Langkah langkah binal part 4

 

Bab 4






Anna Karina Adi Joseph








Aku merasa persahabatanku dengan Joseph makin lama makin kompak dan solid. Rahasiaku sudah menjadi rahasia Joseph, sebaliknya pun begitu, rahasia Joseph sudah menjadi rahasiaku. Tentu saja rahasia-rahasia Joseph itu takkan kutulis di sini.




Apakah teman-temanku cuma sebatas mantan seangkatan di SMA? Tentu tidak. Mereka hanya sebagian kecil dari deretan teman-temanku. Hanya saja dengan merekalah aku sering melakukan petualangan sex. Dan tulisanku ini memang fokus ke arah sex.




Di kartu namaku memang tiada gelar apa pun yang kusertakan. Untuk apa? Untuk gaya-gayaan? Gak ah. Aku kan seorang wiraswasta. Bukan pegawai negeri. Gelar dan ijazahku tidak ada sangkut pautnya dengan penghasilanku. Karena itu sangat jarang orang yang mengetahui latar belakang pendidikanku.




Joseph juga tak pernah bicara soal pendidikan akademisnya. Karena ia juga seorang pengusaha, meski mungkin usahanya tidak sebesar usahaku. Ia bahkan pernah berkata, "Menempelkan gelar di depan dan belakang nama kita, malah bikin kita gak bebas."




Lalu, entah apa yang menyebabkan Joseph begitu percayanya padaku, sehingga dalam soal yang sangat penting itu ia mempercayakannya padaku. Soal penting apa?






Inilah kisahnya :




Pada suatu hari Joseph datang ke kantorku. Tidak seperti biasanya, kali ini ia mengajakku berbicara serius:




"Yad...aku bisa titip adikku biar kerja di sini gak?"


"Adik? Sejak kapan kamu punya adik?"


"Punya Yad. Cuma adikku tinggal di Nederland. Tapi sebulan lagi dia akan pindah ke Indonesia, orang tuaku menitipkannya padaku."


"Ntar dulu...adikmu itu cowok apa cewek?"


"Cewek. Umurnya sekitar duapuluh dua tahun. Dia itu tadinya bermasalah di Nederland. Sempat masuk rumah sakit rehabilitasi pemakai narkoba segala. Tapi sekarang sudah benar-benar sembuh. Makanya orang tuaku bermaksud memindahkannya ke sini, supaya tidak larut dalam narkoba lagi."


"Di sini juga banyak pengedar narkoba, Jos."


"Tapi relatif masih bisa kita awasi. Di sini kan dia gak punya teman. Dia itu jadi pemakai narkoba sejak putus cintanya dengan cowok di sana. Jadi narkoba itu seolah pelarian patah hatinya gitu. Tapi kata ibuku, sekarang dia sudah tobat. Makanya aku mau carikan kerja, biar ada kegiatan yang positif di sini."






Aku cuma mengangguk-angguk sambil memperhatikan wajah Joseph yang tampak kusut begitu.






"Bisa kan kamu tempatkan dia di perusahaanmu?" tanyanya.


"Mau ditempatkan di sini apa di Kalimantan?" aku balik bertanya.


"Ya di sinilah...supaya kita bisa jadi pagarnya."


"Dia lancar berbahasa Indonesia?"


"Ya iyalah. Ayahku kan orang Indonesia. Ibuku doang yang orang Nederland."


"Lalu...dia harus ditempatkan di bagian apa ya?"


"Terserah kamu. Pokoknya aku percayakan dia padamu Yad. Yang penting dia jangan sampai terjerumus ke dunia narkoba lagi."


"Pendidikan terakhirnya apa?"


"Dia udah lulus akademi...semacam D3 kalau di sini sih."


"D3 di bidang apa?"


"Tata boga. Harusnya sih dia kerja di restoran. Tapi adikku itu bisa cepat adaptasi dengan pekerjaan apa pun."


"Ya udah. Nanti kalau sudah datang, ajak aja ke sini. Mungkin aku harus interview dulu, supaya aku tau di bagian apa dia itu cocoknya."


"Terima kasih sebelumn ya, Yad. Jujur, di antara teman-temanku, hanya kamu yang aku bisa percaya seratus persen. Ohya, ini foto-fotonya," kata Joseph sambil




mengeluarkan handphonenya. Lalu mengotak-atik handphone itu sesaat.




Lalu diperlihatkannya foto-foto adiknya itu.




"Wooow !" seruku waktu memperhatikan foto-foto itu, "Adikmu cantik sekali, Jos !"


"Iya sih. Mirip Manohara ya?"


"Aaah...kurasa cantikan adikmu, Jos," sahutku sejujurnya. Karena kalau melihat dari fotonya sih, adik Joseph itu dijadikan artis juga pasti bisa.


"Dengar Yad...aku sih udah sampai berpikir sejauh mungkin. Seandainya kalian nanti ada hubungan juga, aku takkan marah. Bahkan seandainya dia dijadikan istri rahasiamu juga, aku takkan keberatan. Yang penting jangan sakiti hatinya. Itu saja."


"Gila kamu Jos !" seruku sambil menepuk lutut sahabatku, "Masa kamu tawarin dia jadi istri simpananku?"


"Pola pikirku realistis, Yad. Kamu kan sudah punya istri. Lalu kalau ada hubungan dengan adikku nanti, gimana? Nikah secara resmi gak bisa kalau gak ada izin istrimu kan? Tapi itu semua cuma berandai-andai. Pokoknya aku sudah memperhitungkan segala kemungkinan setelah dia datang nanti."


"Ohya...siapa nama adikmu itu?"


"Anna....lengkapnya sih Anna Karina. Kan ayahku yang kasih nama. Makanya gak mau kasih nama yang terlalu kebarat-baratan."






Percakapanku dengan Joseph berlangsung lama. Intinya dia memasrahkan adiknya pada perusahaanku atau untuk pribadiku juga. Dan aku yakin pendiriannya itu berdasarkan keadaanku juga. Kalau aku orang miskin, tentu dia takkan mau membahasnya seperti itu. Mungkin dia percaya bahwa di bawah lindunganku, adiknya takkan hidup kekurangan. Memang realistis juga sih. Daripada membiarkan adiknya bergaul dengan cowok sembarangan, mending jadi istri simpananku? Dan... apakah sudah saatnya aku mempunyai istri lagi? Bukankah diam-diam aku sudah punya Nuryati dan Yona yang sangat kukasihi itu? Apakah aku merasa kurang dengan dua istri itu? Entahlah. Setelah aku berpikir lebih jauh lagi, akhirnya aku bertekad : What ever will be, will be. Apa yang akan terjadi, terjadilah.




Sebulan kemudian, Joseph benar-benar membawa adiknya ke kantorku. Dan aku dibuat terpaku melihat gadis bergaun terusan putih polos itu, adik Joseph itu, karena ternyata ia lebih cantik daripada di foto-fotonya. Memang ada garis kemiripan antara Joseph dengan adiknya itu. Tapi Joseph hanya tampangnya saja yang keindo-indoan, sementara kulitnya sama saja denganku, berwarna sawo matang. Sedangkan adiknya itu? Seolah asli bule, meski ayahnya orang Indonesia. Ya, adik Joseph itu berkulit putih benar. Putih dan halus, tidak seperti perempuan bule lain, yang banyak bintik-bintik coklat di permukaan yang kasar. Adik Joseph itu bukan cuma putih, tapi kulitnya juga halus dan mengkilap saking licinnya.




Tadinya kukira adik Joseph yang bernama Anna itu akan bersikap sebagaimana biasanya orang-orang bule, karena ia lahir dan dibesarkan di Nederland. Tapi entah karena ayahnya orang Indonesia, yang mengutamakan kesopanan, entah dibriefing dulu oleh Joseph...entahlah. Yang jelas, sikapnya begitu sopan dan lembut, membuatku semakin kagum padanya.




Joseph hanya mengantarkan adiknya, dudukj pun tidak di kantorku, lalu berpamitan, "Yad, aku hanya mengantar adikku. Soal dia mau ditempatkan di mana, aku takkan ikut campur. So, aku mau pulang duluan ya. Soalnya Mila minta diantar ke rumah sakit. Tantenya dirawat."


"Sebentar Jos," kataku sambil memegang pergelangan tangan Joseph dan mengajaknya keluar, sementara adiknya kuminta menunggu sebentar. Setelah berada di luar, setengah berbisik aku berkata, "Jos...adikmu itu cantik benar."


"Iyalah. Ibuku juga bekas gadis model waktu mudanya."


"Oke Jos," aku mengangguk, "Mudah-mudahan aja adikmu bisa cepat adaptasi di sini."




Setelah Joseph berangkat, aku masuk lagi ke ruang kerjaku dan menyapa Anna dalam bahasa Belanda sebisa-bisanya, "Kan sprekenin het Indonesisch?"




Anna terkejut dan berkata, "Meneer spreken nederlands taal?"




"Hahaha ... nee .. nee ... Ik kan alleen maar een beetje !"


"Oh, saya kira Boss suka bicara dalam bahasa Belanda."


"Mmm...lebih baik kita bicara di restoran aja yuk. Ini kebetulan jam makan siang. Ayo ikut saya," ajakku dengan ramah.






Tak lama kemudian Anna sudah berada di dalam jipku, yang kujalankan ke arah resto kaliber internasional dan paling bergengsi di kotaku.






"Di Amsterdam siapa yang ngajar Anna berbahasa Indonesia?" tanyaku di belakang setir jipku.


"Papi dan Mami tiap hari ngomong Indonesia. So saya juga harus ikut menguasai bahasa Indonesia. Karena kami semua warganegara Indonesia. Tapi...saya baru sekarang masuk Indonesia lagi. Saya lahir di Jakarta, tapi sejak bayi saya dibawa ke Nederland, karena Papi dapat kerja di Den Haag. Kalau Joseph kan tinggal di rumah adiknya Papi di sini," sahut Anna dengan logat yang terasa asing, tapi bahasa Indonesianya tiada yang salah menurutku.


"Hawa Indonesia panas kan?"


"Waktu di Jakarta betul panas. Tapi di sini tidak terlalu panas."


"Mmmm...Joseph ngomong apa saja sebelum mengantarkan Anna ke kantor tadi?"


"Tidak banyak. Hanya bilang harus sopan, harus mau ditempatkan di bagian apa saja dan...."


"Dan apa?"


"Mmm...gimana ya? Dia seperti menjodohkan saya dengan Boss."


"Panggil aku Abang aja. Gak usah boss-bossan."


"Iya. Bang...Abang....artinya broer kah?"


"Iya, panggilan untuk laki-laki yang lebih tua."






Di resto bertaraf internasional itu beberapa pasang mata tertuju ke arah Anna, dengan sorot kagum. Mungkin mereka sangka yang bersamaku ini seorang artis, karena Anna memang cantik sekali.




Tapi Anna tampak tidak sok cantik. Kata-kata orang ada benarnya. Bahwa cewek yang cantiknya nanggung, justru suka lebih belagu daripada cewek yang bener-bener cantik.






"Jadi Joseph berniat menjodohkan kita, begitu?" tanyaku.


"Iya," Anna mengangguk dengan senyum. O, manisnya senyum itu.


"Lalu pendirian Anna sendiri gimana?"






Anna menatapku dengan senyum manis lagi. Lalu berkata, "Saya memang dibesarkan di Eropa. Tapi Papi mendidik saya dengan cara Timur. Karena itu, saya sudah dibiasakan untuk mengikuti jalan pikiran orang-orang yang lebih tua."




"Jadi artinya...?"


"Abang sendiri gimana? Apakah setuju pada keinginan kakak saya itu?"






Kupegang tangan Anna yang terletak di atas meja makan sambil berkata, "Anna...laki-laki mana yang menolak dijodohkan dengan gadis secantik Anna? Tapi Joseph juga sudah kasitau bahwa saya sudah punya istri kan?"




"Iya. Semuanya sudah diceritakan di rumah kakak saya kemaren."


"Apakah status saya yang sudah beristri ini tidak dianggap rintangan?"


"Itu kan urusan Abang. Kalau Abang setuju pada usul Joseph, berarti Abang sudah siap mengatur semuanya."


"Oke, saya tanya sekali lagi, apakah Anna setuju pada saran Joseph?"


"Kok Abang tanya lagi. Masa Abang tidak bisa mengambil kesimpulan dari kata-kata saya tadi."






Aku ketawa kecil. Lalu memegang tangan Anna lagi sambil mendesaknya, "Saya ingin jawaban to the point. Supaya semuanya jelas. Setuju pada saran Joseph?"






Dengan senyum manis lagi Anna mengangguk sambil balik meremas tanganku.






"Dank u God," kataku penuh semangat, "God maakt me gelukkig nu !" (Terima kasih Tuhan. Tuhan membuatku bahagia sekarang)."






Seperti kaget mendengarku bicara bahasa Belanda lagi, Anna mengguncang tanganku yang sedang digenggamnya sambil bertanya dalam bahasa Belanda juga, "Wil je echt het gevoel nu gelukkig?" (Apakah anda benar-benar merasa senang sekarang?)






Kujawab dengan anggukan.




Dan aku teringat lagi kata-kata almarhum guru spiritualku di pantai selatan itu, "Mulai tahun ini Nak Yadi akan mendapatkan jatah perempuan yang banyak sekali."




Dan saat itu aku bertanya, "Jatah apa jodoh, Bah?"






Ulama yang mirip Pak Raden (karena kumisnya tebal sekali) itu menjawab singkat, "Jatah !"






Aku sulit mempercayai hal-hal yang berbau mistik. Tapi ucapan almarhum itu sudah kubuktikan kebenarannya. Bahwa sejak tahun itu diriku seolah dibanjiri perempuan demi perempuan. Sehingga aku tak perlu berjuang keras untuk mendapatkannya.




Dan kini, seorang gadis indo yang begitu cantik dan menawan, telah menyatakan siap untuk menjadi jodohku.








BERSAMBUNG 







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar