sibuk kan?"


"Gak Jos. Lagi santai benar. Lagi ngobrol sama Anna."


"Ohya? Jadinya gimana? Apakah dia diterima di perusahaanmu?"


"Gak. Dia kuterima di hatiku. Bukan di perusahaan."


"Hahahaa...syukurlah. Atur-atur aja gimana baiknya. Pokoknya aku percaya penuh padamu, Yad."


"Iya. Terimakasih atas kepercayaanmu....kepercayaan yang membuatku bahagia saat ini, Jos."






Setelah hubungan telepon ditutup, aku menggapaikan tangan pada Anna dan menepuk pahaku sendiri, "Sini...duduk di sini..."




Dengan senyum manis Anna duduk di atas kedua pahaku. Bahkan sambil mendekatkan bibirnya ke bibirku. Lalu kami berciuman dengan mesranya.






"Bang...nanti Abang jangan kecewa ya...karena saya tidak virgin lagi," kata Anna setelah ciuman kami terlepas.


"Gak apa-apa. Yang penting bisa setia gak nanti?"


"Bang," Anna menatapku dengan sorot tajam, lalu melanjutkannya dalam bahasa Belanda, yang artinya kira-kira seperti ini :"Jangan anggap saya ini perempuan murahan. Saya memang tidak virgin lagi. Tapi kalau Abang percaya, saya baru tiga kali melakukannya dengan lelaki Norwegia sialan itu. Setelah dia menghilang, saya tidak pernah melakukannya lagi dengan siapa pun. Jadi Abang tak usah meragukan kesetiaan saya."


"Iya, saya percaya, honey."


"Lalu..." lanjutku, "apa yang boleh saya lakukan padamu?"




Sebagai jawaban, Anna merangkul leherku sambil berkata, "U beleefd ... Ik hou van uw wegen." (anda sopan, saya suka cara anda)




Kucolek-colek bibir Anna yang sensual itu, "Apakah tidak terlalu cepat kalau kita melakukan sejauh mungkin saat ini?"




Anna menggigit daun telingaku perlahan. Dan berbisik, "Saya sudah menjadi milik Abang. Doe wat je wilt..." (lakukanlah apa yang anda inginkan)






Aku menunjuk ke pintu kamar depan yang masih tertutup sambil berkata, "Lebih nyaman kita pindah ke sana, honey. Di sini agak panas, belum ada ACnya."






Anna mengangguk dan turun dari pangkuanku. Lalu mengikuti langkahku menuju pintu kamar depan yang masih tertutup itu. Kubuka pintu itu, lalu kuambil remote control AC. Kuatur suhunya sampai 16 derajat celcius. Supaya Anna merasa seperti di Den Haag.






"Bang...tau gak? Sejak melihat foto kiriman bbm Joseph itu, saya langsung suka..." kata Anna sambil melingkarkan lengannya di leherku.


"Klau saya...jangan tanya lagi," timpalku, "Begitu Joseph memperlihatkan foto-fotomu, saya langsung berpikir, bisakah Anna jadi milik saya?"


"Kan sekarang saya sudah menjadi milik Abang," bisik Anna disusul dengan kecupan hangatnya di pipiku.






Hasrat birahiku jadi menggila, bercampur dengan keruntuhan hati yang sudah terjatuh di kaki Anna Karina. "Gaunnya dilepaskan saja ya, supaya gak kusut," kataku.




"Abang lepasin pakaian Abang saja. Biarin ini saya lepasin sendiri," katanya sambil melepaskan gaun putih bersihnya.






Dalam keadaan cuma mengenakan bra dan celana dalam tipis transparan, Anna merebahkan diri di atas tempat tidur. Oh maaaaaak ! Rasanya aku seperti bermimpi, bahwa tubuh mulus dan indah itu sudah terlentang di depanku. Membuat batinku bergetar-getar ketika kutanggalkan baju kaus dan celana jeansku. Dan menghampirinya setelah tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku.




Dan Anna meraihku ke dalam pelukannya. Terasa ada hawa hangat dari tubuh adik Joseph yang jelita itu. Membuat nafasku mulai sulit diatur. Terlebih lagi setelah Anna melepaskan branya, lalu meletakkannya di samping bantalnya. Sungguh, aku menyaksikan sepasang payudara yang indah serkali.






"Saya masih merasa seperti bermimpi, honey," kataku sambil menciumi bibir dan pipi Anna yang hangat. Sementara suhu di kamar ini sudah lumayan dingin, karena freon ACnya sudah tersebar.


"Anggap aja sekarang bulan madu kita Bang," kata Anna sambil merengkuh leherku, lalu melumat bibirku dengan hangatnya. O, hasrat birahiku semakin menggila dibuatnya. Tapi aku tetap merasa wajib melakukan foreplay, supaya Anna benar-benar horny sebelum melakukan semuanya.






Rasanya baru sekali ini aku merasa gugup melakukannya. Namun setelah aku mencelucupi pentil payudara Anna, terasa kegugupanku sirna sedikit demi sedikit.




Terlebih setelah jemariku mulai menyelundup ke balik celana dalam Anna...kusentuh kemaluan yang begitu hangatnya, sementara jembutnya agak menjauh di atas vaginanya, sehingga aku cuma menyentuh daging yang hangat dan mulai membasah.




Anna benar-benar pasrah. Waktu aku menurunkan celana dalamnya pun, ia cuma menatapku dengan senyum yang manis sekali.




Maka dengan sepenuh perasaan, kuciumi kemaluan yang jembutnya dibentuk seperti icon love itu. Lalu lidahku pun mulai menjulur dan dengan penuh nafsu kujilati kemaluan adik Joseph itu, tanpa ragu sedikit pun, karena tiada aroma yang tak sedap di bagian yang paling indah itu.




Jam terbangku sudah cukup tinggi. Sehingga aku tahu persis bagian mana yang harus kujilati. Aku tak pernah peduli dengan istilah G-spot, karena aku yakin semua wanita yang pernah kugauli pasti merasa puas dengan trik-trik yang senantiasa kulakukan.




Jilatanku mulai terfokus di kelentit Anna. Bukan cuma jilatan, aku pun mengisapnya sambil mengelusnya dengan ujung lidahku. Dan Anna mulai mendesah-desah. Desahan yang terdengar sangat erotis di telingaku sehingga aku semakin bergairah untuk mengoral kemaluannya.




Dan akhirnya aku merasa tak kuat lagi menahan nafsuku sendiri. Batang kemaluanku sudah tegang sekali rasanya. Sehingga aku mulai merayap ke atas dada Anna, sambil mengarahkan penisku ke ambang pintu surgawi adik Joseph itu.




Dengan sekali dorong aku berhasil membenamkan penisku, meski baru separohnya. Anna menyambutku dengan kecupan-kecupan mesranya di bibirku...dan aku mulai mengayun tongkat kejantananku dengan gairah yang berkobar-kobar.




Gila...baru sekali ini aku mengalami persetubuhan yang penuh dengan fantasi di dalam batinku.




Remasan demi remasan sudah kulakukan, selalu disambut dengan kecupan-kecupan mesra di bibir dan pipiku. Rintihan demi rintihan telah berkumandang di dalam kamar ini.






"Oooh...Baaang.... Je maakt me plezier.....Baaaang...." berulang-ulang Anna merengek manja dan erotis. Berulang-ulang mengatakan Je maakt me plezier (anda membuatku nikmat).






Aku pun makin lama merasa seolah makin tinggi melayang di langit yang bertaburkan bunga-bunga surgawi...sehingga keringat kenikmatanku pun mulai berjatuhan ke tubuh Anna. Bercampur aduk dengan keringat Anna sendiri.




Suhu 16 derajat Celcius tidak terasa dingin lagi. Bahkan tubuh kami mulai dibanjiri keringat yang terbit terus menerus. Namun aku malah dengan senang hati menjilati keringat yang membanjiri leher Anna...dengan senang hati menggigiti daun telinganya dengan gigitan-gigitan perlahan, lalu saling lumat dalam buaian asmara yang semakin indah...






Bahkan pada suatu saat kudengar Anna merengek manja, "Baaang...ik kom Bang...ik kom...ik kom." (ik kom = aku datang, maksudnya mau orgasme)






Sebenarnya aku merasa ejakulasiku masih lama. Tapi aku ingin melakukan sesuatu yang berkesan bagi Anna. Maka dengan gerakan yang mengganas, kuayun batang kemaluanku di dalam jepitan liang kemaluan Anna.




Sampai akhirnya aku berhasil melakukannya. Berhasil menembak-nembakkan air maniku di dalam liang kewanitaan Anna yang sedang berkejut-kejut indah.






"Ooooh...ini indah sekali, Bang..." cetus Anna setelah mengecup bibirku, "Tapi Abang keluarin di dalam tadi...kalau saya hamil bagaimana?"


"Biar saja hamil," sahutku sambil mengecup pipi Anna yang keringatan, "saya malah akan bahagia sekali kalau bisa punya anak dari Anna."




Anna tersenyum, dengan mata yang tampak sayu.






BERSAMBUNG 









Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar