Finaly Session I “WAR”
Pov
3rd
Sudah menjadi hal biasa, diketahui oleh khalayak umum dan bukan menjadi sebuah rahasia, jika sebuah luka dari sebuah sayatan akan terasa sangat menyakitkan tetapi diperlukan penanganan serius untuk menutup luka yang ditimbulkan.
Dan...
Sekali pun luka itu bisa sembuh dengan sendirinya namun bisa dipastikan jika luka itu akan membekas selamanya berarti perlu waktu yang sangat lama untuk pulih seperti sedia kala, begitu pula dengan dendam.
Hukum sebab dan akibat merupakan sebuah fitrah, tidak akan semudah itu ditebus hanya dengan sebuah "kata maaf atau tolong ampuni saya".
Ibarat sebuah pepatah, “Siapa yang menanam, maka dia pula yang akan menuainya”.
Sebuah langkah yang kita ambil atau putuskan pastinya akan memerlukan pertanggung jawaban atau dengan kata lain ada konsekuensinya dari tindakan yang kita ambil.
Rasa haus akan dendam pastinya akan menjadi momok yang selalu menghantui di setiap langkah yang ambil terlebih lagi itu dipikul oleh orang yang bersangkutan. Rasa haus tersebut tidak akan pernah hilang sebelum hutang akan dendamnya terbayarkan.
Ibaratkan sebuah garis dari sebuah rantai kehidupan, jika ada awal atau sebuah awalan pastinya akan mempunyai ujung atau sebuah akhiran.
“Kenapa bisa gagal?” ucap pria berusia di atas 50 tahunan dengan nada keras dan mata yang memerah memandang tiga orang kaki tangannya itu.
Braaaakkk!!
Dengan sangat keras, orang itu memukul meja di depannya hingga meja itu terbelah menjadi dua bagian.
“Kau harus tenang, Singa Hitam!” Tiba-tiba ada suara cukup lantang yang keluar dari mulut seorang pria sebayanya. Orang itu terlihat sedang menikmati sebuah cerutu yang berkali-kali ia hisap. Orang itu ternyata Macan Kumbang.
Terlihat empat orang lainnya yang berada di dalam ruangan tersebut hanya mampu menundukkan wajah, mereka adalah Jacob, Robin, Elang dan Nuri.
“Bagaimana aku bisa tenang, mengetahui dua harimau buruan kita lolos dari maut? Kau biang keladinya, “Kumbang”, kau terlalu ceroboh!” Terlihat Singa Hitam merasa tidak puas dan marah akan saran yang diberikan sahabatnya untuk bersikap tenang.
“Kau terlalu berlebihan, Singa Hitam. Apa segitu takutnya kamu terhadap dua bayi harimau? Sekali lagi tenangkanlah dirimu!” Sahut Macan Kumbang dengan mata menatap tajam ke arah Singa Hitam kemudian ia terlihat mematikan cerutunya.
“Mereka berdua bukan bocah sembarangan Kumbang!” Singa Hitam membalas tatapan tajam yang diberikan Macan Kumbang.
“Saya tahu itu, tapi kau harus tenang! Untuk sementara waktu, kita berdua akan tinggal di pulau neraka, Apakah kau setuju?” kata Macan Kumbang masih dengan nada tinggi.
“Terserah kau, Kumbang!” sahut Singa Hitam terlihat mengalah.
“Kau, Nuri?” Seru kumbang memanggil satu-satunya wanita yang berada di ruang itu.
Terlihat seorang wanita berpenampilan elegant, maju mendekati Macan Kumbang sambil menganggukkan kepala.
“Berapa lama lagi eksperimenmu berhasil?” tanya Macan Kumbang menatap tajam ke arah Nuri.
“Tiga bulan dari sekarang Tuan.” ucap wanita itu terkesan datar.
“Baiklah, pindahkan mereka secepatnya!” Perintah Macan Kumbang tegas.
Mendengar perintah tersebut, Nuri sesaat mengangguk kemudian dia beranjak meninggalkan ruangan.
Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening, Singa Hitam, Macan Kumbang beserta tiga orang kaki tangan mereka memilih untuk diam dan berpikir. Mereka seakan sadar sebentar lagi akan ada perang lanjutan, efek domino dari apa yang mereka perbuat.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
Nadia
Aku duduk seorang diri di sebuah sofa yang berada di sebuah kamar di salah satu rumah sakit besar yang berada di ibukota. Terbaring di tempat tidur, tubuh Bagas yang tergolek lemah masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tatapan mataku kosong, perasaan bersalah masih menghantuiku.
"Harusnya, Nadia bukan bagas apalagi April yang kini terbaring koma di ruang ICU. Arrrrgh!" teriakku dalam hati menyesali apa yang telah terjadi.
Aku kembali teringat kejadian waktu itu, kejadian yang sangat mengerikan menimpa kami. Tanpa kusadari aku menitikkan air mata karena teringat dengan sosok April yang menjadi korban karena menyelamatkan Bagas.
“Aku baru sadar bahwa April benar-benar sangat menyayangi Bagas sehingga ia rela mengorbankan nyawanya untuk Bagas! Kenapa tidak Nadia saja yang mati, supaya Nadia tidak menjadi penghalang hubungan mereka berdua?” Gumamku dalam hati.
Iya, sekarang kondisi April sangat memprihatinkan, menurut keterangan dokter peluang hidupnya 50 : 50. April sekarang dirawat secara intensif di ruang ICU setelah menggunakan tubuhnya untuk melindungi Bagas dari serbuan peluru helycopter tempur yang dilesatkan ke arah Bagas.
Aku teringat kembali beberapa hari yang lalu sebelum kejadian naas itu terjadi, kala itu aku dan April sedang disibukkan dengan latihan yang diberikan oleh Kakek Bungkuk. Pada saat itu, kami berdua beristirahat sejenak melepas lelah dan saat itulah entah kenapa kami berdua bisa akrab dan mengobrol seperti sahabat.
.
..
...
“Makasih, Nad!” kata April sambil menyunggingkan senyum padaku.
“Hmm...” Aku berdehem sejenak. “Makasih untuk apa, Pril?” tanyaku sedikit bingung.
“Sudah mau menjadi “Sahabat sekaligus Kakak buat April”. Jawab April sambil tersenyum.
Aku pun mengangguk dan membalas senyumnya April.
Entahlah dari mana awalnya? Tiba-tiba pembicaraan mulai mengarah ke Bagas.
“Kamu beruntung Pril, memiliki kekasih seperti Bagas.” kataku dengan nada sedikit serius.
April hanya melayangkan sebuah senyuman padaku.
“Berjanjilah, Phoenix. Jaga Bagas baik-baik!” sambungku sambil menatap mata April.
“Iya, Nad. Nggak usah disuruh pun April bakalan jaga Bagas kok.” Sahut April tulus.
“Sekuat apapun Bagas, Bagas perlu seorang pendamping yang kelak bisa membantunya, “phoenix”. Dan Nadia yakin, kamu orang yang tepat untuk berada di samping Bagas, Pril!” ucapku dengan mantap mengutarakan isi hatiku walaupun aku sendiri menaruh perasaan yang sama seperti yang April rasakan. Jujur aku pun sangat-sangat menyayangi Bagas namun aku mesti tahu diri, siapa aku, siapa Bagas, usia kami yang cukup jauh itu juga menjadi pertimbangan selain tidak ingin menyakiti hati April yang sekarang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
“Makasih, Nad. Kamu terlalu berlebihan, Nad.” Jawab April sekenanya.
“Nadia nggak lagi bercanda, “phoenix”. Kalo kamu nggak jaga Bagas baik-baik, banyak gadis lain yang bakalan berlomba merebut Bagas! Ntar kamu nyesel lo!” Celotehku dengan sedikit bercanda supaya obrolan kami tidak kaku.
“Iya, iya, Nad. Seandainya ada gadis lain yang begitu tulus mencintai Bagas. April rela berbagi kok. Kamu sayang ya Nad ke Bagas? Hihihii...” ujar April sambil tertawa kecil. Entahlah apa maksud ucapan April yang tiba-tiba ia bisa berkata seperti itu.
“Gila kamu, Pril! Lagi fly, ya! Hahaha...”Sahut Nadia sambil tertawa lebar.
“Serius, Nad! April tidak sedang bercanda.” ucap April pelan.
Entah apalagi maksud dari ucapan April barusan, kenapa April mengucapkan kata itu yang kumaknai serius dan tulus dari hatinya?
Sesaat kami berdua tiba-tiba terdiam. Ada semacam kejanggalan yang tiba-tiba terasa.
“Ih, ngomong apaan sih tadi kamu, Pril!?” tanyaku dan tiba-tiba aku langsung menggelitiki tubuh April.
“Hahaha... Geli, Nad!” April tertawa kegelian dan tubuhnya sempat kelojotan. April sempat menghindar dari sergapanku yang ingin menggelitikinya.
“Kita jagain Bagas bareng-bareng ya, Nad!” ucap April penuh keiklasan. Membuatku tersenyum dan langsung memeluk tubuhnya.
.
3 hari kemudian...
Aku, April dan Kak Belut kini berada di tanah lapang yang berada di lereng gunung. Dimana Bagas dan Julian sedang bertarung dan keduanya sama-sama imbang. Nampak baik Bagas maupun Julian kondisi mereka berdua sudah sama-sama babak belur dengan wajah sama-sama lebam dan berdarah-darah. Mereka berdua bahkan sama-sama terkapar di tanah berlumpur.
Dan yang membuatku panik dan takut ketika secara mengejutkan terdengar suara helicopter.
“Itu ‘kan bukan helicopter biasa, tapi itu helicopter perang yang biasa dipakai oleh TNI AU!” Gumamku membatin.
Dan benar saja dari kejauhan helicopter itu telah mengeluarkan moncong senapannya mengarah tepat ke tampat Bagas dan Julian berada. Bagas dan Julian kala itu sudah dalam keadaan kelelahan setelah berduel, jangankan untuk berlari untuk bangkit berdiri saja mereka berdua sudah tidak sanggup.
Melihat kondisi yang sangat genting itu, tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari secepat mungkin dan ternyata Kak Belut pun ikut berlari bersamaan denganku, tujuanku pastinya untuk menyelamatkan Bagas yang tergeletak di tanah yang berlumpur itu.
Sebelum helicopter itu tepat mengenai Bagas, tubuhku sudah lebih dulu menindih tubuh Bagas sebagai tamengnya. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil berdoa dalam hati, “Ya Tuhan jika aku mati aku mati dengan penuh bahagia karena bisa menyelamatkan orang yang sangat kusayangi yaitu Bagas. Bagas, I love You. Hanya dengan cara ini aku ingin membuktikan rasa cintaku padamu.”
Pasrah menantikan ajal yang akan menjemputku sambil kupeluk erat tubuh lelaki yang telah mengisi relung hatiku yang paling dalam, kukecup bibir Bagas sambil memejamkan mata.
Dan benar saja, tak lama kemudian helicopter itu mulai makin mendekat dan langsung menembakkan pelurunya ke arah kami.
Namun, tiba-tiba...
Buugghh!!
Aku sedikit kaget, kurasakan ada tubuh yang menindihku dan Bagas sambil orang itu berucap, “Bagas, i love you.” Dan ia langsung memelukku dan Bagas dengan sangat kencang.
Drattt... Drattt... Drattt...
Drattt... Drattt... Drattt...
Drattt... Drattt... Drattt...
Drattt... Drattt... Drattt...
Drattt... Drattt... Drattt...
Drattt... Drattt... Drattt...
“Aaarrrgghh...!” Teriak orang yang berada di atas tubuhku ketika peluru-peluru itu mulai menembus tubuhnya.
Serbuan peluru itu menghujani tubuh orang yang melindungiku dan Bagas, dan seketika aku kaget karena yang melindungiku dan Bagas tak lain adalah April. Aku berusaha memberi pertolongan pertama buat April. Terlihat April kondisinya sangat memprihatinkan dengan begitu banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya. Napas April pun terdengar tersengal-sengal namun ia sempat berkata padaku, “aku titip dia, Nad!” dan tak lama kemudian April menutup matanya, tak sadarkan diri.
Tiga tubuh yang rela menjadi penghalang dari serbuan peluru yang melesat ke arah Bagas dan Julian adalah aku, April dan Kak Belut..
“Begitu sayangnya kamu Pril pada Bagas, sehingga kamu rela berkorban, mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Bagas.” Gumamku dalam hati. “Dan aku pun paham kenapa Kak Belut sampai rela menyelamatkan Julian? Padahal Julian itu berdiri di seberang sebagai musuh kami. Kak Belut rela mengorbankan tubuhnya hingga tertembus puluhan peluru demi menyelamatkan Julian dan membuatnya sekarat dan saat ini berada di ruang ICU karena Julian adalah putranya.”
.
Kejadian itu sangat cepat sekali sampai sulit aku percaya aku ternyata masih hidup dan dalam kondisi baik-baik saja sementara April dan Kak Belut kondisinya sangat memprihatinkan.
Dan di saat yang bersamaan, ternyata Kakek Bungkuk dan si Linda juga berada di tempat ini. Dengan dibantu oleh Si Linda, guruku langsung mengambil senjata semi automatis yang tergeletak tak jauh dari kami berdiri, bersama dengan Si Ular genit (Linda), Beliau membidik helicopter yang baru saja beberapa detik lalu menembaki kami. Dan guruku langsung menembaki helicopter itu dan tembakan guruku tidak meleset dan seketika membuat helicopter itu jatuh dan meledak.
BUAAAMMMM...
DUUUMMMM...
Kakek Bungkuk atau guruku dengan sigap segera melakukan penyelamatan untuk kami semua. Beliau dibantu oleh si Linda.
.
..
...
Aku tersadar dari lamunanku, pandanganku mulai berpindah ke arah kolong meja yang berada di kamar rumah sakit ini. Di situ tergeletak senjata mirip dengan senjataku namun lebih panjang dari senjata andalanku “kodachi” dan lebih pendek dari “katana”. Senjata milik April bernama “ninjato” adalah senjata kesayangan April . Dia pernah berpesan padaku untuk memberikan senjata kesayangannya tersebut kepada Bagas dan menyuruh Bagas untuk menjaganya sebaik mungkin jika dia sudah tidak ada.
Aku lalu berjalan menuju ruang ICU, di sana terbaring tubuh adikku dengan berbagai alat medis yang telah terpasang setelah pasca operasi pengambilan 5 (lima) butir proyektil peluru yang ternyata merobek kulit April. Dua butir proyektil telah berhasil diambil dari paha kanan dan kaki sebelah kiri April, dua butir proyektil lainnya diambil dari wilayah perutnya. Dan satu butir proyektil diangkat dari lengan kiri April. Selama operasi April memerlukan transfusi darah yang sangat banyak begitu pun juga hal yang sama dengan Kak Belut. Keduanya menghabiskan 20 kantong darah O untuk April dan 22 kantong darah AB+ buat Kak Belut.
“April, bangun dong. Berjuanglah demi Bagas karena kalian berdua itu pasangan yang serasi. Maafin aku ya Pril yang sudah mencintai kekasihmu. April jika kamu mendengarku, aku mau meminta maaf karena sudah bercinta dengan kekasihmu dan aku bertekad akan melepaskan Bagas buat kamu seorang. Kamu lebih layak untuk Bagas, bukan aku karena kamu rela berkorban untuk Bagas. Aku malu, Pril, aku berjanji padamu akan menjaga Bagas bukan hanya karena Bagas orang yang sangat aku cintai melainkan Bagas juga orang yang sangat kamu sayangi. Aku berjanji, Pril!” kataku mengucapkan semua isi hatiku kepada April yang masih terlihat koma dengan alat monitor yang menunjukkan hanya detak jantungnya yang masih berdenyut.
Aku kembali teringat wajah April, entah kenapa belakangan ini kami berdua sering menghabiskan waktu bersama-sama untuk bergurau dan bercanda tawa bersama. Mungkin dari dulunya April sempat membenciku karena aku dinilainya merupakan lawan atau musuh yang berseberangan dengan divisinya dan setelah ia tahu kebenarannya mulai saat itulah hubungan kami makin akrab bak Kakak dan Adik saja, dan ternyata April merupakan sahabat yang baik dan peduli. April bisa jadi sosok Adik untukku, sosok saudara.
“April berjuanglah, jangan kau tinggalkan Bagas, dia butuh kamu Pril yang bisa membuat hidup Bagas bahagia. Belum waktunya kau pergi dan terima kasih karena kau telah selamatkan Bagas. Hiks...hiks...hiks...” Air mataku mulai menetes kembali.
Sejenak pandanganku berpindah mengedarkan mata ke arah ranjang Bagas dan melihat tubuh Bagas yang masih tergolek lemah dengan alat-alat medis terpasang di tubuhnya.
Bagas pun tak luput dari luka tembak, walau tubuhku dan April telah menjadi menjadi tameng dari tubuh Bagas. Ada 2 (dua) butir peluru yang bersarang di kaki kiri dan bahu sebelah kanannya.
Aku bergerak menuju tepian ranjang kemudian menggenggam tangan Bagas. Perlahan, aku mencium kening Bagas.
Cuuuppp!!
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar