POV
Bagas
“Aaarrgghh...!” Erangku kesakitan.
Bahuku terasa sangat sakit sekali, dan benar-benar terasa sangat nyeri. Perlahan kubuka mataku, ketika merasakan ada sesosok tubuh sedang tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang yang kutiduri dan menyandarkan kepalanya di dadaku.
Dan dia adalah Nadia.
Perlahan kucoba mengusap pelan kepala Nadia, dan kurasakan tubuh Nadia menggeliat lalu ia perlahan-lahan membuka matanya.
Cantik.
Kecantikan alami ditunjukan Nadia, dia terlihat benar-benar cantik dikala bangun tidur, tanpa polesan make up sedikit pun di mukanya. Terkembang sebuah senyuman di mulut mungilnya sebuah senyuman yang sangat manis, senyuman yang tulus dari Nadia kepadaku.
Kubalas dengan semakin mengacak-acak rambutnya.
“Bagas.” ucapnya lembut.
Aku mengangguk sambil melempar senyuman padanya.
“April, Gaas.”
Degh!!
Hatiku terasa sakit, bagaikan teriris sebuah pisau yang sangat tajam.
Aku tidak tahu apa yang menimpa April kekasihku, walau saat kejadian itu aku masih tersadar. Saat itu aku merasakan ada dua sosok yang menindih tubuhku. Namun aku tidak tahu kalo ternyata kedua sosok itu yang melindungiku itu adalah Nadia dan April. Nadia pun menceritakan semua tentang kejadian naas itu.
Jujur aku rasanya ingin berteriak, marah dan ingin segera melihat April namun kondisiku saat ini masih lemah, jangankan untuk berdiri dan berjalan untuk duduk pun aku masih merasakan sakit di sekitar bekas operasi di kaki dan bahuku.
Teringat kembali saat-saat kebersamaanku dengan April yang kuanggap sebagai tempatku pulang atau rumah bagiku.
.
..
...
“Sudah, Gas?” April menyambutku sambil tersenyum manis.
Kuanggukan kepala dan membalas senyumanmu. “Ke mana lagi, kita Pril?”
“Rehat yuk Gas, April capek!” jawabnya pelan.
“Rehat ke mana?” tanyaku lagi.
Tak menjawab pertanyaanku malah April berucap kembali sambil merentangkan kedua tangan.
“April pengen mandi, gerah.”
Aku yang bingung mau ngapain masih saja berdiri, hanya diam di tempat.
“Malah diem?” tanyanya.“Ayo..!”
Tiba-tiba...
Tangannya menarikku, membuat aku terpaksa mengikutinya dan aku hanya mengekornya di belakang mengikuti April. Ternyata kami naik ke lantai 4 bangunan ini.
Pemandangannya masih sama, hanya ada lorong panjang dan pintu berjumlah 6 (enam) buah di sini!
Di sisi kanannya terdapat 3 (tiga) pintu, bertuliskan M1, M3, dan M5 dan di sisi kiri juga terdapat pintu, bertuliskan M2, M4 dan terakhir M6.
Dan April ternyata berhenti di pintu bertuliskan M3, lalu ia mengeluarkan kartu berwarna hitam dengan kartu itu pula ia gesekkan ke sebuah alat mirip alat untuk menggesek credite card, terlihat alat itu menempel di dinding di samping pintu.
Ceklek... Pintu terbuka secara otomatis.
“Canggih.” Gumamku dalam hati karena baru pertama kali ini melihat bagaimana cara membuka pintu hanya dengan menggesekkannya dengan sebuah kartu, nggak perlu pake kunci atau pun menggerakan tangan ke handle pintu.
“Ini mess aparteman April di kantor! Duduk dulu, Gas, April tinggal bentar, ya!” ucapnya sembari meninggalkanku memasuki kamar mandi apartemennya.
“Iya, Pril.” Balasku.
Terus terang saat ini, aku grogi banget lah, baru pertama kalinya aku masuk kamar se-mewah ini. Rasa takjubku, aku tunjukan dengan mengarahkan pandangan ke-sekeliling ruangan. Terdapat sofa panjang, tivi yang sangat besar, dapur yang jadi satu ruang makan yang luas. Sementara itu di sisi lainnya terlihat olehku lemari pendingin yang sangat besar berbeda dengan lemari pendingin yang sering aku lihat. Dan di samping kamar mandi, di mana tadi April masuk terdapat pintu kaca bermotif burung api namun masih sedikit tranparan jadi aku masih bisa melihat, walau agak kurang jelas. Kamar tidur yang luas, di tengah terdapat ranjang besar. Mungkin tiga kali besarnya dari ranjang di rumah kontrakanku dulu.
Sambil menunggu April mandi, aku pun langsung duduk di sofa panjang itu yang ternyata sangat empuk dan nyaman sekali. “Ini sofa pasti mahal, emput banget dan nyaman sekali.” Gumamku membatin dan secara refleks tubuhku bergerak-gerak merasakan empuknya sofa itu.
15 menit lamanya, April akhirnya baru keluar dari kamar mandi. Mataku benar-benar dibuat takjub olehnya, pasalnya April keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono sexy berwarna pink. Panjang kimono itu tak seberapa sehingga hanya bisa menutupi sejengkal di atas lututnya. Membuat aku bisa memandang dengan jelas paha mulusnya. Sedangkan untuk belahan kimono yang cukup lebar itu sepertinya tidal bisa menutupi payudaranya dengan secara sempurna, karena nampak sebagian payudaranya tersembul, memaksa mataku terus menikmatin keindahan kaum hawa ini di depanku.
“Kenapa Gas? Kok melotot gitu, lihatnya?” tanyanya.
“Eeh...!” Hanya kata itu saja yang keluar dari bibirku. Rasa grogi karena tertangkap basah telah menikmati pemandangan tubuhnya membuatku kebingungan menjawab pertanyaannya.
Mukaku merah padam.
April dengan santainya berjalan memasuki kamarnya, meninggalkanku dengan keadaan salah tingkah.
Tak beberapa lama April keluar dari kamar mengenakan kaos berwarna putih ketat terlihat cetakan puting menandakan April tidak mengenakan bra dipadu dengan celana hot pant pendek sejengkal di atas lutut.
“Sexy.” Gumamku seketika menelan ludah.
Lalu dia berjalan menuju lemari pendingin besar yang berada di dapur.
“Gaaaas...!” April memanggilku sembari melemparkan kaleng berisi softdrink ke arah mukaku. Dengan gerakan cepat, tanganku menangkapnya, jika sampai meleset mukku bisa bonyok.
“Refleks yang bagus Gas..!” sahut April sembari membuka kaleng softdrink yang berada di tangannya.
“Makasih, Pril.” Sembari kuangkat kaleng softdrink-ku.
“Kamu nggak mandi, Gas?” tanya April kemudian.
“Tas berisikan semua pakaianku ‘kan nggak ada Pril, terus ‘ntar Bagas pake apa?” jawabku bingung.
“Udah tenang aja, bentar April ambilin handuk dulu!” jawabnya sambil berlalu memasuki kamarnya lagi.
Dan tak lama kemudian...
“Nih, Gas...!” April menyodorkan handuk berwarna hitam buatku.
“Makasih, Pril.” Sambil beranjak menuju kamar mandi.
“Gas, di kotak kaca ada sikat gigi baru, ambil buat gosok gigi! Awas sampe mulutmu bauk!” Teriak April dari luar kamar mandi.
“Oke Pril, makasih!” Aku masih berfikir, “nanti aku pake apa, masak mau pake pakaian April mana cukup ukurannya?”
Segar, seluruh tubuhku rasanya fresh nggak sampai 10 menit, aku sudah keluar dari kamar mandi.
Aku telanjang dada, handuk pemberian April hanya mampu menutupi bagian pinggang ke bawah. Clingak- clinguk aku mencari April, tapi gadis itu tidak ada namun tidak lama dari pintu depan April terlihat sedang menenteng satu koper besar.
“Nih, Gas...! Tuh ganti di kamar April sana!” Perintahnya.
Kuterima koper itu, aku mulai berjalan ke kamar April. Berlanjut membuka koper dan ternyata di dalam koper aku menemukan 7 buah kaos, 5 celana training, 5 celana pendek santai dan terakhir 7 buah celana dalem berbentuk boxer yang semua warnanya berwarna hitam. Akhirnya kupilih memakai kaos dan celana pendek dan berjalan keluar dari kamar April dengan masih menenteng koper.
April menatapku sesaat kemudian berucap. “Kopernya mau dibawa ke mana, Gas? Taruh di kamar aja!” Perintahnya selanjutnya.
Setelah mengikuti perintah April, aku kembali duduk di sofa panjang. Di sana sudah ada April yang kelihatannya ia sedang asyik menonton tayangan televisi.
Tiba-tiba...
Handphone April berdering sekali mungkin notif tanda ada pemberitauan masuk. April pun beranjak dari sofa meninjau handphone-nya sesaat kemudian dia memandang ke arahku. Kemudian dia kembali dan duduk di sebelahku.
Merasa jarak kami dekat sekali, kugeser dudukku menjauh. April ikut menggeser duduknya kembali merapat denganku dan sekali lagi aku menggeser dudukku menjauh. Terlihat April menatapku tajam, dia kembali menggeser duduknya mendekat mepet denganku. Belum sempat aku beranjak berpindah untuk menjaga jarak darinya.
April berucap dengan nada mengancam. “Sekali lagi kamu geser!” Sambil mengacungkan tangannya yang terkepal ke arahku. Karena bergidik membayangkan pukulan April yang sangat menyakitkan, kuurungkan niatanku untuk bergeser.
“Gaaaas.” ucap April lembut di samping telingaku. Membuatku bergidik.
“Dasar gadis aneh, bentar bentak-bentak terus nggak lama jadi sok manja gini.” Gumamku dalam hati.
April menatap sayu ke arahku.
“Boleh April tanya Gas?” Suara April sedikit manja.
Seketika aku kembali grogi. “Iyaaaaa priiiiil.” suaraku bergetar dikarenakan grogi.
“Ini apa maksudnya?” Suara April kembali normal sambil memperlihatkan handphone-nya. Terlihat olehku sebuah foto lembaran terakhir dari map berisikan asuransi yang tadi baru kubuat, di dalamnya berisikan namaku sebagai pihak pertama dan nama April sebagai pihak kedua penerima asuransi kematianku.
Lidahku keluh, bingung mau memberi jawaban.
“Kenapa kamu nulis nama April di situ? Kasih alasan ke April sekarang juga!” Lontaran kalimat terakhir dari April bernada keras.
“Itu, Pril.....” Ucapanku terpotong. Lidahku keluh, aku benar-benar bingung mau memberi jawaban apa, rasa grogi dan malu memaksa keringat dinginku keluar.
Mataku memerah, dadaku sesak seakan ingin meluapkan sesuatu.
“Priiil! Ba-gas hi-dup seor-rang di-ri. Ba-gas se-batang ka-ra. Ba-gas ga pu-nya siapa sia-pa, Priiil. Ma-af ka-lo Ap-ril ga ber-kenan so-al itu! Ba-gas ga tau kena-pa tiba-ti-ba na-ma A-pril yang Ba-gas tu-lis di si-tu.” Ucapku berbata-bata, air mataku mulai mengalir.
Aku mengingat kedua orang tuaku yang telah meninggal disusul kematian kakek secara mendadak. Kutundukan kepala ke bawah, sama sekali aku berani mengangkat kepala dan memandang ke arah April.
“Gaaas. Nggak boleh cengeng ya.” April memanggil namaku dan menyemangatiku, kedua tangannya diletakkan di pipiku lalu diangkatnya kepalaku sehingga mata kami beradu.
Sejenak April menggelengkan kepala.
“April nggak marah Gas.” April berkata lirih. Kemudian ia tarik kepalaku ke arah dadanya, di benamkannya kepalaku berlanjut April memeluk tubuhku.
Nyaman, Pril. Aku nyaman diginiin. Perasaanku tidak dapat kupungkiri. Benar-benar nyaman dapat perlakuan seperti ini dari April. Kucurahkan semua tangisanku dipelukannya, aku merasakan tangan April nggak berhenti mengusap-usap rambutku.
5 menitan kepalaku masih berada di pelukan April. Tangisku sedikit mereda.
“Gas, suara lembut April menyadarkanku.”
Takut April marah karena posisiku di pelukannya, segera kuangkat kepalaku.
“Maaf Pril!” ucapku pelan.
April menggelengkan kepala. “Bagas jangan pernah merasa sendiri, ya! Ada April sekarang, April bakal ada buat Bagas.” Sambil tangannya mencubit hidungku lalu tersenyum manis.
“Makasih, Pril.” Suaraku sedikit bergetar.
Sesaat kemudian, tatapan kami saling bertemu. Terlihat April menutup matanya secara perlahan, bibirnya dibiarkan sedikit terbuka. Dan seperti ada magnet saja, kepala kami saling mendekat.
Cuuuup.... Sekali lagi bibir kami bertemu.
Hanya sesaat saja, selanjutnya kami seakan kompak saling memundurkan sedikit kepala. Perlahan mata kami terbuka, pelan-pelan. Mata sayu April bertemu dengan mataku lagi, April nampak tersenyum dan kembali memajukan kepalanya. Refleks mata kami sama-sama tertutup secara perlahan, seperti sebuah magnet tanpa melihat.
Cuuppp... Kembali bibir kami bertemu untuk kesekian kalinya.
Bibirku dilumatnya pelan, aku membuka sedikit mulutku. Kulakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya, melumat bibirnya yang lembut. Lumatan demi lumatan silih berganti di antara bibir kami berdua. Kami saling bertukar liur.
Sesaat kemudian, kurasakan lidah April yang lembut dan hangat memasuki mulutku, menjelajahi setiap ruang rongga di dalam mulutku. Kubalas dengan kuluman di bibirnya. Kini lidahku semakin berani menerobos memasuki mulutnya, lidah kami saling beradu, berlomba untuk saling bergantian menerobos masuk ke mulut.
Tak tinggal diam, tangan April ternyata sudah masuk ke dalam kaosku dari arah bawah. Tangan lembutnya membelai dadaku. Darahku seketika berdesir saat tangan April bermain di putingku. Tanganku refleks mengikuti naluri, membelai rambutnya, belaianku terus turun ke pipinya dan semakin turun dan tiba di payudaranya yang masih kencang dan indah itu. Kubelai payudaranya walau masih terhalang kaos yang dipakainya, namun masih bisa kurasakan putingnya mulai mengeras.
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Terdengar bunyi lonceng dari jam dinding itu sebanyak 7 (tujuh) kali, seketika menyadarkan kami berdua, bibir kami pun terlepas. Terliat April memandangku, diiringi senyumannya yang sangat manis dan kubalas dengan tersenyum padanya.
“Gaaaas...” ucapnya lirih. “Yuk bobok di kamar!”
Tanpa menunggu jawabanku, tanganku sudah ditariknya dan aku hanya mengikuti arahnya berjalan.
.
..
...
“Bagas.” Ujar suara memanggilku seketika aku kembali tersadar.
Kutatap matanya lekat-lekat dirinya, Nadia sepertinya bisa melihat ekspresiku yang sangat sedih sekali setelah mengetahui kenyataan yang sudah terjadi. Aku merasakan tubuh Nadia bergetar pelan diiikuti dengan matanya yang mulai memerah dan sesaat kemudian mata indahnya itu mulai menitikkan air mata.
Nadia nampak semakin membenamkan kepalanya di dadaku. Aku tak tinggal diam, kuberi usapan lembut di bahunya bermaksud meredakan tangisnya yang mulai meledak.
Aku tahu kesedihan yang dirasakan Nadia karena biar bagaimana pun April adalah belahan jiwaku. Aku pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Nadia, bahkan mungkin lebih karena April wanita spesial yang namanya bahkan kujadikan sebagai tempatku untuk pulang.
Terlebih aku merasakan pukulan telak untuk kedua kali, setelah Ree, kini April yang notabene-nya adalah kekasihku kini dalam keadaan koma dengan peluang hidup 50:50
Dan yang kini di pelukanku adalah sosok gadis dengan pemikiran yang sangat dewasa, gadis yang membuatku nyaman saat berada di dekatnya, gadis yang mendobrak masuk ke hatiku walaupun di dalam hatiku sudah ada nama April dan juga Anin namun dia rela menjadi sebuah bayangan di sela-sela hubunganku dengan April. Aku mengakui rasa sayang Nadia yang begitu besar padaku. Hingga dia rela mengorbankan nyawanya bersama April kekasihku demi menyelamatkanku.
Hal yang sama dengan apa yang kurasakan, aku juga mulai menyayanginya. Walaupun aku tahu, hatiku masih terpatri sebuah nama, sebuah nama milik gadis yang saat ini sedang koma di ruang ICU.
Namun Nadia nyata adanya, Nadia mampu mengisi sisi kosong yang tidak sepenuhnya diisi oleh kekasihku, April.
Kedewasaan dalam pola berfikir membuatnya terlihat spesial di mataku. Sifat pengalah yang ditunjukannya membuatku tahu, bahwa di balik muka cerianya tersimpan sosok seorang gadis yang telah matang.
Tidak terasa air mataku ikut meleleh.
Dalam diam, dalam diamku, dalam diamku, hati ini terus berontak menuntut balas atas apa yang menimpa April dan kupastikan orang itu akan menerima pembalasan yang setimpal.
Dalam diam, dalam diamku, dalam diamku, hati ini tersayat-sayat dan tercabik-cabik.
Hatiku rasanya ingin menjerit, hatiku tidak akan tenang sebelum kutemukan siapa pelaku di balik semua ini?
Dalam diam, dalam diamku, hanya dalam diam, aku bisa berteriak menyebut nama April, hatiku tidak akan pernah mengiklaskan kepergiannya dan berharap ia bisa melewati masa kritisnya.
Dan dalam diam, dalam diam, aku merenungi dan dapat berkata jujur, betapa aku sangat menyayangi April dan juga Nadia dua orang yang bisa saling melengkapi. April dengan kemanjaannya dan Nadia dengan kedewasaannya hidupku sepertinya akan sempurna jika kedua bidadariku itu bisa kujadikan satu.
“Kalian telah melakukan kesalahan fatal dengan sebuah kegagalan yang kalian lakukan untuk membunuh seekor harimau! Kelak kalian akan merasakan sebuah balasan dari seekor harimau yang menuntut sebuah keadilan. Darah harus dibayar pula dengan darah. Nyawa harus dibalas pula dengan nyawa. Tunggu aku!” Gumamku membatin.
Telegram : @cerita_dewasa
Tiga hari kemudian.....
Dalam tiga hari setelah kesadaranku pulih, aku lebih banyak menghabiskan waktu tersebut dengan berbaring sambili menunggu kondisiku benar-benar pulih.
Dalam tiga hari ini pun, Nadia dengan setia menjagaku. Dari menyuapi makanan hingga tugas seorang perawat yang harus membersihkan badan, dia yang melakukan itu semua. Sejenak aku teringat kejadian kemarin pada saat Tante Linda menjengukku. Dia bercerita tentang keadaan pamanku yang ternyata selamat dan kondisinya kian membaik. Walaupun dipastikan pamanku itu mengalami kecacatan permanen akibat dari banyaknya peluru yang bersarang di tubuhnya.
Iya aku juga mengetahui bahwa pamanku menyelamatkan Julian, kala kejadian naas itu terjadi.
Dan...
Pertanyaanku terjawab sudah akan siapa Julian sebenarnya. Aku mendengar langsung dari mulut Tante Linda kalau Julian merupakan anak kandung dari pamanku. Pantas dia selalu memanggilku dengan sebutan “sepupu”. Kalo dia memang anak kandung dari pamanku, dia jelaslah saudara sepupuku.
Semua semakin jelas. Dan Tante Linda menjelaskan secara detail apa yang terjadi. Tak luput pula alasan Julian sangat membenci ayahnya. Hingga kondisi Julian saat ini yang dengan tiba-tiba berubah drastis. Julian menjadi sosok jinak menurut keterangan dari Tante Linda. Itu dikatakan dan dilihat langsung oleh Tante Linda kalau selama ini Julian dengan setia menunggui ayahnya yang sedang dalam kondisi penyembuhan. Tadinya aku kurang mempercayai hal tersebut. Namun sebuah hal mengejutkan terjadi, di kala pagi tadi Julian datang untuk menjengukku. Membuat keraguanku semakin luntur kepadanya. Walaupun Nadia terlihat tidak menyukai kehadiran Julian. Namun semua terbaca olehku, Julian menunjukan sifat keberaniannya untuk berkunjung, lalu meminta maaf kepadaku. Hal yang berat di tunjukan para ksatria karena mengucapkan kata maaf lebih berat ketimbang menghunuskan pedang ke dada musuh.
Julian menunjukkan itu semua.
Sempat terjadi obrolan ringan antara kami berdua dikala Nadia meminta ijin sebentar sekedar membeli makanan untuk santap siangnya nanti.
Seperti sebuah rubik, perlahan semua tersusun dengan sendirinya. Semua masalah telah terlihat benang merahnya. Satu persatu telah kutemukan para anggota keluargaku.
Terkembang senyuman kebahagiaan yang menghiasi wajahku, saat Julian berpamitan pergi untuk kembali menjaga ayahnya.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
Julian
“Kenapa, sial ? Kenapa kau selamatkan aku? Kenapa kau tidak biarkan saja aku yang mati? Bangsat....! Kenapa harus Harimau Bungsu? Kenapa harus ayahku? Brengsek!”
Baru kali ini aku menggumam dengan menyebut kata “ayah”.
“Apa yang kurasakan saat ini? Dimana Julian yang dipenuhi oleh dendam kesumat? Fuuck! Kenapa aku jadi lemah seperti ini? Ingat Julian, ia telah menelantarkanmu dan ibumu! Kau tak patut seperti ini!” Sosok iblis merah yang berada di telinga kiriku berbisik cukup keras.
“Tapi Julian, dia tetaplah ayahmu! Seandainya ibumu tak keras kepala dan memberi kesempatan padanya, dia pastinya akan bertanggung jawab karena kodratnya ayahmu berhati baik!” Seru malaikat kecil berwarna putih di telinga kananku.
“Aaarrrgghh!” teriakku kencang untuk menghentikan pertengkaran di dalam hatiku.
Buuuaaagh!!
Kuhantam tembok yang berada di ruang ICU ini.
Sesaat kemudian, aku mendekat ke sebuah pintu berkaca bening yang merupakan pintu masuk ruang ICU. Kutatap seorang pria tua yang terbaring lemah dengan 15 butir proyektil yang baru saja dikeluarkan dari tubuhnya.
Kondisinya saat ini masih koma. Dia adalah Harimau Bungsu. Harus kuakui darahku sama dengan Beliau, mau tak mau, suka atau tidak suka, aku harus mengakui jika dia adalah ayahku.
“Semua ini ulah Singa Hitam dan Macan Kumbang. Bajingan...! Mereka telah mengkhianatiku! Kalian akan merasakan pembalasan yang setimpal dariku!” Tekadku kuat dalam hati.
Kakiku tiba-tiba melemah membuatku harus duduk jongkok bersandar pada pintu tersebut sambil menundukan wajahku ke bawah, aku meringkuk. Kepalaku benar-benar pusing.
Begh!!
Tiba-tiba...
Sebuah tangan meremas pundakku membuatku mengangkat kepala dan menatap pemilik tangan tersebut. Ternyata dia adalah seorang wanita setengah baya yang berparas cantik dengan tubuh sexy yang sangat menggoda. Dialah yang berjuluk Mrs. Snake atau Tante Linda.
Sejak kemarin, dia tidak pernah lelah bersamaku menunggui Ayah yang tergolek dalam keadaan koma.
“Ikuti kata hatimu, Julian.” ucapnya lembut.
Aku hanya memandang wajahnya tanpa memberi sebuah jawaban.
“Sebuas-buasnya seekor harimau, dia pasti tidak akan menerkam anaknya sendiri.” Itulah kata-kata yang terlontar dari bibirnya yang tebal dan menggoda.
Degh!!
Jantungku terasa sangat sakit, bagaikan dihantam oleh sebuah pukulan yang sangat keras.
Aku terhanyut. Aku kembali teringat akan kejadian beberapa hari lalu dimana malaikat pencabut nyawa seakan sangat dekat sekali, seolah sang malaikat maut itu sudah berada di depanku.
Disaat itu, aku benar-benar putus asa dan pasrah menghadapi malaikat maut. Tubuhku lemas tak berdaya dan mengetahui sebuah helicopter dengan sebuah senapan otomatis mengarah ke tubuhku.
Dengan sangat mengejutkan.
Ayahku berhambur dan seketika mendekap tubuhku dengan sangat erat sekali, Beliau seolah menjadi pelindung untuk tubuhku.
Dan tidak beberapa lama kemudian, puluhan peluru melesat ke arah kami. Beberapa peluru menghantam tubuh ayahku.
“Kenapa dia menyelamatkanku?” tanyaku dalam hati seakan tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh ayahku.
Tiba-tiba...
Mataku memerah, napasku semakin berat. Sejenak kututup mata sambil mengatur napasku pelan.
.
..
...
Tiga hari kemudian...
Aku masih berada di rumah sakit, tempat beradanya Harimau Bungsu yang merupakan ayahku berada. Kali ini aku sedang berada di kantin rumah sakit, menikmati secangkir kopi yang baru saja kupesan.
Dalam tiga hari ini, kondisi ayahku mulai membaik. Fisik yang dikatakan kuat membuatnya lebih cepat pulih ketimbang manusia biasa.
Sejenak aku teringat akan perbincanganku dengan Tante Linda semalam. Belakangan ini aku mulai akrab dengannya karena hampir selama ayahku sakit, dia dengan setia menemaniku menjaga Ayah di sini. Semalam banyak obrolan yang terjadi antara kami dan setelah obrolan itu pikiranku kini menjadi sedikit terbuka.
Entah kenapa? Aku kemudian berdiri dan melangkahkan kakiku menuju sebuah kamar rawat inap di mana sepupuku berada.
Sejenak aku ragu dan hanya berdiri, diam di depan sebuah pintu dengan sebuah papan nama bertulis VVIP dengan no. 201.
Namun entah mengapa timbul keberanian untuk mengetuk pintu tersebut? Tak lama muncul gadis cantik yang kukenal dengan julukan si Rubah Kecil. Ya, dia adalah Kak Nadia.
Saat dia melihatku yang berada di pintu sejenak dia memandangiku lama sekali dan terlihat pandangan penuh selidik yang tertangkap di wajahnya.
“Masuk!” ucapnya dengan nada sinis.
“Terima kasih, Kak Nad.” sahutku lirih.
Tidak kuhiraukan perlakuan Kak Nadia, memang sepantasnya dia melakukan hal itu karena telah mengakibatkan kekacauan seperti ini, bahkan kudengar kekasih sepupuku Bagas yang bernama April atau berjuluk “si phoenix” sedang dalam keadaan koma sama seperti ayahku karena melindungi Bagas dan Kak Nadia dari serentetan tembakan helicopter militer beberapa hari lalu.
Dengan mantap aku terus melangkahkan kaki meninggalkan sorot mata tajam dari Kak Nadia yang terus saja mengikuti kemana langkahku. Dan tidak lama kemudian aku melihat sepupuku masih terbaring lemah di ranjang yang berada di kamar ini.
“Hai sepupu!” Sapaku seramah mungkin.
Terlihat Bagas masih dengan kondisi lemah, namun berusaha melayangkan senyuman ke arahku. Entah mengapa? Tiba-tiba saja kuulurkan tanganku ke arah Bagas sambil berucap kata, “Maaf!” yang tulus keluar dari dalam hati.
Tanpa disangka, Bagas menjabat tanganku.
“Lupakan sepupu, kita ini keluarga! Tak sepantasnya menyimpan dendam dan permusuhan.” Seru Bagas.
Degh!!
Kembali aku merasakan dadaku sesak, rasanya seperti aku sedang dihantam oleh sebuah pukulan yang sangat keras. Aku merasa telah jauh dari jalan yang benar. Aku merasa sangat bersalah pada Ayah dan juga Bagas.
“Sebisa mungkin aku akan berubah dan aku akan berjanji memperbaiki semuanya!” Gumamku dalam hati.
Aku menganggukan kepala sambil mengeratkan jabatan tangan dari sepupuku itu.
“Aku berjanji Gas, akan membantumu menyelamatkan orang tuamu!" kataku sambil kupandang matanya dengan tatapan serius.
“Terima kasih sepupu!” jawab Bagas kembali tersenyum.
“Seperti inikah sebuah keluarga?” Gumamku bertanya dalam hati.
Tiba-tiba...
Aku merasakan sebuah kenyamanan.
.
..
...
Tujuh hari kemudian...
Aku sedang berada di belakang kemudi mobil. Sesaat kemudian, aku menoleh ke samping di sana sudah ada seseorang pemuda yang duduk di bangku penumpang yang terletak di sebelahku. Terlihat pemuda itu sangat bersemangat sekali saat mobil kuhentikan di sebuah tebing yang berbatasan langsung dengan laut lepas pantai. Di depan kami sekitar berjarak dua kilometer dari tempat kami saat ini berada terdapat sebuah pulau kecil. Tempat itu adalah sebuah bangunan besar yang merupakan markas rahasia dari sebuah organisasi yang bergelut di dunia hitam. Organisasi itu cukup terkenal di negara ini.
“Kau yakin akan menemaniku sepupu?” tanyaku memastikan.
“Aku bakalan menghajarmu lagi, kalo kau tak mengajakku!” jawab Bagas serius.
“Hahaha...” Aku tertawa lebar setelah mendengar kata-katanya barusan.
“Ayo kita bersenang-senang!” ajakku pada Bagas.
Klek!!
Kami berdua terlihat sangat kompak dengan secara bersamaan membuka pintu mobil dan keluar dengan gagah dan mantap penuh keyakinan.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar