Langkah langkah binal part 6

 

Bab 6






Donna Sekretarisku








Anna Karina memiliki nilai plus di mataku, sehingga aku punya niat khusus untuknya. Bukan karena ia paling cantik di antara perempuan-perempuan yang sudah kumiliki. Yang membuatku punya rasa tanggung jawab besar padanya, adalah karena ia adik sahabatku sendiri. Dan kata-kata Joseph sebelum Anna terbang ke Indonesia, terngiang-ngiang terus di telingaku, " di antara teman-temanku, hanya kamu yang aku bisa percaya seratus persen"...... "Bahkan seandainya dia dijadikan istri rahasiamu juga, aku takkan keberatan. Yang penting jangan sakiti hatinya...."




Ya, kata-kata Joseph itu terngiang-ngiang terus di telingaku. Dan aku menghormati sahabat terdekatku itu. Karena ia yang mengusulkan kepada kedua orang tuanya di Nederland, untuk menjodohkan Anna denganku. Entah apa saja yang dikatakan kepada kedua orang tuanya itu, yang membuat mereka lalu bersepakat, untuk merestui hubunganku dengan Anna dalam bentuk apa pun.




Joseph yang selalu kompak denganku dalam segala hal, membuatku merasa wajib membuatnya tenang. Itulah sebabnya kutempatkan Anna di rumah yang paling mahal di antara asset-asset property yang sudah kumiliki.




Anna sendiri tidak menyulitkanku. Meski ia besar di Nederland, ia sudah dibiasakan hidup nrimo. Maka ketika kuajak ia pindah agama, supaya bisa nikah siri, tanpa berpikir panjang lagi ia langsung setuju. Aku yakin bahwa Joseph sudah membriefingnya tentang segala kemungkinan jika Anna berhubungan denganku.




Anna pun akhirnya menjadi istri ketigaku, meski cuma lewat nikah siri, tapi menurut para ahli, itu adalah sah.




Seperti yang sudah kujanjikan, dua orang pembantu kutempatkan di rumah itu. Yang satu bagian bersih-bersih, cuci-cuci dan menyetrika. Semacam, cleaning service gitulah. Yang seorang lagi dijadikan tukang masak, karena ia pernah bekerja sebagai koki di sebuah rumah makan kecil, katanya.




Aku bahkan bermaksud membelikan sebuah mobil, tapi Anna menolaknya, "Jangan dulu Bang. Nanti kalau aku sudah hafal kota ini dan sudah ada job yang jelas, barulah Abang belikan aku mobil," katanya.




Dan pada suatu hari aku membawanya ke sebuah bangunan bekas kantor yang akan dikontrakkan di daerah yang cukup strategis.






"Kita bisa kontrak tempat ini tiga atau empat tahunan," kataku, "Tentu harus direnovasi dulu supaya cocok buat resto. Sambil menunggu renovasi selesai, kita cari chef yang handal."


"Kan harus pakai serveerster juga Bang." (serveerster = pelayan)


"Serveerster sih gampang, butuh seratus orang juga bisa dapet dalam seminggu. Tapi kalau chef handal, agak susah nyarinya."


"Iya...Abang atur aja gimana baiknya. Aku siap ikut rencana Abang."






Tempat bekas kantor itu kukontrak selama lima tahun. Kalau nanti kelihatan prospeknya bagus, bisa saja kubeli dari hasil restoran yang direncanakan itu.




Gedungnya lumayan besar. Tempat parkirnya juga luas. Kemudian kami renovasi, dibuat setepat mungkin untuk dijadikan restoran.




Merenovasi tempat seluas itu memang butuh waktu. Pemborongnya menyanggupi selesai dalam lima bulan, karena design yang kuberikan pada pemborong itu memang rumit-rumit mengerjakannya




Di sela-sela waktu renovasi itulah, terjadinya kisah berikut ini.




Aku mengajak Donna (sekretarisku) mengikuti meeting di meeting room sebuah hotel bintang empat. Di situ aku bernegosiasi dengan eksportir tepung coklat, yang biasa mengekspor ke Ivory Coast (Pantai Gading, Afrika). Sebenarnya Ivory Coast penghasil coklat terbesar di dunia. Tapi mereka selalu kekurangan tepung coklat, karena konsumen di dalam negrinya pun lumayan banyak. Maka Ivory Coast dan Ghana sering mengimpornya dari Indonesia, lalu mereka ekspor ke Eropa, terutama ke Swiss.




Rukanda, tenaga lapanganku dalam bidang coklat, ikut hadir dalam meeting itu. Bahkan dia lah.




Pada waktu Rukanda sedang representasi, pikiranku malah melayang-layang. Pada wanita muda yang duduk di sampingku. Sekretarisku sendiri yang bernama Donna itu.




Aneh memang, selama ini aku cuek-cuek saja padanya. Aku memperlakukannya tak lebih dari perlakuan terhadap anak buah.




Tapi kenapa siang itu pikiranku mendadak beda dari biasanya? Apakah karena meeting ini dilakukan di dalam meeting room sebuah hotel?




Padahal dalam beberapa hari ini aku sedang merencanakan untuk menaikkan gaji Donna, karena prestasi kerjanya kuanggap bagus. Aku juga pernah mendengar, bahwa suaminya yang bekerja sebagai TKI di Korea Selatan itu tak pernah mengirim uang, entah apa sebabnya. Sehingga Donna lalu mencari kerja dan akhirnya diterima di perusahaanku.




Setelah meeting selesai, Rukanda pamitan mau pulang duluan, karena mau mengecek ke kebun kakao yang sudah dikuasainya. Team eksportir itu pun pulang. Tinggal aku berdua dengan Donna di dalam meeting room itu.






"Coba tanya ke resepsionis, apakah masih ada kamar kosong gak...kalau ada booking buat semalam aja," kataku.


"Iya Pak," sahut Donna dengan sikap sopan. Lalu meninggalkan meeting room ini.






Gilanya, aku malah makin jauh membayangkan seandainya Donna sudah kutelanjangi, seperti apa bentuknya ya? Bahkan lebih jauh lagi, kalau kusetubuhi seperti apa rasanya ya?




Beberapa saat kemudian Donna muncul lagi dan melaporkan, "Sudah ada, Pak. Kamarnya di lantai empat."


"Oke," aku mengangguk, "ayo ikut aku."


"Iya Pak," Donna mengambil tas kecilnya di meja, lalu mengikutiku menuju pintu lift.






Di dalam lift yang bergerak menuju lantai empat, diam-diam aku perhatikan bentuk Donna. Cantik, tubuhnya mungil dan masih terawat, walaupun sudah punya anak seorang (menurut data pegawaiku). Usianya mungkin sedikit di atas istriku (Erni). Tapi entah kenapa, siang ini aku penasaran sekali, ingin melihatnya telanjang bulat dan menggumuli sepuasnya.




Tapi kelihatannya Donna belum menyadari bahwa aku sedang punya rencana "khusus" padanya. Bukan lagi sebagai owner perusahaan kepada sekretarisnya.




Setelah berada di dalam kamar pun kelihatannya Donna belum menyadari juga apa yang akan kulakukan padanya. Dengan sikap sempurna ia duduk di sofa sambil mengepit tas kecilnya. Mungkin disangkanya aku akan menunggu tamu bisnis di kamar ini, atau ada urusan bisnis lain.






"Kalau kamu lagi kerja, anakmu siapa yang jagain?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


"Sama ibu saya Pak. Saya kan masih tinggal di rumah orang tua."


"Kenapa gak nyicil rumah yang dekat-dekat ke kantor?" tanyaku.


"Wah, buat uang mukanya juga belum ada Pak. Apalagi nyicilnya tiap bulan...bisa gak ngebul dapur saya..." sahutnya sambil tersenyum-senyum.


"Nanti akan kupikirkan supaya kamu bisa dapet rumah KPR."


"Iya Pak...makasih Pak..." sorot mata Donna tampak jadi cemerlang.


"Kamu tau kenapa aku mengajakmu ke sini?" tanyaku sambil melingkarkan lenganku di lehernya.




Donna terasa agak kaget. Tapi kemudian dia cuma tersenyum sambil menatapku.




"Kamu ini cantik, Don..." kataku lagi sambil mendekatkan bibirku ke bibirnya. Dan ia malah sengaja mengangsurkan bibirnya, yang membuatku makin binal...mencium bibirnya denganm hasrat birahi yang mulai membara.


"Ngerti kan apa tujuanku membawamu ke sini?" desisku setelah ciumanku terlepas.




Ia mengangguk, tetap dengan senyum manis.




"Kalau gitu bukalah pakaianmu, biar jangan kusut," kataku dengan sikap santai.


"Hihihi...malu..."


"Malu? Justru aku ingin melihat keindahan tubuhmu, Don. Sekarang kan mumpung ada kesempatan. Atau kamu keberatan?"




Donna menggeleng dan berkata perlahan, "Bapak tau aja saya udah lama jauh dari suami."


"Iya, makanya aku mau mewakili suamimu sekarang," kataku sambil menanggalkan jas dan dasiku, kemudian kulepaskan juga kemeja dan celana panjangku, sehingga tinggal celana dalam saja yang masih melekat di tuibuhku.






Sementara Donna pun tinggal mengenakan celana dalam saja. Dan naik ke atas tempat tidur. Di situlah ia menanggalkan celana dalamnya.






"Wow ! Gak salah dugaanku...tubuhmu pasti mulus dan indah sekali," kataku sambil naik ke atas tempat tidur...mengelus betisnya, pahanya...perutnya...payudara mungilnya....


"Bapak kok tiba-tiba mau sama saya. Kenapa Pak?" tanya Donna sambil menatapku yang sudah menghimpit dadanya.


"Kamu kan selalu sibuk. Aku nyari celah terus...sekaranglah waktunya, karena kita kebetulan berada di hotel," sahutku sambil mempermainkan pentil payudaranya, lalu mencelucupinya.


"Pak...duuuuh...saya sih digituin juga langsung horny..." kata Donna sambil membelai bahuku.


"Kamu ikut KB kan?" tanyaku sambil menarik celana dalamku sampai lepas.


"Iya...saya takut punya anak lagi...cukup satu aja dulu..."


"Bagus...jadi nanti ini bisa nembak didalam memekmu..." kataku sambil mendekatkan batang kemaluanku yang sudah tegang ke dekat payudara Donna.


"Aaaaaw...Pak !" Donna memekik tertahan, " Apa saya gak salah lihat? Punya Bapak gede banget...pantesan Bapak banyak pacarnya."


"Ah kata siapa?"


"Sampai cewek bule aja ngejar-ngejar ke kantor....."






Aku kaget mendengar ucapan Donna itu. O, seandainya ia tahu bahwa cewek bule yang dimaksud itu sudah menjadi istri ketigaku....






"Iyalah," kataku, "Yang jelas sekarang aku tertarik banget sama kamu, Donna cantik...."






Lalu kukecup bibir tipis Donna...dan kepalaku langsung melorot ke atas perutnya, sementara kedua tanganku menarik celana dalamnya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya terlepas dari kakinya.




Tanpa banyak basa-basi lagi, kuserudukkan mulutku ke kemaluan Donna yang bersih dari jembi itu. Aku memang selalu berusaha membuat partner seksualku basah dulu kemaluannya, agar tiada kata sakit pada waktu penetrasi nanti.






"Aaaaaah.....Paaaaak...aaaaah..........aaaaaaaaaaaaaaahhhh............Paaaaaak........."






Donna menggeliat-geliat sambil membelai-belai rambutku. Terkadang sepasang kakinya mengejang, nafasnya tertahan....lalu menggeliat-geliat lagi....






Tapi beberapa menit kemudian Donna merengek, "Udah Pak...jangan terlalu lama...saya paling gak kuat kalau dijilatin gini...entar keburu becek Pak..."






Untuk mengikuti keinginan Donna, aku pun merayap naik ke atas tubuhnya, lalu kuletakkan moncong penisku di mulut kemaluan Donna. Dan kudesakkan sekuatnya...melesak...blessss....






"Oooooh.....saya lebih dari setahun gak diginiin Pak....sekali ketemu yang gede banget gini....oooooh....." Dona memelukku erat-erat, tanpa keraguan lagi.






Dan aku pun tak ragu lagi untuk mengentotnya, dengan gerakan yang langsung lancar.




Donna menyambut persetubuhan ini dengan gerakan goyang pinggul yang sudah terlatih, binal sekali, tapi enak sekali rasanya.




Saking enaknya, di tengah persetubuhan itu berlangsung aku menyempatkan untuk mengatakan sesuatu (yang sebenarnya sudah direncanakan sejak seminggu sebelumnya): "Mulai bulan depan gajimu naik limapuluh persen, cantik..."






"Ooooh ?! Serius Pak?" Donna menatapku ceria.


"Serius lah....masa main-main dalam soal penting gitu..."


"Oooh, Bapak baik banget....udah ngasih yang begini enaknya, gaji saya dinaikkan pula. Terimakasih Pak...." cetus Donna yang lalu dilanjutkan dengan goyangan pinggulnya lagi yang semakin membinal, karena aku pun sudah mengayun kembali batang kemaluanku dengan kecepatan yang "serius".






Aku masih ingat benar, bahwa pada waktu mau pulang dari hotel itu, Donna sempat memelukku dengan manjanya, sambil berkata, "Kapan pun Bapak mau melakukannya lagi, saya siap Pak."






"Iya. Besok-besok bisa aja kita pakai jam makan siang....cek in di hotel yang dekat kantor saja. Tapi kamu harus duluan, jangan bareng-bareng dari kantor."






Tapi siang itu aku harus buru-buru ke rumah Anna, karena aku sudah janjian akan ke Jakarta bersamanya sore nanti.




Dan esok harinya, waktu ada telepon dari Joseph itu, aku sedang berada di Jakarta bersama Anna.




Terdengar suara Joseph di handphoneku, "Lagi di mana Yad?"




"Lagi di Jakarta bersama Anna," sahutku, "Kenapa Jos?"


"Gak...mmm...mmm...barusan aku terima telepon dari Erni. Dia minta aku datang ke rumahmu, Yad. Tentu saja bukan cuma datang. Ah, aku jadi bingung nih."


"Datang aja," kataku meski dengan darah yang berdesir-desir cemburu. Tapi bukankah aku sedang bersama Anna yang lebih cantik daripada istriku?


"Jadi...serius kamu ngasih ijin?"


"Serius. Tapi hati-hati jangan sampai keceplosan ngomong soal Anna."


"Nggak lah. Kalau aku keceplosan, bisa disemprot nanti sama Erni. Bisa-bisa aku dianggap sekongkol, karena Anna itu adikku Yad."


"Oke...aku percaya. Sekalian fotoin nantiya, buat dokumentasi pribadi kita."


"Sip !"






Setelah menutup hubungan teleponku dengan Joseph, Anna bertanya, "Siapa barusan? Joseph?"




"Iya."


"Ada apa Bang?"


"Gak ada apa-apa. Cuma ngecek aja kita brada di mana."


"Ooo...kirain ada yang penting."






Begitulah...dua hari kemudian, ketika aku sudah pulang ke rumah Erni, yang pertama kali kucari di komputerku adalah folder "pengakuan" itu. Ingin tahu apa saja yang ia lakukan bersama Joseph pada waktu aku sedang bersama Anna di Jakarta itu. Tanpa menemui kesulitan, aku menemukan pengakuan istriku itu:








BERSAMBUNG 







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar