TERJADILAH
POV BELUT
"Duuuuuuuuuuaaaaaaaaaaar….!"
Yang terjadi... terjadilah, sudah tanpa mampu kita elakan...! Terdengar suara ledakan hebat menggema hingga radius cukup jauh. Aku pastikan itu adalah bunyi dari ledakan sebuah rudal RPG. Dan di arahkan menyasar ke rumah guru Bungkuk.
“One goo…!”
"Two goo...!" Seruku melalui headseat portable yang berada di telingaku. Headseat yang menghubungkanku dengan semua kruku saat ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku mengarahkan teleskop yang berada tepat di atas laras sniperku, Kemudian kugunakan untuk melihat apakah instruksiku dilaksanakan dengan baik oleh mereka.
Terlihat melalui teleskop yang kupakai. Pasukan siluman dengan codename 1 dengan cepat dan penuh kelihaian masuk ke semak belukar berlari ke arah timur. Sesuai prediksiku, yang menebak hanya segelintir pasukan musuh yang akan mengejarnya. Dan benar saja karena memang hanya 3 orang pasukan musuh yang membuntutinya.
Sebaliknya, saat memindahkan arah 180 derajat teleskop milikkj. Menampilkan kondisi codename 2 berlari melawan arah menuju ke arah barat. Dan hampir serupa. Karena hanya 4 orang pasukan musuh mengejarnya.
Tipuan sepertinya berhasil, di mana pasukan utama dari kubu musuh nampak memilih jalan utama yaitu lurus ke depan menuju arah tanah lapang. Mereka pasti mengira 2 pasukan silumanku yang berpencar merupakan jebakan. Dan memprediksi jika itu semua hanya usahaku untuk mengecoh mereka. Hal itu berujung mereka hanya mengirim 7 pion untuk mengejar 2 pasukan silumanku yang berpencar lawan arah.
Semua sudah masuk dalam hitunganku, karena pasukan utama semakin merangsek maju mendekati jarak tembak kami.
Sial...! Gerutuku melihat jumlah mereka yang begitu banyak. Hitungan kasarku menerka jika jumlah mereka Sekitar satu kompi pasukan atau kurang lebih 50an orang.
Kami masih terus menunggu moment untuk melakukan kontak senjata. Sambil berhitung matang, agar kami mampu setidaknya menghabisi setengah dari pasukan musuh. Karena harus ku akui yang kami lakukan saat ini sangat-sangat mustahil. 14 orang melawan sekompi pasukan musuh.
Saat mereka mulai memasuki jarak tembak kami, kurang lebih berjarak 500meter dari tempat kami bersembunyi. Aku mulai kembali memberi aba-aba.
“Barat…!”
“Timur…!”
“Hitungan mundur…!”
“3...”
“2...”
“Gooo…!” Teriakku dengan lantang.
'Thoooooor….!’
'Thoooooor...!'
'Thoooooor…!'
'Thoooooor…!'
'Thoooooor…!' Tak pelak suara dentuman dari sniper kami saling bersahutan. Seakan berlomba untuk merobohkan atau melumpuhkan musuh.
'Thoooooor…!' Sesaat kemudian aku segera mengarahkan beberapa kali sniperku kearah kepala musuh. 100 % bidikkan mengenai sasaran. Musuh mulai berjatuhan.
'Thoooooor!!!'
'Thoooooor!!!'
'Thoooooor!!!'
'Thoooooor!!!'
'Thoooooor!!!'
Tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan bagas dan dua pasukan silumanku dengan codename 9 dan Codename 10. Mereka juga mulai membidik lalu menembaki para musuh dalam jarak tembak yang cukup jauh. Semakin lama, semakin banyak pasukan dari pihak musuh mulai berjatuhan. Satu persatu pasukan musuh tumbang karena tertembus proyektil dari sniper milik kami berempat.
Setelah cukup lama terdengar rentetan suara tembakan secara silihberganti. Aku putuskan untuk fokus meminta sebuah angka kepada mereka bertiga.
“Count…!” Seruku melalui headset.
"Four…!" Terdengar Bagas melapor jumlah musuh yang mampu dia lumpuhkan.
Four…!" Lapor Codename 9 yang memberitahu jika jumlahnya sama dengan yang di dapat Bagas.
"Three...!" Lapor codename 10, Jika di tambah dengan jumlah tembakanku yang telah melumpuhkan 5 sasaran. Artinya 16 orang dari musuh telah roboh akibat dari 4 sniper. Serangan kami sontak membuat sisa dari pasukan mereka berhambur bersembunyi.
Senyap…! Tiba-tiba suasana menjadi sangat senyap.
Mereka pastinya adalah pasukan terlatih dan juga pilihan. Mereka dengan mudah menyadari ada beberapa sniper yang mengincar nyawa mereka. Membuat mereka memilih bersembunyi dengan senyap.
Janggal. Sangat sunyi...! Entah apa yang musuh rencanakan saat ini. Namun suasana tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Tak ada pergerakan dari kubu musuh.
'Thuuuuoooooor…!' Tiba-tiba suara letusan keras membuyarkan keadaan yang tadinya sunyi.
“Report me!!!”
“Report me!!!” Teriakku cepat.
“Alright!!” Seru Bagas melaporkan keadaanya terkini.
“Fine!!” Timpal Codename 10
“Three...”
“Two...”
“One...” Aku berhitung mundur menunggu satu sniper yang belum melaporkan kondisinya terkini.
.
..
...
“Nine…!”
“Nine…!”
“Report..!” Seruku menegaskan kembali perintah awal. Sial sepertinya Codename 9 telah tertembak.
“Hide…! Hide…! Hide…!” Seruku berulang-ulang untuk memerintahkan semua agar bersembunyi.
"Thoooooor…!'Sekali lagi terdengar suara tembakan menggelegar. Dan aku mempunyai feelling yang itu suara berasal dari sniper pihak musuh.
“Report..!”
“Report me..!”
''Fine…!'' Seru Bagas melapor.
“Ten…!”
"Ten...!" Kucoba memanggil codename 10 berulan namun tak ada balasan. Sial...! Sepetinya kami kehilangan dua penembak jarak jauh sekaligus.
"Move...! Move...!" Seruku ke Bagas. Sembari aku pun bergerak mencari sudut terbuka untuk mengetahui lokasi keberadaan penembak musuh.
"Monitory enemy locations...!" Seruku kembali saat menilai posisiku aman dan sedikit ada ruang terbuka untuk mengedar pandangan menggunakan teleskop. Kulakukan penyisiran dengan mengedarkan pandangan ke lokasi yang aku curigai. Guna mencari keberadaan sniper musuh bersembunyi.
DONE...! Batinku sambil tersenyum puas. hanya sesaat penembak musuh melakukan kesalahan dengan mengangkat ujung moncong laras sniper yang digunakannya. Sehingga dengan mudah membuatku menemukannya. Mengetahui posisiku terlalu riskan untuk melakukan bidikan karena sedikit terbuka.
Kuputuskan melempar tugas menembak kepada Bagas.
“Gaaas…! Arah jam 11…!” Seruku memberitahu Bagas lokasi musuh melalui headset portable.
"Thoooooooooor....!" Berselang tiga detik kemudian, terdengar suara kencang keluar dari tembakan yang di lesatkan oleh Bagas.
''Monitoring''
''Number one''
''Number two''
''Permission to step''
.
..
...
"Do it...!" Sahutku cepat membalas suara yang keluar dari headset portable yang menempel di telingaku dan terhubung ke semua pasukanku yang tersisa.
Bahaya…!
Aku merunduk cepat, instingku menangkap keberadaan penembak lain.
“Thuuuuoooooooor…!”
Nguuiiiiiiiiiiiiing…! Telingaku berdengung, setelah sebutir peluru melesat beberapa centi di samping telingaku.
Bangsat...! Hampir saja....! Dengan cepat aku berguling sembari bersembunyi di balik sebuah pohon yang tumbang. Seraya mengarahkan ujung laras sniper yang kubawa. Mengarah ke asal suara tembakan di lesatkan baru saja.
Bajingan...! Ternyata si burung hantu....! Seorang penembak jitu yang mempunyai postur seperti anak kecil dengan sebutan burung hantu. Salah satu dari 6 anggota hell warior yang di miliki Exiles. Menyesal aku beberapa saat yang lalu melepaskanya begitu saja. Padahal aku berkesempatan membunuhnya kala itu.
“Gaaaaas…!” Seruku memanggil Bagas.
''I'm listening…!'' Balasnya
Buat tipuan…! Bergerak cepat ke kanan…! Sembari tinggalkan snipermu mengarah ke arah ke pukul 8.30.
''Note…!''Sahut Bagas…!
.
..
...
“Three...”
“Two...”
"Thuuuuuooooor...!" Tembakan di lesatkan Burung Hantu mengarah ke tempat di mana Bagas meletakkan sniper miliknya sesuai arahanku.
“Thooooooooooooooooor…!” Bersamaan dengan kulesatkan sebuah bidikan terarah mengarah ke Burung Hantu.
Perfect...! Tembakan yang kulesatkan tepat mengenai sasaran. Moment yang sungguh krusial dimana hanya terdapat celah saat Burung Hantu menembak, terdapat gerakan pelan dia keluar dari sudut tertutupnya. Sehingga dengan mudah aku membidik focus target di lensa teleskop yang berada di sniperku dan menguncinya. Proyektilku sontak menghancurkan kepala milik salah satu Hell Warior dengan keahlian menambak tersebut. Dengan mudah, Burung Hantu mampu terkecoh dengan tipuan yang kurancang.
“Gaaas…!” Seruku lewat headshet portable untuk mengetahui keadaan Bagas.
''Alright..!'' Balas Bagas.
"Syukurlah…!" Gumanku membatin.
''Report....!” Aku memberi perintah untuk semua kruku melaporkan kondisi terkini.
'West''
''Controlled'' Seru Codename 2.
''East''
''Are in control'' Tak berselang lama Codename 1 menyusul memberikan laporan.
"Join the others....!" Seruku. Memberi arahan untuk mereka berdua agar bergabung ke tempat di mana Nadia dan April berada.
Sejenak aku bisa mengambil napas panjang…!
“Gaas!!!”
“Cover me!!!” Perintahku ke Bagas.
"Ok!!" Seru Bagas cepat.
Aku lalu mengalungkan sniper di bahu dan mengambil Benelli M-4 Super 90.
Senjata berjenis Shotgun semi auto buatan negeri pizza atau Itali.
Shotgun ini bawa berisi 7 buah peluru dengan besar kaliber 12 gauge. Mampu melesatkan peluru dengan sangat cepat serta memiliki daya hancur lumayan besar. Lalu kuputuskan melanjutkan berjalan menuruni air terjun.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
BAGAS
Kali ini aku benar-benar dibuat emosi sehingga reflek mengeratkan kedua gigi gerahamku kuat-kuat.
Sambil tanganku mengepal kencang.
Bangsat…! Mereka telah berani menghancurkan rumah kakek. Rumah sebagai hunianku dalam kurun waktu sebulan ini. Mereka harus menerima balasan yang setimpal.
"Gaaas!!!"
"Cover me!!!" Terdengar perintah dari paman melalui headshet portable yg melekat di telinga kiriku.
"Ok...!" Balasku cepat sambil segera mengarahkan fokus teleskop ke arah paman berada. Menggerakan laras sniperku perlahan ke arah kiri dan kanan. Untuk mengamati keadaan sekitar dan memastikan paman dalam keadaan aman.
"Thoooooooooor...!" Aku menarik pelatuk sniper, segera sebutir peluru melesat mengarah ke semak-semak. Aku melihat kejanggalan di sekitar semak belukar tidak jauh dari posisi paman berjalan. Rerumputan di situ nampak sedikit bergoyang. Dan benar saja, sekelebat orang mengenakan pakaian serba hitam terlihat sesaat. Membuatku harus menarik pemantik sniperku.
Sukses...! Sebutir peluru yang kulesatkan meluncur sempurna menghantam dada musuh. Walau terlihat musuh yang kubidik memakai baju rompi anti peluru. Namun besarnya kaliber proyektil dari peluru sniper yang kugunakan membuatnya tetap roboh.
“Five…!” Seruku. Melapor ke paman jumlah musuh yang ku bunuh lewat portable headshet.
Dari kejauhan aku dengan gamblang dapat melihat paman semakin berjalan turun, menuruni air terjun.
Sambil sesekali dia nampak melompat lalu bersembunyi di bebatuan besar.
''Gaaas!!!''
''Down!!!'' Perintah paman.
“Cover me...!” Sahutku, meminta paman berganti memberi pengamanan untukku.
Sebelum bergerak menuruni bukit, aku merapikan dulu sniper lalu mengalungkan di bahuku.
Kemudian mengambil pistol jericho yang terselip di pinggangku. Setelah merasa semua telah siap, aku mulai berjalan pelan dengan tetap memasang sikap waspada.
“Blaaaaaaar!!!”
“Blaaaaaar!!!” 2 kali terdengar letusan senjata dari shotgun yang di bawa paman.
''Seven!!!''
''Eight!!!'' Sial seperti mengejekku. Paman memberi laporan banyaknya musuh yang dia bunuh dengan sangat kencang.
''Goo!!!"'
''Goo!!!''
''Goo!!!''
"'All…!''
"'Split up…!''
'"Attack…!'"
"Gooooooo…!" Perintah paman untuk semua pasukan di kubu kami agar melakukan penyerbuan.
Perintah paman jelas saja menjadi pertanda di mulainya baku hantam fisik secara langsung. Semua telah bergerak berpencar sesuai perintah paman.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart…!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Tret tret tret tret tret…..!”
“Dooor…! Dooor…! Dooor…!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Tret tret tret tret tret…..!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Tret tret tret tret tret…..!”
“Dooor…! Dooor…! Dooor…!”
Tak lama kemudian, jelas saja sautan suara tembakan mengegelegar di mana-mana. Menandakan jika bentrok jarak dekat telah dimulai.
"Report..!" Perintah Paman ke semua pasukan.
"Three target…! Phoenix….!" Seru April.
"Three target...! Four target...! Little fox...! Ralat Nadia setelah sepertinya menjatuhan kembali satu musuh tambahan. Secara bergantian sahutan suara silih berganti terdengar dari headshet portable yang melekat di telingaku. Berisi laporan dari setiap orang yang berada di kubu kami.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!” Seorang musuh menyadari posisiku lalu memberondongiku dengan peluru.
“Taaap…!” Beruntung aku segera sigap dengan melompat dan bersembunyi di batu besar yang tidak jauh dari lokasiku.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaap…! Taaap…!” Sial bukan hanya satu, melainkan 3 musuh mencoba mengepungku dari dua sisi, namun aku masih berkelit dengan melakukan dua lompatan berpindah ke celah batu yang menutup sisi terbuka dari hujan proyektil peluru yang mereka lesatkan.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaap…!” Ternyata ada empat orang musuh yang secara hampir bersamaan memberondongku menggunakan senjata sejenis senapan semi auto. Membuatku melompat dan berguling beberapa kali dengan sangat cepat untuk menghindari serbuan peluru yang mengincarku. Beruntung medan yang berupa batuan besar dan pohon-pohon besar telah aku hafalkan sebelumnya. Sehingga aku mudah berkelit dari serbuan mereka.
“Doooor...! Doooor...! Doooor….!” Sambil terus berkelit aku melayangkan 3 tembakan balasan kearah mereka.
Sial...! Hanya 2 dari 3 tembakan dariku yang tepat mengenai sasaran. Mengetahui masih tersisa dua musuh lagi. Untuk sementara waktu aku memilih bersembunyi. Bersembunyi di balik sebuah pohon besar agar bisa menutupi semua sudut tembak yang mengarah ke tubuhku.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
Tanpa lelah dan bosan dua musuh yang tersisa terus memberondongiku dengan peluru. Mereka terus mengikutiku sambil berjalan maju secara perlahan.
"Dooooor...! Doooor....! Doooor...!" Sesekali kubalas dengan beberapa tembakan guna pengacau konsentrasi mereka. Kondisiku saat ini membuatku menyesal memilih pistol sebagai alternatif kedua. Kenapa tadi aku tak memilih senapan berjenis semi auto untuk mempermudahku membalas serangan musuh.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!” Mereka masih terus memberondong tembakan kearahku.
"Dooooor...! Doooor....! Doooor...!"Aku pun tidak tinggal diam, membalas dengan beberapa tembakan tanpa arah untuk menghambat laju musuh. Sambil mengatur strategi untuk melumpuhkan mereka.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
Aku benar-benar terjepit...! Mereka terus memberondongi senjata dan berjalan memutar berlawanan arah. Untuk memecah konsentrasiku.
Berdiam diri adalah kematian…!
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaaaap….!”
“Doooor...! Doooor...! Doooor….!”
"Dooooor...! Doooor....! Doooor...!"Aku melakukan lompatan sambil melesatkan beberapa tembakan ke arah musuh yang berada di sisi sebalah kanan.
Telak...! Dua butir peluruku bersarang di tubuhnya. Satu di lengan kiri dan yang kedua bersarang tepat di perutnya. Membuat musuhku roboh dengan kondisi tergelepar.
“Dooor…!” Tak mau mengambil resiko dengan membiarkannya hidup, sekali lagi kutembak tepat di kepalanya.
“Taap...!” Lalu aku melompat dan berlindung kembali di balik pohon tadi.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
Satu musuh yang tersisa kembali memberondongiku dengan tembakan yang tidak beraturan. Mengetahui satu temannya telah tewas Feelingku mengatakan dia memilih berjalan mundur.
“Taaaaaap….!”
"Dooooor...! Doooor....! Doooor...!" Aku kembali melakukan sebuah lompatan sambil melepaskan 3 tembakan mengarah ke musuh.
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
“Taaaart...! Taaaart...! Taaaart….!”
Perfect, 3 peluruku tepat bersarang ketubuhnya. Membuat dia seketika tewas dengan tetap menggenggam senjata. Dan posisi jarinya masih menarik pelatuk hingga menembak tak tentu arah sampai pelurunya kosong. Berakhir tubuhnya roboh dengan kondisi tengkurap bersimbah darah.
“Report…! Nine target…! Bagas…!” Seruku puas setelah mampu menghabisi total 9 musuh.
"Traaaaaaank...!" Sial...! Belum sempat aku bernapas lega, seorang musuh melempar sebilah pisau dan mengenai pistol yang kupegang hingga terjatuh.
“Wuuuuzh….!”
“Wuuuuuzh…!”
“Sraaaak…!”
"Aaaaaaaaarrrrgh..!" Saat aku berniat bergerak cepat untuk mengambil pistolku yang terjatuh. Dia dengan cepat kembali melempar 3 bilah pisau ke arahku. 2 dapat kuhindari dengan baik, namun satu pisau terakhir mengenai headset portable yang menempel di telinga kiriku hingga rusak. Bukan hanya merusakkan piranti komunikasiku saja. Aku juga merasakan daun telingaku robek karena terasa sangat perih.
Nampak tak jauh dari keberadaanku, seorang Pria dengan ciri-ciri berkulit hitam legam, berpostur tubuh pendek serta perut sedikit membuncit berlari kencang ke arahku.
"Duuuuuuuuaaaaagh...!" Sebuah tendangan di layangkan pria tersebut dengan sangat cepat mengincar dadaku. Untungnya dengan sigap aku menutup ruang terbuka tersebut, dengan cara menyilangkan kedua tangan di dadaku.
Sial…. Tendangannya cukup keras...! Membuat tubuhku terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang.
Dia nampak tersenyum kearahku. Membuatku sedikit menahan tawa. Sejenak kuamati muka dari musuh yang berhadapan denganku ini.
Mukanya sangat aneh…!
Mirip orang idiot…!
Posturnya mirip orang kerdil dengan perut buncit dan rambut di cat kuning…!
Mungkin tingginya hanya sekitar 155 cm sehingga terlihat nyempluk. Dan yang lebih menggelikan dua gigi depannya sedikit maju.
Bangsat…!
Mukanya sangat menyebalkan sekaligus membuatku geli…!
Rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat musuhku kali ini. Namun sebuah codet memanjang di dahinya. Membuatku mengingat informasi yang pernah dijelaskan oleh Nadia. Bahwa terdapat satu anggota hell warrior dengan memiliki ciri khusus yaitu luka codet memanjang di dahinya.
Aku harus berhati-hati. Mungkin pria menggelikan di depanku ini adalah tung. Tung merupakan satu dari 5 anggota hell warior dengan sebutan monyet idiot. Selaras dengan mukanya yang memang menyerupai kebanyakan orang dengan keterbelakangan mental.
Namun di balik wajah idiotnya. Menurut informasi yang ku dapat dari nadia, dia memiliki keahlian yaitu Plagiat.
Iya Tung atau lebih di kenal dengan sebutan Monyet idiot dapat melakukan jiplakan dari keahlian beladiri ataupun keahlian lain yang di miliki orang lain yang pernah di lihatnya. Namun hanya beberapa persen saja yang mampu dia serap, jelas detail dari Nadia yang pernah disampaikan. Menurut keterangan dari Nadia, Tunk benar-benar seperti monyet yang sangat pandai meniru apa yang dilakukan manusia.
Saat aku masih berkonsentrasi untuk bersiap menghadapi serangan Tung lagi.
"Beeegh...! Eeeegh..! Eeeegg...!" Tiba-tiba dua buah tangan besar memeluk dan mengapit tubuhku dari belakang. Aku berusaha melepaskan diri. Tapi kedua tanganku benar-benar terkunci erat. Postur tubuh seseorang yang mengapitku sangatlah besar. Sia-sia jika kugunakan kepala bagian belakangku untuk menghantamnya. Mengingat tinggiku hanya mencapai dadanya saja.
Fuck…! Aku benar-benar terjepit…! Ratapku, mengingat kondisiku saat ini yang terjepit.
Hal yang aku kuatirkan sepertinya benar-benar terjadi, Tung mulai merangsek maju. Dia mulai mendekat sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Buagh..!”
“Ugh…!”
“Buagh…!”
“Aaagh..!”
“Buagh…! Buuuuaaagh…!”
"Uuugh...! Karena terjepit dan tak mampu menggerakkan tubuhku, Tung dengan mudah terus memukuliku. Satu, dua, tiga pukulan dan seterusnya. Tung mulai memukul secara membabi buta. Membuat tubuhku seperti samsak hidup. Jika terus-terusan dalam posisi seperti ini, aku pasti tewas.
Saat Tung mundur untuk mengambil kuda-kuda untuk melompat. Sepertinya dia akan melayangkan tendangan keras ke arah dadaku. Aku menggunakan jeda itu. Bersamaan dengan mundurnya Tung. Aku mengambil moment itu untuk mengerahkan tenagaku di kaki.
“Duuuaaagh..!” Dengan keras kuinjak kaki kanan dari orang yang mengapit tubuhku.
Tak berhasil…!
“Duaaagh…!”
"Duuuaaaagh…!”
"Duuuuuuuuaaaagh...!" Kuulangi menginjak kakinya berkali-kali. Usahaku keempat akhirnya membuahkan hasil. Orang tersebut sedikit merenggangkan tangannya.
"Bluuuuuukkk....!" Tanpa memberi jeda kulesatkan sebuah pukulan menggunakan siku tangan. Dan masuk telak ke bersarang di perut dari orang yang berada di belakangku. Melihat adanya kesempatan kemudian tubuhku meluncur tengkurap di tanah. Menghindari tendangan melompat yang di lakukan Tung.
“Duuuuaaagh…!” Tendangan Tung bersarang di perut besar Pria yang sempat mengapitku.
"Bluuuuukkk...!" Pria bertubuh besar tersebut terjengkang dan jatuh dalam posisi terduduk. Setelah kuamati dari posisi depan. Postur pria itu sangatlah besar. Dengen perut buncit dan badan yang sangat gempal serta rambut yang hampir botak. Mungkin dia yang dimaksud Nadia dengan nama Barbar atau Sapi Botak sebutannya. Salah satu anggota Hell Warior dengan ciri khusus memiliki postur tubuh bak Raksasa gendut. Hal yang lebih membuatku yakin jika dia adalah Sapi Botak karena dari penjelasan Nadia, dimana ada Monyet Idiot di situ juga pasti ada Sapi Botak. Dan ciri-ciri fisik mereka berdua sangatlah identik dengan apa yang di beberkan oleh Nadia.
Jika bertarung sekaligus melawan dua anggota Hell Warior, jelas hal itu tak akan menguntungkanku. Bagaiman pun juga walau fisik mereka seperti itu, namun mereka berdua tetaplah termasuk dua dari enam pasukan exiles dengan berkemampuan khusus. Dan tentunya aku tidak boleh gegabah untuk menghadapi mereka.
Mengingat Sapi Botak sedang mengatur napas dan masih nampak terduduk kesakitan. Aku memilih menerjang maju ke arah Tung berada.
“Wuuut…! Wuuut…!” Sial, dua pukulanku mampu di hindari Tung. Dia meliuk-liukkan tubuhnya mirip gerakan Nadia.
"Bugh!!"
"Bugh!!"
Brengsek...! Tung membalas dengan dua pukulan yang mirip dengan pukulanku tadi. Tenaga dari pukulan Tung jauh di bawahku. Membuat dengan mudah aku mematahkan dua pukulannya. Aku mundur sambil mengambil jarak 2 kuda-kuda, untuk memberi waktu otakku berfikir cara mengalahkannya. Kemudian aku menyeringai setelah mendapat sebuah ide.
"Wuuuuuzh...! Wuuuuzh...!" Aku memilih memulai serangan dahulu, dengan melayangkan 2 pukulan dan satu tendangan ringan secara beruntun.
Seperti dugaanku…! Seranganku dengan mudah di hindari oleh Tung.
"Wuuuuuzh...! Wuuuuzh...!" Aku kembali menyeringai. Tung kembali melakukan serangan yang sama dengan seranganku. Dia melayangkan pukulan dua kali secara beruntun.
Dasar monyet...! Kau hanya bisa meniru setiap gerakanku...!
"Duuuuuaagh...!" Sebuah tendangan kembali dilancarkan Tung, tendangan yang tentunya plagiat dari tendanganku tadi. Aku sengaja membiarkan tendangannya masuk telak bersarang ke perutku.
Walau terasa sakit, namun aku kembali menyeringai. Semua seperti dugaanku.
Mata Tung tiba-tiba melotot. Sambil bibirnya semakin di manyunkan. Sepintas nampak dua gigi depannya tonggos. Hahahaha…! Tawaku renyah, sepertinya Tung baru menyadari apa yang akan kulakukan.
"Sraaaaaaakkk....!" Dengan gerakan tak kalah cepat kutangkap kakinya sambil dengan kencang kutarik kakinya kearahku. Tubuh Tung yang kerdil secara otomatis ikut tertarik karena tenagaku lebih besar darinya.
“Duuuuuuaaaaagh…!” Bersamaan dengan itu, kaki kanankum, kuhentakkan keras ke arah ke ulu hatinya.
"Eeeeergh...!" Erang Tung sambil matanya melotot menahan kesakitan. Jelas saja sakit, kakiku yang panjang berbanding terbalik dengan tubuh mungil Tung. Membuat jangkauan hentakanku masuk dengan sangat telak ke arah ulu hatinya.
"Braaaaaakkk...!' Tubuh Tung terhempas 5 meteran mundur ke belakang. Tak mau menyianyiakan moment kemenangan yang sudah berada di depan mata. Aku bermaksud berlari menghampiri Tung yang masih dalam keadaan meringkuk kesakitan.
“Wuuut…!”
“Tap…!”
“Wuuuuut…!”
"Taaap..!" Namun belum sempat aku menghampiri Tung, dua buah ayunan tongkat bisbol membuatku bergerak melompat mundur.
Sialll...! Raksasa Gendut berjuluk Sapi Botak telah pulih dan kini memburuku dengan sebuah tongkat pemukul bisbol ditangan kanannya.
“Wuuuuut…!”
“Wuuuuut…!”
"Wuuuuuut....!" Ayunan demi ayunan di layangkan Sapi Botak mengarah ke tubuhku. Namun dengan postur tubuhnya yang abnormal membuat gerakannya sangatlah lambat. Sehingga dengan mudah aku menghindari serangannya.
Aku terus menunggu moment melakukan serangan balasan, menanti celah dari Sapi Botak. Saat dia terus menerus mengayunkan tongkat bisbolnya. Secara tidak sengaja aku melihat sudut serang terbuka di sisi kanannya.
“Duuuuuuuaaaagh…!” Kulayangkan tendangan samping yang sangat keras mengarah ke tulang iga sisi kanannya.
Sial...! Tak bergerak...! Tendanganku sepertinya tak memberikan efek apa-apa untuk tubuh raksasa gendut ini.
"Buuuuuuaggghh...!" Saat aku lengah, Tiba-tiba Sebuah pukulan keras dari tangan kiri raksasa bertubuh gendut tersebut menghantam keras pipiku.
“Bruuuuaaaak…!” Tubuhku terlempar dan menghantam tanah.
Sangat keras….! Pukulannya sangatlah keras…! Pukulannya membuatku terhempas dan roboh sekali pukul.
.
..
...
Aku mencoba untuk berdiri. Namun pandanganku teramat buram. Pening, Kepalaku sangat pening.
"Bruuuk...!" Tubuhku jatuh terduduk di atas tanah. Efek dari pukulan keras dari Sapi Botak membuatku limbung. Pandanganku cukup samar melihat Raksasa Gendut tersebut berjalan mendekatiku. Sepertinya dia telah bersiap menghantamkan tongkat pemukul bisbol mengarah kepalaku.
"Wuuuutt..!" Hampir saja..! Beruntung aku masih bisa mengerahkan tenaga dan berguling menghindari ayunan dari tongkat bisbolnya.
'Tik.. tik... tik.... tik.....'
'Tik.. tik... tik.... tik.....'
'Tik.. tik... tik.... tik.....'
'Tik.. tik... tik.... tik.....'
Tiba-tiba aku merasakan tetesan demi tetesan air hujan mulai membasahi tubuhku.
Hujan…!
"Duuuuuuuuuuuuaaaaaaar.....!" Petir mulai menyambar. Bersamaan dengan langit yang menurunkan tetesan air semakin deras.
Seperti mendapat angin segar...! Tetesan demi tetesan yang mengenai tubuhku membuat kesadaranku perlahan pulih. Aku mengeratkan kepalan tanganku kuat-kuat. Sambil kembali berdiri. Kemudian mengambil tongkat besi yang berada di balik bajuku.
Tujuanku hanya satu...! Aku harus tetap hidup….! Masih banyak hal yang harus kuselesaikan sebelum ajalku tiba.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrghhh…!” Teriakku, sambil berlari mengangkat tongkat besiku tinggi-tinggi.
"Taagh!!!"
"Taagh!!!" Kuputuskan melayangkan tongkat besiku berkali-kali ke arah Sapi Botak. 2 kali pukulanku tertangkis oleh tongkat pemukul bisbolnya.
"Taagh!!!"
"Taagh!!!" Tak patah arang, tanpa memberi jeda kupukulkan lagi dan lagi. Perlahan pertahannya mulai melemah. Saat pukulan keempat kuayunkan, tongkat bisbol yang di pegangnya terjatuh.
“Tuagh!!!”
“Tuagh!!!”
“Tuagh!!!”
“Tuagh!!!”
"Taagh!!!" Secara membabi buta aku melayangkan pukulan bertubi-tubi mengarah ke tubuh Sapi Botak.
Dia nampak semakin terdesak dan menahan seranganku menggunakan kedua tangan.
Namun semakin lama banyak celah yang dia buat. Aku melakukan lompatan sambil mengayunkan tongkatku ke arah kepalanya.
“TUUUUAAAAGH...!!!” Pukulanku masuk telak menghantam tengkorak kepalanya.
“Bruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuk....!!!” Belom roboh, dia hanya jatuh bersimpuh bertumpu dengan kedua lututnya.
Sekali lagi….! Kembali aku melakukan lompatan tinggi.
"Tuuuuuuaaaaaghhh...!" Sambil sekali lagi mengayunkan tongkat besiku secara vertikal dari atas mengarah tepat ke kepalanya. Sapi Idiot tetap diam, tak goyah masih dalam posisi duduk bersimpuh.
"Bluuukkkkk...!" Namun dalam hitungan detik mengalir darah segar dari dahinya meluber memenuhi mukanya. Dan berangsur tubuhnya perlahan roboh.
Hujan turun semakin deras…!
Pandanganku teralih ke arah Tung yang nampak bersandar di pohon besar. Napas Tung tersengal-sengal sepertinya efek dari hentakan kakiku tadi. Terlihat satu tangannya tak pernah lepas memegang ulu hatinya.
Perlahan aku mulai mendekat ke arahnya. Membuat Tung mencoba berdiri, untuk menghindariku
“Bruuk…!” Namun usahanya tak membuahkan hasil, dia kembali jatuh terduduk.
Tak mau membuang waktu,...
“Tuagh…!” Ku ayunkan tongkat besiku menghantam pelipis kirinya.
“Tuuaagh…!” Giliran rahang kirinya.
“Tuagh…!” Kepala Atasnya.
“Tuuagh…!” Kembali kulayangkan tongkat besiku ke arah kiri menghantam telinganya.
“Tuuaaghh…!” Kuputar ayunanku dan menghantamkan kembali tongkat besiku ke arah kanan tepat di tulang pipinya.
"TUUUUUUUUUUAAAAAAGGHHHH...!" Di akhiri dengan sebuah ayuan secara vertikal sambil aku melompat dan menghantam ke bagian tempurung kepalanya.
Hancur…! Kepala Tung nyaris hancur tak berbentuk.
.
..
...
Setelah menyelesaikan duel yang cukup melelahkan. Kuputuskan istirahat sebentar. Lalu setelah pulih dari keletihan, aku mencari pistol yang sempat terjatuh tadi. Kemudian kembali bergerak untuk mencari keberadaan anggotaku yang lain.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar