ADAPTASI PART 65

 

POV 


Nadia






Aku seketika mengeratkan kedua kepalan tangan, setelah mendengar informasi dari Rian atau si Elang. Saat ini, Nadia sedang berada di rumah Linda. Pada saat Nadia sedang terlibat obrolan serius dengan Linda.




Tiba-tiba...




Aku dikagetkan dengan kedatangan sosok Rian, kedatangan Rian membuatku bersiap dan siaga sambil mengambil “ninjato” yang berada di punggung, namun Linda segera sigap dan menghentikan aksiku. Linda menjelaskan kalau Rian masih di pihak kami. Dan menjelaskan tindakan yang diambil Rian adalah bagian untuk mengorek informasi dari Macan Kumbang. Rian sengaja menyamar karena jajaran komisaris dari “


Criminal cleanser” menaruh curiga kepada Macan Kumbang tentang apa yang terjadi belakangan ini. Rian bertugas mengorek pergerakan yang akan mereka lakukan. Dan Rian menjabarkan semua yang telah ia dapat kepada kami.




Namun satu hal yang membuatku terpancing emosi, adalah ketika Rian menjelaskan bahwa tadi pagi Bagas dan Julian pergi menuju pulau neraka tanpa mengajak kami.




Rian juga menjelaskan secara detail tentang apa yang ada di pulau neraka, seberapa kekuatan yang dimiliki musuh dan masih banyak lagi.




Mendengar penjelasan Rian menimbulkan kekhawatiran yang mendalam di hatiku karena Bagas hanya pergi berduaan saja dengan Julian dan mereka nekat menyerbu markas musuh.




Aku bersikeras menyusul mereka, tadinya niatanku ditentang keras oleh Linda yang ternyata juga sudah mengetahui apa yang Bagas dan Julian rencanakan. Tak hanya itu, Linda juga berjanji kepada Bagas untuk tidak memberitahuku. Itu pesan Bagas sebelum mereka berangkat berdua.




Dengan sedikit paksaan dariku, akhirnya Linda dan Rian sepakat mau menemaniku ke sana.




Setelah sesaat mempersiapkan diri, dengan menggunakan speadboat kami melaju cepat menyeberangi lautan. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit lamanya waktu tempuh, kami bertiga telah mencapai bibir pantai di pulau neraka.




Setelah mendarat, kami bertiga kompak bersiap dengan senjata api yang kami bawa lalu bersama-sama melangkah maju dari sisi Timur.




Sepanjang jalan yang kami lewati terlihat puluhan mayat bergelimpangan.




"Pasti mayat-mayat ini adalah ulah dari Julian atau pun Bagas." Gumamku membatin sambil terus bergerak mendekati benteng yang berada di tengah pulau.


.


..


...


10 menit berlalu...




Kami bertiga, telah berdiri di depan sebuah pintu besar yang sedikit terbuka. Sejenak kami bertiga saling bertatap mata, diteruskan kemudian Rian yang menganggukkan kepalanya. Rian masuk terlebih dahulu, dia masuk dengan posisi siaga, sambil mengarahkan pistol yang ia genggam ke segala arah, mengamati keadaan di dalam.




“Clear!” Seru Rian.




Mendengar kode yang diberikan Rian, aku dan Linda segera menyusul Rian masuk.




Pemandangan di dalam sunyi dan tak jauh berbeda dengan di lingkungan pulau, di sini juga terlihat banyak mayat-mayat bergelimpangan. Sebelumnya pasti sempat terjadi baku tembak antara Bagas atau pun Julian dengan mereka. Melihat luka tembak yang menyebabkan mereka tewas.




Tidak lama kami telah mencapai halaman menara pusat yang berada di tengah benteng. Di sana terlihat dari kejauhan Bagas dan Julian sedang berdiri membelakangi kami dan di depan mereka terlihat puluhan musuh mengenakan busana ninja bersiap menerjang mereka.




“Tungguuu!” Teriakku saat melihat Bagas dan Julian hendak beranjak. Terlihat mereka berdua terkejut melihat kedatangan kami.




Plaaaaak...




Sebuah tamparan ringan mendarat di pipi Bagas.




Entahlah aku refleks saja menampar Bagas! Aku beneran sedikit emosi sama Bagas, gimana nggak emosi? Bagas seperti menganggapku orang lain dan ia mau memikul semua bebannya sendirian.




“Aku berhak tahu, dan aku wajib bantuin Bagas! Titik! Nggak pake koma!” Gumamku membatin.




Acara marah-marah berhenti, saat Rian menginstruksikan pada Bagas dan Julian untuk segera naik ke lantai selanjutnya.




Yang berarti urusan puluhan ninja bersenjatakan katana akan menjadi urusan kami. Rian dan Linda sepertinya telah bersiap menghadapi mereka, tidak jauh berbeda denganku yang telah bersiap menghabisi mereka dengan kodachi yang tergenggam di tangan.




“Hiiiiiiaaaaaat!” Terlihat mereka mulai berhambur dan melakukan serangan.




Traaank!!


Craaaaaash...


Traaaaank!!


Craaaaaash...




Dua orang roboh seketika, saat aku dengan gerakan cepat menghalau ayunan katana yang dilesatkan kedua orang itu, sambil melakukan counter attack dengan gerakan khas si Rubah.




Craaaaaash...




Bertambah satu orang roboh!!!




Craaaaaash...




Lagi.




Craaaaaash...




Dan lagi.




Aku mulai menggila dengan cepat aku bergerak merangsek maju dan mengayunkan kodachi ke arah musuh.




Tak pelak apa yang kulakukan membuat musuh satu per satu tumbang.




Hal sama juga dilakukan Rian. Dia telah merobohkan lebih dari lima musuh dengan toya pendek yang ia bawa.




Hanya Si genit Linda yang terlihat tenang, namun dengan gerakan cepat dan tak kasat mata, jemarinya seperti menyentilkan sebuah jarum beracun membuat seketika musuh-musuhnya roboh seperti tanpa sebab.




Tidak membutuhkan waktu lama, kami bertiga sudah menyudahi pertarungan ini, terlihat puluhan musuh berpakaian ninja tergeletak tewas. Kami segera menyusul Bagas dan Julian ke lantai dua.




Pada saat mencapai lantai dua.




Degh!!




Seketika jatungku berhenti, terlihat Bagas bertarung dengan Jack.




Di sisi kanan terlihat pemandangan tak jauh berbeda, mempertunjukan Julian melawan dua orang algojo. Berbeda dengan Julian yang terlihat sangat bersungguh-sungguh melawan dua algojo itu.




Bagas sepertinya setengah hati bertarung dengan mantan gurunya itu.




Dan...




Hal mengherankan ditunjukan Jack, dia sepertinya tidak mengenali kami. Itu terlihat dari tatapan matanya yang kosong.




“Itu perbuatan, Nuri! Otak Jack telah dicuci!” Seru Linda memberitahu.




Membuat Rian terlihat mengangguk, mengamini keterangan yang diucapkan Linda.




Kemudian kami bertiga sesaat hanya memilih diam dan melihat kedua saudara sepupu itu bertarung.




Perhatianku sejenak teralih ke Julian.




Duuuuaaaagh!!




Dengan sangat cepat, Julian melayangkan tendangan terbang ke arah seorang algojo yang berada di sisi kiri.




Buuuaaagh!!




Memanfaatkan hentakan dari tendangan tadi, Julian menghantamkan sebuah tinju keras ke arah aljogo yang berada di sisi kanannya. Melihat kedua aljogo itu limbung, tanpa menunda waktu lebih lama Julian dengan cepat mengambil “wakizashi” (sebuah senjata mirip kodachi seperti milikku, namun sedikit melengkung seperti katana).




Craaaaaaash...


Craaaaaaash...




Dua ayunan “wakizashi” milik Julian memaksa kedua kepala algojo itu terpisah dengan tubuhnya. Apa yang ditunjukan Julian sangatlah sadis.




Aku kembali beralih ke sisi kiri, Bagas dan Jack masih melakukan pertarungan. Terlihat Bagas lebih banyak menghindar dan hanya menepis serangan yang dilancarkan Jack.


Namun seketika aku tercekak.




Tiba-tiba...




Buuagh!!




Bagas dengan gerakan cepat, memukul ringan ulu hati Jack membuat tubuh Jack sedikit condong ke depan. Melihat Jack masih bertahan.




Taaappp!!


Buuagh!!




Dengan cepat Bagas memutar tubuhnya sehingga membelakangi Jack dan dilanjutkan dengan gerakan melompat, memukul tengkuk Jack membuat tubuh Jack roboh, namun dengan sangat cepat, Bagas menangkap tubuh yang berpostur tinggi besar itu, sebelum tubuh itu terbentur ke lantai.




Bagas dibantu Rian membaringkan tubuh Jack di lantai.




Kami berlima memutuskan untuk naik ke lantai tiga, masih dengan memilih menggunakan tangga, kami melangkah menaiki satu per satu anak tangga. Kami memilih naik menggunakan jalur tangga, tidak lain dan tidak bukan untuk memperkecil resiko bila dibandingkan dengan menggunakan lift pasti lebih menguntungkan pihak musuh karena mereka akan dengan mudah mengetahui kehadiran kami.




Dan pemandangan di lantai tiga hanya berisikan dua orang pria.




Dua pria yang sempat menjadi musuh kami sebelumnya di lereng gunung tak jauh dari tempat tinggalnya guruku. Dua orang itu adalah Jacob dan Robin. Terlihat Bagas dan Julian menunjukan niatan untuk merangsek maju.




Namun...




“Biar mereka kami yang urus!” Rian berbicara membuat Julian dan Bagas saling berpandangan.


“Kalian urus yang di atas!” Kembali Rian berucap membuat Bagas dan Julian tidak punya pilihan, mereka berdua kompak mengangguk kemudian berlari ke arah tangga.




Menyisakan kami bertiga, untuk menghadapi Jacob dan Robin.




“Robin biar aku yang urus!” Tanpa menunggu persetujuan dari kami, Rian memilih terlebih dahulu lawan bertarungnya.




Membuatku dan Linda mau tak mau hanya fokus pada Jacob. Terlihat Jacob telah bersiap dengan dua karambit yang ia genggam menggunakan kedua tangannya. Tidak mau kalah, aku kembali menarik kodachi dari sarungnya.




Tak jauh berbeda, kali ini Linda sepertinya sedikit serius, dia berdiri di sampingku menatap ke arah Jacob mulai mengibaskan sebuah kipas, senjata khas yang disukai Linda yang terkesan memiliki tabiat genit ini.




“Maju kalian!” Seru Jacob memancing kami.




Traaaank!!




Ayunan kodachi milikku bertemu dengan karambit milik Jacob.




Taaappp!!


Taaappp!!




Kami sama-sama mundur.




Sink!!


Sink!!


Sink!!




Giliran Linda melepas kibasan kipas yang ia bawa. Kipas itu melepaskan empat jarum berancun mengarah ke Jacob. Namun Jacob bukanlah musuh yang mudah ditaklukkan dengan gerakan cepat, Jacob memainkan dua karambit yang dia pegang untuk mematahkan jarum-jarum yang mengarah ke tubuhnya.




Jacob nampak ingin membalas serangan kami, dia merangsek mendekat ke arah Linda.




Wuuzh!!


Wuuzh!!




Duugh!!




Dua ayunan karimbit mampu dihindari Linda, namun sebuah tendangan cepat yang dilesatkan Jacob membuat Linda kaget dan refleks menutup dadanya dengan dua tangan. Tubuh Linda sedikit oleng.




Trank!!




Beruntung, ayunan kodachi-ku mampu menahan serangan karambit yang mengarah ke tubuh Linda.




Duagh!!


Duagh!!




Melihat Jacob sedikit lengah, Linda tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Tendangan ganda ia lesatkan ke arah perut dan dada Jacob. Tendangan yang dilakukan Linda membuat Jacob mundur beberapa langkah ke belakang.




Trank!!




Sebuah ayuan kodachi yang kuarahkan ke punggung Jacob tidak membuahkan hasil, punggung Jacob sepertinya dilapisi lempengan besi.




Pada saat aku dalam posisi tercengang.




Tiba-tiba...




Duagh!!




Kelengahanku dimanfaatkan dengan baik oleh Jacob, sebuah tendangan dilesatkannya ke arah sisi muka atau sebelah kiriku sangat telak.




Braaakkk!!




Tubuhku terhempas dan tersungkur, aku menahan rasa sakit yang mendera.




Jacob terlihat merangsek ke arah Linda.




Sink!!


Sink!!


Sink!!




Tidak tinggal diam, Linda mengibas-ngibaskan kembali kipas yang dibawanya, meluncurlah empat jarum beracun kearah dada Jacob, namun kali ini Jacob sengaja tidak menghindar.




Aku kembali dibuatnya tercengang.




Ternyata tidak hanya di punggungnya, di bagian dada Jacob pun dilapisi dengan lempengan besi. Jacob sekilas tersenyum.




Kemudian dengan cepat Jacob merangsek ke arah Linda dan mengayunkan karambit-nya secara cepat ke arah dada Linda.




Craaaash...




Refleks terlambat yang dilakukan Linda membuat karambit itu berhasil merobek setelan atas dari baju yang dikenakannya dan sedikit menggores kulit atas payudara Linda.




Aku kembali berdiri, Linda memberi kode untuk menyerang kepalanya. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban kemudian dengan bergerak cepat aku merangsek ke arah Jacob.




Traaank!!


Traaank!!




Sambil melayangkan ninjato kearah paha dan lengan kaki Jacob. Kembali, dua seranganku berbenturan dengan lempengan besi di kaki Jacob.




Sesaat kemudian, Jacob menyeringai. Pada saat dia ingin mengayunkan karambitnya ke arahku.




Tiba-tiba...




Tubuhnya mematung sesaat, melihat kejadian itu Linda tersenyum.




Aku paham, ternyata itu akibat dari serangan tidak kasat mata dari jarum beracun yang dilesatkan oleh Linda yang ternyata berhasil menusuk tepat di bagian leher Jacob.




Taaappp!!




Aku pun segera melompat sambil mengayunkan kodachi secara vertical atau dari atas lalu di ayunkan sekuat tenaga ke atas kepala Jacob.




Craaassh...




Kodachi yang kupegang akhirnya berhasil bersarang dan mulai membelah kepala Jacob.




Bruukkk!!




Tubuh Jacob tersungkur, bersamaan dengan keadaan sekarat yang dialaminya. Nampak tubuh Jacob bergetar hebat dan darah yang keluar dari kepalanya bak air mancur keluar dengan sangat deras hingga membasahi lantai ruangan ini.




Dan tidak lama kemudian, tubuhnya menjadi kaku, pertanda malaikat maut telah membawanya pergi.




Setelah aku dan Linda mengatur napas sejenak, kami berhamburan ke arah Rian dan Robin. Ternyata mereka berdua masih bertarung dengan seru sekali dan pertarungan keduanya masih terlihat seimbang. Terlihat toya dan ruyung sebagai senjata dari Rian dan Robin telah tergeletak di lantai, dan kini keduanya bertarung dengan tangan kosong.




Aku bergerak, berniat membantu Rian. Namun ada suara yang mencegahku.




“Biar kuselesaikan duelku dengannya, Nad. Kalian berdua nonton saja ya!” Mendengar kata-kata dari Rian, aku pun akhirnya mengurungkan niatku dan kembali berdiri di samping Linda menyaksikan duel mereka berdua.




Terlihat Rian mulai serius dengan memakai kuda-kuda ilmu beladiri kamuflase ciptaannya. Tangan kanannya membentuk cakar, menggunakan tiga jari tangannya dan kedua kakinya menekuk ke sisi dalam. Hal yang nyaris serupa ditunjukan lawannya, yaitu Robin. Dia pun bersiap dengan membuat kuda-kuda mirip seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya.




Taaappp!!




Robin ternyata mencoba mendahului untuk menyerang. Dia melompat dengan disertai sebuah tendangan yang mengarah ke arah tubuh Rian, nampak Rian terlihat masih diam dan santai dengan kondisi yang ada saat ini.




Pada saat tubuh Robin berjarak satu jengkal dari tubuhnya.




Tiba-tiba...




Dengan sengaja Rian menjatuhkan diri, kemudian melakukan tendangan yang cepat dan kuat ke arah punggung Robin.




Buuaagh!!




Akibat dari tendangan Rian barusan membuat tubuh Robin terhempas dan terpelanting melewati tubuh Rian yang terbaring di lantai. Tidak mau menunggu lebih lama, Rian melompat untuk kembali berdiri tegak.




Taaappp!!




Setelah itu Rian segera menyerang dengan melakukan lompatan disertai sebuah tendangan memutar yang sangat cepat.




Taaappp!!




Tendangan Rian yang sangat cepat membuat tubuh Robin yang belum siap karena masih dalam posisi merangkak untuk bangun kembali terhempas dan menghantam lantai dengan sangat keras.




Duuaagh!!




Tidak mau membuang kesempatan, Rian kembali melompat sambil melesatkan lututnya ke arah tempurung kepala bagian belakang Robin membuat Robin tidak lagi mampu untuk bergerak dan tidak mampu lagi melanjutkan duelnya.




Taaappp!!


Duuaagh!!










BERSAMBUNG





Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar