ADAPTASI PART 64

 

POV 


3rd








Setiap manusia mempunyai naluri untuk mempertahankan diri dari sebuah ancaman. Setiap manusia mempunyai cara tersendiri untuk melindungi diri dan juga anggota kawanannya atau pun keluarganya. Hal mutlak, yang sudah ada sejak lahir adalah setiap mahluk hidup dibekali naluri untuk dapat berjuang dan bertahan hidup. Berjuang untuk napas yang ia hembuskan atau berjuang untuk koloninya demi mempertahankan kelangsungan kehidupan mereka. Mesti terkadang dipenuhi dengan tetesan darah, bahkan sampai pengorbanan nyawa.




Hidup ini tak ubahnya seperti sebuah permainan, atau kadang bisa juga disebut hidup ini tak ubahnya seperti rantai makanan.




Hidup terkadang kejam, satu sisi gelap dan sisi lainnya bisa juga terang.




Sebuah kata, “Nafsu”.




Terkadang nafsu itu bisa mencakup tiga perkara, yakni; kekuasaan, harta dan wanita.




Dan akibatnya bisa membutakan banyak insan-insan yang lemah karena tergoda dan terpedaya oleh nafsunya sendiri membuat mereka berlomba-lomba saling menguasai, saling menjajah, saling memonopoli keadaan.




Dan berharap supaya kekuasaan, harta atau pun wanita akan berpihak kepadanya.




Tak ada kata, “halal ataupun haram” yang ada hanyalah beribu cara untuk menggapai asa. Asa untuk menuruti sang napsu yang berjaya yang selalu dikobarkan oleh IBLIS DURJANA.




Membutakan siapa kawan? Siapa sahabat? Bahkan ikatan saudara sekali pun.




Dengan nafsu, semua ikatan seakan terurai dan terbias akan godaan sang nafsu.




Selalu dan selalu.




Selalu nafsu yang memenangkan keadaan karena angkara murka yang merasuk dan bersemayam di hati insan yang lemah imannya.








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


Bagas








Pulau Neraka. Ya, saat ini aku dan sepupuku (Julian) telah berdiri bersama-sama di tepian sebuah tebing yang curam.




Terlihat dari kejauhan sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari tempatku berdiri.




Itulah pulau yang akan menjadi tujuanku dan Julian karena di pulau itulah menurut keterangan dari Julian merupakan markas besar dari para gembong penjahat yang sedang kami cari. Di pulau itu juga menurut penjelasan dari Julian merupakan tempat mereka menyekap kedua orang tuaku selama beberapa tahun terakhir ini.




Menurut Julian, misi kami kali ini adalah sebuah “misi harakiri” karena faktor keberhasilan yang kami miliki sangatlah kecil persentase-nya.




Namun, dengan mempertimbangan banyak hal akhirnya kami sengaja memilih mendatangi pulau itu hanya berdua saja, tanpa melibatkan siapa pun.




Aku dan Julian mempunyai pemikiran yang sama dengan memilih menanggung resiko ini berdua saja karena jika semakin banyak orang maka akan membuat kami semakin kesulitan untuk menyelinap masuk ke sana. Selain itu, semakin banyak orang yang ikut serta akan membuat kami kesusahan untuk bertindak, mengingat kami juga harus melindungi orang-orang yang telah kami bawa.




Kami berdua akan menanggung segala resiko dan konsekuensinya yang sebentar lagi mungkin akan kami terima.




“Kau siap sepupu?” tanya Julian memastikan diriku sambil ia mempersiapkan semua perlengkapan untuk kami berdua berenang.




Kujawab dengan acungan jempol ke arahnya.




Kami sengaja hanya membawa handgun dan sebuah senjata teruntuk bertarung jarak dekat karena mengingat kami harus berenang menyebrangi lautan untuk mencapai pulau itu dan pastinya sangat merepotkan sekali untuk kami berenang, jika terlalu banyak membawa senjata.




“Go...!” ujar Julian memberi aba-aba.




Byuuuur...




Tanpa menungguku, Julian telah terjun ke air.




“Sial, bersemangat sekali dia!” Gumamku membatin.




Aku pun mengikuti Julian, segera melompat ke dalam air.




Byuuuur...




Mengingat fisik kami berdua yang sama-sama terlatih, hanya butuh waktu 30 menit saja kami berdua sudah mencapai tepian dari pulau neraka.




Sepintas terlihat walau sedikit samar-samar, ditengah-tengah pulau, di dataran yang sedikit tinggi, nampak sebuah bangunan besar yang dikelilingi oleh tembok yang sangat tinggi. Bangunan itu bentuknya hampir mirip dengan sebuah benteng dan berada persis ditengah-tengah pulau.




“Ternyata ini adalah pulau yang disebut-sebut itu. Pulau neraka yaitu pulau yang sangat ditakuti oleh agent-agent yang bernaung di criminal cleanser karena pulau ini berfungsi sebagai pulau pembuangan, pulau penghakiman dan pulau ini yang pernah diceritakan oleh April kekasihku, di mana seorang calon agent yang gagal akan dibuang di sini. Dan ternyata di pulau ini pula yang menjadi sebuah pusat dari organisasi bisnis gelap.” Ujarku membatin dalam hati.




Selama ini, ternyata pamanku Macan Kumbang menyamarkan pulau ini menjadi pulau sebagai tempat pembuangan dan pembantaian para agent yang tidak sejalan dengannya.




“Bajingan kau Paman Kumbang! Begitu busuknya kamu!” Kataku geram dalam hati sambil mengerang penuh kemarahan.




Aku begitu tidak sabar rasanya ingin memberikan pelajaran buat Paman pengkhianat itu.




“Ayo sepupu!” Seruku bersemangat mengajak Julian untuk memulai beraksi.


“Bersabarlah, kita berpencar di sini ya, Gaas! Ada dua pintu masuk yang harus kita kuasai. Kita bertemu nanti di menara yang berada di tengah-tengah benteng itu!” Terang Julian sambil menunjuk sebuah menara tinggi yang berada persis di tengah-tengah sebuah bangunan mirip benteng besar.


“Kau sudah berulang kali menerangkan tentang hal itu, Julian! Ayolah! Aku benar-benar tak sabar untuk menyelamatkan orang tuaku.” Kataku dengan penuh semangat.


“Baiklah kalo kamu memang sudah tidak sabar Gas, sekarang kau pilih, mau sisi barat atau timur?” ucap Julian sedikit kesal mendengar paksaanku.


“Timur!” seruku dan langsung berlari meninggalkan Julian.


“Ingat Gas, berhati-hati dan senyap!” Teriak Julian mengingatkan. Kujawab dengan mengacungkan jempol dan terus berlari.








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


Julian






"Dasar labil" Gerutuku sedikit kesal melihat tingkah polah sepupuku Bagas yang sangat bersemangat sekali memulai misi ini.




Beruntung dan seperti yang aku harapkan karena Bagas memilih sisi timur. Dari pengamatan yang aku buat, sisi Timur dihuni oleh Jacob dan Jacob lebih lemah ketimbang Robin yang berada di sisi Barat. Jujur aku sedikit mengkhawatirkan Bagas. Namun prediksiku, jika tak ada kendala kami akan dengan mudah menyusup ke menara inti.




Menara itu memiliki 5 (lima) tingkat di dalamnya.




Dan tempat teratas di menara itu merupakan hunian dari Singa Hitam dan Macan Kumbang bersembunyi.




Namun tidaklah semudah itu untuk menembus keamanan mereka, kami mesti melewati setiap tingkat dan menuju puncak menara tersebut.




Aku tak dapat memprediksi berapa banyak kaki tangan dari Singa Hitam maupun Macan Kumbang yang bersiaga di sini.




Bisa kupastikan kalau mereka akan memperketat keamanan dan sudah pasti mereka sudah memperhitungkan cepat atau lambat kami akan kemari menyerang markas mereka.




Sebuah misi harakiri karena kami hanya berdua yang hanyalah bagaikan pion atau bidak catur dalam permainan catur akan berusaha membuat barisan lengkap bidak catur untuk kalah.




Aku pun mulai berlari mengikuti apa yang dilakukan Bagas. Namun aku berlari memutar ke arah Barat, berbeda dengan Bagas yang berlari ke arah Timur. Aku terus berlari menerobos hutan yang berisikan pepohonan rimbun dan semak belukar. Di tanganku aku sudah mulai memasang “silencer” atau alat peredam pistol yang kubawa.




Sambil melangkah, kuarahkan pandangan ke arah jam satu. Di sana terlihat dua orang musuh berjalan mondar-mandir sambil menenteng senjata laras panjang.




Taaappp!!




Aku melakukan lompatan, lalu berdiri bersembunyi di balik pohon.




Tagh!!


Tagh!!




Dua orang tersebut kubuat roboh, tewas dengan dua lesatan peluru yang kulancarkan. Dengan senyap,, aku berjalan ke arah dua mayat itu. Sangat mencolok jika saja aku meninggalkan kedua mayat itu di tengah jalan. Perlahan kupindahkan kedua mayat itu ke semak-semak yang berada di sisi kiriku. Setelahnya, kembali aku berjalan senyap semakin mendekat ke arah benteng.




Kembali kuarahkan pandangan mengeliling. Sejenak aku kembali berhenti karena di arah jam 2 terlihat seseorang pria sedang sibuk berkomunikasi menggunakan HT (Handy Talky). Kudekati dengan senyap sambil mengambil belati yang berada di kaki. Saat posisiku tepat berada di belakangnya.




Craaak!!




Dengan gerakan cepat, kugorok leher pria itu menggunakan belati. Setelah tewas, tidak lupa kuseret mayat itu ke dalam semak belukar. Setelah memastikan keadaan aman, aku kembali berjalan senyap dan tetap bersiap dengan pistol yang berada di tanganku.




Setelah kurang lebih kutempuh jarak 500 meter dari tepi pantai, terlihat dari jauh sebuah tembok besar yang merupakan benteng tempat tujuanku kemari.




Merasa perlu memastikan keadaan benteng tersebut, sesaat kukeluarkan sebuah teropong kecil untuk mengamati benteng tersebut. Dan dari teropong aku melihat di dalam bangunan induk, terdapat tembok besar yang mengelilinginya berbentuk persegi.




Sangat jelas terlihat dari tempatku mengintai, ditengah-tengah tembok besar itu, mencuat tinggi sebuah bangunan yang diceritakan informanku dengan sebutan menara karena bangunan itu berbentuk mirip sebuah tabung.




Kuedarkan pandangan ke sisi tembok besar yang mengelilingi bangunan-bangunan yang berada di dalamnya. Di sana terlihat sebuah pintu yang dimaksud seorang informan kepercayaanku memang benar adanya. Dan di sana pula terlihat juga, empat orang penjaga lengkap dengan senjata api yang mereka genggam.




Melihat itu, aku mulai memutar otak, saat ini aku masih harus bergerak senyap. Tak mau mengambil resiko, karena jika terang-terangan menyerang pastinya akan memantik pasukan lain yang berada di dalam benteng.




Jujur, dalam hal memprediksi banyaknya lawan untuk misiku kali ini. Aku hanya mampu meraba, tidak ada informasi yang kudapat mengenai pasukan yang dimiliki lawan.




Perlahan, masih dengan gerakan senyap aku mulai mendekat ke arah mereka. Memanfaatkan banyaknya pohon dan semak belukar yang berada di sekitar lokasi. Perlahan aku mendekat, memangkas jarak antara keberadaanku dengan mereka. Setelah kurang lebih keberadaanku hanya berjarak 10 meter dari mereka berempat.




Kutarik napas panjang, tanganku semakin erat menggenggam pistol yang sebelumnya telah kupasang silencer untuk meredam bunyi letusan dari peluru yang kulesatkan.




Tagh!!


Tagh!!




Dua peluruku melubangi dua kepala musuh.




Tersisa dua orang lagi.




Sleeb!!




Dengan gerakan cepat kulempar belatiku dan menancap tepat ke dada seorang musuh yang telah menyadari posisiku dan bersiap mengarahkan tembakan ke arahku.




Duagh!!




Tak sampe di situ.




Satu orang tersisa, telah mengarahkan sebuah senapan semi automatis ke arahku dari belakang. Namun kecepatan dari tendanganku membuat senapan yang ia bawa terjatuh.




Buuuaagh!!




“Eeergh!”




Kuhantam perut pria itu, terlihat ia mengerang kesakitan sambil merunduk.




Klaaaaaaagk!!




Dengan cepat kuputar tubuhku dari belakang, kuputar keras leher pria tersebut hingga patah.




“Selesai.” Desahku lega.




Sejenak kusempatkan waktu melihat magazine yang berada di dalam pistolku, masih tersisa 16 peluru, ditambah 2 magazine cadangan yang berada pinggang.




“Fiiiuuuuh...” Aku menghela napas panjang.


“Semoga cukup untuk bekalku di dalam sana.”




Doaku dalam hati sambil kutatap tembok tinggi yang berada di sisi sebelah kananku dan sempat berhenti sejenak untuk berpikir, “bagaimana caranya supaya aku bisa masuk ke sana?”




Sesaat pandanganku teralih pada ke 4 (empat) mayat itu, terdapat serangkaian kunci tergantung di sabuk celana milik salah satu di antara mayat-mayat itu.




”Tak ada salahnya mencoba.” Gumamku membatin.




Aku pun mencoba satu persatu kuncinya, dan diusahaku yang ketiga akhirnya membuahkan hasil.




Ceklek.




Kunci itu sangat pas dengan lubang kunci yang terdapat di pintu berbahan kayu yang sangat besar. Pintu penghubung antara hutan yang mengelilingi pulau ini dengan aktifitas terselubung yang berada di dalam benteng itu.




Perlahan kudorong pelan pintu itu, bergerak senyap dan mengamati keadaan di dalam benteng. Merasa aman, dengan cepat aku menyelinap masuk dan tak lupa menutup kembali pintu itu. Masih dengan gerakan senyap, aku mencari tempat aman untuk mengamati dan memperhitungkan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aku bersembunyi di balik tumpukan tong yang berada tidak jauh dari menara bagian Barat. Hanya ada beberapa anak buah yang menjadi penjaga di sini.




Satu.


Dua.


Tiga.


.


.


.


Sekitar 15 orang.




Informasi yang kudapat ternyata tidak selalu tepat, informan yang kupercayai menyebutkan sisi sebelah Barat dikuasai oleh Robin. Dan memang Robin bertugas penuh untuk berjaga di sisi sebelah Barat.




"Berati aku harus mengurangi jumlah penjaga yang berada disini, sebelum terang-terangan menyerang mereka." Pikirku sejenak dalam hati. Kembali aku berdiam sesaat, mengambil napas dalam-dalam.




Tagk!!


Tagk!!


Tagk!!




Tiga butir peluru kulesatkan untuk membuat roboh tiga orang musuh yang terlihat berjaga di atas salah satu bangunan kecil yang berada di sisi kiriku.




Aku kembali bersembunyi sesaat, mengamati apakah ada sisa penjaga yang lain? Karena menyadari apa yang baru saja kulakukan.




Setelah merasa aman, aku berguling ke sisi kiri dari bangunan kecil yang berada tidak jauh dari tempatku berpijak saat ini. Dan berjalan memutar menuju sebuah lorong dari 2 buah bangunan kecil yg berhimpitan. Terlihat satu penjaga mondar mandir di depanku tanpa menyadari keberadaanku.




Begh!!




Klaaaak!!




Dengan gerakan sangat cepat, tangan kiriku membekap mulut penjaga itu dan tangan kananku dengan kuat dan cepat memutar kepalanya, mematahkan tulang leher penjaga itu.




“Masih tersisa 11 orang lagi.” Gumamku dalam hati.




Aku bersikap profesional, tidak mau mengambil resiko. Sejenak aku menyisir dua bangunan kecil yang berada di sisi kanan dan kiriku. Sekalian mencari keberadaan Robin.




“Bangsat!” Umpatku geram dalam hati.




Dua bangunan itu hanya berisikan para wanita telanjang dan dalam keadaan mengenaskan, sepertinya mereka merupakan korban pemerkosaan.




Di sekitar ruangan juga hanya berisikan sisa-sisa botol minuman keras yang telah kosong, sepertinya dua bangunan ini semalam menjadi ajang pesta untuk mereka. Tidak mau mengambil resiko.




Tagh!!


Tagh!!




Kubunuh dua wanita telanjang yang berada di bangunan sisi kanan.




Tagh!!


Tagh!!


Tagh!!




Hal yang sama juga kulakukan di bangunan di sisi kiri, di sana berisikan tiga orang wanita.




Aku masih berada di dalam bangunan kecil di sisi kiri tadi.




Sial, belum sempat aku beranjak. Terdengar suara dua langkah kaki mendekat ke arahku.




Aku bersiap dengan merapatkan tubuhku ke dinding sebelah pintu masuk sambil menajamkan indera pendengaranku.




Kupastikan dua orang semakin mendekat ke arahku. Aku berharap mereka masuk ke sini karena akan dengan mudah aku lenyapkan mereka dan akan gempar jika mereka memasuki bangunan sebelah.




Ceklek.




Dan dugaanku benar, gagang pintu yang berada di sampingku bergerak.




Tagh!!


Tagh!!




Tidak menunggu lama dengan gerakan cepat kulesatkan dua tembakan mengarah ke kepala mereka berdua.




“Masih tersisa sembilan orang penjaga lagi.” Gumamku membatin.




Aku kembali menyisir melewati satu persatu bangunan kecil yang berada di sisi Barat menara.




Tagh!!


Tagh!!


Tagh!!




Kembali kulesatkan tembakan mengarah ke arah tiga orang penjaga dari arah belakang dan ketiga penjaga itu seketika mati.




“Tinggal tersisa enam orang penjaga lagi.” Gumamku kembali.




Sepertinya misi kami sangat mudah, aku memprediksi ada sesuatu hal yang buruk menunggu kami.




"Bahaya." Gumamku dan segera aku berlari menuju menara tidak kupedulikan lagi serangan secara senyap. Aku berharap mendahului Bagas mencapai titik temu, sesuai rencana yang telah kami susun, kami menentukan titik temu tepat di depan menara.




Dooor!!


Dooor!!


Dooor!!


Dooor!!




Serentetan peluru mengarah ke tubuhku, aku terus berlari menghindar.




Tagh!!!


Dznk!!


Dznk!!


Tagh!!!


Dznk!!




Dengan terus berlari, aku membalas tembakan dari musuh. Dua dari lima tembakanku mengenai dua orang musuh yang mengarahkan tembakan ke arahku. Aku terus berlari dengan gerakan cepat melepas magazine yang berada di pistol dan menggantinya dengan yang baru.




Dooor!!


Dooor!!


Dooor!!


Dooor!!




Kembali beberapa peluru mencoba mengarah ke tubuhku dari sisi kanan membuatku melompat untuk bersembunyi di balik tembok bangunan yang berada tidak jauh dari posisiku berlari.




Dooor!!


Dooor!!


Dooor!!


Dooor!!




Sial, ada empat orang memberondongku dengan tembakan dari sisi yang berbeda membuatku sedikit terpojok.




Tagh!!


Tagh!!


Tagh!!




Seketika satu per satu dari musuh yang menembakiku roboh.




“Kau lambat sepupu!” Seru saudara sepupuku, Bagas.


“Thanks.” ucapku kesal menjawab sindiran dari sepupuku tadi.


“Ayo!” Seru Bagas dengan tergesa-gesa berlari menuju menara.


“Tunggu, Gaas!” Teriakku mencegahnya. Namun sia-sia, Bagas terlebih dahulu menendang pintu masuk dari menara itu.


“Tahan, Gaas!” Teriakku kembali.




Kini di depan kami sudah berdiri Robin dan Jacob dengan ekspresi menyeringai sadis, mereka berdua berdiri membelakangi 24 pasukan berbusana ninja dengan masing-masing menggenggam sebuah katana.




Terlihat ruangan pertama dipenuhi oleh tong dengan simbol 'E' atau berarti “eksplosive”, atau memiliki arti Bahan kimia yang mudah meledak dengan adanya panas atau percikan bunga api dan gesekan atau benturan.




Bagas terlihat mengangguk,lalu menyimpan pistol yang ia genggam ke dalam pinggangnya, hal sama juga kulakukan.




“Brengsek, sepertinya mereka sudah merencanakan semuanya!” Umpatku geram dalam hati.


“Bersenang-senanglah Julian!” Teriak Jacob sambil berjalan bersama Robin menuju lift.


“Bajingan!” Teriak Bagas sambil mengambil “ninjato” pemberian April.




Hal yang sama dengan apa yang kulakukan, aku mengeluarkan “wakizashi” (sebuah senjata mirip kodachi, namun bentuknya menyerupai sebuah katana hanya ukurannya saja yang lebih pendek).




“Tunggu!” Teriak suara dari belakang kami.




Saat kami bersiap menyerang, kami dikagetkan dengan suara keras dari seorang gadis di belakang kami. Sontak hal itu menghentikan apa yang akan kami lakukan dan bersamaan menengok ke arah datangnya suara tadi.




Terlihat oleh kami berdua, Nadia, Tante Linda dan Elang berada di belakang kami.




Plaaaak...




Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Bagas.




“Kamu tega berjuang sendiri tanpa kami, Gaas.” ucap Nadia setelah menampar Bagas, sepupuku itu hanya diam dan terlihat pasrah kemudian menundukkan wajahnya.




Aku hanya terdiam menyaksikan perseteruan kecil yang dipertontonkan Bagas dan Nadia.




“Kalian berdua susul Robin dan Jacob! Mereka bagian kami!” Seru Elang mencairkan suasana panas di antara Nadia dan Bagas.




Sejenak aku dan Bagas bertatapan, kemudian saling menganggukkan kepala. Kami berdua memutuskan berjalan menuju anak tangga yang berada di samping pintu lift.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar