ADAPTASI PART 55

 

POV 

NADIA

Tak terasa Waktu berjalan begitu cepat. Telah lebih dari sebulan aku berada di sini.

Di sini, Di tempat guru Bungkuk. Menempati sebuah rumah dengan kesan kuno yang sangat luas. Rumah yang terletak tepat di bawah kaki gunung terasa sejuk dan nyaman untuk ditinggali . Aku berada dan tinggal serumah bersama Bagas. Jelas tak hanya Bagas yang berada di sini. Phoenix dan Kak Belut pun ikut singgah sementara waktu di sini. Kami semua melengkapi keramaian rumah yang biasa setiap harinya hanya di huni guru Bungkuk seorang diri.

Bisa dekat dengan Bagas yang sangat aku idam-idamkan membuat hatiku seketika berubah. Kali ini dekat dengannya merupakan kepedihan yang sangat mendalam teruntukku. Sering kali aku merasa sakit karena tak sengaja melihat kemesraan yang terjadi antara Bagas dan April. Gimana aku mau menghindar kalo kami emang serumah. Sekali lagi aku harus iklas karena sadar akan posisiku saat ini. aku sadar kalo saat ini, aku hanya sebuah bayangan. Dan aku paham dan sadar betul konsekuensinya seperti apa.

Bagas tau. Bagas pastinya paham apa yang aku rasakan. Namun demi menjaga rahasia yang kami punyai tersimpan dengan rapi. Bagas pastinya memilih bersikap wajar.

Melihat mereka berdekatan jelas membuatku cemburu. Gak normal kalo saja aku gak merasa cemburu. Karena mau bagaimana pun juga rasa sayangku ke Bagas begitu besar dan nyata adanya. Namun apa daya, mereka memanglah sepasang kekasih. Wajar bila sering memadu kasih dan bermesraan. Walau sakit hatiku, aku masih berfikir mereka memanglah pasangan yang sangat serasi. Bagas dengan muka tampan di tunjang body atletisnya. Berpasangan dengan Phoenix yang memiliki paras cantik dan tubuh yang ideal. Dan aku kini hanyalah sebuah bayangan.

Bayangan dimana tak pernah merasa di akui keberadaannya. Namun bayangan tetaplah selalu nyata adanya. Bayangan selalu ada bersamaan dengan hadirnya cahaya.

Bayangan sebuah merupakan simbol kesetiaan. Karena bayangan selalu berada dan mengikuti sang pemiliknya. Walau aku tau dan sadar jika Bagas tak mungkin memilihku untuk di miliknya. Tetapi aku betul-betul rela hanya menjadi sosok bayangan untuk Bagas. Aku rela menjadi sekelebat hitam yang selalu setia menemani di mana pun Bagas berada. Semua karena rasa sayangku ke Bagas.

Iya tak mampu Nadia pungkiri,,, kalo memang Nadia saat ini sayang ke Bagas....! Bukan cuman sayang,, melainkan sangat menyayangi bagas...!

Kalian mungkin bertanya-tanya apa sebabnya…?

Aku juga gak tau, Aku juga gak paham. Tetapi rasa ini nyata adanya. Rasa ini terasa begitu kentara. Rasa ini tak mampu Aku gambarkan. Aku tak mampu merangkai rasa ini menjadi untaian kata. Aku pun tak mampu untuk melukiskan rasa ini ke dalam lembaran kanvas.

Rasa dimana...

Suka dan duka…

Atau...

Susah dan Senang...

Terlebur menjadi satu...

Terbias oleh sebuah kata...

Kata yang sangat sering kali di dengar...

Kata yang sangat mudah terucap...

Kata yang dapat membutakan semua...

Kata yang mampu mengecohkan antara hal baik ataupun buruk...

Kata itu adalah..........

Cinta....

Aku kembali teringat kejadian 2 minggu lalu sewaktu pagi. Kala itu ada kesempatan berduaan dengan Bagas.

Beneran berduaan dengan Bagas!!!

Kesempatan yang sangat jarang terjadi!!!

Kesempatan yang muncul secara tiba-tiba!!!

Kesempatan yang acap Nadia pinta!!!

Kesempatan yang nadia beneran harapin!!!

Berdua bersama Bagas...

Pagi itu April mendapat latihan untuk mempertajam fokusnya dengan melakukan meditasi di air terjun yang terletak di sebelah barat gunung. Sementara guru Bungkuk dan kak Belut terlibat latihan di tanah lapang berada tepat lereng gunung. Hal tersebut membuat aku dan Bagas berkesempatan hanya berduaan di rumah. Di awal tak ada hal yang cukup spesial. Beberapa kali secara kebetulan kami sempat berpapasan. Namun kami masih saling terdiam. Mungkin rasa canggung atau saling ragu untuk memulai menghinggapi kami. Entahlah sekedar menyapa pun kala itu kami sama-sama merasa malu.




Ego...


Itu merupakan ego dari diri kami...!




Tak dapat di sangkal aku pastinya menginginkan Bagas. Aku kangen berat sama Bagas. Dan Aku yakin. Bagas pun pastinya merasakan hal yang sama. Dia juga pasti merindukanku.




Walau ini hubungan terlarang...


Walau ini nista...


Walau ini sebuah dosa...


Biarin...


Biarin Bagas dan Nadia yang menanggungnya...




Aku semakin dalam masuk ke ingatan kala itu. Tadinya semua berjalan normal. Hingga hal yang tak terduga terjadi.




Sorot mata kami bertemu!!!


Bertemu dengan sendirinya!!!


Tanpa mampu Nadia hindari!!!


Ataupun Bagas yang berkelit!!!




Sorot mata Bagas sangat tajam menatap lekat ke arah Nadia. Membuat Nadia di liputi rasa grogi, namun memutuskan bergantu menatap mata Bagas!!!




Jujur kala itu aku sempat salting membalas tatapan mata Bagas. Kala itu aku sedang membantu membersihkan rumah dengan mengepal lantai. Grogi membuat aku berjalan sedikit tergesa-gesa. Hal tersebut membuat aku kurang berhati-hati atau kurang waspada dengan keadaan lantai yang basah dan licin.




Kakiku tiba-tiba tergelincir. Namun di saat aku pasrah untuk terjatuh. Sebuah tangan menangkap tubuhku.




Degh...!


Degh...!


Degh...!




Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Siapa lagi pemilik tangan itu kalo bukan Bagas, mengingat hanya kita berdua yang berada di rumah ini. Tubuhku nyaris jatuh karena sudah terpelanting ke belakang. Namun dengan cekatan tangan Bagas tau-tau melingkar, menahan serta menopang tubuhku.




Kami saling terdiam, terhanyut dalam angan masing-masing.




Namun Bagas tiba-tiba tersenyum padaku…!




Hu.. Hu... Hu.....




Nadia kangen!!!


Kangen liat Bagas senyum gitu!!!




“Kamu gak apa-apa Nad...?” Sapa Bagas lirih.




Aku Ga bisa jawab pertanyaan dari Bagas, entahlah tiba-tiba lidahku kelu. Aku Cuma bisa membalas tatapan mata Bagas. Tertangkap olehku sorot mata teduh dari Bagas yang masih mengkuatirkan keadaanku.




“Naaaaad...” Merasa tak di hiraukan, sekali lagi Bagas memanggilku dengan lirih.


“Eh maaf Gaas...” Sahutku gugup karena salting.


"Lain kali hati-hati Nad..." Tambah Bagas sambil kembali tersenyum simpul. Aku hanya mampu menganggukan kepala. Entah pipiku kini terasa begitu hangat, walau hanya mendapat perhatian kecil dari Bagas.




Hiks...




"Nadia kangen kamu Gaas..". Gumanku di hati.




Tiba-tiba Bagas melepas pelukannya karena takut semakin salting. Aku memutuskan untuk beranjak meninggalkan Bagas. Namun baru saja aku mau balikin badan. Sebuah tangan meraih dan menahan tanganku. Tubuhku bak sebuah boneka. Aku pasrah menerima tarikan tersebut. Yang jelas pasti Bagas pelakunya.




"Begh.." Tiba-tiba tangan Bagas menarik tubuhku sehingga jatuh kepelukannya. Aku pasrah, Bagas kemudian melingkarkan tangannya ke tubuhku.




Erat….! Bagas memelukku sangat erat.




Tinggiku hanya mencapai dagu Bagas. Membuat kepalaku bisa tepat bersandar di dadanya Bagas. Samar mulai tercium aroma tubuh Bagas. Aroma yang aku rindukan.




Nyaman... Nyaman sekali berada di pelukan,, pemuda ini.


Lama... Tak terasa begitu lama kami berpelukan.




Pelukannya terasa begitu hangat...


Hangat!!!


Sangat hangat!!!


Pelukannya beneran hangat!!!


Nadia kangen di peluk Bagas!!!




.


..


...




Duuuuuh!!!


Sadar Nad!!!


Nadia seperti sedang bermimpi!!!


Nyut!!!




Seperti orang tolol aku menggigit bibir bagian bawah. Sakit, ternyata aku ga lagi mimpi. aku beneran lagi di peluk Bagas. Mengindahkan rasa malu, aku balas pelukan Bagas.




“Bagas kangen Nad...” Tiba-tiba Bagas berbisik di telingaku.




Nadia gak salah denger…? Mukaku beneran semakin merah padam. Pipiku gak lagi hangat, melainkan panas.




Aku masih memilih diem.




“Naaad...” Kembali Bagas berbisik di telingaku.


“Iyaaa Gaas...” Balasku lirih.


“Bagas kangen...” Merasa tak mendapat respon, Bagas kembali mengulangi kata-katanya tadi.




Aku enggan untuk membalas pernyataan Bagas.




"Cuup..!" Dengan segera, aku berjinjit dan mengecup mulut Bagas. Tak perlu di ucapkan lewat kata-kata untuk menjawab bisikan Bagas.


“Cluup…!” Hanya kecupan ringan, karena Bagas menjauhkan kepalanya melepas ciuman kami.




Degh!!!


Degh!!!




Jantung Nadia berdetak semakin kencang, kuatir Bagas marah akan kelakuanku. Namun, Berselang beberapa detik kemudian.




“Cuuup…!” Tiba-tiba Bagas malah mencium balik.




Senang…? Jelaslah Nadia sangat senang.




Merasa nyaman, aku pun memilih menutup mata. Meresapi kulit bibir kami yang saling bertemu. Perlahan mulut Bagas kian gencar memagut bibirku.




Sesaat kemudian, aku merasakan Bagas semakin agresife. Dia melumat bibirku dengan penuh napsu. Aku beriinisiatif mengimbanginya dengan membuka sedikit mulut. Bagas mulai semakin berani. Dia mulai memainkan lidahnya, lidahnya mulai nakal berani menyeruak masuk ke dalam mulutku. Dia terus memainkan lidahnya, mengelitik menerobos masuk semakin dalam ke mulutku.




Dengan apa yang diperbuat oleh Bagas. Aku tak tinggal diam sembari mengalungkan kedua tangan ke leher Bagas. Perlahan aku membalas menghisap lidah Bagas yang genjar bermain di mulutku. Saat Bagas menarik lidahnya. Aku beriinisiatif menjulurkan lidah membalas memainkan lidah berganti menerobos masuk ke dalam mulut Bagas.




Tak lama kemudian, aku merasakan hisapan lembut. Bagas perlahan mulai memberi hisapan-hisapan lembut ke lidahku.




Lembut... Hisapannya sangat lembut.




Lama... Kami seperti tak ingin melewatkan moment langka ini, membuat kami saling bercumbu cukup lama. Kami berdua saling meluapkan perasaan yang bergemuruh di dada. Pasrah merelakan akal sehat kami untuk di kuasi napsu birahi. Saat ini kami sarat terhanyut akan dosa yang manis.




Tak hayal... Ciuman sarat akan napsu membuat kami sama-sama merasakan dahaga.




Dimulai dari Bagas. Bagas seperti kehausan, dia mulai menghisap berulang kali air liurku. Belum puas dengan itu, Bagas semakin berani. Tangan Bagas pun tak tinggal diam. Aku merasakan remasan kasar di kedua bongkah pantat.




Nakal…! Tangan Bagas semakin nakal meremas kencang pantatku. Ciuman kami masih berlanjut.




Lama.... sangat lama kami terhanyut dalam ciuman panas... Hal itu membuatku juga merasakan haus. Berujung aku membalas apa yang dilakukan Bagas tadi. Aku bergantian mulai menghisap sembari menelan ludah Bagas.




"Cluuup..." Tiba-tiba Bagas sekali lagi melepaskan ciumannya. Membuat aku kembali bingung. Bibirku masih terbuka. Menunggu apa yang akan Bagas lakukan kemudian.




Sesaat mata kami beradu pandang. Lalu aku sempat di buat sangat kaget. Ketika dengan tiba-tiba Bagas menggendong tubuhku.




Sekali lagi aku Cuma bisa pasrah, saat Bagas menggendong tubuhku menuju kamar. Kemudian membaringkanku di atas ranjang. Aku tau hal yang akan terjadi selanjutnya. Aku tau dan sadar betul jika pemuda ini di landa napsu yang harus dipuaskan.




Bagas mulai menyelusupkan tangannya melalui celah bagian bawah dari daster tipis yang aku pake. Tangannya berhenti sebentar setelah menyentuh gundukan payudaraku yang masih tertutup bra. Namun sesuai dugaan, tangan Bagas malah semakin berani dengan menyingkap cup bra yang berfungsi sebagai penutup payudara milikku.




Nakal… Seperti tak ada puasnya, kini tangan Bagas mulai mengusap sembari meremas pelan payudaraku.




Geli… Aku dibuat merinding dan bergidik menerima perlakukan Bagas...




Geliiiii banget... Semakin geli di waktu Bagas mulai memeilin-milin puting kecil milikku.




"Uuuuuuuh..." Desahku, saat meresapi setiap sentuhan dari jari-jari Nakalnya. Sembari terus menutup mata dan mulai menggigit bibir bagian bawah untuk mengurangi rasa geli yang menjalar ke seluruh tubuhku.




Aku perlahan membuka mata. Di saat tiba-tiba Bagas menghentikan gerakan tangannya. Jujur aku masih ingin di sentuh. Mataku semakin sayu menatap Bagas. Mengharap Bagas kembali menyentuhku. Namun malah Bagas mengarahkan pandangan ke mukaku. Membuat mata kami beradu untuk kesekian kalinya. Mata kami saling mengisyaratkan sebuah perasaan.




Teduuuh... Sorot mata Bagas nampak begitu teduh.




"Waktu kita ga banyak Nad.." Bagas berucap lirih. aku hanya mampu menganggukan kepala. Paham dan harus mengerti akan kondisi hubungan kami.


"Uuuuuuuhhhhhh gaaaasss..." Aku kembali mendesah panjang. Merasakan tangan Bagas yang mulai nakal mempermainkan puting milikku lagi. Lalu tangan itu makin turun. Turun mengarah perutku. Sejenak tangan Bagas bermain-main dengan mengusap perutku.




Jujur... Aku beneran dibuat merinding karena ulah dari tangan jahil Bagas.




.


..


...




"Uuuuuuuuuuuuuuh gaas.....!" Aku mendesah panjang sekali lagi, saat tangan Bagas semakin turun dan masuk ke dalam celana dalam yang aku pakai. Perlahan Bagas mulai mengusap-usap kemaluanku yang sedari tadi telah basah.


"Uuuuhhhh... Terus gaaass.." Tanpa malu lagi aku mendesah. Mendesah lirih untuk menggambarkan rasa geli bercampur nikmat dari sentuhan tangan Bagas. Mataku seperti tersihir untuk memejam dan menikmati sentuhan nakal Bagas. Dan ta terhitung lagi berapa banyak aku dengan sengaja menggigit bibir bagian bawah. Semata-mata untuk mengurangi rasa geli yang menjalar ke seluruh tubuhku.




Nadia beneran terbius...!




Nafas nadia memburu...! Bagas malahan semakin nakal memainkan tangannya. Kini jemari Bagas mulai mengusap-upas kelentit milikku.




"Oooooooooouuuhhhhhhh....!" Desahku tak tertahan. Apa yang dilakukan Bagas jelas membuat kemaluanku semakin becek. Kemaluanku basah, Kemaluanku basah kuyub dibanjiri oleh lendir akibat ulah nakal Bagas.


“Uuuuuuuuuuuuuuh.... Enaaaaak banget Gaaaas... Teruuuuus!!!”




Tubuh nadia menginginkan ini. Nadia haus, nadia haus belaian. Belaian dari Bagas. Bagas lalu merangkak menurunkan tubuhnya. Sambil melepas celana dalam hitam berenda yang aku pake.




"Nadia pasrah…. Setubuhi Nadia,,, Gaaas...!" Gumanku dalam hati.




Kangen, Kangeeeen banget. Tak bisa di tutupi. aku menginginkan persetubuhan dengan Bagas.




Sedikit tergesa, Bagas mulai melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Saat boxer hitam atau pakaian terakhir yang Bagas lepas, memperlihatkan penis Bagas yang sudah dalam keadaan berdiri kencang. Aku di paksa menelan ludah melihat penis Bagas terlihat panjang dan gemuk. Seperti terhipnotis, aku tanpa sungkan membentangkan kedua kaki. Tanpa rasa malu, aku malah memperlihatkan kemaluanku secara gamblang di hadapan Bagas. Tanpa menunda waktu, Bagas mulai gesek-gesekan penisnya. Mengesekannya di sela bibir kemaluanku yang sudah sangat becek.




Geiiii.... aku kembali dibuat bergidik, menerima perlakuan Bagas. Yang terus menerus menggesekkan kelamin kami. Tanpa sadar aku untuk kesekian kali kembali menggigit bibir bagian bawahku lagi. Sekedar untuk menahan rasa nikmat yang mendera.




"Uuuuuuuuuuuuuuuuhhhh gaaaass...." Aku mendesah, saat merasa kepala penis miliknya mulai membelah masuk kedalam liang kemaluanku. Dengan bantuan lendir yang keluar secara sendirinya dari Kemaluanku, penisnya dengan mudah menyeruak masuk lebih dalam.


“Uuuuuuuuuh Gaaaaas...”


“Gaaaaaaaaaaaaas!!!” Geliii dan nikmat campur aduk membuat aku mendesah tak karuan.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!” Tiba-tiba Bagas mendorong penisnya untuk masuk lebih dalam. Membuat aku terpekik.




Mentok…! Penisnya yang panjang dan gemuk menyeruak masuk hingga mentok ke dalam kemaluanku.




Sesaat Bagas mendiamkan penisnya. Hanya dibiarkan diam di dalam kemaluanku.




“Uuuuuuh…..” Desah Bagas lirih meresapi peraduan kelamin kami.




Dengan gerakan pelan Bagas mulai menarik dan mendorong secara perlahan penisnya. Tak dapat di elakkan penis bagas menyeruak bergesekan dengan dinding Vaginaku.




“Uuuuuuh... Gaaaaas…!” Desahku memanggil nama pemuda yang sedang menyetubuhiku.




Mungkin karena Bagas telah melihatku merasa nyaman. Bagas mulai meningkatkan tempo dengan semakin cepat mengeluar masukan penisnya.




Aku merasakan vaginaku semakin di banjiri lendir. Serta vaginaku tiba-tiba berkedut tanpa henti di barengi rasa gatal yang menjalar kemana-mana.




“Geli!!! Geliiiii Gaaaas!!!”


"Uuuuuuuuhhhh!!! Nadiiiiaaaaaa mo nyampeeeekkk gaaasa....!" Racauku menuju klimak. Bersamaan dengan rasa geli yang semakin tak tertahankan. Rasa tak tertahan untuk pipis.




"Uuuuuuuuhhhhhh...!" Aku mendesah panjang . Vaginaku berkedut tanpa henti sembari menyemprotkan cairan kenikmatan. Iyaaaa, dalam hitungan menit aku di buat K.O oleh Bagas. Napsu yang memuncak membuatku tak bisa menahan lebih lama lagi untuk orgasme. Bagas yang sepertinya paham aku telah mencapai puncak, berhenti sejenak memompa tubuhku. Dia menatapku lalu menyempatkan mengecup keningku.


“Enak…! Enaaaaak banget…! Enaaaaaaak bangeeet Gaaaas…!” tanpa malu lagi aku mengutarakan, apa yang kurasakan.




Bagas nampak tersenyum menanggapi ocehanku. Sembari tetap diam memberi jeda waktu untukku rehat dan memulihkan staminaku kembali.




“Lanjut ya Nad...?” Ucap Bagas lirih.


“Huum...” Aku sadar, waktu kami berdua semakin tipis. Dan Bagas ingin mengejar orgasmenya.




Bagas mulai kembali memompa tubuhku, penisnya bak piston mulai bergerak menyodok semakin masuk ke dalam kemaluanku.




"Uuuuh.." Beneran geli, abis nyampek lalu masih harus menerima sodokan demi sodokan dari penis kekar milik Bagas.








10 menit berlalu.




Tiba-tiba Bagas semakin mempercepat sodokannya.




"Uuuuhh...!" Aku kembali merasakan geli dan rasa itu berpusat dari kemaluanku. Kali ini aku seakan pengen pipis lagi.


"Nadia pengen pipiiiss gaaass...! Terus gaas...! Nadia mau nyampe lagi...!" Racauku merasakan vaginaku kembali berdenyut. Kali ini getaran yang kurasakan semakin besar dari awal tadi.


"Aaaaaaahhhhhh naaaaaaddd....!" Bagas semakin mempercepat sodokannya, Bak kesetanan gerakan Bagas semakin tak terkendali.


“Bareeengan Naaaad…..!”


"Uuuuuuuuhhhhh gaaaassss....!" Gelombang nikmat yang mendera membuatku kembali mendesah panjang, kakiku melingkar semakin kuat mengait tubuh Bagas. Tanganku pun tak tinggal diam, melingkar memeluk erat tubuh Bagas.


"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhh!!!!" Desah kami berdua bersamaan. Vaginaku terasa berkedut kencang, sembari kembali menyemprotkan cairan. Di saat itu juga terasa penis Bagas menyemprotkan beberapa kali sperma di dalam Vaginaku.




Hangat…! Terasa begitu hangat sperma yang Bagas semprotkan ke dalam kemaluanku.




"Fiiiiiuuuug.... haaah.... haaaah.... haaah...." Lirih terdengar desah napasku yang tak beraturan. Tubuhku dibuat lemas tak berdaya setelah di buat doble orgasme oleh Bagas. Belum lagi tubuh Bagas yang saat ini berada di atas tubuhku. Menindih tubuhku membuat napasku semakin tak beraturan. Tapi rasa puas membuatku menghiraukan rasa capek yang kurasa. Kangenku memadu kasih dengan Bagas terbayar lunas. Rasa capek membuatku memilih menutup mata sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan yang masih mendera. Tanpa sadar aku tersenyum simpul meluapkan kebahagiaan yang kurasakan saat ini.




“Cuuuuup…!” Tiba-tiba sebuah kecupan jatuh di keningku


“Makasih Gaas...” Ucapku kepada pemuda tampan yang tersenyum tulus padaku.






Jadikan Aku Yang Kedua






Jika dia cintaimu


Melebihi cintaku padamu


Aku pasti rela untuk melepasmu


Walau ku tau ku kan terluka




Jikalau semua berbeda


Kau bukanlah orang yang kupuja


Tetapi hatiku telah memilihmu


Walau kau tak mungkin tinggalkannya




Reff:




Jadikan aku yang kedua


Buatlah diriku bahagia


Walau pun kau takkan pernah


Kumiliki selamanya






Telegram : @cerita_dewasa








POV 


BELUT








Setelah mendapat kabar dari beberapa bunglon yang masih setia denganku. Aku mengutuk perbuatan kumbang. Dia telah membuat kesalahan fatal dengan menghabisi srigala utara.




Bodoh...! Sangat bodoh....! Dia sepertinya tak berfikir panjang, tentang efek dari hal yang telah dia perbuat. Aku bertaruh cepat atau lambat kekuatan mafia jepang atau koloni terdekat Dark forces akan turun tangan membalas kematian Srigala utara. Tak bisa di anggap suatu ancaman sepele, karena Srigala utara sangat dekat dengan Red Dragon. Mafia jepang yang menguasi pasar obat-obatan terlarang se-Asia.




Entah ada motif apa di balik pembantaian Dark forces. Apa penyebabnya yang membuat Macan Kumbang bertindak sembrono seperti itu. Setelah berfikir dan menarik kesimpulan. Sedikit banyak aku dapat menerka. Pasti ada orang yang sangatlah pintar dan dia sangat cerdik bisa mempengaruhi Macan Kumbang. Dengan mengumpulkan banyak informasi dan merangkum kesaksian dan bukti-bukti yang ada. Aku dapat memastikan Julian adalah dalang di balik semua ini.




Dasar brengsek pemuda itu…!




Dan aku juga menarik kesimpulan bahwa tidak lama lagi. Kami adalah sasaran mereka berikutnya. Namun aku merasakan ada beberapa hal janggal. Bukan lagi janggal. Terlebih ini sangat aneh.




Aneh...! Aku merasakan hal aneh. Mereka tentunya tau dimana posisi kami berada saat ini. Namun telah kutunggu mereka dalam kurun waktu sebulan. Namun serangan dari mereka belum kunjung di mulai.




Aku hanya mampu membuat beberapa opini, tentang hal yg akan mereka lakukan. Selagi menunggu informasi dari para bunglon yang masih setia denganku. Dan di sini aku bakal membuat mereka terkejut. Aku akan memukul balik mereka.




Disini wilayahku…!


Disini medanku!!!




Kalo saja mereka memilih tempat ini untuk ajang perang, kubu kami pastinya lebih di untungkan karena unggul dalam hal pemetaan. Banyak strategi yang kubuat dan telah kususun untuk menyambut kedatangan mereka. Dengan strategi yang telah kususun secara matang. Seperti strategi untuk mematahkan serangan yang akan mereka lakukan.




Akan kuberikan banyak kejutan yang tidak mereka duga atau prediksi lebih dulu. Kejutan yang tak akan disangka-sangka oleh mereka. Dengan keahlian di bidang strategi yang kumiliki. Aku dengan mudah memetakan kekuatan yg mereka miliki. Hingga setiap individu beserta keahlian yang di miliki oleh pasukan mereka telah kubaca dengan baik. Dengan mengujung tombakan Bagas di bantu oleh dua iblis cantik Rubah dan Phoenix. Aku merasa cukup untuk menghadapi mereka. Dan satu lagi. Aku merasa yakin dan optimis kalo saja guru Udang tak akan membiarkan cucu satu-satunya yang dia miliki tewas. Otomatis aku sangat yakin guru bungkuk akan membantu kami menghadapi mereka. Tak peduli tindakan itu akan membuatnya melanggar janjinya. Demi cucunya Bagas Permana...








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


3rd








Di Sebuah Villa.




Terbaring lemah seorang gadis dengan posisi meringkuk di atas sebuah ranjang. Dia berada di salah satu ruangan kamar di Villa yang cukup megah. Villa yang berada di perbukitan jauh dari hiruk pikuk suasana kota.




Gadis tersebut nampak begitu mengenaskan. Dengan pandangan yang kosong, di ikuti kelopak mata yang mulai menghitam dan bibir yang sangat pucat. Namun semua itu tidak menutupi atau pun mengurangi pesona dari paras ayu yang di miliki gadis tersebut. Walau raut wajahnya saat ini terlihat pucat pasi.




Pucat...! Sepucat rambut yang di milikinya. Berwarna putih sedari lahir. Rambut yang menjadi ciri khas dari penampilannya. Sehingga siapapun akan mengenalinya dengan mudah. Sudah lebih dari beberapa hari dia hanya mampu terbaring lemah. Di samping ranjang tempat gadis itu terbaring.




Nampak di salah satu meja terdapat puluhan alat suntik bekas berserakan di atasnya. Alat suntik tersebut merupakan alat suntik yang di modifikasi ulang sebagai media alat bantu dari penggunaan heroin. Menyaksikan secara seksama apa saja yang berada di kamar tersebut. Sepertinya ada yang dengan sengaja menyebabkan gadis tersebut terbaring lemah karena banyaknya heroin yang di suntikkan ketubuhnya.




“Kleeeeek!!!” Tak begitu lama, tiba-tiba terdengar suara pintu di buka. Dengan lemah gadis tersebut mengedarkan pandangan kearah pintu. Dari belakang pintu, muncul seorang pemuda. Kemudian pemuda itu berjalan mendekati gadis tersebut. Janggal menyadari kedatangan pemuda itu tiba-tiba muka gadis tersebut semakin pucat. Nampak begitu jelas jika dia begitu ketakutan. Gadis tersebut sepertinya dengan mudah mengetahui apa maksud dari kedatangan dari pemuda tersebut menemuinya. Terpancar rasa ketakutan yang sangat mendalam dan mudah sekali di baca dari raut wajah gadis tersebut. Sembari terlihat dia mulai meneteskan air mata.




Entah...Tanpa mampu mengucapkan sebuah kata. Namun dapat terbaca dengan jelas. Rasa Ketakutan dan keterputusasaan yang melanda gadis itu setelah mengetahui kedatangan sang pemuda.
















BERSAMBUNG









Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar