Langkah-langkah binal
Bab 2
Meski tampak bingung, diturutinya juga saranku. Dilepaskannya celana trainingnya. Tapi celana dalamnya masih melekat di tubuhnya. Lalu ia menghampiriku dengan senyum malu-malu.
Aku lalu sadar bahwa cowok yang masih ABG seperti Jonathan, jelas harus diserang duluan. Aku tak boleh berdiam pasif. Maka aku menyambutnya dengan rangkulan hangat dan beberapa kecupan di pipinya.
"Kenapa ininya gak dilepaskan sekalian?" cetusku sambil menarik celana dalam Jonathan sampai terlepas dari kakinya.
Jonathan diam saja, seperti menunggu aksiku.
Sebenarnya aku terkejut setelah melihat batang kemaluan Jonathan yang sudah ngaceng sekali itu. Masalahnya ia baru 16 tahun, tapi batang kemaluannya sudah melebihi ukuran penis orang dewasa. Apakah karena Jonathan selalu terjaga gizi makanannya sejak bayi? Ataukah karena ia memiliki darah bule dari ibunya? Entahlah.
Yang jelas, setelah celana dalamku kulepaskan, pandangan Jonathan langsung tertuju ke arah kemaluanku yang jembutnya senantiasa kucukur bersih ini.
"Pernah megang kemaluan cewek?" kataku sambil duduk mengangkang di atas sofa.
"Belum," Jonathan menggeleng.
"Peganglah sekarang," kataku sambil meraih tangan Jonathan sampai menempel di kemaluanku.
Tapi tangannya diam saja, tidak bergerak.
"Kok diem?"
"Anu...kalau boleh aku pengen jilatin seperti di film yang pernah aku tonton. Boleh gak, Tante?"
"Boleh," kataku sambil merentangkan kedua pahaku lebar-lebar, "Jilatin deh sepuasmu."
Karena saat itu aku duduk di sofa sambil merentangkan kedua pahaku lebar-lebar, Jonathan duduk di karpet, mendekatkan wajahnya ke kemaluanku.
"Kalau ada yang salah tolong benerin, ya Tante," ucap Jonathan sambil menjulurkan lidahnya, menyentuh bibir besar kemaluanku. Lalu menjilatinya dengan bersemangat.
"Ininya nih yang harus sering dijilatin," kataku sambil menunjuk kelentitku.
Jonathan pun mengikuti petunjukku. Dijilatinya kelentitku dengan lahapnya, sehingga aku mulai terpejam-pejam saking nikmatnya.
Aku pun mulai menceracau
"Iya...iya...jilatin terus Jon...iya...iya....oooh...jilatin terus Jooon....iya...iya..."
Tapi makin lama makin jelas kudengar. Bahwa nafas Jonathan semakin tak beraturan. Maka dengan lembut kudorong kepalanya, "Sudah Jon...yok pindah ke sana," kataku sambil menunjuk ke arah tempat tidurku.
Aku duluan merebahkan diri, terlentang di atas tempat tidurku, tentu dalam keadaan telanjang bulat. Jonathan yang sudah telanjang pula naik ke atas tempat tidurku dengan agak ragu-ragu. Padahal ketika kupegang batang kemaluannya, ternyata sudah keras sekali.
Maka dengan penuh gairah kupegang batang kemaluan Jonathan yang masih sangat remaja itu, lalu kuletakkan moncongnya tepat di tengah mulut kemaluanku.
"Iya...dorong Jon..." kataku sambil tetap memegang batang kemaluan Jonathan agar jangan meleset arahnya nanti.
Lalu terasa moncong penis Jonathan mendesak mulut kemaluanku dengan kuatrnya. Kuarahkan terus. Dan blessss...akhirnya masuk lebih dari separoh bagian penis Jonathan, karena dibantu oleh lendir libidoku bercampur dengan air liur Jonathan tadi.
"Nah...sekarang entotin deh," bisikku sambil memeluk pinggang cowok remaja itu.
"I...iya Tante...mm...kalau salah tolong benerin ya ..."
Bukan "pelajaran" yang sulit sekadar memaju-mundurkan batang kemaluan, seperti gerakan pompa di bengkel-bengkel. Maju, mundur...maju, mundur....
Dalam tempo singkat saja Jonathan sudah pandai mengentotku. Bahkan dengan terengah-engah ia berkata, "Dududuuuuh...enak sekali Tante....geli-geli enak gini ya Tante..."
"Iya...bonusnya istimewa kan?"
"Iya Tante..adududuhh...oooh...enak Tante....ooooh...entot terus kayak gini Tante?"
"Iya..entot terus sampai kamu ngecrot nanti."
Sambil menyeringaio dan terpejam-pejam, Jonathan menyetubuhiku, makin lama makin sempurna gerakannya.
Tapi hanya belasan menit ia mampu bertahan. Lalu ia tersengal dan merintih, "Tanteee...oooo....ooooooh......"
Ia berkelojotan dalam dekapanku. Pada saat yang sama kurasakan moncong penisnya menyemprot-nyemprotkan cairan kental dan hangatnya di dalam lubang kemaluanku. Banyak sekali air maninya, sampai terasa meluap ke lubang anusku dan mengalir ke kain seprai.
"Jadi lemes Tante..." kata Jonathan tanpa mencabut batang kemaluannya dari dalam vaginaku.
"Iya," sahutku sambil mendekap pinggangnya erat-erat, "Biarin aja direndam dulu. Nanti juga ngaceng lagi."
Aku bicara sambil menggoyang-goyang pinggulku, perlahan-lahan, agar jangan sampai penis Jonathan terlepas dari jepitan liang kewanitaanku. Iya, aku menggoyang-goyang pinggulku sambil berusaha untuk tetap menjepit batang kemaluan Jonathan.
"Remas-remas deh tetekku...tapi jangan terlalu kuat ya," kataku.
Jonathan manut saja.
Diremasnya payudaraku, sementara kurasakan penisnya mulai membesar lagi di dalam liang kemaluanku. Cowok seremaja Jonathan pasti gampang dibangkitkan lagi kejantanannya.
"Nah...sekarang boleh digerakin lagi, udah ngaceng lagi tuh," kataku.
"Entotin lagi, Tante?"
"Iya...ayolah..." kataku sambil menggoyang-goyang pinggulku.
Jonathan mulai mengayun kembali batang kemaluannya yang sudah tegang lagi itu. Kusambut dengan dekapan hangat dan goyang pinggulku sebinal mungkin, sehingga terasa batang kemaluan Jonathan terus-terusan bergesekan dengan kelentitku. Ini yang kuinginkan dengan menggoyang pinggulku.Karena setiap kali bersetubuh, tiada yang paling nikmat bagiku selain pergesekan penis dengan clitorisku.
"Duuuh...Tante...makin lama makin enak, Tante....aaaahhh....enak banget Tante..." cetus Jonathan dengan genjotan yang makin lama makin mantap.
Kali ini cukup lama ia menyetubuhiku. Setelah lebih dari setengah jam Jonathan mengenjotku untuk kedua kalinya, aku mulai merasakan mau mencapai orgasme. Maka aku pun mempergila ayunan pinggulku, meliuk-liuk dan menghentak-hentak, sampai akhirnya kurasakan puncak kenikmatanku tiba.
Ooooh...ini nikmat sekali.
Sesaat kemudian, Jonathan pun mendesakkan batang kemaluannya sedalam-dalamnya, sambil meringis dan menahan nafasnya. Lalu ia mendengus...uuuuggghhh....dan terasa moncong penisnya menembak-nembakkan air maninya lagi di dalam lubang kemaluanku. Kutanggapi dengan pelukan di lehernya dan ciuman mesra di bibirnya.
Lalu kubiarkan batang kemaluan Jonathan melemah dan mengecil, sampai akhirnya terlepas dari cengkraman liang surgawiku.
"Ingat...jangan bilang-bilang sama orang lain ya. Ini rahasia kita berdua saja," bisikku di telinga Jonathan.
"Iya Tante. Percaya deh, aku biaswa pegang teguh perjanjian," sahut Jonathan sambil tersenyum, "Tapi kalau saya kepengen lagi besok-besok gimana?"
"Gampang, asalkan Oom lagi gak ada, nyelinap aja ke sini. Kan kelihatan, kalau jipnya ada di depan, berarti Oom sedang ada di rumah."
"Iya Tante. Makasih."
Harusnya aku puas, karena sudah disetubuhi oleh cowok yang benar-benar masih ABG. Dua kali pula ia menyetubuhiku tadi. Tapi kenapa setelah Jonathan pergi, hasratku menagih-nagih lagi?
Apakah aku sudah menjadi perempuan hyper sex? Kenapa hasrat birahiku malah terasa lebih hebat daripada sebelum disetubuhi oleh Jonmathan tadi?
Ada apa sebenarnya dengan diriku ini?
Kulihat jam dinding di ruang makan menunjukkan jam sepuluh malam. Aku berpikir beberapa saat. Sampai akhirnya kutelepon Herman :
"Man lagi ngapain?" tanyaku di mic handphoneku.
Terdengar suara Herman menyahut, "Baru selesai muat barang yang terakhir Bu. Sudah habis semua barang-barang dari rumah ini. Sekarang saya baru mau mandi."
"Ya udah mandi yang bersih sana. Terus cepetan ke sini ya."
"Baik Bu."
Dan aku resah sendiri menunggu Herman datang. Resah sekali, karena aku horny terus. Dan aku yakin Herman lah yang bisa meredakan gejolak birahiku ini.
Hampir jam sebelas malam Herman baru datang. Tampak rambutrnya kelimis, mungkin karena baru habis mandi.
"Kenapa lama banget, Man?" tanyaku bernada protes.
"Kan saya naik angkot Bu. Gak bisa cepat seperti bawa mobil sendiri."
"Ya udah...sini..." kuraih pergelangan tangan Herman dan kuajak masuk ke dalam kamarku.
Setgelah kami berdua berada di dalam kamar, kututup dan kukuncikan pintu kamarku. Kataku, "Sejak kamu baru datang dari Kalimantan itu, kita gak pernah main lagi kan?"
"Heheheee...iya Bu. Kan kitanya juga jadi sibuk bongkar muat barang-barang."
"Sekarang udah selesai semua kan?"
"Udah Bu. Tadi sudah dibilangin ke satpam yang jaga di depan, supaya kalau truk itu datang, barangnya ditumpuk di dalam kantor security aja. Besok pagi, baru diangkut ke sini."
AKu mengangguk. Dan tanpa basa-basi lagi kutarik ritsleting celana denim Herman, lalu kuselinapkan tanganku ke balik celana dalamnya, "Aku lagi kepengen banget, Man. Mmmm...kontolmu langsung ngaceng gini ya? Hihihi...tokcer banget. Begitu disentuh langsung ngaceng."
"Iya Bu," sahut Herman sambil menurunkan celana denim hitamnya, "Sebenarnya saya dari tadi sore juga lagi kepengen banget. Tapi saya kan gak berani ngajak Ibu. Takut dianggap lancang."
"Jadi kamu seneng kupanggil sekarang?"
"Seneng banget Bu....heheheee..." Herman melemparkan celana denimnya di atas karpet, kemudian menanggalkan baju kausnya yang berwarna hitam juga. Belakangan Herman jadi pandai mematut-matut dirinya. Dandanannya tidak norak seperti dulu lagi.
Ketika tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuh Herman, aku justru sudah telanjang bulat dan duduk di atas tempat tidur yang kain seprainya sudah diganti dengan yang baru. Beberapa saat yang lalu, banyak sekali air mani Jonathan yang mengalir ke kain sepraiku. Sehingga aku harus memasukkan kain seprai itu ke dalam mesin cuciku. Lalu menggantinya dengan kainseprai dan sarung bantal baru. Aku pun sudah menyemprotkan parfum di kainseprai dan bantal-bantalku. Maka pastilah penciuman Herman merasa kamarku harum sekali.
Meski belum dua jam aku baru disetubuhi dua kali oleh Jonathan, sikapku seolah belum diapa-apakan pada malam itu. Ketika Herman menghampiriku, langsung kutarik pergelangan tangannya. Dan kutarik celana dalamnya, sehingga penis perkasaa itu tampak lagi di mataku...tampak demikian tegangnya sampai agak mengacung ke atas.
Lalu tanpa canggung lagi kuraih Herman sampai terjerembab ke atas tubuhku. Saat itulah aku berkata padanya, "Kamu sangat memuaskan Man. Yang tempo hari, terasa-rasa sampai keesokan harinya."
"Masa sih Bu? Saya lebih dari itu. Tiap ingat apa yang pernah kita lakukan, punya saya langsung berdiri seperti sekarang ini..." kata Herman sambil merayapkan tangannya ke arah kemaluanku. Kubiarkan ia menggerayangi kemaluanku sepuasnya. Bahkan ketika ia menyelinapkan jemarinya ke dalam liang kemaluanku, cepat kubalas dengan remasan-remasan lembut pada batang kemaluannya yang hangat dan sudah ngaceng berat itu.
Tapi kepala Herman turun dan turun terus, sehingga batang kemaluannya lepas dari genggamanku, sementara mulut Herman sudah menempel di permukaan kemaluanku. Lalu ia mulai menjilati kemaluanku dengan lahapnya.
Apa yang Herman lakukan itu rasanya pas benar waktunya, waktu di mana aku membutuhkan lelaki yang benar-benar jantan. Dan Herman memiliki beberapa hal yang kusukai. Bahwa tubuhnya tinggi tegap, sehingga orang yang belum mengenalnya akan menyangkanya seorang tentara. Ia juga memiliki alat kejantanan yang mampu membuatku terbeliak-beliak tempo hari. Dan yang paling kusukai pada dirinya, adalah bahwa ia tetap hormat padaku, terutama jika ada orang lain di dekat kami.
"Ayo...masukin aja Man...aku udah kangen berat neh," kataku sambil menarik bahunya agar naik ke atas tubuhku.
Dan manakala Herman sudah mulai mengarahkan moncong penisnya ke mulut vaginaku, spontan saja kurenggangkan sepasang pahaku selebar mungkin, seolah mempersilakan kepada penis Herman untuk menjelajahi lubang surgawiku.
Dan ketika penis Herman menerobos liang vaginaku sedikit demi sedikit, oooh, entah kenapa....ini terasa sekali nikmatnya. Nikmat yang membuatku ketagihan, nikmat yang membuatku ingin dan ingin dan ingin disetubuhi terus menerus oleh lelaki bernama Herman itu. Karena aku merasa dan berkesimpulan, inilah penetrasi yang paling berkualitas bagiku. Bukan dari penis lelaki-lelaki ganteng - tampan dan terhormat seperti yang kerap kurasakan dari teman-teman suamiku.
Aku harus mengakuinya bahwa sosok Herman yang sederhana ternyata menyimpan sesuatu yang paling hangat di dalam dirinya.
Lalu aku tak mau menyia-nyiakan semuanya ini. Kupeluk leher Herman erat-erat sambil menggoyang-goyangkan pinggulku seedan dan sebinal mungkin.
"Ayo Man...entot segila mungkin Maaaan...aku lagi kangen berat sama kamu Maaaan....oooo....ooooh...ini enak sekali Maaaan....ayooo Maaaan.... ooooh....ooooh..."
Dan batang kemaluan herman terasa sekali menyeruduk-nyeruduk liang meqiku sampai ke dasar-dasarnya...terasa moncongnya seperti menonjok-nonjok dasar liang vaginaku yang paling dalam...ooo, ini nikmat sekali ! Membuatku terengah, terbeliak dan tergetar hebat.
Gila...lelaki lain tak sedahsyat ini nikmatnya. Apalagi kalau dibandingkan dengan Jonathan tadi...sungguh Herman ini jauh lebih berkualitas. Sehingga cumas belasan menit saja ia mengentotku, terasa aku sudah berada di puncak kenikmatanku yang paling tinggi. Puncak kenikmatan yang membuatku menahan napas, dengan sekujur tubuh mengejang kuat-kuat...lalu aku merasa seperti melesat ke langit...langit ke tujuh, langit surga dunia...aaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh....benar-benar nikmat genjotan penis Herman ini. Yang membuat liang kemaluanku berkejut-kejut di alam yang terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Pada waktu sudah berkelojotan lalu menggeliat nikmat dalam orgasme, batang kemaluan perkasa itu masih mantap mengentotku. Maju mundur dan maju mundur terus...menyeruduk-nyeruduk dasar liang kemaluanku terus. Aduhai nikmatnya si Herman ini ! Cuma membuatku lemas beberapa detik...lalu aku jadi horny lagi...mengimbangi pergerakan penis anak buah suamiku itu.
O, suamiku tercinta...ampuni istrimu ini...karena alam baru yang kau bentangkan untukku, membuat diriku jadi jauh berbeda dengan dahulu. Sekarang aku jadi sering ketagihan, tak kuasa menahan diri dan sering digoda nafsu birahiku...nafsu yang membuatku ingin merasakan nikmatnya gesekan penis lelaki. Lagipula bukankah kau sudah mengijinkanku untuk bersetubuh dengan Herman ini? Kepuasan ini memang kudapatkan dari si Herman. Tapi cintaku tetap untukmu Bang Yadi tercinta !
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar