ADAPTASI PART 56

 

SAKITNYA TUH DISINI​




POV 


Julian








Hari ini hari yang terasa begitu lama…




Siang tadi aku sempat berunding bersama dengan Macan Kumbang dan Singa Hitam.




Perundingan yang sangat alot, kedua belah pihak sama-sama memaksakan kehendak dan kemauannya hingga sempat terjadi perdebatan dari kedua belah pihak. Dan akhirnya aku mencoba untuk menjadi jalan tengahnya dengan mengusulkan untuk membentuk sebuah aliansi. Dan akhirnya sebuah aliansi menjadi kesepakatan antara mereka berdua. Dimana tujuan terbentuknya aliansi yang pertama adalah untuk melenyapkan Harimau Bungsu dan semua antek-anteknya termasuk sepupuku Bagas.




Akupun tersenyum puas, karena apa yang kurencanakan dan kurancang selama ini akhirnya bisa terwujud.




Setelah Srigala Utara mati, tentunya akan membuat banyak pihak mengincar pasar gelap, yang tadinya dikuasai penuh Srigala Utara.




Dan kesempatan itu terbuka lebar bagi Macan Kumbang dan Singa Hitam untuk mengambil alih tongkat kepemimpinan dunia hitam, mengingat dua kubu yang mereka pimpin adalah dua kekuatan terbesar saat ini.




Setelah dark forces luluh lantah, banyak anggota dark forces yang tersisa memilih mengasingkan diri ataupun malah memilih jalan bergabung dengan exiles.




Dan saat ini hanya satu kubu yang akan menjadi penghalang dan pastinya harus dilenyapkan, siapa lagi kalau bukan Harimau Bungsu.




Menurut Kumbang, Harimau Bungsu merupakan patriot murni yang akan menjadi penghambat dalam berjalannya sebuah kerjasama bisnis gelap yang akan mereka bangun bersama.




Sungguh menarik dimana kedua orang tua tersebut memiliki misi yang sama, yaitu menguasai sektor dunia gelap di negara ini. Namun tak hanya itu, ada kesamaan lain antara mereka berdua yakni sama-sama gila akan kekuasaan.




Iya mereka sama-sama gila akan kekuasaan, dibalik muka patriot Macan Kumbang, ternyata banyak kebusukan yang tersembunyi dan tertutup dengan rapi.




Macan Kumbang merupakan pemain peran yang sangat menjiwai perannya, dia memainkan dua peran sekaligus. Sebagai patriot sekaligus penjahat hebat di dunia hitam.




Singa Hitam pun tak jauh berbeda. Tak cukup dia bermain di dunia pembunuh bayaran.




Dia menginginkan lebih, ambisinya sangatlah besar.




Semua berjalan sesuai dengan apa yang kurencanakan diawal. Akan lebih mudah melenyapkan mereka berdua dalam satu tubuh.




Kembali aku menyeringai…




.


..


...




Malam hari...




“Hai sepupu!” Sapaku. Saat kumasuki kembali sebuah ruangan kamar.




Kamar tersebut berada di dalam sebuah rumah mewah dan berlokasi di sebuah perumahan elit di pinggiran kota.




Terbaring lemah sepupuku Aurel, yang berada di atas sebuah ranjang. Sejenak kuamati wajah Aurel yang sangat pucat, akibat cekokan heroin yang disuntikan beberapa kali di tubuhnya.




Sudah beberapa hari ini Aurel hanya berbaring lemah, selama beberapa hari ini Aurel hanya mau minum, tanpa memakan sesuap nasi. Aku mengetahui hal tersebut dari informasi yang diberikan pembantu rumah yang kuberi mandat untuk menjaga Aurel.




Malam ini, setelah sesaat meluapkan gelora muda dengan sekedar minum di sebuah café, membuatku sedikit mabuk.




Malam ini akan menjadi malam yang panjang, dimana aku memilih untuk membelokkan stir mobil yang kukendarai dengan laju cepat menuju ke arah rumah dimana Aurel kusembunyikan.




Entah pengaruh dari minuman yang sempat kutenggak atau bukan, napsu birahiku naik, sempat tadi ingin kuhabiskan malam dengan memilih salah satu wanita yang menemaniku menghabiskan beberapa sloki minuman, namun tiba-tiba aku teringat akan Aurel.




Aku yakin malam ini akan menjadi malam yang tak akan pernah dilupakan oleh Aurel.




Terkembang seringai jahat di bibirku.




.


..


...




Setelah aku berada tepat di samping Aurel terbaring. Kudekati telinga gadis tersebut, sembari berbisik.




Kau akan merasakan apa yang telah ibuku alami!!!


Penderitaan yang ditanggungnya, karena ulah dari ayah dan kakakmu!!!




Kemudian perlahan kuusap kepala Aurel, sembari mengecup kepalanya, tercium bau harum aroma shampo yang keluar dari rambutnya. Walau lemah tak berdaya, namun kebersihan Aurel sangat terjaga, bibi pembantu rumah ini tak hanya menjaganya, namun juga memandikan Aurel setiap hari.




Aroma tubuh Aurel, benar-benar membuatku semakin bernapsu. Dan malam ini akan kunikmati tubuhnya. Tubuh dari sepupuku yang memiliki paras ayu, ciri khas dari gadis berdarah jawa.




Tak mau membuang waktu. Aku mulai melepas satu persatu kancing dari piyama tidur yang di kenakan Aurel. Dan sontak saja gundukan gunung kembar milik Aurel yang masih tertutup bra berwarna pink terpampang didepan mataku. Terlihat juga, perutnya yang ramping dengan warna kulit kuning langsat.




Perut tanpa lemak, karena keseharian Aurel yang selalu menjaga pola makan dan rutin melakukan senam erobic.




Pengaruh heroin yang sedikit melebihi dosis, membuat Aurel hanya mampu pasrah menerima pelecehan yang kulakukan. Hanya terlihat air mata Aurel tak berhenti mengalir dari sela sudut matanya yang sedikit menghitam karena beberapa hari terjaga.




Merasa gemas melihat mulut Aurel yang sedikit terbuka, aku mulai mencumbunya. Mengigit-gigit bibir Aurel, sembari mencoba memasukan lidahku untuk menyusuri rongga didalam mulutnya. Aurel sempat berontak dengan mengatupkan mulutnya sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan. Namun sebuah cengkraman erat di rambutnya yang halus, membuatnya kembali diam.




Perlahan mulutnya terbuka kembali dan aku mulai menjulurkan lidahku kembali, menikmati rongga mulut sepupuku tersebut.




Setelah merasa puas memainkan lidah dan menciumi mulut mungil milik dara berparas ayu tersebut, aku kembali menggeser tubuhku. Lalu sepintas mengamati dalam-dalam lekuk tubuh yang cukup menggiurkan milik sepupuku Aurel. Nafsuku makin membara. Tak lama kemudian, aku mulai lanjutkan kegiatan untuk menelanjangi Aurel. Kali ini fokusku ke celana panjang yang merupakan setelan bawah, dari pakaian tidur yang dia kenakan. Dengan perlahan kuturunkan celana tersebut hingga lepas dari mata kakinya. Sontak saja memperlihatkan paha dan kaki jenjangnya yang mulus.




Tiba-tiba!!!




Aurel sedikit melakukan rontaan dengan menggerakan tubuhnya, menghindari tanganku yang akan melepas bra yang dia kenakan.




Namun efek heroin nampak membuat gerakannya sangat lemah.




Aku sudah gak sabar, dengan sedikit paksaan kulepas sekaligus bra dan celana dalam Aurel, yang berwarna senada yaitu pink dengan cara merobeknya.




Kini Aurel telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya.




"Sexy.." Gumamku. Hanya kata itu yang bisa menggambarkan begitu menggodanya tubuh telanjang dara berumur 20 tahun tersebut.




Sangatlah mulus dan bersih tubuh sepupuku ini. Tubuhnya semakin mengiurkan karena payudaranya yang terlihat tidak terlalu kecil dan tidak juga begitu besar.




“Begitu menantang!!!” Pikirku.




Aku mulai meraba, sembari sesekali meremas gundukan daging kenyal itu. Payudaranya masih sangat kencang.




Diliputi napsu yang semakin meninggi, terus kujamah tubuh sepupuku tersebut.




Sesaat kemudian...




Perhatianku teralih sedikit ke bawah. Mengarah ke kemaluan sepupuku tersebut, kemaluannya ditumbuhi bulu pubis yang terlihat agak rimbun. Agak aneh mengingat usia Aurel baru menginjak 20 tahun.




Terlihat Aurel bergerak menggeliat-geliatkan tubuhnya menyadari apa yang akan kulakukan selanjutnya terhadap dirinya.




Melihat pemandangan tersebut, membuatku semakin tak sabar untuk menikmati tubuhnya.




Tanganku mulai kembali menjamah tubuh Aurel. Tak henti-hentinya aku meremas-remas gundukan payudaranya dengan kencang.




Aku semakin bernapsu saat Aurel mulai mengeliat, mencoba menghindar dari tanganku yang semakin keras meremas payudaranya.




Terbaca wajah kurang nyaman yang ditunjukan Aurel, saat aku mulai mencumbui leher dan beberapa kali meninggalkan tanda merah di sekitaran area leher dan payudaranya.




Penisku sudah berdiri tegang maksimal. Namun aku tak mau tergesa-gesa untuk menikmati gadis perawan yang pasrah tanpa perlawanan didepanku ini.




Malam masih panjang...




Aku melanjutkan dengan mulai menghisap puting kecil berwarna kecoklatan yang di miliki Aurel. Semakin lama kuhisap, puting kecil tersebut semakin mengeras. Beberapa kali dengan sengaja kugigit puting itu dan sontak membuat raut wajah Aurel mengernyit menahan rasa sakit akibat gigitanku.




Masih dengan terus mencumbui payudara milik dara berparas ayu tersebut. Kini tanganku tak tinggal diam,jemariku mulai menyibak bulu pubis miliknya yang sedikit rimbun, sembari menyusuri mencari celah bibir kemaluan milik sepupuku tersebut.




"Kering..." Gumamku. Saat Jemariku menyentuh kemaluan Aurel. Dengan sedikit paksaan mulai kuusap kelentit miliknya, yang berada sedikit tersembunyi tertutup oleh lipatan daging tebal yang menggunduk dan berada tepat diatas lubang kemaluan Aurel.






10 menit telah berlalu...




Jemariku kian gencar mengusap kelentit milik Aurel. Dengan dibantu lendir yang mulai keluar, jari tengahku kini menyelusup mencoba memasuki kemaluan Aurel yang terasa mulai sangat basah.




Baru dua ruas jariku yang masuk kedalam kemaluan Aurel.




Namun, saat jariku memaksa masuk lebih dalam. Terasa ujung jariku menyentuh penghalang yang berada didalam kemaluan sepupuku tersebut.




Tubuh Aurel terus menggeliat pelan.




Hmm...


Hmmmm...




Tak ada rontaan yang berarti dari Aurel, hanya tersirat kesedihan mendalam, terlihat dari lelehan air matanya yang keluar tanpa henti. Mulut mungilnya terlihat sedikit terbuka. Nanum untuk berteriak pun sepupuku tersebut tak mampu.




Napsuku benar-benar tak tertahan. Sejenak kuberdiri, sembari mulai melepas pakaian yang kukenakan.




Terlihat penisku telah terbebas dari rasa sesak, karena tadi ereksiku terhalang cd dan jeans denim yang kugunakan.




Terasa penisku telah tegang sempurna. Kini aku mulai memposisikan diri bersimpuh diantara sela kedua kaki Aurel. Dengan kedua tangan, kurentangkan kedua kaki Aurel.




Sontak hal tersebut membuat kemaluan Aurel terekpos bebas, terlihat kemaluan Aurel berwarna merah muda, sedikit pucat dan tertutupi bulu pubisnya.




Perlahan mulai kutempelkan kepala penisku pada bibir kemaluan Aurel yang telah basah.




Aurel kembali melakukan rontaan dengan menggerak-gerakan kakinya. Sembari menatap tajam kearahku.




Namun kembali lagi, efek dari heroin dan cengkraman tanganku di kedua kakinya, membuat rontaan tersebut sia-sia.




Perlahan mulai kudorong penisku menyeruak memasuki kemaluan Aurel. Hal tersebut sontak membuat bibir kemaluan Aurel yang sedikit tembem terbelah perlahan.




Tanpa ragu kulesatkan penisku semakin dalam, sehingga penisku benar-benar amblas masuk kedalam kemaluan Aurel. Hal itu sontak membuat Aurel terpekik menahan rasa sakit yang menghinggapi kemaluannya.




Mata sepupuku tersebut melotot sembari kepalanya sedikit terangkat. Terlihat juga kedua tangannya mencengkram erat sprei bermotif bunga berwarna hitam yang berada diranjang.




Aaaaaaaaaaaaaaah... Aku merasakan jepitan kencang disekujur penisku.




Tanpa memperdulikan rasa sakit yang Aurel rasakan. Tetap kutindih Aurel. Sembari kukayuh dengan cepat tubuh ramping sepupuku tersebut.




“Aaaaaauuuw!!!.” Keluh Aurel lirih.




Akibat paksaan penisku yang menyeruak-ruak kasar di dalam kemaluannya dan membuatnya kembali merasakan rasa sakit. Sepertinya efek heroin telah berkurang, membuat mulutnya kembali dapat berucap.




"Brengseeeeekkk!!!" Aurel mencoba mendorong tubuhku dengan kedua tangan, sembari bergerak berdiri. Sepertinya rasa sakit dari kemaluannya membuat sisa tenaga yang dia punyai keluar.


"Errrgggh.." Rintihan Aurel tertahan. Saat sebuah cengkraman kuat bersarang dilehernya. Cengkraman dari tangan kananku membuatnya bungkam sekaligus menghentikan tindakan yang dilakukannya.




Cengkramanku membuat Aurel tercekik, hal itu mengakibatkan Aurel sedikit kesusahan untuk bernapas. Nampak jelas diwajah Aurel yang memerah, karena aliran darah yang tersumbat.




Bugh!!!


Bugh!!!


Bugh!!!




Kedua tangannya memukuli tanganku, mencoba melepaskan cengkramanku. Aku tak memperdulikan hal itu. Tetap kulesatkan berulang kali penisku, menyeruak keluar masuk kedalam kemaluan Aurel.




Wajah Aurel semakin memerah, matanya mulai melotot tajam. Sembari tangannya kini mencengram dan memberikan cakaran berulang kali pada tanganku, berusaha membuat tanganku berhenti dan melepas cekikan lehernya. Namun usahanya itu sia-sia. Rontaan Aurel malah membuatku semakin bernafsu. Cengkramanku semakin erat mencekik lehernya.




Egh!!!


Eeegh!!!




Sontak Aurel terpekik sembari meronta-ronta berusaha mengambil napas. Rontaan Aurel menyebabkan dinding kelaminnya kian kencang menjepit penisku.




Sebentar lagi!




Uuuuuuuh!!!




Plooook!!!


Ploook!!!


Ploooook!!!




Aku semakin cepat melesatkan penisku keluar masuk menyeruak kedalam kemaluan Aurel. Membuat suara tumbukan keras saat tubuh kami bersinggungan.




Aaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!




Tak tertahankan lagi!!!




Croooot!!!


Crooooot!!!


Crooooooot!!!




Kuhujamkan dalam-dalam penisku. Bersamaan dengan beberapa kali penisku menyemprotkan sperma di dalam rahim Aurel.




Tubuhku terasa lemas setelah orgasme hebat yang baru saja kudapat. Membuat tubuhku roboh menindih tubuh Aurel yang berada tepat dibawahku.




Selang beberapa waktu berlalu, aku merasakan Aurel mencoba mendorong dan menggeser tubuhku.




Sehingga aku terbaring di sisi kanan Aurel, masih dengan kondisi tubuhku yang telanjang.




Tok ... Tok … Tok !!




Terdengar suara ketukan pintu, membuatku beranjak dari tempat tidur. Selang beberapa saat setelah pintu kubuka, masuklah dua orang anak buah kumbang Jacob dan Robin, yang sebelumnya dengan sengaja kuajak mereka untuk berpesta menikmati Aurel.




Ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuk Aurel khususnya.




Kembali aku menyeringai, membayangkan apa yang sebentar lagi akan menimpa Aurel.




Tanpa meminta ijin dariku Jacob dan Robin telah berhambur mengahampiri tubuh Aurel yang tergolek lemah, setelah beberapa waktu yang lalu kuperkosa.




Tanpa menunda waktu keduanya nampak begitu bernapsu untuk menikmati tubuh Aurel.




Hingga menjelang pagi mereka berdua baru usai melampiaskan hasrat birahinya. Entah berapa kali mereka secara bergantian menyetubuhi Aurel.




Sepeninggal mereka berdua, menyisakan aku dan Aurel yang berada di kamar ini. Aku masih belum beranjak dari dudukku.




Kuhabiskan waktu semalam untuk melihat kebrutalan Jacob dan Robin memperkosa Aurel sembari menikmati beberapa botol wisky yang telah kusiapkan terlebih dahulu. Entah berapa batang rokok habis kuhisap, untuk sekedar mengurangi rasa pait yang melanda tenggorokanku disaat minuman tersebut kutenggak berulang kali.




Aku teralih ke arah dimana Aurel berbaring. Kondisi Aurel sangat memprihatikan. Terlihat tubuhnya penuh lebam akibat pukulan yang diberikan Jacob maupun Robin, karena Aurel berusaha meronta saat mereka berdua memperkosanya secara bergiliran.




Paras ayunya terlihat lusuh disertai kulit yang memerah akibat tamparan. Melihat pemandangan tersebut, napsuku kembali bangkit.




Mungkin memang aku tidaklah normal, entahlah...




Sesaat kembali kulepas pakaian yang melekak ditubuhku, lalu berjalan mendekati tubuh Aurel, kemudian aku membalikkan tubuh Aurel.




“Fuuuuck!!!” Ucapku. Terlihat pemandangan dimana kemaluan Aurel telah lebam dan menganga.




Merasa tak nyaman dengan hal tersebut. Aku memilih membalikan kembali tubuh Aurel hingga tengkurap, sembari kemudian menarik Aurel hingga kakinya menjuntai di pinggiran ranjang.




Kuusap-usapkan ujung penisku yang sebelumnya telah kuberi air ludah, di lubang dubur Aurel yang masih terlihat sempit.




Aurel sepertinya tau, apa yang akan kulakukan.




“Jangaaan... Jangaaan disituuu!!!” Rengek Aurel.




Dengan sisa tenaga yang dia punyai, Aurel berusaha menggeser-geserkan tubuhnya menghindari penisku yang berada tepat dilubang duburnya. Namun semua usahanya menjadi sia-sia saat tanganku mencengkram erat bongkahan pantatnya yang sekal.




Eeeeegh!!!


Eeeeeeeegh!!!!


Aaaaaaaaaaaaaaaarrrggghhg!!!!




Tanpa menghiraukan apa yang Aurel rasakan. Kuhujamkan penisku dalam-dalam memasuki lubang duburnya.




Nampak Aurel menjerit kesakitan, sembari mencengkram erat sprei yang telah berantakan.




Tak kuhiraukan hal tersebut, terus aku goyangkan pinggangku untuk mencabuli dubur dara berparas ayu tersebut.




Sempit … Dubur Aurel sangatlah sempit. Terasa penisku sedikit perih, setelah beberapa kali mendapat remasan kencang yang dilakukan dinding dubur milik Aurel bagian dalam.




“Eeeegh … Eeeegh… Ampuun kak… Lepaaaas !!!” Beberapa kali Aurel, memohon dengan suara lirih.




Tak kupedulikan hal itu. Aku terus mencabuli Aurel sembari sesekali menampar pantat Aurel yang sangat sekal.




Rasa dendam karena perbuataan ayah dan kakak Aurel dimasa lalu ketika dengan sangat brutal memperkosa ibuku membuatku sama sekali tak memperdulikan keadaan Aurel.




Aku hanya memburu kepuasan. Dan tubuh Aurel adalah pelampiasanku saat ini. Penisku masih terus menyeruak keluar masuk mengoyak dubur Aurel.




“Sakiiit kak!!!” Rengek Aurel sambil terus memukul-mukul ranjang.




Sekali lagi tak kuhiraukan rengekan Aurel. Hal itu malah semakin memembuatku bernafsu untuk terus mencabuli dara berparas ayu tersebut.




Terlihat permukaan dubur Aurel ikut terdorong masuk saat penisku menghujamnya dalam-dalam. Dan sebaliknya permukaan duburnya terlihat ikut tertarik keluar saat penisku kutarik.




Jepitan dubur Aurel yang sangat kencang membuatku tak bertahan lama. Berselang 5 menit kemudian, aku merasakan akan mencapai puncak. Aku semakin menggila dengan semakin kasar menghujamkan penisku kedalam dubur Aurel. Terasa penisku mulai gatal dan bergetar hebat.




“Sebentar… sebentar lagi!!!” Gumamku.




Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh!!!!


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarg!!!'


Crooooot … Croooooooot … Croooooooooot…




Kulesatkan penisku sedalam mungkin masuk ke dubur sepupuku tersebut. Bersamaan dengan keluarnya spermaku yang beberapa kali kusemprotkan di dalam dubur Aurel.




Aurel melolong panjang, terasa dinding duburnya semakin mencengkram kencang penisku yang berada didalamnya.




Beberapa saat kemudian, kucabut penisku dari dubur Aurel. Terlihat dubur milik dara berparas ayu tersebut berkedut-kedut, sembari terlihat spermaku mulai meluber keluar dari duburnya bersamaan dengan berkedutnya dubur Aurel.




Puas … Aku sangat puas setelah menikmati dua lubang yang berada di tubuh Aurel.




Ternyata bukan isapan jempol, dimana anal sex begitu nikmat. Dan Aurel akan menjadi boneka sex milikku.




Aurel sudah tak berharga. Aku hanya butuh tubuhnya untuk melampiaskan napsu birahiku hingga suatu saat nanti. Ketika aku sudah jenuh dan telah merasa bosan menggunakan tubuhnya, baru akan kubunuh sepupuku tersebut.




Sekali lagi... Aku menyeringai melihat Aurel pingsan setelah pencabulan yang baru saja kulakukan.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar