POV
Macan Kumbang
Sebentar lagi…
Hanya dalam hitungan hari, waktu untuk melenyapkan Bungsu dan Bagas tiba. Aku sangat yakin akan dengan mudah menyingkirkan kedua orang tersebut.
Setelah adanya kesepakatan kerjasama antara Aku dan Singa Hitam. Kini kubu kami semakin kuat.
Dan saat ini hanya Bungsu yang menurutku membahayakan bisnis yang akan kami bangun. Bungsu adalah ancaman yang harus dilenyapkan secepat mungkin.
Sifat patriotnya terlalu berbahaya untuk bisnis yang kami bangun dan jalankan saat ini. Bungsu pastinya akan merepotkan jika saja kami membiarkan dia hidup lebih lama lagi. Dan Bungsu pastinya telah mengetahui jika pelaku dibalik hilangnya Harimau Jawa dan Singa Gurun adalah Aku.
Namun bukan hanya aku otak dibalik semua itu, karena ada campur tangan Singa Hitam di dalamnya.
Dan untuk alasannya, itu adalah rahasia besar kami berdua.
Dalam waktu dekat kami akan menyerang mereka berdua, sebelum mereka menyerang kami. Hal wajar jika mereka berani menyerang kami, mengingat Bagas dibantu Bungsu pastinya akan mencari informasi dimana keberadaan orang tuanya.
Jika dibiarkan keponakanku tersebut, juga akan menjadi penghalang, mengingat cara dia berkembang dan beradaptasi yang sangat pesat.
Akan menjadi ancaman besar, jika aku membiarkan dia tumbuh lebih lama. Suatu saat nanti pasti Bagas akan menuntut balas karena apa yang telah aku lakukan terhadap kedua orang tuanya.
.
..
...
Dan untuk pemuda licik bernama Julian, aku tetap waspada. Pergerakan Julian yang menurutku sangat tak wajar, membuatku terus mencari infromasi tentang siapa sebenarnya anak tersebut. Tak membutuhkan waktu lama untuk seorang Kumbang membuka siapa sebenarnya Julian.
Ketahuilah anak muda, aku dan Singa Hitam merupakan senior, tak mudah kau sembunyikan niat busukmu dari kami.
Telah banyak asam garam yang kami rasakan. Silahkan berfikir, untuk terus membodohi kami. Karena berpura-pura bodoh adalah hal terbaik untuk berhadapan denganmu, mengingat ambisimu yang terlalu besar itu merupakan kesalahan terbesarmu.
Kau akan kami lenyapkan bersamaan dengan kami melenyapkan Bungsu dan Bagas.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
Bagas
Pukul 3 dini hari.
Aku terbangun dari tidurku, setelah paman masuk ke kamar tempatku tidur dan membangunkanku di pagi buta ini.
“Bersiap!!!” Hanya itu yang keluar dari mulut paman.
Semalam paman mendapat kabar, bahwa pagi ini akan ada serangan besar-besaran dari kubu gabungan pasukan Macan Kumbang dan Singa Hitam.
Paman telah menjelaskan, kemungkinan kita untuk memukul balik mereka sangat tipis. Namun paman berjanji akan berusaha sebaik mungkin memanfaatkan kemampuan kami secara maksimal, untuk mematahkan serangan musuh.
Paman merupakan ahli strategi. Dimana dia meyakinkan kami tentang strategi yang telah dia susun dengan rapi. Dan dia yakin bahwa itu akan membuahkan hasil manis. karena menurut paman kami lebih mengenal medan.
.
..
...
Ternyata April maupun Nadia juga telah bangun sedari tadi. Dan mereka telah bersiap terlebih dahulu.
April telah benar-benar mempersiapkan dirinya. April terlihat memakai rompi anti peluru dengan dua buah pistol di kiri dan kanan pinggangnya. Tak tertinggal terselip sebuah ninjato. Sebuah senjata sangat mirip dengan katana, namun berbentuk lurus. Tak hanya itu terkalung dibahu April, sebuah senjata semi otomatis berjenis UZI Submachine Gun.
Tak jauh berbeda penampilan Nadia saat ini. Nadia juga sudah mempersiapkan diri untuk bertempur. Terlihat Nadia memakai busana mirip kimono dengan didasari sebuah kaos anti peluru berbahan kain baron karbit.
Kain baron karbit merupakan perpaduan antara kain katun yang bertekstur lembut dan fleksibel dengan karbit atau material ketiga terkeras di bumi.
Nadia juga melengkapi persiapan bertempurnya dengan dua pistol yang terselip di belakang pinggangnya dan sebuah Senapan mesin ringan MP5 buatan Jerman tergenggam manis di tangan kanannya. Terselip juga di punggung Nadia, Kodachi senjata khas Jepang sebagai pelengkap bertarungnya jarak dekat. Kodachi merupakan senjata tajam yang bisa dikatakan aneh, dimana Kodachi adalah senjata yang tidak bisa dikatakan pisau karena terlalu panjang, namun tak bisa juga dikatakan pedang, karena terlalu pendek.
.
..
...
Setelah sesaat aku mencuci muka. Terlihat paman juga telah berganti pakaian, menggunakan setelan jas, didalam jas yang dia kenakan terdapat baju anti peluru berwarna abu-abu yang paman kenakan.
Terlihat di pundak paman sebuah sniper berjenis M16, yang merupakan senjata sniper semi otomatis. Sniper tersebut mempunyai akurasi jangkauan mencapai 800 meter, dengan kelebihan lain yaitu beratnya yang ringan dan suaranya yang nyaris tidak terdengar.
Tak hanya itu... Tergenggam ditangan paman senjata sejenis shotgun bermerk Benelli M-4 Super 90 dari Italia. Shotgun tersebut berisi 7 buah peluru kaliber 12 gauge dan memiliki kecepatan tembak tinggi, karena fungsinya yang semi auto.
.
..
...
Dari tadi aku mencari keberadaan kakek. Namun nihil hasilnya. Aku sempat menanyakan keberadaan kakek kepada paman. Namun paman sepertinya enggan membahas hal tersebut. Hanya gelengan kepala yang paman lakukan sebagai jawaban dari pertanyaanku tersebut.
Di meja tengah telah tertata rapih sebuah pakaian, lengkap beserta beberapa senjata yang akan kupakai. Dan sesaat kemudian kupakai pakaian itu, ternyata semua itu pamanlah yang telah menyiapkannya.
Aku sempatkan mengechek ulang senjata yang akan kupergunakan nanti. Pertama kubuka magazine dari pistol berjenis Jericho yang berasal dari Israel. Sembari membawa 2 magazine tambahan yang kuselipkan di gesper, untuk isi ulang saat bertempur nanti.
Hal kedua yaitu mempersiapkan sniper pemberian om Jack. Sniper berjenis McMillan TAC 50 Sniper tersebut mempunyai sederet keunggulan. Antara lain mampu kugunakan membidik dengan benar-benar akurat dalam jarak diatas satu kilometer dan mampu melepaskan peluru dengan sangat cepat.
Ternyata tak hanya kami yang akan berjuang, diluar rumah ada 10 orang pasukan siluman bentukan paman yang sudah siap. 10 pasukan tersebut telah bersiap dengan senjata lengkap yang mereka bawa.
Terlihat mereka semua mengenakan penutup muka, berbentuk topeng berwarna hitam. Sehingga aku tak dapat mengenali seperti apa wajah-wajah dari pasukan siluman yang dimiliki paman. Hanya sebuah urutan nomer yang menjadi sandi dari kesepuluh pasukan tersebut.
Pasukan tersebut, merupakan teman-teman paman saat berada di luar negeri.
.
..
...
Tak lama kemudian kami telah bersiap.
Sebelum berangkat kami semua memakai headset portable, yang saling terhubung. Paman membagi kami menjadi dua kelompok.
Dimana aku dan paman dalam satu kelompok Alpha, ditemani 2 pasukan siluman berstatus sniper unggulan.
Kami berempat akan melakukan serangan dari jarak jauh. Bukan hanya menyerang, kami juga bertugas untuk memberi pengamanan terhadap kelompok kedua dimana berisi pasukan garis depan, kelompok kedua berisikan petarung jarak dekat.
Dengan keahlian khusus dalam bidang kecepatan dan kelihaian dalam bertarung ataupun menggunakan senjata api berjenis pistol dan sejenisnya.
April dan Nadia berada di kelompok Betha atau kelompok kedua, beserta 8 pasukan siluman berstatus unggulan dalam garis depan.
Iya… Tumpuan kami ada di 10 orang petarung cepat dimana April dan Nadia berada didalamnya. Namun strategi tersebut dapat fleksibel berubah menyesuaikan keadaan.
Paman akan mengamati perkembangan yang terjadi, selama peperangan terjadi.
Semua ditangan paman. Semua dalam satu komando, dimana paman sang pemegang tongkat komando.
.
..
...
Setelah beberapa saat mendengar instruksi yang diberikan paman. Kami mulai berpencar.
Aku bergerak bersama seorang sniper dengan code 9. Kami berdua mengarah ke barat lereng gunung di atas rumah kakek.
Kami mencari tempat bersembunyi yang tak terlihat oleh musuh tetapi mempunyai sudut tembak 90 derajat. Mengarah ke sebuah lapangan tempat kami menggiring musuh.
Sebaliknya Paman dan seorang sniper dengan kode 10 mengarah ke timur ke sebuah tebing dimana terdapat air terjun yang sering digunakan kakek untuk melatih meditasi.
April dan Nadia membawa 6 orang pasukan siluman, bersembunyi dan melakukan penyamaran di rerimbunan ilalang rumput tinggi, yang berada 300 meter dari tanah lapang yang berada di lereng gunung.
Dua orang pasukan siluman dengan kode 1 dan 2 tetap berada di belakang rumah kakek. Mereka berdua berkemampuan pelari cepat. Dimana mereka akan membawa musuh menuju ajang perang yang telah kami rencanakan dan siapkan.
Sesaat kami secara bergantian memastikan posisi lewat headseat portable yang saling terhubung.
Setelahnya...
Hening...
.
..
...
Pukul 05.30 WIB...
Sang mentari mulai mengeluarkan semburat cahaya merah dilangit. Pertanda fajar sebentar lagi akan menyingsing.
Tak ada tanda-tanda musuh telah datang.
Semua sunyi … Semua senyap!
Tak ada percakapan ataupun informasi keluar dan aku dengar dari headseat protable yang terpasang di telingaku!!!
Hening... Sangat hening !
.
..
...
Duuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaar !!!
Terdengar suara ledakan yang sangat keras saat aku mulai mengarahkan teleskop, mengintai keadaan sekitar.
Sontak suara tersebut membuatku kaget. Dengan cepat aku mengarahkan teleskopku untuk mencari asal sumber ledakan tersebut.
Pemandangan yang kudapat, membuatku mengepalkan kedua tangan, sembari mengeratkan gigi gerahamku!!
Bangsat!!!
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar