POV
BAGAS
Aku beserta April terkejut mengetahui kedatangan paman secara tiba-tiba. Hanya kakek yang bersikap biasa saja mengetahui pamanku tiba. Paman datang sendirian dengan keadaan tangan dan bahu masih berbalut perban. Entah apa yang menimpanya sehingga tubuhnya masih terlihat terluka.
Paman menjelaskan untuk sementara waktu akan ikut tinggal di sini. Dan yang membuatku terkejut adalah cerita paman. Di mana ternyata Kakek Bungkuk dulunya adalah guru dari ayahku dan juga paman. Dan yang lebih mengagetkan ternyata Kakek Bungkuk adalah ayah dari ibuku. Yang berarti dia adalah kakekku.
Tak ada ekpresi haru hanya sebuah senyuman yang tersungging dari wajah kakek yang mulai menua. Namun aku merasakan begitu sayangnya beliau denganku. Teringat beberapa waktu yang lalu menurut cerita kekasihku April. Melihatku pingsan kakek begitu kuatir. Beliau yang mempunyai postur tubuh kecil dan bungkuk dengan kesusahan menggendong tubuhku pulang. Tak sampe di situ kakek nampak membuatkanku sebuah minuman untuk membuatku kembali bugar.
Banyak yang di ceritakan paman...
Tentang masa lalu dimana awal mula terjadinya semua masalah...
Masalah yang menurutku sangat rumit...
Masalah yang selalu menimbulkan tanda tanya besar...
Masalah yang mampu mengadu domba antara para sahabat...
Masalah dimana sebuah kekuasaan diperebutkan..
Masalah dimana sebuah keluarga terpecah belah...
Tak pelak banyak korban yang berjatuhan. Masalah itu juga yang menyebabkan ayah dan ibuku menjadi salah satu korban. Aku baru tau dulunya ayahku adalah seorang militer dari paman. Diceritakan oleh paman secara detail sepak terjang ayahku. Aku benar-benar kagum dengan sosok ayahku. Di mana dahulu ayahku selalu menutupi jatidirinya seperti kebanyakan ayah yang lain.
Pagi hari kekantor. Sore pulang menghabiskan waktunya bersama keluarga. Di setiap akhir pekan ayah selalu menyempatkan diri untuk menemani aku dan ibu di rumah ataupun berlibur menghabiskan seluruh waktunya untuk keluarga. Kadang juga ayah mengajakku memancing. Kadang kami berburu. Semua terasa baru kemarin terjadi.
Namun kebahagiaanku terunggut dengan paksa oleh kejadian kebakaran hebat yang melanda rumahku
Di mana aku menyaksikan ayah dan ibuku berada di dalamnya. Bagas kecil hanya bisa menangis. Bagas kecil tak mampu melakukan apa-apa.
Aku selalu menitihkan air mata mengingat kejadian tersebut. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat mereka berdua berada di dalam rumah yang terbakar hebat. Namun sebuah penjelasan dari paman membuatku sedikit mempunyai asa. Entah itu benar atau tidak. Di mana paman menjelaskan bahwa kemungkinan ayah beserta ibuku masih hidup. Walau belum pasti entah mengapa sebuah semangat yang sangat membara di dadaku melecut hebat.
Hari-hari berlalu, dimana semua latihan-latihan dapat kulalui dengan baik. Entah aku bisa merasakan semakin lama insting kekuatan kecepatan dan semua aspek penunjangku melejit dengan cepat. Aku kini mampu mengontrol semua luapan emosi sumber dari tenagaku yang tersimpan. Aku mampu mempertajam insting yang kupunya dengan baik.
Tanpa melihat. Tanpa mendengar. Namun aku bisa merasakannya. Entah apa yang terjadi dalam tubuhku ini. Rasa ringan yang selalu muncul di saat aku terdesak kini mampu ku kontrol dengan baik. Sampe beberapa hari kemudian, Kakek menyatakan aku telah siap. Bersamaan dengan kesembuhan paman yang juga begitu pesat karena dibantu dengan ramuan yang kakek buat.
Bertempat di tanah lapang yang berada di lereng gunung. Terlihat di depanku berdiri Paman Belut sembari tak lama kemudian menutup matanya menggunakan kain hitam. Tak hayal aku melakukan hal yang sama yaitu menutup mataku dengan kain hitam.
“Akan Paman uji, Gaas!”
“Siap, Paman”
Wuuuuzh!!!
Aku merunduk menghindari sebuah pukulan yang dilesatkan paman.
Wuuuzh!!!
Tanpa jeda sebuah tendangan lurus mampu kuhindari dengan menggeser tubuhku kesamping.
Wuuuzh!!!
Sekali lagi instingku berkata sebuah tendangan susulan mengincar mengarah kepala, dengan gerakan cepat aku berjongkok.
Wuuuzh!!!
Kembali dengan gerakan cepat paman menyapukan kaki mengincar kuda-kudaku. Namun dengan gerakan tak kalah cepat aku melakukan lompatan ke belakang.
“Mau sampe kapan kau menghindar Gaas?
“Maksud paman?”
“Serang balik!”
“Serius?”
“Kau akan terbunuh kalo hanya selalu menghindar!”
Bugh!!!
Sebuah tendangan keras dari paman memaksaku untuk melindungi dadaku. Menutup sudut terbuka di tubuhku.
Keras!!!
Sangat keras tendangan yang diayunkan paman. Tubuhku terdorong sedikit ke belakang.
"Bugh!!!"
"Bugh!!!"
Kulesatkan sebuah pukulan bersamaan dengan mematahkan sebuah pukulan dari paman.
"Bugh!!!"
"Bugh!!!"
"Bugh!!!"
Sontak tak dapat dihindari terjadi adu pukul di antara kami berdua.
Wuuuzzh!!!
"Buuugh!!!"
Sebuah tendangan cepat mampu kuhindari sembari kulesatkan pukulan cepat. Namun dengan sigap paman menghalau pukulanku. Kami sama-sama bergerak dengan cepat.
Wuuuzh!!!
Wuuuzh!!!
Tendangan ganda mampu dihindari paman.
Duaaagh!!!!
Namun, tendangan tipuan mampu mengecoh paman. Telak tungkai kakiku mengenai tubuh paman. Dengan mempertajam insting aku bisa merasakan paman mundur 2 langkah ke belakang.
Buuuuaaagh!!!
Tak kusia-siakan kesempatan emas tersebut, sembari melayangkan tendangan melayang. Namun sebuah hantaman secara cepat dan tiba-tiba membuatku sedikit lengah. Seseorang bergerak tanpa mampu kubaca langkah kakinya menggunakan indera pendengaran. Namun instingku berkata ada orang lain yang bergerak cepat membantu paman.
Wuuuzzh!!!
Sebuah tendangan kembali melesat kearahku. Aku mundur sembari mengatur napas untuk memperingan rasa sakit di perutku.
Duuuagh!!!
Namun aku kembali lalai. Di mana ada seseorang dengan cepat melesatkan tendangan kearah kepalaku. Tak bisa kuhindari. Namun dengan fisikku kali ini aku masih berdiri tegak di atas kuda-kuda yang kupasang.
Wuzh!!
Wuzh!!!
Wuzh!!
Wuzh!!!
Dua orang lawanku melesatkan pukulan bergantian kearahku. Aku yang merasa tak ada celah untuk menyerang sehingga hanya menghindari pukulan demi pukulan yang di lesatkan kearahku.
Wuzh!!
Wuzh!!!
Wuzh!!!
Wuzh!!
Aku masih terus mengindar. Terus menghindar…
Buuaaaaagh!!!
Braaaaaaaaak!!!
Namun sebuah pukulan keras lolos dari daya tangkap instingku. Sontak pukulan telak bersarang di wajahku. Membuatku roboh dan jatuh menghantam tanah dengan keras.
Wuuuuzh!!!
Sebuah sapuan tendangan yang menyusul tubuhku roboh mampu kuhindari dengan berguling kesamping. Sembari kembali berdiri dengan cepat. Aku harus menyerang balik. Aku tak bisa terus-terusan menghindar karena hal sia-sia di mana dua orang yang kuhadapi mempunyai kecepatan yang hampir seimbang.
Buuaagh!!!
Dengan sengaja aku menerima sebuah pukulan. Namun dengan cepat menggunakan kedua tangan kupegang tubuh yang berada di depanku. Dengan gerakan cepat kulewati tubuh itu dengan lompatan tinggi bertumpu dengan tangan yang kupegang.
Duuuuuuaaaaaagh!!!
Bersamaan dengan itu kedua kakiku secara serempat menghentak di punggung orang yang kulompati.
Duaaaaagh!!!
Braaaaak!!!
Terasa tubuhnya terdorong kedepan dengan gerakan cepat ku sapu tubuhnya dengan tendangan terbang. Tubuhnya tersungkur. Naluriku mengatakan tubuh orang tersebut tergeletak tak bergerak.
Wuuuzh!!!
Wuuuzh!!!
Kembali dua buah tendangan secara bergantian mampu kuhalau dengan merunduk. Merasakan mendapat celah…
Buuuuuuuaaaaaagh!!!
Braaaaaaaaaaaaaak!!!
Kulesatkan pukulan menyamping bersamaan dengan tubuhku melakukan hentakan melompat untuk menambah daya pukulanku. Pukulanku telak menghantam rahang dari orang tersebut.
“Cukuuup Gaaaas!”
Mendengar suara paman aku berhenti melakukan serangan sembari membuka penutup mataku. Kulihat Paman Belut dan Nadia tergeletak kesakitan.
Nadia!!!
Iya Nadia!!!
Aku bingung kenapa dia bisa berada di sini. Namun perhatianku lebih fokus ke kedua kepala mereka. Di mana mereka berdua tak mengenakan penutup mata...
“Curang kalian!” ucapku.
Terlihat pamanku memberikan sebuah jempol kearahku sembari tersenyum. Sadar akan Nadia masih tergeletak aku berhambur lari ke arahnya.
“Kamu gak papa Nad?”
“Gpp Gaas...”
“Ternyata kamu berkembang pesat.”
“Nadia salut Gaas!”
“Berkat kamu juga Nad.”
Sembari ku ulurkan tangan untuk membantu Nadia berdiri.
“Maafin Bagas, Nad.” ucapku lirih.
Terlihat Nadia menggelengkan kepala...
“Kau hebat Gaas kemampuanmu berkembang sangat cepat.” sahut paman.
“Bagas masih perlu banyak berlatih, Paman.”
“Kau memang anak Permana!”
“Ehm kuberi waktu untuk kalian berduaan!”
“Sepertinya rubah kecil di depanmu ingin berbicara empat mata denganmu Gaas!”
“Eh siapa yang bilang gitu Kak?” sahut Nadia.
“Sudahlah Nad, kau tak bisa membohongi. aku pernah di posisimu.”
Jujur aku bingung dengan pembicaraan Paman dan Nadia.
“Untukmu Gaas temani Rubah Cantik ini dulu selagi ada kesempatan!”
“Urusan kekasihmu kakek sedang membuatnya sibuk dengan latihan kecepatan hingga petang nanti!”
Kuanggukan kepala. Tak lama kemudian paman terlihat berjalan meninggalkan kami berdua. Setelah sesaat kepergian paman. Aku dan Nadia terpaku saling menatap. Suasana canggung terjadi antara kami berdua. Beberapa menit kami habiskan dengan saling diam.
“Gaas...”
“Nad...”
Secara bersamaan kami saling menyapa.
“kamu dulu Gaas...”
“Kamu aja duluan Nad...”
“Kamu...”
“Kamu Nad...”
“Apa kabar Gaas?”
“Seperti yang kamu liat Nad, aku baik-baik aja”
“Kamu apa kabar?”
“Jelek Gaas!”
“Kenapa?”
“Berat kangen sama kamu.”
Sembari kemudian Nadia berjalan menuju sebuah gubuk yang berada tidak jauh dari tempat kami berpijak. Mulutku terkunci mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Nadia.
“Kalo boleh jujur Aku juga kangen sama kamu Nad” gumanku.
Aku memutuskan untuk berjalan kearah gubuk di mana Nadia terlihat sudah duduk dan membuka tas ransel miliknya.
“Nih, Gaas!”
Wuut!!
Tap!!
Kutangkap sebotol air mineral yang dilemparkan Nadia.
“Makasih Nad...”
Sembari kemudian kuteguk hingga menyisakan setengah air yang tersisa di dalam botol.
“Minta Gaas!”
“Bawa satu doank Nad?”
Terlihat Nadia menggelengkan kepalanya.
“Nad kangen masa-masa berduaan sama kamu waktu mendaki bukit Gaas.”
“Minum sebotol berdua buat ngehemat persediaan air.”
“Hehehe...Iya ya Nad. Aku keinget masa itu.” jawabku
Sembari kubuka tutup botol yang kugenggam dan memberikan botol tersebut untuk Nadia. Terlihat air yang diminum Nadia membuat leher jenjang Nadia yang begitu mulus bersih bergerak.
Aaauuuw!!!
“Napa Nad?”
“Sedikit sakit Gaas, buat minum.”
Terlihat rahang sebelah kiri milik Nadia memar akibat pukulanku tadi.
“Maaf, Nad.” Sembari kuusap dagu dan pipinya. Saat tanganku menyentuh pipi Nadia dengan tiba-tiba tangan Nadia menyentuh tanganku. Sesaat kami canggung. Namun sesaat kemudian Nadia tersenyum manis. Manis sekali senyumannya. Memaksa aku melayangkan senyuman balik untuk Nadia sembari tanganku berpindah mengacak-ngacak rambut kepala Nadia.
“Duduk sini Gaas!”
“Iya...”
Kuanggukan kepala sembari menuruti permintaan Nadia. Ada sedikit ruang di antara kami saat terduduk. Namun tak lama kemudian Nadia bergeser mendekat merapatkan duduknya di sebelahku. Lengan kami saling bersinggungan. Entah apa yang sedang kulakukan. Aku tau ini tak pantas di mana ada April yang berstatus kekasihku. Namun jujur aku menikmati suasana ini. Aku tak dapat menghindarinya. Aku tak dapat memungkirinya. Aku sadar akan tindakan ini salah. Namun tak dapat kuelak. Nadia sedikit banyak telah menorehkan sebuah kenangan indah dari hari-hari yang kulalui bersamanya.
“Gaas, maaf boleh pinjem?” Sembari Nadia menepuk pahaku. Kuanggukan kepala sebagai jawaban. Tak lama kemudian Nadia menjatuhkan tubuhnya bergeser dan tidur di pangkuanku.
“Nadia tau kamu milik April...”
“Tapi bolehkan Nadia bahagia sebentar saja Gaas.” ucap Nadia dengan lirih.
“Nadia jaha..................”
Belum selesai kalimat yang selanjutnya terlantur lirih dari mulut Nadia dengan cepat kuletakkan telunjukku ke arah bibirnya sehingga memaksanya berhenti berucap. Sembari kugelengkan kepalaku.
“Kita sama-sama jahat Nad. Bagas nyaman berada di sisimu.”
“Tapi maaf Nad, Bagas......”
Cup!!!
Em
Em
Eem
Belum sempurna kalimatku terlontar Nadia beranjak dari pangkuanku dan langsung melumat mulutku. Aku masih terdiam merasakan mulut Nadia terus memberikan lumatan demi lumatan di mulutku. Perlahan kubuka mulutku. Dengan ganasnya Nadia semakin berani. Tak hanya melumat kini lidahnya dengan lincah menerobos mulutku. Sembari kedua tangannya meremas rambutku.
Aku menikmatinya. Aku seperti tersihir. Dengan penuh gairah kubalas lumatannya. Tak hanya itu, secara bergantian kini lidah kami saling menjelajah.
Lembut...
Sesekali lidah kami terpagut. Sesekali kuhisap lembut lidah miliknya dan sebaliknya. Dengen sedikit tenaga Nadia mendorong tubuhku hingga terbaring di alas gubuk. Kemudian Nadia bergeser menduduki tubuhku. Sembari merunduk dan Nadia mulai menciumiku kembali.
Liar!!!
Nadia menjelma menjadi rubah liar. Di mana dengan napas memburu, mulai mengendus sekujur tubuh atasku. Puncak keliarnya terlihat dari tindakan merobek singlet yang kukenakan. Dengan sangat agresife Nadia merobeknya di ikuti lidahnya mulai bermain menyapu menjilati sekujur leherku. Tanpa memperdulikan tubuhku yang penuh peluh Nadia terus memanjakanku dengan jilatannya.
Lembut...
Lidah dengan tekstur lembut milik Nadia semakin turun menari dengan lihainya di puting susuku. Sesekali karena gemas Nadia menghisap putingku.
Berdesir...
Jelas apa yang dilakukannya membuatku berdesir.
Uuuuh...
Uuuuuuh...
“Naaaad...”
Getaran-getaran birahi bercampur rasa geli memaksaku mendesah. Nadia semakin menggila. Nadia nampak jelas menjadi sosok rubah liar. Dengan gerakan cepat Nadia bergeser berlanjut duduk di tepian gubuk. Tak lama kemudian terlihat Nadia mulai melepaskan satu persatu busana yang dikenakannya. Elok gerakannya melepas baju nampak sangat gemulai. Bak penari dengan gerakan yang sangat khas. Anggun nan luwes.
Tak lama terlihat olehku tubuh Nadia yang telah telanjang. Tubuhnya begitu bersih terawat. Walau terdapat beberapa bekas luka di tubuhnya. Namun keindahan payudara yang ranum dan lekukan tubuh yang ideal. Membuat Nadia semakin menggoda.
Sempurna!!!
Gadis cantik dengan tubuh telanjang di depanku kian sempurna ditunjang kemaluannya yang masih menggaris sedikit tembem dan dihiasi bulu-bulu tipis.
Sangat terjaga...
Melihat keindahan tersebut. Membuatku bangkit dan mulaj memburunya. Napasku tak beraturan dirudung napsu. Aku mulai merangsak maju mendekati tubuhnya. Sembari membaringkan tubuh Nadia.
Dimulai dengan kecupan ringan di kening, mulai kujelajahi semua lekuk tubuh indahnya. Sesaat ku kecup bibirnya dengan lembut sembari memberi sedikit lumatan. Sesekali kugigit bibirnya yang berwarna merah merona tersebut karena gemas.
Lembut...
Teksturnya sangat lembut. Hanya sebentar aku melumatnya. Karena leher jenjang miliknya membuatku tergiur untuk berpindah mengecupnya. Kutelusuri pelan lehernya. Sedikit asin mengingat peluh mulai mengalir. Namun aroma tubuh Nadia seakan membiusku. Tak kupedulikan rasa asin tersebut. Dari kecupan kini berubah menjadi jilatan. Kubasahi leher jenjangnya dengan jilatan lidahku. Sesekali kuhisap perlahan.
Terlihat Nadia memejamkan mata menerima perlakuanku. Sembari tangannya tanpa bosan meremas rambutku. Tanganku tak tinggal diam di mana dengan pelan tanganku mulai mengusap bulu kemaluannya yang begitu lembut. Sembari arah kecupanku berpindah. Mengarah ke payudara ranum miliknya.
Kenyal!!
“Uuuuuuuh Gaas”
Mulai kutelusuri payudara ranum milik Nadia. Terdengar desahan lirih dari mulut Nadia. Masih dengan memberikan remasan di rambutku. Sejenak kutelusuri dua bongkah payudara tersebut. Sembari mulai kujilat perlahan di bagian putingnya. Puting Nadia yang berwarna coklat muda. Terlihat puting tersebut mulai mengeras menerima jilatan demi jilatan dari lidahku. Nadia terlihat nampak tak tenang. Tangannya berpindah mulai mengelus-ngelus pundakku. Semakin gemas melihat puting kecil miliknya.
“Uuuuuuh Gaaas”
Aku semakin berani kini mulai kuhisap perlahan kedua puting Nadia secara bergantian. Jari tanganku mulai berani menyibak bibir vagina milik Nadia yang tembem.
Basah!!!
Hangat!!!
Kemaluan Nadia telah basah kuyub jariku semakin genjar mengusap celah kemaluan gadis cantik tersebut.
“Bagaaaaaaas…”
“Uuuuuuuuuh”
Tak urung membuat Nadia mendesah napasnya sangat memburu dan tidak beraturan. Tiba-tiba Nadia mendorong tubuhku. Aku terdorong hingga badanku tegak. Namun tak lama kemudian Nadia kembali mendorong tubuhku hingga terbaring.
Tak hanya itu...
Dengan napas memburu Nadia melepas celana yang kugunakan. Sontak terlihat penisku yang berdiri kencang sedari tadi. Terasa hawa dingin dan hangat bersatu menyeruak di kepala penisku. Saat dengan tiba-tiba jari-jari Nadia menggenggam penisku dan melumatnya kemudian.
“Aaaaaah Naaaad....”
Desahku saat kurasakan mulutnya mulai mengulum penisku. Tak hanya mengulum, jari lentik Nadia mulai mengocok penisku perlahan.
Lembut...
Kocokannya begitu lembut. Membuat penisku semakin tegang sempurna. Sesaat kemudian Nadia melepaskan genggamannya sembari mencoba memasukan penisku lebih dalam ke mulutnya.
Eehm...
Eeeeehm...
Uhuuuk
Namun sia-sia, hanya separuh penisku masuk. Sudah membuat Nadia tersedak. Sesaat Nadia melepaskan penisku. Menatap kearahku. Terlihat matanya sedikit berair. Tak tega aku pun menggelengkan kepala.
“Gaas jam!” ucap Nadia sembari mengingatkanku akan waktu yang kami punyai.
Tersisa 15 menit sebelum jam 6 petang. Kuperlihatkan jam tersebut ke arah Nadia. Terlihat rawut wajah Nadia menampakan sedikit kekecewaan. Namun hanya sesaat. Kembali Nadia menjadi rubah yang liar. Di mana Nadia mulai merangkak di atas tubuhku.
Cuuup!!!
Tak lama kemudian kami kembali berciuman. Perlahan Nadia memposisikan bibir vaginanya tepat berada diatas penisku. Perlahan pantat Nadia terlihat bergoyang dengan irama maju mundur membuat kelamin kami bergesekan.
Licin...
Sangat licin mengingat vagina Nadia telah basah kuyub akan lendir yang meluber keluar dari dalam kemaluannya. Ciuman kami semakin memburu. Tanpa di duga saat kepala penisku terasa menyentuh bibir vagina milik Nadia, dengan gerakan cepat Nadia menggoyangkan pantatnya. Membuat penisku terbenam masuk kedalam kemaluannya. Sontak ciuman kami terlepas merasakan nikmat yang menjalar di kelamin kami.
“Uuuuuuuuuuuuugh!”
“Aaaaaaih!!”
Kami sama-sama mendesah. Merasakan kenikmatan yang disebabkan kelamin yang menyatu. Kurasakan kemaluan Nadia berkedut-kedut menyesuaikan penisku yang berada di dalamnya.
“Panjang Gaaaaaas!”
“Uuuuuuh!”
“Besaaaaaar!”
Kubalas racauan gadis telanjang yang merangkak berada diatas tubuhku dengan kecupan di keningnya. Tak lama kemudian Nadia mulai menggoyangkan pantatnya.
“Aaaaaaaaaaaah Naaaad...”
Apa yang dilakukan Nadia sontak membuat penisku terasa seperti di urut. Terasa kemaluan Nadia semakin basah dan licin.
Ploop!!!
Ploop!!!
Plooop!!!
Nadia semakin menggila dengan menghentak-hentakan pantatnya ke arah bawah.
“Uuuuuuuh…”
“Gaaaaaaas…”
“Nadia gak kuat…”
Desahan Nadia semakin kencang di ikuti goyangan tubuhnya yang semakin tak beraturan terlonjak-lonjak di atas tubuhku.
“Uuuuuuuuuuuugh….”
“Nad nyampeeeeeee Gaaaaaas!”
Seeer!!!
Seeer!!!
Seeer!!!
Tiba-tiba Nadia menghentakan pantatnya dengan keras membuat penisku semakin menyeruak masuk kedalam kemaluannya. Bersamaan dengan lenguhan keras yang dikeluarkan Nadia. Terasa kemaluan Nadia menyemprotkan lendir membasahi penisku sembari dinding vaginanya mencengkram erat penisku.
Sesaat kemudian cengkraman tersebut mengundur. Berganti dengan denyutan-denyutan ringan dari dinding vaginanya. Diakhiri robohnya tubuh Nadia diatas tubuhku.
“Hah…”
“Haaah…”
“Hah…”
Sesaat kubiarkan tubuh Nadia terdiam di atas tubuhku. Kelamin kami masih bersatu...
“Gimana Nad?”
“Enak…Enak banget Gaas!”
“Mukamu merah Nad...”
“Biarin!”
“Ya udah keburu malam, yuk pulang!”
“Bentar Gaaas!”
Seolah tak mengenal lelah Nadia bangkit sembari mengulurkan tangannya membantuku untuk duduk. Tak lama kemudian Nadia merunduk menurunkan kepalanya. Sembari menggenggam penisku yang masih dalam kondisi basah kuyub. Tanpa menghiraukan kondisi penis yang dipenuhi lendir. Nadia tanpa rasa jijik mulai melumat penisku. Sekujur batang penisku tersapu oleh lidahnya yang lembut basah dan hangat.
“Aaaaaaaah....”
Desahku menahan rasa geli yang menyebabkan darahku berdesir. Sesaat kemudian Nadia menghentikan sapuannya sembari menatap mataku dengan sayu.
“Aaaaaaaaaaaauuuuuh….”
Dengan tiba-tiba Nadia memasukan penisku kedalam mulutnya sembari memberikan kuluman. Tak pelak membuatku mendesah panjang menahan rasa nikmat yang menjalar. Tak lama kemudian dengan cepat Nadia memaju mundurkan kepalanya membuat laju penisku keluar masuk kedalam mulutnya.
“Aaaaaah!”
“Aaaaaah!”
“Uuuuuuuuuuuuuuuh….”
Desahan panjang tak mampu kubendung saat Nadia dengan tiba-tiba melepaskan kulumannya dan dengan cepat menjilati lubang kencing.
Geli!!!
Tapi sangat enak!!!
Kemudian kembali Nadia memasukan penisku dan seperti tadi. Dengan gerakan cepat Nadia kembali memaju mundurkan kepalanya. Membuat penisku keluar masuk menyeruak di dalam mulutnya. Nadia semakin liar merangsangku. Tak tinggal diam jari-jari lentiknya bermain di kedua bola yang berada di bawah penisku.
“Uuuuuuuuh…”
Tanpa menghentikan kulumannya Nadia semakin liar mempermainkannya. Sontak membuatku benar-benar tak tahan.
“Uuuuuuuuh…”
Dengan sedikit kasar kujambak rambut Nadia sembari membimbing kepalanya semakin cepat bergerak maju mundur.
“Uuuuuh!!!”
“Dikit….Dikit lagi Naaad!”
Semakin kupercepat gerakan kepala Nadia. Nadia sedikit berontak. Namun paksaan dari tanganku membuatnya pasrah.
“Aaaaaaaaaaaaaah….”
“Aaaaaauuuuuuuuuuuuuh!!!!”
Dengan kasar kubenamkan dalam-dalam penisku kedalam mulutnya. Sembari tanganku menahan kepala Nadia hingga tak mampu berontak.
Croooot!
Crrooooot!!
Crrrooooooot!!!
Bersamaan dengan beberapa kali penisku menyemburkan sperma didalam mulutnya.
“Emmmmm…..”
“Eeeemmmmmm….”
Plak!!
Plak!!
Plak!!!
Seketika tepukan tangan Nadia di pahaku membuatku sadar akan yang terjadi. Kulepas tanganku yang menahan kepala Nadia.
Haaah!!
Haaaaah!!!
Haaaaah!!!
Terlihat napas Nadia tersengal akan ulahku.
“Maaf Nad...”
“Maafin Bagas...”
“Jahat kamu Gaas! Ketelan semua nih!” ucap Nadia sembari memperlihatkan mulutnya.
“Maaf Nad, Bagas keburu napsu tadi.”
“Iya iya dimaafin. Dah malem buruan pulang yuk Gaas! Ntar pacarmu nyariin.”
Degh!!!
Kata terakhir dari Nadia membuatku terdiam. Aku tersadar akan dosa yang baru saja kuperbuat. Aku telah menghianati April. Namun di lain sisi aku tak bisa berbohong kalo Nadia sedikit banyak telah masuk dan berada di hatiku. Walau Aprillah pilihanku.
“Gaaaas!”
“Bagaaas!”
“Ayok!”
“Naaad maafin yang baru saja terjadi. Bagas yang salah.”
“Nadia sayang kamu Gaas. Nadia yang salah mencintai pacar orang. Nadia yang mestinya minta maaf.”
“Sssssssssttt, Jangan bilang gitu Nad! Kalo Bagas boleh jujur, Bagas juga sayang kamu Nad. Tapii.......”
Begh!!
Belum selesai kalimatku terlontar tubuh Nadia memelukku.
“Jangan diterusin Gaas, Nad tau kamu milik Phoenix.” ucap Nadia lirih. Terasa tubuhnya bergetar.
“Maaf...” Sembari kukecup keningnya.
“Nad sadar posisi Gaas. Nad bakal simpan rasa sayang ini sendiri. Nad yang salah”
Mulutku terkunci tak tau harus mengucap apa. Aku hanya mampu memeluk Nadia semakin erat.
“Nad... Untuk yang tadi?” ucapku lirih.
Nadia terlihat mengangguk.
“Nadia paham Bagas. Makasih udah kasih sedikit hatimu buat Nadia. Bagi Nadia itu udah cukup.”
Tangis Nadia semakin pecah. Tak terasa air mataku ikut mengalir. Kami berpelukan. Kami sama-sama merasakan sakit. Kami sama-sama merasakan luka. Biarlah kisah ini menjadi sebuah rahasia. Biarlah hubungan ini menjadi dosa terindah. Biarlah rasa ini menjadi luka termanis. Dan biarlah hanya kami berdua yang menjaga aib ini.
Aib yang di inginkan.Aib yang disengaja. Terjadi karena rasa sayang. Sebuah rasa sayang yang besar. Namun rasa sayang ini merupakan kesalahan. Dimana ada hati yang akan tersakiti. Namun hal itu tak kan terjadi karena kami berdua berjanji untuk memegang erat rahasia ini.
“Maafin Bagas priiil....”
Telegram : @cerita_dewasa
POV
NADIA
Sebelumnya...
Suatu kejadian membuatku dan Kak Belut akhirnya berdamai. Secara tak sengaja, Aku mendapat informasi exiles mengeluarkan sebuah misi untuk melenyapkan Kak Belut. Aku teringat ucapan Guru Udang yang memerintahkan membantu Kak Belut. Dan kala itu aku tolak mentah-mentah. Namun setelah mengetahui benang merah yang terjadi. Di mana aku merasa Kak Belut adalah orang baik dan sepihak dengan Bagas. Entah mengapa akhirnya aku memutuskan untuk menyelamatan Kak Belut yang pada saat itu berada di rumah sakit. Aku putuskan membawa Kak Belut kabur dari dalam rumah sakit. Dan untuk sementara waktu aku menyembunyikannya dari radar para hell warrior yang mendapatkan misi menghabisinya.
Setelah berfikir secara matang. Aku mengambil keputusan untuk bergabung di kubu Kak Belut. Entahlah aku tak bisa berfikir jernih. Aku mengkuatirkan Bagas. Ya Bagas, dan selalu Bagas.
2 hari lamanya aku menemani Kak Belut di tempat persembunyian. Banyak obrolan terjadi di antara kami. Setelah menimbang kondisi fisik Kak Belut yang belum stabil aku putuskan untuk mengajak Kak Belut menemui Bagas. Iya aku yang mengantarkan Kak Belut ke desa di lereng gunung tempat Bagas berada.
Namun hanya sesaat. Aku hanya mengantar. Pada saat itu aku belum berani untuk kembali masuk ke rumah kuno tersebut. Salah satu alasanya karena dirumah itu ada phoenix yang sangat membenciku.
Sebenarnya alasan utama yang yang membuatku gak mau masuk kerumah itu, karena aku gak bisa memendam rasa sayangku ke Bagas. Aku takut kebawa emosi bila berada di sana dan melihat Bagas memadu kasih dengan phoenix kekasihnya tersebut. Bisa-bisa aku kebakar cemburu.
Namun tiba-tiba timbul keberanian di dalam diriku. Entah berasal dari mana. Setelah beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk kembali kesana. Aku sesaat menimbang dan meyakinkan diri sendiri. Bahwa keselamatan Bagas nomer satu.
Waktu semakin tipis. Aku tau akan terjadi peperangan antara beberapa kubu yang berusaha menjatuhkan keturunan Harimau yang dimiliki keluarga Soetedja. Kak Belut sudah menjelaskan semuanya kepadaku saat kami berdua dalam tempat persembunyian.
Memgingat kubu kak belut yang hanya berisi bagas dan phoenix, aku memantapkan diri untuk bergabung. Aku akan membantu Bagas. Mungkin inilah caraku untuk menggambarkan rasa sayangku ke Bagas.
Telegram : @cerita_dewasa
Setelah apa yang terjadi di gubuk bersama Bagas….
Aku terduduk di gasebo yang berada di depan rumah Guru Udang. Sendirian, ditemani sepi dan sunyinya malam. Air mataku telah berhenti menetes. Namun hatiku masih sakit. Yang aku kuatirkan pun terjadi.
Aku Cemburu..
Di mana setelah aku membersihkan diri, semua orang duduk dan makan bersama di meja makan. Tak terkecuali Bagas dan kekasihnya phoenix.
Aku cemburu melihat kemesraan antara mereka. Dan jelas aku hanya bisa menyimpan semua dalam-dalam rasa itu.
Rasa cemburu...
Cemburu yang sangat menyakitkan...
Seakan tak rela aku melihat bagas bermesraan dengan phoenix. Namun apa daya, Aku hanya bisa menjadi sebuah bayangan. Dimana nyata adanya. Namun tak pernah dianggap ada.
Yaaaa...
Itulah bayangan...
Namun aku rela menjadi sebuah bayangan. Bayangan yang akan selalu mengikuti Bagas. Di mana pun dia berada walaupun sakit. Karena satu alasan, rasa sayangku ke Bagas. Aku tau apa yang ku lakukan ini salah. Semua ini adalah kesalahan yang nyata. Sebuah jalan sesat, semacam bom waktu dan hanya menunggu waktu untuk meledak. Namun tak bisa di sangkal. Aku bener-benar sayang sama Bagas. Aku mencintai Bagas. Sangat-sangat mencintai Bagas.
Sepintas, aku membayangkan kembali apa yang sempat terjadi di gubuk bersama Bagas. Masih terasa aroma maskulin yang ku hirup dari tubuh Bagas. Betapa bahagianya aku seandainya setiap malam dapat mencium aroma tersebut.
Gaaaas...
Nadia sayang...
Sayang banget sama kamu...
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar