KEDUA KALINYA
POV
3rd
Pagi ini, hujan semakin deras. Sang mentari yang sedari tadi harusnya telah terbit, kini seperti sedang bersembunyi di balik tebalnya awan hitam yang pekat. Langit menjadi gelap, menandakan bakalan hujan yang sangat lebat dan kemungkinan tidak akan cepat reda dalam waktu dekat. Dan tidak hanya itu saja, di langit nampak beberapa kilatan petir menggelegar membuat suasananya semakin mencekam.
Buugghh!!
Suara sedikit kencang terdengar saat kepalan tangan Bagas menghantam kepalan tangan Julian.
Tinju Bagas beradu dengan tinju Julian,keduanya beradu pukulan dengan sangat keras membuat tubuh Bagas dan Julian bergetar.
Nampak Bagas mundur tiga langkah ke belakang. Begitu juga dengan Julian, ia terlihat sama dengan Bagas tubuhnya juga mundur beberapa langkah.
Sesaat mereka sama-sama terdiam, nampaknya keduanya sama-sama sedang berpikir, siapa yang akan menyerang terlebih dahulu.
Terlihat Bagas menarik napas panjang. Sebelumnya dengan sengaja Bagas menerima tantangan duel dari Julian, pemuda yang selalu memanggilnya dengan sebutan sepupu.
Sudah dua kali mereka bertemu, bukan sekedar bertemu saja. Bahkan dipertemuan pertama dengan Julian, mereka sempat melakukan duel singkat. Dan kali ini, mereka kembali akan melanjutkan duel yang sempat tertunda.Di dua pertemuan ini pun, Julian kembali memanggil Bagas dengan sebutan sepupu.
Entahlah Sepupu dari mana? Bagas pun kurang paham.
Jika memang Julian menganggapnya keluarga,berarti ada ikatan darah yang sama yang mengalir di tubuh mereka. Dan seharusnya, kodrat sebagai keluarga adalah saling menjaga, melindungi bukan malah untuk saling menyakiti bahkan membunuh.Itu seharusnya yang harus dilakukan Julian jika ia benar-benar menganggap Bagas sepupunya.
Namun, saat ini justru Bagas dan julian berdiri di tengah tanah lapang yang berada di lereng gunung, saling berhadapan-hadapan bukan sebagai keluarga melainkan sebagai musuh, Bagas dan Julian akan melakukan pertarungan; saling menyerang, saling melakukan perlawan, saling mencoba menjatuhkan, saling mengadu kekuatan dan kemahiran serta kecerdikan dalam sebuah pertarungan atau duel.
Iya, mereka berdua akan melakukan duel untuk kedua kalinya, sekarang , di tempat yang mereka sekarang berdiri dengan kondisi keduanya yang siap.
“Bersiaplah sepupu!” terdengar teriakan dari Julian. Membuat Bagas menatap tajam ke arah Julian.
Buugghh!!
Buugghh!!
Wuuuzzhh!!
Wuuuzzhh!!
Terlihat Julian sedang berlari sambil melayangkan sebuah tinju kearah Bagas. Dengan cekatan Bagas menyapu tinju Julian dengan sebuah pukulan mengarah ke lengannya.
Sekali lagi Julian mengayunkan sebuah pukulannya, Bagas menghindar dengan merunduk lalu balas melayangkan upper cut kananya ke arah julian. Namun refleks Julian begitu hebat, ia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang untuk menghindari lesatan pukulan Bagas barusan.
Buugghh!!
Buugghh!!
Wuuuzzhh!!
Julian kembali melayangkan duakali pukulan balasan yang cepat. Dengan sigap Bagas menutup sudutyang terbuka di tubuhnya sambil membalas serangan Julian dengan melayangkan sebuah pukulan ke arah kepalanya. Namun dengan mudah pukulan Bagas bisa dihindari oleh Julian.
Duuaagghh!!
Merasa usahanya tak berhasil, Bagas pun memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan memutar. Namun Julian bukannya menghindar malah ia dengan sengaja melakukan gerakan yang sama seperti yang dilakukan oleh Bagas.
Buugghh!!
Kaki Bagas dan Julian saling beradu.
Taaappp!!
Taaappp!!
Tubuh keduanya sama-sama mundur tiga langkah ke belakang.
“Dia mampu membaca dengan baik semua gerakanku.”
“Bersiaplah sepupu!” teriak Julian kembali merangsek maju menyerang Bagas.
Buugghh!!
Wuuuzzhh!!
Buugghh!!
Buugghh!!
Buugghh!!
Wuuuzzhh!!
Buugghh!!
“Brengsek! Julian menyerangku dengan pukulan secara bertubi-tubi. Gerakannya mirip dengan belalang yang sedang mencoba mencabik-cabik mangsanya.” Gumam Bagas dalam hatinya.
Tak pelak, Bagas hanya mampu bertahan, mengelak sesekali.
Buugghh!!
Wuuuzzhh!!
Buugghh!!
Tanpa ada jeda sama sekali Julian terus menghujani Bagas dengan pukulan-pukulannya. Bagas hanya bertahan, nampak ia meringis merasakan sakit di kedua tangannya ketika menahan satu per satu pukulan yang dilayangkan Julian dengan cepat sekali. Memaksa Bagas terus mundur ke belakang untuk menghindari pukulan-pukulan Julian.
Buugghh!!
Buugghh!!
Buugghh!!
Seperti tidak kenal lelah, Julian dengan gerakan sangat cepat terus saja melancarkan pukulannya dan hanya mampu ditepis oleh Bagas sambil menutup ruang terbuka menggunakan kedua tangannya.
“Sial! Kalo dibiarkan terlalu lama, pertahananku pasti jebol! Perlahan pasti aku tak mampu lagi menahan serangan Julian yang seolah tak kenal lelah, tanpa jeda sedikit pun menghujaniku dengan pukulan-pukulannya.” Bagas bergumam dalam hati.
Duuaagghh!!
Taaappp!!
Taaappp!!
Dengan sedikit menggeser tubuhku ke belakang, Bagas melesatkan lututnya mengarah ke dada Julian sambil tangannya mendorong tubuh Julian mundur. Namun dengan refleks, Julian menahan lutut Bagas dengan menggunakan kedua tangannya.
Dengan cepat Bagas memanfaatkan moment itu untuk mendorong tubuh Julian mundur dan berakhir dengan beberapa langkah keduanya sama-sama mundur.
“Haa...haaa...haaa... Huuuiiiiih!”
Bagas terlihat sedang mengatur napasnya yang sedikit tersengal-sengal, ia beristirahat sejenak. Pemandangan tak jauh berbeda diperlihatkan Julian, ternyata dia pun juga sedang mengatur napasnya yang terlihat ngos-ngosan.
Namun itu hanya sebentar. Ya, hanya sebentar. Kini Julian nampak merangsek maju untuk menyerang Bagas kembali.
Duugghh!!
Buugghh!!
Buugghh!!
Duugghh!!
Sebuah tendangan mampu Bagas patahkan dengan menutup sisi kanan tubuhnya menggunakan tangan. Bagas membalas dengan sebuah tinju ke arah muka Julian. Namun Julian dengan mudahnya mematahkan serangan Bagas, dan berbalik gantian Julian membalas serangan Bagas dengan melepaskan sebuah pukulan yang sangat cepat mengarah ke perut Bagas. Bagas pun terpaksa menghalau serangan Julian barusan dengan menaikkan lututnya sambil mengkombinasikannya dengan sebuah tendangan. Namun lagi-lagi tendangan Bagas, mampu ditepis oleh Julian dengan mendorong kakinya sambil menggeser tubuhnya sedikit ke samping kanan.
Dugh!!
Dugh!!
Tanpa jeda Bagas mengejar musuhnya dengan melayangkan tendangan ganda. Namun dua tangan Julian secara bergantian berhasil menepis serangan Bagas, Julian berhasil mematahkan tendangan yang dilesatkan oleh Bagas.
“Haa...haa...” Terdengar suara Bagas yang kelelahan.
Dugh!!
Mendengar Bagas nampak sedikit letih, itu langsung terdengar di telinga Julian. Dia pun memanfaatkannya dengan baik pada saat Bagas terlihat sedang mengambil napas. Dengan sedikit melompat Julian langsung melepaskan tendangan yang sangat kencang.
Bagas menututup sisi kiri kepalanya dengan menggunakan tangannya untuk menahan tendangan yang dilancarkan oleh Julian. Namun kuatnya tendangan yang dilesatkan oleh Julian membuat tubuh Bagas terdorong kesamping kanan. Hal tersebut dimanfaatkan secara baik oleh Julian.
Buuaagghh!!
Sebuah tinju melesat dari Julian dan tanpa sempat Bagas hindari lagi hingga tinju Julian langsung menghantam rahang kiri Bagas secara telak.
“Aarrgghh!” erang Bagas ketika pukulan yang keras menghantam rahang kirinya.
Namun di saat yang bersamaan Bagas terlihat memutar tubuhnya sambil melepaskan tendangan memutar.
Duuaagghh!!
Tendangan Bagas masuk secara telak menghantam tulang pipi Julian.
Hantaman tinju Julian yang mengenai rahang kiri Bagas, dan tendangan telak dari Bagas yang bersarang di pipi Julian, sehingga membuat Bagas dan Julian sama-sama nampak limbung.
Namun, beberapa saat kemudian Julian kembali merangsek maju!!!
Bugh!!
Bugh!!
Julian melepaskan tinjunya.
Namun Bagas ternyata melakukan kesalahan yang cukup fatal, dia malah menghalau pukulan Julian itu dari sisi luar.
Pada saat Bagas mendorong lengannya justru tangan Julian mengikuti dorongan Bagas lalu sedikit menekuk tangannya membuat satu gerakan, dan saat itulah siku tangan Julian langsung menghantam pipiBagas dengan keras sekali.
Nampak Bagas sedikit limbung dan kembali ia mundur beberapa langkah sambil Bagas mengusap pipinya yang lebam akibat pukulan Julian tadi.
“Ayo maju sepupu!” Julian melemparkan sebuah sindiran mengarah kepada Bagas.
“Kubalas kau!” jawab Bagas dengan tegas dan ia pun langsung merangsek maju menyerang Julian.
Bugh!!
Pukulan kanan Bagas mengarah ke rusuk kiri Julian namun langsung ditangkis Julian dengan tangan kirinya dan berbalik Julian melayangkan pukulannya ke arah wajah Bagas dengan tangan kanannya membuat Bagas terpaksa melindungi wajahnya dengan tangan kirinya untuk menghalau serangan Julian.
“Bagus sepupu! Seranglah aku terus, jangan kendor!” ujar Julian memprovokasi Bagas.
Bugh!!
Bagas kembali melayangkan pukulan jab kirinya ke wajah Julian, namun Julian berhasil menepis serangan Bagas dengan sedikit mundur ke belakang. Melihat ada kesempatan Bagas terus melakukan serangannya.
Bugh!!
Bugh!!
Dua kali Bagas melancarkan pukulan kanannya ke rusuk kiri Julian. Namun kembali Julian berhasil menghindari serangan Bagas.
Bugh!!
Bagas kembali menyerang Julian, adrenalin Bagas naik, rasa letih yang dirasakannya sirna.
Bugh!!
Kembali Bagas melayangkan pukulan tangan kirinya kearah muka Julian. Serangan bertubi-tubi yang dilakukan Bagas tentu saja memaksa Julian menutup sisi terbuka. Melindungi wajahnya menggunakan kedua tangan.
Bugh!!
Melihat Julian hanya bertahan, kembali Bagas melayangkan dua pukulan dengan cepat menggunakan tangan kanannya lalu disusul dengan satu pulukan keras dengan tangan kirinya.
Bugh!!
Pukulan Bagas kali ini membuat sisi kepala Julian bagian bawah sedikit terbuka.
Wuuuzzhh!!
Sengaja Bagas mengecoh perhatian Julian dengan menggunakan pukulan tipuan tangan kanan ke arah wajah Julian. Hal ini membuat sisi kepala bagian bawah Julian sedikit terbuka, dan dengan cepat Bagas melayangkan pukulan uppercut tangan kirinya ke dagu Julian.
Buuuuaaaagh!!
Pukulan Bagas yang keras menghantam dagu Julian dengan telak membuat tubuh Julian limbung dan mundur ke belakang beberapa langkah.
"Hiiiiaatt!!" Teriak Bagas. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, berlari menerjang Julian sambil melompat dan melesatkan lututnya mengarah ke dada Julian. Melihat serangan Bagas yang mengarah ke dadanya Julian dengan sigap menyilangkan kedua tangannya di dadanya berusaha menahan seragan dari Bagas.
Duuuuuuugh!!
Kuatnya dorongan dari serangan Bagas membuat Julian terhempas. Namun Julian bukanlah orang yang bisa dianggap remeh, Julian merupakan seorang petarung yang hebat, walaupun tubuhnya terjatuh namun Julian masih sempat melayangkan sebuah tendangan ringan dengan kaki kakannya dan sukses bersarang di punggung Bagas.
Taaappp!!
Dengan gerakan sangat cepat, Julian menghentakkan tubuhnya yang terbaring di tanah, lalu melakukan lentingan dan kembali berdiri.
"Sekarang giliranku sepupu...!" Ucap Julian sambil menyeringai. Nampak sorot matanya menjadi sangat tajam. Melihat situasi yang demikian membuat Bagas langsung memasang sikap waspada dan bersiap untuk menerima serangan yang akan dilakukan oleh Julian.
Dugh!!
Dugh!!
Julian bergerak maju dengan cepat, Sambil melayangkan tendangan menggunakankaki kanan dan kirinya secara berganntian. Bagas masih mampu menahan ketiga tendangan silih berganti yang di layangkan Julian dengan menahan menggunakan kedua tangannya dan menutup secara cepat sisi kanan dan kiri tubuhnya secara bergantian.
Julian tak berhenti di situ, dia kembali melayangkan satu tendangan keras mengarah ke dada Bagas dengan kaki kakannya.
Dugh!!
Walau sempat ditahan Bagas menggunakan dua bahu tangannya, namun kerasnya tendangan yang dilayangkan Julian membuat pertahanan Bagas jebol.
Bruuuuaaaaak!!
Tubuh Bagas terhempas dan tersungkur di tanah. Belum puas melihat Bagas tersungkur Julian bergerak maju untuk menyerang kembali.
Wuuuzzhh!!
Bagas berguling menggeser tubuhnya sedikit menyamping. Menghindari injakan kaki yang dilesatkan Julian.
Wuuuzzhh!!
Bagas merunduk lalu memutar tubuhnya. Dia melesatkan sebuah tendangan memutar, menyapu kaki milik Julian. Namun dengan sigap Julian melakukan lompatan pelan dan melayangkan tendangan samping dengan kaki kirinya.
Dugh!!
Bagas sempat menghalau tendangan pelan yang di layangkan Julian. Akan tetapi kuda-kudanya yang belum sempurna membuatnya kembali roboh hanya dengan tendangan ringan yang dilancarkan oleh Julian.
Braaaaakk!!
Sekali lagi tubuh Bagas terhempas berbenturan dengan tanah secara cukup keras.
Taaappp!!
Julian melompat dan bersiap menerjang tubuh Bagas yang masih terbaring di tanah.
"Bahaya....!" Gumam Bagas dalam hati. Bagas pun dengan cepat menggulingkan tubuhnya di tanah yang basah dan berlumpur itu untuk menghindari terjangan dari lutut Julian.
Namun...
Buuaaagh!!
Lutut julian dengan keras menghantam tanah tepat di sebelah tubuhku.
“Nyaris saja!” ucap Bagas dalam hatinya.
Untung saja Bagas dengan cepat bisa berkelit sehingga ia sedikit bisa bernapas lega. Tak terbayang jika serangan itu mengenainya. Julian masih terlihat belum beranjak dari posisi tubuhnya yang bertumpu di lutut.
"Dia pasti mengalami cidera lutut karena benturan tadi" Gumam Bagas membatin. Melihat kesempatan itu, Bagas langsung saja melesatkan tendangan vertikal-nya untuk membuat Julian roboh.
Dugh!!
Julian masih mampu meredam tendangan Bagas dengan menggunakan satu tangannya. Melihat Julian belum bisa beranjak, dengan cepat Bagas kembali melakukan tendangan vertikal sekali lagi.
Dugh!!
Dengan tendangan kedua dari Bagas membuat tubuh Julian semakin merunduk ke bawah.
Dugh!!
Tak mau menyia-nyiakan keadaan yang sedang berpihak padanya, Bagas dengan cepat melesatkan tendangan yang ketiga dengan sekuat tenaga, dan tendangan yang ketiga dari Bagas membuahkan hasil, Julian roboh dan tersungkur ke tanah.
Bruuuuuuk!!
Melihat celah yang terbuka lebar, Bagas segera melompat sambil melakukan tendangan yang mengarah ke tubuh Julian.
Daaagh!!
Namun...
Julian dengan sigap berhasil menangkap kaki Bagas sehingga membuat keseimbangannya hilang.
Buuagh!!
Saat tubuh Bagas oleng, Julian langsung menerjang Bagas sambil melayangkan sebuah tinju keras.
Braaaaakkk!!
Tinju Julian dengan telaknya bersarang di pelipis kiri Bagas. Saling kuat dan kerasnya hantaman tersebut membuat Bagas kembali terkapar di tanah yang berlumpur itu.
Beeegh!!
Belum sempat Bagas beranjak, Julian dengan cepat menduduki dadanya.
“Bahaya…!” ucap Bagas membatin melihat posisinya saat ini yang benar-benar sedang terjepit.
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Buagh!!
Bugh!!
Buagh!!
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Posisi Bagas yang terjepit itu tak disia-siakan oleh Julian dengan mengunci tubuh Bagas, Julian langsung melakukan pukulan bertubi-tubi mengarah ke muka Bagas. Bagas hanya mampu menutupi mukanya dengan bahu tangan, namun karena banyaknya tinju yang dilesatkan oleh Julian membuat beberapa pukulan Julian sempat mengenai pelipis dan sudut mulut Bagas.
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Julian merasa berada di atas angin, dia tanpa lelah terus saja menghujani daerah wajah Bagas dengan tinjunya bertubi-tubi.
"Bahaya ini, jika saja terus dalam keadaan terjepit seperti ini bisa-bisa tewas aku di tangan Julian!" Bagas kembali membatin.
Buagh!!
Buagh!!
Buagh!!
Tiga tinju Julian kembali masuk dengan sangat telak menghantam wajah Bagas. Bagas memang sengaja membuka sudut di kepalanya sedikit terbuka lalu tangannya melakukan hentakkan ke tanah dengan mengerahkan seluruh tenaga pada kakinya.
Duuuuaaaagh!!
Dan hasilnya sebuah tendangan keras Bagas ternyata berhasil menghantam punggung Julian dengan sangat keras dan telak membuat tubuh Julian terdorong dan terhempas ke depan melewati tubuh Bagas.
Braaaakkkk!!
Tubuh Julian jatuh ke tanah yang berlumpur itu.
“Aaarrgghh...!” erang Julian kesakitan.
Beeeeegh!!
Dengan gerakan cepat Bagas bangkit lalu ia menerjang tubuh Julian. Bergantian kini Bagas yang menduduki tubuh Julian.
Dan.......
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Buagh!!
Bugh!!
Buagh!!
Bugh!!
Bagas meniru apa yang tadi dilakukan Julian, yaitu melesatkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah Julian. Memaksa Julian secara refleks hanya bisa menutup kepalanya dengan kedua tangannya untuk memberikan perlindungan dengan menutup ruang terbuka di wajahnya.
Namun, sia-sia usaha Julian melindungi wajahnya.
Buagh!!
Buagh!!
Buagh!!
Beberapa pukulan Bagas masuk dengan sangat telak bersarang di wajah Julian.
Namun tanpa Bagas duga dan perkirakan dengan tiba-tiba Julian juga melakukan hal yang serupa dengan yang ia lakukan. Julian berhasil menendang punggung Bagas dengan kuat dan tepat.
Duuuaaaagh!!
Saking kuatnya tendangan Julian membuat tubuh Bagas sampai terdorong ke depan melewati tubuhnya.
“Aaarrrgghh!” erang Bagas kesakitan saat tubuhnya terhempas ke dalam tanah yang berlumpur dalam keadaan tertelengkup.
Melihat kondisi Bagas yang kesakitan, Julian segera bangkit dan menyergap Bagas.
Beeegh!!
Hanya dalam hitungan sepersekian detik, kini Julian bergantian menindih tubuh Bagas lagi yang kini dalam posisi tengkurep.
"Kleeeeeeeeeeek...!"
Julian sepertinya tidak ingin memberi kesempatan lagi untuk Bagas bangkit. Dia langsung saja mengalungkan tangan kirinya melingkari leher Bagas dan usahanya itu berhasil, Julian mampu sekarang melakukan kuncian pada leher Bagas.
"Eeeeeeeeeeegh...!" Erang Bagas tercekik saat tangan kanan Julian membantu menekan kencang lehernya. Hal itu jelas membuat Bagas susah untuk bernapas.
"Egh!!! Eeeegh!!! Eeeeeeeeeegh!!!" Bagas semakin tercekik, namun dorongan untuk tetap hidup memaksanya bertahan sekuat tenaga. Dengan sekuat tenaga Bagas memegang erat tangan kiri Julian lalu dengan susah payah mendorongnya berusaha melepaskan kuncian tangan yang dilakukan oleh Julian.
"Kreeeeeek...!"
Namun usaha Bagas sia-sia, Julian justru semakin kuat menarik dan mengeratkan kunciannya.
"Eeeeegh...!" Bagas semakin terdesak, oksigen di paru-parunya semakin menipis.
"Wuuuut!!! Wuuuut!!!"
Bagas mencoba melakukan hentakan dengan menggunakan kedua kakinya berharap ia bisa menghempaskan tubuh Julian atau setidaknya melonggarkan cekikan di lehernya, namun berat tubuh Julian yang menindih tubuhnya membuat hal itu sia-sia.
"Eeeegh!!! Eeeeeeeegh!!!" Bagas semakin sulit bernapas. Julian benar-benar berniat ingin membunuh Bagas.
"Berpikir, Gas...! Berpikir...!" Gumam Bagas seperti sedang menyemangati dirinya mencoba bertahan hidup sekaligus mencari cara supaya keluar dari kondisi terjepit ini.
"Eeegh!!! Eeeeegh!!!"
"Nyawaku benar-benar di ujung tanduk, tenagaku mulai melemah, sepertinya oksigen di paru-paru telah habis." Bagas membatin kembali.
Walau kemungkinannya sangat kecil, Bagas melepas tangan yang ia pergunakan untuk menahan kuncian di lehernya tadi.
"Eeeeeeeeegh!"
Dan sontak hal itu justru membuat lehernya semakin tercekik. Sesaat Bagas mencoba memejamkan kedua matanya, berkonsentrasi. Kemudian dengan sisa-sisa tenaga yang masih ia miliki. Bagas mencoba meraih kepala Julian.
Sangat susah, beberapa kali usahanya gagal dan Bagas semakin terjepit. Namun Bagas tak putus asa, akhirnya usahanya membuahkan hasil. Setelah tangan Bagas mampu menjangkau kepala Julian, Bagas pun segera mencengkram erat-erat kepala Julian.
"Aaaargh...!" Teriak Bagas kencang sambil mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk membanting tubuh Julian ke depan.
Braaaaakkkk!!
Dan usaha Bagas membuahkan hasil, tubuh Julian kembali terhempas dan terdorong ke depan. Tak mau kecolongan lagi, Bagas segera melompat menggunakan berat tubuhnya untuk menabrak tubuh Julian.
"Kleeeeeeeek!!"
Dengan cepat Bagas meraih tangan kiri Julian, bersamaan dengan mengunci kepala Julian menggunakan kedua kakinya.
"Egh!!! Eeegh!!!"
Apa yang Bagas lakukan otomatis membuat Julian kesulitan untuk bernapas.
"Kleeeeeek!!!"
Semakin Bagas pererat kuncian kakinya seiring tangannya menarik kuat tangan kiri Julian.
"Eeeeeeeeeegh!!!" Tentunya membuat Julian semakin terpekik.
“Sebentar lagi, sebentar lagi dia pasti pingsan kehabisan pasokan oksigen dan tenaga.” Ucap Bagas membatin.
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Julian belum menyerah, dia bertubi-tubi memukuli kaki Bagas. Dan yang dilakukan Bagas hanya bertahan dan semakin menekan leher dan kepala Julian dengan kakinya.
"Kleeeeeeek!!!"
Bagas bertahan sambil mengencangkankuncian kakinya lalu menarik tangan kiri Julian semakin lurus ke arahnya.
"Aaaaaaargh....!" Julian semakin mengerang kesakitan. "Kalau aku diam saja, bisa mati aku ditangan Bagas ini!" Gumam Julian membatin.
Duuuaaaagh!!
Tiba-tiba...
Sebuah hantaman keras bersarang di bahu Bagas dan ternyata itu adalah ulah Julian. Dengan sisa-sisa tenaganya, Julian berhasil memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ke arah bahu Bagas.
Braaaakkkk!!
Tendangan keras Julian membuat tubuh Bagas terhempas dan kembali menghantam tanah tengan posisi tertelungkup. Dengan sisa-sisa tenaga Bagas bergerak berputar membalik tubuhnya untuk mempermudah ia bernapas. Sementara waktu, Bagas membiarkan tubuhnya terbaring menghadap langit-langit yang masih nampak mendung. Sejenak Bagas rehat melepas rasa letih, terasa tetes demi tetes air hujan tak lelah membasahi sekujur tubuhnya.
"Haaah... Haaaaah... Haaaaaaah..." Tenaga Bagas terkuras habis, rasa letih membuatnya enggan berdiri. Tubuhnya seperti mati rasa tak mampu lagi ia gerakkan. Sejenak Bagas menoleh untuk melihat keadaan Julian. Ternyata hal yang sama juga ditunjukan oleh Julian. Dia juga masih terbaring lemah, dadanya bergerak cepat, naik turun mengikuti napasnya yang tersengal-sengal. Sepertinya bukan hanya tenagaku yang habis terkuras, Hal yang sama juga dialami oleh Julian. Seperti telah dirancang sebelumnya, secara kompak kami beristirahat sejenak sambil mengatur napas dan mengumpulkan kembali energi kami.
"Gaaaaas!"
"Bagaaaas!"
"Bangun, Gaaas!"
"Bertahan, Gaaas!"
"Gaaaas!" Samar-samar terdengar di telingaku suara dua gadis memanggil namaku. Dua suara yang sangat tidak asing di telingaku. Walau samar-samar namun aku bisa memastikan dua gadis itu adalah April dan Nadia.
“Hidup, aku harus terus hidup. Aku tak boleh menyerah. Kali ini aku tak boleh kalah. Aku terlanjur berjanji untuk melindungi orang-orang yang kusayangi. Dan sebuah janji harus kutepati. Itu amanah dari salah satu sahabat terlebih dia telah menjadi kakak untukku. Dia yang selalu menyemangatiku. Memberi jalan saat buntu menjadi momok utamaku saat berjuang.. Berjuang, berjuang, Gaaas...! Aku harus benar-benar berjuang...! Masih banyak yang harus kuselesaikan...! Masih banyak janji yang harus kutepati...! Masih banyak yang mampu kuraih kelak...!” Bagas menyemangati dirinya sendiri.
Beberapa detik kemudian...
Nampak Julian mulai bangkit dengan tertatih-tatih. Begitu juga dengan Bagas dengan susah payah ia bangkit menggunakan sisa-sisa tenaganya. Keduanya kembali kompak, berjalan dengan tertatih-tatih saling mendekat dan pada saat jarak mereka hanya berjarak satu pukulan saja. Keduanya sama-sama sempat terdiam sesaat.
Bagas memandang tajam ke arah Julian. Begitupun Julian melakukan hal yang sama menatap Bagas dengan penuh kebencian. Bahkan sesaat Julian sempat tersenyum sinis pada Bagas.
“Menyebalkan...!” Gerutu Bagas dalam hati.
Buagh!!
Bagas melesatkan sebuah pukulan mengenai sudut mulut Julian membuat tubuh Julian sedikit limbung.
Namun...
Buagh!!
Julian pun tidak tinggal diam, dia pun membalas Bagas dengan sebuah tinju yang bersarang di tulang pipi Bagas sehingga berganti kini tubuh Bagas yang oleng.
Buagh!!
Bagas merasakan perih hasil dari pukulan Julian, namun kembali Bagas melayangkan sebuah pukulan yang keras menghantam muka Julian. Terlihat berganti tubuh Julian yang oleng menerima pukulan dari Bagas.
Buagh!!
Namun sekali lagi, Julian mampu membalas pukulan Bagas. Dengan melancarkan tinjunya mengarah ke wajah Bagas. Bagas kembali oleng, kakinya mulai bergetar hebat.
"Bertahan, Gaas...!” Terdengar kembali walau samar-samar, suara April maupun Nadia hampir bersamaan. Mereka berteriak memberiku semangat. Pendengaranku kini semakin samar.
Buuuaaagh!!
Dengan sisa tenaga Bagas kembali melayangkan sebuah pukulan. Pukulan yang cukup keras menggunakan tangan kiri mengarah ke muka Julian. Tubuh Julian oleng ke kanan akibat pukulan Bagas barusan. Tetapi, Julian pun tak mau menyerah.
Buuuaaagh!!
Menggunakan sisa-sisa tenaga yang ia punya, Juliam kembali melayangkan tinju dan telak menghantam pelipis Bagas. Kembali tubuh Bagas oleng, kakinya semakin bergetar hebat. Bagas mencoba sekali lagi merobohkan Julian.
Buuuaaaagh!!
Buuuuaaagh!!
Buuuuaaagh!!
Buuuuaaagh!!
Tidak terelakan lagi, terjadi adu fisik dengan saling memukul dan menerima pukulan terjadi di antara keduanya. Rasa letih membuat keduanya sama-sama tak mampu menghindari pukulan lawan.
Bagas nampak sangat letih. Pandangannya mulai mengabur, seluruh wajahnya sepertinya lebam, tubuhnya serasa remuk redam dan kini bukan hanya kakinya yang bergetar melainkan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tangan Bagas tidak mampu lagi digerakan untuk membalas kembali pukulan yang dilayangkan Julian.
Sepertinya nasib serupa juga dialami olehJulian. Dia memilih diam menghemat tenaganya yang benar-benar terkuras habis. Sepertinya dia tak kuat untuk melancaran sebuah pukulan lagi. Padahal jika terkena pukulan sekali lagi, mungkin Bagaslah yang bakalan roboh.
"Kau layak menjadi sepupuku, Gas!" Seru Julian dengan lirih sambil tersungging senyuman tipis di mulutnya. Bagas membalas dengan mengembangkan sebuah senyuman juga.
Bugh!!
Sangat pelan Julian memukul dada Bagas.
Bugh!!
Dengan mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa, Bagas mencoba kembali melayangkan pukulan membalas pukulan yang dilayangkan oleh Julian.
Bruuukkkk!!
Namun pukulan Bagas hanya mengenai bahu Julian, kakinya semakin bergetar hebat sehingga ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya menabrak tubuh Julian. Kuda-kuda Julian yang lemah tak mampu menahan tubuh Bagas membuat tubuh keduanya kompak tersungkur membentur tanah.
Tubuh Julian terbaring di samping tubuh Bagas yang terkapar.
Mata Bagas terpejam dengan sendirinya, namun walau samar-samar aku masih bisa mendengar bising suara menggema seperti suara sebuah bunyi helycopter mendekat dengan cepat. Walau tidak mampu membuka matanya namun Bagas masih bisa merasakannya. Angin kencang bercampur air hujan mendera sangat kencang dari segala arah.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar