Langkah-langkah binal part 3

 Langkah-langkah binal

Bab 3






Threesome Dengan Mbak Tiara








Setelah membaca catatan harian istriku itu, aku termangu sendiri di depan layar monitorku. Memang istriku tidak terlalu melanggar hanya skandal dengan anak ingusan bernama Jonathan itu yang kuanggap suatu pelangaran. Tapi kalau dipikir, bukankah pelanggaranku jauh lebih berat lagi? Tak adakah ruang maaf sedikit pun kalau istriku melakukan hal yang sama? Bukankah sermuanya itu terjadi karena aku sendiri yang memperkenalkan alam baru itu, kemudian istriku menghayatinya...lalu melakukan apa yang dilamunkannya?




Untuk meredakan kekesalanku, aku menghidupkan mesin mobilku. Lalu bergerak meninggalkan rumahku.




Tadinya aku mau menemui rekan bisnisku yang baru datang dari Pangkalpinang. Tapi baru saja mobilku keluar dari pintu gerbang kompleks wisma kos, hpku berdering. Kulihat sebentar siapa yang menelepon itu?




Hmm...Mbak Tiara rupanya. Langsung saja kubuka percakapan dengannya, "Hallo Mbak Tiara...apa kabar?"




"Baik-baik saja, Mas. Ohya...tadi saya lewat bekas rumah saya...kok jadinya dibongkar rumahnya ya?"


"Iya Mbak. Rumahku juga dibongkar kan?"


"Emangnya mau dibikin apa Mas?"


"Mau dibikin ruko-ruko Mbak."


"Terus...Mas Yadi sendiri tinggal di mana skarang?"


"Di rumah yang lain Mbak."


"Duuuh yang banyak duit enak aja ya pindah rumah sana-sini...."


"Ah, Mbak bisa aja."


"Terus...Mas lupa ya sama saya?"


"Ya gaklah. Cuma saya lagi bolak-balik ke Kalimantan, Mbak."


"Saya kangen Mas....pengen ketemuan sama Mas..."


"Emang Mbak lagi di mana sekarang?"


"Lagi di Lembang Mas. Abis menghadiri pernikahan famili tadi. Ini juga masih nongkrong di tempat resepsinya."


"Sama siapa Mbak di situ?"


"Sendirian aja. Suami saya lagi kurang sehat sih."


"Ya udah, saya ke situ sekarang ya. Di mana posisi tepatnya?"


"Jangan langsung ke sini Mas. Takut keliatan famili, nanti jadi gossip. Saya turun aja ke Bandung. Mas tunggu di belokan ke arah Geger Kalong aja ya."


"Boleh, itu lebih bagus. Mbak pake baju apa?"


"Hihihi...saya lagi pakai kebaya Mas. Jangan diketawain ya."


"Ohya? Saya malah penasaran dengarnya. Pengen lihat Mbak Tiara dalam pakaian tradisional. Pasti malah seksi...jadi pengen nelanjangin pelan-pelan......hehehehe..."


"Mmm...Mas Yadi bisa aja. Oke saya mau nyegat angkot nih. Mas tunggu di tempat yang saya sebutkan tadi ya.."


"Oke Mbak."






Kujalankan mobilku dengan kecepatan biasa-biasa saja. Karena tempat menunggu Mbak Tiara tidak jauh. Sepuluh menit kemudian aku sudah tiba di tempat yang diinginkan untuk menunggu Mbak Tiara.




Justru di tempat itu aku agak kesal menunggunya. Karena setelah parkir lebih dari seperempat jam, Mbak Tiara belum muncul juga.




Pada saat menunggu itulah mendadak timbul ingatanku pada Joseph. Lalu aku meneleponnya, "Jos ! Ada yang asyik-asyik neh," kataku sambil tersenyum-senyum sendiri di dalam mobilku.




"Woman?"


"Iya. Kamu kan suka yang setengah baya. Ini ada...seksi deh pokoknya."


"Widow or cheating wife?"


"Cheating wife."


"Sekarang?"


"Iya. Tapi aku masih bingung mau diajak ke mana."


"Bawa ke hotel aja, biar gak ribet," kata Joseph yang lalu menyebutkan nama sebuah hotel.






Lalu aku dan Joseph berunding singkat di hp kami.




Setelah hubungan telepon diputuskan, aku masih menunggu belasan menit....sampai akhirnya seorang wanita setengah baya berperawakan tinggi sexy muncul dalam pakaian kebaya merah dengan kain songket yang mengkilap. Wow, Mbak Tiara tampak anggun sekali dalam pakaian tradisional itu.






"Mmm...cantik sekali Mbak siang ini ya?" sapaku sambil membuka pintu mobilku yang depan kiri. Mbak Tiara tersenyum mendengar pujian itu. Lalu kubantu ia naik ke dalam mobilku yang lumayan tinggi, sambil curi kesempatan untuk memegang bokongnya. Masih tetap padat bokong gede itu !


"Rambutnya dibleach pula...mulai gaul nih Mbak Tiara," kataku setelah berada di belakang setirku.


"Ah, iseng aja Mas...ikut-ikutan musim," sahut Mbak Tiara sambil menepuk-nepuk pahaku yang terbuka, karena saat itu aku cuma mengenakan celana pendek berwarna putih, dengan baju kaus berwarna hitam.


"Mas..." kata Mbak Tiara lagi, "saya mau kerja dong di perusahaan Mas. Di rumah terus, lama-lama jadi jenuh."


"Lho...gimana mau kerja di kota ini? Mbak kan udah tinggal di Sukabumi."


"Biarin, saya mau cari kos-kosan aja di tempat yang dekat kantor Mas Yadi, kalau saya diterima kerja di perusahaan Mas."


"Emang suami Mbak bakal ngasih ijin gitu?"


"Udah diijinin Mas. Dia malah bilang, percuma punya ijazah es-satu kalau gak dimanfaatkan."


"Mbak alumnus dari fakultas apa?"


"Fakultas ekonomi, jurusan manajemen, Mas."






Aku agak kaget mendengar pengakuan Mbak Tiara itu. Karena aku memang sedang membutuhkan tenaga lulusan FE, khususnya yang jurusan managemen.




"Yakin Mbak mau kerja?"


"Yakin Mas. Ngandelin pensiun suami doang, gak cukup untuk hidup dua minggu tuh."


"Ya udah. Bawa aja ijazah asli, cukup diperlihatkan ke bagian personalia nanti. Paling juga difotocopy di kantor. Besoknya Mbak udah bisa mulai kerja."


"Serius Mas?"


"Serius. Tapi harus bawa ijin suami dan fotocopy KTP suami-istri. Itu aja."


"Gak usah pake kelakuan baik dan sebagainya?"


"Gak usah. Kan Mbak dikasih prioritas dari saya."


"Kantornya di jalan apa Mas?"




Kuberikan secarik kartu namaku sambil berkata, "Di situ ada alamat kantor dan alamat rumahku. Alamat kantor di Banjarmasin juga ada."




"Makasih Mas."






Terdengar bunyi kling dari hpku. Ada bbm dari Joseph. Bunyinya, "Udah dapet. Kamar 212 di lantai 2. Aku udah nunggu di kamar itu."




Kubalas singkat, "Oke. Ini OTW ke hotel." Lalu kusimpan lagi hpku di saku celana pendekku, tanpa menarik perhatian Mbak Tiara.






Setibanya di hotel, aku langsung mengajak Mbak Tiara ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar 212 yang tidak dikunci pintunya, karena Joseph sudah ada di dalam kamar itu.




Mbak Tiara tampak agak kaget karena melihat ada orang lain di dalam kamar itu.Tapi aku cepat menutupkan pintu dan menguncikannya, lalu memegang pinggang Mbak Tiara sambil berkata, "Mbak...kenalin nih sahabat saya, Joseph namanya."




Mbak Tiara memandang ke arah Joseph dan menerima jabatan tangannya dengan agak malu-malu. Biarlah dia naksir sendiri betapa tampannya sahabatku itu.




Lalu Joseph duduk di sofa dan pura-pura asyik bbman.




Sementara aku mengajak Mbak Tiara masuk ke kamar mandi. Di situlah aku berusaha menanggalkan kebaya dan kain songketnya.






"Mas...itu nanti temennya gimana?" Mbak Tiara tampak ragu, tapi tak menolak ketika kulepaskan kebayanya, juga waktu kain songketnya kulepaskan.


"Biar aja. Dia takkan ganggu kita kok. Dia itu sahabat saya yang paling dekat di kota ini," kataku setelah tinggal celana dalam dan beha saja yang masih melekat di tubuh Mbak Tiara..


"Kalau dia terangsang lihat kita gimana?"


"Kasih aja," sahutku, "Mbak belum pernah merasakan dithreesome kan?"


"Haaa...?"


"Enak lho Mbak disetubuhi sama dua lelaki...jauh lebih seru daripada yang biasa."


"Mas...."


"Tapi kalau dia ngiler dan Mbak gak mau digituin, pegangin aja kontolnya...lalu kocok sama tangan Mbak sampai ngecrot..."


"Ah...masa gitu?"


"Ya kalau Mbak gak keberatan, kasih aja ininya," kataku sambil menepuk kemaluan Mbak Tiara yang masih tertutup celana dalam.






Mbak Tiara juga tak menolak ketika aku menanggalkan behanya.




Kemudian kuraih pergelangan tangannya, kuajak keluar dari kamar mandi. Meski agak berat mengajaknya keluar, akhirnya Mbak Tiara melangkahkan kakinya juga, mengikuti langkahku sambil menutupi payudaranya dengan sepasang tangannya.






"Jos, aku mau ML dulu sama Mbak seksi ini ya," kataku setelah mengajak Mbak Tiara naik ke atas tempat tidur.


"Hmm? Iya...lanjut deh..." sahut Joseph yang tetap pura-pura asyik dengan hpnya sambil duduk di sofa.






Meski Mbak Tiara masih tampak ragu, aku tahu benar bagaimana caranya supaya Mbak Tiara lupa segalanya. Awalnya dengan menjilati pentil payudaranya sambil sesekali mengisapnya.




Walaupun sesekali Mbak Tiara melirik ke arah Joseph, lama kelamaan ia memejamkan matanya dan membiarkan semuanya terjadi. Terlebih setelah aku menarik celana dalamnya, lalu dengan lahap kujilati kemaluannya yang jembutnya sudah tercukur habis itu. Ia pun mulai menggelinjang-gelinjang sambil mengusap-usap rambutku.




Bahkan pada satu saat ia seolah lupa pada kehadiran Joseph, mungkin karena ia sudah berada di puncak nafsu birahinya. Dan berkata, "Mas...masukin aja Mas...."




Aku pun tak mau berlama-lama lagi menjilati kemaluan Mbak Tiara, karena aku ingin agar Joseph segera menghampiriku. Lalu kulepaskan semua yang melekat di badanku. Dan kuangsurkan batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini ke mulut vagina Mbak Tiara. Lalu kudorong sekuatnya dan....blessss....melesak sedikit demi sedikit.




Mbak Tiara menyambut penetrasi ini dengan pelukan hangat dan sepasang kaki yang direwnggangkan selebar mungkin.




Lalu mulailah aku mengenjot liang kemaluan wanita berperawakan tinggi, berbokong besar dan berpayudara lumayan gede itu.




Pada saat itulah Joseph menghampiri kami. Berdiri di dekat tempat tidur sambil bertanya padaku, seolah-olah minta izin, "Boleh nonton di sini?"




Mbak Tiara tersipu, seperti malu-malu. Tapi aku menjawabnya, "Nontonlah. Tapi jangan curang...kami telanjang, masa kamu berpakaian lengkap gitu? Harus telanjang juga dong, biar adil..."




Semuanya itu cuma sandiwara, agar Mbak Tiara tidak mengira bahwa semuanya ini sudah direncanakan tadi.




Mbak Tiara bahkan seperti makin asyik menikmati entotanku. Ia mendesah-desah erotis, sementara Joseph sudah menanggalkan segala yang melekat di tubuhnya, lalu duduk di pinggiran tempat tidur, dengan kaki terjuntai ke lantai, tapi penisnya berada tak jauh dari tangan Mbak Tiara. Maka sambil mengentot Mbak Tiara, masih sempat kupindahkan letak tangan wanita itu dari kasur ke...penis Joseph !




Mbak Tiara agak terkejut. Tapi tanganku tetap memegang tangannya yanbg sudah menempel di penis Joseph yang tampak sudah tegang itu. "Pegangin aja Mbak...kasihan sahabatku ini....biar ikutan merasakan enaknya..."




Lalu kulihat Mbak Tiara memandang Joseph, dengan senyum malu-malu, namun tangannya mulai menggenggam batang kemaluan Joseph.






"Nah...gitu dong....biar kita bertiga kompak semuanya !" kataku sambil mengangkat tubuhku agar memberi ruang pada Joseph untuk saling pandang dengan Mbat Tiara seleluasa mungkin. Bahkan Joseph bisa menghilangkan kepenasaranannya untuk menyentuh buah dada Mbak Tiara yang bentuknya merangsang itu


"Boleh ngemut payudaranya?" tanya Joseph padaku, seolah-olah minta izin.


"Iya...emutlah...biar tambah asyik," sahutku yang masih gencar mengentot Mbak Tiara, dengan badanmenjauh dari dada Mbak Tiara, ditahan oleh kedua tanganku yang menekan kasur.






Mbak Tiara tahu bahwa pentil payudaranya sudah diemut oleh Joseph. Dan ketika kuperhatikan, ternyata tangannya pun mulai meremas-remas batang kemaluan Joseph ! Ini suatu pertanda bahwa Mbak Tiara sudah menerima kehadiran Joseph sebagai bagian dari permainan yang syur ini.




Untuk semakin meyakinkan bahwa Mbak Tiara siap dithreesome, aku hentikan dulu enjotan batang kemaluanku, lalu bertanya kepada wanita itu, "Boleh kan sahabatku gantikan aku dulu?"




"Kan...kan Mas belum keluar..." sahut Mbak Tiara sambil menatapku, lalu menataop Joseph juga.


"Gakpapa. Kasian kan dia udah kepengen dari tadi...boleh ya?"






Akhirnya Mbak Tiara mengangguk dengan senyum. Pastilah ia mau, karena sahabatku itu tampan sekali.




Demi persahabatanku dengan Joseph, kucabut batang kemaluanku sambil menepuk bahui Joseph. Lalu kataku, "Ayo Jos...gantian main..."




"Oke Yad," Joseph mengangguk dengan sorot ceria. Lalu ia merayap ke atas perut Mbak Tiara sambil memegangi batang kemaluannya.






Sesaat kemudian kulihat batang kemaluan Joseph sudah melesak masuk ke dalam liang kemaluan Mbak Tiara. Lalu ia mulai mengayun batang kemaluannya dengan gerakan perlahan...makin lama makin cepat....dan akhirnya ia benar-benar menyetubuhi Mbak Tiara.




AKu senang menyaksikan semuanya itu. Bahkan pikirku, kelak kalau Mbak Tiara ingin kugauli, sementara aku sedang kurang berhasrat, kan bisa diwakili oleh Joseph dulu.




Tampaknya takkan sulit mengatur selanjutnya. Karena kulihat Mbak Tiara mulai menyambut ciuman Joseph, sementara pinggulnya pun mulai bergoyang-goyang ketika Joseph mulai mantap menggerakkan batang kemaluannya.




Bahkan kulihat Mbak Tiara mulai merengkuh leher Joseph ke dalam pelukannya. Berarti ia sudah benar-benar enjoy kini....




Yeaaaaaaaa.....makin lama Mbak Tiara makin susah menyembunyikan perasaannya. Bahwa dia sangat menikmati indahnya digauli oleh dua lelaki. Ia tidak malu-malu lagi menciumi pipi dan bibir Joseph ketika ia sedang digenjot ganas-ganasnya oleh sahabatku yang senantiasa kompak denganku itu.




Bahkan ketika Joseph baru belasan menit menyetubuhinya, wanita itu melotot seperti melihat hantu di siang bolong. Lalu terpejam, menggeliat dan mengejang....mengelojot sambil menghela nafas panjang...pertanda sedang mencapai puncak orgasmenya.




Joseph melirik padaku sambil mengedipkan sebelah matanya. Mungkin memberitahuku bahwa Mbak Tiara sudah orga.




Dan aku menjawabnya dengan, "Lanjutkan aja sampai finish etape pertama !"




Joseph mengacungkan jempolnya sambil mengayun batang kemaluannya dengan gerakan dipoercepat, sehingga bunyi-bunyi unik terbit dari kemaluan Mbak Tiara,


 "Crek...crok...crek....cok...crok...crek...crok...crek...crok..." seperti bunyi cairan dikocok-kocok. Pasti karena liang kewanitaan Mbak Tiara sudah dibanjiri lendir kenikmatannya.




Dan aku malah berpikir bahwa kelak kalau Mbak Tiara benar-benar sudah bekerja di periusahaanku, pasti sering ia mengalami hal yang seperti ini. Bisa saja ia "kutugaskan" ke satu tempat pertemuan, lalu aku dan Joseph datang untuk menthreesomenya. Bahkan bisa saja aku membawa teman lebih dari seorang, seolah-olah party di suatu tempat yang aman dan nyaman kelak.




Kalau ia sudah menjadi pegawaiku, jam kerja juga bisa kugunakan untuk party seperti itu.




Mbak Tiara sendiri akhirnya mengakui bahwa apa yang kami lakukan jauh lebih dahsyat daripada yang biasa-biasa saja. Masalahnya setelah Joseph ejakulasi, aku maju...melanjutkan "sisa pekerjaan" yang belum selesai tadi. Dan setelah aku ejakulasi, Joseph maju lagi....sampai ejakulasi kedua kalinya. Dan aku menggantikan posisinya, sampai ejakulasi kedua kalinya. Lalu Joseph lagi dan aku lagi.




Begitulah....ketika hari mulai gelap, Mbak Tiara sudah enam kali disetubuhi. Aku tiga kali, Joseph tiga kali.




Sempat juga ada call dari suami Mbak Tiara. Mungkin menanyakan kenapa belum pulang ke Sukabumi. Dan kudengar Mbak Tiara mengutarakan alasannya. Bahwa ia sedang berjuang untuk memperolah pekerjaan di Bandung. Dan mungkin ia akan menginap di rumah temannya di Bandung. Titik. Lalu Mbak Tiara menyimpan handphonenya di dalam tas kecilnya.










BERSAMBUNG 









Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar