POV
BAGAS
Pagi yang cerah untuk menikmati secangkir kopi dan menghisap sebatang rokok. Tanpa ada gangguan dua gadis yang selalu ribut. Iya dua gadis. Seminggu lamanya sudah Nadia bergabung dan tinggal di rumah kakek bungkuk. Tambah rame ?, Jelaslah. Apalagi melihat April dan Nadia yang masih saja sering bertengkar. Hal kecil seperti memasak dan bersih-bersih rumah pun, mereka bisa berebut dan berujung ribut. Seperti anak kecil yang selalu berebut mainan, sangat tak akur. Atau mirip seperti kucing dan anjing yang selalu bermusuhan. Entah apa sebabnya, lama kelamaan mereka mulai terlihat kompak dan mulai mau bekerja sama. Mungkin semua itu karena campur tangan kakek. Dimana kakek sekarang fokus melatih mereka berdua.
“Iya!!!” April maupun Nadia ngotot, meminta kakek untuk melatih mereka dengan keras.
Dari pagi hingga sore hari dihabiskan mereka untuk berlatih. Dan hal itu membuatku dan paman Belut, acap kali berada berdua dirumah sewaktu aku tidak berlatih. Kami saling terlibat obrolan, ataupun menghabiskan waktu untuk bermain catur.
Aku sempat menanyakan ke paman, kenapa paman semasa dulu tak pernah berkunjung kerumah untuk menengok ayah dan aku. Paman beralasan karena pekerjaan membuatnya mempunyai banyak musuh. Dan paman tak mau melibatkan kami, keluarganya dalam keadaan bahaya. Namun paman selama ini selalu mengamati keluargaku.
Aku dan paman banyak bercerita. Bersyukur sekali aku. Merasa mempunyai keluarga kembali. Dalam obrolan, kadang paman menjelaskan berbagai kisah yang dia lalui dimasa mudanya. Pengalaman-pengalaman yang dia dapat, sedikit banyak ditularkan untuk aku pelajari.
Tak hanya itu, paman juga memberitahuku secara detail, silsilah keluarga besar Soetedja atau kakek buyutku. Iya aku juga baru tau siapa kakek buyutku. Aku juga baru tau setiap keturunan dari kakek buyutku selalu di embel-embeli nama belakang Soetedja. Paman juga menjelaskan bahwa saudara tertuanya merupakan kunci dari semua ini atau paman Kumbang. Dia merupakan anak tertua dari kakekku. Atau kakak sulung dari ayah dan pamanku.
Hal yang mencengangkan dimana paman menjelaskan ada konflik di dalam keluarga kami. Dan sangat yakin dengan keterlibatan paman Kumbang dibalik semua ini. Semua diperkuat dengan kesaksian Nadia, dimana Nadia baru saja melihat macan Kumbang bertemu dengan Julian. Merupakan hal janggal dimana paman Kumbang terlihat begitu akrab dengan Julian, yang tak lain pelaku penganiayaan terhadap paman.
Dan dengan hadirnya kak Rian dan tante Linda datang kemari, menjelaskan bahwa mereka telah melacak keberadaan kami.
Itu semua menurut prediksi dari paman. Tinggal menunggu waktu untuk menyambut kedatangan mereka. Paman pun menyebutkan jikalau seorang pemuda yang mungkin seumuran denganku dan bernama Julian merupakan seseorang yang bahaya. Paman sempat berhadapan dan duel melawan Julian, dengan hasil akhir yang sangat membuatku tercengang. Dimana paman kalah telak,
Aku sedikit banyak tau, kapasitas bertarung yang dimiliki paman. Jika Julian dengan mudah mengalahkan paman. Maka kupastikan Julian bukanlah pemuda sembarangan. Untuk meningkatkan kemampuanku dalam bertarung. Dua hari yang lalu, kakek bungkuk sempat memberiku beberapa pilihan untuk memilih senjata. Antara lain seperti samurai, golok, belati, yoya, dll.
Entah kenapa aku lebih tertarik ke sebuah tongkat berbahan semacam besi namun ringan untuk dibawa. Seperti sebuah magnet, mataku tak pernah lepas menatap senjata berbentuk pipa besi sepanjang 40 cm tersebut. Maka dengan mantab, aku menjatuhkan pilihan ke senjata itu.
Dan dalam dua hari ini, aku sering berlatih menggunakan senjata tersebut. Tak hanya menggunakan senjata pembantu untuk bertarung. Aku pun semakin terlatih menggunakan senjata api. Entah bagaimana paman mendapatkannya.
Dua buah senjata berjenis pistol dan sniper, hadiah yang diberikan om Jack sempat dia bawakan untukku. Selama ada waktu kosong, ku sempatkan melatih akurasi bidikan demi bidikan dari senjata api yang kupunya. Dan hasilnya diluar dugaan. Akurasi tembakanku bisa dikatakan meningkat pesat. Namun harus kuakui, aku masihlah pemula, sering kali konsentrasiku buyar dan berakhir bidikanku kadang meleset.
Namun bukan Bagas namaku jika hal itu menyurutkan semangatku untuk berlatih. Aku malah semakin tertantang untuk mencoba dan terus mencoba. Aku akan mempersiapkan diri. Mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan hal yang akan kuhadapi. Entah nanti, besok, atau kelak. Siap tak siap, tak ada pilihan untuk mundur. Karena dibelakang, merupakan sebuah tembok tebal yang tak mampu ku tembus, jalanku hanya kedepan, dan aku mengamini hal itu.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
Anin
Aku terpaksa mengambil cuti kuliah. Tak terbayang olehku akan bertunangan dengan seorang lelaki diumurku yang masih belia, paksaan dari ayah dan ibu membuatku mengambil keputusan yang sangat berat. Namun sebuah keputusasaan tentang keberadaan Bagas saat ini, membuatku membulatkan tekad menerima lamaran Julian untuk bertunangan. Walau jujur untuk mencintai Julian bukanlah perkara yang mudah.
Terpatri nama Bagas yang telah sangat lama berada di hatiku, mungkin dengan berjalannya waktu. Aku bisa menghapus semua tentang Bagas dalan hidupku, dan mulai mencoba mencintai Julian, Julian merupakan pemuda sempurna untuk menjadi pendamping. Aku akui hal itu, disamping wajah tampannya yang membuat banyak wanita terpesona. Julian memiliki pribadi yang baik dan santun, yang bakal membuat wanita berlomba-lomba mendapatkannya. Dan satu lagi, Julian merupakan pemuda yang sangat kaya raya, beruntung sekali nanti wanita yang bakal menjadi pendampingnya.
Dan Julian kini telah memilih Aku. Dengan gentlenya Julian meminta restu dari kedua orang tuaku, untuk diijinkan menjaga anaknya. Tersentuh?, pastinya semua gadis akan tersentuh melihat kesungguhan Julian. Namun untuk mencintai Julian masihlah sangat berat. Entahlah, aku tak habis pikir kenapa sampai detik ini, Bagas selalu menjadi sang pangeran di alam khayalan yang aku punya.
Bagas..
Bagas...
Dan Bagas... Selalu Bagas yang muncul disetiap aku bermimpi.
Suatu hubungan akan berjalan dengan baik jika saling terbuka. Aku pun berfikir seperti itu. Aku mencoba terbuka dengan Julian. Terbuka mengenai Bagas.
Hal gentle, kembali ditunjukan oleh Julian, dimana Julian menerimaku, dengan kondisi masih ada Bagas dihatiku. Aku mulai salut dengan kedewasaan yang dimiliki Julian. Nyaman?, Iya, aku mulai nyaman bersama dengan Julian. Hal-hal kecil yang ditunjukan Julian, menggambarkan bahwa dia merupakan lelaki yang telah matang. Kedewasaan dan pribadi yang dikatakan sempurna, merupakan daya tarik yang membuatku nyaman berada di sampingnya. Julian dapat menjadi teman. Terlebih menjadi sahabat. Ataupun pendengar yang baik. Kedewasaannya dalam menanggapi masalah membuat Aku salut. Bila Julian merupakan jodohku, semoga Aku bisa mencintai Julian, seperti Aku mencintai Bagas.
Dan untuk Bagas, maafin Aku yang gak kuat untuk mempertahankanmu. Kamu terlalu jahat dengan pergi tanpa kabar. Sesaat Aku mencium kalung pemberian Bagas. Sembari kemudian, Aku melepas kalung tersebut dan menyimpan kembali ke sebuah kotak merah. Pandanganku beralih ke sebuah cincin berwarna perak yang melingkar dijari manisku. Kilau berlian yang begitu indah membuatku menciumnya. Thank Julian.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
Julian
Sangat mudah.
Teramat mudah untuk menghimpun aliansi.
Sekarang aku mempunyai akses langsung untuk memerintah hell warrior, karena diberi kepercayaan langsung oleh Singa Hitam.
Tak hanya itu, dua master di kubu crimial cleanser yang tersisa pun dapat dengan mudah kukendalikan. Hal itu kerena kecerdasanku membuat Macan Kumbang begitu percaya kepadaku.
"Hahahah…” Aku tertawa sendiri. Tinggal menunggu waktu untuk memuluskan semua rencana yang telah ku rancang.
.
..
...
Step pertama dimulai.
.
..
...
Terlihag lumayan jauh di depanku, markas induk dark forces. Dimana di dalamnya terdapat 2 bangunan tempat beroprasinya kegiatan para petinggi dari organisasi tersebut.
Dua bangunan tersebut terletak di pinggiran kota, dengan pengamanan 4 menara pengintai dan dilengkapi pagar bumi setinggi 7 meter. Terdapat kawat berduri diatas pagar bumi tersebut yang dialiri listrik tegangan tinggi sehingga mustahil untuk dipanjat seseorang.
Terdapat empat pintu masuk, yang berada disetiap kanan menara pengintai. Dua bangunan tersebut dijaga sangat ketat oleh puluhan para srigala, yang terletak di setiap sudut ruangan termasuk di keempat menara pengawas yang berada di empat penjuru angin tersebut.
.
..
...
Disalah satu bangunan tersebut merupakan rumah singgah sekaligus kantor milik Srigala Utara. Fokusku saat ini berada di sebelah samping menara selatan, dimana menara tersebut, berada di belakang bangunan induk.
Tak lama kemudian, kulihat 10 mobil hitam beriringan mendekati menara tersebut. 50 meter sebelum mobil-mobil tersebut mencapai menara selatan.
Klik!!!
Duuuuuuuuuuuaaaaaaaaaar!!!!
Kutekan sebuah remote yang kugenggam!
Bersamaan dengan meledaknya tembok menara dan pintu yang berada disampingku, tak lama kemudian mobil-mobil tersebut masuk melalui lubang hasil dari ledakan yang dengan sengaja kubuat.
Tak hayal, suara ledakan yang cukup keras, membuat puluhan para srigala berhambur menyerbu, menyambut kedatangan mobil-mobil tersebut.
Sesaat kemudian tak bisa dihindari!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Rentetan peluru menyambut kehadiran mobil-mobil tersebut.
Menarik!!!
Sungguh tontonan yang menarik, saatnya menyaksikan kehancuran Srigala Utara.
Tak lama kemudian kusaksikan puluhan orang keluar dari iringan mobil-mobil tersebut, puluhan orang tersebut menggunakan rompi anti peluru lengkap dengan senjata api jenis semi automatis. Mereka adalah agent-agent terlatih dari criminal clenser.
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Dooor!!!
Dzzznk!!!
Seraya kemudian mereka melakukan serangan balasan dengan menembak balik ke arah para srigala.
Tak pelak!!!
Tak bisa dihindari!!!
Terjadi jual beli tembakan antara mereka. Hal tersebut membuat beberapa orang dari anggota kedua belah pihak mulai berjatuhan.
Namun dikarenakan serangan yang tak terduga, lebih banyak korban dari para srigala yang telah berjatuhan.
.
..
...
Tak lama kemudian...
Tiga mobil kembali datang secara beriringan. Keluar dari mobil tersebut, beberapa orang menggunakan jas hitam. Dan salah satunya adalah orang yang sedang aku tunggu-tunggu. Siapa lagi kalau bukan Macan Kumbang.
Sesaat terlihat rombongan orang tersebut berdiam sembari melayangkan pandangan ke depan. Dimana pasukan mereka yang terlebih dulu datang, telah membukakan jalan untuk rombongan orang tersebut.
Melihat situasi telah dikuasi oleh pasukan Macan Kumbang, tak lama kemudian terlihat Macan Kumbang mulai bergerak di ikuti oleh rombongan yang dia bawa, menuju bangunan utama.
Menarik!!!
Aku lalu berdiri dan mengikuti rombongan tersebut.
Terlihat srigala kembar bersama para srigala pilihan yang berjumlah 8 orang menghadang rombongan tersebut, srigala kembar merupakan dua anak buah terbaik yang dimiliki Srigala Utara.
Mereka semua telah bersiap menghadang rombongan Macan Kumbang, terlihat dari tangan mereka yang telah menggenggam katana, senjata andalan yang selalu menjadi ciri khas kebringasan para srigala.
Terlihat juga dari rombongan Macan Kumbang, Robin dan Jacob, dua anak buah Macan Kumbang yang terkenal akan tangan dinginnya tersebut berdiri diposisi paling depan dan dibelakang mereka ada seorang wanita berparas cantik dan mempunyai tubuh yang sangat sexy, namun dibalik semua itu, dia merupakan wanita yang sangat berbahaya dan sangat berbisa, dia lebih dikenal dengan sebutan Mrs. Snake.
Berjalan disamping Mrs. Snake pria tampan dengan tampilan elegant, dia adalah si Elang, pria yang menginjak umur matang tersebut terkenal akan ilmu beladiri yang sangat berbahaya dan diciptakan olehnya sendiri.
Tanpa menunggu lama…
Kontak fisik pun tak dapat di hindarkan!!!
Terlihat para srigala yang berjumlah 8 orang telah mengelilingi Robin dan Jacob, namun hal tersebut seperti tak menjadi masalah berarti untuk kedua orang tersebut, nampak jelas Robin dan Jacob masih terlihat tenang dengan wajah dinginnya.
.
..
...
Tanpa expresi Robin mengeluarkan sebuah double stick atau nunchaku atau lebih dikenal ruyung.
Plak!!!
Plak!!!
Plak!!!
Plak!!!
Dengan gerakan cepat, Robin memainkan ruyung tersebut.
Gerakan cepat Robin memukulkan double stick tersebut, membuat empat para srigala jatuh tersungkur tanpa sempat melakukan serangan menggunakan katana yang mereka genggam.
Aku hanya dapat bertepuk tangan menyaksikan aksi yang dilakukan Robin.
Tak jauh berbeda apa yang di lakukan Jacob.
Dimana Jacob telah bersiap dengan sebuah kuda-kuda sembari tangannya menggenggam kedua karambit, menunggu empat para srigala yang tersisa menyerangnya.
Craaaaash!!!
Craaaaash!!!
Craaaaash!!!
Craaaaash!!!
Bersamaan dengan keempat para srigala yang mulai mengayunkan katananya masing-masing, dengan cepat Jacob membuat gerakan menari meliuk-liuk menebaskan dua karimbit yang dipegangnya seraya melewati keempat para srigala yang tiba-tiba terdiam seperti sebuah patung dan sesaat kemudian, terlihat Jacob tersenyum sembari memasukan kembali karambit yang dia bawa.
Dengan expresi dinginnya dia mengeluarkan rokok dan mengambil sebatang kemudian menyulutnya. Bersamaan dengan dia menghembuskan asap rokoknya, tiba-tiba satu persatu dari keempat para srigala jatuh tersungkur secara bergantian.
Wooow!!!
Menarik!!!
Sebuah sajian pembantaian yang mempunyai seni, good job!!!
Sekarang mataku beralih ke arah Elang. Dimana dia berhadapan dengan salah satu dari srigala kembar.
Bugh!!!
Bugh!!!
Dugh!!!
Dugh!!!
Bugh!!!
Terlihat Elang dengan dingin mematahkan lesatan demi lesatan pukulan dan tendangan dari srigala kembar, namun saat srigala kembar tersebut menghentikan serangan sesaat untuk mengatur napas.
Buuuuuuaaaaagh!!!
Sebuah pukulan sangat keras dilesatkan Elang.
Sangat telak!
Pukulan tersebut bersarang di ulu hati srigala kembar, sontak membuatnya roboh dengan sekali pukul.
.
..
...
“Lumayan juga kecepatannya” Gumamku.
Disamping Elang, terlihat Mrs. Snake masih dengan tenang, sembari menghisap sebatang rokok mint yang terselip dijari lentiknya.
Didepannya terlihat srigala kembar yang tersisa, menatap tajam ke arahnya sembari mengeluarkan dua buah pisau lempar.
Seet!!!
Seet!!!
Dua pisau lempar melesat dengan cepat mengarah ke wanita cantik tersebut.
Dengan gerakan tak kalah cepat tiga jarum secara serentak dilemparkan Mrs. Snake ke arah srigala kembar tersebut.
Trink!!!
Trink!!!
Dua jarum kecil mampu mematahkan dua buah pisau.
Wooow!!!
Menajubkan!!!
Benar-benar wanita menarik.
Srigala kembar kembali mengambil pisau yang tersimpan di balik baju yang dia kenakan. Namun belum sempat melakukan lemparan susulan, tiba-tiba tubuh mereka roboh.
“Sial jarum beracun !.“ Gumanku, mengetahui apa yang baru saja terjadi.
.
..
...
Tak lama kemudian, kami kembali beranjak berjalan memasuki aula tengah bangunan induk ini.
Aku masih di urutan terbelakang dari rombongan macan Kumbang.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh dua orang yang sangat ku kenal.
Tak hanya aku yang mengenalnya, karena kedua orang yang ada di depanku merupakan saudara sepupuku.
Srigala kematian dan Kelabu.
Ho…
Ho…
Ho…
Tak lain dan tak bukan Herman dan Aurel.
Mereka urusanku!!!
Dengan lantang aku berteriak menarik perhatian rombongan Macan Kumbang. Setelah Macan Kumbang menganggukan kepala, aku merangsak maju.
“Bajingan kau Julian!!!” Ucap Herman.
Kedua sepupuku tersebut menatapku dengan sorot mata membunuh.
"Hahaha … Lebih bajingan kau Herman!!!"
“Apa maksudmu ?” Sahut Herman.
"Kau pikir Julian kecil tak tau, ulah binatang yang kau dan ayahmu lakukan!"
Buaagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Buagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Buagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Tanpa menunda waktu kulakukan pukulan bertubi khas seekor belalang.
Dengan kondisi Herman tak siap, secara cepat pukulan demi pukulanku masuk kesetiap ruang terbuka ditubuhnya.
“Bajingan!!!” Ucap Herman lemas.
Setelah kubuat tubuhnya luluh lantah.
"Kau dan ayahmu adalah binatang, kalian telah tega memperkosa ibuku!!!"
Seketika tanganku membentuk sebuah cakar.!
Craaaaak!!!
Dengan cepat kucengkram leher Herman, sembari melesatkan ujung jariku menyeruak lehernya.
Tak pelak darahpun mulai mengalir dari leher Herman.
Jleb!!!!
Aku merasakan sedikit sakit di punggungku. Perlahan kulepaskan cengkraman tanganku dileher Herman, sembari memandang kearah Aurel seraya tanganku meraba punggungku. Kucabut sebuah pisau kecil yang menancap di punggungku.
Kemudian, kujilat darah yang menempel di mata pisau tersebut.
Kubalas tatapan tajam Aurel kepadaku, kemudian aku mulai melangkah mendekatinya, Aurel nampak melangkah mundur sembari mengambil belati yang terselip dipinggangnya.
“Mau apa kau kak ? “
“Jangan mendekat !” Ucap Aurel ketakutan.
Jelas dia sangat ketakutan, Aurel tau siapa aku, seperti apa aku.
Hahahaa…. Aku hanya tertawa sembari terus mendekatinya.
Buuuagh!!!
Uuugh!!!
Aurel terpekik!!!
Bruk.
Kupukul pelan ulu hati Aurel, tak lama kesadarannya mulai menghilang, dan tubuh Aurel ambruk di depanku. Kemudian aku berjongkok disebelah tubuhnya yang tersungkur.
Sesaat kujambak rambutnya, kupandangi wajah ayunya !
“Kau akan merasakan penderitaan seperti yang ibuku rasakan!!!” Ucapku.
Sembari melepaskan jambakanku. Terlihat kepala gadis ayu didepanku ini kembali membentur lantai.
Aku kembali berdiri dan berjalan menuju Herman yang meringkuk dan memegangi lehernya.
Duuuuaaagh!!!!
Kulesatkan lututku tepat di hidung Herman.
Tak ada rintihan.
Luka di leher Herman menbuatnya bungkam.
Lesatan lututku tersebut membuat Herman terbaring dengan darah mengalir dihidungnya. Kemudian ku duduki tubuhnya.
Buaagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Buagh!!!!!!
Buaagh!!!!!!
Kembali kulakukan pukulan bertubi-tubi kearah mukanya. Hingga hancur tak berupa.
Tak puas…
Tap!!!
Duuuuuaaaagh!!!
Kulakukan lompatan sembari sekali lagi lututku kuhantamkan keras ke tengkorak kepalanya, tak ayal membuat Herman tak bergerak lagi.
Setelah aku memastikan sepupuku tersebut tewas. Aku kembali berdiri. Kuanggukan kepala kearah Macan Kumbang.
Sebelum kembali beranjak, aku berpesan kepada salah satu anak buah Macan Kumbang untuk membawa Aurel hidup-hidup.
Kembali aku menyeringai membayangkan siksaan yang akan kulakukan terhadap sepupuku yang berparas ayu tersebut.
Rombongan kami telah sampai di depan sebuah pintu besar, dimana merupakan ruangan kerja milik Srigala Utara.
Braaaaak!!!
Tiba-tiba Macan Kumbang menedang pintu tersebut dan membuat pintu tersebut terbuka dengan paksa.
Plok!!!
Plok!!!
Plok!!!
“Selamat datang Kumbang.” Ucap Srigala Utara.
Terlihat macan Kumbang enggan membalas ucapannya.
"Apa kau takut berhadapan denganku, sehingga perlu banyak orang untuk menemuiku disini !” Ucap Srigala Utara kembali.
“Keluar kalian!!!” Bentak Macan Kumbang.
Semua rombongan terlihat keluar ruangan membiarkan kedua pria tua tersebut di dalam ruang.
Namun berbeda denganku yang tetap tinggal.
“Kau keponakanku yang licik Julian!!!” Ucap Srigala Utara, sembari menatap tajam kearahku.
Aku hanya menyeringai, mendengar kata-katanya.
“Kau juga keluar Julian!!!” Ucap Macan Kumbang, sembari terlihat dia mengeluarkan kunai senjata kebanggaannya.
Kuanggukan kepala, Kemudian berbalik arah dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Terpaksa aku mengikuti rombongan yang lain dan ikut keluar meninggalkan mereka berdua.
"Sial...." Gerutuku, merasa kecewa tak dapat menyaksikan pertarungan dua dari lima orang pria hebat yang pernah menjadi sahabat karib.
30 menit telah berlalu…
Kami masih menanti sosok yang akan keluar dari pintu besar yang berada di depan kami ini.
Kleeeeeek!!!
Sontak suara pintu terbuka membuat kami kompak melayangkan pandangan kearah pintu tersebut!
BERSAMBUNG
0 Komentar