ADAPTASI PART 66

 

POV


Bagas




Keinginan untuk bertemu kedua orang tuaku sambil menuntaskan dendam akan kondisi seorang gadis yang sangat kusayangi yang kini terbaring dalam keadaan koma di ruang ICU di sebuah rumah sakit.




Memantik api, sebuah asa di dada membuatku sangat antusias saat mencapai pulau neraka. Dengan sangat cepat aku pergi ke arah Timur, sesuai pembagian tugas yang kulakukan dengan Julian.




Aku terus berlari sambil mulai memasang silencer di moncong pistolku.




Tagh!!


Tagh!!


Tagh!!




Tiga tembakan beruntun kulesatkan ke arah musuh, mengarah ke angka jam 7, 9 dan 11, dan peluruku secara tepat mengenai ketiganya. Seketika mereka bertiga tumbang karena lesatan peluruku yang bersarang di daerah vital di tubuh mereka.




Aku kembali berlari, dua musuh terlihat melihat pergerakanku.




Tagh!!




Duagh!!


Duagh!!




Satu musuh kutembak tepat dijidatnya.




Kemudian aku melakukan tendangan ganda mengarah ke dada dan kepala dari satu musuh yang tersisa.




Sleeb!!




Melihat tubuhnya oleng dengan cepat, kuambil belati dan menusukkannya ke arah ulu hati musuhku itu.




Jujur sebuah asa yang kumiliki saat ini membuatku menjadi sangat beringas saat beraksi.




Satu musuh terlihat duduk santai di atas sebuah tong.




Sleeb!!




Dengan tepat kulempar belatiku, sehingga menancap di punggung orang itu. Tidak mau membiarkan musuhku bangkit.




Duuaagh!!




Merasa tidak puas dengan hanya melukainya dengan belati, kulayangkan tendangan keras ke arah tengkorak belakangnya membuat musuhku terhempas dan tersungkur tidak bergerak.




Segera kucabut pisau belati milikku kemudian menyimpannya kembali di kakiku.




Sejenak aku berhenti berlari, saat mulai terlihat tembok besar yang merupakan benteng dan berada tidak jauh di depanku.




Terlihat 3 (tiga) orang penjaga berada di sekitaran area pintu.




Tagh!!


Tagh!!


Tagh!!




Kulesatkan 3 butir peluru dan semuanya tepat mengenai penjaga-penjaga tersebut seketika membuat mereka roboh tak bernyawa.




Selanjutnya, aku berlari kencang.




Braaaakkkk...




Aku sengaja menghantamkan tubuhku ke pintu itu membuat pintu tersebut terbuka secara paksa karena dorongan dari tubuhku.




Bersamaan dengan tubuhku jatuh, kuarahkan silencer pistolku ke berbagai arah.




Tidak lama berselang, tubuhku berguling untuk bersembunyi karena mengetahui ada 4 (empat ) orang musuh sedang berhamburan menuju ke arahku.




Mereka bersiap untuk menembak.




Taaappp!!




Namun dengan cepat kulakukan sebuah lompatan sambil melesatkan tembakan yang mengarah ke tubuh mereka berempat yang tadi sedang berhamburan menembak ke arahku.




Tagh!!!


Tagh!!!


Tagh!!!


Tagh!!!




Entah faktor mujur atau skill menembakku berkembang pesat! Keempat peluruku itu tepat mengenai sasarannya membuat mereka berempat roboh dengan kondisi satu peluru bersarang di masing-masing kepala mereka.




Door!


Door!


Door!


Door!


Door!




Sekilas aku mendengar suara tembakan beruntun dari sisi Barat, berarti itu sebuah pertanda bahwa telah terjadi kontak senjata antara Julian dengan para penjaga-penjaga di sisi Barat.




Tidak ingin hal buruk menimpa sepupuku, segera aku berlari menuju ke asal suara rentetan tembakan tersebut. Terlihat empat orang musuh menembaki dinding tempat Julian bersembunyi.




Tagh!!


Tagh!!


Tagh!!


Tagh!!




Dengan mudah aku merobohkan keempat musuh-musuh kami karena membelakangi posisi musuh sehingga mereka tidak menyadari kehadiranku.




“Kau lambat sepupu!” ucapku dengan nada sindiran sedikit memancing amarah Julian.


“'Thanks!” Balas Julian dengan muka sedikit kusut.


“Ayo!” Seruku kemudian kembali berlari menuju menara.


“Tahan, Gas!” Samar terdengar Julian menyuruhku untuk sejenak mengulur waktu, namun terlambat.




Braaakkk...




Pintu masuk menara, lebih dahulu kubukak paksa. Mempertontonkan ruangan yang dipenuhi oleh puluhan pasukan ninja bersenjatakan katana. Tak hanya itu, terlihat Jacob dan Robin menyeringai ke arahku dan tak lama kemudian keduanya berjalan menuju lift Tak berselang lama Julian telah menyusulku dan berdiri tepat di sampingku.




Kami sama-sama mengedarkan pandangan, melihat tumpukan tong berisikan bahan kimia, tertata rapi di setiap sudut terbuka yang memenuhi luasan dinding yang ada di tempat ini. Membuat kami sesaat saling berpandangan lalu dilanjutkan dengan sama-sama menganggukkan kepala.




Kami paham akan hal yang terjadi di sini dengan sengaja mereka mendesain tempat ini dengan puluhan tong berisikan bahan kimia. Agar kami tidak dapat menggunakan senjata api. Dengan kompak kami menyimpan pistol yang kami genggam, kemudian menggantinya dengan sebuah senjata tajam. Aku mengambil “ninjato” pemberian April. Julian pun melakukan hal yang sama dimana dia mengambil sebuah “wakizashi”, sebuah senjata mirip kodachi, namun bentuknya menyerupai sebuah katana hanya ukurannya saja yang lebih pendek.




“Tunggu!”




Saat kami berdua bersiap untuk segera melawan mereka.




Aku mendengar suara seorang gadis, suara yang sangat aku kenal.




Plaaaak!!




Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku disertai lantunan kata-kata pedas yang cukup panjang kudengar keluar dari mulut mungilnya. Ya, dia adalah Nadia.




Untung hanya sesaat, ternyata Nadia tidak sendirian, di belakangnya terlihat Kak Elang dan Tante Linda yang terlihat datang bersamanya.




Mengingat kondisi kami saat ini berada di markas musuh. Kak Elang kemudian mengambil alih keadaan dengan menyuruh aku dan Julian ke atas terlebih dahulu yang artinya urusan puluhan pasukan ninja bersenjata katana akan menjadi urusan mereka bertiga.




Sesaat aku dan Julian berpandangan, setelahnya kami saling mengangguk dan langsung berlari ke arah tangga.




Tidak lama kami telah menjejakkan kaki di lantai dua dari menara dengan 5 lantai ini.




Pemandangan di depan membuatku tercengang.




Berdiri 3 (tiga) orang menghadang kami untuk melanjutkan ke lantai selanjutnya dan yang membuatku tercengang adalah aku mengenali satu di antara mereka. Bukan hanya mengenali saja tapi orang itu kemarin sangat dekat denganku.




Ya, orang itu merupakan salah satu guruku, Om Jack namanya yang sering dipanggil juga sebagai master monkey, beliau adalah master tahapan kedua di akademi yang kulalui kemarin. Orang yang sedikit banyak telah berjasa akan peningkatan pesatku dalam urusan fisik, orang yang melatihku dalam urusan hal menggunakan senjata api.




Tapi aku merasa sedikit janggal karena Om Jack sama sekali tidak mengenaliku. Bahkan bukan saja tidak mengenaliku, Om Jack sepertinya sangat berbeda. Terlihat tatapan matanya kosong seperti mayat hidup yang tidak memiliki hati dan nurani.




“Sepertinya, kau butuh sekedar reuni dengan pria bertubuh kekar itu sepupu!” ucap Julian seakan tahu akan apa yang kupikirkan.


“Dan kau tidak keberatan menghadapi dua orang lainnya sepupu?” Jawabku singkat.


“Deal. Ingat sepupu, waktu kita tidak banyak!” Seru Julian mengingatkanku untuk tidak menghabiskan banyak waktu di sini.




Kuacungkan jempol sebagai jawaban lalu berjalan ke sisi kiri dan bersiap menghadapi Om Jack.




Bugh!!


Wut!!


Bugh!!


Dugh!!


Dugh!!


Wuzh!!




Melihat kejanggal di diri Om Jack membuatku tidak ada niatan untuk menghajarnya. Aku hanya menepis dan sesekali menghindari serangan yang dilancarkannya. Entah itu pukulan atau pun tendangan!




Pemandangan berbeda ditunjukan oleh Julian, dia terlihat lebih unggul dan mendominasi pertarungan, meskipun dirinya dalam kondisi melawan dua orang sekaligus.




Sesekali sambil menepis atau menghindari serangan yang dilesatkan Om Jack, kuarahkan pandangan ke duel 1 vs 2 yang dilakukan Julian di sisi kananku.




Terlihat Julian mulai serius.




Duagh!!


Buagh!!




Satu tendangan dan satu pukulan bersarang di kedua orang lawannya membuat kedua lawan Julian limbung. Dan tanpa menunda waktu, dengan sangat cepat Julian mengambil “wakisazhi” dan digunakannya untuk menebas kedua leher musuhnya.




Ngeri juga melihat apa yang dilakukan oleh Julian, aku terpaksa menyaksikan pemandangan kepala kedua musuhnya menggelinding terpisah dari tubuh mereka.




Suara derap langkah-langkah kaki, membuatku sesaat mengalihkan pandangan ke arah tangga.




Di sana ternyata Nadia, Tante Linda dan Kak Elang telah menyusul kami berdua, pertanda bahwa mereka telah menyelesaikan pertarungan dengan puluhan ninja di lantai pertama.




Aku kembali fokus ke Om Jack yang masih saja terus menerus melakukan serangan padaku.




Namun lama kelamaan, gerakannya semakin melambat, faktor kelelahan sepertinya membuat Om Jack tidak seberingas seperti waktu diawal menyerangku tadi.




Tidak mau menunda waktu lebih lama lagi, aku memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini. Dan aku berharap menyadarkan Om Jack yang telah banyak berjasa padaku. Terlihat tubuh depan Om Jack terbuka lebar.




Buagh!!




Sebuah pukulan ringan kulayangkan mengarah ke ulu hati Om Jack membuat tubuhnya condong ke depan menahan rasa sakit yang menderanya.




Buagh!!




Sekali lagi dengan gerakan cepat, aku memutar tubuhku berpindah di belakang tubuh Om Jack lalu memukul tengkuknya. Pukulanku mengarah ke titik saraf yang berada di area leher belakang. Pukulan pelanku seketika membuat Om Jack tak sadarkan diri.




Begh!!




Dengan cepat kutangkap tubuh Om Jack sebelum membentur lantai. Dibantu oleh Kak Elang, kami memapahnya ke sudut ruangan membiarkan tubuh besar itu terbaring di lantai. Setelah urusan kami selesai, baru akan kami urus Om Jack untuk segera disembuhkan.




Kami sepakat meninggalkan Om Jack dalam keadaan pingsan di lantai 2 ini. Dan tidak lama kami berlima sudah beranjak ke lantai tiga.




Di sana telah menunggu kami, dua orang pria menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Jacob dan Robin.




Aku dan Julian melangkah maju untuk segera menghabisi mereka berdua. Namun niat kami urung, setelah Kak Elang kembali menahan kami.




Kak Elang kembali mempersilahkan kami untuk semakin naik ke lantai 4. Yang berarti Jacob dan Robin, akan berhadapan dengan Nadia, Kak Elang dan Tante Linda. Sejenak aku sedikit ragu meninggalkan mereka berhadapan dengan Jacob dan Robin. Bukan apa-apa, aku yakin jacob dan robin bukanlah dua pria biasa karena aku pernah melihat salah satu di antara mereka, yaitu Jacob. Aku pernah melihat Jacob bertarung dan ia petarung yang sulit untuk ditaklukan dengan mudah.




Namun...




Sebuah anggukan dari Julian membuatku mantab meninggalkan mereka.




Aku yakin Julian telah memperhitungkan secara matang kapasitas antara mereka berdua. Dan Julian juga sedikit tahu tentang kemampuan dari ketiga orang yang berada di pihak kami.




Setelah membalas anggukan kepala dari Julian, aku bersama Julian berlarian naik ke lantai empat dari menara yang berada tepat di tengah benteng ini.




Degh!!




Jantungku berhenti berdetak.




Dugh!


Dugh!


Dugh!




Berlanjut berdetak dengan sangat kencang, kakiku seakan lumpuh, tubuhku seakan melemah karena pemandangan orang di depan membuat mulutku terdiam membisu.




“Aaaaaaaaay............” Panggilku namun belum sempat aku menuntaskan sebutan AYAH.




Tiba-tiba...




Julian berteriak, “awas, Gas!”




Wuuzh!!




Terasa tubuh Julian menabrak tubuhku nembuat tubuh kami berdua tersungkur.




Braaakkkk!!




Julian menyelamatkanku dari ayuan sebuah golok besar yang dibawa ayahku.




Iya, ayahku berdiri berdua dengan orang sebayanya. Terlihat wajah mereka berdua menampakkan ekspresi bengis dan tidak mengenal kompromi. Ayahku seperti tidak mengenaliku sama sekali.




Plaaak!


Plaaak!


Plaaak!




Tiga kali Julian menamparku. “Bagas..! Aku tahu Harimau Jawa adalah ayahmu, dan di sebelahnya adalah Singa Gurun.”




Aku hanya memandangi Julian, tubuhku masih terasa melemah.




“Sadar, Gas! Jika kau tidak melawan dan melumpuhkan mereka berdua, kita pasti mati! Mereka berdua telah melewati proses cuci otak yang dilakukan Nuri. Jika kau ingin ayahmu pulih seperti semula, kau harus melumpuhkan mereka dulu! Paham?” ujar Julian memberitahu.


"Benar yang dikatakan Julian" gumamku membatin, “Aku harus melumpuhkan Ayah untuk menyembuhkannya. Sepertinya memang benar, perilaku yang ditunjukan kedua pria tua di depanku memang sangat janggal. Hal yang sama yang ditunjukan Om Jack tadi sewaktu kami bertemu di lantai tiga. Mereka bertiga sepertinya memang tidak mengingat apapun, kecuali kemampuan bertarung yang masih mereka ingat.”


“Baiklah, ayo sepupu!” kataku dengan penuh semangat.




Aku kembali membuka sarung ninjato yang terselip dan tersimpan di punggungku dan hal yang sama juga ditunjukan oleh Julian, dia pun telah bersiap dengan wakizhasi-nya.




Di depan kami berdua, ayahku yang merupakan Harimau Jawa telah bersiap melancarkan serangan dengan golok besarnya, sementara orang yang berada di sampingnya juga terlihat telah bersiap menyerang kami, terlihat dari dua buah potongan besi sepanjang 50 cm sudah ada di genggaman kedua tangannya.




“Tidak mudah melumpuhkan mereka berdua, Gas!” ujar Julian pelan.




Kuanggukan kepala mengamini apa yang Julian katakan barusan. Mau tak mau, kita harus melumpuhkan mereka berdua.




“Baiklah, ayo kita mulai berolah raga sepupu!” ujar Julian semangat.


“Ayo!” Seruku kemudian aku menerjang ke arah Harimau Jawa yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayahku sendiri.




Traank!!




Ninjato milikku, berbenturan keras dengan golok yang ayahku genggam, tanganku seketika bergetar hebat.




Traank!!




Kembali dua senjata kami bersinggungan, tenaga dari ayunan golok yang dilancarkan Ayah sangatlah kuat dan kembali tanganku bergetar hebat.




Traank!!


Traank!!


Traank!!




Tiga kali Ayah mengayunkan golok secara vertikal dengan sangat cepat, memaksaku menyilangkan ninjato secara horisontal untuk menutup sudut terbuka bagian atas.




Namun dengan gerakan cepat, ayahku mengganti serangannya dengan menggunakan kakinya. Sebuah lesatan tendangannya menghantam dadaku secara telak membuatku mundur dan terpelanting menghantam lemari kayu hingga hancur.




Duuaagh!!


Braaakkkk!!




“Aaaargh!” Erangku kesakitan.




Dadaku terasa sesak, akibat dari tendangan ayahku yang sangatlah keras sekali.




Melihatku terkapar, tanpa memberiku jeda, Ayah mengayunkan goloknya dengan sangat keras membuat ninjato yang kugenggam terlempar.




Traank!!




Bahaya sedang mengintaiku.




Wuuuuzh!!


Wuuuuzh!!




Dua ayunan golok kembali dilesatkan Ayah ke arahku, dan aku terpaksa melakukan dua lompatan untuk menghindari serangan dari golok Ayah.




Taaappp!!


Taaappp!!




Aku melihat ada sebuah celah di dada Ayah.




Duuaagh!!


Taaappp!!




Tendangan keras yang kulesatkan dan bersarang tepat ke dada Ayah, tidak membuahkan hasil. Tubuh Ayah sangat keras sekali seperti batu. Tendanganku sepertinya tidak berpengaruh terhadapnya.




Wuuuuzh!!


Wuuuuzh!!




Kembali Ayah menyerangku, dengan golok yang Beliau ayunkan sebanyak tiga3 kali ke arahku, memaksaku untuk mempercepat gerakan dengan menghindari ayunan golok yang dilesatkan oleh ayahku. Aku semakin terdesak, tubuhku semakin mendekati tembok ruangan ini.




Ayah kembali mengayunkan goloknya ke arahku, membuatku sedikit menggeser tubuhku mundur ke belakang berhimpitan dengan dinding.




Sraaaaagk!!


Sraaaagk!!




Membuat golok itu menghantam tembok ruangan ini.




Sleeeegh!!




Hujaman goloknya mengarah ke perutku dapat kuhindari dengan cepat. Beruntung masih mampu kubaca serangan dari Ayah, terlambat sepersekian detik saja, pastinya golok itu akan mengoyak-ngoyak perutku. Saking tajamnya golok milik Ayah membuat golok itu menancapkan di tembok.




Merasa mempunyai celah untuk menyerang Ayah segera aku melakukan serangan balasan.




Buagh!!


Buagh!!


Buagh!!




Tiga pukulan kulesatkan mengarah ke pergelangan tangan Ayah membuat golok yang dipegangnya jatuh.




Buuaagh!!




Namun fokusku yang terpusat untuk menjatuhkan golok Ayah membuatku tidak menyadari sebuah pukulan dari tangan kiri Ayah.




Bruuukkkk!!




Akibat dari pukulan Ayah membuat tubuhku terhempas.




Duagh!!


Duaaagh!!


Duaaagh!!


Duaaagh!!




Kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Ayah. Beliau dengan sangat brutal dan membabi buta, melayangkan beberapa tendangan ke arah wajahku, sementara aku dalam posisiku meringkuk, terjepit di tembok ruangan membuat Ayah leluasa melesatkan tendangannya.




Tidak ingin memperparah keadaan, aku hanya menutup sisi kepalaku dengan kedua tanganku, dan merelakan kedua bahu tanganku untuk menerima tendangannya yang sangat keras yang dilayangkan oleh Ayah.




Fokusku saat ini menyelamatkan area kepalaku sehingga membuat konsentrasiku sedikit buyar.




Dan, tiba-tiba...




Sebuah tendangan Ayah yang sangat keras luput dari prediksiku dan masuk dengan sangat telak mengenai perutku.




Aku semakin meringkuk!!!




Duagh!!


Eeeergh!!




Ternyata bukan hanya isapan jempol belaka soal kemampuan bertarung Ayah, dan cerita Paman soal ketangguhan bertarung yang dimiliki ayahku sekarang memang terbukti adanya.




"Kalau terus-terusan dalam posisi seperti ini akan sangat membahayakan nyawaku" Pikirku dalam hati sambil berusaha tetap bertahan dari serangan yang dilancarakan Ayah.




Aku terus saja menahan dan menerima tendangan keras, bertubi-tubi yang dilayangkan Ayah sambil berpikir untuk mencari celah meringkusnya.




“Benar apa yang dikatakan sepupuku, Julian. Jika aku fokus dengan bertahan seperti disaat aku bertarung dengan Om Jack maka akan sangat berbahaya, mengingat lawanku kali ini adalah Ayah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Harimau Jawa. Mengenai ketangguhan dan kehebatannya dalam bertarung tidak perlu diragukan lagi. Meskipun Ayah dalam keadaan pengaruh cuci otak, namun keahlian beladirinya tidak menurun sama sekali. Aku harus bersungguh-sungguh, aku harus melumpuhkan Ayah dengan segala cara, sebelum nantinya aku akan mengembalikan ingatan Ayah seperti semula.”




Duagh!!




Kembali sebuah tendangan mengarah ke perutku. Namun kali ini, aku dalam posisi waspada.




Aku mengencangkan otot perut kuat-kuat dan dengan sengaja membiarkan tendangan Ayah sekali lagi menghantam perutku.




Sakit, sakit sekali rasanya namun kutahan sekuat mungkin.




Dengan cepat kulayangkan sebuah sapuan kaki, saat Ayah kembali melayangkan sebuah tendangan susulan.




Duagh!!




Braakkkk...




Tidak dapat dihindari oleh Beliau, tubuh ayahku tersungkur oleh sapuan kakiku.




Simple sebetulnya, sekuat atau sehebat apapun lawanmu jika bersandar pada satu kaki pastinya membuat kuda-kuda akan rapuh, dan itu yang aku manfaatkan dengan menyapu kaki Ayah ketika dalam waktu bersamaan Ayah melakukan tendangan yang mengarah ke perutku.




Aku harus bersungguh-sungguh, meskipun lawanku saat ini adalah Ayah, atau aku akan mati konyol dan tidak mampu menyembuhkan Ayah.










BERSAMBUNG







Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar