ADAPTASI PART 61

 

POV 


APRIL








Tenagaku benar-benar terkuras habis, namun kupaksa untuk tetap berlari kencang. Membuntuti Nadia dan kakek bungkuk yang juga berlari kencang. Tujuan kami mencari keberadaan Bagas dan Kak Belut. Kami berlari menuju ke lereng gunung, karena di sana berada tanah lapang yang cukup luas.




Degh!!


Degh!!




Jantungku dengan tiba-tiba berdetak kencang. Aku bisa merasakan Bagas dalam bahaya. Rasa sayangku yang begitu besar terhadap Bagas. Aku tak mau hal buruk terjadi padanya.




Rasa kuatir berlebih membuatku memiliki tenaga extra. Mengesampingkan rasa letihku untuk terus berlari menuju tempat di mana Bagas berada.




"Haaah... Haaah... Haaah..." Napasku terengah saat kakiku berhenti berlari. Kakiku telah berpijak di tanah lapang yang di gunakan sebagai puncak peperangan.




Sambil mengatur napas untuk menetralkan rasa letihku. Aku mengedarkan pandangan.Di sisi kanan aku melihat dua seniorku di divisi. Dua orang tersebut adalah omBelut dan tante Linda.




Di sisi berlawanan atau sebelah kiri. Nampak kak rian berdiri bersama dua rekannya. Kak rian yang masih berstatus sodaraku memilih jalan sebagai musuh. Kami kini bersebrangan. Kami berhadapan di sini sebagai rival. Aku tak mempermasalahkan hal itu.Karena aku telah lebih dahulu memantabkan pilihan untuk bergabung dengan team Bagas.




Kembali, fokus ke tengah lapangan. Dimana, di tengah lapangan aku melihat sosok kekasihku Bagas. Dan benar saja apayang ku yakini sebelumnya.




.


..


...






"Bagaaaaas!!"


"Bagaaaas!!!"




Degh....! Jantungku bergetar, saat Nadia juga meneriakkan nama Bagas. Dan hampir bersamaan dengan teriakkanku. Nampak dari raut wajahnya kekuatiran yang begitu mendalam. Nadia sepertinya salah tingkah setelah aku menatapnya. Namun dengan segera aku memalingkan muka ke arah lain. 




Sejenak aku terhanyut dalam lamunan. Aku tau, sepertinya tak hanya aku yang sangat menguatirkan Bagas. Aku bisa melihat dan merasakan kalau Nadia pun mengkuatirkan Bagas.




Dan yang jelas aku juga seorang wanita, yang mempunyai naluri dan perasaan yang sangat peka. Jadi aku pun paham jika Nadia mempunyai perasaan juga terhadap Bagas.




Aku paham, aku bener-bener mengerti jika bukan hanya aku yang saat ini menyayangi Bagas.




Aku berusaha tak mempermasalahkan hal itu. Hal wajar jika Bagas di sukai banyak wanita. Karena pribadinya yang baik, santun dan di tunjang wajah rupawan. Belum lagi Bagas memiliki body yang bisa dikatakan wow. Karena benar-benar ideal antara berat dan tinggi badannya. Pastinya melihat itu semua menjadi daya tarik yang memukau di mata banyak wanita. Tapi aku percaya jika Bagas adalah lelaki yang baik. Bagas pastinya akan menjaga hatinya buat aku seorang.




Karena akulah kekasihnya Bagas...!


Karena akulah tempat berlabuh untuk dia pulang...!


Aku sayang dia. Teramat sayang sama Bagas...!




.


..


...




Kembali ke tengah lapangan...




Di mana menjadi ajang bertarung untuk Bagas. Di sana Bagas masih berjuang untuk memenangkan duelnya dengan Julian. Tak terbayangkan olehku sebelumnya, kemampuan bertarung Bagas meningkat sepesat saat ini. Bagas mampu mengimbangi Julian dalam duel tangan kosong yang saat ini sedang berlansung.




Nampak Bagas ataupun Julian sama-sama dalam posisi terbaring. Sepertinya mereka baru saja melewati duel panjang dan pastinya melelahkan. Mereka berdua sepertinya mengerahkan seluruh kemampuan bertarungnya hingga kehabisan tenaga.




Tak lama kemudian, Julian nampak mulai berdiri terlebih dahulu. Rasa kuatir yang aku rasakan sebelumnya mendadak muncul kembali.




Aku hendak berhambur dan membantu Bagas. Namun om Belut melarangku. Beliau yakin jika Bagas bukanlah lagi pemuda ingusan, yang beberapa bulan lalu datang ke akademi dengan kepolosan dan keluguannya. Beliau sangat yakin jika Bagas mampu bertahan. Dan memenangkan duelnya melawan Julian. Semoga prediksi om Belut benar adanya.




Bahaya...! Aku melihat Julian mulai mendekati Bagas, walaudia dalam keadaan berjalan tertatih.




"Bangun Gaaas!!!"


"Gaaaas!!!" Teriakku tak tega melihat kondisi Bagas.




Aku merasa iba melihat kondisi Bagas yang nampak babak belur.




Tiba-tiba tubuhku bergetar. Aku sepertinya mampu merasakan apa yang di dera Bagas di sana. Tak lama berselang air mataku, tak lagi terbendung dan mulai meleleh melalui sudut mata. Mengalir dengan sendirinya membasahi pipiku.




"Tegk..." Tiba-tiba aku merasakan ada yang menggenggam tangan kananku. Ku palingkan wajahku ke samping kanan dan nampaklah sang pemilik tangan yang menggenggam tanganku. Nadialah sang pemilik tangan itu, kemudian Nadia tersenyum kearahku.


"Kita doain Bagas yuk !." Ujarnya lirih.




Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Lalu memeluk Nadia. Kami berdua kompak berdiam diri memanjatkan doa untuk Bagas. Aneh kehadiran Nadia membuatku sangat tenang. Dia gadis yang baik. Jika memang Tuhan tak menakdirkanku bersanding dengan Bagas kelak. Aku rela jika dia menjadi penggantiku. Melihat ketulusan yang dia tunjukkan.




Berselang beberapa waktu, Bagas nampak mulai berdiri. Sebuah asa kembali muncul. Aku terus memanjatkan doa.




Doa mengharap kemenangan untuk Bagas.


Doa mengharap kekasihku tersebut akan baik-baik saja.


Doa untuk keselamatan nyawa Bagas.








Telegram : @cerita_dewasa








Kemudian Bagas dan Julian saling mendekat dan kembali terlibat adu pukul. Mereka saling jual beli pukulan. Seperti sengaja, tak ada di antara mereka yang menghindari pukulan lawan. Mungkin rasa letih membuat mereka hanya bertahan. Sambil saling usaha untuk melayangkan pukulan agar lawan terjatuh dan roboh. Atau mungkin dengan sengaja mereka ingin mencoba. Mengetahui siapa yang lebih unggul dalam urusan fisik.




Imbang..! Nampak duel jual beli pukulan yang mereka lakukan. Dalam posisi seimbang. Mereka masih sama-sama bertahan. Mereka berdua sama-sama nampak masih kuat berdiri walau pasti butuh perjuangan. Melihat kondisi mereka yang sama-sama babak belur.




Mungkin benar apa yang di katakan om Belut. Ketahanan fisik antara keduanya sangatlah berpengaruh dan memiliki andil. Siapa nanti yang akan memenangi duel itu.




""Gaaaaaaaaaas!!!""




Aku menjerit histeris hampir bersamaan dengan Nadia. Saat melihat tubuh Bagas roboh. Bagas roboh bersamaan dengan tubuh Julian yang terdorong dan juga ikut roboh.




Semua hening. Namun tiba-tiba terdengar suara gemuruh mesin helycopter mendekat. Semua pandangan tertuju ke arah helycopter tersebut.




Tanpa di sangka-sangka helycopter tersebut semakin mendekat kemudian mengarahkan moncong laras senjata kearah Bagas dan Julian terkapar.




"Bagaaaaaaaaaaaaaaaaaaas!!!!!!" Teriakku.




Aku seperti terpaku. Kakiku begitu lemas. Aku hanya bisa melihat semua orang berhamburan tak tentu arah.




Sesaat aku melihat om Belut dan Nadia berlari dengan sangat cepat.




Membuatku sadar akan bahaya yang mengancam Bagas.




Melihat Nadia memeluk tubuh Bagas. Entah dari mana kekuatan ini. Yang jelas tubuhku sangat ringan. Sebuah kekuatan membuatku berani berdiri. Kugunakan tubuhku untuk menjadi tameng mereka berdua.




'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!...'


'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!...'


'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!...'




'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!..' Serbuan peluru menghujaniku. Beberapa menembus tubuhku. Aku tak mampu lagi merasakan sakit. Pandanganku semakin samar.




"Aku titip dia, Nad..." ucapku lirih. Merasakan kakiku lemas kemudian roboh. Perlahan pandanganku kabur. Seiring semua nampak menjadi gelap.








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


3rd






Sebelumnya...




Di sebuah kota tak jauh dari lereng gunung tempat peperangan yang terjadi. Nampak dua pria sedang duduk bersama. Mereka berada di salah satu ruangan dari sebuah kantor.




Sempat terjadi perdebatan singkat di antara mereka. Setelah sebelumnya menerima sebuah kabar dari orang kepercayaan mereka melalui telepon.




"Kau yakin dengan keputusanmu..?" Ucap Singa Hitam.


"Lakukan...!" Balas pria tua sebayanya. Sekaligus sahabat karibnya. Dialah Macan Kumbang.


"Kali ini kau yang pegang kendali Kumbang...!" Sahut Singa Hitam. Lalu melakukan sambungan telpon lagi ke seseorang.




Di lain tempat...




"Done" Ucap seorang pilot helicopter. Nampak dia baru saja mematikan sambungan ponselnya. Dengan santai dia kemudian terlihat berjalan menuju helycopter miliknya.




Tak lama terdengar bising bunyi suara mesin helycopter di hidupkan. Seiring baling-baling helycopter tersebut mulai bergerak pelan, semakin lama kian kencang bersamaan hely tersebut mulai terangkat. Pertanda hely telah siap untuk lepas landas.




Kemudian sang pilot mulai memegang peranan dengan menerbangkan hely tersebut mengarah kegunung.








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


JULIAN








Aku roboh, tubuhku serasa hancur. Hampir mirip dengan kondisi sepupuku. Nampak wajahku babak belur dan di penuhi lebam. Darah keluar dari pelipis, hidung serta sudut mulutku. Setelah berduel dengan sepupuku Bagas.




Harus aku akui ini merupakan duel yang sangat sengit. Duel antara dua Harimau...!




Dan kali ini. Aku benar-benar dibuat kuwalahan menghadapi sepupuku. Perkembangan pesat terlihat dan ditunjukan oleh sepupuku, gaya bertarungnya berkambang jauh dari apa yang aku prediksi selama ini. Di duel pertama kami, Bagas hanya bisa mengimbangiku padahal aku hanya mengeluarkan 50% tenagaku. Namun di duel kali ini aku harus mengakui kehebatan dan daya tahan dari sepupuku itu, kecepatan, reflek Dan insting yang Bagas tunjukan di luar expetasiku. Membuatku harus menghadapinya dengan sungguh-sungguh. Kukerahkan semua kemampuan bertarungku. Dan aku harus mengangkat kedua jempol melihat perubahan dan ketahanan fisik yang dimiliki Bagas.




Bukan hanya itu. Semangat hidup yang Bagas miliki mampu membuatnya lolos dari maut yang kuberikan. Bagas dapat menghindarinya dengan kekuatan yang tak terduga. Sepertinya bukan isapan jempol. Jika Harimau Jawa memiliki kekuatan tempur di atas rata-rata dan di segani seantero negeri. Malah kabarnya hingga mencapai beberapa negara tetangga.




Bagas Permana. Sepupuku yang sedang terbaring lemah di samping tubuhku. Dia merupakan anak tunggal dari Harimau Jawa. Sepertinya darah murni seekor harimau menurun kepadanya.




Tiba-tiba suasana menjadi genting. Nampak orang-orang mulai berhamburan. Setelah terdengar suara bising dari mesin helycopter yang mendekat kearah kami berada.




Bukan hely umum melainkan sebuah hely tempur yang dilengkapi dengan senjata semi otomatis serbu. Moncong senjata kemudian bergerak dan mengarah ketempat dimana aku dan Bagas terbaring.




Aku sadar apa yang akan terjadi sebentar lagi. Namun dengan kondisiku saat ini, aku hanya bisa pasrah.




Nampak Bagas juga merasakan hal yang kualami. Kami telah kehabisan tenaga setelah duel panjang yang melelahkan. Tak ada lagi tenaga tersisa untuk menghindar dari serangan yang akan di lancarkan helycopter itu. Perlahan aku mulai menutup mata. Menyadari maut sebentar lagi menjemput kami berdua.




'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!...'


'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!...'


'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!...'


'Dart!!!... Dart!!!... Dart!!!...'




Tiba-tiba aku terhanyut. Belum sempat aku menutup mata secara sempurna. Seiring dengan suara desingan beberapa peluru yang di arahkan ke tubuhku dan Bagas. Aku dibuat kaget dengan pelukan seseorang yang memberikan perlindungan kepadaku. Dia adalah Harimau Bungsu yang tak lain ayah kandungku. Kenapa dia rela menjadi tameng dari puluhan peluru yang mengarah ke tubuhku.




"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!" Teriakku di sisa tenaga.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar