ADAPTASI PART 54


POV

MACAN KUMBANG

Dengan membulatkan tekad aku menjejakkan kaki memasuki ruangan sambil menatap tajam ke depan. Nafasku kali ini terasa berat, di liputi hati yang telah di rasuki iblis terpengaruh oleh kuasa emosi tingkat tinggi. Saat ini hanya satu kenginanku, yaitu memberi kejutan untuk salah satu kawan lamaku. Kawan yang telah berani mengusik kehidupanku. Kawan yang pada akhirnya memilih jalan menjadi rival.

"Tak ada kata mundur...! Dendam ini harus diselesaikan...!" Aku bergumam dengan masih diliputi desakan gemuruh emosi jiwa.

Ditanganku telah tergenggam sebuah kunai. Kunai kuno yang menjadi senjata kesayanganku. Kunai ini lebih dikenal dengan sebutan nama penjemput ajal. Sebab kunai ini selalu haus akan darah dan selalu meminta nyawa jika terlepas dari sarungnya. Kunai kesayanganku ini memiliki karakter membunuh begitu kental sepertiku.

Nampak di depan berjarak 10 meter dari kakiku berpijak. Seorang pria tua bertubuh kurus dan memiliki ciri rambut berwarna putih tersenyum menyambut kedatanganku. Dia adalah Sutrisno atau lebih di kenal dengan sebutan Srigala Utara di jagat dunia hitam. Dulunya dia merupakan satu di antara 5 malaikat maut. Ya benar sekali, Dia adalah kawan yang telah memilih jalan menjadi musuh yang aku maksud.

Hari ini adalah waktunya.

Waktu dimana salah satu dari kami akan menemui malaikat maut yang sebenarnya. Hanya keberuntungan yang akan membantu. Jadi penentu untuk salah satu dari kami untuk keluar secara hidup-hidup dari sini. Mengingat kemampuan kami yang hampir setara dan seimbang. Dan pengalaman diantara kami sama-sama tak diragukan lagi. Dahulu kami berdiri beriringan, bersama-sama saling berlomba membantai musuh. Tak menyangka jika kini kami harus berdiri bersebrangan. Dengan status sebagai Rival.

Di seberang adalah sang penyandang nama Srigala Utara. Satu dari lima elemen terkuat berdirinya Divisi bayangan. Sahabat sekaligus rival ku saat ini.

Dan aku Macan Kumbang. Datang kemari dengan satu tujuan. Meminta penebusan hutang.

Tak ada ucapan yang terlontar dari kami berdua, atau sebuah sambutan bertemunya dua orang kawan.

Kami berdua hanya cukup tersenyum bengis. Kami berdua sama-sama tau apa yang akan terjadi. Tanpa perlu bertele-tele terlibat dalam sebuah obrolan yang tak akan mengubah apa yang terjadi sebentar lagi

Tak perlu menunggu lebih lama lagi atau profokasi tambahan. Nampak Srigala Utara berinisiatif merangsek maju terlebih dulu. Dua karambit kesayangnya telah lepas dari sarungnya dan kini telah tergenggam erat di kedua tangannya.

“Wuuuuzh…!” Satu sabetan karambit dengan mudah aku elakkan.

“Wuuuuzh…!” Tanpa menunda waktu dia kembali menyerang untuk yang kedua kalinya. Harus aku acungkan sebuah jempol, gerakan Srigala Utara masihlah sangat cepat. Serangan kedua darinya nyaris melukai perutku.

Menimbang kecepatan yang kurang seimbang, aku memilih mundur dan mengatur sebuah serangan balasan.

“Wuuutt…!” Aku layangkan sebuah tendangan memutar, hal ini kulakukan supaya aku bisa membuatnya sedikit menjaga jarak.

“Traaaank…!” Saat melihat Srigala Utara mundur untuk menghindar, secara cepat aku menyabetkan kunai merangsek masuk menuju ulu hatinya.

Tak pelak hal itu membuat dua senjata kami beradu

“Srak…!” Srigala Utara kembali mengayunkan karambit yang berada ditangan kirinya.

Sengaja, dengan sengaja aku menghalau sabetan karambitnya menggunakan tangan kanan. Merelakan lenganku tergores cukup dalam oleh karambit miliknya. Bersyukur karena aku mengenakan jas berbahan kulit dengan lapisan karet sintetis yang cukup tebal. Jika tidak mungkin tanganku pastinya akan dengan sangat mudah putus tertebas.

"Duuuuuuuuaaaagg...!" Melihat ada sedikit celah, saat Srigala utara lengah karena mengetahui tanganku tersayat cukup dalam. Aku melancarkan satu tendangan keras. Dan sesuai prediksiku. Tendangan tersebut sukses masuk telak bersarang ke dada Srigala utara.

"Duuuuuuuuaaaagg...!" Melihat tubuh Srigala utara yang oleng. Tanpa membuang kesempatan, aku melayangkan lagi sebuah tendangan memutar.


“Eeeeegh….!” Serangan tak terduga yang dua kali aku lancarkan membuat Srigala utara terpelanting ke belakang.




Tak mau mengambil resiko dengan menunggunya bangkit. Karena meskipun telah tak muda lagi, lawanku kali ini merupakan satu dari 5 malaikat maut. Aku memilih kembali merangsek maju. Mencoba kembali melayangkan sebuah tendangan sapuan mengarah ke kepala Srigala utara yang masih terbaring.




"Wuuut...!" Namun sial, dengan gerakan tak kalah cepat Srigala utara masih sempat berguling. Membuat sapuanku sia-sia karena menghempas udara.


“Wuuuuuzh…!” Dia berguling sembari melemparkan karambit kearahku.




Aku menyeringai karena semua gerakannya telah terbaca dengan mudah okehku. Aku melakukan gerakan menyamping untuk menghindari lemparan karambit darinya, sambil mempercepat gerakan berlari untuk mengejar ke arah Srigala utara berguling.




“Duuuuuaaaaagh…!"Kali ini lesatan tendangan dariku, menyapu tubuh Srigala utara saat dia akan bangun.




Tendangan keras dan terarah tersebut membuatnya kembali tersungkur. Tak ada waktu yang aku sia-siakan. Tak ada kesempatan tambahan untuk bermain-main mengingat siapa lawanku kali ini. Aku berlanjut merangsek maju. Untuk mengejar tubuh Srigala utara yang sedang terbaring kesakitan.




"Duagh...!" Namun sial sebuah tendangan yang tak terduga masih mampu di layangkan oleh Srigala utara dan mengenai perutku.




Keras...! Telak...! Tendangan tersebut sangatlah keras dan juga masuk dengan telak ke perutku. Otomatis membuatku meringkuk, memegangi perut serta menahan rasa sakit.




"Duuuaaaagh..!" Pintar! Pikirku. Kehebatan Srigala utara memang tak di ragukan lagi. Dengan sangat pintar Srigala utara tidak menyia-nyiakan kesempatan. Melihat celah saat aku kesakitan, dia kembali melayangkan sebuah tendangan menghantam daguku.




Sangat keras tendangan tersebut…! Namun belum membuatku roboh…!




"Tap, craaaaaaaaashhh


...!" Dengan cepat aku membalas dengan satu gerakan tipu. Kulemparkan kunai dari tangan kanan ke tangan kiri. Lalu dengan kecepatan tinggi menyabet secara vertikal dari arah bawah. Srigala utara sedikit terkecoh. Dia terlambat sepersekian detik untuk mundur atau pun menghalau serangan tersebut.




Ujung kunaiku merobek kulit perutnya memanjang hingga dadanya. "Sial...! " Ternyata Srigala utara secara sengaja menerima seranganku. Kemudian dia mengayunkan karambit yang tersisa kearah wajahku.




"Sriiink...!" Bangsat...! Gerakannya sangatlah cepat, walaupun aku telah siap menghindar namun karambit yang dia lemparkan menyayat lekuk pipiku. Terlambat sedikit mungkin aku akan tewas dengan sekali tebas.




“Haaaah.... haaaah... haaaah...! Fiiiiiuuuuh...!”




Aku mundur untuk mengatur nafas...! Faktor fisik memang sangat berpengaruh. Tubuh tua sangatlah cepat lelah untuk digunakan bertarung.




Hal yang sama di tunjukan juga oleh Srigala utara. Nampak dia juga mengatur napas sembari mengusap peluh yang mulai membasahi wajahnya.




Kami sama-sama letih...! Usia yang semakin tua membuat fisik kami jauh berbeda dengan puluhan tahun silam.




Tak lama kemudian Srigala utara kembali maju namun dengan gerakan yang sedikit melambat. Karambit yang tersisa dia posisikan selaras ke belakang menempel di lengan tangannya.




Aku memprediksi ia akan melakukan Last attack. Mengingat sisa tenaga yang dia miliki semakin menipis. Hal tersebut membuatku bersiap memasang kuda-kuda. Memposisikan tangan kiri yang menggenggam kunai berada di depan dan tangan kanan akui tekuk kebelakang.




Kemudian aku menutup mata. Menggadaikan keselamatan nyawa pada sebuah insting. Saat merasakan hawa membunuh yang begitu kental semakin mendekat. Dalam hitungan sepersekian detik aku membuka mata sembari dengan cepat tangan kiri melemparkan kunai ke arah atas.




"Craaaaash...!" Sebuah ayunan karambit mematikan yang di lesatkan Srigala utara mengoyak lengan kiriku. Bersamaan dengan tubuhku yang memutar menghindari serangan itu. Dengan cepat aku menangkap kunai dengan tangan kanan.




"Craaaaaaaaasssh...! Kraaaaaaak...!" Aku menancapkan kunai cukup dalam di tengkuk leher Srigala utara sembari dengan penuh tenaga menariknya turun vertikal. Faktor kelelahan membuat reflek Srigala utara melambat untuk menghalau serangan dariku.




Sukses, Kunaiku sukses membuat luka menganga memanjang di Sepanjang punggung Srigala utara. setelan jas putih yang dia kenakan robek dan beberapa saat berubah warna menjadi merah di sepanjang robekan tersebut.




"Kau memang bajingan kumbang...!" Terdengar lirih sebuah suara penghujung ajal yang terlontar dari mulut laknat Srigala utara. Sebelum tubuhnya roboh dan bergelimang oleh darah segar.




Aku berjalan mendekatinya. Sembari menatap kunai yang berlumuran darah. Kemudian aku jongkok mengambil posisi di samping jasad Srigala utara. Anggap kunai ini sebagai hadiah dari sahabat lamamu.




"Craaaaaaak...! Kraaakkkk...! Kraaaak...!' Aku menancapkan kunai dengan sangat pelan di kepala belakang Srigala utara. Semakin masuk hingga menembus wajahnya.


“See you next time, Good bye...!”ucapku, lalu kembali berdiri dan berjalan gontai keluar dari ruangan milik Soetrisno.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar