ADAPTASI PART 59

 

POV APRIL






Sehabis kami terlibat dalam duel menggunakan senjata api. Tenaga kami benar-benar terkuras mengingat banyaknya musuh yang harus kami hadapi. Lebih parahnya kini peluru dari senjata yang kami bawa telah habis.




Kini, Aku berdiri berdampingan dengan Nadia. Kami berdua telah bersiap dengan senjata masing-masing. Aku menggenggam ninjato di tangan kanan. Dan Nadia telah bersiap mengayunkan kodachi yang berada di genggaman tangan kirinya.




Di depan kami berdiri 5 musuh, satu di antaranya Oscar sang Shark. Satu dari 6 anggota Hell Warior.




"Habisi mereka berdua...!" Teriak lantang Oscar, memerintah keempat anak buahnya untuk menyerang kami. 4 anak buah Oscar masing-masing menggenggam sebuah celurit. Benar, celurit merupakan senjata khas yang di gunakan pengikut Oscar. Dan keempat anak buah Oscar yang berdiri di sini, Aku pastikan adalah 4 Killer Shark. Killer Shark merupakan sebutan yang di sandang pengikut Oscar. Karena kesadisannya mereka yang selalu mencabik-cabik targetnya hingga tewas.




Mendengar perintah dari Oscar membuat dua Killer Shark berhambur ke arahku dan dua lainnya berhambur ke arah Nadia.




"Traaank!!!"


"Traaank!!!" Aku mengayunkan ninjato dua kali untuk menghalau dua serangan musuh yang hampir bersamaan.


"Duaaagh.." Namun sebuah tendangan dari musuh yang berada di sebelah kiri tak mampu aku hindari. Membuat tubuhku limbung.




“Wuuuuuzt…!”


"Traaank!!!"


"Traaank!!!"




"Craaaaash...!" Aku sedikit kuwalahan karena mereka menyerang secara frontal dan bergantian tanpa jeda. Saat aku limbung, musuh yang berada di sebelah kanan menggunakan moment tersebut dengan baik. Dia mengayunkan celurit menggores lengan kiriku.




Perih...! Aku harus semakin berhati-hati. Terus terang faktor keletihan menjadi penghambat untuk aku bisa mengimbangi gerakan cepat dari dua lawanku. Tak jauh berbeda dengan Nadia sekarang. Sepintas aku melihat Nadia juga mulai kuwalahan menghadapi dua musuh yang menjadi lawan duelnya kali ini.




Bahaya...! Oscar mulai maju dan mengambil dua celurit yang berada di balik punggungnya. Kami semakin mundur. Namun di belakang kami berdua nampaknya sebuah jurang, membuat kami tak mampu mundur lebih jauh lagi. Kini kami dalam keadaan benar-benar terdesak.




Oscar mulai mengayungkan dua celuritnya dan menerjang ke arahku.




"Traaaaaaaank!!!" Sebuah ayunan celuritnya mampu aku halau dengan menyilangkan ninjato.


"Craaaaashhh...!" Namun dengan cepat Oscar mengayunkan celurit yang berada di tangan kirinya. Tak mampu aku hindari menyayat pahaku.




Sakiiiiit…!


Periiiih…!




"Craaaaashhh...!" Belum sempat aku berdiri sempurna, satu anak buah Oscar mengayunkan celuritnya merobek rompi anti peluruku bagian belakang.


“Duuuuaaaaagh...!” Tak lama kemudian, sebuah tendangan memutar. Sangat telak mendarat ke daguku.


"Bruuuuuakkk.! Tubuhku kembali terhempas membentur tanah berlumpur. Melihat aku telah kalah, Oscar beralih menghampiri Nadia.


“Awas Nad....!” Seruku. Namun terlambat.


“Duuuuaaaaagh…!” Oscar dengan sangat cepat melompat dan melesatkan sebuah tendangan kejutan untuk Nadia.


“Bruuuuaaak…!” Tubuh Nadia nampak terhempas menerima tendangan keras yang di lancarkan Oscar.




Bahaya...! Saat ini kami berdua dalam keadaan terdesak, aku sengaja berhambur ke arah Nadia terkapar. Oscar bersama anak buahnya semakin mendekat ke arah kami. Kami berdua hanya bisa sama-sama meringkuk, menunggu ajal yang sebentar lagi menjemput. Kupeluk tubuh Nadia dan sebaliknya. Tiba-tiba aku melihat sekelebatan bayangan hitam berhambur kearah kami.




'Taaaagk!!!'


'Taaaagk!!!'


'Taaaagk!!!'




Kami berdua di buat terkejut oleh kehadiran kakek bungkuk secara tiba-tiba. Dengan hanya menggunakan ranting kecil kakek melepaskan 4 ayunan mengarah ke empat anak buah Oscar.




“Bruuuk...!”


“Bruuuk...!”


“Bruuuk...!” Satu persatu dari keempat anak buah Oscar roboh dengan tiba-tiba. Kami dibuat takjub oleh kemampuan kakek. Kakek bungkuk hadir benar-benar di saat yang krusial. Nyawa kami terselamatkan oleh kehadiran kakek.




Oscar sepertinya meradang melihat anak buahnya di kalahkan begitu mudah oleh kakek. Dia lalu menyerang kakek dengan kecepatan tinggi.




Wuzh!!


Wuzh!!!


Wuzh!!


Wuzh!!!




Wuzh!! Empat ayunan celurit yang di layangkan Oscar dengan mudah di hindari kakek.


Tagk!! Pukulan pelan kakek menggunakan ranting membuat satu celurit milik Oscar terjatuh.


“Bangsat kau tua bangka...!” Seru Oscar, terlihat dia begitu emosi. Dia kembali menerjang kakek.




Wuzh!!


Wuzh!!!


Wuzh!!


Wuzh!!!


Duuuugh!!!




Duuuugh!!! Dia menyerang kakek secara sporadis menggunakan celurit yang tersisa. Sembari melakukan tendangan ganda namun mampu di halau oleh kakek dengan mudah.




“Duuuuaaagh!!!” Kakek membalas dengan melayangkan tendangan lurus menghantam dagu oscar.




“Bruuuuaaak!!!”




"Traankk... trankkk.. trankkk.." Tubuh oscar terhempas beberapa meter ke belakang. Bersamaan dengan celuritnya yang ikut terhempas dari pegangan tangannya.


"Bangun...!" Kakek berseru menyuruh Oscar kembali bangun. Lalu membuang ranting pohon yang dia pegang. Sambil memberi waktu untuk Oscar agar kembali bangkit.


“Hiiiiaaaat…..!” Teriak Oscar sambil berlari menyerang Kakek.




''Bugh!!!''


''Bugh!!!''


"Bugh!!!"


"Dugh!!!"


"Bugh!!!"


"Dugh!!!"




"Dugh!!!" Secara membabi buta, Oscar melayangkan pukulan dan tendangan kearah kakek. Namun dengan sangat tenang kakek mematahkan semua serangan Oscar. Serangan yang di lancarkan Oscar sama sekali tak berpengaruh untuk kakek.


"Buuuuaaaagh...!" Kakek membalas dengan sebuah pukulan. Pukulan kakek meluncur deras telak bersarang ke ulu hati Oscar. Aku melihat Oscar terhentak mundur.




Buagh!!!


Buagh!!!


Buagh!!!


Buagh!!!




Buagh!!! Kini kakek yang mulai menyerang. Kakek merangsak maju dengan gerakan pelan. Dan menghujani tubuh Oscar dengan pukulan bertubi-tubi.




Buuuuuuaaaggggg!!! Diakhiri dengan sebuah uppercut keras dari kakek yang telak menghantam dagu Oscar. Pukulan itu sekaligus mengakhiri pertarungan mereka.




Bruuuuuk!!! Aku melihat tubuh oscar roboh tak bergerak




.


..


...




Setelah sejenak mengatur napas dan beristirahat untuk memulihkan tenaga. Aku, Nadia beserta Kakek memutus untuk berhambur ke tengah tanah lapang. Tanah lapang yang dijadikan sebagai pusat dari medan pertempuran. Sepanjang jalan yang kami lewati menampilkan pemandangan yang mengerikan. Banyak mayat bergelimpangan. Terlebih dari kubu musuh. Aku hanya melihat 3 pasukan siluman yang tergeletak dan tewas karena luka tembak. Di beberapa titik, aku masih mendengar sahut-sahutan suara desingan tembakan. Kami memilih fokus terus berjalan menuju tengah arena yaitu tanah lapang yang berada tepat di lereng gunung.


.


..


...


Sekarang yang ada di pikiranku cuman satu hal yaitu keselamatan Bagas. Jujur melihat kondisi seperti ini, mau gak mau aku terpaksa nguatirin keselamatan Bagas.




Semoga Bagas baik-baik saja…!Doaku lirih.








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


3rd






Berada tepat di lereng gunung. Menampilkan hamparan tanah lapang yang cukup luas. Nampak di sana dua kelompok berisi beberapa manusia saling berhadapan.




Di sisi sebelah kiri terlihat 6 manusia berdiri sebaris. Di antaranya Julian, Robin, Jacob, Cobra, Rian dan terakhir adalah seorang wanita Berparas sangat cantik bernama Linda atau lebih di kenal dengan sebutan Mrs Snake.




.


..


...




Di sisi sebaliknya berada di sebelah kanan atau kubu Harimau. Harimau bungsu atau lebih di kenal dengan panggilan Belut berdiri di tengah. Sebaris dengan 2 orang pasukan siluman yang berada di sisi kanan dan kirinya.




"Tunggu..!" Bersamaan dengan hujan yang semakin deras dan tak kunjung reda. Terdengar teriakan pemuda yang cukup keras. Teriakannya jelas mengalihkan perhatian semua orang yang berada di kubu kiri atau pun kanan. Pemuda tersebut adalah Bagas. Kemudian nampak Bagas berlari menuju kelompok belut berada. Dia bergabung dengan pamannya dengan menjadi pria ke empat di kubu kanan.




"Sebentar...! Tak akan adil kalau 4 berbanding 6...!" Kembali konsentrasi mereka terganggu, kali ini dari wanita cantik nan sexy bernama Linda. Sejenak dia terlihat melempar senyum ke arah Belut sembari kemudian berjalan sambil melenggak lenggokkan pantatnya yang sangat sekal. Berjalan dengan sangat menggoda ke arah Belut.




Sungguh sempurna wanita tersebut...! Dia mempunyai paras cantik yang dipadu dengan bentuk tubuhnya yang sangat sexy menggoda…!




"Tak ada senjata api disini...!" Seru Julian. Sembari terlihat Julian melepas sabuk kulit tempat dimana dia meletakkan senjata revolver, yang berada di pinggangnya dan membuangnya.




Bukan hanya Julian, Keempat orang yang berdiri sejajar dengannya melakukan hal yang sama, yaitu melemparkan senjata api yang mereka bawa.




Tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan kubu Belut. Di mulai dengan Bagas yang ikut melempar pistol merk jericho yang terselip di pinggang bagian belakang. Di ikuti oleh Belut lalu anggota lainnya.




Mereka semua terlihat memilih untuk tidak menggunakan senjata api dalam duel 5 vs 5 yang sebentar lagi akan berlangsung.




.


..


...




Tak beberapa lama kemudian, terlihat dari kubu sebelah kiri. Cobra memilih untuk menjadi yang pertama kali maju ke tengah tanah lapang. Dan nampak dari kubu Belut seorang pasukan Siluman ber codename 5 berniat menghadapi Cobra. Namun niatnya di halangi oleh Linda. Linda memilih Cobra yang menjadi lawannya saat ini.




Iya. Pertarungan pertama akan menampilkan duel dua berbisa. Cobra akan berhadapan dengan Linda atau lebih di kenal Mrs Snake karena keahliannya di bidang racun.




Setelah mereka berdua tepat berada di tengah tanah lapang. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak 10 meter. Jarak yang cukup jauh untuk duel fisik secara langsung. Sepertinya pertarungan senjata rahasia akan tersaji sebentar lagi mengingat kedua petarung kali ini merupakan sama-sama ahli di bidang racun dan senjata rahasia.




"Trink!!!"


"Trink!!!"


"Trink!!!"


"Trink!!!"Benar saja, dalam gerakan lambat nampak beberapa jarum tak kasat mata saling berbenturan.




Jarum hasil lontaran dari Cobra maupun Linda. Bukan jarum biasa, melainkan jarum beracun dan sangat mematikan. Mengingat keduanya merupakan dua ahli racun yang sangat hebat.




“Sriiing...!”


“Sriiing...!” Tiba-tiba terlihat Cobra dengan sangat cepat mencoba merangsek maju sembari berlari mendekat kearah Linda sambil melontarkan beberapa pisau beracun.




“Sriiing...!”


“Sriiing...!”


“Sriiing...!” Linda tak bergeming. Dia nampak tenang, sambil membalas melemparkan kembali beberapa jarum untuk mematahkan serangan dari Cobra.


"Bruuuuuuukkk...!" Berjarak kurang dari 3 meter dari posisi Linda berdiri. Secara mengejutkan tubuh Cobra tiba-tiba roboh.




Dalam gerakan lambat, tiga pisau yang di lontarkan Cobra di patahkan dengan jarum-jarum yang di hentakkan dari jemari Linda. Dan ternyata salah satu jarum yang di lesatkan Linda lolos dari pengamatan Cobra. Sehingga tak terasa menggores lengan Cobra. Dalam hitungan detik, tubuh Cobra yang tersungkur perlahan menghitam. Kadar racun dari jarum yang di lesatkan oleh Linda membuat cobra tewas dalam hitungan detik.




Plaaak!!! Plaaak!!! Plaaak!!! Julian bertepuk tangan sambil tersenyum sinis.




Mengetahui musuhnya tewas. Linda kemudian berjalan kembali ke arah kubu Belut.




“Trima kasih…” Seru Belut sambil menganggukan kepala menyambut kedatangan Linda.




Linda terus berjalan mendekati Belut, kemudian terlihat pemandangan yang membuat iri banyak kaum adam.




"Cuuup...!" Tanpa malu-malu Linda mengecup pipi Belut. Lalu menjulurkan lidahnya. Menjilat peluh bercampur air hujan yang membasahi pipi milik Belut. Belut memilih berdiam diri, cuek tak menanggapi apa yang di lakukan wanita berparas cantik itu. Dia lebih memilih menatap tajam ke depan. Hanya anggukan dan ucapan kata trima kasih, hal yang dilakukan Belut untuk menanggapi perlakuan Linda. Linda yang sepertinya gemas dengan Belut melakukan hal lebih.




"Cuuupp!!!" Dengan berjinjit karena tinggi tubuhnya jauh dibawah belut, linda lalu mengecup bibir belut. Sial..! Belut benar-benar menang banyak batin semua pria yang berada di situ dan melihat apa yang di lakukan Linda.




.


..


...




Berselang waktu, kini dari sisi kiri Jacob memilih maju untuk menjadi peserta kedua dalam duel selanjutnya. Jacob terus melangkah maju seraya mengambil karambit yang terselip di pinggang bagian belakangnya. Terlihat dari pihak Belut, seorang pasukan siluman dengan Codename 7. Pria dengan postur tubuh kurus tinggi nampak maju. Dia maju sambil mengeluarkan pisau belati yang terselip di belakang rompi anti peluru yang di pakainya.




Sepertinya pertarungan jarak dekat akan mereka lakukan sebentar lagi.


.


..


Benar saja, berjarak 2 meter dari lawannya. Jacob mulai merangsek maju sangat cepat sembari bersiap untuk melakukan serangan awal.




"Traaaaaaank!!!"


"Traaaaaaank!!!" Dua sabetan karambit terlihat mampu di patahkan oleh belati yang di bawa Codename 7 




"Wuuuuuzzhh..!" Terlihat Seven, melakukan counter attack. Dengan menyapu kaki jacob dengan serangan tendangan memutar.


"Taappp...!" Namun jacob yang telah bersiap, melakukan lompatan sembari mengarahkan dua karambit secara vertikal dari atas!!!


"Wuuuuuuuuzh!!!" Seven menghindar dengan berkelit ke kiri sembari melakukan sabetan belati ke arah kaki Jacob.


"Traaaaank...!" Terlihat jacob tersenyum saat belati dari lawan duelnya beradu dengan besi yang berada di tulang kering kakinya. Seven nampak tercengang dengan kaki Jacob yang ternyata di lapisi lempengan besi. Kesempatan iti dimanfaatkan dengan baik oleb Jacob.


"Duuuaaaaaaaagh!!!" Sebuah tendangan dari Jacob dengan cepat menghantam kepala Seven.




Membuat Seven yang bertubuh kurus terhempas beberapa meter ke belakang.




'Braaaaaaaaak!!!'




Tak cukup berhenti di situ, Jacob tak mau menyianyiakan keadaan yang sedang berpihak padanya. Sambil merangsek maju dan melemparkan karambit yang dia genggam.




"Siiiiink!!!!" Namun dengan gerakan tak kalah cepat Seven mampu bangkit dan memutar tubuhnya untuk menghindari lemparan karambit dari Jacob.


"Craaaaaaaaash!!!" Kembali Jacob tersenyum sinis. Jacob menarik kawat tipis berwarna bening yang menghubungkan tangannya dengan karambit yang sempat dia lempar. Tarikan itu membuat karambit kembali ke tangan jacob dan sempat menyayat lengan Seven.




Merasa diatas angin, Jacob kembali merangsek maju dengan cepat.




Wuuuzh!!!


Trank!!!


Craaaash!!


Wuuuuzh!!!


Craaaash!!


Wuuuzh!!!


Trank!!!


Craaaash!!




Wuuuuuzh!!! Terlihat Jacob secara bertubi-tubi melayangkan ayunan karambit ke arah Seven dengan sangat cepat. Seven nampak kuwalahan menghadapai serangan cepat yang di layangkan oleh Jacob. Sehingga beberapa kali tubuhnya tersayat oleh karambit milik Jacob.




Jacob semakin maju dan sebaliknya Seven memilih mundur. Seven nampak terdesak oleh serangan demi serangan yang di lancarkan Jacob.




Craaaash!!


Wuuuzh!!!


Trank!!!


Craaaash!!




Wuuuuzzh!!! Melihat musuhnya kali ini kuwalahan, Jacob semakin menggila dengan menaikan tempo serangan. Membuat Seven semakin keteteran dan terpojok.




"Duuuuuuuuuuaaaaaaagh..!!" Sedikit ruang terbuka dimanfaatkan dengan baik oleh Jacob dengan melayangkan sebuah tendangan mengarah perut Seven. Membuat Seven melakukan kesalahan fatal yaitu menunduk menahan rasa sakit yang mendera perutnya.




"Attaaaaack!!!"




"Sraaaaaaaaaaaagh....!!!" Teriak Jacob saat dirinya melakukan lompatan melewati tubuh Seven. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat menancapkan dua karambitnya secara bersamaan ke leher lawan duelnya tersebut.




.


..


...




Seven bersimpuh lalu dengan gerakan lambat telungkup dengan dua luka menganga yang cukup lebar di lehernya. Luka yang membuatnya tewas seketika. Duel kedua di menangkan pihak Julian, membuat skor menjadi imbang yaitu 1 : 1.


.


..


...


Melihat temannya tewas. Pria berbadan tegak salah satu pasukan siluman dengan sebutan codename 5 mengeratkan kedua kepalan tangan sambil maju ke depan. Dia berhenti sesaat untuk memakai sarung tangan berwarna hitam yang dia bawa. Five, pria berbadan tegap dari kubu Belut tersebut mengacungkan tinjunya ke arah kubu Julian.




Profokasi yang dilakukan Five berhasil. Di kubu Julian, Robin tersulut emosinya. Dan seperti akan menerima tantangan dari Five. Namun sebuah tangan menahan pundak Robin, seseorang maju terlebih dulu mendahului Robin. Rian, sang Elanglah yang menghentikan laju Robin. Robin yang sepertinya kecewa dengan tindakan Rian sempat ingin protes. Namun anggukan kepala dari Julian membuatnya bungkam.










Sesaat kemudian...




Nampak berdiri berhadapan dua orang petarung dengan tangan kosong tepat di tengah tanah lapang. Elang dari kubu kiri, mengangkat kedua kepalan tangannya kedepan. Dibalas dengan sebuah anggukan kepala oleh Five. Menandakan pertarungan kali ini adalah sebuah pertarungan tangan kosong. Tak ada senjata yang mereka gunakan dalam duel yang sebentar lagi akan berlangsung.




Hiiiiiaaaaat!!! Teriak Five, sambil memilih merangsek maju duluan.




Wuuuzh!!!


Bugh!!!


Wuuut!!!


Bugh!!!




Wuuuuzh!!! Five melayangkan beberapa pukulan. Sebegitu juga Elang yang bergantian melakukan pukulan balasan. Tak bisa dihindari, terjadinya jual beli pukulan yang sangat cepat diantara keduanya.




Wuuuzh!!!




Bugh!!! Dua pukulan dilayangkan secara bergantian oleh pria Five. Satu hanya dihindari oleh Elang dengan berkelit. Dan satu lagi di patahkan Elang dengan sebuah sapuan pisau tangan.




Buugh!!!




Dugh!!! Elang lalu membalas dengan pukulan di kombinasikan dengan sebuah tendangan lutut. Five mematahkan dua serangan itu dengan dua gerakan menangkis yang sangat cepat.




Wuuuut!!!


Buuuugh!!!




Duuuuuuaaaaagh!! Berganti Five melayangkan dua tinju di lanjut sebuah tendangan. Satu tinju mampu di hindari Elang dengan merundukkan kepala, sambil mematahkan satu tinju lagi dengan tangkisan dari arah dalam. Di lanjut Elang bergerak memutar dan melakukan tendangan. Tak bisa dihindari mereka beradu kaki lewat tendangan yang mereka berdua lesatkan.




Tap!!!


Tap!!! Benturan antara kaki mereka saat menendang. Membuat keduanya mundur 3 kuda-kuda ke belakang.




Sesaat mereka berdua saling mengambil napas. Terlihat kini giliran Elang yang memilih merangsek maju terlebih dahulu.




Dugh!!!




Dugh!!! Elang melayangkan tendangan ganda. Namun kembali Five dengan cepat menutup ruang terbuka ditubuhnya.




"Buuuuuuuuuaaaaaaghhh...!" Kemudian Elang melayangkan sebuah tinju cepat mengarah sisi wajah sebelah kanan Five. Namun hal mengejutkan terjadi, dimana Five juga melepaskan tinju menggunakan tangan kiri mengarah ke dagu Elang. Serangan mereka berdua sama-sama masuk ketubuh lawan. Membuat keduanya sama-sama limbung dan mundur ke belakang, setelah bersamaan mendapat sebuah tinjuan keras dari lawan.




Sudut kanan mulut Elang robek. Pemandangan tak jauh berbeda juga nampak dari Five yang menjadi lawan duel Elang. Pipi Five lebam hitam akibat menerima tinju yang dilesatkan oleh Elang. Mereka berdua nampak sama-sama mengambil napas panjang. Sambil mengumpulkan kembali tenaga yang tersisa.




Hanya sebentar, Secara serempak mereka berdua kembali merangsek maju.




Dugh!!!


Dugh!!!


Wuut!!


Wuuuzh!!!


Bugh!!! Kembali jual beli pukulan dan tendangan terjadi dan tak mampu terelakkan. Nampak mereka berdua sangat waspada dan berhati-hati dalam mengambil tindakan. Dengan saling menutup serangan musuh ataupun menghindarinya.




"Duaaaaaaaagh...!" Dengan sisa tenaga yang mulai menipis. Five melakukan sebuah tendangan samping yang sangat keras. Secara mengejutkan Elang tak menghindar. Faktor tenaga yg juga hampir habis membuat Elang memilih melakukan hal yang sama yaitu melayangkan sebuah tendangan menyamping.


"Braaaaaaaaaaak!!!" Tubuh mereka berdua sama-sama terhempas. Bersamaan dengan tendangan yang bersarang dan masuk telak menghantam tubuh mereka berdua.




Kekuatan mereka dan keahlian beladiri yang di miliki mereka nampak cukup seimbang. Tinggal menunggu waktu untuk melihat ketahanan fisik siapa yang lebih unggul. Mereka berdua terlihat masih terduduk, untuk sejenak beristirahat sambil terus mengambil napas panjang.




Perlahan mereka terlihat kembali berdiri dengan susah payah.




Elang nampak melakukan kuda-kuda aneh. Tubuhnya turun dengan menekuk kedua kakinya kedalam. Lalu tangan kanannya dalam posisi ke belakang dan tangan kirinya menjuntai kedepan. Dengan jari jempol,telunjuk dan tengah membentuk cakar.




Pemandangan berbeda dilakukan Five. Dia terlihat melakukan kuda-kuda santai. Dengan menempatkan kedua tinjunya di dada. Sambil kakinya mulai melakukan lompatan-lompatan kecil. Secara bergantian kaki kanan dan kirinya bergerak maju mundur. Seirama dengan kedua lengan tangannya yang bergerak-gerak pelan.








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


BELUT








Setelah dua pertarung duel berlangsung. Pertama linda versus cobra, yang di menangkan telak oleh Linda. Dan pertarungan kedua berlangsung kurang seimbang karena dengan mudah Jacob menghabisi codename 7. Hal wajar mengingat Seven spesialis di bidang senjata api ringan dan penyamaran senyap. Sehingga dengan mudah di habisi oleh Jacob.




Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Linda lebih memilih bergabung dengan teamku. Alasannya ada karena Linda merupakan orang keparcayaanku yang dengan sengaja kutanam di divisi sedari dulu. Dan hubungan personal di antara kami sangatlah dekat.




Kemenangan Jacob otomatis membuat skor menjadi satu sama. Tentunya membuat suasana semakin memanas.




Dengan sajian pertarungan ketiga yang berada di hadapan kami. Mempertemukan Elang dari kubu Julian. Dan codename 5 dari pihakku. Aku berada di sebelah kanan lereng bukit. Berdiri bersama bagas dan Linda. Di seberang sisi kiri lereng gunung, Julian nampak berdiri di apit oleh Robin dan Jacob.




Di tengah tanah lapang di hadapan kami semua. Masih berlangsung duel sengit antara Elang sang master beladiri dan Five. Cukup berimbang di mana Five merupakan ahli di bidang beladiri. Dia merupakan salah satu pelatih seni beladiri kravmaga terbaik dari benua biru. Nampak mereka berdua sama-sama kelelahan setelah melakukan pertarungan yang sangat sengit dan mendebarkan. Sangat sulit memprediksi siapa yang bakal unggul dan keluar sebagai pemenang. Di karenakan keahlian mereka yang sama-sama hebat dalam hal beladiri. Menurutku hanya faktor ketahanan fisik dan cara menghemat tenaga yang akan menjadi penentu. Untuk salah satu dari mereka yang akan memenangkan pertarungan ini.




Woo..


Wooo...


Wooo.... Elang nampak akan bersungguh-sunguh dalam bertarung. Dia sampe melakukan gerakan kuda-kuda pamungkasnya. Semakin menarik dimana five juga terlihat tidak akan bermain-main lagi.




Dengan sebuah kuda-kuda tinju ciri khasnya dalam melakukan serangan terakhir. Aku semakin fokus, karena tak mau kehilangan sedikit pun moment yang sebentar lagi akan terjadi di tengah lapangan.




Menanti siapa yang akan tumbang dari mereka berdua. Nampak Five merangsak maju tak sabar menunggu Elang yang masih tenang dengan posisi kuda-kuda yang dia lakukan.




Fatal…! Terlalu nekat apa yang telah di lakukan Five.




'Wuzh!!!'


'Buuuugh!!!'




'Craaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!' Sebuah ayunan tinju di lepaskan oleh Five, membuat Elang bergeser.




Melihat banyak ruang terbuka di tubuh Elang. Sekali lagi Five merangsek meninju Elang menggunakan tangan kiri. Di situlah letak kesalahan fatalnya. Di mana Elang menghantamkan bahunya menepis tinju kedua yg di layangkan kepadanya. Bersamaan dengan limbungnya Five. Dengan gerakan memutar yang sangat cepat Elang melesatkan cakarnya. Mencengkram sembari mematahkan leher lawannya tersebut.




Sontak dalam posisi limbung Five, tak menyangka apa yang akan di lakukan Elang.




"Claaaaaaaaakkk.!!!!" Namun kesadarannya terlambat. Saat suara tulang lehernya patah mendahalui pikiran yang ada di otaknya. Sontak dia tewas dalam hitungan detik.




Sial…! Kubuku kembali kalah.




"2 . 1 hahahaha…!” Julian tertawa keras setelah duel di menangkan kubunya.


"Hay sepupu...! Ayoooo bermain...!" Seru Julian memancing Bagas. Nampak Juliann berjalan kearah tengah tanah lapang. Aku berniat ingin berjalan kearahnya. Namun pundakku tertahan sebuah tangan yang mencengkram erat sehingga aku tak bisa melaju lagi.


“Biar Bagas, Paman…!” Seru keponakanku Bagas.


“Dia menantangku, bukan Paman!” Tambah Bagas.




Kupandang mata Bagas lekat, sembari menganggukan kepalaku.




"Berhati-hatilah Gasss!" Ucapku. Tak ada jawaban yang kuterima, nampak Bagas berhambur sembari mengangkat jempol sebagai jawaban dari kata-kataku.




Kemudian, Terlihat keduanya berdiri sambil keduanya melakukan hal yang sama. Yaitu melemaskan dan meregangkan otot-otot mereka sebelum bertanding.




Aku sedikit mengeratkan gigiku. Aku sadar ditengah lapang itu. Berdiri dua orang darah soetedja. Satu adalah keponakanku. Yang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Karena janjiku kepada ibundanya. Dan satu lagi adalah darah dagingku sendiri. Dia anak yang sangat menginginkan kematianku. Tapi dia tetaplah anak kandung.




Aku yang bersalah, Aku benar-benar bersalah meninggalkan srigala putih kala itu. Aku tak mengetahui jika dirinya telah berbadan dua dan mengandung Julian. Julian merupakan korban dari tindakan bodohku. Aku tak menyalahkannya jika dia tumbuh di penuhi dendam kepadaku. Andai mampu kubayar kesalahanku. Aku rela menggadaikan nyawaku untuk menebusnya.




"Aaaaaarrrrgghhh...!" Geramku. Aku mengepalkan kedua tanganku dengan sangat kencang. Jujur sebenarnya aku tak ingin menyaksikan pertarungan ini.




Tak lama kemudian.




"Duuuuuuuuuuuuaaaaarrr!!!""" Terdengar suara petir begitu kencang. Bagas atau pun Julian terlihat sudah berlari kencang. Mereka berdiri sambil melakukan kuda-kuda yang sama. Yaitu bersiap melayangkan sebuah pukulan.




"Buuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaagh!!!"


'"Duuuuuuuuuuuuuuuueeeeeeer!!!"' Sekali lagi petir menggelegar sangat kencang.




Bersamaan dengan pukulan yang di lesatkan dari mereka berdua. Menambah suasana menjadi kian mencekam.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar