ADAPTASI PART 67 (TAMAT)

 

Ayah masih dalam kondisi terbaring dan hendak bangkit, melihat kesempatan terbuka lebar, aku segera memburunya dan dengan siku tangan kananku aku lesatkan dengan sangat cepat dan bertenaga mengarah ke perut Ayah.




Buagh!!




Tubuh Ayah kembali terbaring setelah mendapatkan pukulan dari siku kananku yang keras di perutnya. Aku tidak ingin membuang kesempatan emas ini, dengan cepat aku memutar tubuhku lalu menduduki perut Ayah.




Beegh!!




Tanpa memberi jeda, kulayangkan pukulan bertubi-tubi mengarah ke wajah Ayah. Namun gerakan refleks ditunjukan oleh Ayah, Beliau menutup wajahnya dengan menggunakan bahu tangannya.




Buagh!!


Buagh!!


Buagh!!






Dan, tiba-tiba...




Duagh!!




Kurasakan sebuah tendangan yang sangat keras menghantam bahu bagian belakangku, tak pelak lagi membuat tubuhku terdorong dan tersungkur ke depan.




Melihat Ayah mulai bangkit, aku pun tak mau mengambil resiko, aku segera bangkit walau kurasakan rasa nyeri yang mendera bahuku akibat tendangannya tadi.




Ayah merangsek maju, sambil melayangkan pukulan sebanyak tiga kali yang mengarah ke tubuhku.




Baagh!!


Baagh!!


Baagh!!




Namun dengan gesit, aku melakukan gerakan menghindar membuat tinju-tinju yang dilesatkan Ayah hanya menghantam tembok yang berada tepat di belakangku.




Buaaagh!!




Bersamaan dengan sebuah pukulan Ayah yang tadi kuhindari dan menghantam tembok dengan sangat keras. Akibat serangannya yang luput itu membuat pertahan Ayah terbuka. Langsung saja kulayangkan pukulan uppercut yang mengarah ke lengan kiri atas tangan kiri Ayah. Ternyata pukulan itu masuk dengan sangat keras dan telak sehingga membuat tangan kiri Ayah sedikit mengalami cidera. Terlihat dari gerakan Ayah yang kini lebih banyak menggunakan tangan kanannya.




Bugh!!




Kembali sebuah hantaman yang keras dilayangkan Ayah mampu kutepis dengan halauan tangan kananku.




Duuaagh!!




Dengan sedikit menyerongkan tubuh, kulesatkan lutut kakiku dengan keras mengarah ke paha atas pada kaki kanan Ayah.




Seranganku sepertinya kembali membuahkan hasil. Ayah terlihat berjalan sedikit limbung dengan sedikit menyeret kaki kanannya. Tumpuan bertarung Ayah, kini hanya di kaki kiri dan tangan kanannya.




Wuuut!!




Dengan satu tangan, Ayah mengecohku dengan pukulan menipu.




Begh!!




Semua terlambat kusadari, ternyata dengan gerakan yang cepat Ayah memutar tubuhnya membelakangiku sambil mengunci leherku dengan satu tangannya.




Eeeeegh!!




Kuncian tangannya sangat kuat.




“Brengsek, aku salah menganggap enteng Ayah!” Umpatku kesal dalam hati.




Duagh!!


Duagh!!


Duagh!!




Dengan bertumpu di kaki kirinya, Ayah mencoba menendang kakiku berulang-ulang dengan menggunakan kaki kanannya yang cidera. Tubuhku sedikit oleng.




Duagh!!




Satu tendangan susulan dari Ayah membuat tubuhku tersungkur.




Bruuukkk!!




Dan lebih parahnya lagi, Ayah langsung menindih tubuhku.




Eeeegh!!


Eeeegh!!




Kuncian tangannya semakin mencekak leherku terbantu oleh berat tubuh ayah yang menindihku.




Aku mencoba merangkak sedikit maju, sambil tanganku berusaha menggapai serpihan potongan kayu dari lemari yang hancur dikarenakan pukulan ayahku tadi.




Aku semakin susah untuk bernapas.




Eeeegh!!




“Dapat.” Gumamku senang dan langsung saja kupukulkan potongan kayu itu ke kepala Ayah.




Praaagk!!




Haa...haa...haa... Napasku tersengal-sengal dan leherku masih terasa sangat sakit. Namun kembali aku berdiri.




Terlihat pelipis sebelah kiri Ayah lebam dan sedikit tergores, darah nampak mengalir dari luka akibat pukulan potongan kayu yang tadi kuayunkan ke kepalanya.




Mau tak mau, aku harus melumpuhkannya dengan cepat. Waktuku sangat terbatas.




Ayah seperti tidak kenal lelah, Beliau masih dengan menyeret satu kakinya terlihat kembali maju ke arahku.




Kali ini aku tak akan menyepelekan Ayah. Sudah saatnya membuat Ayah pingsan.




Wuuuut!!




Kuhindari dengan mudah pukulan Ayah yang sedikit mulai melemah sambil melayangkan pukulan cepat dan bertubi-tubi mengarah ke sendi, bahu dan tangan Ayah serta di kaki sebelah kanannya.




Buagh!!!


Buagh!!!


Buagh!!!


Buagh!!!




Lalu disusul dengan gerakan split, disertai dengan melayangkan sebuah pukulan sangat keras mengarah ke paha atas sebelah kiri Ayah.




Buagh!!


Bruukkk!!




Dan pukulanku terakhir membuat Ayah jatuh bersimpuh. Namun tatapan mata Ayah masih kosong dan raut mukanya sama sekali tidak menunjukan ekspresi kesakitan.




Aku beranjak berdiri dari posisi split, berjalan membelakangi tubuh Ayah yang masih tetap terduduk bersimpuh.




“Maafkan Bagas, Ayah!” ucapku dalam hati.




Daaagh!!




Aku melakukan pukulan ringan yang mengarah ke saraf yang berada di tengkuk leher Ayah membuat ayahku roboh tak sadarkan diri.




Begh!!




Segera kutangkap tubuh ayahku lalu menidurkannya dengan perlahan. Sejenak kutatap raut wajah ayahku dalam keadaan pingsan sambil kuseka luka di pelipis kirinya.




“Sekali lagi, maafin Bagas, Ayah.” Kataku lirih dalam hati.




Sejenak aku bergeser, menyandarkan punggungku ke tembok. Kemudian berangsur terduduk di lantai.




Letih, energiku benar-benar terkuras. Sejenak aku mengistirahatkan tubuhku.




Perhatianku teralih ke duel Julian. Kulayangkan pandangan ke arah Julian sambil beristirahat. Terlihat olehku di sana, Julian dalam keadaan yang sama dengan keadaan Singa Gurun, mereka berdua terlihat babak belur setelah duel panjang mereka jalani.




Namun aku dapat memastikan Julian pastinya lebih unggul karena Julian masih terlihat tenang mengatur napas dan berdiri tegak. Berbeda dengan Singa Gurun, lengan sebelah kanannya sepertinya terluka parah dan mengalami lumpuh sementara.




“Butuh bantuan, sepupu!” Teriakku bercanda.


“Jangan ganggu kesenanganku, Gas! Atau kau berikutnya!” Sahut Julian masih dengan sifat sombongnya.




Seperti apapun Julian, dia tetaplah sepupuku. Aku hanya mampu tertawa mendengar ucapannya.




“Jangan berkedip, Gas!” Kembali Julian berteriak membuatku fokus ke pertarungannya. Sepertinya Julian akan mengakhiri duelnya dengan Singa Gurun.




Buagh!!


Buagh!!


Buagh!!


Buagh!!




Aku sedikit tercengang melihat apa yang dilakukan Julian, dia benar-benar seperti belalang dengan sangat cepat Julian mengarahkan pukulan bertubi-tubi ke perut Singa Gurun membuat Singa Gurun terdesak mundur ke tembok.




Buagh!!


Buagh!!


Buagh!!


Buagh!!




Tidak sampai di situ saja, masih dengan gerakan yang sangat cepat, Julian memindahkan arah pukulannya, ke bahu sebelah kiri Singa Gurun yang nampak kini terjepit di tembok.




Buagh!!


Buagh!!


Buagh!!




Sekali lagi, melihat bahu kiri Singa Gurun telah lumpuh akibat pukulannya, Julian memindahkan pukulan bertubi-tubinya ke arah wajah Singa Gurun. Tidak puas melihat Singa Gurun yang terdesak dan babak belur.




“Hiiiiaaaaat!” Teriak Julian disertai sebuah gerakan memukul.




Buagh!!




Sebuah uppercut keras dilayangkan Julian ke rahang Singa Gurun, pukulannya itu sebagai penutup duel yang mereka lakukan dan pukulan itu pula yang membuat Singa Gurun pingsan dan tergeletak tak bergerak di lantai.




Julian berjalan pelan ke arahku.




“Ayo naik sepupu lemah!” Ajak Julian sambil mengulurkan tangannya.


“Brengsek!” Balasku kesal sambil menerima uluran tangan Julian.




Kami memutuskan bergegas naik ke lantai 5 (lima) dan menjadi ruangan terakhir dari menara ini.




Berbeda dengan keempat lantai yang telah kami sambangi. Di lantai 5 ini terdapat sedikit kejanggalan.




Karena ruangan di lantai 5 ini kosong, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran musuh di sini. Sejenak pandangan kami tertuju ke arah anak tangga yang berada di sisi kiri ruangan. Sepertinya tangga itu adalah jalan menuju ke atap gedung menara. Kami akhirnya memutuskan untuk menaiki tangga tersebut.




“Awas!”




Door!


Door!




Julian berteriak, kemudian menubruk tubuhku hingga terhempas. Dua buah peluru menembus bahu dan perut sepupuku.




“Eeeergh!” Rintih Julian.




Traaaaaank!!




Dengan gerakan refleks, kulempar ninjato milikku menghantam pistol yang tergenggam dari seorang pria bertopeng hitam di hadapan kami.




“Kau tak apa-apa? Maafkan aku, sepupu!” Aku berhambur ke arah Julian yang terbaring lemah akibat menyelamatkanku dari dua peluru yang melesat ke arahku tadi.




Julian menggelengkan kepalanya sambil berucap lirih. “Mereka Singa Hitam dan Macan Kumbang, Gas!” Julian menunjuk pria bertopeng hitam dan pria di sebelahnya yang menggunakan topeng keemasan.




“Dan gadis yang berdiri di sebelah kiri mereka itu adalah Nuri, seorang dokter dengan kemampuan mencuci otak!”




Aku hanya menatap sekilas dan menganggukkan kepala ke arah Julian. Aku mengedarkan pandanganku ke arah atap gedung ini.




“Ibu...!”




Tatapanku terhenti di arah jam 3 (tiga).




Di sana tergantung dengan tangan terikat, seorang wanita cantik yang sangat aku kenali, wanita itu hanya berbalut bra dan celana dalam sebagai penutup tubuh indahnya, wanita tersebut terlihat dalam keadaan tak sadarkan diri, wanita itu terlihat lebih muda dari terakhir kali aku bertemu dengannya. Namun aku dapat mengenalinya dengan sangat mudah karena wanita itu adakah ibuku.




“Bajingan mereka!” Umpatku marah dalam hati.




Mereka menggantung kedua tangan ibuku menggunakan tambang yang terhubung ke sebuah katrol dan bertumpu ke besi menara pemancar. Ibuku tergantung di pinggiran menara, jika tali itu putus maka dia akan terjun bebas dari menara yang memiliki tinggi 5 lantai.




“Ibu!” Teriakku.


“Tenang. Jangan gegabah, Gas!” Tiba-tiba tanganku dicengkram erat oleh Julian.




Proook!


Proook!


Proook!




“Kalian berdua sangatlah berani mengusik markas kami!” ucap seorang pria bertopeng hitam.


“Sayang waktu kami tidak banyak untuk bermain-main dengan kalian!” ucap seorang pria bertopeng keemasan.




Aku mengeratkan gigiku, rasanya tidak sabar ingin menghabisi mereka semua. Namun cengkraman Julian membuatku masih bertahan dan pasrah mendengar bualan yang keluar dari mulut dua orang pecundang bertopeng di hadapanku ini.




“Bersiap!” ucap Julian dengan sangat lirih.




Sriiiink!!




“Bajingan!” Teriakku sambil berlari kencang menyusul arah sebuah kunai.




Sebuah kunai yang dilemparkan oleh pria bertopeng keemasan dan menyayat tali tambang yang terhubung pada ibuku.




Braaakkk!!




Tubuhku terhempas, namun tanganku dapat meraih tali tambang yang terhubung dengan ikatan di tangan ibuku.




Masih dengan menahan tali tambang yang terhubung ke tubuh ibuku, kuedarkan pandangan ke arah Julian.




Terlihat pria bertopeng hitam, berjalan pelan ke arah Julian.




“Kau pecundang!” ucap Julian.


“Fuuuh!” Julian meludah ke arah pria tersebut.




Dooor!


Dooor!


Dooor!




"Bajingaaaaaan!” Teriakku.




Saat kusaksikan pria itu menembak Julian sebanyak tiga kali.




Aku hanya mampu berteriak.




Keadaanku terjepit karena kedua tangan kugunakan menggenggam erat tali tambang yang menjadi tumpuan dari nyawa Ibu membuat aku tidak dapat berbuat banyak.




Tiba-tiba saja, air mataku meleleh. Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan kematian sepupuku, Julian.




Tubuhku bergetar hebat.




“Bajingan mereka!” Teriakku dalam hati.




Tidak lama kemudian, pria bertopeng hitam itu berjalan ke arahku.




Sebuah keputusasaan tiba-tiba menderaku. Aku kecewa dengan kenyataan yang sebentar lagi terjadi, berarti usahaku akan sia-sia.




Perlahan aku menutup mata, menyadari malaikat maut telah sangat dekat denganku.




“Maafkan anakmu, Bu!” ucapku dalam hati.




Tart... Tart... Tart... Tart...


Tart... Tart... Tart... Tart...


Tart... Tart... Tart... Tart...


Tart... Tart... Tart... Tart...


Tart... Tart... Tart... Tart...




Door!


Door!


Door!




Tiba-tiba...




Aku dikagetkan oleh suara tembakan. Bukan suara tembakan lagi, melainkan rentetan jual beli tembakan.




“Pergi!” Teriak seorang pria bertopeng hitam.




Mendengar teriakan dari pria bertopeng hitam, pria bertopeng emas dan Nuri langsung bergegas menuju sebuah helicopter yang telah mereka persiapkan. Terlihat olehku, Nadia, Kak Elang dan Tante Linda berhamburan ke arahku.




Dengan dibantu Kak Rian, aku menarik perlahan tali tambang yang mengikat Ibu.




Entah mengapa?




Tiba-tiba...




Tubuhku melemah, pandanganku mengabur.




“Bagaas!”


“Gaaaas!”


“Gaaaas!”




Samar-samar terdengar suara Nadia berulang kali memanggil namaku. Namun semua terasa berat. Perlahan semua menjadi gelap. Dan kembali aku tak sadarkan diri.








TAMAT

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Sayang ceritanya ndak nyampe..Bikin penasaran betul...ditunggu kelanjutannya..

    BalasHapus